06 AprSOIL-Teknologi Pertanian Berlanjut

   

LAHAN KERING – TROPIKA  – SUBSISTEN

 

Garrity (1993) menulis dalam Technologies for Sustainable Agriculture in the Tropics”, yang prinsipnya sejalan dengan hasil telaahan Lindert (2000), dalam “Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia”, beberapa hal sebagai berikut:

  • Peningkatan populasi  penduduk petani subsisten terjadi di tanah-tanah lereng tak subur,  memacu kecepatan degradasi dan erosi tanah.
  • Di Indonesia, pemukiman di lahan kering tidak subur di luar Jawa berkembang cepat, berkaitan dengan migrasi spontan ataupun program transmigrasi pemerintah.
  • Kehilangan kesuburan dipacu oleh ulah manusia, iklim dan geologi.
  • Daerah geografi lereng gunung berapi muda dan curah hujan tinggi (1500-3000 mm), terjadi peningkatan populasi manusia lebih cepat.
  • Umumnya lahan kering di Asia Tenggara agak dangkal,  kejenuhan Al tinggi di subsoil;  sehingga perkembangan akar masuk ke dalam tanah dihambat oleh keracunan Al yang   mengurangi ketersediaan unsur hara dan cadangan air.

Selanjutnya, Garrity mengemukakan beberapa teknologi yang perlu dievaluasi dan dikembangkan sesuai kondisi ekologi lahan kering di tingkat petani, adalah:

(1) Sistem tanaman pagar kontur,

(2) Fosfor sebagai penghambat kritis,

(3) Pengurangan pengolahan tanah,

(4) Pengembangan sistem bera, dan

(5) Diversivikasi budidaya lahan sempit.

 

Teknologi lahan kering perlu dikembangkan untuk mendukung teknologi lahan sawah!

Sumber:

Dennis P. Garrity.  1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66;  in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme, International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. Of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Special Publication No. 56.

 

No comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment
CAPTCHA Image
*