Archive for May, 2013

27 MaySOIL-Indoor Plants

                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

INDOOR PLANTS

(TANAMAN DALAM RUMAH)

Annuals – Prennials – Foliage – Schrubs – Trees

Ferns & Palms – Caccti, Succulents & Carnivorous Plants

Orchids & Lilies – Climbers

0

Foto-foto: Syekhfani

Indoor Plants (Tanaman dalam Rumah), adalah tanaman hias yang dipelihara di lingkungan rumah:  beranda, ruang tamu, ruang keluarga, atau ruangan lain di mana tanaman dapat tumbuh dengan baik dan normal.

Indoor plants ditanam untuk tujuan keindahan, kenyamanan, dan kesehatan, sesuai dengan pepatah “bukanlah rumah kalau tidak ada tanaman – it is no home if it hasn’t flowers”.

Secara alami, tumbuh-tumbuhan hidup di tempat terbuka (out door);  mendapat sinar matahari penuh hingga terlindung, masing-masing mempunyai kemampuan adaptasi berbeda-beda sesuai jenis, medium, dan lingkungan.

Tumbuhan  ruang terbuka dapat berubah menjadi tumbuhan ruang tertutup (indoor) melalui proses aklimatisasi (penyesuaian iklim) secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit.  Faktanya, hampir semua tanaman pot dapat dipindah dari luar ke dalam rumah.

Manajemen tata letak tanaman pot harus disesuaikan dengan jenis tanaman (annuals – semusim, perennials – tahunan,  foliage – daun, schrubs – semak, atau trees – pohon).

Jenis tanaman khusus seperti:  xerophytic – kaktus, succulents – daun tebal, carnivorous – pemakan serangga, Orchids & Lilies – lili & anggrek – Climbers – menjalar;  masing-masing mempunyai kemampuan beradaptasi secara indoor.

Perlu diingat bahwa tanaman indoor tidak dapat ditaruh di sembarang tempat.  Mereka mempunyai persyaratan medium dan kondisi lingkungan tertentu: suhu, kelembaban dan cahaya.  Persyaratan tersebut  perlu dipenuhi agar tumbuh baik sesuai yang diinginkan.

Akhir-akhir ini, penelitian menunjukkan bahwa tanaman indoor daun secara efisien mampu berfungsi sebagai penyaring polusi udara ruangan, di samping juga sebagai visual antidote stres.

Berikut disajikan contoh beberapa tanaman indoor yang lazim digunakan.

 

 

1

Welcome

3 (Spathipyllum)

Spathipyllum spp., AraceaeSpatipilum

4 (Fittonia, kura-kura)

Fittonia spp., Acanthaceae – Fitonia

5 (Gardenia)

Gardenia spp., Rubiaceae  – Kacapiring

2

Mandevilla sanderi, Apocynaceae – Kembang terompet

6 (2)

8

7

Orchids – Anggerik

9 (Graptopetallium)

Graptopetallium spp., Crassulaceae – Graptopetalum

10 (Sansevieria)

Sansevieria spp., Agavaceae – Lidah mertua

11 (Chamaecereus)

Echinopsis chamaecereus - Peanut Cactus

12 (Periplus Editions (HK) Ltd).

 

 

 

Bahan Bacaan:

Periplus. 2000. 500 Popular Indoor Plants.  Periplus Editions (HK) Ltd.  Berkeley Books Pte Ltd.  5 Little Road #08-01, Singapore 536983.

 

 

24 MaySOIL-Pindah Tanam Pohon

  

PINDAH TANAM POHON

(TREE REPLANTING)

Replanting – Reboasasi – Rehabilitasi – Rejuvinasi

Taman Istana di Seoul, Korea Selatan

Panorama salah satu taman istana Raja di Seoul, Korea Selatan

Foto-foto:  Syekhfani

Pindah tanam (replanting), reboasasi (penghutanan kembali), rehabilitasi (perbaikan),  rejuvinasi (peremajaan):   adalah teknik-teknik tanam ulang atau perbaikan keragaan pohon agar dapat tumbuh normal kembali.

Praktek replanting biasanya dilakukan  untuk perbaikan estetika taman, jalan raya, kampus, kantor, komplek perumahan, ataupun halaman rumah.

Secara umum, pohon yang dipindah tanam tergolong pohon dewasa, dibongkar  atau dipangkas akar dan/atau tajuk.

Karena itu, syarat pohon pindah tanam harus tahan pangkas akar/tajuk, resisten terhadap  hama atau penyakit, serta cepat tumbuh kembali (rapid growth recovery).

Pohon yang baru di pindah tanam masih dalam kondisi lemah, terutama fungsi sebagai jangkar (anchor);  sehingga diperlukan alat bantu penyanggah.

Sistem perakaran yang belum intensif, tidak mampu menyerap (uptake) unsur hara dari dalam tanah secara optimal;  sehingga diperlukan bantuan melalui semprot daun (foliar feeding) atau suntikan (infus) batang.

Contoh jenis pohon yang sering dipindah tanam:  palem raja (Roystonea regia – Arecaceae), pakis haji (Cycas rumphii – Cycadaceae), pinus (Pinus - Pinaceae), sonokeling (Dalbergia latifolia – Fabaceae), mahoni (Swietenia macrophylla – Meliaceae), , atau berbagai jenis pohon buah-buahan dan pohon perkebunan seperti misalnya kelapa sawit (Elaeis guineensis – Arecaceae).

Manajemen pangkas pohon, meliputi:  kekuatan tegakan (anchor), medium tumbuh, nutrisi, hormon, dan pestisida.

Contoh  pohon pindah tanam adalah sebagai berikut:

 

Kampus University of Korea

Tanam pohon di kampus Universitas Korea, Seoul, Korea Selatan

Taman Evergreen, Seoul, Korsel

Tanam pohon di Taman Evergreen, Seoul, Korea Selatan

Infus pohon (Dong Daemon, Korsel)

Pemberian nutrisi melalui batang pohon

(halaman belakang gedung pasar swalayan Dong Daemon, Seoul, Korea Selatan)

Citraland, Surabaya-3, Jawa Timur

Penanaman pohon di komplek taman Citraland, Surabaya, Jawa Timur

Citraland, Surabaya-1, Jawa Timur

Perkuatan pohon dengan sanggah besi (Citraland)

Citraland, Surabaya-2, Jawa Timur

Posisi sanggah besi (closeup)

UD Melati, Batu, Jawa Timur

Pohon pakis siap tanam di salah satu kios tanaman hias, Batu, Jawa Timur

23 MaySOIL-Ameliorasi Kebun Durian

 

IMG_0001

 

AMELIORASI KEBUN DURIAN

 (DURIAN GARDEN AMELIORATION)

 

Perbaikan Kondisi Kebun Durian

 

 

Materi/Foto-foto: Syekhfani

 

 

Kebun durian monokultur, ingin diperbaiki (ameliorasi) agar dapat berfungsi sebagai “kebun wisata”  sekaligus “kebun produksi”. Untuk itu, diperlukan pogram khusus dari aspek budidaya.

Upaya perbaikan kebun yang sudah terlanjur monokultur, memerlukan teknologi masukan dari luar (external input technology).

Berdasar tinjauan lapangan (site visit), maka dilakukan rencana kelola lahan (RKL) dan dibuatlah program jangka pendek, menengah, dan panjang.  Evaluasi dilakukan berdasar informasi teknologi yang tersedia (reference).

Reference:

Durian – Durio zibethinus, merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran     -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.

Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Berdasar pada keterangan tersebut, maka konsep manajemen kebun durian perlu mengacu pada habitat aslinya yaitu hutan: yang bersifat diversitas (diversity), siklus unsur hara tertutup (close nutrient recycling), lembab (moist), dan hangat (warmth).

Konsep yang disampaikan untuk bahan pertimbangan, meliputi:

  • Program Jangka Pendek
  • Program Jangka Menengah
  • Program Jangka Panjang

disajikan dalam bentuk slide-slide berikut:

IMG_0002

IMG_0004

Analisis tanah lengkap, untuk mengetahui status unsur hara

IMG_0005

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0006

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0007

Pengendalian hama/penyakit, bila ada gejala terserang

IMG_0008

IMG_0009

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0010

Pertumbuhan vegetatif, perlakuan khusus

IMG_0011

Saat pembungaan, perlakuan khusus

IMG_0012

IMG_0013

Ameliorasi keragaan individual tanaman

IMG_0014

Ameliorasi keragaan lahan kebun

 

Kebun durian:  Mengacu pada sistim alam!

 

21 MaySOIL-Transportasi Sungai

  

SUNGAI SEBAGAI SARANA TRANSPORTASI

(RIVER AS A TRANSPORTATION MEDIUM)

 

Contoh:  Sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

 

IMG_0001

 

Foto-foto:  Syekhfani

  

Transportasi sungai – River transportation, termasuk satu dari tiga jenis sarana transportasi umum:  darat, udara dan air.

Trasnportasi air antar pulau, negara dan benua melalui sarana lautan;  sedang antar tempat di daratan pulau, melalui sarana sungai.

Di pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, atau pulau-pulau di mana sungai dapat dilalui perahu, tongkang, atau kapal, maka fungsi utama sungai selain untuk irigasi, industri, inergi listrik, dan lain-lain, populer sebagai sarana transportasi.

Sarana transportasi sungai berkembang sesuai tingkat kebutuhan dan pembangunan daerah setempat dalam hal revitalisasi sosial-ekonomi-budaya daerah.

Salah satu contoh menarik dalam hal transportasi  tradisional hingga modern, yang mecerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya lokal, dijumpai di sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di sungai Mahakam, satu dari tiga sungai besar di pulau Kalimantan (Barito, Mahakam, Kapuas), dijumpai kesibukan rutin luar biasa sehari-hari menggunakan alat transportasi perahu kecil hingga kapal besar (kapal samudra) .

Lebih menarik lagi, terdapat semacam pasar tradisional (traditional market) komplit.  Ada jualan barang peracangan (bahan-bahan dan alat-alat dapur), sayur-sayuran, buah-buahan dan bahkan juga warung makan.

Barang-barang tersebut dijual di tempat atau dijajakan dari rumah ke rumah (door to door).

Pasar tradisional ini, selain menarik dan spektakuler, juga berfungsi sebagai sarana olahraga (sport) dan rekreasi (recreation) yang menyenangkan dan unik.

IMG_0002 (2)

Kapal besar (ships)

 IMG_0002

Kapal angkut barang (carrying boat)

IMG_0003

Ubikayu (cassava roots)

IMG_0004

Bahan sayur borongan (bulk vegetable raws)

IMG_0005

Peracangan (kitchen tools and food raws)

IMG_0006

Nasi bungkus (wrapping rice)

IMG_0007

Soto ayam (chicken soup)

IMG_0008

Menjajakan dagangan dari rumah ke rumah (door to door) menggunakan alat transportasi perahu

19 MaySOIL-Tanaman Hidrofit

 

 

TANAMAN HIDROFIT – TANAMAN AIR TERGENANG

(WATER AND POOL PLANTS)

 

 

Contoh:  Tanaman Teratai

 

K4 (Kebun Raya Bogor)

Royal Water-Lily, Royal Water Platter: Victoria amazonica (V. regia)

Foto-foto:  Syekhfani

 

  • Tanaman Teratai (Water-Lily)Nymphaea spp. , Nymphaeaceae, adalah tanaman air, perennial, akarnya tumbuh dalam lumpur dan daunnya mengambang di permukaan air.  Bunganya muncul dan berkembang di atas permukaan air.
  • Teratai tumbuh baik dalam medium tanah gambut,  tanah kebun, atau pasir kuarsa, yang subur.
  • Tanaman teratai adalah tanaman hias bunga, warna-warni, ditanam di kolam ataupun  dalam pot tergenang.
  • Terdapat berbagai jenis tanaman teratai, dari yang sederhana sampai eksotik dan langka.  Umumnya indah dan menarik, dengan waktu berkembang relatif lama.
  • Berikut disajikan beberapa foto tanaman teratai di taman terbuka dan dalam pot.

Di Taman Terbuka:

K1 (Kebun Raya Bogor)

Pink Water-Lily (Nymphaea rubra)

K2 (Kebun Raya Bogor)

White Water-Lily (Nymphaea rubra)

 K3 (Kebun Raya Bogor)

K4 (Kebun Raya Bogor)

Royal Water-Lily  -  Royal Water Platter:  Victoria amazonica (V. regia)

Dalam Pot:

P1 (halaman rumah)

P2 (halaman rumah)

P3

Pygmy Water-Lily (Nymphaea tetragona (pygmaea) “Helvola”

P3 (halaman rumah)

P4 (halaman rumah)

P5 (halaman rumah)

Pink Water-Lily (Nymphaea rubra)

P6 (halaman rumah)

 Fragrant Water-Lily – Alligator Bonnet (Nymphaea odorata)

Plant & Flowers

Buku Bacaan:

Bianchini, F. dan A.C. Pantano 1995.  Guide to Plants and Flowers – Simon & Schuster’s. Ed. By P. Perry. A Fireside Book, Publ. Simon & Schuster Inc. Singapore, pp. 497-514.

 

 

17 MaySOIL-Antagonisme Unsur Makro dan Mikro

 

 ANTAGONISME UNSUR MAKRO DAN MIKRO

 

Kasus Penyakit Kalimati pada Tanaman Tebu

 

1. Kalimati di Kebun Manyingsal

 

Penelitian Disertasi

Syekhfani

  • Penyakit “Kalimati”, adalah penyakit non parasiter pada tanaman tebu; pertama kali di temukan di area kebun Pabrik Gula (PG) Kalimati,      Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 1930-an (PG Kalimati tersebut saat ini sudah tutup).
  • Wilbrink (tahun 1930-an) menyatakan bahwa penyakit Kalimati disebabkan oleh defisiensi unsur kalium.
  • Pendapat tersebut dibantah oleh Koningsberger & van den Honert (1931), yang bependapat bahwa penyakit Kalimati disebabkan keracunan unsur besi.
  • Namun kedua ahli menambahkan bahwa penyakit Kalimati tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan beberapa faktor menyangkut ketidak-imbangan unsur hara.
  • Gejala penyakit Kalimati: Tanaman kerdil, ruas memendek, akar sakit, dan terdapat nekrosis pada daun tua saat tanaman tebu berumur 2 – 3 bulan.
  • Tahun 1970-an, gejala serupa muncul di perkebunan tebu Manyingsal, Subang, Jawa Barat.
  • Kasus tersebut kemudian dijadikan penulis untuk topik penelitian tugas akhir (disertasi) pada Jurusan Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pascasarjana, IPB, Bogor.
  • Diperoleh hasil bahwa Unsur makro K dan unsur mikro (Cu, Zn dan Mn) menjadi penyebab penyakit Kalimati di kebun tebu Manyingsal.
  • Gejala merupakan kombinasi antara kekurangan unsur-unsur K, Cu, dan Zn, dan kelebihan unsur Mn.
  • Gejala di lapangan muncul pula pada percobaan pot (tong), di latar rumah kaca IPB, saat pot tergenang air hujan.
  • Baik di lapangan maupun di pot, gejala penyakit Kalimati tidak tampak bila kondisi drainase baik.
  • Pemberian unsur K, Zn dan Cu mendapat respon positif pertumbuhan tanaman tebu.
  • Keragaan di lapangan (kebun Manyingsal) dan latar rumah kaca (IPB), adalah sebagai berikut:

 

 Lokasi Kebun Tebu Manyingsal:0. Kebun tebu Manyingsal

2. Kalimati Close Up

Kalimati di kebun Manyingsal

 3. Drainase - Saluran

Saluran drainase lahan

 4. Drainase - Sehat

Tebu sehat setelah drainase

 5. Gejala - Akar

Akar (terang sehat – gelap sakit)

 6. Gejala - Ruas

Ruas memendek (gejala defisiensi Zn)

 7. Gejala - Daun

8. Gejala - Daun Strata

Gejala Kalimati pada daun posisi kedudukan ruas

Percobaan Pot di Latar Rumah Kaca:

  10. Gejala - Pot - Daun Sehat

11. Gejala - Pot - Daun Strata

Gejala pada daun

12. Gejala - Pot - Normal

Gejala pada batang dan ruas

15 MaySOIL: Sulfat Masam

 

BUDIDAYA PERTANIAN DI LAHAN SULFAT MASAM

 1

 Contoh:  UPT Rawa Muning, Tapen, Kalimantan Selatan

  

Pengamat/Foto-foto:  Syekhfani

  • Tanah sulfat masam, adalah tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), dijumpai di daerah rawa, baik pasang surut maupun lebak.
  • Pada kondisi tergenang senyawa pirit bersifat stabil, namun bila kering dan teroksidasi berubah menjadi senyawa sulfat yang bermasalah bagi kimia tanah, air dan lingkungan.
  • Sebagian lahan sulfat masam telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi,  ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, tetapi umumnya di bawah potensi produksi tanaman.  Contoh:  di lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Rawa Muning, kabupaten Tapen, Kalimantan Selatan.
  • UPT Rawa Muning, dilengkapi sarana prasarana berupa saluran air untuk kepentingan transportasi serta sistem irigasi – drainase kawasan.
  • Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Namun, pada prakteknya sulit melakukan pengendalian air dengan baik. Terutama pada musim kemarau permukaan air tanah turun, terjadi oksidasi senyawa pirit menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah menjadi sangat masam.
  • Tanah-tanah teroksidasi, pada musim hujan mengalami proses reduksi dan  dalam bentuk besi ferro dan sulfida yang meracun tanaman.
  • Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, “sistem Surjan“).
  • Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.
  • Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.
  • Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.
  • Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah.
  • Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman. Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

4

Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Cempaka, Tapen, Kalimantan Selatan

6

Topografi datar, disiapkan untuk budidaya lahan sawah, dengan galengan sebagai batas pemilikan

3

Di bagian cekungan, air tergenang membentuk kolam abadi, ditumbuhi teratai

9

Musim kemarau, permukaan air turun, medium perakaran mengalami oksidasi

Pada musim hujan berikutnya, medium perakaran kaya sulfat dan pH sangat rendah (oksidasi pirit)

12

Musim penghujan, tanaman kelapa (Coccus nucifera) di galengan tumbuh normal

13

Musim kemarau, tanaman kelapa di galengan kering dan mati

14

Musim kemarau, tanaman padi sawah (Oryza sativa) menunjukkan gejala defisiensi dan/atau keracunan unsur hara

15

Musim kemarau, masih ada air terutama di saluran irigasi/drainase

16

16 (2)

Saluran air dan kolam abadi, menghasilkan ikan khas rawa masam (Gabus, Papuyu, Sepat, Saluang, dan lain-lain)

17

Keluarga kecil transmigran

18

Rumah transmigrasi yang ditinggalkan

13 MaySOIL-Zona Iklim Semi Arid

   

 

ZONA IKLIM SEMI ARID TROPIKA INDONESIA

 

Kawasan (contoh):   Sumbawa Besar – Dompu, Nusa Tenggara Barat

(Pengamat, Foto-foto:  Syekhfani)

 

8

Zona Iklim Semi Arid, dicirikan oleh bulan-bulan kering lebih banyak dari bulan-bulan basah, jenis tanah dipengaruhi kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah.

Pelapukan batuan induk lambat dan jenis tanah yang dominan adalah  Regosol (Entisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols);  meskipun di beberapa tempat dijumpai pula jenis Andosol (Andisols).

Vegetasi berupa pohon, semak dan rumput-rumputan yang toleran terhadap kondisi air terbatas, khas daerah zona iklim semi arid.

Flora dominan:

  • Pohon:  Asam (Tamarindus indica), Jambu mente (Anacardium occidentale).
  • Semak:  Bidara (Ziziphus mauritiana), Paitan (Chromolaena odorata).
  • Rumput-rumputan:  ciplukan (Physalis angulata), babadotan (Ageratum conyzoides), putri malu (Mimosa pudica).

Fauna spesifik:  kuda (Equus caballus) liar, dan babi hutan(Sus scrofa).

Masalah utama: sumber air terbatas (terutama saat bulan-bulan kering), sehingga solusinya adalah manajemen konservasi air.

 

 1

2

3

Batuan induk, menunjukkan perkembangan yang lambat

  6

 Vegetasi pohon, semak dan rumput pada musim kering

 9

Lahan budidaya, keadaan air cukup (dari irigasi)

 11

Vegetasi semak, memperoleh air dari kelembaban udara (dekat pantai)

12

Kawanan kuda liar berteduh di bawah pohon asam saat terik matahari.

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

05 MaySOIL-Hedgerows Cropping System

 

HEDGEROWS CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • HedgerowsTanaman lorong, tumbuhan semak atau pohon tahunan (perenneal) berakar dalam serta kaya biomas, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (annual) berakar dangkal (legum, sereal) dari jenis tanaman pangan, sayuran, atau ubi-ubian; dengan cara: tanaman annual ditanam di antara perenneal  jarak 4 – 8 meter. Tanaman pohon disebut tanaman pagar dan tanaman semusim disebut tanaman lorong.
  • Pemilihan jenis tanaman perenneal:  perakaran dalam, kaya biomas, toleran terhadap kondisi setempat, tahan terhadap kekeringan, penyakit dan pemangkasan.
  • Sistem tanam tanaman annual:  tumpang gilir (relay planting), jenis legum digilir dengan non legum.
  • Biomas sisa pangkasan dan sisa panen, seluruhnya dikembalikan ke bidang lorong secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Sistem perakaran dalam yang dikombinasikan dengan perakaran dangkal, adalah stratifikasi zone perakaran untuk mencegah kompetisi terhadap medium, unsur hara dan air.  Selain itu, perakaran dalam mencegah terjadi kehilangan unsur hara melalui pencucian (leaching).
  • Tanaman pagar yang dipangkas dan biomasnya dikembalikan ke permukaan tanah, merupakan siklus hara tertutup (close nutrient recycling) dan jaring penyelamat (safety net) unsur hara.
  • Sistem pertanaman ini adalah rangkaian dari kegiatan program penelitian Manajemen Nitrogen di daerah tropika basah (lihat post:  SOIL – Cassava based Cropping System).
  • Contoh kegiatan penelitian sebagai berikut:

 

 IMG_0001 - Copy

Area percobaan “Hedgrows Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan:  Pembentukan Kerangka Pertanaman

IMG_0002

 Tanaman pagar jarak 4 hingga 8 meter dipotong setinggi satu meter dari atas tanah

IMG_0003

Bahan pangkasan disebar merata di permukaan bidang lorong

IMG_0004

Kerangka (frame) patokan pangkasan (pangkasan bentuk): tinggi dan lebar bidang tanaman pagar disesuaikan dengan jenis pohon pagar

IMG_0005

Bentuk tanaman pagar (hedgerows crop)

Pertanaman:  Hedgerows

 IMG

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) - Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

IMG_0013

Plot:  Glirisidia (Glyricidia sepium) – Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

 IMG_0008

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) dan Petaian (Pelthoporum pterocarpum) - Kedelai (Glycine max)

 IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) – Jagung (Zea mays)

IMG_0012

Plot:  Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – Padigogo (Oryza sativa)

Di tempat lain

alleycrop

IMG_0014

“Hedgrows Cropping System)” pada lahan lereng

04 MaySOIL-Cassava Based Cropping System

   

CASSAVA BASED CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

 Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

 IMG_0009

Cassava (Manihot esculenta) – Aldira 1

  • Cassava (Manihot esculenta) – Euphorbiaceae: ubikayu, ditanam untuk memproduksi ubi sebagai bahan pangan alternatif, tepung tapioka, ataupun pakan ternak.
  • Tanaman ubikayu umumnya ditanam secara monokultur;  menyebabkan kesuburan tanah cepat tergradasi karena tanaman ini banyak menyerap unsur hara dari tanah untuk memproduksi ubi.
  • Karena itu, agar kandungan unsur hara tanah tidak cepat habis, maka dibutuhkan sistem manajemen yang baik.
  • Tumpangsari, merupakan sistem pertanaman polikultur, beberapa jenis tanaman berbeda  ditanam pada waktu bersamaan atau bergiliran.
  • Karena tanaman ubikayu tergolong berumur tahunan (pereneal), ia dapat ditumpangsarikan dengan beberapa jenis tanaman umur pendek (annual).  Sistem tumpangsari dikenal sebagai “cassava based cropping system” (sistem pertanaman berbasis ubikayu).
  • Kombinasi tanaman pereneal dengan tanaman annual, mencegah kompetisi terhadap ruang, medium, unsur hara dan air.
  • Sistem ini telah diteliti secara intensif di lokasi PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara, oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, bekerjasama dengan PTP XXXI/XXXII dan IB-Netherland di tahun 1980-an.
  • Contoh kegiatan penelitian tersebut antara lain disajikan sebagai berikut:

 IMG_0002

Base camp percobaan “Cassava Based Cropping System”

 IMG_0003

Persiapan lahan percobaan

 IMG_0004

Plot:  Cassava monokultur

 IMG_0005

 Plot:  Cassava – Padigogo

 IMG_0006

Plot:  Cassava – Kacang tunggak (Cowpea)

IMG_0007

Plot:  Cassava – Jagung (Zea mays)

 IMG_0008

Plot:  Cassava – Padigogo (setelah Kacang tunggak)

 IMG_0010

 Ubikayu untuk pakan ternak

03 MaySOIL-Topografi Berbukit hingga Bergunung

TOPOGRAFI BERBUKIT HINGGA BERGUNUNG

Penggunaan dan Pelestarian Lahan

 Contoh:  Kabupaten Solok – Sumatera Barat

Foto-foto:  Syekhfani

 1

 2

Danau Singkarak, sumberdaya alam dan panorama yang indah

3 - Copy

Area persawahan dengan irigasi “kincir air”, memanfaatkan sumber air dari sungai.

4

Agroforestry dan pertanian lahan kering, melestarikan vegetasi alam dan konservasi lahan pertanian.

5

Pertanian tradisional (kebun, pekarangan, tegalan), mengacu pada sistem alam (natural system)

6

Sadap pohon karet rakyat, dengan metode tradisional dan terlatih, meletarikan pohon karet yang tumbuh alami.

  • Pegunungan Bukit Barisan, terbentang dari ujung selatan hingga ujung utara pulau Sumatera, topografi berbukit hingga bergunung.
  • Pada bagian tengah, terhampar “Ranah Minang”, propinsi Sumatera Barat.
  • Ranah minang terkenal dengan panorama yang indah serta adat istiadat yang kokoh:  seperti  pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan“.
  • Di daerah (ranah) ini, peraturan adat tampak jelas mewarnai sistem kultur sosial, budaya dan teknik yang unik, konsisten, dan berlanjut.
  • Penerapan sistem agroforestry  dan sistem budidaya pertanian, sedemikian rupa memberikan nuansa khas alam ranah minang.
  • Sistem irigasi “kincir air”, yaitu teknik mengangkat air sungai yang posisinya lebih rendah dari  area lahan sawah;  ditemukan di sini dan tidak dijumpai di tempat lain.
  • Praktek budidaya belanjut dan lestari telah diterapkan di masyarakat minang sejak zaman dahulu.

 

02 MaySOIL-Medium Pisang Abaca

  

MEDIUM PISANG ABACA  -  BAHAN SERAT

Lokasi (contoh):   PT Perkebunan Bayulor, Banyuwangi, Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

1

Rumpun pisang abaca di kebun

2

Rumpun pisang abaca dan kelopak pelepah daun

4

Kelopak pelepah daun siap diproses menjadi serat abaca

3

5

Rumpun dan batang pisang abaca setelah kelopak pelepah daun dipanen

6

Kelopak pelepah daun setelah diproses menjadi serat abaca

  • Pisang Abaca -  (Musa textiles NEE), merupakan tanaman penghasil serat dari kelopak pelepah daun,  termasuk famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan.  Tumbuh liar di pulau Mindanao (Filipina) dan pulau Sangihe (Indonesia).
  • Tanaman Abaca berasal dari Filipina, dengan pangsa arealnya mencapai lebih dari 95%. Karenanya Abaca disebut sebagai Manila Henep.
  • Karena kuat dan tahan air garam, maka serat Abaca baik untuk industri tali-temali kapal laut dan tali-temali lainnya. Selain itu serat Abaca juga merupakan bahan baku pulp kertas berkualitas tinggi seperti kertas uang, kertas dokumen, kertas cheque, kertas plaster, kantong teh, kertas mimeograph, serta untuk tekstil.
  • Medium:  Tanaman pisang rata-rata dapat tahan terhadap kekeringan, karena batangnya banyak mengandung air. Namun apabila terlalu kekurangan air juga tidak baik pertumbuhannya. Hal ini dapat diatasi bila keadaan air tanah tidak terlalu dalam atau diberi irigasi. Tanah tidak boleh tergenang. Pada tanah bertekstur liat, harus diusahakan drainasenya. Apabila sering tergenang, perakaran tanaman akan busuk dan mudah terserang penyakit.
  • Tanah endapan di pinggir sungai besar sangat baik bagi pertumbuhan tanaman pisang karena membawa lapisan atas tanah yang subur, demikian pula tanah yang mengandung kapur seperti daerah Madura yang berbukit-bukit kapur juga cocok bagi tanaman pisang.
  • Peluang pasar Abaca masih sangat terbuka bagi Indonesia di bidang komoditas ekspor non-migas.

 

01 MaySOIL-Topografi Gunung Berapi

   

TOPOGRAFI GUNUNG BERAPI

 

  Kawasan (contoh):   Gunung  Bromo,  Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

  IMG_0001

  Kawah Gunung Bromo

  • Gunung berapi, memberikan arti sendiri bagi kehidupan di sekitarnya:  energi sumberdaya, vegetasi spesifik, panorama alam.
  • Aksi alam perlu direspon dengan cara mempelajari sifat dan perilaku, dampak positif atau negatif sehingga dapat melakukan upaya pelestarian.
  • Bagaimanapun, di balik “keindahan” tersembunyi kemungkinan ada “bencana”.
  • Panorama indah menjadi objek pariwisata domestik maupun mancanegara yang menarik.

 IMG_0002

Panorama menjelang pagi (hamparan awan menutup kaldera)

IMG_0003

IMG_0004

IMG_0005

IMG_0006

 Panorama menjelang matahari terbit (early morning)

IMG_0007

Matahari terbit (sunrise)

IMG_0008

IMG_0009

IMG_0010

Pariwisata menikmati panorama, fasilitas olahraga dan rekreasi

IMG_0011

IMG_0012

Kaldera (dataran pasir seputar gunung)

Panorama:

-Saat subuh (menjelang matahari muncul) seputar kawah diliputi awan putih mengambang seolah berada di bawah kita;  saat matahari terbit (sunrise) memberikan keindahan alam yang menakjubkan.

Kaldera:

-dataran pasir di seputar kaki gunung, merupakan kawasan luas spesifik yang dapat dimanfaatkan untuk berolah raga jalan kaki maupun menunggang kuda.

Vegetasi:

-Pinus (Pinus mercusii).

-Semak rendah atau rumput liar pencegah erosi.

Flora:

-Tanaman bunga liar spesifik gunung Bromo – Semeru - Edelweis Jawa (Anaphalis javanica), merupakan ciri khas vegetasi alam di kaldera Bromo – Semeru.

01 MaySOIL-Dampak Letusan Gunung Berapi

    

 

DAMPAK LETUSAN GUNUNG BERAPI

 

Survei Pendahuluan

 

Usaha Penanggulangan Dampak Letusan Gunung Kelud

 

Kediri – Blitar – Jawa Timur

 

sebelum anak kelud lahir[1]

Foto-foto: Syekhfani

Kondisi:  Lokasi Bahaya I, II, III, IV, Daerah Aliran Lahar

  • Dari aspek tanah, letusan gunung Kelud di suatu pihak dapat menyebabkan kerusakan karena sifat kesuburan tanah  meliputi fisik, kimia, maupun biologi mengalami perubahan. Di lain pihak dapat menguntungkan segi-segi kesuburan tanah berupa  tambahan bahan pasir atau debu yang mengandung unsur hara.
  • Agar bahan pasir atau debu tidak hilang terangkut oleh air dan/atau angin, maka diperlukan tindakan-tindakan konservasi.
  • Diperlukan pula penelitian-penelitian lebih detail dari aspek status perharaan, biologi, dan konservasi tanah dan air untuk tujuan reklamasi jangka pendek.

 

Hasil Pengamatan Visual di Lapang (survei)

 

1

 Lokasi Bahaya I (dekat puncak)

4

Tanaman kopi (Coffea sp.)

5

Tanaman coklat (Theobroma cacao)

2

Glirisidia (Glyricidia sepium)

3

Flemingia (Flemingia congesta)

 Lokasi Bahaya I

  • Secara visual tampak bahwa areal di seputar puncak menunjukkan tingkat kerusakan paling besar.
  • Vegetasi hutan dan juga perkebunan (kopi dan cengkeh) rusak total, tanpa daun; tinggal batang serta cabang cabang besar.
  • Kerusakan mencapai 85-100 % daun terbakar.
  • Timbunan material mencapai 40 cm berupa bahan pasir kasar dan batu koral yang bertebaran di bagian permukaan tanah.
  • Di lokasi datar, dijumpai lapisan berdebu yang cukup tebal di permukaan (kurang lebih 2 cm), meskipun dari informasi yang diterima telah terjadi hujan lebat beberapa kali.
  • Tampak tanaman berdaun lebar mempunyai kepekaan lebih tinggi; misalnya: pohon kopi yang sama sekali gundul.
  • Tanaman pelindung dari jenis lamtoro (Leucaena leucephala) dan  glirisidia (Gliricidia sepium) relatif tahan dan masih menunjukkan pertumbuhan normal meskipun warna daun menampakkan gejala difisiensi nitrogen.
  • Jenis tanaman lain yang tahan adalah Flemingia congesta yang masih tumbuh segar tanpa perubahan warna.

 

6

 Lokasi Bahaya II (perkebunan, pemukiman)

 Lokasi Bahaya II

  • Di kawasan  ini timbunan  material mencapai ketebalan 20 – 30 cm.
  • Vegetasi kebanyakan masih tanaman perkebunan dan sedikit tanaman pekarangan (kelapa, rambutan, pisang).
  • Kerusakan tanaman kopi dan coklat yang berdaun lebar masih cukup parah meskipun tidak sampai gundul.
  • Daun daun tua masih bertahan tetapi daun muda rusak dan gugur.
  • Besar kerusakan antara 50-75 %.
  • Kondisi perakaran tanaman seperti pada lokasi bahaya I, tapi tanaman kopi, coklat dan cengkeh mulai tumbuh tunas-tunas baru.
  • Kawasan perkebunan di Lokasi Bahaya II ini masih hijau, namun untuk pemulihan  secara maksimal  dibutuhkan  cara-cara yang tepat dalam hal perbaikan  kondisi tanah dan air.

7

   Lokasi Bahaya III (perkebunan, pemukiman)

Lokasi Bahaya III

  • Di sini timbunan material mencapai ketebalan 10-20 cm.
  • Kawasan relatif datar dan didominansi oleh areal tanaman pangan, terutama sawah.
  • Vegetasi lain meliputi kopi, coklat dan tanaman pekarangan (kelapa, rambutan dan lain-lain).
  • Besarnya kerusakan meliputi 30-40 %.
  • Permasalahan utama selain timbul materi yang masih cukup tebal, juga tersumbatnya saluran-saluran irigasi sehingga air tidak dapat dialirkan ke sawah.
  • Menurut informasi dari pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tanaman padi sawah yang pada saat letusan berada pada ke fase berbunga, tidak mengalami hambatan untuk pengisian biji dan tampaknya panen masih bisa dilaksanakan, asalkan turun hujan.
  • Akan tetapi tanaman padi yang pada saat letusan masih berada pada fase vegetatif sangat menderita akibat kekurangan air dan tampaknya panen sama sekali tidak dapat diharapkan.
  • Pihak Perkebunan Penataran (coklat) tampaknya berusaha untuk mengatasi masalah timbunan  materi dengan jalan membuka timbunan di seputar tajuk  pohon.

  9

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase vegetatif

8

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase pemasakan

 Lokasi Bahaya IV

  • Timbunan  materi  hanya berkisar antara 5-10 cm.
  • Vegetasi terutama tanaman semusim (padi dan lain-lain) dan tanaman pekarangan.
  • Padi sawah  pada  kawasan  ini tidak banyak terpengaruh oleh letusan; tetapi tanaman berdaun lebar seperti pisang, kelapa, masih dipengaruhi.
  • Saluran-saluran irigasi masih mudah untuk difungsikan  dan air dapat  mengalir  ke  petak-petak  sawah.
  • Tanaman  padi sawah yang pada saat letusan  berada pada fase vegetatif  dapat terus tumbuh ke fase generatif dan panen tampaknya masih tetap dapat di peroleh secara normal.

  Lokasi Aliran Lahar

  • Lokasi yang terkena aliran lahar, terutama  untuk lahan sawah  cukup  menderita karena sebagian tanaman  padi hanyut terbawa arus.
  • Tanaman padi yang tidak hanyut memperoleh timbunan bahan-bahan material pasir,debu dan batu-batu kerikil sampai koral yang cukup tebal.
  • Di samping itu tampak  pula adanya  timbunan  bahan-bahan organik berupa sisa-sisa cabang dan ranting pohon yang ikut hanyut.
  • Petak sawah yang tidak tertimbun memperoleh limpahan  materi  halus berupa debu atau lempung.
  • Diduga  pengikisan permukaan tanah sepanjang aliran  lahar menyebabkan ikut terkikisnya liat yang kemudian bercampur dengan debu.
  • Hal  menarik  di jumpai pada lokasi sawah yang mendapat timbunan ini adalah bahwa akar tanaman padi dijumpai dalam jumlah banyak di lapisan material.
  • Diduga akar tanaman tumbuh ke atas karena ada rangsangan tertentu di lapisan material tersebut.

  

 Kesimpulan

  • Dari hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa lahan bekas letusan Gunung Kelud perlu diperbaiki baik dari segi tanah maupun tanaman, sesuai dengan tingkat kerusakannya agar fungsi lahan dapat dipulihkan.
  • Bahan timbunan berupa pasir dan debu memberikan kontribusi terutama unsur P dan S.  Agar bahan masukan ini tidak hilang melalui erosi, maka diperlukan tindakan konservasi.

 

→ Baca:   Laporan Survei Lengkap