05 JunFosfor Energi Kehidupan

Batu Fosfat Apatit

KELANGKAAN SUMBER FOSFOR

(Batu Fosfat Alam)

Syekhfani

Telah diketahui, bahwa sumber energi metabolik tanaman sebagai energi kehidupan di bumi adalah unsur P. lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/energi-kehidupan/

Dan limit pada berbagai ekosistem, lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/06/seputar-hara-esensial/

Sumber alami: N tidak terbatas jumlahnya (80 % volume atmosfer), sedang P dan K terbatas jumlah dan sebarannya (lapisan litosfer).

Sumber energi P alami yaitu Batu Fosfat Alam (BFA), terbatas (limit) dalam bentuk batuan litosfer dan endapan laut (sedimen marin).

Sebagai sumber terbatas yang sangat dibutuhkan, maka manusia harus mampu mengeksploitasi dan mengelola BFA secara tepat agar tidak menjadi sumber energi langka (scarcity of energy resource).

BFA berada dalam jumlah dominan sebagai batuan/mineral Apatit.

Di Indonesia, BFA terkonsentrasi di kawasan sedimen marin, sepanjang pantai utara Jawa Timur/Madura dan Jawa Barat (Cirebon). Namun dengan jumlah endapan yang terbatas dan bersifat setempat (spotting), dengan kualitas bervariasi (rendah, medium, tinggi).

Di Jawa Timur dan Madura, sebagian BFA di eksploitasi oleh pemilik lahan secara individu atau di bawah naungan pabrik pupuk.

Sumber BFA disinyalir cukup banyak sebagai sedimen bawah laut. Namun, bermasalah dalam hal ekploitasinya.

Mengingat masalah kelangkaan sumberdaya energi P ini, maka upaya yang perlu dilakukan mengacu pada prinsip pengelolaan 4 R: recovery, reduce, reuse dan recycle.

Upaya meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk (eficiency use of fertilizer) fosfor, antara lain:
-Penggunaan BFA berkadar tinggi (contoh, 36 % P2O5),
-Menambang kembali residu P di lahan sawah, dan
-Penggunaan bahan organik berkadar P tinggi (Tithonia diversifolia, Chromolaena odorata, biji-bijian), dan lain-lain.

No comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment
CAPTCHA Image
*