26 AugSustainable Upland

Ubi Lahan Kering

PENGEMBANGAN UPLAND DI INDONESIA

Syekhfani

Letak geografis Indonesia berada di zona tropika basah dan alur rangkaian gunung berapi, memberikan potensi kesuburan lahan alami berupa batuan induk vulkanik dan bahan induk organik yang berlimpah; namun cepat mengalami degradasi.

Potensi dan kendala ekstrim ini memerlukan pengelolaan kesuburan yang rasional sesuai kaedah-kaedah konservasi agar dapat berfungsi sebagai sumberdaya lahan tanaman pangan berdaya dukung tinggi.

Di pulau Jawa, dominasi bahan induk vulkan dari banyak gunung berapi aktif, menjadi sentra produksi pangan utama, dengan tingkat kesuburan tinggi; didukung pengembangan intensifikasi dalam kurun cukup lama.

Di luar pulau Jawa, budidaya pertanian intensif seperti Bali, Lombok, dan beberapa lokasi di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua, tampak berkembang serupa meski tidak seintensif di Jawa.

Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras, disuplai oleh lahan sawah (lowland) yang yang seharusnya dapat bersifat sistem hara tertutup (close nutrient recycling); dengan catatan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

Untuk mendukung ketahanan pangan, maka perlu adanya bahan pangan sekunder (ubian, buahan), yang berbasis pada lahan kering (upland); atau lahan sawah tumpang-gilir (relay planting) dengan padi sawah.
Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/sumber-pangan-alternatif/
http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/soil-ubi-lahan-kering/

Intensifikasi pertanian, terutama di pulau Jawa dan ekstensifikasi dan/atau menuju intensifikasi di luar pulau Jawa, menunjukkan tingkat perkembangan lahan yang berbeda secara kontras; terutama dari aspek potensi lahan dan status kesuburan tanah.

Intensifikasi di Jawa dilakukan secara luas dan menyeluruh di lahan budidaya tanaman padi sawah, menggunakan paket teknologi (termasuk penggunaan pupuk NPK) secara terus menerus sejak awal tahun 1970-an; dalam program Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, dan seterusnya, hingga tahun 1990-an.

Setelah pencapaian swasembada beras tahun 1984, terasa peningkatan produksi gabah semakin berat, produktivitas “melevel” (levelling off) dan bahkan cenderung menurun (decline).

Disinyalir telah terjadi ketidak-imbangan status unsur hara dalam tanah, di mana kandungan unsur hara makro (P dan/atau K) tinggi, sedang unsur hara semi makro (S) serta unsur hara mikro (Zn) cenderung rendah; muncul gejala defisiensi unsur di beberapa lokasi sentra produksi padi. Hal yang sangat spektakuler adalah kandungan bahan organik ternyata sudah “sangat rendah” (di bawah 1%).

Sejalan dengan rendahnya kandungan bahan organik, aplikasi pupuk N selalu menunjukkan respon; bahkan tanpa pemberian pupuk nitrogen produksi tidak dapat diharapkan.

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shipting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia. Kesimpulan dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

2. Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, sedikit mengalami perkembangan hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

3. Pada lahan luar Jawa P, K dan pH semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa, di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

4. Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

Opsi terakhir di atas tergolong pada sistem budidaya lahan kering (upland); yang merupakan sistem siklus hara terbuka (open nutrient recycling) dan bermasalah dalam hal erosi dan pencucian.

Alternatif antisipasi adlah melalui penerapan sistem budidaya dengan masukan teknologi bersifat berkelanjutan, antara lain yaitu (Garrity, 1983):

1. Sistem tanaman pagar kontur,

2. Ketersediaa Fosfor sebagai penghambat kritis,

3. Pengurangan pengolahan tanah,

4. Pengembangan sistem bera, dan

5. Diversifikasi budidaya pada lahan sempit.

Lihat: → Lindert, Peter H., 2000. Shipting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia. The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

Lihat: → Garrity, Dennis P. 1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66; in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme’ International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Spec. Publ. No. 56.

No comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment
CAPTCHA Image
*