09 FebAgroekologi Tanaman Pala

S

SISTEM SEMI ALAMI

Pendekatan Sistem

Syekhfani

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt), tergolong tanaman rempah (spices), telah terkenal sejak jaman Portugis (Marco Polo), yang pada abad ke-19 berlayar ke Hindia (Indonesia) untuk mencari rempah-rempah (cengkeh, pala).

Agroekosistem tanaman pala yang telah bertahan berabad-abad tersebut, secara umum telah banyak dipelajari, namun sifat perilakunya secara spesifik belum banyak dipahami.

Berikut, dikemukakan pendekatan sistem dari umum hingga lebih spesifik, disesuaikan dengan fakta lapangan saat ini.

Diharapkan, pendekatan sistem ini dapat membantu dalam memahami dinamika sistem pertanaman pala.

Sistim Alami (natural system)

Sistem alami (natural system) di zone iklim hujan tropika basah (tropical rain forest), yaitu matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun, mendukung produksi biomas berlimpah.

Sebaliknya, kelembaban dan suhu tinggi, mendorong tingkat dekomposisi sisa bahan organik di lantai hutan berlangsung cepat, sehingga tampak adanya dukungan “semu”.

Terbukti saat hutan tropika basah di buka untuk lahan budidaya, maka dalam kurun dua hingga tiga musim tanam, produktivitas secara drastik menurun (ingat kasus: sistem ladang berpindah, shifting cultivation).

Biomas tajuk dan sistem perakaran intensif menyebabkan terjadi sistem keseimbangan unsur hara yang disebut “close nutrients recycling” (sistem daur hara tertutup).

Pada sistem ini, tidak ada unsur hara yang hilang karena tidak ada aliran permukaan (runoff), erosi dan pencucian (leaching) ke lapisan bawah tanah (ground water); dalam hal ini tajuk bersifat sebagai pompa unsur hara melalui akar.

Tambahan unsur hara melalui hujan, fiksasi N atmosferik dan pelapukan batuan induk; mendukung suksesi hutan belantara (tropical rain forest).

Agroforestry (Wanatani) – Agroekosistem Tanaman Pala

Meskipun tampaknya stabil, namun budidaya tanaman pala tergolong ekosistem hutan buatan manusia (man made forest). Sehingga, diperlukan manajemen kebun yang baik agar dapat menjamin produktivitas tinggi dan berkelanjutan.

Pendekatan sistem daur hara tertutup di bawah lantai hutan pala, dapat dipelajari melalui dinamika: rasio C/N, KTK, dan unsur hara NPK sebagai parameter.

Nilai C/N, menunjukkan tingkat laju dekomposisi seresah di lantai hutan,

Nilai KTK, dapat dijadikan parameter kemapuan tanah dalam membufer unsur hara.

Nilai pH, merupakan parameter perubahan reaksi tanah yang dipengaruhi derajat dekomposisi, dan sangat berpengaruh terhadap sifat kesuburan tanah aktual.

Status Unsur NPK, yang merupakan unsur hara makro tanaman, adalah kunci produktivitas tanaman, dalam kaitannya dengan reaksi fotosintesis, yaitu komponen senyawa khlorofil (N, Mg), sumber energi metabolik (P), dan trasportasi fotosintat (K).

Dinamika pertumbuhan tanaman pala tersebut hendaknya didekati dengan sistem terpadu, sebagai fungsi pertumbuhan (Y): Y = f (X), di mana Y= komponen produktivitas tanaman, dan X = komponen produktivitas tanah.

Lihat:http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/09/19/soil-buah-pala/

No comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment
CAPTCHA Image
*