19 MayKiat Bertani Kopi

Buah Kopi

MEMANFAATKAN KOTORAN SAPI

Ameliorasi Tanah Kebun

Syekhfani

Saat penulis melanjutkan sekolah dari SMP ke SMA, Bapang (bapak, Semende) penulis mulai memikirkan biaya andaikan nanti penulis lanjut ke perguruan tinggi.

Bapang penulis adalah seorang guru Sekolah Dasar, yang berpenghasilan pas-pasan, hanya mengandalkan gaji guru dan bertani sambilan di sawah sehabis mengajar.

Beliau memperhitungkan bahwa, apabila menanam kopi, umur 4 tahun sudah berproduksi dan dapat menghasilkan uang.

Lalu beliau mengajak beberapa teman se-profesi untuk membuka kebun kopi di kawasan tidak jauh dari dusun.

Kawasan tersebut berupa bekas hutan sekunder yang terlantar dan ditumbuhi alang-alang.

Melalui perjuangan, setelah memperoleh ijin pamong dusun, maka bapang dan teman-temannya, akhirnya memiliki kebun kopi seluas kurang lebih 2 000 pohon.

Namun, bapang menjadi pesimis ketika melihat perkembangan pertumbuhan tanaman yang tidak menggembirakan, lambat, kerdil dan tidak subur.

Bagaimana dapat menghasilkan uang dalam waktu yang direncanakan?

Kebetulan, sewaktu bapang melintasi rumah-rumah di dusun saat pergi ke kebun, tampak tumpukan kotoran sapi kering di bawah rumah yang tidak berpenghuni.

Kebiasaan penduduk, memelihara sapi dilepas begitu saja tanpa dikandangkan, maka pada malam hari, sapi-sapi tidur di bawah rumah penduduk, yang berupa rumah panggung.

Terpikir oleh bapang untuk mencoba memanfaatkannya untuk memperbaiki kesuburan tanah kebun kopi.

Hari berikutnya, bapang membawa sekeranjang kotoran sapi kering tersebut, ditebarkan di bawah tajuk pohon kopi serta dicampur-ratakan dengan tanah.

Selang beberapa minggu kemudian, karena waktu itu musim penghujan, tampak pertumbuhan tanaman kopi menjadi lebih subur, berbeda kontras antara pohon yang diberi dengan tidak diberi kotoran.

Sejak saat itu, setiap bapang pergi ke kebun, lalu mengambil dan membawa kotoran sapi yang “tidak bertuan” tersebut sekuatnya.

Bahkan, pada hari libur, bapang meminta murid-murid kelas 6 bergotong-royong mengangkut kotoran sapi le kebun.

Walhasil, dalam waktu singkat semua tanaman kopi mendapat kotoran sapi, dan kebun kopi bapang menjadi “ijo royo-royo”.

Lingkungan rumah penduduk di dusun pun menjadi bersih.

Saat panen awal, hasil biji kopi yang bapang peroleh seperti layaknya kebun kopi normal dan subur.

Berkat jerih payah bapang, maka biaya penulis meneruskan sekolah ke perguruan tinggi dapat terpenuhi.

Ide kreatif, diikuti motivasi dan inovasi tinggi, dapat menghasilkan suatu kesuksesan!

Comments are closed.