Archive for October, 2016

27 OctTanaman Dewandaru Dalam Pot (II)

0

TANAMAN DEWANDARU DALAM POT

Syekhfani

Pada posting pertama, telah diuraikan beberapa hal tentang tanaman Dewandaru, sebagai berikut:

Dewandaru dapat diartikan sebagai kayu “Pembawa Wahyu Dewa”.

Penulis memperoleh tanaman Dewandaru dalam pot dari penjual tanaman di wisata Gunung Kawi.

Dengan waktu, tanaman Dewandaru tumbuh baik, berbunga dan berbuah.

Karena ditumbuhkan dalam pot, maka tanaman tergolong Bonsai (kerdil), dengan system perakaran diikuti tajuk yang intensif.

Buah Dewandaru dengan bentuk buah bergerigi mirip buah Cereme (Cermai), bulat bintang, dikenal dengan nama Ciremai Londo, berbentuk mungil, cerah dan menarik , warnanya berubah bertingkat dari hijau, kuning, oranye dan merah sesuai dengan tingkat kematangannya.

Buah mentah berwarna hijau kekuningan, menjadi merah tua kalau sudah matang.

Berikut rekaman foto tanaman Dewandaru koleksi penulis (setelah di update):

1. Bunga

1. Bunga

2. Bunga dan Buah

2. Bunga dan Buah

3. Buah Setengah Matang

3. Buah Setengah Matang

4. Buah Matang

4. Buah Matang

5. Buah Mentah dan Matang

5. Buah Mentah dan Matang

6. Pot Setelah diperbesar dan Diberi Pupuk Kandang

6. Pot setelah diperbesar dan diberi pupuk kandang.

Dalam pemeliharaan tanaman Dewandaru dalam pot, diperlukan penyiraman dan pemberian unsur nutrisi.

Nutrisi pupuk N, P, dan K, serta unsur mikro diberikan dalam bentuk cairan ke medium tanah dalam pot, maupun melalui daun (foliar).

Tanaman Dewandaru dapat tumbuh pada medium pot ukuran terbatas yang kurang subur, namun setelah ukuran pot diperbesar dan medium ditingkatkan kesuburannya, maka perumbuhannya menjadi lebih cepat dan lebih menarik.

Ada orang yang menyenangi buah Dewandaru, meski rasanya agak getir apabila belum matang (ranum).

Namun apabila ranum,rasanya manis dan segar.

01 OctSifat Perilaku (Fate Behaviour)

KAKATUA-KAKAK

KUNCI BERKOMUNIKASI DENGAN SESAMA MAKHLUK

Syekhfani

Apabila kita berkehendak untuk berkomunikasi dengan sesama makhluk hidup (tumbuhan, hewan, manusia), maka agar kita dapat melakukakan komunikasi yang baik, kita perlu mengetahui sifat perilakunya.

Sebagai contoh, penulis punya seekor burung kakaktua peliharaan yang sudah sangat akrab dengan seisi rumah.

Biasanya, setiap hari, pagi-pagi begitu bangun tidur ia memanggil-manggil.

Awalnya kedengarannya nada menyapa; namun makin lama makin keras, mungkin dia mulai merasa lapar.

Mula-mula dia memanggil dengan nada rendah, lalu lebih keras dan apabila tampak tidak ada respon, maka kemudian berteriak-teriak.

Dengan demikian kita tahu, bahwa dia sudah benar-benar merasa lapar dan minta makan.

Dalam keadaan biasa, kakaktua penulis menunjukkan perilaku santai dan bergerak aktif.

Hal ini adalah pertanda bahwa tampaknya dia tidak ada masalah dan santai-santai saja.

Namun, apa yang dia kehendaki??

Sebenarnya kita tidak mengetahuinya.

Berikut video kakaktua “KAKAK”, peliharaan penulis:

hhtps://youtu.be/4L71s6jzMaO