11 JunNOSTALGIA MASA KECIL I

Ikan Cengkak

Ikut Bapak Mancing Ikan

Syekhfani

Suatu hari, aku dan adikku diajak Bapak pergi mancing ke sungai Suban, kurang lebih satu kilometer dari kampungku. Hari itu adalah minggu, jagi sekolah libur.

Bapakku, seorang guru SD, kebetulan punya hobi mancing ikan.

“Hari ini aku akan pergi mancing ke sungai”. Kata Bapak.

“Apa kamu mau ikut, Syekh?”.

“Mau, Pak!” kataku gembira.

“Ajak juga Adikmu”.

“Iya, Pak”. Aku lari mencari adikku yang sedang bermain dengan teman-temannya.

“Dik, aku diajak Bapak mancing ke sungai”.

“Kamu mau ikut?”.

“Mau, mau!” , kata adikku gembira, dia sangat senang bila pergi bersama Bapak.

“Ayo cepat berkemas, mumpung masih pagi”.

…………..

Tidak lama kemudian, Bapak, aku dan adikku berangkat menuju sungai, sekitar satu kilometer dari dusun tempat kami tinggal.

Sungai “Suban” (Aik Suban, Semende), bermuara ke sungai Enim, cukup deras dan banyak terdapat ikan liar: seluang, cengkak, baung, keli, tilan, bahkan semah.

Ayah biasanya menyiapkan umpan: udang atau perapau/sempegih. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2017/05/14/hidup-kehidupan-life-live-iii/

Namun, di tepi sungai, ada juga ditemukan umpan, yaitu: cacing badas (sejenis cacing tanah besar dengan cahaya fosfor di kepalanya: disebut “Bedet”).

Bapak punya alat pancing rol dengan tali cukup panjang, untuk menghela ikan yang terkena pancing, sampai ikan capek ditarik dan bisa ditangkap dengan sesauk (jaring berbingkai rotan).

Untukku dan adikku cukup menggunakan alat pancing sederhana, berupa tali dan pancing dengan joran pelepah salak hutan yang sudah dipersihkan daun dan durinya.

Aku dan adikku biasa memasang umpan “Bedet” di mata kail.

Adikku melempar pancing ke ekor lubuk dan dalam waktu singkat dia mendapat cukup banyak ikan “Seluang”. Biasanya pagi hari, ikan-ikan itu sedang lapar.

Entah hari itu aku lagi kurang beruntung. Tidak seekor ikanpun yang menangkap pancingku.

Aku beralih ke bagian hulu, di mana air cukup deras.

Sembari sewot karena belum mendapat ikan, begitu saja mata kail kuberi umpan Bedet dan kulempar ke tempat air deras di bagian pinggir.

Tiba-tiba, kailku ditarik ke dalam dengan kuat.

“Dik, kailku tersangkut dahan hanyut!”, teriakku.

“Tarik yang kuat, Kak!”, seru adikku.

“Putus juga, gak apa-apa…!”.

Joran kutarik dengan kuat, tanpa peduli senar akan putus.

Tetapi, tiba-tiba, seekor ikan tertarik ke arahku dan jatuh menggelepar tepat menimpa mukaku.

Aku sangat terkejut, tidak menyangka kail ditangkap ikan, bukan tersangkut dahan kayu.

Aku tercebur ke tepi lubuk dan basah kuyup. Untung pancing dan ikan tidak terlepas.

Seekor “Cengkak”, tertangkap olehku.

Seumur-umur baru kali itu aku mancing dapat ikan besar, biasanya hanya Bapak yang bisa memperolehnya.

Adikku ada rasa sedikit iri, ikan perolehannya banyak tapi kecil-kecil. Ikanku satu, tetapi besar!

Menjelang sore kamipun pulanglah ke kampung dengan gembira.

Adikku mengikatkan untaian tali penuh ikan-ikan di pinggangnya. Aku menyandang ikan besar dibahu: seekor Cengkak! “Setempap” (selebar tangan) ukurannya!

Suatu nostalgia yang tak terlupakan!

Comments are closed.