Archive for the 'Alih fungsi lahan' Category

31 JulKetika Paceklik di Desa

imagesJ57KYC1K

SUMBER PANGAN IDOLA

Ubijalar & Ubikayu

Syekhfani

Masih ingat saat itu, penulis masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP), saat terjadi kemarau panjang menerpa.

Keluarga kami, terutama yang hidup di kampung, lalu mengalami kendala kekurangan pangan (malese, paceklik, scarcity of food).

Tanaman padi sawah tidak bisa tumbuh baik, selokan irigasi tidak mampu memasok air irigasi secara normal.

Saat itu, pasokan pangan untuk pegawai negeri hanya berupa “uyek” (butiran ubi kayu kering) yang berbau penguk.

Ayah penulis, sebagai seorang guru sekolah rakyat (SR, SD sekarang), menerima ransum “uyek” tersebut.

Dalam kondisi demikian, ayah terpaksa memgerjakan sawah keluarga yang tinggal di kota, yang berstatus bera.

Bersama-sama petani kawasan sawah yang (berjumlah beberapa puluh), ayah bersepakat untuk membuka lahan padang (sehari-hari digunakan sebagai lapangan sepak bola para remaja kampung); milik bersama untuk ditanami ubikayu.

Masing-masing petani memperoleh lahan kebun ubikayu sekitar 1/4 hektar.

Walhasil, dari kebun ubikayu tersebut, ayah dan petani mendapat tambahan sumber pangan, sambil menunggu padi sawah panen.

28 AprSinkronisasi – Sinlokasi

TANAMAN PANGAN

Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Syekhfani

Budidaya tanaman pangan ditujukan untuk memasok kebutuhan bahan pangan ataupun industri makanan.

Oleh sebab itu, kegiatan budidaya bersifat intensifikasi di lahan luas, menggunakan jenis tanaman pangan yang berpotensi produksi tinggi serta di lahan yang relatif mempunyai sarana produksi cukup.

Lahan intensifikasi, pada awalnya mampu memasok kebutuhan pangan penduduk; akan tetapi dengan laju pertambahan, maka daya dukung lahan menjadi semakin berkurang.

Konsekuensinya, untuk mengatasi kemungkinan masalah kekurangan pangan, maka perlu dicari alternatif lahan baru, meski potensi daya dukungnya relatif rendah dan bahkan marginal.

Dengan demikian, masalah “lokasi” lahan harus diatasi dengan “sinkronisasi” jenis tanaman pangan budidaya.

KONDISI ABNORMAL

Lahan intensifikasi tanaman pangan di Indonesia terutama adalah tanaman “berbasis padi sawah”, yang mempunyai perhatian khusus pemerintah.

Intensifikasi di lahan sawah ini, dilakukan sejak tahun 1960-an, yaitu melalui berbagai program: Bimas, Inmas, Insus, dan lain-lain, didukung dengan paket teknologi produksi tinggi.

Tumpang-gilir tanaman padi sawah dengan palawija, serta tumpang-sari di antara palawija, juga termasuk dalam program.

Namun, kapabilitas dan suitabilitas lahan meluas dari kelas sangat sesuai (S1) ke sesuai (S2), agak sesuai (S3) dan tidak sesuai (N).

Akhirnya, para ilmuan dan peneliti harus memikirkan alternatif pilihan terjelek, yaitu mengubah lahan marginal tidak sesuai (N) agar dapat ikut berproduksi, minimal mempunyai kontribusi terhadap masalah mengatasi kemungkinan rawan pangan (scarcity of food).

Beberapa lahan marginal yang berpeluang untuk dijadikan areal intensifikasi misalnya: Gambut, Pasang Surut, dan Salin Sodik (pH ekstrem Masam atau Alkalis).

UPAYA

1. Reklamasi, amendmen, dan ameliorasi tanah, dan

2. Seleksi dan pemuliaan jenis/varietas/klon tanaman toleran berprotensi produksi tinggi.

Tanah

Cekaman salinitas/asiditas terhadap perakaran: permeabilitas dinding sel akar.

Tanaman

Cekaman salinitas/asiditas mendorong mekanisme self control dengan produksi metabolit sekunder (alkaloid): ABA, Proline-keseimbangan tekanan osmotik/turgor daun (kontrol air oleh ion K+).

CONTOH TANAH SALIN SODIK

Indikator salinitas/Sodisitas

Tanah: tanaman layu pada kondisi air tanah cukup.

Tanaman: penebalan daun, warna/morfologi tidak normal, tekanan turgor tinggi.

Ameliorasi

- Imbangan basa-basa: K vs Na, Ca, Mg

- Bahan organik, Soil Conditioner

- Konservasi air tanah.

Sinkronisasi – Sinlokasi

- Pengaturan pola dan waktu tanam: padipalawija (tunggal)/palawija (tumpang-sari).

Tingkatkan kemampuan “Adaptasi/Toleransi Tanaman” terhadap “Cekaman Lingkungan”!

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

25 SepUbah Praktek Konfensional Jadi Organik

unduhan

BAGAIMANAKAH?

Syekhfani

Seorang petani ingin mengubah praktek budidaya konvensional menjadi budidaya sistem organik, agar nanti ia dapat memperoleh sertifikat “Produk Organik”.

Petani tersebut bingung kapan ia bisa mulai (setahun, dua tahun, lima tahun?), dan apakah tanpa pemberian (pupuk anorganik artifisial, pestisida, herbisida?), benih transgenik? Bagaimana cara mengubah praktek konvensional tersebut menjadi praktek organik? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di benaknya.

Pada prinsipnya, dia membutuhkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar sistem pertanian organik, prosedur , dan aturan (regulasi) agar produksi pertaniannya diakui tergolong sebagai “Produk Organik”.

Lihat: http://jurnalasia.com/2014/08/07/budidaya-tanaman-padi-organik/

Wacana:

Praktek bertani konvensional dilakukan melalui input untuk mengatasi masalah-masalah seperti defisiensi unsur hara atau infestasi hama penyakit, sedang praktek pertanian organik memperbaiki produksi tanaman melalui pendekatan-sistem alami.

Karena kedua pendekatan sistem tersebut berbeda, maka masalah produksi dan lingkungan meningkat selama fase transisi antara pertanian konvensional menjadi sertifikasi organik stabil.

Selama periode ini, sebelum kesimbangan alami daur hara dan hubungan hama penyakit – predator menjadi stabil, praktek produksi organik bisa tidak berfungsi secara efektif.

Pada waktu yang sama, petani transisi tidak boleh menggunakan input konvensional yang banyak yang selama ini diandalkan pada tanamannya dengan input unsur hara atau kontrol hama penyakit secara cepat.

Degradasi sumber atau masalah kontaminasi juga meningkat selama periode transisi seperti pembelajaran baru petani terhadap praktek manajemen.

Lihat: → Soil Protecting Water Qualitry

Pertanian Organik adalah Sistem, bukan Produk!

02 NovSOIL-Wana – Tani (Kehutanan – Pertanian)

 

1

 

WANA – TANI (KEHUTANAN – PERTANIAN)

 

Hutan Kurang Produktif dijadikan Pertanian Intensif?

 

Bahasan – Foto-foto:  Syekhfani

 

Banyak hutan menjadi tidak berfungsi optimal karena berbagai faktor, seperti misalnya:  perubahan hutan alami menjadi hutan produksi, konversi lahan hutan menjadi lahan pertaniankondisi lahan yang tidak mendukung pertumbuhan hutan yang baik, dan lain-lain.

Namun demikian, apapun alasannya, bila lahan hutan ingin diubah menjadi lahan pertanian, maka harus dilakukan dengan baik, teliti dan terprogram.

Sebelum hutan dibuka untuk lahan pertanian intensif, diperlukan persiapan-persiapan meliputi benihpersemaianpertanamanpemeliharaan, hingga  upaya keberlanjutan hasil.

Bagaimanapun, suatu perubahan sistem memerlukan kondisi-kondisi spesifik dalam hal proses adaptasi lingkungan pertumbuhan tanaman.

Dari aspek kesuburan tanah meliputi:  faktor-faktor kesuburan potensialaktualreklamasiamandeman ataupun ameliorasi;  semuanya dikemas dalam suatu paket teknologi.

Gambar-gambar berikut disajikan sebagai contoh langkah-langkah yang dilakukan dari pembukaan hutan hingga pertanaman komoditas pertanian.

 2Pembukaan hutan sekunder untuk lahan penelitian

3

Pengeringan biomas sehabis pembersihan lahan (land clearing)

4

Lahan hutan sekunder dibuka, dipersiapkan untuk dijadikan lahan pertanian intensif

5

Saat hujan, sebagian unsur hara larut dalam air (terutama basa-basa K, Ca, Mg)

6

Tanaman kacang tunggak (cowpea) siap dipanen sebagai sumber benih

7

Tanaman ubikayu siap dipanen, batang ubikayu digunakan sebagai sumber bibit

8

Batang ubikayu disusun rapi untuk digunakan sebagai stek

9 (2)

Pertanaman ubikayu monokultur

9b

Ubikayu tumpangsasi dengan padi gogo

9a

Ubikayu tumpangsari dengan jagung

11 (2)

Ubikayu tumpangsari dengan kedelai

9e

Koleksi benih mukuna

10

Bibit kaliandra untuk tanaman pagar (alley crop)

14

Kerangkeng kayu tempat adaptasi bibit (sekitar 70% cahaya masuk)

15

Lahan siap untuk pertanaman komoditi pertanian

16

Pembersihan lahan sebelum ditanami

14 (2)

Penanaman bibit tanaman pohon danbibit tanaman penutup tanah langsung di lahan

menggunakan tali pengatur jarak tanam

15

16

Penyiapan tanaman pagar (hedgerows crop)

16

Sistem tanaman pagar (hedgerows/alley cropping system) - (belakang), dan

Sistem penutup tanah (cover cropping system) – (depan)