Archive for the 'Bahan Kuliah' Category

15 FebAlternatif Pupuk Organik Kompon

cbe9caa5_82beec7e_0570_41a4_b36a_45ef50a23e6d

HUMAT-BIOCHAR (NPK)

Syekhfani

Pupuk organik kompon, adalah gabungan bahan organik + bahan anorganik bermutu tinggi.

Agar pupuk organik kompon efektif (effective) dan berkelanjutan (sustainable), maka perlu dipilih bahan baku dasar yang telah terbukti keampuhannya, di antaranya adalah: Humat dan Biochar http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/01/09/asam-humat-dan-biochar/.

Alternatif alternatif pupuk kompon, bisa dipilih dari kombinasi berikut:

-Humat+Asam Amino

-Humat+NPK

-Humat+NPK+Kompos

-Fulvat+Leonardite

-Humat+Fulvat+NPK

-Biochar+NPK+Biofertility

Lihat:→ http://www.tradekorea.com/product/detail/P279855/Humic-acid-in-granular-form.html

13 FebKinase

Gb. 0. Active_site_of_Dihydroxyacetone_Kinase

ENZIM FOSFORILASE

Syekhfani

Dalam reaksi fotosintesis, yaitu perubahan energi kinetik sinar matahari menjadi energi metabolik ATP, ADP (TPN, DPN, dan lain-lain), melibatkan unsur fosfor (P) sebagai sumber energi tinggi (high energy).

Mekanisme tersebut, secara kimia organik merupakan reaksi enzim yang perlu diketahui dan dipahami agar dapat dimengerti peran penting unsur P sebagai sumber energi, N dan Mg sebagai penyusun khlorofil, serta K dalam transfer fotosintat.

Pada gilirannya, ilmu dasar (basic sciences) tersebut diperlukan dalam transfer menjadi ilmu terapan (applied sciences); misalnya teknologi agen hayati (biofertilizers).

Dalam media tanah, enzim pertumbuhan akar tanaman diproduksi oleh mikroorganisme tanah (bakteri, fungi), seperti Rhizobium dan Mikorhiza.

Kelompok mikroorganisme tanah yang umum terdapat bebas sebagai mikroflora alam di antaranya adalah bakteri termasuk dalam PGPR (plant growth promoting rhizobacteria), dan fungi AMF (arbuscular mycorrhiza fungi).

Agen hayati (biofertilizers) menjaga lingkungan tanah kaya akan semua jenis unsur hara makro dan mikro melalui: fiksasi N, pelarutan atau mineralisasi P dan K, melepas zat pengatur tumbuh (growth regulating substances), produksi antibiotik dan biodegradasi bahan organik tanah lihat: http://www.microbialcellfactories.com/content/pdf/1475-2859-13-66.pdf.

Berikut adalah gambaran singkat tentang enzim Kinase:

Kinase, atau juga disebut “fosfotransferase”, adalah enzim yang mengiris gugus fosfat dari molekul donor berenergi tinggi, seperti ATP menjadi suatu substrat spesifik (lihat: id.wikipedia.org/wiki/Kinase).

Proses biokimia di atas disebut “fosforilasi” dan enzim yang memisah gugus fosfat ini disebut “fosfatase”.

Kinase memoderasi transfer bagian molekul fosfat ber energi tinggi (seperti ATP) ke molekul substratnya, seperti terlihat pada Gambar 1.

images

Gb. 1. Reaksi Perubahan ATP menjadi ADP dalam Proses Fosforilasi

Kinase diperlukan untuk menstabilkan reaksi karena ikatan fosfo-anhidrida mengandung energi tingkat tinggi.

Kinase meningkatkan aktivitas reaksi dalam mengorientasikan substrat dengan grup fosforil.

Selain itu, kinase umumnya memanfaatkan muatan positif residu asam amino, yang secara elektrostatis menstabilkan kondisi transisi berinteraksi dengan gugus fosfat bermuatan negatif.

Atau, beberapa kinase menggunakan ikatan kofaktor status logam aktif mereka untuk mengkoordinasikan grup fosfat.

Kinase digunakan secara ekstensif untuk mengirimkan sinyal dan mengatur proses yang kompleks dalam sel.

Molekul fosforilasi dapat meningkatkan atau menghambat aktivitas mereka dan memodulasi kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan molekul lain.

Penambahan dan penghapusan kelompok fosforil menyediakan sel dengan alat kontrol karena berbagai kinase dapat merespon kondisi atau sinyal yang berbeda.

Mutasi kinase yang menyebabkan pengurangan atau peningkatan fungsi dapat menjadi penyebab penyakit kangker pada manusia, termasuk beberapa jenis leukemia, blastoma, ataksi, dan lain-lain (lihat: en.wikipedia.org/wiki/Kinase).

09 FebAgroekologi Tanaman Pala

S

SISTEM SEMI ALAMI

Pendekatan Sistem

Syekhfani

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt), tergolong tanaman rempah (spices), telah terkenal sejak jaman Portugis (Marco Polo), yang pada abad ke-19 berlayar ke Hindia (Indonesia) untuk mencari rempah-rempah (cengkeh, pala).

Agroekosistem tanaman pala yang telah bertahan berabad-abad tersebut, secara umum telah banyak dipelajari, namun sifat perilakunya secara spesifik belum banyak dipahami.

Berikut, dikemukakan pendekatan sistem dari umum hingga lebih spesifik, disesuaikan dengan fakta lapangan saat ini.

Diharapkan, pendekatan sistem ini dapat membantu dalam memahami dinamika sistem pertanaman pala.

Sistim Alami (natural system)

Sistem alami (natural system) di zone iklim hujan tropika basah (tropical rain forest), yaitu matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun, mendukung produksi biomas berlimpah.

Sebaliknya, kelembaban dan suhu tinggi, mendorong tingkat dekomposisi sisa bahan organik di lantai hutan berlangsung cepat, sehingga tampak adanya dukungan “semu”.

Terbukti saat hutan tropika basah di buka untuk lahan budidaya, maka dalam kurun dua hingga tiga musim tanam, produktivitas secara drastik menurun (ingat kasus: sistem ladang berpindah, shifting cultivation).

Biomas tajuk dan sistem perakaran intensif menyebabkan terjadi sistem keseimbangan unsur hara yang disebut “close nutrients recycling” (sistem daur hara tertutup).

Pada sistem ini, tidak ada unsur hara yang hilang karena tidak ada aliran permukaan (runoff), erosi dan pencucian (leaching) ke lapisan bawah tanah (ground water); dalam hal ini tajuk bersifat sebagai pompa unsur hara melalui akar.

Tambahan unsur hara melalui hujan, fiksasi N atmosferik dan pelapukan batuan induk; mendukung suksesi hutan belantara (tropical rain forest).

Agroforestry (Wanatani) – Agroekosistem Tanaman Pala

Meskipun tampaknya stabil, namun budidaya tanaman pala tergolong ekosistem hutan buatan manusia (man made forest). Sehingga, diperlukan manajemen kebun yang baik agar dapat menjamin produktivitas tinggi dan berkelanjutan.

Pendekatan sistem daur hara tertutup di bawah lantai hutan pala, dapat dipelajari melalui dinamika: rasio C/N, KTK, dan unsur hara NPK sebagai parameter.

Nilai C/N, menunjukkan tingkat laju dekomposisi seresah di lantai hutan,

Nilai KTK, dapat dijadikan parameter kemapuan tanah dalam membufer unsur hara.

Nilai pH, merupakan parameter perubahan reaksi tanah yang dipengaruhi derajat dekomposisi, dan sangat berpengaruh terhadap sifat kesuburan tanah aktual.

Status Unsur NPK, yang merupakan unsur hara makro tanaman, adalah kunci produktivitas tanaman, dalam kaitannya dengan reaksi fotosintesis, yaitu komponen senyawa khlorofil (N, Mg), sumber energi metabolik (P), dan trasportasi fotosintat (K).

Dinamika pertumbuhan tanaman pala tersebut hendaknya didekati dengan sistem terpadu, sebagai fungsi pertumbuhan (Y): Y = f (X), di mana Y= komponen produktivitas tanaman, dan X = komponen produktivitas tanah.

Lihat:http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/09/19/soil-buah-pala/

27 JanSumber Energi Alam

SUMBER ENERGI ALAM UTAMA

Udara, Air, Cahaya (Panas)

Syekhfani

Energi alam, adalah kekuatan dinamis yang keluar dari aksi suatu komponen alam, terutama ditimbulkan oleh udara, air, atau cahaya (panas).

Ketiga sumber energi alam tersebut dibutuhkan untuk hidup dan kehidupan tumbuhan, hewan dan manusia di planet bumi ini.

Udara, benda alam yang paling penting dalam hidup dan kehidupan di dunia, yang dibutuhkan untuk bernafas.

Pernafasan merupakan proses oksidasi senyawa-senyawa yang menghasilkan energi panas tubuh (tumbuhan, hewan, manusia) dalam mendukung proses metabolisme. Metabolisme primer pada tanaman adalah pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis.

Karbohidarat, merupakan kerangka dasar senyawa biokimia dalam menyusun jaringan dan organ tubuh tanaman. Selanjutnya, tanaman menjadi sumber energi utama bagi hewan dan manusia yang memgkonsumsi tanaman.

Di alam, udara yang bergerak yang disebut angin, menimbulkan kekuatan yang menghasilkan energi luar biasa. Kekuatan angin dapat disalurkan dalam menggerakkan alat mekanik seperti kincir, perahu layar, pesawat terbang layang, dan sebagainya.

Demikian pula halnya air dan sinar matahari (panas), memberikan tenaga luar biasa yang dapat menggerakkan alat-alat mekanik bersumber kekuatan air dan panas: kincir air, mesin giling, tenaga listrik, dan sebagainya.

Air, komponen terpenting kedua setelah udara yaitu untuk kebutuhan minum. Air merupakan pelarut kimia utama dalam mendukung mekanisme metabolisme dalam tubuh makhluk hidup.

Pergerakan air dari tempat tinggi ke rendah mendatangkan energi kinetik yang bisa menjalankan kincir air, dinamo pembangkit listrik, dan sebagainya.

Cahaya, merupakan sumber energi panas utama kehidupan, sebagai energi kinetik yang diubah menjadi metabolik melalui proses fotosintesis. Panas bumi, berupa sumber air panas bermanfaat dalam kesehatan tubuh manusia.

Keberadaan ketiga komponen sumber energi alam, bisa kurang, cukup, atau berlebihan. Bila kurang atau berlebihan, akan membawa dampak negatif. Oleh karena itu, harus dikelola oleh manusia, makhluk yang mempunyai otak dan akal.

Akan tetapi, bila tenaga angin, air, dan panas (api) berlebihan, maka akan membawa dampak menghancurkan, berupa bencana alam (disarters): angin topan, tsunami, kebakaran hutan, gunung meletus, dan sebagainya.

Berikut beberapa contoh aksi bencana alam berupa angin topan, tsunami, dan kebakaran hutan:

1. Turnado, berupa kondisi cuaca buruk (severe weather) yang menimbulkan bencana.

Lihat:
https://www.youtube.com/watch?v=xPTXqzMVFUA

2. Tsunami, becana alam akibat banjir: Tsunami Banda Aceh (terbesar di dunia)

Lihat:
https://www.youtube.com/watch?v=u3TL-21oVvs

3. Kebakaran Hutan, Kalimantan Tengah

Lihat:
https://www.youtube.com/watch?v=lkxAXFLIHFw

Pengkajian sumberdaya alam oleh manusia menghasilkan bidang ilmu pengetahuan alam (natural scienses) dan teknologi (technology); diperlukan untuk mendukung kehidupan berkelanjutan yang lebih baik (sustrainable of decent life).

04 DecBioteknologi

unduhan

GENETIC ENGINEERING (REKAYASA GENETIK) – BIOTEKNOLOGI

Syekhfani

Bioteknologi rekayasa genetik(genetic engineering – GE), merupakan teknologi yang dikembangkan manusia dengan cara mengombinasikan sifat-sifat genetik DNA.

Dalam era tahun 1970-an, “revolusi hijau” merupakan implementasi aplikasi GE di bidang pertanian, diawali dari kekhawatiran para ahli ekonomi dunia terhadap kemungkinan terjadi masalah kerawanan pangan (scarcity of food).

Di Indonesia, terdapat program peningkatan produksi tanaman padi sawah, yaitu: Padi Sentra, Inmas, Insus, Supra Insus, Gemah Palagung, dan Korporat Farming.

Pembudidayaan lahan secara terus menerus tanpa bera, menyebabkan terjadi degradasi kesuburan tanah.

Gejala “levelling off”, yaitu pertumbuhan dan produksi tidak dapat ditingkatkan hingga level “potensi genetik”.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/12/03/arable-land/.

TINJAUAN:

Selama ribuan tahun, manusia mampu memanfatkan organisme alami untuk bidang pertanian.

Penemuan mutakhir, manusia mampu mengombinasikan DNA melalui rekayasa genetik, menghasilkan klon tanaman baru yang mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan maupun produktivitas.

Modifikasi genetik organisme – genetically modified organisms (GMOs) tersebut menimbulkan pro-kontra dan diskusi berkepanjangan; misalnya, penggunaan transgenik (transgenics) berkaitan dengan relevensinya dengan keamanan lingkungan hidup.

Salah satu website berkaitan dengan bioteknologi GE,
Lihat: → http://12.000.scripts.mit.edu/mission2014/genetically-modified-crops

Argument about GMOs:

GM technology remains underdeveloped and unsuited for the regions that need them most.

One problem with biotechnology is that it is not currently built for poorer regions, as most plants are only engineered for herbicide and pesticide tolerance, with the needs of developed countries in mind (GMF).

Biotechnology today is largely driven by agricultural corporations such as Monsanto, whose seeds are expensive to poorer farmers (Ho).

But GMOs may increase land productivity in Africa, where 49 percent of soil is heavily degraded (Terrafrica).

They could be engineered to endure harsher conditions and be less susceptible to climate changes such as drought, a leading cause of food insecurity in Africa.

Certain types of native crops may be engineered to increase yields. This all might be done in the future, but it has not been done yet.

Additionally, GMOs still represent too many unknowns to be a solid basis for a plan to benefit third world farmers.

Consumption of GMOs may have yet-unknown effects on human health.

Unknown health consequences are a common objection to GMO organisms.

The most condemning research done on such organisms is the work of renowned scientist Arpad Pusztai, who found evidence of intestinal damage caused by genetically modified potatoes (Randerson).

His funding was suspended for his publication of preliminary results, and therefore the study was never completed (Randerson).

However, numerous later studies found that GM crops that have passed existing safety reviews are not harmful to human health (Academic review, AFNZA).

The long-term ecological impacts of GMO crops are yet uncertain.

Cross-pollination with the wild type of GM species may lead to genetic contamination of the wild type, which could alter local ecosystems. Genes are difficult to control, and wild types of certain plants have been found to contain transgenic genes.

Unapproved genetically engineered grass has been found in Oregon (Pollack).

83 percent of rapeseed varieties in the United States and Canada were found to contain transgenic genes (Pollack).

However, cross-pollination can be minimized through measures such as buffer zones between GMO and non-GMO fields, as well as careful field planning (GMO-compass); the problem with cross-pollination may be minimized with proper planning and oversight.

Bt expressed in transgenic organisms is also toxic to a variety of helpful insects, including natural pollinators and pest predators.

Monarch butterflies, a chief pollinator in North America, are highly susceptible to Bt poisoning, and will occasionally feed on corn plants (Pimentel).

The introduction of Bt crops has also led to the rise of secondary non-target pests as major scourges.

Mealy bugs in India and Pakistan emerged as major pests directly following the introduction of Bt crops in the region.

These insects destroyed 50,000 out of 8 million acres of cotton area across Pakistan, and the damage is still increasing.

Organic crops have escaped the plague, due to their farmers’ use of natural pesticides instead of Bt crops (Ho).

Likewise, in China, Mirid bugs, which once did not present a threat to agriculture, have progressively grown in number since the introduction of Bt crops, especially in regions growing Bt cotton (Lu).

The decrease in synthetic pesticide use in these regions has contributed to the rise in pests that have never responded to Bt.

However, it is possible that integrated management of secondary pests, including techniques that integrate natural predators or parasites, can alleviate the new pestilences (Lu).

Bt crops may still be better than their alternatives in that they represent an overall decrease in ecological damage caused by pesticides.

Still, the rise of such insects demonstrates the unknowns involved in shifting over to transgenic crops.

Unknown long-term ecological effects make transgenics less palatable, especially in regions with great biodiversity.

The development of herbicide resistant plants has also led to an unexpected increase in the resilience of weeds, which threatens to create a cycle of dependence.

The introduction of such herbicide tolerant plants at first decreased herbicide use, but afterwards increased its usage and scope.

Weeds have become more and more resistant to herbicides, prompting farmers to use a wider variety and larger quantity of them (Lim).

While pesticide use dropped from 22,454 lbs to 15,618 lbs from 2003 to 2008, at a rate of 7000 lbs per acre per year, herbicide use increased from 278,514,000 lbs to 330,422,709 lbs (Cherry).

Thus, the sum of herbicide and pesticide usage per hectare in the United States increased 10 percent since 2003 (Cherry).

Insects exhibiting Bt resistance have also been documented in the United States, but the scope of such resistance in insects can be minimized by the planting of non-Bt crops near Bt ones (“Pesticide Resistance”, Physorg).

GMOs currently lack sufficient oversight.

Six unapproved GMO types have been found in livestock feed (Melvin).

Censoring of scientists such as Pustzai has also generated controversy on the validity of GMO studies (Randerson).

All GM crops should undergo safety screening in order to minimize health consequences, environmental pollution, and ecological imbalance (FAO).

The influence of agricultural corporate giants on the availability of GM seeds may lead to farmer exploitation.

Transgenics are expensive, and controlled by corporate agricultural giants.

Since alleviating poverty primarily concerns helping poor farmers, pushing them into a cycle of debt to foreign agricultural giants is perilous to food security.

In Monsanto vs Schmeiser, Monsanto was guaranteed intellectual property rights over the Roundup Ready soybean seed; the precedent may allow private companies like Monsanto to to exploit farmers.

Herein lies our greatest objection to using GM crops: until “fit-for-the-purpose” transgenic seeds are available for distribution to farmers without threatening them with a cycle of debt, transgenic seeds represent a step away from greater food security in the Third World.

However, if a rigorously tested and reliable source of transgenic seeds is found that does not require dependence on large agricultural firms, will permit the farmers’ traditional practice of saving their seeds, and is approved by the local government, we are open to providing farmers with the seeds under the condition that existing non-transgenic seeds be saved in a food bank and still be available to local farmers.

Conclusion:

Other technologies available have fewer scientific unknowns, less possibility of forming cycles of farmer debt, and have led to equally significant reductions in hunger.

Integrated pest management, organic farming, and other improved farming practices may increase yields just as effectively as would introducing transgenic organisms.

As such, we will not promote their widespread use until more research has been done on long term health effects, GMO seeds are available outside of corporate agriculture control, the biological effects of gene insertion are better understood, and research confirms that the presence of GMOs will not harm the native species in an ecosystem.

Penerapan teknologi GE yang menimbulkan pro-kontra ini, merupakan salah satu materi dalam kuliah Etika Profesi di bidang pertanian.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/12/01/etika-profesi/.

http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/16/soil-bahan-kuliah-iii/

12 NovSoil Experiment

PENDEKATAN RESPON TANAMAN

Regresi Linear dan Kuadratik

Syekhfani

Regresi adalah hubungan sebab-akibat data hasil suatu rancangan percobaan, tentang respon suatu objek penelitian terhadap suatu perlakuan.

Di bidang kesuburan tanah, berupa hubungan faktor kesuburan tanah dengan pertumbuhan dan produksi tanaman.

Faktor tanah (X) disebut sebagai “faktor bebas” (independent factor)”, sedang faktor tanaman (Y) adalah “faktor tergantung” (dependent factor).

Ada berbagai bentuk hubungan regresi: linear, kuadratik, kubik, kuartik, tunggal, berganda, dan sebagainya.

Oleh karena itu, prosedur sederhana analisis regresi, penting diketahui dan dikuasi sebagai alat penduga respon tersebut.

Berikut, disajikan contoh “kerangka” konsep analisis regresi “Linear” dan “Kuadratik”, sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan dalam penyelesaian tugas akhir (skripsi, tesis) mahasiswa.

Capture1

Capture2

Capture3

Capture4

Solusi: → Lihat *) halaman 64 – 74 dan Appendix 9.

Capture4

Bila nilai F-hitung menunjukkan beda sangat nyata dan komponen linear positif dan komponen kuadratik negatif, maka berarti bahwa tren hasil percobaan adalah grafik “kuadratik” bersama “linear”.

Dari hasil regresi kuadratik (Y=ax2+bx+c), selanjutnya dapat dihitung dosis optimum treatment, dengan rumus:
Xopt, = -b/2a

Dosis optimum, dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi hasil penelitian.

*) Chang, Lu-Chih. 1972. The Concept of Statistics in Connention with Experimentation. ASPAC, Food and Fertilizer Tech. Center, No 13.

Lihat:
http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/02/hubungan-sebab-akibat-regresi-korelasi/
http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/02/kurva-respons-dosis-optimum/

Tags:

31 OctPercent Saturation

Percent Base Saturation

JUMLAH EKIVALEN KATION PADA KTK TANAH

Dasar Perhitungan untuk Keseimbangan Kation

Syekhfani

Percent saturation, merupakan cara terbaik untuk mengevaluasi keseimbangan relatif unsur hara yang beragam dalam tanah pada Kapasitas Tukar Kation (KTK, =CEC, Cation Exchange Capacity).

Lihat: → http://en.wikipedia.org/wiki/Base-cation_saturation_ratio

Percent saturation, dihitung dengan cara membagi ekivalensi kation dengan KTK dan dinyatakan dalam persen (x 100).

Contoh: analisis contoh tanah menunjukkan nilai 2.51 me kemasaman (acidity)/100 g, 6.37 me Ca/100 g, 0.94 me Mg/100 g, 0.32 me K/100 g dan KTK 10.16 me/100 g.

Percent saturation, mengikuti perhitungan berikut:

% Kemasaman (Acidity) = 2.51 / 10.14 x 100 = 24.8 %

% Ca = 6.37 / 10.14 x 100 = 62.8 %

% Mg = 0.94 / 10.14 x 100 = 9.3 %

% K = 0.32 / 10.14 x 100 = 3.2 %

Hasil yang diperoleh tersebut dapat dijadikan dasar dalam menduga status unsur hara K, Ca, dan Mg dalam tanah.

Kisaran ideal kejenuhan Ca adalah 60-80% KTK tanah. Bila Ca lebih dari 80% KTK, ia tergolong berlebih.

Kisaran ideal kejenuhan Mg adalah 10-25% KTK. Magnesium disarankan untuk diberikan bila kejenuhan berada di bawah 15%, atau rasio % Mg terhadap % K kurang dari 2:1. Tingkat Magnesium berlebih bila mencapai 25% KTK.

Kisaran ideal kejenuhan K beragam untuk tanaman, tetapi secara tipikal adalah 3-5%.

Tingkat K berlebih bila berada di atas kisaran optimum tanaman. Level K tinggi bisa berkompestisi dengan Mg terhadap serapan oleh tanaman.

21 OctMutu Pupuk

CONTOH PERHITUNGAN

Syekhfani

Mutu pupuk, adalah kandungan unsur hara esensial (dalam persen) yang terdapat dalam pupuk,

dinyatakan dalam rasio:

N : P : K → (Ca,Mg …dll).

|

%N : %P2O5 : %K2O

16 : 16 : 16

12 : 12 : 12

Anorganik (contoh: kadar tinggi)

|

5 : 5 : 5

2 : 2 : 2

Organik (contoh: kadar rendah)

Contoh: Mutu Pupuk NPK anorganik 16 : 16 : 16, artinya pupuk majemuk NPK mengandung 16% N : 16% P2O5 : 16% K2O.

Cara Pembuatan:

Tugas:

1. Buat pupuk anorganik mutu: 15 : 12 : 10 menggunakan bahan: Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O)

Berapa berat (kg) porsi masing-masing bahan tersebut yang dibutuhkan?

Perhitungan:

15/45 x 100 kg Urea = 33.3 kg

12/36 x 100 kg SP-36 = 33.3 kg

10/60 x 100 kg KCl = 16.7 kg

Total = 83 kg porsi bahan

Jadi, dalam 100 kg campuran bahan diperlukan:

33.3/83 x 100 kg Urea + 33.3/83 x 100 kg SP-36 + 16.7/83 x 100 kg KCl =

40 kg Urea + 40 kg SP-36 + 20 kg KCl =

100 kg pupuk majemuk NPK anorganik (15 : 12 : 10).

2. Buat pupuk organik mutu: 2 : 3 : 1 menggunakan bahan:Turi (5% N), Kirinyu (8% P2O5), dan Cangkrang Kelapa (10% K2O)

Berapa kg porsi masing-masing?

Perhitungan:

2/5 x 100 kg turi = 40 kg

3/8 x 100 kg kirinyu = 42 kg

1/10 x 100 kg cangkrang kelapa = 10 kg

Total = 92 kg porsi bahan

Jadi, dalam 100 kg campuran bahan diperlukan:

40/92 x 100 kg turi + 42/92 x 100 kg kirinyu + 10/92 x 100 kg cangkrang kelapa =

43.5 kg turi + 45.5 kg kirinyu + 11 kg cangkrang kelapa =

100 kg pupuk majemuk NPK organik (2 : 3 : 1).

“Pupuk Bermutu” apabila memenuhi syarat sesuai unsur hara yang dibutuhan!

20 OctSifat Perilaku Unsur P

Fosfor-P

DASAR MANAJEMEN UNSUR P

Syekhfani

Unsur Phttp://id.wikipedia.org/wiki/Fosfor
Fosfor adalah unsur bukan logam multivalen dari kelompok nitrogen.

Unsur ini ditemukan di alam dalam beberapa bentuk alotropik dan merupakan elemen penting bagi kehidupan organisme.

Sifat perilaku unsur P, merupakan kunci dalam manajemen; dalam bidang pertanian terutama sebagai unsur hara esensial bagi pertumbuhan dan produksi tanaman.

Oleh sebab itu, sifat perilaku unsur P perlu diketahui dan dipahami dengan baik.

Reaksi Dasar:

1. Ikatan kimia ion:

-Ionik ~ elektron donor (metal) vs elektron aseptor (non metal): Ca2+ → PO43-

-Kovalen (electron sharing): Ca2+ + NH4+ → CaNH4PO4

2. Sifat Kelarutan Garam:

-Ksp ~ AlPO4 = 10-31

Al3+ + PO43- → AlPO4 (fiksasi).

3. Retensi P, ikatan P dalam bentuk (istilah-istilah):

Adsorp ~ terikat di permukaan luar/kisi fasa padat (adsorption/jerapan)

Absorp ~ terikat di permukaan dalam/kisi fasa padat (absorption/serapan)

Adsorp/absorp ~ jerap/serap: sorp/erap ~ sorption/erapan.

Fixation ~ hilang karena terikat menjadi bentuk senyawa lain

4. Manajemen Unsur P:

-Dasar: melepas (release) bentuk ikatan Fiksasi.

-Efek Ion Senama ~ Fosfat (3+) vs Sulfat (2+) atau Silikat (4+) disebut sebagai reaksi “common ion effect” atau “efek ion senama”.

-Implementasi Praktikal: aplikasi “basic-slag, terak baja“, penggantian ikatan fosfat dengan silikat.

Bahan Bacaan: Lihat → 7. Reactions Controlling The Cycling Of P In Soils. Emmanuel Frossard, Michel Brossard, Mike J. Hedley, and Allister Metherell. → http://home.hiroshima-u.ac.jp/er/ZR6_P_114.html

Sifat perilaku adalah kunci manajemen unsur!

03 OctPerbaikan Lahan

UPT Cempaka Kalsel

REKLAMASI, AMENDMEN, AMELIORASI

Definisi dan Implementasi

Syekhfani

“Lahan rusak”, tidak berfungsi optimal, atau berkurang daya dukung (carrying capacity) nya, memerlukan tindakan “perbaikan”.

Lahan rusak, disebabkan aksi alam, perbuatan manusia, atau aksi alam bersama-sama perbuatan manusia.

Manusia sebagai makhluk berakal, mempunyai tanggung jawab untuk “mencegah” (preventive) atau “memperbaiki” (currative) agar kerusakan tidak fatal dan tetap dapat berfungsi normal.

Jenis pekerjaan yang dihadapi berdasar pada level kerusakan berat, sedang, atau ringan, tergantung jenis kerusakan dan relevan dengan istilah “REKLAMASI”, “AMENDMEN”, atau “AMELIORASI”.

Reklamasi: → http://en.wikipedia.org/wiki/Land_reclamation

Reklamasi lahan, biasa dikenal sebagai “reklamasi”, dan juga “land fill” (jangan keliru dengan landfill), adalah proses mengkreasi lahan baru tepi laut, bantaran sungai, atau tepi danau.

Reklamasi lahan disebut pula dengan istilah reclamation ground atau land fill.

Amendmen: → http://en.wikipedia.org/wiki/Soil_conditioner

Suatu pengondisi tanah adalah produk yang ditambahkan ke tanah untuk memperbaiki kualitas sifat fisik tanah, khususnya kemampuan penyediaan unsur hara bagi tanaman.

Secara umum penggunaan istilah pengondisi tanah sering digambarkan termasuk dalam kategori Soil Amendments yang lebih sering ditujukan untuk penggunaan pupuk dan bahan non-organik.

Ameliorasi: → http://dictionary.reverso.net/english-definition/soil%20amelioration

Lapisan atas permukaan lahan dari tanah yang dicampur-rata dengan partikel batuan, humus, air, dan udara.

Pengertian tentang istilah-istilah perbaikan tanah di atas perlu diketahui dengan baik dalam rangka manajemen kesuburan tanah dan lingkungan hidup.

08 AugAzola, Pupuk Nitrogen Organik Alami

Capture1

BUDIDAYA AZOLA

Menggali Sumber Nitrogen Organik

Syekhfani

Azola, salah satu sumber N alami, sudah dikenal oleh para pakar dan sebagian teknisi budidaya pertanian; namun prakteknya belum berkembang dengan baik.

Azola, sejenis tumbuhan paku-pakuan air, bersimbiose dengan bakteri Annabaena azolae mengikat N dari atmosfer secara simbiotik.

Pada umumnya petani padi sawah beranggapan bahwa Azola merupakan gulma yang menggannggu tanaman padi dan menyebabkan produktivitas padi menurun. Oleh karena itu, mereka menyingkirkan biomas Azola ke luar galengan atau bahkan dihanyutkan ke saluran drainase saat air berlebih.

Dalam rangka menuju ke sistem budidaya pertanian berkelanjutan, akrab lingkungan dan pengembangan “produk pertanian organik”, maka budidaya Azola perlu diketahui serta dikelola dengan baik.

Berikut, disajikan secara sederhana teknik budidaya Azolla pinata di lahan sawah beririgasi.

Capture2

Capture3

Capture4

Capture5

Capture6

Capture7

Capture8

Capture9

Capture10

Lihat: → <a href="Azolla“>Azolla

04 JunSeputar Hara Esensial

Capture

WACANA SESUAI DEFINISI

Syekhfani

Apakah garam, lemak, gula, kopi atau alkohol itu unsur esensial?
-Bukan, itu “senyawa” nutrisi esensial.

Apa definisi unsur hara “esensial” itu?

-Disebut “unsur hara esensial”, bila memenuhi persyaratan berikut:

• ia harus ada agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang;
• ia dibutuhkan untuk menyusun senyawa metabolit pembentuk organ tubuh tanaman;
• ia harus ada, kalau tidak ada maka tanaman tidak bisa hidup; kalau kurang, pertumbuhan terhambat dan menunjukkan gejala defisiensi, dan
• ia tidak dapat digantikan kedudukan dan fungsinya dalam membentuk senyawa metabolit.

Berapa banyak unsur hara esensial tanaman?

-Ada 16 , yaitu: C, H, O, P, K, N, S, Ca, Fe, Mg, Mn, B, Cl, Cu, Zn, dan Mo.

Sulit diingat, ya? Bagaimana agar gampang diingat?

-Buat kalimat “amazing” dari 16 kata mengandung inisial huruf “unsur” hara esensial tanaman berupa kata berirama menjadi kalimat yang mudah diingat.

-Contoh (dalam teksbook):
• “see hopkins’ cafe; mighty good, mighty nice, for Clora and cousin Mo”
• Sedikit modifikasi menjadi: “C HOPKN’S CaFe, Mighty good, Mighty nice, for Clora and CuZn Mo”

-Contoh (bahasa Indonesia) – Syekhfani:

• “CHON(S) uP Kendaraan di Canggih Manggala Feroza Manunggal, Cuma-cuma Zona Baru Modern ~ Clara”
• → C H O N (S) P K Ca Mg Fe Mn Cu Zn B Mo Cl

Apa hanya unsur hara esensial yang penting?

-Ada juga unsur hara yang disebut “fungsional”
-Tidak termasuk dalam kategori “esensial”, tetapi tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan tanaman tertentu, contoh:
-Natrium, dibutuhkan oleh Cyanobacteria dan hewan.
-Co dan V, dibutuhkan oleh bakteri Rhizobium.
-Si, dibutuhkan oleh tanaman serealia.
-Al, dibutuhkan oleh tanaman teh, Azalea, dan lain-lain.
-Dan lain-lain.

Apa unsur hara esensial selalu tersedia?

-Fakta: justeru unsur hara esensial makro utama jadi limit (terbatas), yaitu: Nitrogen, Fosfor dan Kalium.
-Nitrogen, saat ini merupakan unsur paling limit di zone ekosistem sedang (temperate).
-Fosfor seringkali menjadi unsur paling limit pada sistem perairan (aquatic systems) atau ekosistem daratan tropika (tropical terrestrial ecosystems).
-Kalium, cenderung tidak menjadi limit dalam sistem alami (natural systems), tetapi seringkali menjadi limit dalam sistem lingkungan pertanian (agroecosystems).

Apa yang menjadi limit produktivitas tanaman pada ekosistem global?

-Secara global kita melihat bahwa produktivitas tanaman itu adalah sangat rendah, dan kita tandai sebagai kebocoran tanah, terutama kebocoran cadangan hara.
-Kalau begitu, apa itu sebenarnya yang disebut kesuburan tanah (“soil fertility“)?!

Bahan: catatan kuliah(Aber, Ban 9)

29 MayAplikasi Produk Genetic Engineering

Transgenik Jagung

PERLU EKSTRA HATI-HATI

Syekhfani

Rekayasa Genetik (Genetic EnginneeringTransgenic), merupakan teknologi trobosan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas bahan pangan/pakan manusia/hewan.

Upaya mencukupi stok pangan dan pakan dunia dalam mencegah masalah kelangkaan (scarcity), salah satunya adalah melalui teknologi rekayasa genetik (genetic engineering).

Namun, pro kontra penggunaan teknologi rekayasa genetik terjadi karena sebagian orang berpendapat adanya kemungkinan terjadi dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan (tanaman, hewan atau manusia).

Oleh sebab itu, peringatan keras agar ekstra hati-hati menggunakan teknologi rekayasa genetik (transgenic). Bahkan, teknologi transgenik ditolak (prohibited) dalam sistem budidaya pertanian organik (organic farming system).

Berikut, contoh kasus aplikasi teknologi transgenik di Amerika Serikat, tahun 1998-an.

Alergenisitas
Jagung StarLink, suatu varietas transgenik, mengandung protein Cry9C, yang melindungi pertumbuhan tanaman dari serangan hama.

Di tahun 1998, peraturan pemerintah Federal menyetujui memproduksi jagung Starlink untuk pakan ternak dan etanol, tapi dilarang di makan manusia karena dikhawatirkan dapat menyebabkan reaksi alergi.

Pada musim gugur tahun 2000, StarLink memperoleh akses pengapalan ke berbagai penjuru dunia. Lalu banyak orang melaporkan adanya reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan yang ditemukan mengandung StarLink.

Namun, hal ini sulit dibuktikan karenan produk tidak diberi label dan orang memakannya tanpa disadari.

Aventis, perusahaan pemegang paten dan developer StarLink, meminta US Environmental Protection Agency (EPA) untuk memberi ijin produk dikonsumsi oleh manusia, dalam rangka menghindari biaya pengeluaran ke pasaran dunia.

Pada Juli 2001, penasehat panel ilmu AS merekomendasikan kepada EPA agar mempertahankan larangan StarLink jagung dimakan manusia.

Keputusan tegas panel ilmu ini dengan alasan bahwa protein Cry9C dalam StarLink jagung mungkin menjadi penyebab alergen pada manusia (*).

(*) Lihat: Agronomy genetic engineering
(Vorman, Julie. 2001. US science panel rejects StarLink in human food. Reuters. July 27)

Lihat:http://lordbroken.wordpress.com/2010/05/03/pro-kontra-bioteknologi-pangan/

26 MayZona dan Efek Sinar Matahari

Cahaya Matahari

Ultra Violet – Visible Light – Infra Red

Syekhfani

Zona sinar matahari, berdasar intensitas penyinaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: ultra violet (UV) gelombang pendek; visible light (VL) gelombang sedang dan infra red (IR) gelombang panjang, secara langsung menentukan kehidupan dan pertumbuhan tanaman.

Sinar VL merupakan sinar yang dapat dilihat dengan mata dan merupakan sinar untuk proses fotosintesis.

Sinar UV, menyebabkan kerusakan jaringan sel (makhluk hidup).

Sinar IR, menimbulkan efek panas dan menghambat pembelahan sel sehingga pertumbuhan tanaman kerdil.

Dengan demikian, secara umum pembagian zona intensitas sinar ini mirip dengan zona pH tanah (masam, netral dan alkalin) di mana zona netral adalah zona aman bagi kehidupan tumbuhan.

Masing-masing jenis tanaman berbeda kemampuan responnya terhadap sinar matahari, ada yang peka, moderat, dan toleran terhadap sinar matahari.

Karena itu dikenal pula ada tanaman hari pendek, medium dan panjang.

Juga dikenal kelompok tanaman outdoor, indoor, dan semi indoor.

Dengan mengetahui sifat prilaku tanaman, kita dapat merekayasa sistem penutupan kanopi terhadap sinar matahari.

Proses-proses berkaitan dengan respon tanaman terhadap sinar matahari tersebut dipelajari dalam ilmu Fisiologi, Anatomi/Morfologi, Ekologi, dan Genetika.

*) Tentang Sinar Matahari:
Sinar atau radiasi matahari adalah sinar yang berasal dari matahari.
Tanaman menggunakan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa sinar matahari, takkan ada kehidupan di bumi.

Sinar matahari bisa berakibat baik maupun buruk kepada kesehatan seseorang. Dalam terang, tubuh manusia memproduksi vitamin D sendiri. Terlalu lama terpajang sinar matahari bisa menyebabkan kulit terbakar.

Radiasi matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik.

Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang.

Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor:
(1) Jarak Matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan Matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan energi Matahari,
(2) Intensitas radiasi Matahari, yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosfer yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus,
(3) Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara Matahari terbit dan Matahari terbenam, dan
(4) Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi.

*) http://id.wikipedia.org/wiki/Radiasi_Matahari
http://id.wikipedia.org/wiki/Sinar_matahari

25 MayAtasi Tanah Bergaram!

Tanah Bergaram

TANAH SALIN DAN SODIK

(Saline and Sodic Soils)

Syekhfani

Tanah bergaram (tanah Salin – Sodik), muncul akibat:
- Endapan air laut (sedimen marin)
- Curah hujan rendah (< 200 mm/tahun) sehingga tidak cukup untuk mencuci garam dalam tanah.
- Umumnya dijumpai pada zone kering, setengah kering dan pada lahan irigasi.
- Pemupukan intensif dan berlebihan.

Tabel Salin-Sodik

Keterangan:
- Conductivity (EC) – Electrical conductivity (konduktivitas listrik) air tanah.
Ion garam larut menyebabkan aliran listrik.
Karena itu, makin tinggi level garam makin tinggi konduktivitas listrik.
- EC x 10 ≈ Soluble cations (meq/L)
- % Exch. Na – % kejenuhan Na pada KTK (CEC) tanah

Tanah Salin:
– Kandungan garam tinggi dalam larutan tanah
– Tanah alkali putih (“White Alkali” soils) – akumulasi garam di permukaan tanah
– EC > 4 mmhos/cm = 40 meq/L

Pengaruh pada tanaman:
– Garam meningkatkan potensial osmotik (osmotic potential) larutan tanah, mereduksi ketersediaan ion larutan tanah
– Tanaman memerlukan enersi tinggi untuk memperoleh kebutuhan air mereka
– Pertumbuhan kerdil
– Layu
– Warna hijau-kebiruan
– Ujung daun mengalami nekrotik
– Gejala stres kekeringan
– Keracunan spesifik, mis. Boron
– Toleransi tanaman bervariasi: 0.5 m air/m tanah akan memindahkan ~ 50% garam; 1 m air/m tanahl akan memindahkan ~ 80% garam

Manajemen:
– Tambahkan air irigasi cukup untuk mencuci garam ke bawah zona perakaran
– Jaga agar air garam tercuci dengan baik
– Garam setebal 1m dari permukaan bergerak kembali ke zona perakaran dengan evaporasi
– Kuantitas air irigasi memerlukan:
• Kualitas air irigasi (Kualitas baik = garam rendah)
• Kualitas air drainase
• Kapasitas pegang air tanah
• Kedalaman perakaran
• Tanaman toleran garam
• Tersedia formula untuk menghitung kebutuhan air

Tanah Sodik:
– Natrium menyebabkan partikel tanah terdispersi
– Tidak ada agregat partikel tanah
– Partikel liat individu menghambat pori tanah
– Sifat fisik tanah jelek
– Pergerakan air dan udara serta penetrasi akar sangat sulit
– Tanaman tidak bisa tumbuh pada tanah sodik

Manajemen:
– Cuci denga air rendah Na+, tanah bergaram digantikan Ca2+ mengganti Na+
– Gipsum seringkali ditambahkan untuk mencegah garam, air rendah garam
Na-Soil + CaSO4 → Ca-Soil + Na+ + SO42-
– Cuci dengan air bersih untuk membilas Na+ dan SO42-
– Sangat sulit dilakukan berhubung sulitnya air untuk mencuci garam
– Turunkan ESP < 15 % of CEC
– Gunakan air irigasi rendah natrium
– Sodium Adsorption Ratio (SAR)
– Konsentrasi air irigasi (meq/L)
SAR = [Na+] / √ ([Ca2+] + [Mg2+])/2

Tanah Salin-Sodik:
– Garam tinggit dan natrium tinggi
– Natrium tinggi > 15% CEC
• ESP = Exchangeable Sodium Percentage
– Kandungan garam dalam larutan tanah
• EC > 4 mmhos/cm
– pH < 8.5
– Sepanjang garam bertahan tinggi tanah tetap terjonjot (flocculated)
– Jangan ada sifat fisik tanah seperti pada tanah sodik
– Masalah sama dengan tanah salin
– Bila seperti sodik makan akan lebih mudah dalam manajemen perbaikan

Manajemen:
– Sama dengan manajemen tanah sodik
• Cuci dengan natrium rendah, air salin untuk mengubah Na+
• Ini dilakukan seperti tanah salin
• Pengelolaan seperti tanah salin mis. cuci garam dengan air bersih
– Lebih mudah mengelola tanah sodik
– Sangat kritis menggunakan garam, air bergaram rendah untuk menjadi sodik

Na dapat dipertukarkan vs EC (konduktivitas listrik)
Salin-Sodik

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/03/biosaline-agriculture-pertanian-biosalin/

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/soil-lumpur-marin/

24 MayKisaran Hara Spesifik

Irigasi Lahan

Range Hara Spesifik

(dalam Air Irigasi)

Diposkan oleh: Syekhfani

Unsur hara tanaman bersumber dari tanah, air dan udara, yang merupakan komponen padatan, cairan dan gas.

Dalam cairan tanah, unsur hara larut bersumber dari irigasi permukaan, irigasi dalam, dan air tanah (ground water).

Kandungan unsur hara dalam berbagai sumber ini beragam tergantung berbagai faktor; dan kuantitas dan kualitas air irigasi ini sangat menentukan tingkat kesuburan tanah dan tanaman.

Oleh karena itu, sifat dan ciri (karakteristik) air irigasi perlu diketahui dalam manajemen air pertanian.

Berikut disajikan kisaran karakteristik yang dapat digunakan sebagai acuan:

Desirable ranges for specific elements in irrigation water*)

Klik (1×2):
Range Spesifik Air Irigasi

*) Lihat: Detecting mineral deficiencies in ornamentals, 2001. Cyberconference Plant Nutrition and Fertilizers. Branch-Smith Publishing.

22 MayDeteksi Defisiensi Unsur Hara

Guide

Detecting mineral deficiencies

A key to nutrient deficiencies of ornamental plants

Smith, F. and C.H. Gilliam (1979)

Klik (1×2):
Older leaves

Klik (1×2):
Youngest leaves & Terminal bud dies

Lihat: → Plant Nutrition and Fertilizers, 2001. Cyberconference Plant Nutrition and Fertilizers. Branch-Smith Publishing.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/05/symptomatic-diagnosis-unsur-hara/

20 MayUnsur Antagonis

Foliar Spraying

Antagosis Umum Terjadi pada Tanaman

Syekhfani

Pengaruh antagonis di antara unsur hara tanaman:
Defisiensi dapat terjadi akibat efek antagonis satu unsur dengan unsur lain. Secara umum, unsur hara yang bersifat antagonis, bila ia berlebihan (ekses), dapat menyebabkan khlorosis unsur hara lain yang berada pada kondisi kurang, sehingga memunculkan gejala defisiensi. Unsur-unsur yang mengalami antagonis seperti terdapat pada Tabel berikut.

Antagonist

Lihat: → Plant Nutrition and Fertilizers, 2001. Cyberconference Plant Nutrition and Fertilizers. Branch-Smith Publishing.

Tabel di atas memberi petunjuk agar saat pemberian unsur hara tertentu sebagai pupuk jangan sampai berlebihan (ekses), agar tidak menyebabkan pengaruh (induksi) defisiensi terhadap unsur lain yang berada dalam kondisi rendah.

Secara praktikal, unsur yang sering diberikan ke lahan sebagai pupuk (atau terikut dalam pupuk) adalah N, P (Ca), K dan bahan kapur (lime) yaitu Ca dan Mg.

Unsur N diberikan sebagai pupuk Urea; P dalam bentuk TSP (SP-36) dan K sebagai pupuk KCl.

Kapur diberikan dalam bentuk Kalsit (Ca) dan Dolomit (Ca, Mg).

Unsur mikro Fe, Mn, Cu umumnya ekses pada lahan dekat tambang, atau pembuangan limbah (kasus pencemaran).

Unsur Na ekses dijumpai pada tanah salin (sodik) di tepi pantai atau kawasan endapan laut (sedimen marin).

Beberapa kasus di lapangan telah disampaikan dalam tulisan (posting) sebelumnya dalam blog ini.

10 MaySYMPTOMATIC DIAGNOSIS UNSUR HARA

Defisiensi dan Toksisiti Tanaman

Syekhfani

Mengenal cepat kelainan pertumbuhan tanaman akibat defisiensi atau toksisiti?

Gunakan “Tanaman Jagung” sebagai indikator, karena tanaman jagung umur pendek (3 bulan), cepat tumbuh, fase pertumbuhan vegetatif dan generatif jelas dan tegas, gejala yang ditunjukkan ‘spesifik unsur esensial tertentu’, dan menunjukkan penampakan (performance sesuai sifat dan perilaku masing-masing unsur).

Waktu diagnosis: saat pertumbuhan vegetatif maksimum (fase tillering, muncul bunga jantan, dan bunga betina di ketiak daun – “silking period“.

Defisiensi:

Unsur mobil – N, K dan S: khlorosis permukaan daun, dimulai daun tua dan merata di seluruh tanaman.

Unsur non-mobil – Fe, Mn, Cu, Zn: toksik mulai daun tua terbawah, disertai perkembangan daun muda (pucuk) terhambat.

Unsur moderat – P, Ca, Mg, Mo, B: gejala spesifik pada daun tua (bawah) diiringi kelainan pertumbuhan pada daun muda (pucuk) akibat pengaruh induksi (induced).

Berikut ada tempat khusus (site specific) munculnya gejala defisiensi dan toksisiti pada tanaman.

Pada tanaman semusim monokotil – serealia (padi, tebu, sorghum, dan lain-lain) gejala bisa seperti pada jagung.

Pada tanaman semusim dikotil (legum, dan lain-lain), posisi tempat bisa sama, tapi gejala berbeda spesifik masing-masing.

Toksisiti:

Unsur hara esensial makro N, P, K, Ca, Mg, S: tidak menunjukkan gejala keracunan bila berlebihan, namun menyebabkan terjadi penghambatan pertumbuhan dan menginduksi defiensi unsur hara lain (induced chlorosis).

Unsur mikro hara esensial mikro Cu, Zn, Fe, Mn: menyebabkan gejala keracunan berupa nekrotik pada daun-daun tua (immobil).

Posisi gejala defisiensi:

Diagnostik Simptom - Copy

Contoh gejala defisiensi unsur hara esensial pada tanaman jagung (Dr Somchai C-A-R, Monsanto Imagine, 2006, slide).

Gejala Kelainan

Lihat pula: Buku – Hubungan Hara Tanah Air Tanaman, Syekhfani(2010)

BUKU HHTAT

06 MayKapasitas Angkut Cairan

KAPASITAS ANGKUT

(Carrying Capacity)

Diposkan oleh: Syekhfani

Kapasitas angkut (carrying capacity) cairan, adalah kemampuan cairan berbasis-air dalam mengangkut bahan.

Definisi juga berlaku untuk kapasitas angkut setengah-padatan dan padatan, tetapi dalam tulisan ini hanya ditujukan pada cairan.

Kemampuan mengangkut atau kapasitas angkut (carrying capacity) cairan dipengaruhi oleh: komposisi, tegangan permukaan (surface tension), gerakan sentripetal dan sentrifugal, sinar polarisasi dan medan magnetik.

Unsur-usur larut bermuatan listrik-positif atau listrik-negatif (juga unsur tidak bermuatan) dapat diangkut oleh cairan.

Jumlah relatif muatan positif dan negatif dalam cairan menentukan kapasitas angkut.

Ion-ion listrik-positif menurunkan kapasitas angkut sedang ion-ion listrik negatif meningkatkan.

Unsur-unsur hanya dengan satu ion positif atau satu ion negatif (monovalen), punya efek kecil pada suspensi.

Unsur dengan ion-ion dua positif atau dua negatif (divalen) seperti magnesium dan berilium (+2) atau oksigen dan selenium (–2) punya efek 3,000 kali pada kapasitas angkut (carrying capacity) lebih besar daripada unsur-unsur tunggal.

Unsur-unsur bervalensi tiga, seperti besi dan aluminum (+3), nitrogen, dan fosfor (–3) punya 6,000 kali lebih berpengaruh terhadap carrying capacity daripada unsur tunggal dengan satu muatan ion positif atau negatif.

Selanjutnya, pemberian unsur dengan ion bervalensi tiga positif atau negatif (trivalen) dalam jumlah sangat sedikit, punya efek sangat besar pada kapasitas angkut khususnya dekat titik pertukaran.

Tegangan permukaan, adalah suatu ukuran tarik menarik bahan itu sendiri, ketahanan jelajah dan ekstraksi di antara molekul. Dalam air, mekanisme memungkinkan sebuah jarum terapung atau serangga berjalan di permukaan air.

Kaedah umum: bila kapasitas angkut meningkat, maka tegangan permukaan menurun; dan sebaliknya.

Sebagai tambahan, suatu surfaktan (agen permukaan-aktif) seperti deterjen bisa menurunkan tegangan permukaan, tetapi tidak akan meningkatkan kapasitas angkut kecuali ia diubah secara kimia dasar koloidal dengan cara penambahan bahan bermuatan ion-ion negatif.

Ukuram muatan listrik adalah fungsi luas permukaan total partikel.

Akhirnya, kimia koloidal menjelaskan secara detail aksi koloid dalam larutan, pengertian faktor-faktor yang berpengaruh, serta pengaruhnya kehilangannya.

Penyemperotan air ke tajuk tanaman, menurunkan kapasitas angkut karena mencampur karbon dioksida dalam udara (0.03%) dengan cairan, yang menurunkan pH.

Jumlah padatan dalam air meningkat sesuai strata kedalaman sumur.

pH adalah suatu ukuran berapa masam atau alkalin suatu senyawa.

Begitu pH menjadi lebih masam (pH ~ 3) kapasitas angkut menurun. Saat pH menjadi lebih alkalin (pH ~ 11) kapasitas angkut meningkat sejalan dengan peningkatan ion hidroksida; bervariasi bergantung pada unsur yang ada dalam larutan.

Secara praktikal: hal di atas berkaitan dengan mekanisme transpor unsur/senyawa hara tanah – akar, akar – tajuk, dan pergerakan produk fotosintat dan metabolit.

Lihat sumber: → Colloidal Suspensions From Rockefeller Center Weekly 1Q35, Center Publications, Inc. — Oct. 1935 Published Readers Digest, March 1936, as “Chemistry’s Miraculous Colloids”. Submitted by Frank Hartman – Comments by Tommy Cichanowski.