Archive for the 'Book review' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

10 MarPotensi Oksidasi-Reduksi (Eh)

POTENSI OKSIDASI - REDUKSI

(Eh)

Syekhfani

Potensi Oksidasi - Reduksi (Eh)*), aktivitas elektron-proton, merupakan indeks yang menyatakan kuantitas elektron dalam suatu sistem.

Aktivitas elektron (pe), sama seperti halnya pH dalam menyatakan aktivitas proton:

pe = -logae

Untuk reaksi oksidasi-reduksi

(oksidan)+e ↔ (reduktan)

dalam keseimbangan

K = (reduktan)/(oksidan)(e)

di bawah kondisi standar

LogK = peo

di mana K adalah konstanta keseimbangan, yang berhubungan dengan reaksi energi bebas standar:

ΔGo = – RT lnK = -nFEo

yang mana

Eo = RT/nF lnK

bila n=1, pada 25oC

Eo = 0.059 log K = 0.09peo

Artinya, ΔGo sama dengan selisih jumlah energi standar pembentukan produk dan reaktan.

ΔGo = ƩGoᶴ(produk) – ƩGo(reaktan)

Berdasar kaedah elektron dalam reduksi oksigen:

O2 + 4H+ 4e ↔ 2 H2O

K = 1/2(O2) (H+)4(e)4

menggantikan nilai 1020.8 dalam bentuk log, diperoleh:

pe = 20.8 + 1/4logPo2-pH

Nila pe dan Eo beberapa sistem redoks disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Nilai pe dan Eo beberapa reaksi redoks pada tanah tergenang (25oC)

Sistem

Pe0 (=log K)

E0 (V)

1/4 O2 + H+ + e ↔1/2 H2O

20.8

1.23

1/2 MnO2 + 2H+ + e ↔ 1/2 MnO2 +H2O

20.8

1.23

Fe(OH)3 + 3H+ + e ↔ Fe2+ + 3H2O

17.9

1.06

1/2 NO3- + H+ + e ↔ 1/2 NO2- + 1/2 H2O

14.1

0.83

1/8 SO42- + 5/4H+ + e ↔ 1/8 H2S + 1/2 H2O

5.12

0.30

1/8 CO2 + H+ + e ↔ 1/8 CH4 + 1/4 H2O

2.86

0.17

H+ + e ↔ 1/2 H2

0

0

Energi yang dibutuhkan untuk memindahkan satu molekul elektron ke oksidan H2, dalam volt, adalah potensi oksidasi-reduksi (Eh). Eh berhubungan dengan pe sebagai berikut (n=1):

pe=F/2.303 RT x Eh

pada 250C

pe = Eh / 0.059

Perilaku Unsur dalam Tanah 

Keberadaan air dalam tanah menentukan sifat aerobik dan anaerobik, yang selanjutnya mengatur perilaku serta sifat ketersediaan unsur-unsur  hara bagi tanaman.

Parr (1969) mengemukakan bahwa bila tanah digenangi mula-mula akan mendorong perkembangan jazad mikro fakultatif anaerob kemudian obligat anaerob.  Menurut Alexander (1961) jazad mikro tersebut akan mengubah ion-ion NO3-, SO42-, Fe3+, Mn4+/3+ menjadi gas NO, N2O, atau N2,  SO2 atau H2S, Fe2+, dan Mn2+.  Perubahan ini menyebabkan N dan S menjadi tidak tersedia karena hilang ke atmosfer, sedang Fe dan Mn ketersediaannya meningkat dan dapat menyebabkan racun  bagi tanaman.

Menurut Okajima (1975) perubahan besi bermartabat dua dimulai pada nilai redoks potensial antara +300 hingga +200 mV, sedang mangan bermartabat empat menjadi dua pada nilai redoks antara +400 hingga  +200 mV. Konsentrasi besi dan mangan valensi dua tinggi pada tanah sawah tergenang mencapai redoks -200 mV (Ponnamperuma, 1964; Chang, 1971).

Nilai Eh merupakan penciri paling penting dalam evaluasi status unsur dalam tanah.  Berdasar pada hubungan antara sifat-sifat tanah dan pertumbuhan tanaman, maka status redoks dikelaskan ke dalam empat kategori:  oksidasi, reduksi lemah, reduksi sedang, dan reduksi kuat (Tabel 2).

 

Tabel 2. Gradasi Status Redoks Tanah (Liu, 1985)

Status Redoks

Kisaran

Eh (mV)

Reaksi

Pertumbuhan

Tanaman

Oksidasi >400 O2 berlebih,

material dalam bentuk oksidasi

Baik bagi tanaman darat; tidak baik bagi padi
Reduksi rendah 400-200 O2 ,NO3- dan Mn4+ direduksi Pertumbuhan padi normal; tanaman darat terganggu
Reduksi  sedang 00-(-100) Fe3+ direduksi; senyawa organik direduksi Tanaman darat terganggu
Reduksi <(-100) CO2  dan H+  direduksi Tanaman padi terganggu oleh senyawa reduksi

 

 

Daftar Pustaka:

Chang, S.C.  1971.  Chemistry of paddy soils.  Food and Pupuk Tech. Center.  ASPAC, Ext. Bull. No. 17.

Okajima, H.  1975.  The physiology of Besi and mangan in plants.  In The Significant of Minor Elements on Plant Physiology.  Food and Fert, Tech, Center, ASPAC, Taipei, Taiwan.  pp. 1-29.

Parr, J.F.  1969.  Nature and significance of anorganik transformations in tile drain soils.  Soil Fert. 32(5):411-415.

Ponnamperuma, F.N.  1964.  Problems rice soils.  A Paper Presented at Intern. Rice Res. Con., IRRI, Los Banos, Laguna, The Philippines.

 

Lihat:

 

100320141439

 

 

 

 

 

*) Liu Zhi-Guang, 1985. Kimia Fisik Paddy Tanah, Yu Tian-Ren (ed.), Science Press, Beijing.

 

Lihat pula:

 

1. Reaksi Redoks

2. Diagram  pH – Eh

 

28 OctSOIL-Rekomendasi Simposium Internasional

 

2

 

Proceedings of an International Symposium

“Soil Organic Matter Dynamics, and Sustainability of Tropical Agriculture

Belgium, 4-6 November 1991

 

Disiter oleh:  Syekhfani

 

Ringkasan – Rekomendasi:

Secara umum, penyajian dan diskusi dalam simposium menekankan pada pemahaman lebih

terpadu tentang sistem budidaya. Semua peserta sepakat bahwa optimalisasi efisiensi nutrisi  dalam sistem pertanian yang mengandalkan input organik akan tercapai hanya melalui analisis detail berbagai proses yang terlibat.

Perubahan penekanan pada fase kedua projek IITA/KU Leuven tercermin dalam tiga cara:

Pertama, penelitian detail dilakukan pada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perubahan bahan organik;  di mana mengandalkan hasil studi isotop.

Kedua, penggunaan model sebagai alat penelitian dan sebagai cara ekstrapolasi dan prediksi yang efektif terhadap perubahan manajemen kesuburan tanah, berlaku sebagai komponen utama penelitian.

Ketiga, kemantapan sistim penelitian pertanian diperkuat melalui kerjasama validasi dan temuan di lokasi lapangan dalam berbagai zone agro-ekologi.

Rekomendasi khusus, yaitu:

  • Sistim dinamika bahan organik dalam tanah agar fokus pada peran sistim perakaran.
  • Meninjau kembali karakterisasi bahan organik tanah melalui fraksionasi.
  • Evaluasi terhadap peranan fraksi organik tanah terhadap sifat kesuburan tanah.
  • Fraksi bahan organik tanah sebagai posisi kunci dalam konsep model simulasi; namun memerlukan validasi praktikal.
  • Dalam praktek manajemen perlu ada perbaikan tingkat bahan organik tanah, sebagai patokan awal penilaian keberlanjutan sistem pertanian yang diberikan.
  • Penelitian tentang proses biologi dan fisiko-kimia  tanah harus mempertimbangkan aspek fisik mulsa dalam kaitannya dengan kesuburan tanah.
  • Hal ini diperlukan untuk mengembangkan kerangka holistik dalam mengetahui dan mengevaluasi peran bahan organik tanah terhadap keberlanjutan pertanian.
  • Studi proses dilakukan dalam rangka memperoleh prinsip-prinsip umum lokasi spesifik secara empirik, perlu diintedgrasikan sebelum diterjemahkan ke praktek manajemen.  Model simulasi adalah alat disukai untuk penelitian ini.
  • Proposal yang dajukan ke Administrasi Belgia untuk Develompment COOPRATION (BADC) tahap kedua Proyek IITA/KU Leuven, berbasis pada dinamika bahan organik tanah di daerah tropis;  dengan penekanan khusus pada isu-isu berikut:
  • Penelitian tentang peran organik tanah dalam sistim tanam lain daripada membatasi untuk sistim pertanian lorong, meliputi agroforestri dan pertanaman masa bera, yang melibatkan manajemen sisa tanaman.
  • Tanaman pangan uji yang digunakan dalam tahap pertama adalah jagung, penelitian sekarang harus mencakup tanaman lain, seperti umbi-umbian (singkong, ubi) sebagai tanaman tunggal atau campuran, dan bahkan tanaman perkebunan.
  • Meskipun penyederhanaan mempersempit penelitian, namun tetap perlu memahami proses yang mendasari dinamika bahan organik tanah agar mampu sebagai alat praktek perbaikan manajemen bahan organik dan untuk meramalkan kemungkinan temuan untuk jangkauan yang lebih luas di zona agroekologi.
  • Penurunan kandungan bahan organik tanah dan kekurangan nitrogen tidak hanya menjadi kendala pertanian berkelanjutan di daerah tropis. Penelitian juga harus memperhitungkan  kemungkinan kelebihan aluminium terhadap kekurangan magnesium, fosfor, kalsium, kalium, mangan dan unsur mikro.  Kendala tersebut terkait erat dengan dinamika bahan organik dan nitrogen tanah.
  • Selain itu, peran spesies pohon dalam sistem pertanian tropis perlu didokumentasikan dengan baik . Meskipun spesies ini memainkan peran penting dalam siklus nutrisi, mereka juga dapat mengurangi ketersediaan nutrisi tanaman pangan.
  • Selain  yang sedang dilakukan di IITA, tetap dibutuhkan penelitian hubungan antara bahan organik dan nitrogen tanah, serta hubungan antara bahan organik dan struktur tanah.
  • Karakterisasi detail dari lingkungan fisik (seperti fisiko- kimia dan biologis) perlu dimasukkan dalam parameter setiap model uji yang dikembangkan.
  • Proposal agar diajukan ke sistim penelitian pertanian nasional untuk mendapatkan anggaran individu terkait dengan proyek IITA/KU Leuven dalam memperkuat kapasitas penelitian.

 

Klik: → Summary – Recomendations

Conference Summary and Recommendations, Recommendations, Page 382 – 384.

Mulungoy, K. and R. Merckx.  1991.  Soil Organic Matter Dynamics and Sustainability of Tropical Agriculture, Proceedimgs of an International Symposium organized by the Laboratory of Soil Fertility, Kathollieke Universiteit Leuven (K.U. Leuven) and the International Institute of  Tropical Agriculture (IITA) and held in Leuven, Belgium, 4-6 November 1991.  John Wiley & Sons. Chichester – New York – Brisbane – Toronto – Singapore.  A Co-Publication with Sayce Publ. (UK), K.U. Leuven (Belgium) and IITA (Nigeria).

 

22 OctSOIL-Intensifikasi Masa Bera

 

221020131148-001

 

INTENSIFIKASI MASA BERA

(WAITING PERIOD INTENSIFICATION)

 

Perladangan Berpindah ~ Tropika Indonesia ~ Masa Bera

 

Pengelolaan ~  Unsur Hara ~ Ekspansi Alang-Alang ~ Sumber Pendapatan

 

Ditinjau oleh:  Syekhfani

 

Perladangan berpindah (shifting cultivation), yaitu suatu sistim siklus pergiliran pembudidayaan pertanian lahan kering  tradisional, yang berkembang sebelum berubah menjadi lahan intensifikasi.

Sistim ini berjalan hingga daya dukung (carrying capacity) lahan tidak lagi mampu akibat tekanan populasi penduduk.

Pada umumnya orang memandang sistem perladangan berpindah kurang efektif dan kurang menguntungkan, karena dikelola sembarangan, tidak serius, atau bersifat sambilan.  Padahal, daya dukung sistim ini bisa tinggi karena ada masa bera yang potensial mendatangkan keuntungan.

Dalam manajemen masa bera, beberapa faktor kendala seperti unsur hara dan ekspansi alang-alang  perlu diperhatikan;  sehingga sistim agroforestri dan sistim berbasis pohon dapat menjadi alternatif pilihan.

Faktor apasaja yang berpengaruh dan penting dalam sistim perladangan berpindah berlanjut dan menguntungkan?? Hal ini ditinjau oleh  Elok Muliyoutami dkk.(2010) terutama tentang intensifikasi masa bera.

Catatan:  Butir penting dari tinjauan ini adalah bahwa Sistem Agroforestri dan Sistem Berbasis Pohon merupakan alternatif pilihan yang baik.

 

251020131167-001

 

 

 

 

 

Lihat: →  Elok, M., Noordwijk, Niken S., dan Fahmuddjn Agus, 2010.  Perubahan Pola Perladangan, Pergeseran persepsi mengenai para peladang di Indonesia.  World Agroforestry Center, ICRAF Southeast Asia Regional Office. Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor 16115. 100 p.

 

Agroforestri, alternatif sistim pertanian berkelanjutan!

 

06 AprSOIL-Teknologi Pertanian Berlanjut

   

LAHAN KERING – TROPIKA  – SUBSISTEN

 

Garrity (1993) menulis dalam Technologies for Sustainable Agriculture in the Tropics”, yang prinsipnya sejalan dengan hasil telaahan Lindert (2000), dalam “Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia”, beberapa hal sebagai berikut:

  • Peningkatan populasi  penduduk petani subsisten terjadi di tanah-tanah lereng tak subur,  memacu kecepatan degradasi dan erosi tanah.
  • Di Indonesia, pemukiman di lahan kering tidak subur di luar Jawa berkembang cepat, berkaitan dengan migrasi spontan ataupun program transmigrasi pemerintah.
  • Kehilangan kesuburan dipacu oleh ulah manusia, iklim dan geologi.
  • Daerah geografi lereng gunung berapi muda dan curah hujan tinggi (1500-3000 mm), terjadi peningkatan populasi manusia lebih cepat.
  • Umumnya lahan kering di Asia Tenggara agak dangkal,  kejenuhan Al tinggi di subsoil;  sehingga perkembangan akar masuk ke dalam tanah dihambat oleh keracunan Al yang   mengurangi ketersediaan unsur hara dan cadangan air.

Selanjutnya, Garrity mengemukakan beberapa teknologi yang perlu dievaluasi dan dikembangkan sesuai kondisi ekologi lahan kering di tingkat petani, adalah:

(1) Sistem tanaman pagar kontur,

(2) Fosfor sebagai penghambat kritis,

(3) Pengurangan pengolahan tanah,

(4) Pengembangan sistem bera, dan

(5) Diversivikasi budidaya lahan sempit.

 

Teknologi lahan kering perlu dikembangkan untuk mendukung teknologi lahan sawah!

Sumber:

Dennis P. Garrity.  1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66;  in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme, International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. Of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Special Publication No. 56.