Archive for the 'Dinamika' Category

01 OctSifat Perilaku (Fate Behaviour)

KAKATUA-KAKAK

KUNCI BERKOMUNIKASI DENGAN SESAMA MAKHLUK

Syekhfani

Apabila kita berkehendak untuk berkomunikasi dengan sesama makhluk hidup (tumbuhan, hewan, manusia), maka agar kita dapat melakukakan komunikasi yang baik, kita perlu mengetahui sifat perilakunya.

Sebagai contoh, penulis punya seekor burung kakaktua peliharaan yang sudah sangat akrab dengan seisi rumah.

Biasanya, setiap hari, pagi-pagi begitu bangun tidur ia memanggil-manggil.

Awalnya kedengarannya nada menyapa; namun makin lama makin keras, mungkin dia mulai merasa lapar.

Mula-mula dia memanggil dengan nada rendah, lalu lebih keras dan apabila tampak tidak ada respon, maka kemudian berteriak-teriak.

Dengan demikian kita tahu, bahwa dia sudah benar-benar merasa lapar dan minta makan.

Dalam keadaan biasa, kakaktua penulis menunjukkan perilaku santai dan bergerak aktif.

Hal ini adalah pertanda bahwa tampaknya dia tidak ada masalah dan santai-santai saja.

Namun, apa yang dia kehendaki??

Sebenarnya kita tidak mengetahuinya.

Berikut video kakaktua “KAKAK”, peliharaan penulis:

hhtps://youtu.be/4L71s6jzMaO

26 SepBerpikir Positif, Berpikir Negatif

positive vs negative thingking

SUATU FENOMENA HIDUP DAN KEHIDUPAN

(Filsafat Hidup dan Kehidupan Sehari-hari)

Syekhfani

Dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari, fenomena alami umumnya dicirikan oleh sikap yang mendahulukan cara berpikir negatif (negative thinking), jarang atau bahkan tidak pernah mendahulukan cara berpikir positif (positive thinking).

Misalnya dalam hal contoh berikut:

Tiba-tiba, tanpa diduga langit menjadi mendung, lalu turun hujan rintik-rintik disertai kilat menyambar-nyambar.

Kemudian hujan turun dengan derasnya diiringi guruh mengelegar sambung menyambung.

“Walah, hujan keparat!”,

“Bajuku jadi basah kuyup, rencana kerjaku amburadul jadinya”.

Demikian kira-kira seseorang yang berpikiran negatif (negative thingking).

Lain halnya dengan orang lain yang justeru berpikiran positif (positive thingking):

“Alhamdulillah”,

“Harapan banyak orang terpenuhi rupanya”.

“Petir disertai turun hujan lebat ini, pasti akan membawa kesegaran dalam cuaca seterik ini”.

“Tanaman di pekarangan, di sawah, di tegalan dan bahkan hutan di bukit dan gunung akan menjadi hijau”.

“Petani dan pekebun akan memetik hasil tanaman yang mereka usahakan, dan hutanpun akan memberikan sumber air bagi hidup dan kehidupan tumbuhan, tanaman, hewan dan bahkan manusia di lahan yang mereka tempati”.

Itulah kira-kira dua contoh kontradiktif yang bisa terjadi dan dijumpai dalam suatu dinamika hidup dan kehidupan sehari-hari.

Subhanallah…

Maha suci Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

Dua hal yang kontradiktif di atas mengingatkan kita terhadap dua fenomena kehidupan yang perlu dikaji dan direnungi sisi positif dan negatifnya.

Jangan memandang sesuatu itu hanya dari segi negatifnya saja.

“Di balik sesuatu hal yang negatif, sebenarnya ada hal yang positif”.

“Tuhan memberikan “pasangan” dalam hidup dan kehidupan di dunia ini”.

“Suatu keseimbangan”…

“Yang mambawa kestabilan dan bahkan keberlanjutan hidup dan kehidupan dunia itu sendiri!”.

15 AprSi Siti

Profil Si Siti

PROFIL PETANI DESA

Dari Desa Menjadi Sarjana

Syekhfani

Siti tinggal di huma bersama neneknya.

Menanam padi, sayuran, dan buahan.

Siti dan nenek hidup berdua dengan kasih sayang.

Mereka menikmati lingkungan kehidupan bersama tetangga yang juga hidup di huma.

Suatu ketika, datang perubahan, ketika petugas LSM, atas nama Pemerintah mencanangkan program pengentasan kemiskinan.

Akhirnya, Siti pergi menuntut ilmu ke kota dan menjadi sarjana.

Siti bercita-cita mengubah huma yang bersifat tradisional menjadi modern, didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berikut ini,kisahnya.
SI SITI

10 AprPanas Terik

Panas Terik Menjelang Hujan

TANDA HUJAN LEBAT AKAN TURUN

Awal tahun 2016 ini Hampir Tiap Hari

Syekhfani

Dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari, terdapat fenomena alam yang jarang diperhatikan tapi sebenarnya sangat penting dalam suatu dinamika.

Penulis tergelitik untuk merekam gambaran kondisi lingkungan tempat tinggal penulis saat menunjukkan gejala akan turun hujan lebat.

Biasanya, sekitar jam 13.00 WIB, panas matahari tiba-tiba sangat terik, disertai hembusan angin cukup kencang, pertanda akan turun hujan lebat.

Panas terik menyebabkan kegiatan lalu lintas di jalan sepi.

Tampaknya penduduk enggan untuk bepergian, kecuali barangkali sangat penting.

Gejala tersebut dapat dijadikan acuan untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap kebasahan, misalnya jemuran, bepergian, pertemuan, dan sebagainya.

Rekaman video berikut (Minggu, 10 April 2016, jam 13.05 WIB), memberikan gambaran tanda-tanda akan terjadi hujan lebat, meskipun bersifat dugaan:

Lihat:https://plus.google.com/u/0/+SyekhfaniHarunSunama/posts

08 MayHidup Di Huma

SANG PIATU

Cerita Rakyat Suku Semende

Syekhfani

1. INGIN JADI ORANG

Sang Piatu, tinggal di huma dengan nenek. Ibu-bapaknya telah meninggal sejak ia kecil. Nenek sangat sayang padanya. Maklumlah, nenek hidup sendiri. Dipenuhi segala kebutuhan sang cucu meski sangat bersahaja, jauh dari mewah.

Begitulah hidup di huma, berbeda dengan di dusun, apalagi kota, tapi tak dipusingkan oleh kesibukan dan tata krama. Cucu dan nenek itu hidup bahagia.

Sehari-hari nenek bekerja di huma. Menanam padi, jagung, ketela, sayur-sayuran, dan lain-lain. Sang Piatu selalu mendampingi nenek.

Sang Piatu membantu nenek bersiang di huma, memetik dan memasak hasil tanaman memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dangau tempat tinggal Sang Piatu dan nenek pun sangat sederhana. Bertiang kayu, beratap ilalang dan berdinding anyaman bambu.

Dekat pondok, terdapat pancuran. Berasal dari sumber lereng atas huma. Air yang jernih dan sejuk tak pernah berhenti mengalir. Kebutuhan air Sang Piatu dan nenek tercukupi, bahkan bisa membuat kolam tempat pelihara ikan dan itik.

Ayam berkeliaran di sekitar pondok, berceloteh dan berkokok membawa nuansa damai dan alami. Sepi di situ, tapi tidak akan merasa kesepian!

Kelebihan air kolam, mengalir menuju luang kecil, bertemu anak sungai yang merupakan hulu sungai besar yang mengalir menuju lautan.

Se waktu-waktu hewan peliharaan Sang Piatu di bawa nenek ke pekan dusun, terletak tidak terlalu jauh dari situ; dijual dan uangnya digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari: gula, garam, ikan asin, minyak kelapa, minyak tanah, atau bahan lain yang tidak ada di huma.

Sang Piatu kecil selalu ikut ke pekan. Di pekan itu, ia tak beranjak dari dekat nenek. Maklumlah, ia belum berani bergaul dengan orang lain.

Sang Piatu kecil makin hari tumbuh makin besar, sehat dan kuat. Tinggal di huma dan selalu bekerja, mendorong tubuh Sang Piatu berkembang pesat secara alami. Kala itu, umurnya telah menginjak lima tahun.

Suatu pagi, sehabis sarapan, nenek berkata:

+ “Cungku*, kamu sudah besar. Sudah waktunya cari pengalaman hidup” – *(panggilan sayang nenek terhadap cucu)

- “Aku harus apa, nek?”

+ “Pergilah ke dusun yang ada pekan itu. Di situ akan banyak yang menarik”

-“Iya Nek!” (meskipun ragu)

Keesokan harinya, Sang Piatu pamit pada nenek untuk pergi cari pengalaman.

Hari itu, matahari pagi bersinar cerah. Sang Piatu melangkah gontai di jalan sepi menuju ke arah dusun.

Di suatu pojok pengkolan, Sang Piatu berhenti. Ada suara remang-remang kedengaran. Perlahan-lahan dia mendekat. Mendadak bulu tengkuknya meremang.

Di pojok itu, tampak olehnya orang tua berjenggot lebat, berkepala botak komat-kamit bicara sendiri tidak keruan.

Di dekatnya ada baki berisi makanan seperti disajikan saat buka puasa. Ada piring berisi serabi, lemang, pisang, dan bebera kue lain; ada gelas berisi air putih, dan ada pula piring tanah berisi bara api berasap.

Sebentar-sebentar ‘Pak Tua’ menaburkan serbuk ke bara api, menambah kepulan asap berbau aneh menyengat.

Sang Piatu tiba-tiba merasa sangat takut, setengah sadar ia lalu lari sipat kuping menuju huma.

Nenek sangat terkejut:

+ “Ada apa Cungku?!”

- (tersengal-sengal) “Di… di… sana tu… Nek! Aaa.. ada… orang… botak berjanggut putih… bicara tidak dimengerti…!”

+ “Lagi apa dia, Cung?”

- “Tidak tau,Nek! Ada tempat berisi makanan di dekatnya. Ada pula tempat api dan asap bau aneh berkepul-kepul…!”

+ “Apa lagi, Cung?”

- “Ada bakul penuh gabah…”

+ “Oo… dia ‘Pak Tua’ mau menugal benih padi di huma, Cung. Dia membaca mantra sambil membakar menyan,agar hasil panen nanti berlimpah”

*(… Menurut adat, penugalan benih padi di huma diawali dengan upacara ritual Awal Tanam. Upacara ini dimaksudkan agar padi yang ditanam dapat tumbuh baik dan terbebas dari hama penyakit. Dalam upacara ini disediakan sesaji berupa Serabi empat puluh, bubur sembilan, lemang tujuh batang, satu bumbung air, junjung dan benih-benih padi yang direndam air selasih atau kemangi. Lalu baca mantera tolak bala. Selanjutnya penugalan dengan tujuh mata tugal yang diisi dengan benih padi. Setelah itu segala kegiatan dilahan tersebut diistirahatkan selama 7 hari. Kemudian kegiatan penugalan dilanjutkan hingga selesai. Dalam masa pemeliharaan tanaman padi ini dibuat gubuk tempat berteduh…)

- “Tapi aku takut, nek!”

+ “Tak usah takut Cungku, ajak ‘Pak Tua’ tu ngomong. Bilanglah ‘Aku ikut berdoa panen melimpah, Pak..’” (*Cungku = Cucuku Cucung = cucu)

+ “Abis berdoa, makanan tu akan dikasihkan cucung”

- “Iya Nek, kalu gitu nanti akan cucung ingat”

Beberapa hari kemudian, Sang Piatu pamit mau cari pengalaman. Ketika itu matahari bersinar sangat terik. Sang Piatu hampir tak tahan terkena panas.

Tak jauh dari dusun, tibalah Sang Piatu di tempat terlindung pohon bunga-bungaan putih dan harum. Sang Piatu menuju ke sana untuk berteduh.

Tiba-tiba Sang Piatu mendengar ada suara seperti pernah ia dengar dulu di dekat huma Pak Tua.

Di pojok,terdengar “mantra” seperti dilantunkan ‘Pak Tua’ tempo hari.

Kali ini Sang Piatu tak lagi takut. Ia sudah tahu dari nenek agar tidak takut kalau orang baca mantra, untung-untung diberi makanan.

Sang Piatu berpikir, mendekat atau tidak, ya??

Kembali ia ingat kata nenek dan membayangkan diberi kue. Perutnya berbunyi tanda waktunya diberi makan.

“Kapan bisa jadi orang, kalau selalu ragu” (katanya dalam hati)

“Aku harus berani!”

Mengendap-endap Sang Piatu mendekati sekelompok orang yang sedang duduk mengitari gudukan tanah galian. Di dekat situ ada keranda.

Sang Piatu tidak tahu tentang kuburan, apalagi keranda, semua itu tidak ada di huma.

“Kau harus berani!” (katanya sekali lagi dalam hati)

“Kudoakan nanti makin banyak…!” (Tiba-tiba Sang Piatu memecah keheningan pekuburan)

Orang-orang kaget dan serentak menoleh.

“Hai, apa katamu??!” (teriak salah seorang dari mereka)

“Anak kurang ajar!!” (orang itu melotot marah)

Ternyata orang itu adalah salah satu dari keluarga yang sedang berduka.

Orang itu mengacu-ngacukan cangkul bekas menggali kubur.

“Kupacul kepalamu, anak kurang ajar!!”

Sang Piatu ketakutan, tanpa pikir panjang ia lari pontang-panting ke huma.

“Neek… Neneek… aku mau dipukul!”

“Siapa Cung, mana?!” Nenek keluar tergopoh-gopoh.

“Di sana, nek… dekat dusun itu!”

“Mengapa?”

“Orang yang baca mantra di bawah pohon bunga putih, ia marah-marah saat kukatakan ’aku ikut berdoa agar makin banyak…’, ia mau memukulku dengan pacul”

“Mereka itu duduk mengelilingi tanah yang baru dipacul”

“Oo.. Cungku, mereka itu sedang mengubur orang yang baru saja mati”

“Tentu saja ia marah, karena mereka baru kehilangan seorang yang disayangi”

“Mati,nek? Kayak mak-bapakku seperti cerita nenek?”

“Betul, Cung. Mereka tak mau didoakan agar ada lagi keluarganya yang mati”

Sang Piatu tercenung. Ia tidak mengerti mengapa orang akan mati, dan mengapa orang mati harus dikubur.

“Cucung mesti bilang ‘aku ikut bersedih dan berdoa, semoga yang mati itu masuk sorga’”

Sang Piatu mengangguk-angguk dan berjanji dalam hati, kelak tidak lagi akan ada salah paham. Nasehat nenek itu benar-benar harus diingat.

2. UPACARA TURUN MANDI

Pagi hari yang cerah, matahari menapak naik menyinari bumi; memancarkan cahaya emas kemilau, memberi kehangatan hidup dan kehidupan di muka bumi.

Di suatu tempat mandi di bagian hulu dusun, air pancuran bambu dari sumber,mengalir gemercik memeriahkan tempat mandi penduduk pedusunan.

Terdengar riuh rendah gelak-canda para ibu-ibu tua-muda yang pagi itu berkumpul di situ.

Nuansa tersebut biasa terjadi sehari-hari, karena tempat itu adalah pemandian umum.

Namun hari itu, kelihatannya istimewa karena ada peralatan untuk upacara ‘Turun Mandi’, yaitu pertama kali bayi dimandikan diluar rumah.

Hari itu, Sang Piatu kecil sedang menuju dusun itu untuk cari pengalaman.

Dia terpesona manakala tiba dekat pemandian. Diam-diam diperhatikan tingkah laku ibu-ibu di pancuran itu.

Dia khawatir kalau-kalau salah lagi dalam bersikap, seperti dulu waktu di kuburan.

Keinginan Sang Piatu memperoleh pengalaman, mendorong dia asyik mengikuti tingkah laku ibu-ibu yang bercanda ria. Ada tangis anak bayi melengking di sela ketawa.

Seorang ibu tua berdoa panjang-lebar, sambil mengelus-elus kepala bayi. Kuncir sang baik digunting sedikit, tanda dia sudah bisa dimandikan di alam terbuka.

Di atas batu besar yang bagian atasnya datar, tampak talam penuh berisi serabi, lemang, wajik, pisang dan lain-lain.

Sang Piatu tak syak lagi mereka sedang membaca doa keselamatan. Pelan-pelan dia mendekat:

‘Aku ikut bersedih dan berdoa, semoga anak ibu masuk sorga dan diampuni segala dosanya..’” (Sang Piatu cari simpati)

Bukan kepalang marahnya para ibu itu, terutama ibu anak bayi. Didatanginya Sang Piatu lalu ditampar pipinya.

“Kurang ajar, kamu doakan anakku mati, ya?!” (kata sang ibu garang)

“Pergi cepat dari sini, kalau tidak, kudorong kamu masuk selokan itu!”

Sang Piatu kaget, dia tidak habis pikir mengapa seseorang yang ingin berbaik hati malah dicaci-maki.

Sang Piatu akhirnya pulang dengan sedih ke huma.

Sepanjang jalan dia termenung, bagaimana seharusnya harus bersikap kalau ada upacara mandi di pancuran. Dia tidak sampai hati bila selalu harus tanya nenek kalau ada hal-hal aneh yang dialaminya.

Pokoknya, dia bertekad akan mengatasi dengan pikirannya sendiri.

3. DILEMPAR KOTORAN

“Kapan lahirnya, semoga lancar-lancar saja tanpa halangan..”

Sang Piatu bicara perlahan-lahan dekat pancuran tempat upacara ‘turun mandi’ beberapa hari lalu.

Ia sedang belajar berucap agar bisa mendapat empati dari para ibu, yang ternyata marah-marah serta mencaci-makinya setelah dia salah ucap.

“Aku berniat baik, cuma mengharap sedikit lemang atau pisang goreng’” (kata Sang Piatu mengeja kata-kata)

“Maaf, aku tak ingin mengganggu..”

Tiba-tiba, muncul seseorang dari balik gerombol selokan yang mengalir di bagian hilir pancuran.

“Ini lemang, ambil dan makanlah!” (katanya meradang sambil melemparkan kotoran)

‘Anak kecil mengganggu saja, tidak tahu orang sedang menikmati ‘buang air besar’!” (Untung Sang Piatu tidak kena lemparan)

Namun terpaksa dia menutup hidungnya karena bau.

Wah, wah… susah mencari pengalaman hidup itu, ya?

He he he…

Link: https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8918849364576846393#allposts/postNum=0

02 MayBatu Permata

DIGALI SECARA MANUAL

Posisi di Kedalaman Tanah

Syekhfani

Akhir-akhir ini, pencarian Batu Permata (Germstone) marak dilakukan, mulai dari cara sederhana hingga menggunakan alat-alat mesin berat.

Tidak begitu jelas, mengapa batu permata tersebut menjadi tren? Digeluti secara serius oleh para pencari dan pembeli? Di dalam dan bahkan dari luar negeri?

Nuansa ini menjadikan suatu ajang baru, bagi masyarakat individual maupun pemerintah.

Bahkan, diberitakan di suatu Daerah, Kepala Daerah menjadikan objek dan ikon daerah berhubung daerahnya kaya akan tambang Batu Permata yang bermutu.

Di mana posisi diketemukan Batu Permata dalam tanah?

Untuk itu perlu dipelajari profil kedalaman tanah, lapisan horizon serta proses pembentukan tanah (pedogenesis).

1. Profil Dimensianal Tanah

Gambar 1. Penampang Dimensional Profil Tanah

2. Lapisan Olah Tanah

Gambar 2. PenampangTopsoil (lapisan atas) dan Subsoil (lapisan bawah)

Dari susunan horizon di atas, maka kemungkinan diketemukan Batu Permata dalam tanah adalah di Horizon C dan R.

Penambang tradisional menggunakan cara manual, hanya mencapai kedalaman Horizon C, sedang bila menggunakan alat mesin semprot berkekuatan tinggi, maka bisa mencapai Horizon R.

Bagaimana pun, Penggalian Tanah Merusak Lingkungan Hidup dan Kehidupan!

19 AprDrainase Subsoil

SUBSOIL MENJADI PADAT – VEGETASI POHON

Kiat Penaggulangan

Syekhfani

Horizon subsoil yang kompak (padat), menjadi masalah bagi perkembangan sistem perakaran budidaya pepohonan (perkebunan: karet, kelapa sawit, dll. dan/atau buahan hortikultura: mangga, durian, dll.).

Sistem perakaran pepohonan tersebut di atas, setelah berumur di atas dua tahun, berkembang intensif sehingga tanah di bawah tajuk tidak dapat diolah (digemburkan) tanpa memutuskan akar-akar.

Karena itu, apabila tanah di seputar proyeksi tajuk pohon sering diinjak-injak, atau terjadi proses “pedoturbasi” (→ http://en.wikipedia.org/wiki/Perturbation_%28geology%29), maka akan terjadi pemadatan sehingga drainase subsoil menjadi jelek dan permeabilitas (pergerakan air tanah) terhambat.

Demikian pula halnya, aerasi sistem perakaran menjadi tidak baik.

PENANGGULANGAN

Ada tiga alternatif:

1. Memelihara Cacing-tanah jenis subsoil (Anecic dan Endogeic), membuat lubang terbuka hingga permukaan (topsoil), sebagai dekomposer dan memproduksi “casting”. Endogeic, berperan mencernakan tanah dan BO serta akar-akar mati; sehingga tercipta lubang aerasi dan drainase.

2. Menanam Pohon-perdu cepat tumbuh (fast-growth) dan berumur pendek, berakar sedang hingga dalam. Setelah pohon mati, sistem perakarannya meninggalkan kanal dan membuat lubang aerasi dan drainase.

Root apex progressively increase in diameter

Root apex progressively increase in diameter

→ Lihat: http://bioscience.oxfordjournals.org/content/61/11/869.full#F2

3. Borring dalam, menembus ketebalan lapisan padat, dengan diameter lubang bor 10 cm. Borring lapisan padat Kedalaman 30-50 cm, bertujuan untuk membantu aerasi dan drainase dalam.

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

03 JunDi balik Indahnya Bunga

Krisan dalam Pot

NILAI TANAMAN HIAS ITU BEDA

Suatu Pengamatan Lapangan

Syekhfani

Tanaman hias bunga, budidaya dalam pot atau bunga potong selalu menarik karena keindahannya. Bunga dari berbagai jenis, bentuk, warna yang indah memberikan kesegaran khusus saat santai melepas lelah.

Pengusaha tanaman hias skala kecil, baik produsen maupun penjual mempunyai tata cara tersendiri dalam usahanya, yaitu bersifat subsisten demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Budidaya tanaman hias skala kecil, sepintas tidak tampak memberikan keuntungan yang spektakuler bagi produsen maupun penjual.

Satu pot tanaman hias bunga, mungkin memberi keuntungan hanya Rp 10 ribu atau paling tinggi Rp 100 ribu. Mengapa?

Orang berpikir dua kali untuk membeli tanaman pot seharga Rp 100 ribu, kecuali para hobeis dan tanamannya pun unik, eksotik, atau langka.

Para hobeis tidak peduli berapa uang yang harus dikeluarkan, asalkan memperoleh kesenangan.

Berapa harga suatu kesenangan? Itulah sebenarnya yang tidak ternilai!

Kalau hati senang, pikiran tenang, tidak ada beban, gembira dan mendorong semangat kerja(?)!

Oleh sebab itu, tidak heran bila kita mengetahui harga tanaman hias itu sangat bervariasi; tidak ada patokan khusus.

Para penjual menawarkan tanaman hias pot berdasar mimik muka para pembeli. Bila tampak sangat berminat, langsung disebut harga tinggi.

Sebaliknya, para pembeli yang berpengalaman juga pintar bersandiwara seolah-olah dia tidak berminat atau tampak iseng agar harga ditawarkan tidak tinggi.

Demikian itu fakta, dinamika dan seni perniagaan tanaman hias (hortikultura) dalam pot skala kecil; sangat berbeda dengan usaha tanaman pangan atau perkebunan atau bahkan hortikultura skala besar dan luas memenuhi kebutuhan secara makro.

Budidaya tanaman hortikultura skala mikro, tidak hanya memenuhi kebutuhan material, tetapi juga spiritual. Unik, menarik dan bernuansa tersendiri!

08 MayPemanasan Global

PEMANASAN GLOBAL OLEH MANUSIA

Posting: pemanasanglobal.blogspot.com

Mungkin saja kita sebagai manusia yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global, pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan selama ini secara tidak kita sadari malah berdampak buruk terhadap global warming. Untuk itu, sudah seharusnya kita mengetahui beberapa penyebab global warming yang bisa dilakukan oleh manusia:

• Pemborosan Energi Listrik, salah satu faktor yang menyebabkan bumi ini semakin panas adalah penggunaan energi listrik yang berlebihan. Kadang kita secara tidak sadar menggunakan energi listrik dengan boros (misalnya menyalakan lampu terus menerus, televisi terus menyala padahal tidak ditonton). Hal tersebut tidak baik karena energi listrik yang kita gunakan bersumberkan dari minyak bumi dan batubara dimana proses pembakarannya juga menghasilkan karbon dioksida yang bisa menyebabkan global warming.

• Penggunaan AC dan Kulkas Secara Berlebihan, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa AC dan Kulkas yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari mengandung zak kimi yang bernama CFC (ChloroFlouroCarbons). Senyawa CFC ini dapat melayang ke atmosfir bumi dan merusak lapisan ozon. Tentu hal ini merupakan berita yang tidak baik karena dapat merugikan kita. Sinar matahari yang tidak “difilter” terlebih dahulu akan terasa lebih panas, selain itu hal ini juga bisa menyebabkan efek samping seperti penyakit kulit.

• Lebih Senang Menggunakan Kendaraan Bermotor, Dewasa ini orang tentu memilih untuk menggunakan sesuatu (teknologi) agar mempermudah urusan mereka, termasuk menggunakan kendaraan bermotor. Akan tetapi seharusnya kita bisa bijak menggunakan kendaraan bermotor, jangan sampai untuk bepergian yang jaraknya dekat (seperti minimart depan komplek) kita tetap menggunakan kendaraan bermotor. Pilihlah alternatif-alternatif lain yang lebih “Go Green” seperti berjalan kaki ataupun bersepeda.

• Penggunaan Gadget Secara Berlebihan, Saat ini memang manusia tidak bisa lepas dari gadget (komputer, laptop, handphone, dan lain-lain). Tidak salah memang jika kita menggunakan gadget untuk mempermudah pekerjaan kita, akan tetapi sebaiknya kita menggunakan gadget-gadget tersebut secara wajar. Menggunakan gadget secara wajar berarti kita turut mendukung program penghematan listrik yang dicanangkan Pemerintah saat ini. Menghemat listrik berarti kita berusaha untuk mengantisipasi agar global warming tidak semakin parah.

• Membakar Sampah, tahukah anda kalau membakar sampah menjadi penyebab pemanasan global? Ini adalah sebuah kenyataan dan banyak orang yang tidak menyadari akan hal tersebut. Sampah yang terbakar berupa gas karbon dioksida akan melayang keudara dan menumpuk di atmosfir bumi. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk karena dapat menyebabkan efek rumah kaca. Gas karbon dioksida tersebut berkumpul dengan gas-gas lainnya seperti karbon monooksida, sulfur dioksida, dan uap air yang menjadi perangkap gelombang radiasi sinar matahari.

• Menyisakan Makanan, mungkin ini tidak anda ketahui sebelumnya, tapi faktanya adalah benar bahwa menyisakan makanan secara tidak langsung berimplikasi terhadap pemanasan global yang lebih parah. Makanan-makanan yang disisakan (makanan sisa) seperti nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan sayur-sayuran akan mengalami dekomposisi anaerobik di mana proses tersebut akan menghasilkan gas metana. Sudah kita ketahui bersama bahwa gas metana merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/

Gambar Global Warming 1

Gambar diatas menunjukan proses terjadinya efek rumah kaca yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Intinya adalah sinar matahari yang memantul dari permukaan bumi terperangkap di atmosfer karena menumpuknya gas efek rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, sulfur dioksida, dan uap air.

Gambar Global Warming 2

Gambar diatas adalah sebuah artikel mengenai sumber pemanasan global di Indonesia. Dan ternyata Indonesia juga menjadi salah satu negara kontributor terjadinya pemanasan global karena kerusakan dan penggundulan hutan, eksplorasi sumber daya alam, dan juga emisi gas karbon dioksida dari industri dan kendaraan bermotor.

Gambar Global Warming 3

Gambar di atas diambil oleh seseorang didaerah Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat. Pada gambar tersebut kita bisa melihat bongkahan salju yang mencair dan jatuh, hal tersebut merupakan imbas dari pemanasan global saat ini. Perlu anda ketahui bahwa global warming menghancurkan banyak glacier diwilayah Alaska.

Gambar Global Warming 4

Gambar tersebut menunjukan seekor beruang kutub yang sedang berjalan diatas salju. Global warming menyebabkan mahluk hidup terancam punah, bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa 50-100 tahun mendatang satu juta spesies mahluk hidup akan punah karena pemanasan global. Untuk itu, mari kita bersama mengantisipasi global warming.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/2013/10/kumpulan-gambar-global-warming.html

07 DecSOIL-Hujan di Perumahan Penduduk

 

0

 

HUJAN DI PERUMAHAN PENDUDUK

 

Hujan:  Udara Lembab ~ Jamur Tumbuh ~  Tanaman Peka Air

 

Gambar-gambar:  Syekhfani

 

Hujan di perumahan penduduk:  seperti halnya di lahan petani, hujan bisa berdampak positif dan negatif terhadap kehidupan sehari-hari di kawasan perumahan penduduk.

Bila hujan turun, aktivitas di luar rumah penduduk dikurangi, kecuali bila terpaksa harus dilakukan (anak-anak sekolah, masuk kantor, berjualan, bekerja di kebun, dan sebagainya).

Pekerjaan rumah tangga rutin yang  membutuhkan sinar matahari, juga terhalangi  (jemur pakaian, jemur perabot rumah-tangga, dan sebagainya).  Sehabis hujan, kondisi udara lembab, suhu dingin, udara mendung, berpengaruh terhadap kehidupan flora maupun fauna.

Di kawasan lingkungan hijauan perumahan penduduk:  Kebun, tanaman di taman, halaman, balkon, emper,  terpengaruh pertumbuhannya;  ada yang kekurangan air, namun ada pula yang kelebihan air.  Di pihak lain, selokan di sekeliling perumahan penduduk menjadi bersih karena kotoran terangkut oleh aliran air hujan. Namun, bila kita perhatikan dengan seksama, ada yang menarik seperti berikut:

 

1

Pada bekas pangkasan pohon nangka, tumbuh jamur kuping.

4

Demikian pula pada bekas pangkasan pohon Mengkudu di tepi lapangan.

5

6

Buah Delima terlalu banyak hujan, busuk menjelang matang.

7

9

8

Tanaman Lombok kecukupan air, tetapi tidak menghendaki terlalu banyak air.

8

11

12

Kembang Amarilis muncul di bulan-bulan penghujan, tetapi juga tidak menghendaki terlalu banyak air.

 

Hujan bagi penduduk perumahan:  tampaknya seperti  menyusahkan, tapi sebenarnya ada hal yang  unik!

  

28 NovSOIL-Multiple Produce

 

MULTIPLE PRODUCE

(PRODUKSI GANDA)

 

Panen – Produksi – Efisiensi – Nilai

Syekhfani

 MP

 

Saat panen tiba, lahan sawah sibuk luar biasa. Petani beramai-ramai turun melakukan pekerjaan berat di terik matahari. Betapa tidak, empat bulan lamanya mereka telah bersusah payah mengolah lahan; membajak, memacul, menanam, memupuk, memelihara, dan hari itu akan memetik hasilnya.

2

Akankah jerih payah tersebut dibiarkan terbuang sia-sia? Tentu saja tidak, tidak sedikitpun produksi boleh hilang tercecer:  gabah, malai, jerami, sekam, menir, seluruh produksi.  Mereka semua harus dibawa pulang untuk anak isteri dan keluarga.  Ramai-ramai mereka panen, potongan jerami ditumpuk di lahan, lalu disusun di atas gerobak, kemudian ditarik dan didorong bersama. Dibawa pulang, diproses, dikonsumsi, dijual, dijadikan kompos, dijadikan pupuk, diberikan pakan ternak. Capek? Tentu iya, tetapi tidak terasa karena hati gembira.

3

Keringat mengucur di seluruh tubuh;  gerobak penuh dengan hasil produksi panen:  gabah, jerami, bahan kompos/pupuk, dan … UANG! Mereka tersenyum…

MP - 1

 

Itulah nuansa kehidupan petani.  Mereka tidak mengenal arti capek, dan tidak pernah menghitung harga tenaga sendiri.  Bagi mereka, tenaga sendiri tidak perlu dinilai uang, tetapi lebih dari itu… dinilai dengan keceriaan dan “Kebahagiaan”.

 

Petani, ahli yang benar-benar ahli, mengerjakan semua proses produksi dari A sampai Z…!!