Archive for the 'Ekosistem' Category

24 SepAIR DAN KEHIDUPAN

Alun-alun Malang Tempo Doeloe

Pohon Beringin di Alun-alun Malang “Tempo Doeloe” – *)

Munculnya Mata Air

Syekhfani

Air, kebutuhan hidup ke-2 setelah udara.

Sekitar 95 persen tubuh terdiri dari air.

Manusia hanya bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa minum air.

Saat puasa, bila waktu magrib tiba, umumnya orang mendahulukan minum air.

Air di alam berada dalam bentuk siklus: uap, udara, hujan infiltrasi tanaman, dalam atmosfer, hidrosfer, biosfer dan lithosfer.

Konservasi air dapat dilakukan secara alami maupun oleh manusia.

Mata air terbentuk karena zona perakaran tanaman (rhizosfer) menahan air dan saving terjadi setelah evapo-transpirasi minimum.

Rhizosfer, tajuk dan tanah tempat pohon beringin tumbuh menahan air, sehingga di situ seringkali muncul “mata air”.

Pohon beringin yang rindang dengan udara yang sejuk di bawah kanopi menjadikan pohon beringin tempat berteduh yang nyaman selain bisa jadi menjadi sumber mata air.

*) Referensi: Olivier Johannes Raap, 2015. Kota di Jawa Tempo Doeloe. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta.

*****

02 DecPanorama

Lembah-Gunung

HIJAUNYA LEMBAH – BIRUNYA GUNUNG

Proyeksi Alam

Syekhfani

Dikala Musim Hujan

Akhir tahun, Desember 2016

Suatu keindahan lingkungan alam

Di sekitar rumahku..

Diiringi krik-krik suara jengkrik

Desah air dan angin lembah

Terekamlah proyeksi mikro panorama

Gunung Arjuna, biru nan megah

Berlatar depan gedung-gedung nan kokoh

Dan lahan petani

Pak Tani dan Bu Tani sedang aktif bekerja

Memproduksi pangan bergizi…

Lihat: //youtu.be/G5vQtxDSnnA

Video Hijaunya Lembah, Birunya Gunung!

Ooo.. Betapa Indahnya!

03 JunPeat Soil

IN THE MIDLE BORNEO (CENTRAL KALIMANTAN)

Peat Ecosystem

Posted by: Syekhfani

Problem clearing of peatland in the midle Borneo, recently discussed rampant, especially during the dry season (El Niño effect).

Peat land clearance by burning system, bringing the smoke effect that harm our health and navigation systems.

How peatland ecosystem of the middle Borneo region, which is known as the region has the largest peatland area in Indonesia (namely: “Million hectares peat”), are shown below:

1a. Flooding area

1a. Flooding area (river side)

1b. Submerged area

1b. Submerged area

1c. Vegetation

1c. Vegetation

1d. Rainy forest

1d. Rainy forest

2a. Burning area

2a. Burning area

2b. Fire team

2b. Fire guard team

2c. View after burn (2)

2c. View after burn

2d. Smoke condition after burn

2d. Smoke condition after burn

2e. Orang Utan

2e. Urang Utan

3a. Ratan yield

3a. Rattan yield

3b. Fruit (Annanas)

3b. Fruit (Annanas)

3c. Vegetable (Caladium)

3c. Vegetable (Caladium)

3d. Flower (Wild Orchid)

3d. Flower (Wild Orchid)

Source images: Download from Google.com (3th June 2016)

Also see: Farmyard cultivation by people http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/03/26/budidaya-pertanian-lahan-gambut/

02 MayVirgin Forest

TROPICAL RAIN FOREST IN BATU MALANG

Siklus Hara Tertutup

(Close Nutrient Recycling)

Syekhfani

Baru saja penulis pergi ke Sumber Kali Berantas, melihat secara langsung kondisi hutan lindung (Arboretum), yang masih berupa hutan perawan (virgin soil).

Hutan primer ini, mempunyai stratifikasi pohon, semak dan rerumputan yang memenuhi lantai hutan.

Di bawah vegetasi hutan perawan (virgin forest) ini, sedikit sekali penetrasi sinar matahari, sehingga di situ terasa sejuk (dingin dan lembab).

Di lantai hutan, ketebalan seresah (litter) mencapai 5 hingga 10 cm atau lebih, menurut kondisi kelerengan.

Seresah mudah sekali hancur dan bila diremas terasa mengandung air cukup tinggi.

Akan tetapi bila contoh seresah dibawa ke luar kawasan hutan, maka akan segera menjadi kering.

Berikut rekaman foto menggambarkan kondisi hutan perawan (virgin soil) tersebut.

1

2

3

Kondisi hutan perawan (virgin forest) bersifat siklus hara tertutup (close nutrient recycling).

Tidak ada unsur hara hilang melalui pencucian (leaching) atau penguapan (volatile).

Bahkan ada masukan dari debu dan fiksasi N dari udara dan pelapukan batuan induk dari horizon bawah.

Tropical rain forest in Batu Malang classified as primary forest.

17 SepView Effect of El-Nino 2015

PANORAMA DI SEKITAR RUMAH TINGGAL

Kondisi Kecukupan vs Kekurangan Air

Syekhfani

Efek El-Nino?

Rekaman kamera terhadap kondisi kehidupan di sekitar rumah huni penulis, memberikan gambaran bagaimana efek El-Nino skala mikro saat ini.

Tanaman di sekitar rumah yang setiap hari mendapat asupan air dari penyiram, menunjukkan kondisi pertumbuhan yang luar biasa.

Sebaliknya, lingkungan di seputar rumah, menunjukkan pemandangan gersang, bahkan rerumputan sama sekali tidak dapat tumbuh.

Hanya vegetasi pohon yang bertahan, meski kondisinya menunjukkan kendala kekurangan air.

Berikut rekaman videonya:

https://www.youtube.com/watch?v=c2A1S_eDgZE

06 SepPelihara Ikan Koi

Koi Kuning

DI HALAMAN BELAKANG RUMAH HUNI

Dibesarkan Selama 8 Tahun

Syekhfani

Hobi penulis memelihara binatang bermacam ragam, ada burung kakaktua (“KAKAK”)https://www.youtube.com/watch?v=SN9fWIvY7Z8, kura-kura (“KURA”)//syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/05/25/kura-kura-turtle/, dan ikan koi (“KOI”).

Jenis terakhir ini, adalah ikan koi, di pelihara dalam kolam sempit di halaman belakang; tampaknya seperti saluran air yang dibuat mengalir (artificial).

Bahan kolam terdiri dari batu bulat, disusun membentuk pematang sempit, dilengkapi dengan mesin sirkulasi listrik, terjunan, pancaran dan saluran irigasi serta drainase dari pipa paralon.

Pemeliharaan meliputi: menyaring (filtering) kotoran (kasa busa dan kapas lempengan), pakan koi dan penggantian air setiap dua minggu.

Berikut rekaman perilaku (performance) ikan koi setelah berumur 8 tahun (ukuran: panjang 0.8 meter, lebar 0.3 meter, berat 4 kilogram):

https://www.youtube.com/watch?v=DRlghvKKYzE&feature=youtu.be

20 JulDaur Ulang Lumpur Laut

Krauskopf

AMELIORASI KESUBURAN TANAH

Syekhfani

Proses Aluviasi dan Koluviasi lahan bereaksi masam berumur lanjut (Ultisol), melarutkan dan membawa unsur-unsur basa lemah (Al, Fe, Mn) melalui proses erosi dan/atau pencucian (leaching).

Apabila materi aluvial/koluvial akhirnya mengendap di laut, maka endapan lumpur laut mengandung unsur basa-basa lemah Al, Fe, dan Mn bercampur dengan basa-basa kuat Na, Ca, Mg, dll. Yang terkandung dalam laut.

Unsur basa lemah (dan kombinasinya dengan senyawa asam lemah) menghasilkan senyawa yang bersifat “buffer” (penyangga), mempunyai muatan ion tergantung pH (pH dependence charge), positif (+) pada pH rendah (reaksi masam) dan negatif (-) pada pH tinggi (reaksi basik).

Senyawa “buffer” meningkatkan kapasitas angkut (carrying capacity) unsur hara sehingga dapat meningkatkan kemampuan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Dengan demikian, pemanfaatan lumpur laut dari endapan ferralisasi/silikasi berpeluang dalam upaya ameliorasi lahan marginal masam (Ultisol).

Dengan kata lain, dapat mengubah lahan vegetasi alang-alang menjadilahan budidaya tanaman pertanian.

Lumpur laut, bertindak sebagai amelioran perbaikan komponen sifat fisik dan kimia (fisiko-kimia) tanah.

Dalam air laut terkandung sumber unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman.

Tabel berikut merupakan senyawa utama terkandung dalam air laut (Krauskopf, 197)*:

Table 1. Principal dissolved substances in sea water

Substance Part per million Percent of total salt

Cl- 18.800 35.05

Na+ 10.770 30.61

SO42- 2.715 7.68

Mg2+ 1.290 3.69

Ca2+ 412 1.16

K+ 380 1.10

HCO3- 140 0.41

Br- 67 0.19

H3BO3 26 0.07

Sr2+ 8 0.03

Butuh Komponen Biologi:

Potensi Lumpur laut dalam ameliorasi sifat fisiko-kimia tersebut perlu dibantu oleh amelioran sifat biologi tanah.

Dalam praktek pertanian, amelioran sifat biologi adalah pupuk kandang, yang kaya akan mikroorganisme penyubur tanah.

→ Lihat: Francina Matulessy (Universitas Patimura. Ambon): Disertasi Doktor, Program Pasca Sarjana, Fakultas Pertanian Brawijaya – Malang – 2015.

*Krauskopf, K. B. 1979. Introduction to Geochemistry (Int. Student Edition). McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo. p: 263 (617p.).

27 JunTropical Rainforest (CEF)

Posted by: CEF-CONCERVE ENERGY FUTURE

Tropical-Rainforest

Rainforest is described as tall, hot and dense forest near the equator and is believed to be the oldest living ecosystems on Earth which gets maximum amount of rainfall. If you don’t know too much about tropical rainforests, then you will probably be surprised to find that there are a few little known facts out there about them.

This type of habitat is very different, in comparison to many of the other habitats that you are used to being around. Here you will find some important facts about the tropical rainforest that you may not have known previously.

Below are 35 facts on Tropical Rainforests:

Fact 1: Rainforests only cover around 2 percent the total surface area of the Earth, but really about 50 percent of the plants and animals on the earth live in the rainforest.

Fact 2: Rainforests are the forests that receive high amount of rainfall.

Fact 3: You can find rainforests in many countries, not just in South America. They can be found in Alaska and Canada, as well as Asia, Africa and Latin America.

Fact 4: Rainforests are found on all of the different continents, except for Antarctica because it is far too cold there for the environment to be conducive.

Fact 5: There are two different types of rainforests, and they include both temperate and tropical. The tropical rainforests are the ones that are most commonly found around the world.

Fact 6: Rainforests help to regulate the temperatures around the world and the weather patterns as well.

Fact 7: A fifth of our fresh water is found in tropical rainforests, the Amazon Basin to be exact.

Fact 8: Rainforests help to maintain our supply of drinking water and fresh water, so they are critical in the sustainability of the earth.

Fact 9: About 1/4 of natural medicines have been discovered in rainforests.

Fact 10: Within four square miles of tropical rainforest, you will find 1500 flowering plant species, 750 types of trees, and many of these plants can be helpful in combating cancer.

Fact 11: 70% or more of the plants that are used to treat cancer are found only in the tropical rainforests on the planet.

Fact 12: Over 2000 types of plants that you find in the rainforest can be used to help aide in cancer treatment because they have anti cancer properties.

Fact 13: The Amazon rainforest is the largest tropical rainforest in the world.

Fact 14: Less than one percent of the species of plants in the tropical rainforests have actually been analyzed to determine their value in the world of medicine.

Fact 15: Rainforests are threatened each and every day, especially by practices such as agriculture, ranching, logging and mining.

Fact 16: There were around 6 million square miles of rainforest in the beginning, but now because of deforestation, there are really only less than half of that still found in the world.

Fact 17: If the rainforests continue to decline in the way that they have been, then about 5-10 percent of their species will go extinct every ten years.

Fact 18: 90% of the worlds forests are in the underdeveloped or developed countries around the world.

Fact 19: Every second there is part of the rainforest that is cut down. In fact, you probably lose over 80,000 football fields worth of rainforest each and every day.

Fact 20: There are a lot of different types of animals that can be found in the rainforest, and most of them cannot live anywhere else because they depend on the environment of the rainforest for their most basic needs.

Fact 21: About 90% of 1.2 billion people living in poverty worldwide depend on rainforests for their daily needs.

Fact 22: A lot of the oxygen supply that we have throughout the world is supplied by the tropical rainforests, even though they are miles and miles away. This may come as a shock to some people.

Fact 23: The average temperature of the tropical rainforest remains between 70 and 85° F.

Fact 24: Timber, coffee, cocoa and many medicinal products are few of the products produced by rainforests, including those used in the treatment of cancer.

Fact 25: Rainforests are constantly being destroyed by multinational logging companies, land owners and state government to make way for new colonies, industrial units.

Fact 26: Trees in tropical rainforests are so dense that it takes approximately 10 minutes for the rainfall to reach the ground from canopy.

Fact 27: About 80% of the flowers found in Australian rainforests are not found anywhere in world.

Fact 28: More than 56,000 square miles of natural forest are lost each year.

Fact 29: Insects make up the majority of living creatures in the tropical rainforest.

Fact 30: Due to large scale deforestation worldwide, only 2.6 million square miles remain.

Fact 31: A slice of rainforest, approximately equivalent to size of rainforest is destroyed each second which is equivalent to 86,400 football fields of rainforest each day which is equal to 31 million football fields of rainforest each year.

Fact 32: Variety of animals including snakes, frogs, birds, insects, cougars, chameleons, turtles, jaguars and many more are found in tropical rainforests.

Fact 33: At the current rate of depletion, it is estimated that 5–10 percent of tropical rainforest species will be lost per decade.

Fact 34: Most of the tropical rainforests, approximately 57 percent, are located in developing countries.

Fact 35: About 70% of the plants identified by the U.S. National Cancer Institute which can be used in the treatment of cancer are found only in rainforests.

How much money can a solar roof save you in Indonesia?

Roof Space

Profit from your roof space: find local deals on solar in your area, eliminate your power bill, and join the solar revolution.

http://www.conserve-energy-future.com/various-tropical-rainforest-facts.php

Supplement:
In Indonesia known phrase: “Ijo Royo Royo, Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerta Raharja, Emerald of Equator” (Syekhfani)

05 JunAnniversary

HAPPY WORLD ENVIRONMENT DAY

Posted by: Syekhfani Mohamad Harun

happy world environmental day

These words are for myself:

1. Reduce my energy consumption

2. Save water

3. Plant a tree every year

4. Cycle or walk short distance

5. Use renewable energy resources

6. Carry my own bag when I shop

7. Recycle items I currently throw away but could recycle

8. Use recycled or waste paper for my printer at home

9. Turn off light/computer monitor when I leave a room

10. Always concider alternatives to flying for work travel

11. Buy local seasonal produce where possible

12. Grow my own vegetables, greens or fruits next spring

09 MayZona Arid

MASALAH UTAMA – AIR

Diposkan: Syekhfani

Sangat menarik foto “Tanah Subur” dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, ditayangkan SCTV-Liputan6.com Jakarta (09 Mei 2015 pkl 10:56 WIB), berikut ini:

Sawah Subur (Sumba-Liputan 6

Komentar:

Daerah Sumba di Nusa Tenggara Timur adalah salah satu pulau paling selatan Indonesia. Wilayah ini punya musim hujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang.

Karena beriklim kering, daerah ini dulu dikenal tandus dan rawan pangan.

Meski bukan daerah subur, hampir separuh penduduk Sumba berprofesi sebagai petani. Mengandalkan pupuk untuk membuat tanah gembur.

Tapi cuaca buruk di laut berarti suplai pupuk terhenti. Beberapa pihak mulai mengubah keadaan. Di Kecamatan Lewa, Sumba Timur, yang merupakan lumbung pangan sejak era kolonial warga mulai cerdas bertani.

Pertanian organik dan SRI (System of Rice Intensification) mulai dikenalkan di sini. Dimulai dari satu hektar milik seorang petani bernama Katauchi Papu. Akhirnya, Lewa, kini tetap menjadi Lumbung pangan di Sumba NTT (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sumba_Timur).

(SCTV – Liputan 6.com)

Dari Gambar di atas tampak bahwa, pada kondisi air bermasalah, petani membuat kolam penampung air di bagian puncak.

Air ditampung pada saat hujan turun dan suplai air untuk pertanaman di bagian lereng bawah tejadi melalui rembesan (seapage) atau pun perkolasi.

Di samping itu, petani juga menggunakan mulsa sisa tanaman dan sistem tanaman menutupi tanah (covered cropping System).

Pada zona arid, manajemen efisiensi penggunaan air (efficiency use of water) adalah sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman pertanian.

Tambahan:

Ada kesenian tradisional Sumba Timur yang terkenal pada zaman Hindia Belanda: Pertunjukan Gramofon di Lewa Paku

Pertunjukan Gramofon

20 AprBambu (Bamboo)

TANAMAN GLOBAL SERBAGUNA

Populer se Manca Negara

Postingan: Syekhfani

Bambu (Bamboo)Poaceae (Bambuseae Kunth ex Dumort), adalah tanaman jenis rumput-rumputan (Gramineae) dengan rongga dan ruas di batangnya.

Bambu (bamboo), memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru.

Bambu (bamboo) dalam devisi botani termasuk jenis rumput-rumputan (Gramineae) tidak kurang dari 10,000 spesies dan 1000 sub-familiy (Kingsbrury, Noẽl, 2000).

Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 inci) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan iklim tempat ia tumbuh.

Bambu (bamboo) termasuk dalam keluarga rumput-rumputan, yang dapat menjadi penjelasan mengapa bambu memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Hal ini berarti bahwa ketika bambu dipanen, bambu akan tumbuh kembali dengan cepat tanpa mengganggu ekosistem.

Tidak seperti pohon, batang bambu muncul dari permukaan dengan diameter penuh dan tumbuh hingga mencapai tinggi maksimum dalam satu musim tumbuh (sekitar 3 sampai 4 bulan).

Selama beberapa bulan tersebut, setiap tunas yang muncul akan tumbuh vertikal tanpa menumbuhkan cabang hingga usia kematangan dicapai. Lalu, cabang tumbuh dari node dan daun muncul.

Pada tahun berikutnya, dinding batang yang mengandung pulp akan mengeras. Pada tahun ketiga, batang semakin mengeras. Hingga tahun ke lima, jamur dapat tumbuh di bagian luar batang dan menembus hingga ke dalam dan membusukkan batang.

Hingga tahun ke delapan (tergantung pada spesies), pertumbuhan jamur akan menyebabkan batang bambu membusuk dna runtuh.

Hal ini menunjukkan bahwa bambu paling tepat dipanen ketika berusia antara tiga hingga tujuh tahun.

Bambu tidak akan bertambah tinggi atau membesar batangnya setelah tahun pertama, dan bambu yang telah runtuh atau dipanen tidak akan digantikan oleh tunas bambu baru di tempat ia pernah tumbuh.

Meski tunas bambu mengandung toksin taxiphyllin, senyawa glikosida sianogenik, yang mampu menghasilkan sianida di dalam lambung, pemrosesan yang sesuai akan menjadikan tunas bambu bisa dimakan.

Berbagai masakan Asia menggunakan tunas bambu, dan tunas bambu dijual dalam bentuk segar maupun kalengan.

Tunas bambu dalam kondisi terfermentasi adalah bahan utama dalam berbagai kuliner di Himalaya.

Di India disebut khorisa. Di Nepal, tunas bambu difermentasikan dengan kunyit dan minyak sayur, lalu dimasak dengan kentang menjadi masakan yang dimakan bersama nasi (alu tama, Bahasa Nepal).

Di Indonesia, tunas bambu dipotong tipis-tipis dan direbus bersama santan dan rempah-rempah untuk membuat gulai rebung.

Resep lain yang memanfaatkan tunas bambu yaitu sayur lodeh dan lumpia. Tunas bambu yang telah diiris dicuci bersih dan/atau direbus sebelum dimakan untuk menghilangkan toksin.

Acar tunas bambu digunakan sebagai pelengkap makanan, bisa juga dibuat dari inti batang bambu muda (pith).

Getah dari batang bambu muda disadap ketika musim hujan untuk menghasilkan minuman beralkohol. Daun bambu bisa dipakai sebagai pembungkus makanan ringan.

Bagian dalam batang bambu tua biasanya digunakan sebagai alat memasak di banyak budaya Asia.

Sup dan beras yang dimasak di dalam batang bambu dipaparkan ke api hingga matang. Memasak di dalam batang bambu dipercaya menghasilkan rasa yang berbeda.

Bambu juga digunakan untuk membuat sumpit dan alat memasak lainnya seperti spatula.

Bambu merupakan bahan baku dari berbagai peralatan rumah tangga yang utama sebelum datangnya era peralatan rumah tangga dari plastik.

Bakul nasi, tampah, bubu/perangkap ikan, tempat kue (besek), topi bambu (caping) adalah contoh dari beberapa peralatan yang terbuat dari bambu.

Lihat:http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu

1. Hutan Bambu (Indonesia)

1. Hutan Bambu (Indonesia)

2. Hutan Bambu (Jepang)

2. Hutan Bambu (Jepang)

3. Hutan Bambu(Cina)

3. Hutan Bambu(Cina)

4. Hutan Bambu (Taiwan)

4. Hutan Bambu (Taiwan)

5. Bambu Gading

5. Bambu Gading

6. Batang

6. Batang

7. Rumpun

7. Rumpun

8. Trubus

8. Trubus

9 Kelopak

9. Kelopak

10. Ranting

10. Ranting

11. Mata Ruas

11. Tunas Ruas

12. Daun

12. Daun

13. Bunga

13. Bunga

Lihat Buku:

21. Buku

Kingsbrury, Noẽl. 2000. Grasses and Bamboos – Using Form and Shape to Create Visual Impact in the Garden. With photoghraphy by Andrea Jones, consultant Paul Whittaker. Periplus Editions (HK), Ltd. 111p.

TAMBAHAN: permainan tradisional Flores “Tektek Alu”, menggunakan batang bambu sebagai alat bermain.

Tektek Alu - Flores

Biasanya, tari Tektek Alu ditarikan ketika malam bulan purnama oleh lelaki dan perempuan yang mencari pasangan atau jodoh.

Tektek Alu serupa permainan lompat alu. Batang-batang bambu yang dipegang di masing-masing ujungnya dibentuk menjadi rangkaian persegi sejengkal di atas tanah. Para penari mesti melompat bambu bambu tersebut sesuai irama, tanpa terjerambab.

Lihat pula: → https://www.youtube.com/watch?v=U_YOhfSB6FI

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

09 FebAgroekologi Tanaman Pala

S

SISTEM SEMI ALAMI

Pendekatan Sistem

Syekhfani

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt), tergolong tanaman rempah (spices), telah terkenal sejak jaman Portugis (Marco Polo), yang pada abad ke-19 berlayar ke Hindia (Indonesia) untuk mencari rempah-rempah (cengkeh, pala).

Agroekosistem tanaman pala yang telah bertahan berabad-abad tersebut, secara umum telah banyak dipelajari, namun sifat perilakunya secara spesifik belum banyak dipahami.

Berikut, dikemukakan pendekatan sistem dari umum hingga lebih spesifik, disesuaikan dengan fakta lapangan saat ini.

Diharapkan, pendekatan sistem ini dapat membantu dalam memahami dinamika sistem pertanaman pala.

Sistim Alami (natural system)

Sistem alami (natural system) di zone iklim hujan tropika basah (tropical rain forest), yaitu matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun, mendukung produksi biomas berlimpah.

Sebaliknya, kelembaban dan suhu tinggi, mendorong tingkat dekomposisi sisa bahan organik di lantai hutan berlangsung cepat, sehingga tampak adanya dukungan “semu”.

Terbukti saat hutan tropika basah di buka untuk lahan budidaya, maka dalam kurun dua hingga tiga musim tanam, produktivitas secara drastik menurun (ingat kasus: sistem ladang berpindah, shifting cultivation).

Biomas tajuk dan sistem perakaran intensif menyebabkan terjadi sistem keseimbangan unsur hara yang disebut “close nutrients recycling” (sistem daur hara tertutup).

Pada sistem ini, tidak ada unsur hara yang hilang karena tidak ada aliran permukaan (runoff), erosi dan pencucian (leaching) ke lapisan bawah tanah (ground water); dalam hal ini tajuk bersifat sebagai pompa unsur hara melalui akar.

Tambahan unsur hara melalui hujan, fiksasi N atmosferik dan pelapukan batuan induk; mendukung suksesi hutan belantara (tropical rain forest).

Agroforestry (Wanatani) – Agroekosistem Tanaman Pala

Meskipun tampaknya stabil, namun budidaya tanaman pala tergolong ekosistem hutan buatan manusia (man made forest). Sehingga, diperlukan manajemen kebun yang baik agar dapat menjamin produktivitas tinggi dan berkelanjutan.

Pendekatan sistem daur hara tertutup di bawah lantai hutan pala, dapat dipelajari melalui dinamika: rasio C/N, KTK, dan unsur hara NPK sebagai parameter.

Nilai C/N, menunjukkan tingkat laju dekomposisi seresah di lantai hutan,

Nilai KTK, dapat dijadikan parameter kemapuan tanah dalam membufer unsur hara.

Nilai pH, merupakan parameter perubahan reaksi tanah yang dipengaruhi derajat dekomposisi, dan sangat berpengaruh terhadap sifat kesuburan tanah aktual.

Status Unsur NPK, yang merupakan unsur hara makro tanaman, adalah kunci produktivitas tanaman, dalam kaitannya dengan reaksi fotosintesis, yaitu komponen senyawa khlorofil (N, Mg), sumber energi metabolik (P), dan trasportasi fotosintat (K).

Dinamika pertumbuhan tanaman pala tersebut hendaknya didekati dengan sistem terpadu, sebagai fungsi pertumbuhan (Y): Y = f (X), di mana Y= komponen produktivitas tanaman, dan X = komponen produktivitas tanah.

Lihat:http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/09/19/soil-buah-pala/

30 SepHidup di Tepi Pantai

MINUM AIR LAUT

Kelapa, Ketapang, Waru Laut

Syekhfani

Ada pemeo lingkungan hidup: tanaman kelapa, “Minum Air Laut”, tanaman cengkeh, “Si Tinjau Laut”.

Pemeo ini berkaitan dengan fakta, bahwa tanaman kelapa di tepi pantai dan tananan cengkeh di lereng menghadap laut; pertumbuhan, produksi, bahkan kualitasnya lebih baik.

Dalam ilmu nutrisi tanaman, disebutkan bahwa tanaman kelapa (famili: Palmae), membutuhkan unsur natrium (Na) sebagai “Hara Fungsional”.

Sedang tanaman cengkeh, diduga sangat dipengaruhi unsur mikro khlorida (Cl) sebagai pemicu pertumbuhan, produksi, dan kualitas bunga cengkeh.

Kemampuan jenis tanaman tumbuh pada lokasi “spesifik” ini merupakan peluang potensial dalam pengembangannya.

Tumbuhan Toleran Garam:

Tumbuhan yang mampu tumbuh dengan baik di tepi pantai menunjukkan bahwa tanaman tersebut bersifat “toleran” terhadap tanah salin, tergolong tanaman “Saline-phylic” (cinta salinitas).

Berberapa di antaranya yang dijumpai di tepi pantai taman rekreasi “Tamban”, berlatar belakang pulau “Sempu” (Sendangbiru, Sitiharjo, Jawa Timur) antara lain:

1. Kelapa > http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa

2. Ketapang > http://id.wikipedia.org/wiki/Ketapang

3. Waru Laut > http://id.wikipedia.org/wiki/Waru_laut

Panorama Pantai Tamban

Pohon kelapa dan ketapang tumbuh baik dengan tajuk cukup rimbun, membuat sejuk para pengunjung duduk santai sambil menikmati panorama indah pemandangan laut selatan (Samudera Hindia).

09 AugZona Riparian

Zona Riparian

MANFAAT ZONA RIPARIAN

Syekhfani

Zona riparian (http://en.wikipedia.org/wiki/Riparian_zone), yaitu zona lahan yang berada di sepanjang aliran sungai (tepi sungai dan tebing sungai), di mana sistem perakaran tumbuhan semak belukar berinteraksi dengan tinggi permukaan air (water table) dan memungkinkan pertumbuhan biomas selalu kecukupan air sepanjang tahun.

Spesies tanaman yang tumbuh di daerah riparian tergolong tanaman “hidrofilik” (http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-flora-daerah-aliran-sungai-das/), menyesuaikan diri (adapted) dengan kondisi basah, tergenang dan banjir; pertumbuhan kembali (regrowth) sistem akar dalam deposit sedimen tanah tererosi terjadi berlangsung dengan baik.

Secara ekologis, zona riparian penting dalam menentukan kesehatan lingkungan.

Selain itu, zona riparian mendukung stabilitas tebing sepanjang aliran sungai, bufer/penyangga air dan pengendali banjir.

Terakhir, zona riparian bermanfaat dari segi estetika, tempat rekreasi serta habitat satwa liar.

Oleh sebab itu, manajemen zona Riparian sangat penting dilakukan dengan baik mengikuti kaedah-kaedah konservasi lahan dan air.

Jagalah Keindahan dan Kelestarian serta Manfaat Zona Riparian!

Lihat: → Riparian Farm Management

11 MayKapan Keluar Gas Perusak Ozon?

TERBENTUKNYA GAS CO2↑ DAN CH4↑

Syekhfani

Pada postingan terdahulu: lihat → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/03/potensi-oksidasi-reduksi-eh/
Gas karbon-dioksida (karbon-monooksida) – CO2 (CO), terbentuk bila bahan organik (CHO)n mengalami oksidasi (terbakar, dibakar).

Reaksinya:
(CHO)n + O2↑ → (n-1)CO↑ + (n-1)H2↑ → (n-2)CO2↑ + (n-2)H2↑
Gas CO2↑, (CO↑) dan H2↑ tidak akan terbentuk bila sisa bahan organik (sampah, waste product) tidak terbakar atau sengaja dibakar.

Tindakan pembakaran sampah (disengaja), secara langsung merugikan, karena: membantu pemanasan global (global warming) dan menghilangkan sumber pupuk organik (bahan baku kompos).

Gas CH4↑ (methan) mulai terbentuk bila gas CO2↑ (CO↑) tereduksi, yaitu pada Eh ≥ 0.17 mV.
Reaksinya:

Capture

Oleh sebab itu, gas perusak lapisan ozon (methan) hanya akan terbentuk pada kondisi permukaan tanah sangat reduktif, tergenang (submerged) dalam jangka lama seperti halnya rawa, kolam, bendungan, atau air cekungan. Sedang pada kawasan yang mengalami penggenangan dan pengeringan silih berganti (alternate) seperti pada sistem bididaya padi sawah, kondisi reduktif hingga menghasilkan gas CH4 relatif sulit untuk dicapai. Apalagi pada sistem padi sawah di mana air irigasi terbatas dan memerlukan manajemen ketat agar lahan sawah kecukupan air saat pertanaman.

Di Indonesia, lahan sawah tidak tergolong sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lapisan ozon (global warming). Lihat Gambar:

08 MayPemanasan Global

PEMANASAN GLOBAL OLEH MANUSIA

Posting: pemanasanglobal.blogspot.com

Mungkin saja kita sebagai manusia yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global, pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan selama ini secara tidak kita sadari malah berdampak buruk terhadap global warming. Untuk itu, sudah seharusnya kita mengetahui beberapa penyebab global warming yang bisa dilakukan oleh manusia:

• Pemborosan Energi Listrik, salah satu faktor yang menyebabkan bumi ini semakin panas adalah penggunaan energi listrik yang berlebihan. Kadang kita secara tidak sadar menggunakan energi listrik dengan boros (misalnya menyalakan lampu terus menerus, televisi terus menyala padahal tidak ditonton). Hal tersebut tidak baik karena energi listrik yang kita gunakan bersumberkan dari minyak bumi dan batubara dimana proses pembakarannya juga menghasilkan karbon dioksida yang bisa menyebabkan global warming.

• Penggunaan AC dan Kulkas Secara Berlebihan, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa AC dan Kulkas yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari mengandung zak kimi yang bernama CFC (ChloroFlouroCarbons). Senyawa CFC ini dapat melayang ke atmosfir bumi dan merusak lapisan ozon. Tentu hal ini merupakan berita yang tidak baik karena dapat merugikan kita. Sinar matahari yang tidak “difilter” terlebih dahulu akan terasa lebih panas, selain itu hal ini juga bisa menyebabkan efek samping seperti penyakit kulit.

• Lebih Senang Menggunakan Kendaraan Bermotor, Dewasa ini orang tentu memilih untuk menggunakan sesuatu (teknologi) agar mempermudah urusan mereka, termasuk menggunakan kendaraan bermotor. Akan tetapi seharusnya kita bisa bijak menggunakan kendaraan bermotor, jangan sampai untuk bepergian yang jaraknya dekat (seperti minimart depan komplek) kita tetap menggunakan kendaraan bermotor. Pilihlah alternatif-alternatif lain yang lebih “Go Green” seperti berjalan kaki ataupun bersepeda.

• Penggunaan Gadget Secara Berlebihan, Saat ini memang manusia tidak bisa lepas dari gadget (komputer, laptop, handphone, dan lain-lain). Tidak salah memang jika kita menggunakan gadget untuk mempermudah pekerjaan kita, akan tetapi sebaiknya kita menggunakan gadget-gadget tersebut secara wajar. Menggunakan gadget secara wajar berarti kita turut mendukung program penghematan listrik yang dicanangkan Pemerintah saat ini. Menghemat listrik berarti kita berusaha untuk mengantisipasi agar global warming tidak semakin parah.

• Membakar Sampah, tahukah anda kalau membakar sampah menjadi penyebab pemanasan global? Ini adalah sebuah kenyataan dan banyak orang yang tidak menyadari akan hal tersebut. Sampah yang terbakar berupa gas karbon dioksida akan melayang keudara dan menumpuk di atmosfir bumi. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk karena dapat menyebabkan efek rumah kaca. Gas karbon dioksida tersebut berkumpul dengan gas-gas lainnya seperti karbon monooksida, sulfur dioksida, dan uap air yang menjadi perangkap gelombang radiasi sinar matahari.

• Menyisakan Makanan, mungkin ini tidak anda ketahui sebelumnya, tapi faktanya adalah benar bahwa menyisakan makanan secara tidak langsung berimplikasi terhadap pemanasan global yang lebih parah. Makanan-makanan yang disisakan (makanan sisa) seperti nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan sayur-sayuran akan mengalami dekomposisi anaerobik di mana proses tersebut akan menghasilkan gas metana. Sudah kita ketahui bersama bahwa gas metana merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/

Gambar Global Warming 1

Gambar diatas menunjukan proses terjadinya efek rumah kaca yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Intinya adalah sinar matahari yang memantul dari permukaan bumi terperangkap di atmosfer karena menumpuknya gas efek rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, sulfur dioksida, dan uap air.

Gambar Global Warming 2

Gambar diatas adalah sebuah artikel mengenai sumber pemanasan global di Indonesia. Dan ternyata Indonesia juga menjadi salah satu negara kontributor terjadinya pemanasan global karena kerusakan dan penggundulan hutan, eksplorasi sumber daya alam, dan juga emisi gas karbon dioksida dari industri dan kendaraan bermotor.

Gambar Global Warming 3

Gambar di atas diambil oleh seseorang didaerah Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat. Pada gambar tersebut kita bisa melihat bongkahan salju yang mencair dan jatuh, hal tersebut merupakan imbas dari pemanasan global saat ini. Perlu anda ketahui bahwa global warming menghancurkan banyak glacier diwilayah Alaska.

Gambar Global Warming 4

Gambar tersebut menunjukan seekor beruang kutub yang sedang berjalan diatas salju. Global warming menyebabkan mahluk hidup terancam punah, bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa 50-100 tahun mendatang satu juta spesies mahluk hidup akan punah karena pemanasan global. Untuk itu, mari kita bersama mengantisipasi global warming.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/2013/10/kumpulan-gambar-global-warming.html

25 JanTanaman Hias Filter Udara


Tanaman Hias Filter Udara

(NASA)

Jika tanaman cukup baik dalam menyaring udara di stasiun ruang angkasa, pasti juga cukup baik untuk rumah Anda.

 

Michael Graham Richard

Fri, Nov 30, 2012 at 10:51

 main_plants

Memiliki kualitas udara yang baik dalam ruangan sangat penting, terutama karena kita menghabiskan begitu banyak waktu di dalamnya.  NASA melakukan studi untuk mengetahui tanaman filter udara terbaik di stasiun ruang angkasa, dan temuan tersebut tersedia untuk kita semua.

Berikut tanaman hias filter udara terbaik (tidak hanya memproduksi oksigen dari CO2, tetapi juga menyerap benzena, formaldehida dan/atau trichloroethylene).

 

 plants_2

Anda juga mengetahui tanaman filter terbaik untuk formaldehida, xylene, dan toluene.

 plants_3

Comosum Chlorophytum, juga dikenal sebagai tanaman laba-laba.

Sumber foto: Wikipedia

Best-air-filtering-houseplants-according-to-nasa

 

22 JanKELEMBABAN TANAH DAN PEMANASAN GLOBAL

 

EurekAlert!

 

Tim Teknik Kolumbia:  Membuat Langkah Besar dalam Perkiraan Cuaca Ekstem

(Banjir dan Kekeringan)

 

 

New York — June 5, 2011 — Kelembaban dan fluktuasi panas  permukaan tanah ke atmosfer membentuk suatu hubungan krtitis antara hidrologi permukaan dan proses atmosferik, khususnya berkenaan dengan curah hujan.  Sementara teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, telah  dilaporkan secara luas.  Tim peneliti dari Columbia Engineering, Geophysical Fluid Dynamics Laboratory, dan Rutgers University telah mendemonstrasikan bahwa penguapan permukaan tanah mampu merubah curah hujan musim panas sebelah utara Mississippi daerah iklim monsonal AS selatan dan Meksiko.  Salah satu temuan utama mereka adalah bahwa penguapan permukaan tanah, bagaimanapun, hanya dapat memodifikasi frekuensi curah hujan musim panas, tidak terhadap jumlah hujan, hidrologi dan proses atmosferik, khususnya berhubungan dengan curah hujan.  Sedangkan teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, yang telah sangat sering diteliti secara luas.

Para peneliti menggunakan data dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) untuk mengukur dampak penguapan daratan terhadap frekuensi dan intensitas curah hujan musim panas di Amerika Utara. Mereka menemukan bahwa penguapan yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan sore di bagian timur Mississippi dan Meksiko, sementara tidak berpengaruh terhadap curah hujan di AS barat.  Perbedaan ini disebabkan kelembaban di atmosfer. Cuaca di atas wilayah barat begitu kering tidak terpengaruh oleh penguapan dari permukaan, tambahan sumber hujan tidak akan memicu hujan karena segera hilang ke atmosfer.  Cuaca di atas wilayah timur cukup basah sehingga kelembaban ditambah penguapan permukaan membuat terjadi hujan.

“Bila bagian timur benar-benar menjadi basah”, ungkap Gentine, “selanjutnya permukaan akan memicu lebih banyak hujan sehingga menjadi lebih lembab, dan ini membuat lingkaran setan terjadi banjir dan kekeringan.  Alam – yaitu vegetasi permukaan tanah – tidak dapat mngendalikan proses hujan di bagian barat, sebaliknya bagian timur dan selatan.  Kenyataan ini sanbgat penting dimengerti dalam pemahaman  tentang kejadian banjir dan kekeringan”.

Akibatnya, sekali banjir atau kekeringan dipicu dalam proses skala besar, seperti halnya anomali suhu permukaan laut, kejadian banjir/kekeringan paling mungkin bertahan di AS timur dan selatan, tetapi di barat durasi dan frekuensi banjir/kekeringan dikendalikan hanya oleh proses lautan;  daratan tidak dapat memodifikasi proses curah hujan.

Keadaan tanah kering atau basah tidak mengubah curah hujan berikutnya:  konsekuensinya permukaan tidak akan membantu kondisi hidrologi bertahan (misalnya banjir/kekeringan).  Seperti proses anomali permukaan laut, kondisi banjir/kekeringan yang paling mungkin bertahan di bagian timur dan selatan AS, sedangkan bagian barat dikendalikan hanya oleh proses lautan.

Gentine sedang mengembangkan suatu kerangka teori untuk mengetahui pembentukan hujan dan dan awan di atas daratan dan mengatakan bahwa hal ini akan menjadi trobosan penting dalam pemahaman tentang bagaimana kelembaban dan vegetasi mengontrol proses pembentukan awan dan hujan.  “Saya menganggap penelitian ini menarik karena merupakan bidang riset dasar – memahami bagaimana alam bekerja – dan aplikasi praktikal yang berpengaruh terhadap pengelolaan banjir/kekeringan/air di bumi.  Di Laboratorium luar:  pengamatan terhadap awan dan hujan!”.

http://www.eurekalert.org/pub_releases/2011-06/cu-cet060211.php

Public release date: 5-Jun-2011

Contact: Holly Evarts
holly@engineering.columbia.edu
212-854-3206 Columbia University

 

11 JanACID RAIN (HUJAN ASAM)

 

Acid rain

(Hujan asam)

 

 Syekhfani

 

“Acid rain” (hujan asam), diketahui terutama terjadi di kawasan industri yang mengeluarkan gas buang berupa senyawa-senyawa asam ke udara.

Saat udara mendung, senyawa-senyawa asam tersebut larut dalam butir air hujan dan butir-butir air hujan, kemudian jatuh sebagai “hujan asam”.

Di kota-kota industri, terutama di negara kita yang tergolong kawasan hutan hujan tropika (tropical rain forest), hujan asam menjadi kendala utama bidang kesehatan lingkungan. Hujan yang mempunyai pH rendah ini akan mempengaruhi lingkungan hidup (tanamanhewanmanusia) maupun sarana  kehidupan (bangunankendaraan, dan sebagainya) yang rentan terhadap pH masam.  Contohnya, atap seng menjadi berkarat, kropos dan rumah jadi bocor;  kendaraan cepat rusak, dan lain-lain.

Berikut mekanisme terjadinya “hujan asam” *).

Hujan asam” merupakan ungkapan kekhawatiran bagi penduduk yang mengetahuinya. Namun, banyak orang memberbincangkan,  menyebut-nyebut, atau paling tidak pernah mendengar, namun sangat sedikit yang mengerti apa itu hujan asam.

Berikut penjelasan tentang hujan asam.

Air sungai dan laut menguap ke udara, menjadi awan, dan kembali ke tanah berupa hujan. Dengan kata lain, hujan adalah uap air yang netral (pH 7), dan sebagai air murni tidak punya daya hantar listrik (konduktivitas listrik). Namun, bila udara mengalami polusi sulfur dioxide (SO2) atau nitrogen oxides (NOx), dalam air hujan teroksidasi oleh ozone (O3) atau hydrogen peroxide (H2O2) menjadi H2SO4 atau HNO3 sebelum jatuh ke tanah, maka nilai pH turun dan konduktivitas listrik meningkat.

Anda barangkali tahu bahwa senyawa H2SO4 dan HNO3, sebagai asam sulfat dan asam nitrat. Fakta bahwa kedua asam bila jatuh dari langit secara alami akan menjadi masalah yang signifikan.  Seandainya  mengenai kepala, ia mungkin menyebabkan kebotakan (ada laporan bahwa hujan asam dari letusan gunung Sakurajima mempunyai pH 2.5 dan konduktivitas listrik 1,640 μS/cm).

Tidak ada definisi khusus untuk hujan asam. Gas CO2 di udara larut dalam hujan menghasilkan kemasaman lemah yaitu pH 5.5 to 5.6, dan senyawa selain asam karbonat yang diserap hujan menghasilkan pH lebih rendah lagi, ini pun secara umum disebut hujan asam. Nilai pH sendiri, bagaimanapun, tidak menjelaskan pada kita jumlah aktual polutan yang terkandung dalam air hujan.

Hujan asam yang menunjukkan nilai pH sama 5, namun konduktivitas listriknya berbeda, seperti misalnya 50 μS/cm dan 100 μS/cm. Konduktivitas listrik 100 μS/cm jelas menunjukkan tercemar. Untuk hujan dengan konduktivitas listrik sekitar 10 μS/cm, menunjukkan tingkat pencemaran rendah, menstabilkan pH adalah sulit, menyebabkan semua jenis hujan bisa menunjukkan pH sekitar 5. Untuk alasan ini, kami menyarankan konduktivitas listrik diukur lebih dulu, sebelum mengukur pH, agar dapat menetapkan tingkat pencemaran dalam hujan.

Di Jepang, bencana hujan asam di tahun 1973 menyebabkan menderita sakit kulit dan mata. Hubungan antara hujan asam dan penghancuran hutan telah menjadi perhatian serius, khususnya di Eropa dan Amerika Utara, dan sekarang penyelidikan terhadap pengaruh kronis hujan asam dilakukan di seluruh dunia.

 

*) The Story of pH and Water Quality (LAQUA horiba):  The Story of  ph and Water Quality