Archive for the 'Evaluasi Tanah' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

04 FebArti sebuah “NAMA” (“SOL”)

 

Capture

 

Arti sebuah “NAMA”

(“SOL”)

Syekhfani

 

Apa arti sebuah “NAMA”?

Di bidang Genesis dan Klasifikasi Tanah, saat orang mendengar sebutan  “SOL”,  orang akan menghubungkan dengan kata “SOIL”, yang berarti “TANAH”.

Namun, “tanah” itu banyak macamnya, banyak jenisnya, lalu bagaimana membedakan?

Secara nomenklatur (tata nama), sebelum “SOL” ada tambahan awalan kata yang mempunyai arti tentang sifat dan ciri umum “tanah” tersebut, contoh:

  • EntiSOL (entic = baru, recent; holosin berarti tanah mineral yang masih muda).
  • AndiSOL (ando = hitam); tanah berwarna gelap khususnya pada lapisan atas;  dibentuk dari endapan vulkanik, umumnya ditemukan di dataran tinggi sekitar gunung berapi.
  • InceptiSOL (inceptum:  mulai berkembang); adalah tanah-tanah mineral yang secara berangsur memperlihatkan horizon pedogenik; termasuk tanah-tanah yang masih muda.
  • OxiSOL (oxide, oksida), adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian intensif dan miskin hara, kandungan Al dan Fe tinggi.
  • Dan lain-lain.

Contoh tata nama (nomenklatur) di atas tergolong kategori tingkat “ordo” (order).

Seorang yang ahli atau menguasai ilmu tanah dasar, akan mampu menginterpretasikan dan mengembangkan pengertian nama ke tingkat aplikasi.

Dengan kata lain. Ilmu Dasar (basic science) adalah kunci dari Ilmu Terapan (applied science).

Apabila, klasifikasi dilanjutkan ke tingkat lebih detail (kategori rendah), maka penjelasan tentang sifat dan ciri tanah makin lengkap dan mendekati keadaan sebenarnya;  karena tingkat kategori rendah memberikan kondisi detail yang lebih spesifik.

Secara pedogenesis, nomenklatur jenis tanah erat kaitannya dengan proses “pembentukan tanah” (soil forming proccess):

Tanah = Ғ (bahan induk, topografi, vegetasi, waktu)

Filosofinya, bila penamaan jenis tanah yang mencerminkan proses pembentukan, maka inti sifat perilakunya akan mendekati kebenaran.

 

→ Lihat:   Tanah Tanah Apel di Batu

 

13 JanAlat Pengukur dan Metode Mengukur pH

 Cara mengukur pH

 

Alat Pengukur dan Metode Mengukur pH

 

Syekhfani

 

Alat pengukur pH perlu diketahui  dalam praktek sehari-hari untuk tujuan tertentu. Alat pengukur pH bermacam ragam dari yang sederhana dengan akurasi rendah hingga yang canggih akurasi tinggi.

Namun, kebanyakan orang memilih alat pengukur pH yang paling sederhana dan mudah digunakan, terutama bila hanya untuk mengetahui nilai pH secara kasar.

Jenis alat pengukur pH bisa berupa kertas (lakmus), elektode (logamglass) atau elektronik. Kebanyakan mudah diperoleh di pasar, apotik, ataupun toko-toko kimia.

Meskipun demikian, ada baiknya kita mengetahui prinsip dasar cara kerja alat pengukur dan metode mengukur pH tersebut.

Metode mengukur pH juga tidak kalah pentingnya untuk disesuaikan dengan alat pengukur yang digunakan agar diperoleh hasil yang akurat.

Metode mengukur pH secara kasar digolongkan dalam empat kategori:

  • Metode indikator
  • Metode elektrode-logam (termasuk metode elektrode-hidrogen, elektrode-quinhydron dan elektrode-antimony)
  • Metode elektrode-glass
  • Metode sensor semikonduktor

 

(1) Metode Indikator

Kategori ini pada dasarnya meliputi dua metode:  pertama membandingkan warna standar sesuai dengan indikator pH dalam larutan penyangga (buffer solution). Kedua, persiapan kertas uji pH yang direndam dalam indikator, kemudian mencelupkan kertas ke dalam larutan warna standar. Metode-metode ini sederhana, tetapi rentan terhadap kesalahan. Tingkat akurasi yang tinggi tidak bisa diharapkan.

* Kesalahan meliputi:
- Kesalahan karena konsentrasi garam dalam larutan tinggi
- Kesalahan karena suhu larutan yang diuji
- Kesalahan karena senyawa organik dalam larutan yang diuji

Metode indikator tidak dapat mengukur pH dari tingkat kemurnian air yang tinggi, karena pengaruh indikator itu sendiri terlalu besar.

 

(2) Metode elektrode-hidrogen

 

Metode elektron-hidrogen

Sebuah elektrode hidrogen dibuat dengan menambahkan platina ke kawat platina hitam atau plat platina. Ia dicelupkan ke dalam larutan yang diuji dan pada larutan dijenuhi oleh gas hidrogen. Potensi elektrode diukur di antara elektrode platina hitam dan elektrode perak khlorida (AgCl). Potensi ini berbanding terbalik dengan pH larutan.

Metode elektrode-hidrogen merupakan standar bagi berbagai metode mengukur pH lainnya. Nilai-nilai diperoleh dengan menggunakan metode lain menjadi dipercaya bila “distandarisasi” dengan metode elektrode hidrogen.

Namun, metode ini tidak cocok untuk penggunaan sehari-hari karena sulit dan mahal, serta penanganan gas hidrogen yang tidak nyaman dan pengaruh besar zat oksidasi keras atau rendahnya kadar larutan uji.

 

(3) Metode elektrode-quinhydron

Bila quinhydrone dimasukkan dalam larutan, ia terpisah menjadi hydroquinone dan quinone.
Oleh karena kelarutan quinone bervariasi tergantung pada nilai larutan, pH dapat ditetapkan dari  voltase antara platina dan elektrode acuan.

Meskipun metode ini sederhana, ia jarang digunakan saat ini, sebab ia tidak bekerja bila senyawa oksidasi dan reduksi terlibat, atau pH larutan di atas 8 atau 9.

Catatan: larutan quinhydron suatu pH kadang-kadang digunakan mencek kondisi operasi ORP meter yang normal. Prinsip elektrode quinhydron digunakan untuk hal-hal tertentu.

 

(4) Metode elektrode-antimony

Metode ini meliputi pencelupan ujung suatu  polesan ujung antimony  ke larutan di uji, juga mencelupkan elektrode acuan, dan mengukur pH dari perbedaan potensi kedua elektrode. Metode ini salah satu yang banyak digunakan sebab alatnya kokoh dan mudah digunakan. Bagaimanapun, aplikasinya sekarang agak terbatas sebab menghasilkan keragaman tingkat polesan dari elektrode, dan kemampuan reproduksinya rendah.

Catatan: Metode ini sekarang digunakan hanya dalam hal tingkat akurasi tidak diperlukan (hanya untuk industri) dan tes kandungan larutan.

 

(5) Metode elektrode-glass

Metode elektrode-glass menggunakan dua elektrode, sebuah elektrode-glass dan elektrode-referensi, untuk mengukur voltase (potensial) pH di antara kedua elektrode tersebut.  Metode ini merupakan salah satu alat pengukur pH yang secara  umum cepat mencapai keseimbangan, bersifat reproduksi yang baik, sebab dapat digunakan dalam berbagai tipe larutan, dengan berdampak sangat kecil terhadap pengaruh  senyawa  oksidasi dan reduksi.   Metode elektrode-glass digunakan secara luas, tidak hanya industri tetapi juga bidang lain.

 

(6) Metode sensor semiconductor

Sensor pH semikonduktor, yang dikembangkan sejak tahun 1970, menggantikan metode elektode-glass dengan chip semikonduktor. Sensor ini, yang dikenal sebagai efek medan ion sensitif (ion sensitive field effect transistor; ISFET), menggantikan elektrode-glass dengan chip semikonduktor, tidak hanya tahan terhadap kerusakan, tetapi juga mudah miniatur. Miniaturisasi memungkinkan penggunaan jumlah yang lebih kecil dari sampel untuk pengukuran, dan memungkinkan untuk melakukan pengukuran dalam ruang yang sangat kecil dan pada permukaan fase padat. Sensor ini menjanjikan aplikasi yang berguna dalam pengukuran pH di bidang biologi dan kedokteran.

 

*) The Story of pH and Water Quality (LAQUA horiba):  The Story of  ph and Water QualityWays of measuring ph

 

06 JanEVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

HortTech

 

EVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

MENGGUNAKAN “KIT UJI CEPAT  TANAH (RAPID SOIL TEST KIT)”

  

Syekhfani

  

Hampir semua petani dan pekebun yang mengerti tentang tanah subur, mendambakan cara cepat mengetahui apakah tanah atau kebun mereka subur atau tidak.

Bila ada pertanyaan apakah tanah saya subur? Atau, apakah tanah saya sudah perlu dipupuk?

Secara berkelakar jawabnya:  tanyakan dong pada tanah dan tanaman!

Dijawab juga dengan kelakar:  sudah ditanyakan, tapi tidak ada jawaban!

Cari bantuan, “call a friend”!

Who is friend?

Laboratorium!

But, it is so expensive and too long time.

Ooo, minta cepat dan murah?!

Iya…

Jadi mereka butuh “Rapid Soil Test Kit”.

Apa ada??

Ada, sudah dikembangkan!

Contoh:

 

Lihat:  →

1. Gardening Articles: Care :: Soil, Water, & Fertilizer

Evaluating Home Soil Test Kits

(Artikel Berkebun: Perawatan :: Tanah, Air, & Pupuk

Evaluasi dengan Kit Uji Tanah Rumah Tangga)

Oleh:  Charlie Nardozzi

http://www.garden.org/subchannels/care/soil?q=show&id=2894

Pengujian tanah adalah penting untuk menentukan kesuburan dan kesehatan tanah. Apakah itu untuk mengetahui pH, nitrogen, fosfor, kalium, dan unsur hara lainnya untuk rumput, taman bunga , atau kebun sayur anda. Salah satu cara tercepat dan termudah untuk menguji tanah Anda adalah dengan menggunakan kit uji tanah yang tersedia secara komersial .

Para peneliti di University of CaliforniaDavis, menguji lima kit uji tanah tersedia di pasaran untuk mengetahui akurasinya dibandingkan dengan uji laboratorium profesional.

Para peneliti menemukan bahwa Lamotte Soil Tes Kit dan Rapitest Kit yang terbaik, dengan akurasi minimal 90 persen dalam kategori ini. Beberapa kit lebih akurat untuk unsur hara tertentu.

Sebagai contoh, unsur nitrogen yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soil Test, dan pH oleh Lamotte Soil Test Kit. Unsur kalium akurasinya sama untuk semua kit kecuali Soil Kit.

Untuk informasi lebih lanjut tentang penelitian kit uji tanah ini, lihat: Hort Technology.

 

Lihat:  →

2. Accuracy Varies for Commercially Available Soil Test Kits Analyzing Nitrate–Nitrogen, Phosphorus, Potassium, and pH (Akurasi Berbagai Analisis Kit Uji Tanah Komersial untuk N-Nitrat, P, K, dan pH)

Oleh:

  1. Ben A. Faber,
  2. A. James Downer,
  3. Dirk Holstege and
  4. Maren J. Mochizuki

http://horttech.ashspublications.org/content/17/3/358.abstract

Ringkasan

Uji tanah merupakan komponen penting dalam program manajemen perharaan tanaman bagi petani, tukang kebun rumah tangga, dan tenaga penyuluh pertanian. Hasil uji 5 alat tes kolorimeter komersial dibandingkan dengan analisis laboratorium standar untuk nilai pH, dan kandungan nitrat-nitrogen (NO3), fosfor (P2O5), dan kalium (K2O) pada tanah Lempung berliat Salin dengan tiga periode pertanaman. Tingkat akurasi (frekuensi terhadap hasil analisis laboratorium) adalah menurut urutan sebagai berikut: La Motte Soil KitRapitestRapid SoiltestNitty-Gritty, dan Soil Kit berturut-turut 94%, 92%, 64%, 36%, dan 33%. NO3 adalah yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soiltest, P2O5 dengan Rapitest, dan pH oleh La Motte Soil Kit. K2O menunjukkan akurasi yang sama untuk semua Soil Kit. Komposisi ekstraktan mungkin merupakan faktor penentu yang mempengaruhi keakuratan tes kit. Sebagai contoh, semua ekstraktan kit untuk K2O terdiri dari bahan kimia yang sama dan sesuai dengan analisis laboratorium yaitu 82%. Sebaliknya, kit menggunakan ekstraktan berbasis analisis asam NO3 lebih sering cocok dengan hasil analisis laboratorium dari kit menggunakan ekstraktan berbasis zinc (P ≤ 0,0001). La Motte Soil Kit memiliki jangkauan terbesar terhadap pH, sedangkan Rapitest relatif mudah digunakan dan ditafsirkan, merupakan pilihan praktis untuk tukang kebun rumah atau landscapers, keduanya lebih dari 90% akurat untuk jenis tanah ini. Meskipun batasan penting dari alat tes komersial adalah nilai perkiraan atau kategoris kandungan gizi (yaitu: rendah, sedang, tinggi), alat tes yang akurat dapat menunjukkan hasil yang cepat dan ekonomis untuk pengelolaan hara.

 

10 OctSOIL-Evaluasi Tanah Kebun Apel

  

TANAMAN APEL ~ MUSIMAN ~ PANEN  BUAH  ~ ROMPES DAUN

 

Hara terangkut (Buah, Daun) ~ Pemupukan per Musim

Foto-foto dan Materi:  Syekhfani

 

Tanaman apel, berbuah musiman (1 – 2 kali setahun), hara terangkut dalam jumlah banyak melalui buah dan daun rompesan (stimulasi pembungaan; daun rompesan tidak dikembalikan ke kebun).

Diperlukan pemberian unsur hara melalui pemupukan rutin (awal  dan akhir musim hujan).

Evaluasi status hara tanah kebun dilakukan melalui analisis sifat kimia tanah setelah selesai panen  (Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2013/10/ANALISIS-SIFAT-KIMIA-TANAH.pdf)

 

Interpretasi dan Rekomendasi:

Hasil analisis Contoh tanah (evaluasi dari Laboratorium Kimia Tanah).

 

Interpretasi:

Pemberian pupuk setelah mengetahui hasil analisis kriteria rendah dan sangat rendah.

 

Rekomendasi:

  • Dosis (per tanaman atau per hektar)
  • Saat aplikasi (sebelum musim hujan: cukup air dan setelah musim hujan: kurang air).
  • Cara aplikasi (seputar proyeksi tajuk, kedalaman 10 cm dan ditimbun tanah).
  • Tambahan:  bila tidak ada hujan, perlu di siram (irigasi).

1

2

Apel Manalagi siap dipanen

3

4

Apel Anna siap dipanen

5

6

Apel Rome Beauty berbuah (setelah dirompes)

7

8

Lokasi pemupukan (proyeksi tajuk pohon)

 

Unsur Hara Terangkut harus Dikembalikan!

 

13 MaySOIL-Zona Iklim Semi Arid

   

 

ZONA IKLIM SEMI ARID TROPIKA INDONESIA

 

Kawasan (contoh):   Sumbawa Besar – Dompu, Nusa Tenggara Barat

(Pengamat, Foto-foto:  Syekhfani)

 

8

Zona Iklim Semi Arid, dicirikan oleh bulan-bulan kering lebih banyak dari bulan-bulan basah, jenis tanah dipengaruhi kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah.

Pelapukan batuan induk lambat dan jenis tanah yang dominan adalah  Regosol (Entisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols);  meskipun di beberapa tempat dijumpai pula jenis Andosol (Andisols).

Vegetasi berupa pohon, semak dan rumput-rumputan yang toleran terhadap kondisi air terbatas, khas daerah zona iklim semi arid.

Flora dominan:

  • Pohon:  Asam (Tamarindus indica), Jambu mente (Anacardium occidentale).
  • Semak:  Bidara (Ziziphus mauritiana), Paitan (Chromolaena odorata).
  • Rumput-rumputan:  ciplukan (Physalis angulata), babadotan (Ageratum conyzoides), putri malu (Mimosa pudica).

Fauna spesifik:  kuda (Equus caballus) liar, dan babi hutan(Sus scrofa).

Masalah utama: sumber air terbatas (terutama saat bulan-bulan kering), sehingga solusinya adalah manajemen konservasi air.

 

 1

2

3

Batuan induk, menunjukkan perkembangan yang lambat

  6

 Vegetasi pohon, semak dan rumput pada musim kering

 9

Lahan budidaya, keadaan air cukup (dari irigasi)

 11

Vegetasi semak, memperoleh air dari kelembaban udara (dekat pantai)

12

Kawanan kuda liar berteduh di bawah pohon asam saat terik matahari.

07 FebSOIL-Gejala Kelainan Tanaman

 

GEJALA (SYMPTOM) KELAINAN PERTUMBUHAN TANAMAN

 

UNSUR HARA BERMASALAH

(Source: Soil Fertility, John Sawyer, Department of Agronomy, 2104 Agronomy Hall, Iowa State University, Ames, IA 50011
Phone: (515) 294-7078, Email: jsawyer@iastate.edu)

 

NITROGEN


1

Gejala defisiensi N pada Jagung

2

Gejala defisiensi N di lahan Jagung

3

Kerusakan daun Jagung akibat penyebaran 100 kg UAN per akre

4

Kerusakan daun Jagung akibat penyebaran urea di sekitar bangkal batang

5

Kerusakan daun Jagung akibat penyebaran urea di sekitar bangkal batang

6

Kerusakan daun Kedelai akibat penyebaran 25 kg UAN per akre

 

FOSFOR

7

Gejala defisiensi P pada Jagung

 

KALIUM

8

Gejala defisiensi K pada Jagung

9

Gejala defisiensi K pada Jagung (close up)

 

SENG

11

Gejala defisiensi Zn pada Jagung

12

Gejala defisiensi Zn di lahan Jagung

 

14 NovSOIL – IPTEK KESUBURAN TANAH

 

 0

 

PENGENALAN JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA

 

(Foto dan interpretasi: Syekhfani)

 1

Alfisol Lamongan (Jagung): Sifat kesubtan: bahan organik sedang; pH agak masam; KTK tinggi; N (S), P, K sedang; Ca, Mg sedang; Cu, Zn sedang; drainase agak jelek, dan kehidupan cendawan tertekan. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan dolomit (sedang); dan pembuatan saluran drainase.

 2

Andisol Batu (Kubis, Teras Bangku): Daya tahan air agak baik; daya pegang hara agak baik; kadar BO rendah dan pH agak masam; KTK sedang; an kadar unsur (N), (S), (K), P, Mg, Zn agak rendah. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang), kompon NPK(S) sedang, dan dolomit (sedang); serta pembuatan rorak/parit pemegang air di bagian atas teras.

3

Entisol Blitar (lahan selesai panen): Olah tanah cara campur-rata (incorporate) dengan sisa panen. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan unsur N, P, K, (S) (sedang, bertahap); dan pemberian mulsa.

4

Histosol Palangkaraya (Vegetasi: semak hidrofil (jenuh air), vegetasi pakis: Fleopeltis longistema Moore ; purun; hareundung: Melastoma malabathricum – indikator tanah masam).

5

Histosol Palangkaraya (Pepaya): tanah gambut (Histosol) di halaman tidak dapat berfungsi baik sebagai penahan tumbuh pohon pepaya ( jangkar, pohon pepaya rebah miring, lih. gb). Manajemen: pemberian tanah mineral, pupuk kandang (tinggi), NPK(S),mikro (lengkap) dan dolomit (tinggi); dan pembuatan saluran irigasi + drainase.

6

1a. Pengolahan dengan traktor (mekanik): perbaikan sifat fisik (udara, air).

7

1b. Pengolahan dengan bajak sapi (tradisional): perbaikan sifat fisik (udara, air).

8

2. Pengguludan (pembuatan guludan dan cemplongan untuk tanam Tebu (Saccharum officinarum L.).

9

3. Penanaman tebu ke-1 (plant cane).

Inseptisol Blitar (Pengolahan Tanah untuk Pertanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Lahan Sawah, TRIS): Sifat tanah: musim kemarau topsoil kering, subsoil lembab; musim hujan lembab; daya tahan air sedang; daya pegang hara sedang; sedang; dan unsur hara N, S, (P, K, Ca, Mg) sedang.

PENELITIAN PUPUK CAIR GREENVIT

Inseptisol Karangploso Malang

GREENVIT 2009

10

Oksisol Subang (Pengapuran Tebu): Sifat tanah: musim kemarau kering, rekah; musim hujan becek, licin, lekat; daya tahan air tinggi; daya pegang hara tinggi; pH dan BO rendah; KTK sedang; kadar N (S), P, K rendah; Ca, Mg rendah; Cu, Zn rendah; dan kehidupan bakteri agak tertekan. Aplikasi kapur pertanian sepanjang alur tanam (band placement) jarak 10 cm kiri-kanan alur, kedalaman 10 cm, dan ditimbun tanah.

11

Vertisol Madiun (Persiapan Tanah Tebu-2000): Sifat tanah: kadar liat tipe 2:1 (mengembang/mengkerut, swelling/shrinked); sifat fisik jelek (musim hujan lekat, musim kemarau rekah), sifat kimia sedang. Aplikasi teknologi irigasi, aerasi, dan drainase.

 

12

Ultisol Lampung Utara: Cassava (Manihot esculenta Crantz) – based cropping system: Nitrogen management project, PG Bungamayang (dokumen penelitian).

13

Ultisol Lampung Utara: Alley cropping/Hedgerows system (Lamtoro: Leucaena lecocephala – Jagung: Zea mays L.) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

14

Ultisol Lampung Utara: cover cropping system (biomas) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

15

 

Ultisol Sumatera Barat (longsor): Sifat fisik jelek (liat tipe 1:1, bidang kilir, permeabilitas rendah, erodibilitas tinggi).

 16

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT

 

(Foto dan Dokumen: Syekhfani)

 

17

Temu Lapang P3GI

18

Diskusi dengan staf PG Bunga Mayang Lampung

19

Program D1-Hortikultura UB-Pemkot Batu (1997, 1998, 1999: Apel-Sayuran-Tanaman Hias)

PELATIHAN STAKE-HOLDER

Materi: Syekhfani

1. KONSEP KESTAN BERKELANJUTAN

2. PROSPEK PERTANIAN ORGANIK

3. NUTRISI TANAMAN

4. Rekomendasi Pemupukan Seimbang

5. AZOLA (Nitrogen fixation in rice based cropping systems)download

 

SOSIALISASI TENTANG TANAH

 

Materi: Syekhfani

 

Kriteria Sifat Kesuburan Tanah

 

Baku Mutu Pupuk Organik

 

1. MANAJEMEN BO

2. Guide to Composting

3. Composting at Home

4. Composting of municipal solid waste

5. Growing Healthy Soil

6. The Right Plants

7. Smart watering

8. Natural Pest, Weed & Diseases Control

9. Natural Lawn Care

10. Smart Gardening

11. Sustainable Soil Management

12. Some Information on Soil Fertility

 

 

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MAHASISWA

 

(Foto Dokumen: Syekhfani)

20

Studi Lapangan Mahasiswa FP-UB

21

Diskusi dengan Pengelola Kebun Percobaan FP-UB, Jatikerto

22

Diskusi dengan mahasiswa D1-Horti di Kebun Apel Petani, Batu

Mengenal Profesi Ilmu Tanah (Materi OSPEK MABA FPUB 2012: Syekhfani)

FORSIKA 9 Des 2012 (Materi diskusi: Syekhfani)