Archive for the 'Genesis dan Klasifikasi' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

29 AprLiat Kucing (Cat Clay)

images

Jangan Ganggu Kucing Sedang Tidur!

Syekhfani

Jangan ganggu kucing lagi enak-enak tidur, bisa kita dicakar – “Miawww“!

Demikian itu perumpamaan, bila horizon “Sulfidik” yang terbentuk dari proses pasang surut air laut di kawasan dataran/cekungan tepi sungai (Sumatera,
Kalimantan, Papua) terungkap (exposed).

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-lahan-basah/

Pedogenesis horizon Sulfidik terjadi dari pengendapan “Pirit – FeS) di lapisan reduktif; merupakan horizon penciri tanah Sulfat Masam. Kondisi basah-kering (oksidasi – reduksi) silih berganti menyebabkan spot-spot berwarna coklat kekuningan dan abu-abu di lapisan sulfidik, mirip warna bulu “kucing belang” (istilah: cat clay).

Reaksi melibatkan ion SO42- direduksi menjadi H2S (pH 2.0 – 7.0) pada tanah bergambut, oleh bakteri anaerobik: Desulfovibrio dan Desulphotomaculum. Dengan adanya ion Fe2+ terbentuklah “Pirit – FeS, FeS2″:

1. SO42- + 9 H+ + 8e ↔ HS- + 4 H2O (Eh= 0.2 – 0.3 V, pH > 7.0)
SO42- + 10 H+ + 8e ↔ H2S + 4 H2O (Eh= 0 – -0.2 V, pH < 7.0)

2. 2FeOOH (gutit) + 3H2S → 2 FeS + Srh + 4 H2O dan: H2S + Fe2+ → FeS + 2 H+, reaksi diikuti oleh: FeS + Srh → FeS2

Selama Pirit berada di lapisan reduktif, dia tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, begitu dia terangkat (revealed) ke permukaan (lapisan oksidatif), maka secara geobiokimia, Pirit – FeS, FeS2 berubah menjadi Jarosit, dan pH menjadi relatif sangat rendah.

Pada kondisi ini, organisme tertekan hidupnya (termasuk tanaman). Bahkan, bagian tubuh kita yang kontak, bisa mengalami masalah.

Lihat: Driessen, P.M and M. Soepraptohardjo. 1974. Soils for Agriculture Expansion in Indonesia. Soil Research Institute. Bogor.

28 AprHorizon Argilik

Horizon Argilik

HORIZON ARGILIK

(pada Ultisol)

Erosi – Terungkap – Eksotik

Syekhfani

Secara alami, permukaan tanah (topsoil) akan terungkap (revealed) melalui proses erosi, di mana lapisan tanah atas (topsoil) menjadi hilang.

Aksi-aksi tersebut menyebabkan tanah tergradasi, sehingga memerlukan tindakan reklamasi, konservasi, ameliorasi, dan pemeliharaan, agar tanah, lahan, dan lingkungan alam tidak rusak, lestari dan berkelanjutan.

Dalam proses pedogenesis (pembentukan tanah – soil forming), horizon Argilik terjadi akibat berpindahnya fraksi liat dari lapisan atas – topsoil ke lapisan bawah – subsoil melalui proses eluviasi.

Kadar unsur Aluminum dan Besi tinggi pada Ultisol, dalam bentuk oksida (Seskuioksida, Al- Fe-Oksida) merupakan senyawa bersifat koloidal.

Proses iluviasi (berpindahnya unsur/senyawa dari topsoil ke subsoil), menyebabkan konsentrasi seskuioksida tinggi di lapisan subsoil yang kaya liat dari proses eluviasi di atas, akan berfungsi sebagai pengikat (sementasi) liat menjadi agregat mantap yang sukar hancur.

Setelah top soil mengalami erosi, lapisan subsoil yang terikat kuat oleh seskuioksida, akan bertahan dan tidak hilang; yang tidak terikat kuat akan hilang, dan yang bertahan terungkap (revealed) membentuk lapisan berupa relief yang eksotik dan menarik (lihat gambar).

Penampakan ini, secara umum dijumpai di Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Lihat:http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/12/soil-terungkap-dan-tersingkap-2/

Relief horizon Argilik, eksotik dan menarik!

14 DecSOIL-Chemical Weathering Processes

 

Rock an Water

 

CHEMICAL WEATHERING PROCESSES

(PROSES PELAPUKAN KIMIA)

 

Pelapukan Batuan dan Mineral: Proses ~ Definisi ~ Implikasi

 

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Chemical Weathering Processes (Proses Pelapukan Kimia),  yang terjadi pada batuan dan mineral, merupakan proses pembentukan komponen mineral tanah melalui pelapukan dan penghancuran.

1. Peningkatan curah hujan memacu percepatan pelapukan kimia batuan dan mineral, seperti tampak pada arca dan bangunan peninggalan sejarah. Fakta bahwa, air merupakan faktor esensial pelapukan kimia.

2. Peningkatan suhu juga mempercepat reaksi kimia yang menyebabkan batuan dan mineral hancur.

3. Kombinasi air dan suhu, kelembaban merupakan faktor pengondisi terjadinya percepatan pelapukan batuan dan mineral.

Implikasi lapangan, hal diatas menunjukkan mengapa di daerah tropis terjadi kerusakan lahan, tanah dan bangunan berlangsung dengan cepat.

Rock in Semi Arid Zone

 Pelapukan batuan di zona semi arid (Dompu, Nusa Tenggara Barat), terutama oleh faktor suhu dan kelembaban.

Proses-proses pelapukan meliputi:

Pelarutan dan Karbonasi (Carbonation and Solution): proses tampak bila air hujan (H20) bersenyawa dengan karbon dioksida (CO2) membentuk asam karbonat (H2CO3). Bila asam karbonat kembali kontak dengan batuan mengandung kapur, soda, dan potas (kalium),  maka mineral-mineral kalsium, magnesium, dan kalium secara kimia berubah menjadi karbonat yang larut dalam air.  Topografi Karst, berasal dari nama “Krs Plateau” di Yugoslavia, di mana pertama kali dipelajari, merupakan tipe pelapukan kimia dicirikan oleh sinkholes, caves, dan caverns.

Hidrolisis (Hydrolysis): proses pelapukan kimia ini terjadi bila air (H20), biasanya dalam bentuk air hujan, merusak komposisi dan ukuran kimia mineral dan menghasilkan mineral kurang stabil, sehingga lebih mudah terlapuk.

Hidrasi (Hydration): kombinasi air (H20) dengan senyawa dalam batuan, menyebabkan perubahan struktur kimia mineral, namun lebih menyerupai perubahan fisik pada permukaan butir dan kisi butir mineral. Contoh pada mineral Anhydrite (CaSO4). Anhydrite secara kimia berubah menjadi Gypsum (CaSO4.2H20) bila ditambahkan air. Gypsum digunakan dalam industri konstruksi, untuk membangun gedung dan rumah.

Oksidasi (Oxidation): proses ini terjadi bila oksigen bereaksi dengan senyawa unsur dalam batuan membentuk oksida. Bila objek adalah pelapukan kimia bahan lunak dan tampak “teroksidasi” – “oxidized”. Contoh yang jelas adalah terjadi “karatan” – “rusting”. Besi sebagai bahan logam dapat mengalami oksidasi. Peningkatan suhu dan prosentase hujan akan memacu proses oksidasi.

Pelapukan Spheroidal (Spheroidal Weathering): air meresap melalui celah batuan dan melarutkan semen pengikat partikel dan juga menggerus tepi dan sudut tajam batuan, menjadikan batuan bergerigi.  Proses pelapukan fisik, seperti pembekuan, dapat meretakkan batuan secara luas.

Lihat:

1. Soil Forming Factors-weathering

2. http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/?s=SOIL-rock