Archive for the 'Komunitas' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

08 JulSOIL-Vivarium Flora – Fauna

 

VIVARIUM FLORA DAN FAUNA

 

Simulasi Lingkungan Kehidupan

 

Syekhfani

 Ada beberapa jenis Vivarium,yaitu:

  • Aquarium, simulasi habitat air; untuk meniru kondisi lingkungan sungai, danau atau laut;  area habitat alami tergenang. Tanaman dalam air memerlukan keberadaan nitrogen dalam sistem, dan memerlukan area untuk kehidupan organisme dan tumbuhan.
  • Insectarium, habaitat insects dan arachnids.
  • Terrarium, simulasi habitat kering,  untuk meniru kondisi gurun atau savannah.  Terrarium dapat juga mengkreasi habitat lahan hutan atau pohon hutan iklim  temperate. Ia dapat dikreasi dengan menggunakan bahan kerikil, seresah daun dan tanah. Melalui terrarium, perilaku siklus air alami tampak dalam lingkungan buatan. Banyak jenis tanaman cocok untuk habitat ini , termasuk bromeliadsAfrican Violets dan Crassulaceae. Hewan umumnya digunakan untuk observasi meliputi reptilesamphibiansinsectsspidersscorpions dan burung kecil.
  • Paludarium, berupa simulasi lingkungan hutan hujan (rain forest) atau rawa (swamp ).
    • Riparium, suatu paludarium dengan sirkulasi kolam level berbeda.

Lingkungan kehidupan Flora dan Fauna, perlu dipelajari dan dimengerti sebagai dasar pengelolaannya.

Lingkungan kehidupan flora dan fauna dapat ditiru dalam bentuk vivarium (miniatur buatan) untuk memudahkan melihat dan mengabadikannya.

Ragam Vivarium berdasar:  bentuk (kubus, bulat, persegi), ukuran (mini, midi, maksi), dan bahan (kaca, plastik, formika).

Contoh:

1. Terrarium Flora

Terrarium (Foto Syekhfani:  Iwa Women University, Seoul, Korea)

2. Terrarium Fauna

Insectarium (Foto Syekhfani:  Iwa Women University, Seoul, Korea)

05 JunSOIl-Integrated Farming System

BUDIDAYA PERTANIAN TERPADU

(INTEGRATED FARMING SYSTEM)

Budidaya Adat Semende, Muara Enim, Sumatera Selatan

Syekhfani

Suku Semende, yang berada di dataran tinggi Semende, pegunungan Bukit Barisan, wilayah propinsi Sumatera Selatan, mempunyai adat khusus yaitu menganut sistem “Matriarchat” (warisan pihak ibu).

Sistem matriarchat , yang mewarisi “rumah adat” yang disebut “Tunggu Tubang“,  dilakukan menurut garis keturunan pihak anak perempuan. Anak perempuan tertua diberi hak  dan kewajiban mengelola harta warisan turun temurun. Sistem serupa dijumpai pada  adat Minangkabau, Sumatera Barat.

Dalam sistem adat Semende, pemilikan harta warisan turun temurun terdiri dari:

 

1

1. Sawah (luas 1 hingga 3 hektar), di lahan seputar dusun (kampung), meliputi dangau (rumah di sawah), tengkiang  (lumbung padi, di belakang dangau/tidak tampak), tebat (kolam ikan), sawah (tanaman padi), dan kebun campuran (sayuran, buahan, rempah, dan lain-lain).

 

2

3

2. Rumah gudang (rumah induk: tipe dulu dan sekarang), berada di dusun (kampung).

 

Sistem pengelolaan lahan dilakukan secara terpadu (integrated farming system):  padi sawah monokultur (padi varietas “lokal dalam”  umur 6 bulan, satu kali tanam per  tahun;  6 bulan bera), sisa panen (jerami, malai, sekam, dedak)  semua dikembalikan ke lahan, kecuali sebagian untuk pakan ternak unggas:  ayam, itik, bebek.

Ternak ruminan (kerbau, sapi, kambing), memperoleh pakan dari tumbuhan  rerumputan di lahan (galengan, saat bera) atau di sekitar lahan (semak, hutan belukar).

Sisa kotoran ternak unggas dan ruminan diberikan untuk pakan ikan di kolam atau pupuk kandang untuk sawah/kebun.

Dengan manajemen sistem terpadu ini, produksi lahan usaha “berlebih” untuk kebutuhan keluarga besar setiap tahunnya.

Adat Semende tergolong sistem adat yang bersifat “berkelanjutan – sustainable“;  hanya sayangnya, akhir-akhir ini banyak pewaris  adat meninggalkan lahan warisannya  mengikuti arus kemajuan zaman, urbanisasi ke kota-kota besar.

 

03 MaySOIL-Topografi Berbukit hingga Bergunung

TOPOGRAFI BERBUKIT HINGGA BERGUNUNG

Penggunaan dan Pelestarian Lahan

 Contoh:  Kabupaten Solok – Sumatera Barat

Foto-foto:  Syekhfani

 1

 2

Danau Singkarak, sumberdaya alam dan panorama yang indah

3 - Copy

Area persawahan dengan irigasi “kincir air”, memanfaatkan sumber air dari sungai.

4

Agroforestry dan pertanian lahan kering, melestarikan vegetasi alam dan konservasi lahan pertanian.

5

Pertanian tradisional (kebun, pekarangan, tegalan), mengacu pada sistem alam (natural system)

6

Sadap pohon karet rakyat, dengan metode tradisional dan terlatih, meletarikan pohon karet yang tumbuh alami.

  • Pegunungan Bukit Barisan, terbentang dari ujung selatan hingga ujung utara pulau Sumatera, topografi berbukit hingga bergunung.
  • Pada bagian tengah, terhampar “Ranah Minang”, propinsi Sumatera Barat.
  • Ranah minang terkenal dengan panorama yang indah serta adat istiadat yang kokoh:  seperti  pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan“.
  • Di daerah (ranah) ini, peraturan adat tampak jelas mewarnai sistem kultur sosial, budaya dan teknik yang unik, konsisten, dan berlanjut.
  • Penerapan sistem agroforestry  dan sistem budidaya pertanian, sedemikian rupa memberikan nuansa khas alam ranah minang.
  • Sistem irigasi “kincir air”, yaitu teknik mengangkat air sungai yang posisinya lebih rendah dari  area lahan sawah;  ditemukan di sini dan tidak dijumpai di tempat lain.
  • Praktek budidaya belanjut dan lestari telah diterapkan di masyarakat minang sejak zaman dahulu.