Archive for the 'Lahan basah (lowland)' Category

11 AugTanah Sulfat Masam

PEMUKIMAN TRANSMIGRAN DI LAHAN BASAH

Tinjauan Napak Tilas

Syekhfani

Lahan pasang surut air sungai disebut dengan Tanah Sulfat Masam (Acid Sulphate Soil), terbentuk pada endapan deposit aluvial salin dan brackish pada kondisi vegetasi halofitik tipik (typical hallophytic): Avicennia, Rhizophora, dsb*.

Tanah sulfat masam didominasi oleh pirit (pyrite, FeS) pada kondisi tergenang (submerged) atau reduktif.

Apabila lapisan pirit diangkat ke permukaan (diolah), maka pirit dioksidasi oleh bakteri Thiobacillus thiooxidans, di mana sulfida menjadi sulfat. Reaksi tanah (pH) rendah disebut tanah Sulfat Masam.

Masalah yang muncul di kawasan pemukiman, selain pH rendah yaitu kadar Fe dan/atau Mn tinggi.

Sawah menghadapi masalah keracunan salah satu atau kedua unsur tersebut, selain memerlukan jenis padi toleran kondisi masam.

Kilas Balik:

Saat penulis berkunjung di kawasan pemukiman lahan pasang surut Rawa Muning, Kalimantan Selatan, tahun 1990-an; tergambar betapa sulitnya perjuangan pemukim di daerah tersebut.

Penulis yakin bahwa saat ini hal di atas telah berubah, sejalan dengan pengalaman dan kemajuan IPTEK.

Berikut gambarannya:

0. Lahan Pasang Surut

1. Lahan Pasang Surut

2. Sawah Lahan Pasang Surut

2. Sawah Lahan Pasang Surut

3. Teratai Liar

3. Teratai Liar

4. Jalan

4. Jalan

5. Tanaman Padi Sawah

5. Tanaman Padi Sawah

6. Tanaman Pematang Sawah

6. Tanaman di Pematang Sawah

7. Tanam Pohon di Pematanag Sawah

7. Tanam Pohon di Pematang Sawah

8. Tanam Sayur di Pematanag Sawah

8. Tanam Sayur di Pematang Sawah

9. Drainase

9. Drainase

10. Ibu Tanam Sayur

10. Bu Tani Tanam Sayur

11. Kelapa

11. Tanaman Kelapa

12. Mati

12. Tanaman Kelapa Mati

13. Padi Keracunan

13. Tanaman Padi Keracunan

14. Irigasi-Drainase Kawasan

14. Irigasi-Drainase Kawasan

15. Tangkap Ikan

15. Pak Tani tangkap Ikan

16. Anak-anak

16. Profil Anak-anak Tani

17. Rumah di Tinggal

17. Kondisi Rumah di Tinggal

18. Tanam Pohon Sistem Surjan

18. Tanam Pohon Sistem Surjan

19. Rumah Tinggal

19. Kondisi Rumah Tinggal

20. Semangat Kerja Ibu

20. Semangat Kerja Bu Tani

21. Air Tampak Jernih Tapi Masam

21. Air Tampak Jernih Namun Rasa Masam

22. Anak-anak Tangkap Ikan

22. Anak-anak Tani tangkap Ikan

23. Air Lagi Surut

23. Air Lagi Surut

24. Pembukaan Lahan

24. Pembukaan Lahan

25. Penulis

25. Penulis (nomor 2 dari kanan – pegang buku)

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/05/15/soil-sulfat-masam/

*Driessen, P.M. dan M. Soepraptohardjo. 1974. Soil for Agricultural Expansion in Indonesia: Acid Sulphate Soils, p. 16-27. Soil Res. Inst., Bogor.

01 JunSorot Balik Semburan Lumpur Panas

DISINYALIR AKIBAT SALAH TEKNIS

Berbagai Upaya Penanggulangan

Syekhfani

Semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur, membawa dampak kerusakan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat yang cukup memprihatinkan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi bencana (disaster), yang disinyalir sebagai suatu kesalahan teknis dalam pengeboran sumber minyak.

Berikut gambaran (review) peristiwa tersebut serta upaya penaggulangan:

1. Lokasi semburan lumpur

Gambar 1. Lokasi semburan lumpur panas

2. Semburan lumpur

Gambar 2. Semburan lumpur panas

3. Profil saluran semburan lumpur

Gambar 3. Profil saluran semburan lumpur panas

4. Rumah terendam lumpur

Gambar 4. Rumah terendam lumpur panas

5. Desa terkena dampak

Gambar 5. Desa terkena dampak

6. Pembuatan sumur pemadam semburan

Gambar 6. Pembuatan sumur pemadam semburan

7. Upaya penutupan lubang

Gambar 7. Upaya penutupan lubang

Lihat: SOIL-Lumpur Marin (http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/01/soil-lumpur-marin/)

28 AprSinkronisasi – Sinlokasi

TANAMAN PANGAN

Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Syekhfani

Budidaya tanaman pangan ditujukan untuk memasok kebutuhan bahan pangan ataupun industri makanan.

Oleh sebab itu, kegiatan budidaya bersifat intensifikasi di lahan luas, menggunakan jenis tanaman pangan yang berpotensi produksi tinggi serta di lahan yang relatif mempunyai sarana produksi cukup.

Lahan intensifikasi, pada awalnya mampu memasok kebutuhan pangan penduduk; akan tetapi dengan laju pertambahan, maka daya dukung lahan menjadi semakin berkurang.

Konsekuensinya, untuk mengatasi kemungkinan masalah kekurangan pangan, maka perlu dicari alternatif lahan baru, meski potensi daya dukungnya relatif rendah dan bahkan marginal.

Dengan demikian, masalah “lokasi” lahan harus diatasi dengan “sinkronisasi” jenis tanaman pangan budidaya.

KONDISI ABNORMAL

Lahan intensifikasi tanaman pangan di Indonesia terutama adalah tanaman “berbasis padi sawah”, yang mempunyai perhatian khusus pemerintah.

Intensifikasi di lahan sawah ini, dilakukan sejak tahun 1960-an, yaitu melalui berbagai program: Bimas, Inmas, Insus, dan lain-lain, didukung dengan paket teknologi produksi tinggi.

Tumpang-gilir tanaman padi sawah dengan palawija, serta tumpang-sari di antara palawija, juga termasuk dalam program.

Namun, kapabilitas dan suitabilitas lahan meluas dari kelas sangat sesuai (S1) ke sesuai (S2), agak sesuai (S3) dan tidak sesuai (N).

Akhirnya, para ilmuan dan peneliti harus memikirkan alternatif pilihan terjelek, yaitu mengubah lahan marginal tidak sesuai (N) agar dapat ikut berproduksi, minimal mempunyai kontribusi terhadap masalah mengatasi kemungkinan rawan pangan (scarcity of food).

Beberapa lahan marginal yang berpeluang untuk dijadikan areal intensifikasi misalnya: Gambut, Pasang Surut, dan Salin Sodik (pH ekstrem Masam atau Alkalis).

UPAYA

1. Reklamasi, amendmen, dan ameliorasi tanah, dan

2. Seleksi dan pemuliaan jenis/varietas/klon tanaman toleran berprotensi produksi tinggi.

Tanah

Cekaman salinitas/asiditas terhadap perakaran: permeabilitas dinding sel akar.

Tanaman

Cekaman salinitas/asiditas mendorong mekanisme self control dengan produksi metabolit sekunder (alkaloid): ABA, Proline-keseimbangan tekanan osmotik/turgor daun (kontrol air oleh ion K+).

CONTOH TANAH SALIN SODIK

Indikator salinitas/Sodisitas

Tanah: tanaman layu pada kondisi air tanah cukup.

Tanaman: penebalan daun, warna/morfologi tidak normal, tekanan turgor tinggi.

Ameliorasi

- Imbangan basa-basa: K vs Na, Ca, Mg

- Bahan organik, Soil Conditioner

- Konservasi air tanah.

Sinkronisasi – Sinlokasi

- Pengaturan pola dan waktu tanam: padipalawija (tunggal)/palawija (tumpang-sari).

Tingkatkan kemampuan “Adaptasi/Toleransi Tanaman” terhadap “Cekaman Lingkungan”!

11 AprSalah Musim

Mesin Perontok Gabah

PANEN GABAH DI MUSIM “MARENGAN”

Small Holder Farmers

Syekhfani

Salah satu ketidak-mampuan “petani gurem” (Jawa, small holder farmers), adalah menentukan masa tanam yang tepat untuk pertanaman padi sawah.

Petani melakukan sistem tanam 300 % (padi-padi-padi) dalam setahun, tanpa bera.

Pada prinsipnya, produktivitas maupun kualitas gabah tertinggi dalam budidaya tanaman padi sawah adalah di musim kemarau.

Namun, demi mempertahankan produksi terus menerus untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, maka pada masim “rendengan” (penghujan) dan “marengan” (setelah rendengan) pun tetap dilakukan penanaman, yaitu karena air cukup.

Kualitas gabah, termasuk juga gizi yang terkandung dalam beras menjadi rendah; demikian pula berdampak pada harga jual beras.

Video berikut diambil saat panen padi sawah musim “marengan” (Jawa, akhir musim penghujan) → http://id.wikipedia.org/wiki/Pranata_mangsa, menggunakan mesin perontok gabah.

Lihat: → https://www.youtube.com/watch?v=QpqYR4T0sbo

26 MarBudidaya Pertanian Lahan Gambut

Lahan Gambut

POTENSI LAHAN PEKARANGAN

Budidaya Tradisional di Lahan Sempit Marginal

Syekhfani

Lahan gambut, tepatnya lahan bergambut (peaty soil), secara umum tergolong “kurang” potensial untuk lahan budidaya pertanian ditinjau dari segi kelas kemampuan lahan (land capability, land suitability), karena tanah bergambut mempunyai sifat kesuburan (fisik, kimia, dan biologi) rendah.

Budidaya pertanian di lahan gambut (peaty soil), adalah merupakan budidaya spesifik yang memerlukan teknologi masukan tinggi (high input technology), membutuhkan upaya reklamasi dan ameliorasi, apabila akan digunakan untuk budidaya pertanian skala luas.

Namun demikian, ada penduduk setempat yang memanfaatkan potensi lahan “marginal” ini untuk memperoleh nilai tambah sebagai usaha sambilan, yaitu menanam berbagai jenis tanaman hortikultura di lahan pekarangan.

Lahan gambut dibuka tanpa atau dengan olah tanah minimum, hanya sekedar menghilangkan vegetasi gulma; sehingga pekerjaan olah tanah ini termasuk ringan, karena sifat fisik gambut tergolong gembur, yaitu berupa bahan induk organik (Histosol).

Berikut ini disajikan contoh kegiatan beberapa Penduduk Desa Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kabupaten Palangkaraya, Propinsi Kalimantan Tengah, yaitu menanam sayuran dan buahan di lahan pekarangannya (Gambar).

Gambar 3

Gambar 13

Lahan Pekarangan

Gambar 12

Gambar 10

Gambar 9

Tanaman Sayuran (Kangkung, Bawang Besar)

Gambar 8

Tanaman Buahan (Nenas)

Gambar 16

Pemupukan (pupuk kandang, dolomit, dll.)

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

04 NovMusim Panen

PADI SAWAH TRADISIONAL

Efisiensi Kerja

Syekhfani

Prinsip kerja petani padi sawah tradisional lahan sempit (petani gurem), adalah efisiensi; sehingga meski umumnya para petani biasa melakukan gotong royong (saat musim tanam ataupun musim panen https://www.youtube.com/watch?v=cRxGfJTLtlg), namun untuk kerja yang tidak terlalu harus segera atau perlu biaya banyak, maka petani merasa cukup melakukan sendiri.

Sehabis gotong royong melakukan panen misalnya, apabila kondisi memungkinkan (cuaca baik dan sinar matahari terik), petani menjemur gabah di lahan sambil mengumpulkan berkas potongan jerami sisa panen dan membersihkan petak sawah untuk persiapan pengolahan tanah berikutnya.

Jemur Gabah

Jemur Gabah

Pada kondisi panas terik, dalam dua atau tiga hari gabah bisa dijadikan beras, menyewa mesin penggiling gabah (slep) yang bisa diminta datang ke lahan.

Namun pekerjaan ini hanya mungkin dilakukan saat musim tanam gadu/marengan (MK, Musim Kemarau). Sore hari, atau apabila mendadak ada gejala hujan akan turun, cepat-cepat petani menutup permukaan jemuran gabah dengan plastik atau terpal.

Pekerjaan pembersihan lahan (land clearing) sebelum bajak ini, dilakukan oleh individu pak Tani.

Merontok Gabah

Sisa Merontok Gabah

Jerami Sisa

Sisa Jerami

Efisiensi perkerjaan ini memungkinkan petani menghemat masa budidaya dan bisa mencapai efisien 3 kali panen (“efisiensi 300 persen”) dalam setahun; identik dengan perluasan areal tanam dan peningkatan produksi gabah.

29 OctTanam Padi Sawah

PINDAH TANAM SETELAH PELUMPURAN

Syekhfani

Setelah “pelumpuran tanah sawahhttp://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/10/12484/ selesai dilakukan, maka segera dilanjutkan pekerjaan pindah tanaman bibit padi.

Pekerjaan pindah tanam bibit, secara tradisional dilakukan oleh kelompok ibu tani yang sudah berpengalaman; biasanya berupa tim yang sangat kompak dan diakui kerapian dan keberhasilan kerjanya.

Bibit padi sawah dari bedengan persemaian disiapkan, didistribusikan oleh pak tani sebelum ibu tani melakukan penanaman.

Petak sawah yang sudah dibersihkan dan diratakan, dikeringkan dalam kondisi macak-macak atau nyemek-nyemek (Jawa: sedikit air menggenang di permukaan), dan di buat garis jarak tanam menggunakan alat khusus yang telah dijadikan pola berukuran tertentu.

Ibu tani melakukan pindah tanam sesuai kebiasaan setempat; ada yang jalan maju dan ada yang mundur. Prinsipnya, jejak kaki tidak boleh mengganggu tegak bibit yang telah ditanam.

Berikut disajikan contoh praktek pindah tanam bibit padi sawah secara tradisional.

Video: → https://www.youtube.com/watch?v=FCCCznaCL9s

25 OctPelumpuran Tanah Sawah

PENGOLAHAN DENGAN BAJAK

Persiapan Pindah Tanam Bibit Padi

Syekhfani

Pelumpuran tanah sawah, merupakan pembersihan lahan bekas diolah dengan bajak untuk persiapan tanam.

Petani sawah tradisional menggunakan bajak kerbau atau sapi, di samping juga mesin bajak rotari.

Bibit padi sawah sudah dipersiapkan sebelumnya dalam bedeng persemaian, dan segera dipindah-tanam saat lahan sudah melumpur dan siap ditanami.

Pelumpuran, selain memudahkan bibit ditanam, juga aplikasi pupuk anorganik atau organik, disamping membenamkan gulma sebagai pupuk hijau.

Berikut disajikan contoh pengolahan tanah sawah secara tradisional menggunakan mesin bajak rotari:

Video: → https://www.youtube.com/watch?v=fNwEEyhIHao&feature=youtu.be

04 SepSmall Surjan?

PEMANFAATAN PEMATANG SAWAH

Efisiensi Luas Lahan

Syekhfani

Pemilikan sawah sempit (small holder), seperti pada lahan budidaya padi sawah di Pulau Jawa, yang secara turun temurun menerapkan sistem bagi waris, umumnya menghadapi masalah berkaitan dengan luas lahan garapan yang sempit dan produksi gabah rendah.

Pemilikan lahan sawah yang semula cukup luas (sekitar 5 hektar), dalam dua generasi menjadi hanya 0.25 hektar per keluarga petani.

Lahan tersebut tidak mampu memberikan daya dukung (carrying capacity) cukup untuk kehidupan keluarga petani.

Dampaknya, banyak petani yang menjual atau mengalih-fungsikan lahan sawahnya untuk mempertahankan kebelanjutan hidup, misalnya dijual untuk kapling rumah, lahan pabrik, atau penggunaan lahan lain.

Di pihak lain, petani subsisten (bertahan hidup sederhana), berupaya mengatasi masalah pendapatan dengan memaksimalkan produksi lahan: misalnya menanami area pematang sawah dengan jenis tanaman (sayuran, buahan, dsb.).

Sistim budidaya tanaman ini pada prinsipnya termasuk dalam SISTEM SURJANhttp://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/05/soil-sulfat-masam/ dalam bentuk mini (small Surjan?).

Guayava

Buahan (Jambu Biji).

Sayuran

Sayuran (Kacang Panjang).

03 JulBera dan Puasa

TANAH DAN TANAMAN PUN PERLU BERPUASA

Syekhfani

Bukan hanya manusia yang wajib melakukan puasa. Tanah dan tanaman pun juga wajib berpuasa agar supaya menjadi subur dan sehat.

Dalam budidaya intensif tanaman padi sawah, terutama di Jawa, dikenal ada masa bera yang dilakukan sekali dalam setahun, sehabis periode pertanaman, yaitu:

Padi-padi-(bera)

Padi-(bera)

Padi-padi-palawija-(bera)

Padi-palawija-palawija-(bera)

Padi-palawija-(bera)

Masa bera, adalah masa istirahat, saat mana tanah tidak ditanami tanaman budidaya dan dibiarkan tumbuh gulma.

Masa bera tergantung pada kemampuan pergiliran tanaman di suatu area, yang sangat ditentukan oleh zona (humid, arid, semi arid), sistem irigasi (teknis, semi teknis, non teknis), jenis tanaman padi/palawija (umur pendek, sedang, panjang), dan kemampuan petani.

Biomas gulma, kemudian diinkorporasikan ke dalam lapis olah tanah sebagai sumber bahan organik.

Manfaat bera, antara lain, yaitu:
• Memutus siklus hama dan penyakit tanah dan tanaman.
• Diversifikasi jenis tanaman dalam siklus tumpang gilir (relay planting).
• Sumber keragaman bahan organik tanah.
• Memperbaiki sifat fisik (stabilitas agregat, aerasi/drainase), kimia (pH, Eh, EC), fisiko-kimia (KPA-water holding capacity, KTA-cation exchange capacity) dan biologi tanah (kehidupan jazad makro dan mikro fauna/flora), dan
• Menumbuhkan ZPT, enzim dan “antibiotik” sebagai senyawa pemacu dan pemicu tumbuh tanaman.

Bera bagi tanah/tanaman identik dengan puasa pada manusia.

Bedanya:
• Pada manusia: melaksanakan perintah Sang Maha Pencipta (ibadah).
• Pada tanah/tanaman: melakukan teknologi budidaya dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan dan produksi tanaman (rekayasa).

Semua itu berkaitan dengan “hidup dan kehidupan” di dunia yang berguna – “useful life“.

Semoga!

11 JunIntegrasi Sistem Tani

Mina Padi

Minapadi: Budidaya Padi – Ikan

Syekhfani

Banyak cara memperoleh pendapatan ganda di lahan pertanian, di antaranya yaitu penerapan sistem “Minapadi“.

Minapadi, adalah istilah untuk budidaya ikan di lahan pertanian padi sawah.

Petani padi sawah punya peluang memelihara ikan di petak sawah tergenang (lebak, tambak, pasang surut) sehabis pindah tanam, saat pertumbuhan vegetatif, hingga menjelang panen (2 – 3 bulan, sesuai varietas tanaman padi yang ditanam).

Di saat perlu pengeringan, yaitu menjelang panen padi, ikan yang dipelihara bisa dipanen.

Jadi, petani memperoleh hasil ganda: padi dan ikan.

Namun, dalam budidaya minapadi tidak boleh ada penggunaan bahan kimia meracun (pestisida, fungisida, herbisida).

Jenis ikan yang dipelihara dipilih yang cepat tumbuh, tahan hidup di air terbatas (tergenang), dan tentu saja harus diminati konsumen.

Dalam sistem minapadi, terjadi simbiose mutualisme antara tanaman padi dengan ikan , di mana tanaman padi memperoleh tambahan pupuk organik dari kotoran ikan, sedang ikan memperoleh air dan pakan dari aplikasi pupuk organik atau biota air di petak sawah.

Kendala yang dihadapi antara lain: kekeringan, kualitas irigasi jelek, terkontaminasi oleh air sawah tetangga.

Minapadi sangat kondusif dilakukan pada budidaya tanaman padi: Lebak, Pasang Surut, Gambut, Tambak Ikan, Tepi Saluran Irigasi Primer, Tepi Sungai Landai (kerambak), atau Kawasan Cekungan.

Akhirnya, diperlukan penjagaan ekstra ketat terhadap tindakan pencurian ikan.

Minapadi tergolong budidaya PERTANIAN ORGANIK!

28 NovSOIL-Multiple Produce

 

MULTIPLE PRODUCE

(PRODUKSI GANDA)

 

Panen – Produksi – Efisiensi – Nilai

Syekhfani

 MP

 

Saat panen tiba, lahan sawah sibuk luar biasa. Petani beramai-ramai turun melakukan pekerjaan berat di terik matahari. Betapa tidak, empat bulan lamanya mereka telah bersusah payah mengolah lahan; membajak, memacul, menanam, memupuk, memelihara, dan hari itu akan memetik hasilnya.

2

Akankah jerih payah tersebut dibiarkan terbuang sia-sia? Tentu saja tidak, tidak sedikitpun produksi boleh hilang tercecer:  gabah, malai, jerami, sekam, menir, seluruh produksi.  Mereka semua harus dibawa pulang untuk anak isteri dan keluarga.  Ramai-ramai mereka panen, potongan jerami ditumpuk di lahan, lalu disusun di atas gerobak, kemudian ditarik dan didorong bersama. Dibawa pulang, diproses, dikonsumsi, dijual, dijadikan kompos, dijadikan pupuk, diberikan pakan ternak. Capek? Tentu iya, tetapi tidak terasa karena hati gembira.

3

Keringat mengucur di seluruh tubuh;  gerobak penuh dengan hasil produksi panen:  gabah, jerami, bahan kompos/pupuk, dan … UANG! Mereka tersenyum…

MP - 1

 

Itulah nuansa kehidupan petani.  Mereka tidak mengenal arti capek, dan tidak pernah menghitung harga tenaga sendiri.  Bagi mereka, tenaga sendiri tidak perlu dinilai uang, tetapi lebih dari itu… dinilai dengan keceriaan dan “Kebahagiaan”.

 

Petani, ahli yang benar-benar ahli, mengerjakan semua proses produksi dari A sampai Z…!!

 

18 NovSOIL-Rekayasa Irigasi-Drainase

 

REKAYASA  IRIGASI DAN DRAINASE

(IRRIGATION  AND  DRAINAGE  ENGINEERING)

 

Lahan Basah – Sulfat Masam – Redoks – Perembesan/Pencucian Hara – “sistem Surjan”

 

Syekhfani

 

Masalah irigasi dan drainase di lahan basah Sulfat Masam, dicirikan oleh reaksi tanah (pH) sangat rendah dan kandungan unsur tereduksi (Fe, Mn, S, C) tinggi berpotensi meracun akar tanaman, sehingga air tidak bisa digunakan untuk irigasi.

Sistem “Surjan”, merupakan salah satu alternatif solusi, yaitu dengan mengangkat medium tumbuh akar (tanah) menjadi galenganbedengan atau gundukan yang lebih tinggi dari permukaan air di petak lahan. Tinggi galengan, bedengan dan gundukan disesuaikan  dengan jenis tanaman yang dibudidayakan (tanaman semusim atau tahunan).

Aliran air kapiler (capilarry rise), mungkin mengangkut unsur-unsur naik ke medium tanah dan  menyebabkan perubahan pH dan/atau status unsur hara. Ekses unsur hara dan perubahan pH ini secara alami hanya akan diantisipasi saat hujan turun, yang akan melarutkan dan mencuci (leach) unsur berlebih masuk kembali ke dalam air di petak lahan.

Kesuksesan sistem “Surjan” berkolerasi dengan sifat perilaku tanaman, terutama tingkat toleransi terhadap fluktuasi pH dan status unsur hara.

Alternatif ameliorasi adalah pengaturan irigasi dan drainase saluran masuk dan keluar, atau reklamasi menggunakan amelioran (bahan organik, unsur basa/asam, dan lain-lain).

Secara praktikal, contoh:  petani di lahan pasang surut “sulfat masamRawa Muning, Kalimantan Selatan, atau juga di tempat lain, telah menerapkan sistem ini untuk tanaman semusim (sayuran, palawija, dan lain-lain);  atau tanaman tahunan (buahan: pisang, mangga, kelapa, dan lain-lain).

 4

Saluran Irigasi – Drainase, saat air pasang saluran ditutup dan air surut dibuka

2

Galengan Tanaman Semusim (Sayuran, Palawija), ameliorasi berupa pemberian pupuk kandang dan/atau pengapuran

1

3

Galengan Tanaman Tahunan (KelapaPisang), ameliorasi berupa pemberian pupuk kandang dan/atau pengapuran

 

17 NovSOIL-Sistem Tanam “Jajar Legowo”

 

SISTEM TANAM “JAJAR LEGOWO”

(“JAJAR LEGOWO” PLANTING SYSTEM)

 

Jarak Tanam Padi Sawah

 

Unik – Ampuh – Produktivitas Tinggi

 

Diangkat oleh: Syekhfani

 

0

 

PENDAHULUAN

 

Sistem tanam “Jajar legowo”, adalah teknis meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga budidaya akan memiliki barisan tanaman diselingi barisan kosong, di mana jarak tanam barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Manfaat dan tujuan:

1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 %, diharapkan meningkatkan produksi secara makro maupun mikro.

2. Adanya baris kosong mempermudah pemeliharaan, pemupukan dan kontrol organisme pengganggu tanaman (OPT).

3. Mengurangi kemungkinan serangan OPT tikus, lahan relatif terbuka kurang disukai hama tikus;  dan kelembaban lebih rendah menekan perkembangan penyakit.

4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.

5. Menambah efisiensi serapan sinar matahari pada tanaman yang berada pada barisan pinggir.

Lihat: tanam-padi-sistem-jajar-legowo

 

1

 

PANCA USAHA

Teknik Umum:

Dalam budidaya tanaman padi sawah dikenal istilah “Panca Usaha” pertanian, dalam hal ini meliputi:

1. Seleksi Benih

Langkah seleksi benih:
a. Benih dikoleksi dari gabah bernas yang betul-betul matang,
b. Masukkan air kedalam bejana seleksi dan tambahkan garam secukupnya,
c. Masukkan telur bebek ke dalam air garam, tambahkan lagi garam hingga telur mengapung,
d. Kemudian masukkan benih yang sudah diseleksi ke dalam air garam tersebut,
e. Benih mengapung dibuang, dan
f. Benih tenggelam digunakan untuk ditanam di persemaian.

2. Semai Benih

Pekerjaan:
a. Tanah yang dipakai untuk tempat media semai harus subur,
b. Gunakan baki berupa bejana luas dan datar, atau  papan dialas plastik,
c. Tanah dicampur kompos atau pupuk kandang,
d. Ketebalan media semai sekitar 2 cm,
e. Taburkan benih yang sudah diseleksi di media semai,
f. Jaga kelembaban media semai, dan
g. Bibit ditumbuhkan dalam waktu 10 hari.

3. Olah Lahan

Pengolahan:
a. Selesai panen lahan sawah diolah, jerami  tidak dibakar/dibuang, dibiarkan lapuk sebagai kompos,
b. Lahan sudah dibajak diratakan dan dipetak-petak agar lebih mudah mengontrol air,
c. Lahan diratakan dan atur air sawah mencapai macak-macak (Jawa, tidak tergenang dan tidak kering),
d. Ukur lahan dengan jarak tertentu (sistem konvensional atau jajar Legowo), dan
e. Dua hari sebelum tanam lahan di beri pupuk dasar, sebaiknya pupuk organik.

4. Tanam Bibit

Bibit berumur 10 hari siap di pindahkan ke lahan (pindah tanam), sebagai berikut:
a. Bibit dicabut dari media semai secara hati-hati,
b. Tanam bibit di lahan dengan jarak tanam yang sudah ditentukan,
c. Menanam benih jangan sampai dibenam seperti menanam benih ala konvensional,
d. Ambil bibit masih ada benih padi menempel, letakkan di lumpur dan tutup dengan lumpur setebal jari telunjuk, dan
e. Jaga media tanam agar tidak tergenang air.

5. Perawatan 

Beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan:
a. Setelah padi berumur 10 hari setelah tanam semprot dengan pupuk organik,
b. Umur 25 hari semprot lagi (tambah air agak banyak),
c. Umur 40 hari ulangi lagi penyemprotan,
d. Umur 60 hari kembali lagi disemprot,
e. (Atau beri pupuk seperti cara konvensuional, dianjurkan pakai pupuk organik),
f. Pertumbuhan padi yang baik: dalam satu rumpun ada 45 hingga 60 batang padi,
g. Satu tanaman padi bisa menghasilkan anak sampai 100 batang, tetapi panen kurang baik, dan
f. Setelah usia 2 bulan, sawah digenangi agar pertumbuhan anak padi tidak bertambah.

Lihat:  tips-cara-bercocok-tanam-padi

 2

 

SISTEM LEGOWO

  

TIPE SISTEM LEGOWO

 

Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo, Kepala Dinas Pertanian kabupaten Banjar Negara.

Ada beberapa tipe sistem tanam “Jajar Legowo”:

  1. Jajar legowo 2:1, setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1, setiap tiga baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1, setiap tiga baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan.

Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.

Lihat:  tips-tanam-jejer-legowo-dengan-alat-penanda-tali-dan-paralon-di-bpp-demung

 3

 

CARA MENGHITUNG JUMLAH TANAMAN

Rumusnya:
- Misalkan jarak tanam 25 x 25 cm, maka populasinya 160 ribu rumpun,
- JUMLAH PENAMBAHAN POPULASI, caranya:  1/(1+sistem tanam) x100 %

- Contoh legowo 2 : 1,

Penambahan jumlah tanaman legowo 2:1 = 1/(1+2) x 100 % = 33 %
Sehingga total tanaman menjadi = 160.000 rumpun + (33 % x 160.000) = 160.000 + 52.800
= 212.800 rumpun

- Contoh legowo 4 : 1,

Penambahan jumlah tanaman legowo 4:1 = 1/(1+4) x 100 % = 20 %

Sehingga total tanaman menjadi = 160.000 rumpun + (20 % x 160.000)
= 160.000 + 32.000 = 192.000 rumpun

Jarak Tanam untuk sistem tanam padi legowo, banyak macamnya bisa 20 x 25 cm, 25 x 25 cm, 25 x 30 cm, 30 x 30 cm dan lain-lain.

Lihat:  sistem-tanam-padi-legowo

 

15 NovSOIL-Fertilizer Synlocation and Synchronisation

  

1

 

SYNLOCATION AND SYNCHRONISATION

 (SINLOKASI DAN SINKRONISASI)

 

Penempatan Pupuk ~ Efisiensi ~ Pertumbuhan Akar

 

Syekhfani

Sinlokasi:

Akar tanaman tidak bergerak, atau bergerak sangat lambat sesuai periode pertumbuhan tanaman. Bila medium tumbuh mengalami kekurangan unsur hara (defisiensi), maka perlu dibantu  pemberian pupuk seputar perakaran aktif, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan efisien.

Sinkronisasi:

Saat tanaman baru tumbuh dari biji, stek, atau bibit pindah tanam, sistim perakaran masih terbatas. Demikian pula kemampuan akar menyerap (uptake) unsur hara masih sedikit. Dengan waktu, sistim perakaran makin berkembang dan kemampuan menyerap unsur hara pun makin meningkat. Pemberian pupuk harus sinkron dengan perkembangan sistim perakaran agar akar mampu menyerap unsur hara secara  efisien.

 

Aplikasi Pupuk dalam Praktik:

Prinsip dasar:  Mengikuti posisi tempat  akar aktif (sinlokasi) dan umur tanaman (sinkronisasi).

Tanaman padi sawah (tanaman semusim): petani telah melakukan mendekati lokasi perakaran aktif (seputar proyeksi tajuk) dan beberapa kali (split application), umumnya pada tanaman padi sawah tiga kali dengan interval waktu tertentu selama masa pertumbuhan vegetatif (misalnya, 10, 30, 45 hari setelah tanam, HST) disesuaikan dengan saat menyiang (“matun”, Jawa);  saat muncul primordia bunga pemupukan dihentikan.

Namun, dosis yang diberikan dibagi sama, yaitu: 1/3 bagian saat aplikasi ke-1, 1/3 bagian saat aplikasi ke-2, dan 1/3 bagian saat aplikasi ke-3.

Hal ini masih kurang tepat karena tidak menyesuaikan dengan kondisi perkembangan sistim perakaran tanaman.

Pada tanaman semusim lain (misalnya, sayuran), pada praktiknya aplikasi pemberian pupuk dilakukan dua hingga tiga kali secara split, sesuai dengan jenis tanaman.

Tanaman tahunan (pohon), umumnya pemupukan dilakukan dua kali:  awal dan akhir musim hujan, di mana masih ada air untuk melarutkan pupuk;  disebar merata di seputar proyeksi tajuk pohon.

Untuk padi sawah, lihat: → Aplikasi-pupuk-dan-dosis-pupuk-tanaman-padi

 

Aplikasi pupuk harus sesuai dengan sistim perakaran!

 

08 AugSOIL-Pengelolaan Irigasi DAS

 

PENGELOLAAN IRIGASI DAERAH ALIRAN SUNGAI  ~ WATERSHED IRRIGATION MANAGEMENT

 

Sumber air ~ Mata air ~ Air Sungai

 

Bahasan/Foto-foto:  Syekhfani

 

Air irigasi, bersumber dari mata air dan air sungai untuk kebutuhan masyarakat pedesaan ada dua kategori:  air minum penduduk dan air irigasi lahan pertanian.

Kawasan daerah aliran sungai (DAS) – watershed, berasal dari bagian hulu (upper stream), mengalir ke bagian tengah (midle stream), dan berakhir di bagian hilir (lower stream) dan muara.

Dalam perjalanannya, air hilang melalui rembesan (seapage), penguapan (volatile) atau digunakan (uptake) oleh manusia, hewan dan tanaman.

Agar kehilangan dapat diminimalisasi, diperlukan pengelolaan irigasi secara efisien dan efektif (efficiency use of water);  seperti pemasangan pipa, selokan, talang, penguatan tebing sungai, dan pengaturan pintu air.

Sistem pengelolaan irigasi di kawasan DAS, adalah sangat penting dilakukan demi peningkatan kesejahteraan petani di pedesaan.

IMG_0001

Mata air, untuk konsumsi air minum penduduk

IMG_0002

Tangki penampung air minum, dialirkan ke rumah penduduk

IMG_0003

Air minum dialirkan ke pemukiman melalui selokan

IMG_0004

Air irigasi lahan dialirkan melalui talang menyeberangi sungai

IMG_0005

Penguatan tebing sungai, mencegah erosi dan rembesan

IMG_0006

Pengaturan pintu air irigasi sungai

IMG_0007

Penggunaan air irigasi untuk padi sawah

Pengelolaan air irigasi berarti penambahan jumlah air untuk konsumsi penduduk dan perluasan area pertanian!

 

03 JulSOIL-Onfarm Paddy

 

ONFARM PADDY SOILS

(LAHAN SAWAH) 

 

Syekhfani

 

Onfarm paddy soils (lahan sawah),  adalah praktek petani di lahan sawah mulai dari pengolahan tanah, pengairan, persemaian benih, penanaman, penyiangan, pemupukan, penyemprotan hama, hingga panen.

Di Indonesia, praktek petani di lahan sawah umumnya masih bersifat tradisional berhubungan dengan sistem pemilikan lahan yang relatif sempit (gurem), yaitu sekitar 0.2 hingga 0.5 hektar per keluarga.

Oleh sebab itu, peralatan (maintenance) yang digunakanpun masih bersifat tradisional seperti misalnya: cangkul, bajak, garu, sabit, dan sebagainya, dibantu hewan seperti kerbau dan sapi.

Namun, untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, seringkali petani menggunakan bantuan alat mekanisasi sederhana, seperti traktor tangan (hand tractor).

Bagaimanapun, lahan sawah terbukti merupakan sistem pertanian tradisional yang berlanjut (sustainable) di Asia Tenggara.

Berikut disajikan gambar menampilkan praktek petani di lahan sawah tradisional.

00

Berangkat ke sawah menjelang matahari terbit

0

Pulang dari sawah menjelang matahari terbenam

1a

1b

Membajak bantuan kerbau

1e

Membajak menggunakan hand tracktor

 

2

Persiapan bibit di persemaian

2a

Penyiangan pertama secara manual (10 – 15 hari setelah tanam)

2b

Penyiangan pertama secara mekanik (10 – 15 hari setelah tanam),

1f

Pemasukkan pupuk organik (azola, jerami sisa panen), sebelum tanam

3a

Pemberian pupuk anorganik (setelah penyiangan pertama)

4a

Penyemprotan hama (setelah penyiangan pertama)

4b

Penyemprotan hama (setelah penyiangan kedua)

5a

Panen

 

Paddy Sawah is tradisional sustainable agriculture in south east Asia!

 

27 JunSOIL-Water Pollution

1

 

WATER POLLUTION

(PENCEMARAN AIR)

 

Bahasan/Foto-foto:  Syekhfani

 

Berbicara tentang Polusi, ada tiga jenis sumber polusi berdasar bentuk pembawa (carrier):  padat, cair, dan gas.  Masing-masing umumnya terbentuk dari suatu proses aktivitas industri menggunakan alat-alat mesin buatan manusia yang digerakkan secara mekanik.  Meskipun ada pula sumber pencemaran bersifat alami, misalnya gunung berapi.

Pada era abad ini, industrialisasi sangat dominan dalam menunjang perekonomian dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Sebagai dampaknya, lingkungan hidup makin hari  terasa makin sempit dan sesak akibat tercemar.

Sumber pencemar padat relatif mudah dilokalisasi, misalnya sampah.  Pencemar bentuk gas segera mengalami pengenceran di udara dan akan menjadi masalah ketika konsentrasinya mencapai nilai ambang batas (threshold value). Pencemaran bentuk cair relatif cepat menyebar, karena sifat air bergerak mengalir ke tempat lebih rendah, melalui saluran, selokan, atau pun sungai.

Bahaya pencemaran melalui air umumnya langsung tampak dalam kehidupan sehari-hari, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan yang menggunakan air sebagai kebutuhan kedua setelah udara.

Oleh sebab itu, penanganan limbah cair memerlukan manajemen yang terencana dengan baik.

Kualitas air limbah industri harus dikendalikan melalui perlakuan pembersihan air (water treatment), sebelum dialirkan ke saluran pembuangan (drainase).

Berikut, disajikan secara visual gambar-gambar pencemaran melalui air limbah dan area dampaknya di lapangan.

 

2

Air masuk (inlet) ke pabrik untuk proses industri

3

Air keluar (outlet) dari pabrik setelah digunakan dalam proses

4

Saluran pembuangan (drainase) setelah melalui water treatment

5

Air limbah mengalami eutrofikasi (pengkayaan unsur) mendorong pertumbuhan gulma air

6

Air limbah masuk ke saluran/sungai pembuangan (drainase) dan bercampur dengan berbagai sumber

7

Saluran irigasi/drainase pada pertanaman tebu, memberi kemungkinan air limbah masuk

8

Saluran irigasi/drainase kurang baik, kemungkinan mengalami pelimpahan air limbah

9

10

Tanaman padi dan tebu di lahan sawah yang berpeluang mengalami limpahan air tercemar

15 MaySOIL: Sulfat Masam

 

BUDIDAYA PERTANIAN DI LAHAN SULFAT MASAM

 1

 Contoh:  UPT Rawa Muning, Tapen, Kalimantan Selatan

  

Pengamat/Foto-foto:  Syekhfani

  • Tanah sulfat masam, adalah tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), dijumpai di daerah rawa, baik pasang surut maupun lebak.
  • Pada kondisi tergenang senyawa pirit bersifat stabil, namun bila kering dan teroksidasi berubah menjadi senyawa sulfat yang bermasalah bagi kimia tanah, air dan lingkungan.
  • Sebagian lahan sulfat masam telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi,  ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, tetapi umumnya di bawah potensi produksi tanaman.  Contoh:  di lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Rawa Muning, kabupaten Tapen, Kalimantan Selatan.
  • UPT Rawa Muning, dilengkapi sarana prasarana berupa saluran air untuk kepentingan transportasi serta sistem irigasi – drainase kawasan.
  • Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Namun, pada prakteknya sulit melakukan pengendalian air dengan baik. Terutama pada musim kemarau permukaan air tanah turun, terjadi oksidasi senyawa pirit menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah menjadi sangat masam.
  • Tanah-tanah teroksidasi, pada musim hujan mengalami proses reduksi dan  dalam bentuk besi ferro dan sulfida yang meracun tanaman.
  • Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, “sistem Surjan“).
  • Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.
  • Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.
  • Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.
  • Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah.
  • Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman. Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

4

Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Cempaka, Tapen, Kalimantan Selatan

6

Topografi datar, disiapkan untuk budidaya lahan sawah, dengan galengan sebagai batas pemilikan

3

Di bagian cekungan, air tergenang membentuk kolam abadi, ditumbuhi teratai

9

Musim kemarau, permukaan air turun, medium perakaran mengalami oksidasi

Pada musim hujan berikutnya, medium perakaran kaya sulfat dan pH sangat rendah (oksidasi pirit)

12

Musim penghujan, tanaman kelapa (Coccus nucifera) di galengan tumbuh normal

13

Musim kemarau, tanaman kelapa di galengan kering dan mati

14

Musim kemarau, tanaman padi sawah (Oryza sativa) menunjukkan gejala defisiensi dan/atau keracunan unsur hara

15

Musim kemarau, masih ada air terutama di saluran irigasi/drainase

16

16 (2)

Saluran air dan kolam abadi, menghasilkan ikan khas rawa masam (Gabus, Papuyu, Sepat, Saluang, dan lain-lain)

17

Keluarga kecil transmigran

18

Rumah transmigrasi yang ditinggalkan