Archive for the 'Lahan kering (upland)' Category

09 JunBudidaya Ubi jalar

SUMBER KARBOHIDRAT

http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar

Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas L.) adalah sejenis tanaman budidaya.

Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi.

Umbi yang siap diolah

Gambar 1. Umbi yang siap diolah

Bunga ubi jalar

Gambar 2. Bunga ubi jalar

Di Afrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting.

Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya.

Ubi jalar berasal dari Amerika Selatan tropis dan, yang masih diperdebatkan, Papua.

Kalangan yang tidak menyetujui asal muasal ubi jalar dari Papua berpendapat bahwa orang Indian telah berlayar menuju ke barat melalui Samudra Pasifik dan membantu menyebarkan ubi jalar ke Asia.

Ubi jalar dapat dibudidayakan melalui stolon/batang rambatnya.

Cara menanamnya cukup mudah, dengan mencangkul lahan yang mau ditanami sehingga stolon/batang rambat ubi jalar mudah dimasukkan dalam tanah. Pemeliharaannya cukup mudah.

Ubi jalar akan tumbuh baik bila lahan terkena matahari langsung, dipelihara dari gulma untuk menghindari persaingan unsur hara di sekitar tanaman.

Pemberian pupuk UREA atau pupuk Organik akan menambah hasil panen yang lebih bagus.

Panen ubi jalar dilakukan dengan mencangkul sekitar tanaman, menjaga agar umbi tidak rusak terkena cangkul atau alat pertanian.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/28/soil-ubi-lahan-kering/

08 MayHidup Di Huma

SANG PIATU

Cerita Rakyat Suku Semende

Syekhfani

1. INGIN JADI ORANG

Sang Piatu, tinggal di huma dengan nenek. Ibu-bapaknya telah meninggal sejak ia kecil. Nenek sangat sayang padanya. Maklumlah, nenek hidup sendiri. Dipenuhi segala kebutuhan sang cucu meski sangat bersahaja, jauh dari mewah.

Begitulah hidup di huma, berbeda dengan di dusun, apalagi kota, tapi tak dipusingkan oleh kesibukan dan tata krama. Cucu dan nenek itu hidup bahagia.

Sehari-hari nenek bekerja di huma. Menanam padi, jagung, ketela, sayur-sayuran, dan lain-lain. Sang Piatu selalu mendampingi nenek.

Sang Piatu membantu nenek bersiang di huma, memetik dan memasak hasil tanaman memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dangau tempat tinggal Sang Piatu dan nenek pun sangat sederhana. Bertiang kayu, beratap ilalang dan berdinding anyaman bambu.

Dekat pondok, terdapat pancuran. Berasal dari sumber lereng atas huma. Air yang jernih dan sejuk tak pernah berhenti mengalir. Kebutuhan air Sang Piatu dan nenek tercukupi, bahkan bisa membuat kolam tempat pelihara ikan dan itik.

Ayam berkeliaran di sekitar pondok, berceloteh dan berkokok membawa nuansa damai dan alami. Sepi di situ, tapi tidak akan merasa kesepian!

Kelebihan air kolam, mengalir menuju luang kecil, bertemu anak sungai yang merupakan hulu sungai besar yang mengalir menuju lautan.

Se waktu-waktu hewan peliharaan Sang Piatu di bawa nenek ke pekan dusun, terletak tidak terlalu jauh dari situ; dijual dan uangnya digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari: gula, garam, ikan asin, minyak kelapa, minyak tanah, atau bahan lain yang tidak ada di huma.

Sang Piatu kecil selalu ikut ke pekan. Di pekan itu, ia tak beranjak dari dekat nenek. Maklumlah, ia belum berani bergaul dengan orang lain.

Sang Piatu kecil makin hari tumbuh makin besar, sehat dan kuat. Tinggal di huma dan selalu bekerja, mendorong tubuh Sang Piatu berkembang pesat secara alami. Kala itu, umurnya telah menginjak lima tahun.

Suatu pagi, sehabis sarapan, nenek berkata:

+ “Cungku*, kamu sudah besar. Sudah waktunya cari pengalaman hidup” – *(panggilan sayang nenek terhadap cucu)

- “Aku harus apa, nek?”

+ “Pergilah ke dusun yang ada pekan itu. Di situ akan banyak yang menarik”

-“Iya Nek!” (meskipun ragu)

Keesokan harinya, Sang Piatu pamit pada nenek untuk pergi cari pengalaman.

Hari itu, matahari pagi bersinar cerah. Sang Piatu melangkah gontai di jalan sepi menuju ke arah dusun.

Di suatu pojok pengkolan, Sang Piatu berhenti. Ada suara remang-remang kedengaran. Perlahan-lahan dia mendekat. Mendadak bulu tengkuknya meremang.

Di pojok itu, tampak olehnya orang tua berjenggot lebat, berkepala botak komat-kamit bicara sendiri tidak keruan.

Di dekatnya ada baki berisi makanan seperti disajikan saat buka puasa. Ada piring berisi serabi, lemang, pisang, dan bebera kue lain; ada gelas berisi air putih, dan ada pula piring tanah berisi bara api berasap.

Sebentar-sebentar ‘Pak Tua’ menaburkan serbuk ke bara api, menambah kepulan asap berbau aneh menyengat.

Sang Piatu tiba-tiba merasa sangat takut, setengah sadar ia lalu lari sipat kuping menuju huma.

Nenek sangat terkejut:

+ “Ada apa Cungku?!”

- (tersengal-sengal) “Di… di… sana tu… Nek! Aaa.. ada… orang… botak berjanggut putih… bicara tidak dimengerti…!”

+ “Lagi apa dia, Cung?”

- “Tidak tau,Nek! Ada tempat berisi makanan di dekatnya. Ada pula tempat api dan asap bau aneh berkepul-kepul…!”

+ “Apa lagi, Cung?”

- “Ada bakul penuh gabah…”

+ “Oo… dia ‘Pak Tua’ mau menugal benih padi di huma, Cung. Dia membaca mantra sambil membakar menyan,agar hasil panen nanti berlimpah”

*(… Menurut adat, penugalan benih padi di huma diawali dengan upacara ritual Awal Tanam. Upacara ini dimaksudkan agar padi yang ditanam dapat tumbuh baik dan terbebas dari hama penyakit. Dalam upacara ini disediakan sesaji berupa Serabi empat puluh, bubur sembilan, lemang tujuh batang, satu bumbung air, junjung dan benih-benih padi yang direndam air selasih atau kemangi. Lalu baca mantera tolak bala. Selanjutnya penugalan dengan tujuh mata tugal yang diisi dengan benih padi. Setelah itu segala kegiatan dilahan tersebut diistirahatkan selama 7 hari. Kemudian kegiatan penugalan dilanjutkan hingga selesai. Dalam masa pemeliharaan tanaman padi ini dibuat gubuk tempat berteduh…)

- “Tapi aku takut, nek!”

+ “Tak usah takut Cungku, ajak ‘Pak Tua’ tu ngomong. Bilanglah ‘Aku ikut berdoa panen melimpah, Pak..’” (*Cungku = Cucuku Cucung = cucu)

+ “Abis berdoa, makanan tu akan dikasihkan cucung”

- “Iya Nek, kalu gitu nanti akan cucung ingat”

Beberapa hari kemudian, Sang Piatu pamit mau cari pengalaman. Ketika itu matahari bersinar sangat terik. Sang Piatu hampir tak tahan terkena panas.

Tak jauh dari dusun, tibalah Sang Piatu di tempat terlindung pohon bunga-bungaan putih dan harum. Sang Piatu menuju ke sana untuk berteduh.

Tiba-tiba Sang Piatu mendengar ada suara seperti pernah ia dengar dulu di dekat huma Pak Tua.

Di pojok,terdengar “mantra” seperti dilantunkan ‘Pak Tua’ tempo hari.

Kali ini Sang Piatu tak lagi takut. Ia sudah tahu dari nenek agar tidak takut kalau orang baca mantra, untung-untung diberi makanan.

Sang Piatu berpikir, mendekat atau tidak, ya??

Kembali ia ingat kata nenek dan membayangkan diberi kue. Perutnya berbunyi tanda waktunya diberi makan.

“Kapan bisa jadi orang, kalau selalu ragu” (katanya dalam hati)

“Aku harus berani!”

Mengendap-endap Sang Piatu mendekati sekelompok orang yang sedang duduk mengitari gudukan tanah galian. Di dekat situ ada keranda.

Sang Piatu tidak tahu tentang kuburan, apalagi keranda, semua itu tidak ada di huma.

“Kau harus berani!” (katanya sekali lagi dalam hati)

“Kudoakan nanti makin banyak…!” (Tiba-tiba Sang Piatu memecah keheningan pekuburan)

Orang-orang kaget dan serentak menoleh.

“Hai, apa katamu??!” (teriak salah seorang dari mereka)

“Anak kurang ajar!!” (orang itu melotot marah)

Ternyata orang itu adalah salah satu dari keluarga yang sedang berduka.

Orang itu mengacu-ngacukan cangkul bekas menggali kubur.

“Kupacul kepalamu, anak kurang ajar!!”

Sang Piatu ketakutan, tanpa pikir panjang ia lari pontang-panting ke huma.

“Neek… Neneek… aku mau dipukul!”

“Siapa Cung, mana?!” Nenek keluar tergopoh-gopoh.

“Di sana, nek… dekat dusun itu!”

“Mengapa?”

“Orang yang baca mantra di bawah pohon bunga putih, ia marah-marah saat kukatakan ’aku ikut berdoa agar makin banyak…’, ia mau memukulku dengan pacul”

“Mereka itu duduk mengelilingi tanah yang baru dipacul”

“Oo.. Cungku, mereka itu sedang mengubur orang yang baru saja mati”

“Tentu saja ia marah, karena mereka baru kehilangan seorang yang disayangi”

“Mati,nek? Kayak mak-bapakku seperti cerita nenek?”

“Betul, Cung. Mereka tak mau didoakan agar ada lagi keluarganya yang mati”

Sang Piatu tercenung. Ia tidak mengerti mengapa orang akan mati, dan mengapa orang mati harus dikubur.

“Cucung mesti bilang ‘aku ikut bersedih dan berdoa, semoga yang mati itu masuk sorga’”

Sang Piatu mengangguk-angguk dan berjanji dalam hati, kelak tidak lagi akan ada salah paham. Nasehat nenek itu benar-benar harus diingat.

2. UPACARA TURUN MANDI

Pagi hari yang cerah, matahari menapak naik menyinari bumi; memancarkan cahaya emas kemilau, memberi kehangatan hidup dan kehidupan di muka bumi.

Di suatu tempat mandi di bagian hulu dusun, air pancuran bambu dari sumber,mengalir gemercik memeriahkan tempat mandi penduduk pedusunan.

Terdengar riuh rendah gelak-canda para ibu-ibu tua-muda yang pagi itu berkumpul di situ.

Nuansa tersebut biasa terjadi sehari-hari, karena tempat itu adalah pemandian umum.

Namun hari itu, kelihatannya istimewa karena ada peralatan untuk upacara ‘Turun Mandi’, yaitu pertama kali bayi dimandikan diluar rumah.

Hari itu, Sang Piatu kecil sedang menuju dusun itu untuk cari pengalaman.

Dia terpesona manakala tiba dekat pemandian. Diam-diam diperhatikan tingkah laku ibu-ibu di pancuran itu.

Dia khawatir kalau-kalau salah lagi dalam bersikap, seperti dulu waktu di kuburan.

Keinginan Sang Piatu memperoleh pengalaman, mendorong dia asyik mengikuti tingkah laku ibu-ibu yang bercanda ria. Ada tangis anak bayi melengking di sela ketawa.

Seorang ibu tua berdoa panjang-lebar, sambil mengelus-elus kepala bayi. Kuncir sang baik digunting sedikit, tanda dia sudah bisa dimandikan di alam terbuka.

Di atas batu besar yang bagian atasnya datar, tampak talam penuh berisi serabi, lemang, wajik, pisang dan lain-lain.

Sang Piatu tak syak lagi mereka sedang membaca doa keselamatan. Pelan-pelan dia mendekat:

‘Aku ikut bersedih dan berdoa, semoga anak ibu masuk sorga dan diampuni segala dosanya..’” (Sang Piatu cari simpati)

Bukan kepalang marahnya para ibu itu, terutama ibu anak bayi. Didatanginya Sang Piatu lalu ditampar pipinya.

“Kurang ajar, kamu doakan anakku mati, ya?!” (kata sang ibu garang)

“Pergi cepat dari sini, kalau tidak, kudorong kamu masuk selokan itu!”

Sang Piatu kaget, dia tidak habis pikir mengapa seseorang yang ingin berbaik hati malah dicaci-maki.

Sang Piatu akhirnya pulang dengan sedih ke huma.

Sepanjang jalan dia termenung, bagaimana seharusnya harus bersikap kalau ada upacara mandi di pancuran. Dia tidak sampai hati bila selalu harus tanya nenek kalau ada hal-hal aneh yang dialaminya.

Pokoknya, dia bertekad akan mengatasi dengan pikirannya sendiri.

3. DILEMPAR KOTORAN

“Kapan lahirnya, semoga lancar-lancar saja tanpa halangan..”

Sang Piatu bicara perlahan-lahan dekat pancuran tempat upacara ‘turun mandi’ beberapa hari lalu.

Ia sedang belajar berucap agar bisa mendapat empati dari para ibu, yang ternyata marah-marah serta mencaci-makinya setelah dia salah ucap.

“Aku berniat baik, cuma mengharap sedikit lemang atau pisang goreng’” (kata Sang Piatu mengeja kata-kata)

“Maaf, aku tak ingin mengganggu..”

Tiba-tiba, muncul seseorang dari balik gerombol selokan yang mengalir di bagian hilir pancuran.

“Ini lemang, ambil dan makanlah!” (katanya meradang sambil melemparkan kotoran)

‘Anak kecil mengganggu saja, tidak tahu orang sedang menikmati ‘buang air besar’!” (Untung Sang Piatu tidak kena lemparan)

Namun terpaksa dia menutup hidungnya karena bau.

Wah, wah… susah mencari pengalaman hidup itu, ya?

He he he…

Link: https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8918849364576846393#allposts/postNum=0

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

02 FebManajemen Tanah Salin

KIAT MENGATASI EKSES NATRIUM

Syekhfani

Tanah salin (saline soils), adalah tanah mengandung kadar natrium (Na) tinggi, di mana Exchangable sodium percentage (ESP), Sodium Adsorption Ratio (SAR) dan daya hantar listrik (DHL) tinggi.

Gb 1. Endapan garam di permukaan tanah

Gb 1. Endapan garam di permukaan tanah

Tanah salin, berkembang di sepanjang pantai landai, dari rembesan (seapage) air laut , dan pada lahan zone arid atau semi arid yang dibudidayakan secara intensif, pengaruh gerakan air tanah melalui pembuluh kapiler (capillary rise) mencapai permukaan kemudian air menguap (evaporasi) meninggalkan konsentrasi garam di permukaan tanah.

Vegetasi tumbuhan yang berkembang di zone salin didominasi oleh jenis toleran terhadap kadar garam tinggi. Contohnya, bakau, kelapa, waru laut, dsb. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/09/30/hidup-di-tepi-pantai/.

Gb 2. Panorama Pantai Tamban

Gb 2. Panorama Pantai Tamban

Natrium (Na), unsur monovalen, bersifat mendispersi agregat, sehingga tanah salin bersifat padat, lepas, mudah tererosi dan drainase jelek.

Apabila lahan salin akan dibudidayakan untuk tanaman pertanian, maka dibutuhkan kiat-kiat sebagai berikut:

A. Ameliorasi Tanah:

Untuk lahan beririgasi teknis dan non-teknis (tadah hujan), dilakukan:

a. Pengaliran air tawar untuk membilas kelebihan Na.

b. Ameliorasi tanah menggunakan bahan kapur, bahan organik, atau agen pengondisi tanah (soil conditioner).

c. Mejaga keseimbangan unsur, penambahan bahan organik, mengatur sifat fisiko-kimia tanah, dll. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/01/soil-lumpur-marin/.

Gb 3. Lumpur Marin

Gb 3. Lumpur Marin

c. Agar efek ameliorasi bahan organik bersifat jangka panjang (sustainable), maka digunakan bahan organik siklik, aromatik yang sukar mengalami perombakan oleh mikroorganisme. Contohnya: asam humat, biochar. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/01/09/asam-humat-dan-biochar/.

d. Dilakukan pemberian basa-basa polivalen (kapur Ca, Mg-karbonat) untuk menjaga keseimbangan basa-basa dan memflokulasikan partikel terdispesi, sehingga aerasi dan drainase tanah menjadi lebih baik.

B. Jenis Tanaman:

a. Dicari jenis, varietas atau klon tanaman toleran terhadap kadar garam tinggi. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/07/22/tanaman-toleran-salinitas/.

b. Penanaman sistem “Surjan” (guludan, gundukan) untuk mencuci Na saat musim penghujan. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/30/sistem-surjan/.

Gb 4. Sistem Surjan

Gb 4. Sistem Surjan.

26 AugSustainable Upland

Ubi Lahan Kering

PENGEMBANGAN UPLAND DI INDONESIA

Syekhfani

Letak geografis Indonesia berada di zona tropika basah dan alur rangkaian gunung berapi, memberikan potensi kesuburan lahan alami berupa batuan induk vulkanik dan bahan induk organik yang berlimpah; namun cepat mengalami degradasi.

Potensi dan kendala ekstrim ini memerlukan pengelolaan kesuburan yang rasional sesuai kaedah-kaedah konservasi agar dapat berfungsi sebagai sumberdaya lahan tanaman pangan berdaya dukung tinggi.

Di pulau Jawa, dominasi bahan induk vulkan dari banyak gunung berapi aktif, menjadi sentra produksi pangan utama, dengan tingkat kesuburan tinggi; didukung pengembangan intensifikasi dalam kurun cukup lama.

Di luar pulau Jawa, budidaya pertanian intensif seperti Bali, Lombok, dan beberapa lokasi di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua, tampak berkembang serupa meski tidak seintensif di Jawa.

Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras, disuplai oleh lahan sawah (lowland) yang yang seharusnya dapat bersifat sistem hara tertutup (close nutrient recycling); dengan catatan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

Untuk mendukung ketahanan pangan, maka perlu adanya bahan pangan sekunder (ubian, buahan), yang berbasis pada lahan kering (upland); atau lahan sawah tumpang-gilir (relay planting) dengan padi sawah.
Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/sumber-pangan-alternatif/
http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/soil-ubi-lahan-kering/

Intensifikasi pertanian, terutama di pulau Jawa dan ekstensifikasi dan/atau menuju intensifikasi di luar pulau Jawa, menunjukkan tingkat perkembangan lahan yang berbeda secara kontras; terutama dari aspek potensi lahan dan status kesuburan tanah.

Intensifikasi di Jawa dilakukan secara luas dan menyeluruh di lahan budidaya tanaman padi sawah, menggunakan paket teknologi (termasuk penggunaan pupuk NPK) secara terus menerus sejak awal tahun 1970-an; dalam program Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, dan seterusnya, hingga tahun 1990-an.

Setelah pencapaian swasembada beras tahun 1984, terasa peningkatan produksi gabah semakin berat, produktivitas “melevel” (levelling off) dan bahkan cenderung menurun (decline).

Disinyalir telah terjadi ketidak-imbangan status unsur hara dalam tanah, di mana kandungan unsur hara makro (P dan/atau K) tinggi, sedang unsur hara semi makro (S) serta unsur hara mikro (Zn) cenderung rendah; muncul gejala defisiensi unsur di beberapa lokasi sentra produksi padi. Hal yang sangat spektakuler adalah kandungan bahan organik ternyata sudah “sangat rendah” (di bawah 1%).

Sejalan dengan rendahnya kandungan bahan organik, aplikasi pupuk N selalu menunjukkan respon; bahkan tanpa pemberian pupuk nitrogen produksi tidak dapat diharapkan.

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shipting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia. Kesimpulan dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

2. Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, sedikit mengalami perkembangan hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

3. Pada lahan luar Jawa P, K dan pH semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa, di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

4. Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

Opsi terakhir di atas tergolong pada sistem budidaya lahan kering (upland); yang merupakan sistem siklus hara terbuka (open nutrient recycling) dan bermasalah dalam hal erosi dan pencucian.

Alternatif antisipasi adlah melalui penerapan sistem budidaya dengan masukan teknologi bersifat berkelanjutan, antara lain yaitu (Garrity, 1983):

1. Sistem tanaman pagar kontur,

2. Ketersediaa Fosfor sebagai penghambat kritis,

3. Pengurangan pengolahan tanah,

4. Pengembangan sistem bera, dan

5. Diversifikasi budidaya pada lahan sempit.

Lihat: → Lindert, Peter H., 2000. Shipting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia. The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

Lihat: → Garrity, Dennis P. 1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66; in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme’ International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Spec. Publ. No. 56.

21 AugDrought Impact

Kekeringan

UPAYA MENGATASI

Menyimpan Air – Amandemen Struktur Tanah – Manajemen Sistem Perakaran

Syekhfani

Masalah kekeringan menjadi faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman lahan kering (upland); hal ini sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tanaman di zona kering dan semi kering (arid, semi arid zone): seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan beberapa lokasi di Indonesia.

Oleh karena faktor irigasi menjadi sulit sehubungan dengan masalah teknis dan biaya, maka untuk mengantisipasi masalah kekeringan di Indonesia perlu dicarikan alternatif pemecahan.

Ada tiga faktor utama yang dapat menjadi pertimbangan dalam memecahkan masalah kekeringan, yaitu: simpanan air solum tanah, penetrasi akar,dan jenis serta sistem perakaran.

1. Menyimpan Air: daya simpan air (water holding capacity) dapat ditingkatkan melalui pengaturan porsi fraksi liat, debu, pasir (tekstur) dan pemberian bahan organik di zona perakaran,

2. Daya penetrasi akar: daya penetrasi akar diupayakan dengan cara peningkatan kemampuan akar menembus solum tanah, dan

3. Sistem perakaran: diversifikasi zona kedalaman perakaran diupayakan dengan cara peningkatan kemampuan akar menembus solum tanah dan memilih jenis tanaman dalam sistem pertanaman ganda (multiple cropping system).

Alternatif solusi

Lihat: → http://www.bewaterwise.com/drought.html

21 JulManajemen Spesifik Lokasi

Tembakau Madura

TANAMAN TEMBAKAU MADURA

Upaya Peningkatan Fosfor Tersedia

Syekhfani

Tanaman tembakau Madura, merupakan jenis tembakau rajang dengan kandungan nikotin rendah, beraroma spesifik, digunakan untuk rokok kretek. Berdasarkan ciri aroma yang spesifik tersebut, tembakau Madura dikatagorikan sebagai tembakau aromatis semioriental.

Tembakau Madura umumnya ditanaman pada lahan kering dengan topografi berbukit, jenis tanah Litosol dan tekstur tanah liat berkapur yang mengandung pasir dan berbatu dengan pH lebih dari 7.

Bahan induk kapur menyebabkan kandungan fosfat tersedia bagi tanaman rendah, bahkan dapat sangat rendah (1 mg.kg-1 tanah atau kurang).

Selain ketersediaan fosfat rendah, tembakau Madura seringkali terserang penyakit batang berlubang, oleh bakteri Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum (sinonim Erwinia carotovora subsp. carotovora), banyak dikeluhkan oleh petani.

Upaya umum dalam mengatasi masalah fosfor tersebut yaitu dengan aplikasi pupuk sintetis; dikhawatirkan berdampak buruk terhadap sifat kimia, fisik dan biologi tanah dan pencemaran lingkungan.

Alternatif yang lebih aman adalah pendekatan menggunakan bantuan mikroba rhizosfer, yang berperan dalam siklus hara, mineralisasi, antagonis terhadap patogen, menghasilkan senyawa fitohormon dan membentuk hubungan simbiosis mutualisme dengan tanaman.

Kelompok plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) yang tergolong dalam Psedomonad pendarfluor (PF) dan cendawan mikoriza arbuskular (CMA) merupakan mikroba-mikroba yang dapat membentuk hubungan simbiosis mutualisme dengan tanaman.

PF yang termasuk golongan PGPR mempunyai kapasitas sebagai pelarut fosfat sehingga dapat meningkatkan ketersediaan fosfat di rhizosfer, mampu menghasilkan fitohormon dan bersifat antagonis terhadap patogen tular tanah karena menghasilkan antibiotik dan siderofor.

CMA merupakan cendawan yang berasosiasi erat dengan akar tanaman membentuk simbiosis mutualisme, CMA mendapatkan gula dari tanaman sedangkan tanaman mendapat nutrisi seperti fosfat dari CMA.

Namun demikian, informasi tentang potensi isolat PF yang terdapat di rhizosfer tembakau Madura masih belum tersedia, oleh karenanya eksplorasi (kajian) yang luas terhadap isolat-isolat PF indigenus Madura perlu dilakukan baik potensinya dalam meningkatkan ketersediaan fosfat, antagonisnya terhadap patogen maupun interaksi dari asosiasinya dengan CMA sebagai mikroba rhizosfer lain yang bermanfaat.

Berdasarkan kajian tersebut diharapkan amendasi isolat PF atau asosiasi isolat PF dengan CMA dapat menurunkan aktivitas aplikasi pupuk fosfat dan meningkatkan efisiensi budidaya tembakau Madura.

Lihat: → Publikasi Ilmiah

13 DecSOIL-Berkebun Stroberi (Gardening Strawberry)

 

Stroberi

 

BERKEBUN STOBERI

(GARDENING STRAWBERRIES)

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Berkebun stroberi (gardening strawberry),  memerlukan teknologi khusus apabila ingin dilakukan di Indonesia yang beriklim tropis, pada kondisi tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering;  karena tanaman stroberi aslinya berasal dari  daerah beriklim temperate (sedang).

Budidaya stroberi tergolong teknologi masukan tinggi (high input technology). Lihat → SOIL-Pertanian Organik Masukan Tinggi.

Teknis penanaman stoberi mulai dari perencanaan, persiapan, penanaman, perawatan, hingga persiapan tanam musim berikutnya, disajikan berikut:

Perencanaan

  • Rencanakan pertanaman di awal musim pertumbuhan yang tepat.
  • Stroberi merupakan tanaman sub-tropis yang tumbuh baik pada musim semi.  Namun, beberapa spesies telah beradaptasi baik dengan iklim tropika basah Indonesia.
  • Agar memperoleh hasil terbaik, sebaiknya disiapkan bedengan baru di tempat mana stroberi sudah berbuah. 

Persiapan

  • Pilih tempat yang memperoleh sinar matahari penuh dan drainase serta sirkulasi udara yang baik.
  • Terapkan pemberian pupuk lengkap seperti 5-10-10 (500 gram per 1.5 meter baris) sebelum tanam.

Penanaman

  • Jarak antar baris dalam bedengan adalah 4 meter.
  • Panjang akar tanaman baru tidak lebih dari 7.5 cm. Rendam akar dalam air selama sekitar satu jam sebelum tanam.
  • Atur jarak tanaman dalam baris 25 cm.
  • Buat lubang tanam cukup dalam sehingga seluruh akar tertimbun tanah, tetapi tajuk tidak tertimbun. Siram tanah seputar perakaran dengan sekitar 1/2 liter larutan pupuk diencerkan dengan air.

Perawatan

  • Tahun pertama, awal musim kemarau: Jaga bedengan agar bebas dari gulma. Seleksi bunga untuk calon buah dan dorong produksi buah yang sehat.
  • Akhir musim kemarau: 5 sampai 6 minggu setelah tanam, tanam tunas sebagai sulaman ditanam dalam baris dengan jarak 15 x 15 cm.
  • Akhir musim kemarau dan awal musim hujan: sebar pupuk di samping baris tanam dengan amonium nitrat (250 gram tiap 1.5 meter baris), 5-10-10 (1.25 kg per 1.5 meter baris), atau  pupuk kandang cair (50 sampai 100 ml per tanaman). Lakukan lagi 1 bulan kemudian.
  • Tahun kedua, akhir musim hujan: Hilangkan mulsa secara bertahap di musim hujan, tapi lindungi bunga dengan mulsa, jika diperlukan. Sediakan 1.5 cm air per minggu, mulai berbunga hingga panen.
  • Tutup bedengan dengan kain kasa atau jaring agar buah stroberi tidak dimakan burung.
  • Musim panas: Setelah panen tanaman bawah, hingga tanaman sulaman, siapkan bedengan  untuk tanaman baru musim berikutnya.

Panen

  • Buah beri akan matang sekitar 1 bulan setelah tanaman berbunga. Masa panen 2 sampai 3 minggu, tergantung masing-masing varietas.
  • Pilih buah yang segar dan mulus setiap 2 atau 3 hari. Hindari buah berujung hijau yang tidak sepenuhnya matang.
  • Ketika panen, jangan sisakan buah pada tanaman, karena mereka mendorong tanaman busuk.

 

Lihat: →  http://www.garden.org/foodguide/browse/fruit/strawberry/1231, dan

National Gardening Association 237.  Commerce St Suite 101, Willington, VT 05495 ©2013.

 

19 NovSOIL-Reklamasi Bekas Tambang Batubara

 

REKLAMASI BEKAS TAMBANG BATUBARA

(EX-MINE COAL RECLAMATION)

 

Tambang terbuka – Topsoil Hilang – Reklamasi

 

Syekhfani

 

Indonesia kaya dengan tambang “batubara“, seperti di pulau Sumatera (Tanjung Enim, Padang) dan Kalimantan (tersebar di banyak tempat di Kalimantan Selatan dan Timur).

Praktik penambangan sistem terbuka (open mining) berdampak pada hilangnya lapisan tanah permukaan (topsoil), sehigga setelah penambangan selesai (pasca tambang), subsoil yang terungkap tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman, kecuali bila dilakukan reklamasi (rehabilitasi) lahan.

 0

 

ALTERNATIF SOLUSI

   

Biologi – Fisik – Kimia – Terpadu

 1. BIOLOGI:

Cover Cropping System,

Tumbuhan cover crop (penutup tanah): dari jenis legum (pohon, semak, rumput) yang mempunyai toleransi tinggi terhadap kondisi tanah marginal, misalnya:  pohon, Albizia falcataria, Acacia mangium, dan lain-lain;  semak, Calliandra calothyrsus, Leucaena leucocephala, dan lain-lain;  rumput, Desmodium heterophyllum,  Centrosema pubescens, Calapogonium mucunoides dan lain-lain.  Penutupan permukaan tanah dilakukan secara cepat dengan biomasa cukup banyak. Dengan waktu, subsoil bisa diubah menjadi topsoil. Diperlukan tindakan konservasi sisa pelapukan bahan organik hasil dekomposisi, terutama karena erosi.

 1

Albizia falcataria

 

2

 

Calliandra calothyrsus

 1. Desmodium  (Desmodium heterophyllum)

Desmodium heterophyllum

Lihat:  Dancing Desmodium gyrans

2. FISIK:

Landfill  System,

Topsoil hutan alami, sedimen lumpur sungai (aluvium), sedimen cekungan (koluvium), sedimen marin (luapan, terangkat), dan sebagainya. Bila memungkinkan dilakukan penutupan permukaan lahan (landfill) dengan bahan sedimen tersebut. Problem yang mungkin dihadapi adalah transportasi dan erosi.

 3. Timbunan Lumpur  Endapan Marin

Endapan Lumpur Marin

2. Timbunan Lumpur Endapan Sungai

 Endapan Lumpur Sungai

3. KIMIA:

Soil Amandement and Amelioration,

Bahan organik alami, kompos kota, akumulasi kotoran hewan (guano walet, kelelawar), bahan tambang organik (Leonardite), dan sebagainya. Hal sama seperti pada perbaikan sifat fisik dihadapi pula pada sifat kimia.  Terlebih lagi, keterbatasan dan persaingan dengan sumber pupuk organik yang harganya tinggi.

 4. Timbunan Guano

Lapisan Timbunan Guano

 

4. TERPADU (Fisik + Kimia + Biologi): Rekayasa kesuburan tanah terpadu, akrab lingkungan dan berkelanjutan.

 

Reklamasi lahan bekas tambang butuh “rekayasa terpadu”!

  

15 NovSOIL-Fertilizer Synlocation and Synchronisation

  

1

 

SYNLOCATION AND SYNCHRONISATION

 (SINLOKASI DAN SINKRONISASI)

 

Penempatan Pupuk ~ Efisiensi ~ Pertumbuhan Akar

 

Syekhfani

Sinlokasi:

Akar tanaman tidak bergerak, atau bergerak sangat lambat sesuai periode pertumbuhan tanaman. Bila medium tumbuh mengalami kekurangan unsur hara (defisiensi), maka perlu dibantu  pemberian pupuk seputar perakaran aktif, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan efisien.

Sinkronisasi:

Saat tanaman baru tumbuh dari biji, stek, atau bibit pindah tanam, sistim perakaran masih terbatas. Demikian pula kemampuan akar menyerap (uptake) unsur hara masih sedikit. Dengan waktu, sistim perakaran makin berkembang dan kemampuan menyerap unsur hara pun makin meningkat. Pemberian pupuk harus sinkron dengan perkembangan sistim perakaran agar akar mampu menyerap unsur hara secara  efisien.

 

Aplikasi Pupuk dalam Praktik:

Prinsip dasar:  Mengikuti posisi tempat  akar aktif (sinlokasi) dan umur tanaman (sinkronisasi).

Tanaman padi sawah (tanaman semusim): petani telah melakukan mendekati lokasi perakaran aktif (seputar proyeksi tajuk) dan beberapa kali (split application), umumnya pada tanaman padi sawah tiga kali dengan interval waktu tertentu selama masa pertumbuhan vegetatif (misalnya, 10, 30, 45 hari setelah tanam, HST) disesuaikan dengan saat menyiang (“matun”, Jawa);  saat muncul primordia bunga pemupukan dihentikan.

Namun, dosis yang diberikan dibagi sama, yaitu: 1/3 bagian saat aplikasi ke-1, 1/3 bagian saat aplikasi ke-2, dan 1/3 bagian saat aplikasi ke-3.

Hal ini masih kurang tepat karena tidak menyesuaikan dengan kondisi perkembangan sistim perakaran tanaman.

Pada tanaman semusim lain (misalnya, sayuran), pada praktiknya aplikasi pemberian pupuk dilakukan dua hingga tiga kali secara split, sesuai dengan jenis tanaman.

Tanaman tahunan (pohon), umumnya pemupukan dilakukan dua kali:  awal dan akhir musim hujan, di mana masih ada air untuk melarutkan pupuk;  disebar merata di seputar proyeksi tajuk pohon.

Untuk padi sawah, lihat: → Aplikasi-pupuk-dan-dosis-pupuk-tanaman-padi

 

Aplikasi pupuk harus sesuai dengan sistim perakaran!

 

02 NovSOIL-Wana – Tani (Kehutanan – Pertanian)

 

1

 

WANA – TANI (KEHUTANAN – PERTANIAN)

 

Hutan Kurang Produktif dijadikan Pertanian Intensif?

 

Bahasan – Foto-foto:  Syekhfani

 

Banyak hutan menjadi tidak berfungsi optimal karena berbagai faktor, seperti misalnya:  perubahan hutan alami menjadi hutan produksi, konversi lahan hutan menjadi lahan pertaniankondisi lahan yang tidak mendukung pertumbuhan hutan yang baik, dan lain-lain.

Namun demikian, apapun alasannya, bila lahan hutan ingin diubah menjadi lahan pertanian, maka harus dilakukan dengan baik, teliti dan terprogram.

Sebelum hutan dibuka untuk lahan pertanian intensif, diperlukan persiapan-persiapan meliputi benihpersemaianpertanamanpemeliharaan, hingga  upaya keberlanjutan hasil.

Bagaimanapun, suatu perubahan sistem memerlukan kondisi-kondisi spesifik dalam hal proses adaptasi lingkungan pertumbuhan tanaman.

Dari aspek kesuburan tanah meliputi:  faktor-faktor kesuburan potensialaktualreklamasiamandeman ataupun ameliorasi;  semuanya dikemas dalam suatu paket teknologi.

Gambar-gambar berikut disajikan sebagai contoh langkah-langkah yang dilakukan dari pembukaan hutan hingga pertanaman komoditas pertanian.

 2Pembukaan hutan sekunder untuk lahan penelitian

3

Pengeringan biomas sehabis pembersihan lahan (land clearing)

4

Lahan hutan sekunder dibuka, dipersiapkan untuk dijadikan lahan pertanian intensif

5

Saat hujan, sebagian unsur hara larut dalam air (terutama basa-basa K, Ca, Mg)

6

Tanaman kacang tunggak (cowpea) siap dipanen sebagai sumber benih

7

Tanaman ubikayu siap dipanen, batang ubikayu digunakan sebagai sumber bibit

8

Batang ubikayu disusun rapi untuk digunakan sebagai stek

9 (2)

Pertanaman ubikayu monokultur

9b

Ubikayu tumpangsasi dengan padi gogo

9a

Ubikayu tumpangsari dengan jagung

11 (2)

Ubikayu tumpangsari dengan kedelai

9e

Koleksi benih mukuna

10

Bibit kaliandra untuk tanaman pagar (alley crop)

14

Kerangkeng kayu tempat adaptasi bibit (sekitar 70% cahaya masuk)

15

Lahan siap untuk pertanaman komoditi pertanian

16

Pembersihan lahan sebelum ditanami

14 (2)

Penanaman bibit tanaman pohon danbibit tanaman penutup tanah langsung di lahan

menggunakan tali pengatur jarak tanam

15

16

Penyiapan tanaman pagar (hedgerows crop)

16

Sistem tanaman pagar (hedgerows/alley cropping system) - (belakang), dan

Sistem penutup tanah (cover cropping system) – (depan)

 

22 OctSOIL-Intensifikasi Masa Bera

 

221020131148-001

 

INTENSIFIKASI MASA BERA

(WAITING PERIOD INTENSIFICATION)

 

Perladangan Berpindah ~ Tropika Indonesia ~ Masa Bera

 

Pengelolaan ~  Unsur Hara ~ Ekspansi Alang-Alang ~ Sumber Pendapatan

 

Ditinjau oleh:  Syekhfani

 

Perladangan berpindah (shifting cultivation), yaitu suatu sistim siklus pergiliran pembudidayaan pertanian lahan kering  tradisional, yang berkembang sebelum berubah menjadi lahan intensifikasi.

Sistim ini berjalan hingga daya dukung (carrying capacity) lahan tidak lagi mampu akibat tekanan populasi penduduk.

Pada umumnya orang memandang sistem perladangan berpindah kurang efektif dan kurang menguntungkan, karena dikelola sembarangan, tidak serius, atau bersifat sambilan.  Padahal, daya dukung sistim ini bisa tinggi karena ada masa bera yang potensial mendatangkan keuntungan.

Dalam manajemen masa bera, beberapa faktor kendala seperti unsur hara dan ekspansi alang-alang  perlu diperhatikan;  sehingga sistim agroforestri dan sistim berbasis pohon dapat menjadi alternatif pilihan.

Faktor apasaja yang berpengaruh dan penting dalam sistim perladangan berpindah berlanjut dan menguntungkan?? Hal ini ditinjau oleh  Elok Muliyoutami dkk.(2010) terutama tentang intensifikasi masa bera.

Catatan:  Butir penting dari tinjauan ini adalah bahwa Sistem Agroforestri dan Sistem Berbasis Pohon merupakan alternatif pilihan yang baik.

 

251020131167-001

 

 

 

 

 

Lihat: →  Elok, M., Noordwijk, Niken S., dan Fahmuddjn Agus, 2010.  Perubahan Pola Perladangan, Pergeseran persepsi mengenai para peladang di Indonesia.  World Agroforestry Center, ICRAF Southeast Asia Regional Office. Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor 16115. 100 p.

 

Agroforestri, alternatif sistim pertanian berkelanjutan!

 

10 OctSOIL-Evaluasi Tanah Kebun Apel

  

TANAMAN APEL ~ MUSIMAN ~ PANEN  BUAH  ~ ROMPES DAUN

 

Hara terangkut (Buah, Daun) ~ Pemupukan per Musim

Foto-foto dan Materi:  Syekhfani

 

Tanaman apel, berbuah musiman (1 – 2 kali setahun), hara terangkut dalam jumlah banyak melalui buah dan daun rompesan (stimulasi pembungaan; daun rompesan tidak dikembalikan ke kebun).

Diperlukan pemberian unsur hara melalui pemupukan rutin (awal  dan akhir musim hujan).

Evaluasi status hara tanah kebun dilakukan melalui analisis sifat kimia tanah setelah selesai panen  (Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2013/10/ANALISIS-SIFAT-KIMIA-TANAH.pdf)

 

Interpretasi dan Rekomendasi:

Hasil analisis Contoh tanah (evaluasi dari Laboratorium Kimia Tanah).

 

Interpretasi:

Pemberian pupuk setelah mengetahui hasil analisis kriteria rendah dan sangat rendah.

 

Rekomendasi:

  • Dosis (per tanaman atau per hektar)
  • Saat aplikasi (sebelum musim hujan: cukup air dan setelah musim hujan: kurang air).
  • Cara aplikasi (seputar proyeksi tajuk, kedalaman 10 cm dan ditimbun tanah).
  • Tambahan:  bila tidak ada hujan, perlu di siram (irigasi).

1

2

Apel Manalagi siap dipanen

3

4

Apel Anna siap dipanen

5

6

Apel Rome Beauty berbuah (setelah dirompes)

7

8

Lokasi pemupukan (proyeksi tajuk pohon)

 

Unsur Hara Terangkut harus Dikembalikan!

 

29 JulSOIL-Traditional Mixed Garden

 

 

TRADITIONAL MIXED GARDEN ~ KEBUN CAMPURAN TRADISIONAL

 

Diversifikasi – Tanaman Sekunder – Kebutuhan Sehari-hari

 

Syekhfani

 

Traditional Mixed Garden (Kebun Campuran Tradisional), adalah sebidang lahan di tepi sawah, atau sekitar dangau (tempat tinggal di sawah atau ladang);  berupa lahan  budidaya tanaman sekunder ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani sehari-hari.

Kebun campuran tidak luas, dikelola secara tradisional,  seadanya (alami), dan tidak ada perawatan khusus.

Pengelolaan dilakukan saat tidak bekerja, atau sedang istirahat dari pekerjaan utama. Seringkali dibantu bu Tani atau anak-anak pak Tani.

Sistem budidaya pertanian tradisional semacam ini, umumnya  tidak mengikuti pola tertentu, dan banyak dijumpai di luar pulau Jawa.

Jenis tanaman meliputi:  buah-buahan (buahan), sayur-sayuran (sayuran), obat-obatan (obatan)/rempah-rempah (rempah), dsb (etc);  ditanam campuran secara acak (tidak teratur), tetapi mengikuti strata tajuk:  pohonsemakrumput.

Stratifikasi menghindari kompetisi penuh terhadap cahayaudaraair, maupun unsur hara.

Umumnya jenis tanaman kebun campuran tersebut, adalah:

 

POHON

Buahan:  mangga, durian, rambutan, nangka, dll (etc).

Sayuran: nangka, petai, keluwih, melinjo, kelor, dll.

Obatan/Rempah: cengkeh, pala, kayu manis, dll.

 

SEMAK

Buahan:  jeruk, sawo, jambu biji, dll.

Sayuran:  lamtoro, ubikayu, kacang-kacangan, tomat, lombok, terong, talas, dll.

Obatan/Rempah:  serai, lengkuas, daun-salam, dll.

 

RUMPUT

Buahan:  ciplukan (Jawa), dll.

Sayuran:  bayam, kangkung, seledri, dll.

Obatan/Rempah:  kunyit,  jahe, kencur, dan sebagainya.

 

Bagaimanapun, kebun campuran sangat membantu petani tradisonal subsisten memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

 

→ Lihat:  http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/07/soil-klasifikasi-sistem-agroforestri-3/

→ Lihat:  http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/06/4100/

 

02 JunSOIL-Reklamasi Lahan Berombak

  

REKLAMASI LAHAN BEROMBAK (UNDULATE)

 

(2)

Contoh: Ultisol UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Foto-foto/dokumen: Syekhfani

 

Lahan berombak (undulate):  lahan kering (upland) jenis Ultisols mempunyai kendala terhadap erosi, mudah kering, reaksi masam, dan kurang unsur hara.  Oleh karena itu,  saat  persiapan lahan usaha, perlu dilakukan reklamasi dan/atau ameliorasi.

Di UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pembukaan lahan usaha II (lokasi di luar pemukiman), dilakukan sesuai kondisi lahan yang berombak-ombak (undulate).

Pekerjaan meliputi:  pembuatan teras gulud tegak lurus arah lereng (perpendicular to the slope), pengolahan tanah dangkal (shallow tillage, 20 cm deep), pembuatan rorak (ditch), pengapuran (liming), dan  penanaman penutup tanah (cover crop).

Teras gulud alternatif:  tanaman strip-cropping, alley-cropping berfungsi untuk menahan runoff dan erosi, sumber pakan tambahan, atau bahan organik.

Rorak (ditch) di bagian atas bidang tanam, berfungsi menampung erosi guludan, bahan organik, dan air hujan;  membantu mempertahankan kelembaban bidang tanam dan suplai air.

Setelah tanah diolah, dilakukan penyebaran kapur (dolomit), untuk mengurangi kemasaman tanah dan mempercepat pertumbuhan cover crop.

Pelaksaaan dilakukan pada awal musim penghujan, agar cukup air untuk memudahkan pengolahan tanah, pertumbuhan benih, dan mengetahui arah aliran permukaan (runoff).

Jenis tanaman penutup tanah adalah Mucuna pruriens yang mempunyai kelebihan:  leguminous, mudah dan cepat tumbuh, biomas berlimpah, menutup permukaan dan mengontrol gulma, serta  berumur pendek.

Biomas mukuna dipanen sekitar umur 3 bulan, disebar-rata di permukaan tanah dan dibiarkan mengalami dekomposisi in situ.

Selanjutnya, lahan siap untuk ditanami dengan tanaman budidaya, misalnya kedelai (Glycine soya).

Sistim budidaya yang diterapkan adalah “minimum tillage”, dan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

 

(3)

Lahan berombak-ombak dan berlereng, dikerjakan saat awal musim hujan

(4)

Pengolahan tanah dengan cangkul, sekaligus kontrol gulma

(5)

Rorak (ditch), saat hujan berisi air

(6)

(7)

Plotting tegak lurus arah  lereng (perpendicular to the slope)

(8)

Hamparan lahan berombak-ombak (undulate), dan cover crop - Mucuna pruriens

(9)

Mucuna prurienscover crop

(10)

Tanaman kedelai Glycine soya dan parit drainase

(1)

Tanaman kedelai Glycine soya -  tajuk dan akar

23 MaySOIL-Ameliorasi Kebun Durian

 

IMG_0001

 

AMELIORASI KEBUN DURIAN

 (DURIAN GARDEN AMELIORATION)

 

Perbaikan Kondisi Kebun Durian

 

 

Materi/Foto-foto: Syekhfani

 

 

Kebun durian monokultur, ingin diperbaiki (ameliorasi) agar dapat berfungsi sebagai “kebun wisata”  sekaligus “kebun produksi”. Untuk itu, diperlukan pogram khusus dari aspek budidaya.

Upaya perbaikan kebun yang sudah terlanjur monokultur, memerlukan teknologi masukan dari luar (external input technology).

Berdasar tinjauan lapangan (site visit), maka dilakukan rencana kelola lahan (RKL) dan dibuatlah program jangka pendek, menengah, dan panjang.  Evaluasi dilakukan berdasar informasi teknologi yang tersedia (reference).

Reference:

Durian – Durio zibethinus, merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran     -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.

Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Berdasar pada keterangan tersebut, maka konsep manajemen kebun durian perlu mengacu pada habitat aslinya yaitu hutan: yang bersifat diversitas (diversity), siklus unsur hara tertutup (close nutrient recycling), lembab (moist), dan hangat (warmth).

Konsep yang disampaikan untuk bahan pertimbangan, meliputi:

  • Program Jangka Pendek
  • Program Jangka Menengah
  • Program Jangka Panjang

disajikan dalam bentuk slide-slide berikut:

IMG_0002

IMG_0004

Analisis tanah lengkap, untuk mengetahui status unsur hara

IMG_0005

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0006

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0007

Pengendalian hama/penyakit, bila ada gejala terserang

IMG_0008

IMG_0009

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0010

Pertumbuhan vegetatif, perlakuan khusus

IMG_0011

Saat pembungaan, perlakuan khusus

IMG_0012

IMG_0013

Ameliorasi keragaan individual tanaman

IMG_0014

Ameliorasi keragaan lahan kebun

 

Kebun durian:  Mengacu pada sistim alam!

 

13 MaySOIL-Zona Iklim Semi Arid

   

 

ZONA IKLIM SEMI ARID TROPIKA INDONESIA

 

Kawasan (contoh):   Sumbawa Besar – Dompu, Nusa Tenggara Barat

(Pengamat, Foto-foto:  Syekhfani)

 

8

Zona Iklim Semi Arid, dicirikan oleh bulan-bulan kering lebih banyak dari bulan-bulan basah, jenis tanah dipengaruhi kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah.

Pelapukan batuan induk lambat dan jenis tanah yang dominan adalah  Regosol (Entisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols);  meskipun di beberapa tempat dijumpai pula jenis Andosol (Andisols).

Vegetasi berupa pohon, semak dan rumput-rumputan yang toleran terhadap kondisi air terbatas, khas daerah zona iklim semi arid.

Flora dominan:

  • Pohon:  Asam (Tamarindus indica), Jambu mente (Anacardium occidentale).
  • Semak:  Bidara (Ziziphus mauritiana), Paitan (Chromolaena odorata).
  • Rumput-rumputan:  ciplukan (Physalis angulata), babadotan (Ageratum conyzoides), putri malu (Mimosa pudica).

Fauna spesifik:  kuda (Equus caballus) liar, dan babi hutan(Sus scrofa).

Masalah utama: sumber air terbatas (terutama saat bulan-bulan kering), sehingga solusinya adalah manajemen konservasi air.

 

 1

2

3

Batuan induk, menunjukkan perkembangan yang lambat

  6

 Vegetasi pohon, semak dan rumput pada musim kering

 9

Lahan budidaya, keadaan air cukup (dari irigasi)

 11

Vegetasi semak, memperoleh air dari kelembaban udara (dekat pantai)

12

Kawanan kuda liar berteduh di bawah pohon asam saat terik matahari.

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

05 MaySOIL-Hedgerows Cropping System

 

HEDGEROWS CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • HedgerowsTanaman lorong, tumbuhan semak atau pohon tahunan (perenneal) berakar dalam serta kaya biomas, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (annual) berakar dangkal (legum, sereal) dari jenis tanaman pangan, sayuran, atau ubi-ubian; dengan cara: tanaman annual ditanam di antara perenneal  jarak 4 – 8 meter. Tanaman pohon disebut tanaman pagar dan tanaman semusim disebut tanaman lorong.
  • Pemilihan jenis tanaman perenneal:  perakaran dalam, kaya biomas, toleran terhadap kondisi setempat, tahan terhadap kekeringan, penyakit dan pemangkasan.
  • Sistem tanam tanaman annual:  tumpang gilir (relay planting), jenis legum digilir dengan non legum.
  • Biomas sisa pangkasan dan sisa panen, seluruhnya dikembalikan ke bidang lorong secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Sistem perakaran dalam yang dikombinasikan dengan perakaran dangkal, adalah stratifikasi zone perakaran untuk mencegah kompetisi terhadap medium, unsur hara dan air.  Selain itu, perakaran dalam mencegah terjadi kehilangan unsur hara melalui pencucian (leaching).
  • Tanaman pagar yang dipangkas dan biomasnya dikembalikan ke permukaan tanah, merupakan siklus hara tertutup (close nutrient recycling) dan jaring penyelamat (safety net) unsur hara.
  • Sistem pertanaman ini adalah rangkaian dari kegiatan program penelitian Manajemen Nitrogen di daerah tropika basah (lihat post:  SOIL – Cassava based Cropping System).
  • Contoh kegiatan penelitian sebagai berikut:

 

 IMG_0001 - Copy

Area percobaan “Hedgrows Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan:  Pembentukan Kerangka Pertanaman

IMG_0002

 Tanaman pagar jarak 4 hingga 8 meter dipotong setinggi satu meter dari atas tanah

IMG_0003

Bahan pangkasan disebar merata di permukaan bidang lorong

IMG_0004

Kerangka (frame) patokan pangkasan (pangkasan bentuk): tinggi dan lebar bidang tanaman pagar disesuaikan dengan jenis pohon pagar

IMG_0005

Bentuk tanaman pagar (hedgerows crop)

Pertanaman:  Hedgerows

 IMG

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) - Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

IMG_0013

Plot:  Glirisidia (Glyricidia sepium) – Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

 IMG_0008

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) dan Petaian (Pelthoporum pterocarpum) - Kedelai (Glycine max)

 IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) – Jagung (Zea mays)

IMG_0012

Plot:  Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – Padigogo (Oryza sativa)

Di tempat lain

alleycrop

IMG_0014

“Hedgrows Cropping System)” pada lahan lereng