Archive for the 'Pembukaan Lahan' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

07 JulLand Clearing Pasca Bera

AKTIVITAS PASCA BERA

Syekhfani

Land clearing (pembukaan lahan), adalah persiapan yang dilakukan untuk budidaya tanaman di suatu kawasan.

Pembukaan lahan bisa dilakukan pada kawasan tanaman tahunan: hutan primer, hutan sekunder, atau bekas budidaya tanaman semusim pasca bera*) – http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/07/bera-dan-puasa/.

*) Lihat: http://artikata.com/arti-321547-bera.html

Tanaman Tahunan (Hutan Sekunder)

Penebangan Hutan Sekunder

Pembukaan Lahan Hutan Sekunder

Land Clearing

Land Clearing (pembersihan lahan)

Persiapan Tanam

Land Clearing (persiapan tanam)

Tanaman Semusim (Padi Sawah)

Tanah sawah bera

Tanaman Padi Sawah Bera

Land Clearing Sawah Bera

Land Clearing Sawah Bera

Pasca Bera, yaitu saat setelah masa istirahat tanah dan tanaman budidaya dari aktivitas intensifikasi budidaya, yang memerlukan penanganan khusus agar tujuan pemulihan yaitu kesehatan dan keberlanjutan budidaya dapat tercapai.

Ibarat orang yang baru saja istirahat dari kerja keras terus menerus, tidak boleh langsung tancap gas kerja keras; tentu saja memerlukan adaptasi atau tepatnya “pemanasan” (warming up) hingga tercapai kondisi normal seperti sediakala.

Demikian pula halnya kultivasi lahan budidaya pasca bera, sebaiknya diatur agar kembali dapat berfungsi berproduksi secara normal.

Saat melakukan pembersihan lahan (land clearing) untuk persiapan kembali budidaya tanaman diperlukan tindakan pengamanan awal (tindakan preventif).

Land Clearing

Lahan tidak dibersihkan hingga terbuka penuh, tidak terekspos sinar matahari langsung yang dapat menyebabkan sifat kesuburan topsoil (fisik, kimia, biologi) menurun.

Fisik:
Peningkatan suhu di lapisan top soil, secara fisik dapat menyebabkan stabilitas agregat dan kemantapan struktur berkurang, sehingga mudah mengalami erosi.

Kimia:
Beberapa unsur atau senyawa menguap (volatile) dan mengalami penguraian; sehingga terjadi degradasi fungsi kimia.

Biologi:
Selain itu, kehidupan organisme makro (cacing tanah, semut, dll) atau pun mikro (bakteri, cendawan, ganggang, aktinomiset, dll) terganggu atau bahkan mati.

Tindakan Konservasi

Lahan, baik yang bertopografi datar, maupun berombak, bergelombang, bahkan berbukit atau bergunung, bila terbuka akan mengalami masalah erosi. Karena itu, diperlukan tindakan konservasi:

Lahan datar:
• diperlukan penutup tanah berupa mulsa sisa tanaman dan cover-crops.

Lereng landai:
• Diperlukan pembuatan guludan, teras, atau penanaman sistem strip-cropping dan cover-cropping.

Lereng curam:
• Pembuatan teras bangku, penanaman penguat teras dan sistem hedgerows-cropping.

17 DecSOIL-Terungkap dan Tersingkap

 


TERUNGKAP DAN TERSINGKAP

(revealed and exposed)

 

Syekhfani

 

Permukaan tanah (topsoil), tampak terungkap (revealed) atau tersingkap (exposed) melalui mekanisme:

1. Alam:  alam mengungkap (to reveale) lapisan tanah bawah (subsoil) melalui proses erosilongsoraluviasikoluviasiabrasi, di mana lapisan tanah atas (topsoil) hilang.

2. Budidaya: manusia mengolah (to cultivate) dan  menyingkap (to expose) lapisan tanah atas (topsoil) sehingga lapisan tanah bawah (subsoil) muncul pada kegiatan pembukaan lahan budidaya.

3. Non Budidaya:  manusia  mengungkap dan menyingkap lapisan tanah atas sehingga lapisan tanah bawah muncul ke permukaan saat pembuatan jalan raya, penggalian terusan, penggalian sumur, dan kegiatan lain.

Aksi-aksi tersebut menyebabkan tanah tergradasi, sehingga memerlukan tindakan reklamasikonservasiameliorasi, dan pemeliharaan, agar tanahlahan, dan lingkungan alam tidak rusak, lestari dan berkelanjutan.

Lihat:  → images:  syekhfanismd.lecture.ub.ac.id

 1

2

3

4b

5

8

9

11

12

15a

15b

17

20

Alam:  terungkap (revealed)

 

1

3

4

6

7

Budidaya: tersingkap (exposed)

 

1

2

3

4

5

6

7

8

Non Budidaya: terungkap dan tersingkap

 

02 NovSOIL-Wana – Tani (Kehutanan – Pertanian)

 

1

 

WANA – TANI (KEHUTANAN – PERTANIAN)

 

Hutan Kurang Produktif dijadikan Pertanian Intensif?

 

Bahasan – Foto-foto:  Syekhfani

 

Banyak hutan menjadi tidak berfungsi optimal karena berbagai faktor, seperti misalnya:  perubahan hutan alami menjadi hutan produksi, konversi lahan hutan menjadi lahan pertaniankondisi lahan yang tidak mendukung pertumbuhan hutan yang baik, dan lain-lain.

Namun demikian, apapun alasannya, bila lahan hutan ingin diubah menjadi lahan pertanian, maka harus dilakukan dengan baik, teliti dan terprogram.

Sebelum hutan dibuka untuk lahan pertanian intensif, diperlukan persiapan-persiapan meliputi benihpersemaianpertanamanpemeliharaan, hingga  upaya keberlanjutan hasil.

Bagaimanapun, suatu perubahan sistem memerlukan kondisi-kondisi spesifik dalam hal proses adaptasi lingkungan pertumbuhan tanaman.

Dari aspek kesuburan tanah meliputi:  faktor-faktor kesuburan potensialaktualreklamasiamandeman ataupun ameliorasi;  semuanya dikemas dalam suatu paket teknologi.

Gambar-gambar berikut disajikan sebagai contoh langkah-langkah yang dilakukan dari pembukaan hutan hingga pertanaman komoditas pertanian.

 2Pembukaan hutan sekunder untuk lahan penelitian

3

Pengeringan biomas sehabis pembersihan lahan (land clearing)

4

Lahan hutan sekunder dibuka, dipersiapkan untuk dijadikan lahan pertanian intensif

5

Saat hujan, sebagian unsur hara larut dalam air (terutama basa-basa K, Ca, Mg)

6

Tanaman kacang tunggak (cowpea) siap dipanen sebagai sumber benih

7

Tanaman ubikayu siap dipanen, batang ubikayu digunakan sebagai sumber bibit

8

Batang ubikayu disusun rapi untuk digunakan sebagai stek

9 (2)

Pertanaman ubikayu monokultur

9b

Ubikayu tumpangsasi dengan padi gogo

9a

Ubikayu tumpangsari dengan jagung

11 (2)

Ubikayu tumpangsari dengan kedelai

9e

Koleksi benih mukuna

10

Bibit kaliandra untuk tanaman pagar (alley crop)

14

Kerangkeng kayu tempat adaptasi bibit (sekitar 70% cahaya masuk)

15

Lahan siap untuk pertanaman komoditi pertanian

16

Pembersihan lahan sebelum ditanami

14 (2)

Penanaman bibit tanaman pohon danbibit tanaman penutup tanah langsung di lahan

menggunakan tali pengatur jarak tanam

15

16

Penyiapan tanaman pagar (hedgerows crop)

16

Sistem tanaman pagar (hedgerows/alley cropping system) - (belakang), dan

Sistem penutup tanah (cover cropping system) – (depan)

 

20 JulSOIL-Konservasi Lahan

 0


KONSERVASI LAHAN PERKEBUNAN

(PLANTATION LAND CONSERVATION)

 

Pembukaan Lahan – Konservasi Tanah

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Konservasi Lahan Perkebunan (Plantation Land Conservation), merupakan metode pencegahan (preventive) atau perbaikan (curative) lahan dari penurunan (degradasi) kesuburan tanah;  pada lahan topografi datar hingga bergelombang.

Teknik konservasi dimulai dari pembukaan lahan (land clearing), pencegahan run-off dan erosi, serta penutupan lahan dengan vegetasi penutup tanah (cover crops).

Pada lahan bertopografi datar, dibuat alur tanam dengan jarak sesuai dengan jenis tanaman, jenis tanah, dan tingkat kesuburan. Pada lahan topografi lereng (berombak dan bergelombang), dibuat teras lebar hingga teras bangku menurut tingkat kemiringan lahan.

Lahan terbuka di antara alur tanaman, ditutup dengan cover cropsCalapogonium mucunoides, Mucuna pruriens, Centrosema pubescens, Pueraria phaseoloides, dan lain-lain.

Cover crops dipertahankan hingga kanopi tanaman komoditi pertanian menutupi lahan secara efektif.

Berikut, contoh konservasi lahan perkebunan Kelapa sawit:

 

1

1

Land clearing

2

Terassering

4

Cover cropping

4

Vegetasi tanaman Kelapa sawit

Informasi:  Jasa Pemborong Perkebunan Kelapa Sawit (telp.0812-7043-6489;  0823-8227-0703); Email…benicsm@yahoo.com).

 

02 JunSOIL-Reklamasi Lahan Berombak

  

REKLAMASI LAHAN BEROMBAK (UNDULATE)

 

(2)

Contoh: Ultisol UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Foto-foto/dokumen: Syekhfani

 

Lahan berombak (undulate):  lahan kering (upland) jenis Ultisols mempunyai kendala terhadap erosi, mudah kering, reaksi masam, dan kurang unsur hara.  Oleh karena itu,  saat  persiapan lahan usaha, perlu dilakukan reklamasi dan/atau ameliorasi.

Di UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pembukaan lahan usaha II (lokasi di luar pemukiman), dilakukan sesuai kondisi lahan yang berombak-ombak (undulate).

Pekerjaan meliputi:  pembuatan teras gulud tegak lurus arah lereng (perpendicular to the slope), pengolahan tanah dangkal (shallow tillage, 20 cm deep), pembuatan rorak (ditch), pengapuran (liming), dan  penanaman penutup tanah (cover crop).

Teras gulud alternatif:  tanaman strip-cropping, alley-cropping berfungsi untuk menahan runoff dan erosi, sumber pakan tambahan, atau bahan organik.

Rorak (ditch) di bagian atas bidang tanam, berfungsi menampung erosi guludan, bahan organik, dan air hujan;  membantu mempertahankan kelembaban bidang tanam dan suplai air.

Setelah tanah diolah, dilakukan penyebaran kapur (dolomit), untuk mengurangi kemasaman tanah dan mempercepat pertumbuhan cover crop.

Pelaksaaan dilakukan pada awal musim penghujan, agar cukup air untuk memudahkan pengolahan tanah, pertumbuhan benih, dan mengetahui arah aliran permukaan (runoff).

Jenis tanaman penutup tanah adalah Mucuna pruriens yang mempunyai kelebihan:  leguminous, mudah dan cepat tumbuh, biomas berlimpah, menutup permukaan dan mengontrol gulma, serta  berumur pendek.

Biomas mukuna dipanen sekitar umur 3 bulan, disebar-rata di permukaan tanah dan dibiarkan mengalami dekomposisi in situ.

Selanjutnya, lahan siap untuk ditanami dengan tanaman budidaya, misalnya kedelai (Glycine soya).

Sistim budidaya yang diterapkan adalah “minimum tillage”, dan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

 

(3)

Lahan berombak-ombak dan berlereng, dikerjakan saat awal musim hujan

(4)

Pengolahan tanah dengan cangkul, sekaligus kontrol gulma

(5)

Rorak (ditch), saat hujan berisi air

(6)

(7)

Plotting tegak lurus arah  lereng (perpendicular to the slope)

(8)

Hamparan lahan berombak-ombak (undulate), dan cover crop - Mucuna pruriens

(9)

Mucuna prurienscover crop

(10)

Tanaman kedelai Glycine soya dan parit drainase

(1)

Tanaman kedelai Glycine soya -  tajuk dan akar

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

25 MarSOIL-Teknologi Inovasi

   

TEKNOLOGI TEPAT GUNA – REKLAMASI LAHAN ALANG-ALANG

Kiat Basmi Alang-alang

 Ultisol (Vegetasi alang2)1

Alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan tumbuhan pengganggu yang sangat dikeluhkan hampir di sebagian besar belahan bumi.

Invasi alang-alang adalah indikator bahwa lahan mengalami degradasi.

Perluasan berlangsung cepat karena alang-alang berbiak cara vegetatif dengan akar stolon.

Pengetahuan tentang sifat dan perilaku alang-alang adalah kunci untuk mencegah dan membasmi alang-alang.

Sifat dan perilaku tersebut adalah:

  • Tahan kekeringan.
  • Toleran terhadap tanah masam.
  • Adaptasi terhadap tanah marginal.
  • Tahan terhadap kebakaran (kemampuan growth recovery tinggi).
  • Tidak tahan terhadap penggenangan (flooded).
  • Tidak toleran terhadap pengolahan tanah (deep tillage, pembalikan tanah).
  • Tidak tahan terhadap naungan (shading).
  • Tidak tahan terhadap senyawa alelopati.
  • Peka terhadap perlakuan herbisida terutama glifosat.

Berdasar sifat dan perilaku tersebut, maka alternatif mencegah atau membasmi alang-alang adalah sebagai berikut:

  • Mengalokasi dan memblokir lahan alang-alang saat musim hujan dengan cara membuat galengan (dike) sekeliling lokasi, sehingga air menggenangi area dalam waktu cukup lama (3 bulan atau lebih).
  • Menutup kanopi alang-alang dangan cover crop  cepat tumbuh (misalnya Mucuna, Calapogonium, Pueraria) yang mempunyai kanopi tebal serta biomas berlimpah.
  • Menanam pohon berkanopi lebat menaungi area (jarak tanam sempit agar kanopi saling tutup).
  • Menanam pohon yang akarnya mengeluarkan seyawa alelopati;  misalnya Calliandra calothyrsus, Crotalaria anagyroides.
  • Pengalaman praktikal petani menggunakan pohon Gamal (Glyricidia sepium), menunjukkan efektivitas tinggi dalam membasmi alang-alang.
  • Istilah petani:  “gamal” = ganyang malingto kill the thieves.
  • Memutus jalur penyebaran akar stolon dengan cara membuat parit kontinyu di sekeliling lahan;  ukuran parit: lebar 30 cm, dalam 10 – 15 cm.
  • Memotong kanopi alang-alang pada batas pangkal batang, membiarkan daun muda tumbuh, selanjutnya daun muda disemprot herbisida glifosat.

 

Pengalaman emperik sebagai  manajer lapang  “Penelitian Manajemen Nitrogen, Lampung Utara”.

16 NovWACANA ILMU TANAH

 1

Upaya Mengerti & Memahami Sifat – Perilaku Tanah

 

2

Dr. Abdurachman Adi - KaPuslitbangtanak:

Degradasi Tanah Pertanian Indonesia - Tanggungjawab Siapa???

 

3

Ultisol terdegradasi berat, kehilangan topsoil, tumbuhan Melastoma pubescens (Hareundeung-Sunda, indikator tanah masam), bertahan hidup pada subsoil yang mengalami konkresi unsur besi/mangan. Foto: Syekhfani

 

4

Profil sumur Ultisol, kedalaman 6 meter, tampak bercak (mottling) besi/mangan di bagian atas (zona oksidasi) dan warna abu-abu (gley) di bagian bawah (zona reduksi). Foto: Syekhfani

UPAYA MENGELOLA LAHAN ULTISOL BERMASALAH

NITROGEN CYCLE -Mekanisme Perilaku (Acuan dasar pengelolaan N – Syekhfani)

5

6

7

8

Reklamasi lahan Alang-alang (Imperata cylindrica L.): dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system) dan penutup tanah (cover cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

10

 

11

Reklamasi lahan alang-alang: dengan Sistem Berbasis Ubikayu (Cassava : Manihot esculenta Crantz -based cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

12

13

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system: Lamtoro: Leucaena leucocephala-Jagung: Zea mays L. dan kontrol) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

14

 

15

16

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman penutup tanah (Cover Cropping System: Kudzu: Calapogonium mucunoides, Enceng-enceng: Crotalaria anagyroides, dll.) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

17

Reklamasi lahan alang-alang: di lahan petani (Farmer’s field: jagung, drainase jelek), di luar area kebun PG Bungamayang, Lampung UtaraDokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani