Archive for the 'Pengabdian pada Masyarakat' Category

27 AprPengalamanku

AKU2

SEBAGAI MANAJER LAPANGAN (FIELD MANAGER)

Penelitian di Lahan Kering Masam

Syekhfani

Begitu penulis selesai dalam melaksanakan studi di suatu Institut Pertanian terkenal di negeri ini, sesuai dengan perjanjian institusional yang tidak tertulis, setiap staf dosen yang pergi belajar ke luar kampus, setelah selesai harus segera kembali ke kampus untuk mengabdikan diri.

Penulis berkemas dan pulang ke kampus.

Namun, tampaknya waktu itu, kepulangan penulis belum disiapkan, sehingga masih punya waktu untuk mencari pengalaman lebih banyak.

Kesempatan tersebut penulis gunakan, antara lain mengikuti program mengatasi masalah lahan kering masam dan memberantas alang-alang.

Berikut secuplik pengalaman penulis sebagai nostalgia waktu lalu.

AKU ( Pos.doc)

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

02 NovSOIL-Wana – Tani (Kehutanan – Pertanian)

 

1

 

WANA – TANI (KEHUTANAN – PERTANIAN)

 

Hutan Kurang Produktif dijadikan Pertanian Intensif?

 

Bahasan – Foto-foto:  Syekhfani

 

Banyak hutan menjadi tidak berfungsi optimal karena berbagai faktor, seperti misalnya:  perubahan hutan alami menjadi hutan produksi, konversi lahan hutan menjadi lahan pertaniankondisi lahan yang tidak mendukung pertumbuhan hutan yang baik, dan lain-lain.

Namun demikian, apapun alasannya, bila lahan hutan ingin diubah menjadi lahan pertanian, maka harus dilakukan dengan baik, teliti dan terprogram.

Sebelum hutan dibuka untuk lahan pertanian intensif, diperlukan persiapan-persiapan meliputi benihpersemaianpertanamanpemeliharaan, hingga  upaya keberlanjutan hasil.

Bagaimanapun, suatu perubahan sistem memerlukan kondisi-kondisi spesifik dalam hal proses adaptasi lingkungan pertumbuhan tanaman.

Dari aspek kesuburan tanah meliputi:  faktor-faktor kesuburan potensialaktualreklamasiamandeman ataupun ameliorasi;  semuanya dikemas dalam suatu paket teknologi.

Gambar-gambar berikut disajikan sebagai contoh langkah-langkah yang dilakukan dari pembukaan hutan hingga pertanaman komoditas pertanian.

 2Pembukaan hutan sekunder untuk lahan penelitian

3

Pengeringan biomas sehabis pembersihan lahan (land clearing)

4

Lahan hutan sekunder dibuka, dipersiapkan untuk dijadikan lahan pertanian intensif

5

Saat hujan, sebagian unsur hara larut dalam air (terutama basa-basa K, Ca, Mg)

6

Tanaman kacang tunggak (cowpea) siap dipanen sebagai sumber benih

7

Tanaman ubikayu siap dipanen, batang ubikayu digunakan sebagai sumber bibit

8

Batang ubikayu disusun rapi untuk digunakan sebagai stek

9 (2)

Pertanaman ubikayu monokultur

9b

Ubikayu tumpangsasi dengan padi gogo

9a

Ubikayu tumpangsari dengan jagung

11 (2)

Ubikayu tumpangsari dengan kedelai

9e

Koleksi benih mukuna

10

Bibit kaliandra untuk tanaman pagar (alley crop)

14

Kerangkeng kayu tempat adaptasi bibit (sekitar 70% cahaya masuk)

15

Lahan siap untuk pertanaman komoditi pertanian

16

Pembersihan lahan sebelum ditanami

14 (2)

Penanaman bibit tanaman pohon danbibit tanaman penutup tanah langsung di lahan

menggunakan tali pengatur jarak tanam

15

16

Penyiapan tanaman pagar (hedgerows crop)

16

Sistem tanaman pagar (hedgerows/alley cropping system) - (belakang), dan

Sistem penutup tanah (cover cropping system) – (depan)

 

15 OctSOIL-Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

 

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT)

 

Laporan Mahasiswa Tugas Magang

Diungkap:  Syekhfani

 

Beberapa mahasiswa bimbingan saya saat ini melakukan kegiatan magang, di beberapa tempat dan jenis budidaya (tanaman panganperkebunan, dan lain-lain). Dari laporan yang dikirim mingguan, antara lain mereka menemukan kendala disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (OPT), makro maupun mikro.  Gangguan OPT tersebut merupakan agenda khusus yang dijadikan objek kegiatan magang mereka.  Umumnya mereka berupaya menanggulangi sendiri secara langsung, walaupun adakalanya terbentur dan perlu melakukan kontak dengan pembimbing.  Berikut contoh gangguan OPT yang dijumpai para mahasiswa:

 

 1

Gambar 1.  OPT padi sawah, sekelompok burung gereja memakan benih persemaian

(Dedi Darma dan Gheadie, 2013)

 2

3

Gambar 2.  OPT padi sawah, ternak itik merusak benih persemaian

(Dedi Darma dan Gheadie, 2013)

 4

Gambar 3.  OPT tanaman kakao, serangan cendawan akar putih

(Fina dan Yuni, 2013)


5

kondisi basah

6

kondisi kering

7

kondisi basah – kering

Gambar 4.  OPT lahan sawah (padi dan palawija), diduga proses basah-kering (cendawan)

(Ulin Nuha, 2013)

 

OPT  perlu ditanggulangi dengan IPMS - Integrated Pest Management System-!

 

02 JunSOIL-Reklamasi Lahan Berombak

  

REKLAMASI LAHAN BEROMBAK (UNDULATE)

 

(2)

Contoh: Ultisol UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Foto-foto/dokumen: Syekhfani

 

Lahan berombak (undulate):  lahan kering (upland) jenis Ultisols mempunyai kendala terhadap erosi, mudah kering, reaksi masam, dan kurang unsur hara.  Oleh karena itu,  saat  persiapan lahan usaha, perlu dilakukan reklamasi dan/atau ameliorasi.

Di UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pembukaan lahan usaha II (lokasi di luar pemukiman), dilakukan sesuai kondisi lahan yang berombak-ombak (undulate).

Pekerjaan meliputi:  pembuatan teras gulud tegak lurus arah lereng (perpendicular to the slope), pengolahan tanah dangkal (shallow tillage, 20 cm deep), pembuatan rorak (ditch), pengapuran (liming), dan  penanaman penutup tanah (cover crop).

Teras gulud alternatif:  tanaman strip-cropping, alley-cropping berfungsi untuk menahan runoff dan erosi, sumber pakan tambahan, atau bahan organik.

Rorak (ditch) di bagian atas bidang tanam, berfungsi menampung erosi guludan, bahan organik, dan air hujan;  membantu mempertahankan kelembaban bidang tanam dan suplai air.

Setelah tanah diolah, dilakukan penyebaran kapur (dolomit), untuk mengurangi kemasaman tanah dan mempercepat pertumbuhan cover crop.

Pelaksaaan dilakukan pada awal musim penghujan, agar cukup air untuk memudahkan pengolahan tanah, pertumbuhan benih, dan mengetahui arah aliran permukaan (runoff).

Jenis tanaman penutup tanah adalah Mucuna pruriens yang mempunyai kelebihan:  leguminous, mudah dan cepat tumbuh, biomas berlimpah, menutup permukaan dan mengontrol gulma, serta  berumur pendek.

Biomas mukuna dipanen sekitar umur 3 bulan, disebar-rata di permukaan tanah dan dibiarkan mengalami dekomposisi in situ.

Selanjutnya, lahan siap untuk ditanami dengan tanaman budidaya, misalnya kedelai (Glycine soya).

Sistim budidaya yang diterapkan adalah “minimum tillage”, dan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

 

(3)

Lahan berombak-ombak dan berlereng, dikerjakan saat awal musim hujan

(4)

Pengolahan tanah dengan cangkul, sekaligus kontrol gulma

(5)

Rorak (ditch), saat hujan berisi air

(6)

(7)

Plotting tegak lurus arah  lereng (perpendicular to the slope)

(8)

Hamparan lahan berombak-ombak (undulate), dan cover crop - Mucuna pruriens

(9)

Mucuna prurienscover crop

(10)

Tanaman kedelai Glycine soya dan parit drainase

(1)

Tanaman kedelai Glycine soya -  tajuk dan akar

15 MaySOIL: Sulfat Masam

 

BUDIDAYA PERTANIAN DI LAHAN SULFAT MASAM

 1

 Contoh:  UPT Rawa Muning, Tapen, Kalimantan Selatan

  

Pengamat/Foto-foto:  Syekhfani

  • Tanah sulfat masam, adalah tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), dijumpai di daerah rawa, baik pasang surut maupun lebak.
  • Pada kondisi tergenang senyawa pirit bersifat stabil, namun bila kering dan teroksidasi berubah menjadi senyawa sulfat yang bermasalah bagi kimia tanah, air dan lingkungan.
  • Sebagian lahan sulfat masam telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi,  ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, tetapi umumnya di bawah potensi produksi tanaman.  Contoh:  di lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Rawa Muning, kabupaten Tapen, Kalimantan Selatan.
  • UPT Rawa Muning, dilengkapi sarana prasarana berupa saluran air untuk kepentingan transportasi serta sistem irigasi – drainase kawasan.
  • Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Namun, pada prakteknya sulit melakukan pengendalian air dengan baik. Terutama pada musim kemarau permukaan air tanah turun, terjadi oksidasi senyawa pirit menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah menjadi sangat masam.
  • Tanah-tanah teroksidasi, pada musim hujan mengalami proses reduksi dan  dalam bentuk besi ferro dan sulfida yang meracun tanaman.
  • Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, “sistem Surjan“).
  • Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.
  • Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.
  • Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.
  • Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah.
  • Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman. Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

4

Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Cempaka, Tapen, Kalimantan Selatan

6

Topografi datar, disiapkan untuk budidaya lahan sawah, dengan galengan sebagai batas pemilikan

3

Di bagian cekungan, air tergenang membentuk kolam abadi, ditumbuhi teratai

9

Musim kemarau, permukaan air turun, medium perakaran mengalami oksidasi

Pada musim hujan berikutnya, medium perakaran kaya sulfat dan pH sangat rendah (oksidasi pirit)

12

Musim penghujan, tanaman kelapa (Coccus nucifera) di galengan tumbuh normal

13

Musim kemarau, tanaman kelapa di galengan kering dan mati

14

Musim kemarau, tanaman padi sawah (Oryza sativa) menunjukkan gejala defisiensi dan/atau keracunan unsur hara

15

Musim kemarau, masih ada air terutama di saluran irigasi/drainase

16

16 (2)

Saluran air dan kolam abadi, menghasilkan ikan khas rawa masam (Gabus, Papuyu, Sepat, Saluang, dan lain-lain)

17

Keluarga kecil transmigran

18

Rumah transmigrasi yang ditinggalkan

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

05 MaySOIL-Hedgerows Cropping System

 

HEDGEROWS CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • HedgerowsTanaman lorong, tumbuhan semak atau pohon tahunan (perenneal) berakar dalam serta kaya biomas, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (annual) berakar dangkal (legum, sereal) dari jenis tanaman pangan, sayuran, atau ubi-ubian; dengan cara: tanaman annual ditanam di antara perenneal  jarak 4 – 8 meter. Tanaman pohon disebut tanaman pagar dan tanaman semusim disebut tanaman lorong.
  • Pemilihan jenis tanaman perenneal:  perakaran dalam, kaya biomas, toleran terhadap kondisi setempat, tahan terhadap kekeringan, penyakit dan pemangkasan.
  • Sistem tanam tanaman annual:  tumpang gilir (relay planting), jenis legum digilir dengan non legum.
  • Biomas sisa pangkasan dan sisa panen, seluruhnya dikembalikan ke bidang lorong secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Sistem perakaran dalam yang dikombinasikan dengan perakaran dangkal, adalah stratifikasi zone perakaran untuk mencegah kompetisi terhadap medium, unsur hara dan air.  Selain itu, perakaran dalam mencegah terjadi kehilangan unsur hara melalui pencucian (leaching).
  • Tanaman pagar yang dipangkas dan biomasnya dikembalikan ke permukaan tanah, merupakan siklus hara tertutup (close nutrient recycling) dan jaring penyelamat (safety net) unsur hara.
  • Sistem pertanaman ini adalah rangkaian dari kegiatan program penelitian Manajemen Nitrogen di daerah tropika basah (lihat post:  SOIL – Cassava based Cropping System).
  • Contoh kegiatan penelitian sebagai berikut:

 

 IMG_0001 - Copy

Area percobaan “Hedgrows Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan:  Pembentukan Kerangka Pertanaman

IMG_0002

 Tanaman pagar jarak 4 hingga 8 meter dipotong setinggi satu meter dari atas tanah

IMG_0003

Bahan pangkasan disebar merata di permukaan bidang lorong

IMG_0004

Kerangka (frame) patokan pangkasan (pangkasan bentuk): tinggi dan lebar bidang tanaman pagar disesuaikan dengan jenis pohon pagar

IMG_0005

Bentuk tanaman pagar (hedgerows crop)

Pertanaman:  Hedgerows

 IMG

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) - Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

IMG_0013

Plot:  Glirisidia (Glyricidia sepium) – Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

 IMG_0008

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) dan Petaian (Pelthoporum pterocarpum) - Kedelai (Glycine max)

 IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) – Jagung (Zea mays)

IMG_0012

Plot:  Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – Padigogo (Oryza sativa)

Di tempat lain

alleycrop

IMG_0014

“Hedgrows Cropping System)” pada lahan lereng

23 AprSOIL-Manajemen Ultisol

 


MANAJEMEN ULTISOL

 

Reklamasi dan Ameliorasi Lahan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT)

 

UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

2

Unit pemukiman transmigrasi (UPT) Cempaka merupakan Program Transmigrasi pengembangan desa (Transbangdes) dengan jumlah penghuni 150 Kepala Keluarga (KK) penempatan tahun 1995/1996;  terletak di Kecamatan Cempaka, Kota administratip (Kotip) Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka sebagai pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Kecamatan Cempaka – Banjarbaru berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat; meskipun dari Kecamatan Cempaka – UPT Cempaka masih berupa jalan tanah yang diperkeras, tetapi kondisinya cukup baik.

Hal ini berkaitan dengan kemudahan transportasi sarana/prasarana serta pemasaran hasil panen.

Beberapa kaedah pengelolaan perlu diterapkan dan dipraktekkan dalam bentuk langkah-langkah pelaksanaan program. 

 

 

POTENSI DAN KENDALA

 

4

Sifat Kimia Tanah:

  • Secara umum, Podsolik Merah Kuning termasuk tanah miskin akan  hara disebabkan tingkat pelapukan  cadangan  mineral  dan pencucian relatif tinggi;   dan sifat fisik termasuk sedang, miskin akan bahan organik  sebagai  akibat  tingkat pelapukan tinggi, dan kapasitas fiksasi P tinggi sebagai akibat dominasi jenis mineral liat dan oksida-oksida berkemampuan mengikat ion-ion monofosfat dalam jumlah besar.
  • Kendala utama  lain yang  perlu diatasi adalah  kapasitas  tukar  kation  efektif (KTKE)  rendah, serta potensi keracunan aluminium tinggi.
  • Kadar besi dan/atau mangan tinggi akibat pencucian dijumpai pada lapisan tanah bawah.
  • Bila lapisan bawah terungkap akibat pengolahan atau pengikisan top soil, maka besi dan mangan mengalami oksidasi dan membentuk krokos yang disebut plinthite.
  • Krokos yang tersebar di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah menjadi jelek dan daya penahanan air rendah sehingga berpengaruh terhadap sifat kimia tanah.  Selain tanaman mengalami keracunan besi atau mangan, juga dapat mengalami kekurangan P akibat terfiksasi.
  • Nilai KTKE・rendah menyebabkan unsur-unsur basa seperti K, Ca dan Mg tercuci sehingga kadarnya rendah dalam tanah.

 

3

Sifat Fisik Tanah:

  • Secara fisik, kendala yang dihadapi dalam pengembangan UPT Cempaka sebagai lahan pertanian adalah umumnya solum tanah dangkal dengan permukaan tanah didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil  tipis  dan bahkan pada bagian puncak hilang; drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan jelek dan lahan tergenang pada musim hujan.
  • Adanya krokos di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah jelek dan mudah mengalami erosi.
  • Untuk mengatasi hal ini diperlukan pembentukan lapisan bahan organik di bagian permukaan (top soil), melalui penambahan bahan organik lapis demi lapis hingga mencapai batas ketebalan olah.
  • Sebelum lapisan tersebut tercapai, maka prinsip pengolahan tanah adalah tanpa olah (no tillage) atau olah minimum (minimum tillage).

 

2

Topografi:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah akibat didominasi krokos menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekeringan pada musim kemarau (meskipun waktunya relatif pendek) dan kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala utama dalam sistem hidrologi kawasan UPT Cempaka.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan belum sempurna sehingga lahan pekarangan tergenang air pada musimhujan.
  • Curah hujan di Kalimantan Selatan umumnya dan UPT Cempaka khususnya cukup tinggi dalam waktu cukup lama.
  • Kondisi topografi disertai sifat fisik tanah jelek seperti disebutkan di atas menyebabkan peluang terjadi erosi tanah cukup besar.
  • Hal ini diperburuk oleh kondisi penutupan permukaan oleh vegetasi tumbuhan yang tidak sempurna akibat kesuburan rendah.

 

PROGRAM PERBAIKAN

 

8

 

Perbaikan Drainae Tanah:

  • Keberadaan air dalam tanah menentukan status udara, yang selanjutnya mengatur perilaku serta sifat ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
  • Drainase buruk menyebabkan terjadi penggenangan permukaan, sehingga tanah bersifat anaerobik dan jazad mikro anaerobik dominan.
  • Jazad mikro anaerobik akan mengubah ion-ion NO-, SO42-, Fe+, Mn4+/+ menjadi gas NO, N2O, atau N2,  SO2 atau H2S, Fe2+, dan Mn2+.
  • Perubahan ini menyebabkan unsur N dan S menjadi tidak tersedia karena hilang ke atmosfer, sedang Fe dan Mn kelarutannya meningkat dan dapat menyebabkan racun  bagi tanaman.fat a ber
  • Pada kasus ini, tanaman padi menunjukkan pertumbuhan kerdil, warna daun kekuningan dan Usaha perbaikan dilakukan dengan cara pembuatan saluran drainase, pergantian air pengairan secara terus menerus, atau pembuatanann bedengan (untuk tanaman non padi sawah).

 

10

 

Perbaikan pH Tanah:

  • Salah satu usaha untuk mengatasi kendala-kendala tumbuh tanaman atau ketidak-suburan tanah bereaksi masam  adalah melalui pengolahan tanah medium (cangkul), pemberian kapur, dan pemberian pupuk P.
  • Pemberian kapur dan pupuk P diharapkan dapat meningkatkan pH tanah, KTKE, kejenuhan basa, ketersediaan P dan unsur-unsur hara lain, dan kegiatan jasad mikro tanah serta pengurangan ketersediaan aluminium, besi atau mangan sehingga tidak lagi meracun tanaman.
  • Perbaikan pH tanah diikuti dengan penggunaan pupuk NPK yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur tersebut.
  • Dosis kapur ditetapkan melalui uji cepat menggunakan larutan penentu pH dan lakmus (program pelatihan);  jenis kapur yang digunakan adalah dolomit.

 

9

Masukan Bahan Organik:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekurangan air pada musim kemarau menjadi kendala utama di lokasi Cempaka.
  • Bahan organik yang ditanam pada saat prakondisi adalah tanaman legum penutup tanah jenis Mucuna, disebar setelah penyiangan gulma.
  • Biomas Mucuna cepat berkembang dan menutupi lahan sehingga selain sebagai sumber bahan organik juga dapat memberantas gulma;  biomas dikembalikan ke tanah (inkorporasi atau mulsa) setelah berumur sekitar 3 bulan.
  • Sebagai tambahan sumber bahan organik, di sepanjang batas pemilikan lahan pekarangan petani ditanam Glirisidia  (Glyricidia sepium), turi (Sesbania glandiflora) dan petaian (Peltophorum dasyrachis) sebagai tanaman pagar.
  • Pada waktu tertentu, tanaman pagar ini dapat dipangkas dan bahan pangkasan dimasukkan ke lahan.
  • Sumber bahan organik lain diperoleh dari pembuatan kompos oleh petani di bawah bimbingan petugas.

 

11

Pencegahan Erosi:

  • Masalah kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala dalam sistem hidrologi kawasan pemukiman.
  • Pada lahan miring dilakukan pembuatan parit atau selokan drainase permukaan untuk mencegah terjadi runoff dan erosi .
  • Program jangka panjang memerlukan pembuatan kolam/balong penampung air sebagai cadangan di musim kemarau.
  • Perbaikan daya pegang air tanah dilakukan dengan cara pemberian bahan organik ke dalam tanah.
  • Bahan organik berperan penting dalam peningkatan efisiensi penggunaan pupuk karena ia dapat meningkatkan daya sangga hara dan aktivitas jazad mikro.
  • Bila digunakan sebagai mulsa, maka peningkatan efisiensi terjadi karena ia mengurangi erosi, aliran permukaan dan penguapan.
  • Pada kondisi tanah berombak hingga bergelombang, usaha pencegahan erosi dilakukan dengan cara menanam tanaman tegak lurus kontur atau pembuatan teras lebar.
  • Pada program jangka panjang, penanaman tegak lurus kontur dilakukan dengan sistem tanaman pagar (alley cropping system) dengan jenis tanaman Glirisidia;  hasil pangkasan digunakan sebagai mulsa dan/atau diinkorporasikan sebagai bahan organik tanah.

 

DAMPAK  PERBAIKAN LAHAN

  • Jangka waktu prakondisi lahan adalah kurang lebih 3 bulan. Bulan-bulan berikutnya,  transmigran ditempatkan dan langsung mengusahakan lahan yang siap ditanami.
  • Jenis tanaman disarankan sesuai dengan pola yang dirancang, tetapi tidak menutup kemungkinan petani menanam komoditi sesuai dengan keinginan mereka.
  • Secara garis besar, lahan pekarangan yang diusahakan oleh petani memberikan hasil yang cukup menggembirakan terutama jenis sayuran.
  • Hasil sayuran menarik masyarakat di sekitar UPT Cempaka bahkan dari Banjarbaru untuk datang dan membeli secara langsung di lahan petani.
  • Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tanaman pangan, buahan dan industri yang dapat menjadi sumber pendapatan petani dalam jangka panjang demi jaminan hidup mereka.

 

SEBELUM PROGRAM

 

7

Rona awal sebelum program

15

Tanaman jagung di halaman rumah

5

Tanaman koro pedang di lahan belakang rumah

6

Lahan usaha di belakang rumah

 

 

SETELAH PROGRAM

 

13

Rona dampak setelah program

12

Lahan usaha di belakang rumah

14

Tanaman terung di halaman rumah

16

Tanaman kedelai di lahan belakang rumah

17

Tanaman padi gogo di lahan belakang rumah

 

12 AprSOIL-Terungkap dan Tertutup

  

ALAMI – BUDIDAYA – PROBLEM

 

REKLAMASI – AMELIORASI

 

Foto-foto: Syekhfani

 

TERUNGKAP (Expose, Open):

 Alfisol2(Kemarau  Lamongan)

Alfisol Lamongan (Jawa Timur), musim kemarau biomas vegetasi topsoil mati kekeringan, tanah merekah karena kadar liat tipe 2:1 tinggi (shrinked-mengerut), menyebabkan celah lebar dipermukaan lahan.

 G9a

Inceptisol Citraland (Kotamadya Surabaya), permukaan lahan taman yang terbuka menyebabkan proses evaporasi air tanah mengandung garam, sehingga permukaan tanah tertutup lapisan kristal garam menyebabkan bila larut dalam air hujan atau irigasi maka reaksi tanah menjadi alkalis; terjadi gangguan pertumbuhan tanaman hias (taman).

 5. Ultisol (Degradasi Berat)

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan terbuka, curah hujan tinggi, terjadi erosi hebat dan topsoil hilang.  Lapisan subsoil (horizon Argilik) kaya liat eluviasi menjadi keras membentuk formasi eksotik.

 3. Ultisol (Sumbar Longsor)

Ultisol Solok (Sumatera Barat), lahan longsor, curah hujan tinggi, topsoil menjadi beban yang tidak dapat ditahan atau didukung oleh subsoil yang punya lapis kedap air dan bidang kilir (slickenside).

Gambut Palangkaraya

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), dibuka untuk bahan pembuat arang gambut (sumber alternatif energi bakar).

 

TERTUTUP (Covered, Close):

 Apel Poncokusumo

Andisol Poncokusomo (Malang, Jawa Timur), permukaan tanah kebun apel, ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi erosi air atau pun angin.  Di samping itu LCC juga berfungsi sebagai penyangga air dan sumber unsur hara (N).

 3. Entiso Blitar2

Entisol Blitar (Jawa Timur), permukaan tanah kebun kopi, tertutup lapisan pasir (sand) materi letusan Gunung Kelud (1990). Rejuvinasi dilakukan dengan mengurangi biomas kanopi pohon kopi dan membuka lapisan pasir di seputar proyeksi tajuk sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan secara normal (pemupukan, dan sebagainya).

 9. Inceptisol (Mulsa Jerami Aceh)

Inseptisol Kota Baru (Banda Aceh), permukaan lahan sawah ditutup mulsa jerami padi sehabis panen. Kegiatan ditujukan untuk mengembalikan jerami ke lahan (mengurangi masalah penumpukan materi di halaman), melakukan proses penghancuran (dekomposisi) in situ, dan pengembalian fungsi bahan organik ke lahan sambil menunggu masa tanam padi berikutnya.

 G7a

Inseptisol Citraland (Kotamadya Surabaya, Jawa Timur), permukaan lahan taman ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi penguapan (evaporasi) tanah salin-sodik sehingga mencegah penumpukan garam dipermukaan yang menggangu pertumbuhan tanaman hias (taman).

 Tanaman Pagar (Percobaan Cover Crop)4

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan dari reklamasi lahan alang-alang (Imperata cylindrica) ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Mucuna pruriens dan lain-lain, agar lahan terbebas dari invasi alang-alang untuk dijadikan lahan budidaya.

 05. DESA PAHANDUT (Tanam Sayur Kangkung)1

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), ditutup rapat dengan biomas tanaman sayur-sayuran (kangkung, dan sebagainya), selain fungsi konsumsi yang bernilai ekonomis,  juga fungsi hidrologi lahan gambut dari ancaman kekeringan dan bahaya terbakar.

 

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …

 

09 AprSOIL-Lahan Basah

POTENSI – PENGELOLAAN  -  DI INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

LAHAN BASAH:  yaitu lahan yang secara alami  “memperoleh air dari resapan curah hujan ke tanah daratan pinggiran sungai dan danau, maupun seputar muara, dan perairan rawa dan payau, sepanjang daerah pantai” (Anonimous 2002), berfungsi sebagai penyangga kehidupan:  fungsi hidrologi suatu kawasan (suplai air tanah, pencegah kekeringan dan banjir), tata air tanah dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional, pencemaran air, dan konversi habitat akhir-akhir ini, menyebabkan penyusutan luasan lahan basah, terutama sungai, danau, dan rawa.

Menurut AWB (Anonimus, 2004a), Indonesia memiliki lahan basah terluas di Asia, yaitu sekitar 42.6 juta hektar.  Data tahun 2002 menunjukkan adanya penyusutan luas menjadi 33.8 juta hektar;  22 juta hektar lahan alami, dan 8.8 juta hektar lahan basah buatan.

Menurut Anonimus (2004b),  dari luas lahan di Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 162.4 juta hektar, sekitar 39.4 juta hektar berupa lahan rawa pasang surut (24.2 %), dan sekitar 123 juta hektar berupa lahan kering (75.8 %).

Karakteristik lahan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hidro-topografi.

Berdasar kondisi tersebut, lahan rawa dibedakan menjadi dua sub kelompok:  rawa pantai  dan   rawa pedalaman.

Rawa pantai dipengaruhi fluktuasi pasang surut, sedang rawa pedalaman oleh adanya pengaruh banjir sungai pada bantarannya.

Menteri pertanian Bungaran Saragih (Kompas, 31 Juli 2003), mengemukakan bahwa lahan rawa dan pasang surut di Indonesia yang mencapai luas 33.4 juta hektar, potensial menggantikan lahan pertanian di Jawa yang telah mengalami konversi ke pemukiman dan industri.

Oleh sebab itu, pengembangannya mendesak dilakukan agar Indonesia, yang pertambahan penduduknya tiga juta jiwa per tahun, kecukupan pangan.

 

LAHAN BASAH:   ASPEK PRAKTIKAL

tanah sulfat masam

Aspek Pertumbuhan Tanaman:

Semua makhluk hidup membutuhkan O2 untuk bernapas, H2O untuk minum, dan hara untuk makan, apakah manusia, hewan, atau pun tumbuhan;  sebagai tambahan cahaya matahari bagi tumbuhan.  Hal ini merupakan prinsip dasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup makhluk-makhluk tersebut, dengan urutan tingkat kepentingan adalah udara, air, dan makanan.

Pada lahan basah, jumlah air tidak menjadi  masalah kecuali kualitas air;  udara menjadi masalah bagi tanaman darat (upland), tetapi tidak bagi tanaman padi sawah (atau tanaman air lainnya atau ikan),  karena tanaman air mampu menyalurkan udara melalui rongga aerenchyma dalam rongga batangnya.

Sedang unsur hara, berfluktuasi tergantung  unsur hara larut dalam air irigasi atau pemberian pupuk.  Akan tetapi pada kasus air tergenang dalam jangka lama (stagnasi), akan berakibat pada transformasi senyawa/unsur tertentu yang menyebabkan jumlahnya  berlebihan (meracun) atau kekekurangan (defisiensi).  Hal ini ditandai oleh perubahan nilai Eh/pH tanah dan air.

Kelebihan unsur akibat salinitas tinggi ditandai oleh perubahan nilai ESP dan EC.

Bila pengaturan irigasi dan drainase berlangsung lancar, maka suplai oksigen tercukupi;  proses reduksi tidak terjadi secara ekstrem.

Sebaliknya, bila tidak lancar atau pada kawasan air irigasi tidak dapat diatur (misalnya terjadi turbulensi), maka proses reduksi akan berlangsung.

Tabel 1. Perubahan  Termodinamika Reduksi Senyawa-senyawa Anorganik pada Sistem Oksidasi-Reduksi (Stevenson, 1986)

Status    Redoks

Kisaran Eh

(mV)

Pertumbuhan   Tanaman
 Oksidasi  > 400 Baik untuk tanaman   darat (upland crops) dan tidak baik untuk padi sawah
 Reduksi   Lemah  400 – 300 Normal untuk padi   sawah, tanaman darat terganggu
 Reduksi   Sedang  200 – (-100) Tanaman darat   sangat terganggu
 Reduksi   Kuat  < (-100)

Padi sawah terganggu oleh senyawa-senyawa reduksi

Pada Tabel 1 di atas ditunjukkan bahwa senyawa-senyawa/unsur-unsur yang akan berubah statusnya adalah N, S dan bahan organik yang hilang menjadi gas, dan kelarutan unsur Fe dan Mn tinggi menyebabkan tanaman keracunan.

Pada tanaman padi sawah/lebak, selain kemungkinan keracunan unsur Fe dan Mn, dapat pula terjadi defisiensi unsur K (penyakit Akiochi, Akagare, Mentek) dan defisiensi unsur P.

Unsur K (dan juga unsur lain) terhalang serapannya karena akar tanaman padi diselubungi karat besi atau mangan;  sedang unsur P terfiksasi dalam bentuk sukar larut dan tidak tersedia (Iron/Manganese induced chlorosis phosphorous).

Kelarutan besi dan/atau mangan tinggi akibat proses reduksi tidak akan menjadi masalah bila bereaksi dengan ion sulfida yang juga tinggi, membentuk FeS atau MnS.

Senyawa-senyawa ini terakumulasi pada lapisan tanah reduktif (horizon sulfidik).

Selama lapisan ini tidak diganggu dan diangkat ke permukaan, ia tidak akan menjadi masalah.  Keberadaan senyawa-senyawa ini ditunjukkan oleh adanya mottling dan bercak-bercak dengan tekstur halus dikenal dengan nama cat clay.

Bila lahan diolah dan senyawa-senyawa terangkat, maka proses oksidasi terjadi,  sulfida diokasidasi menjadi sulfat dan pH tanah turun secara drastis (dapat mencapai pH = 1).  Pada pH sangat  rendah ion besi dan mangan berada dalam bentuk Fe2+ dan Mn2+ dalam konsentrasi sangat tinggi.

Dalam hal ini, tidak satu jenis tanaman pun yang akan dapat tumbuh.

 

Aspek Pengelolaan:

Dalam pengelolaan lahan basah, diperlukan langkah-langkah:  (1) penyiapan/perbaikan sistem irigasi – drainase, (2)  ameliorasi tanah untuk mengatasi pH, Eh, dan EC ekstrem, (3) penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman, ternak, ikan), (4) mempertahankan jenis – jenis (varietas) tanaman, ikan, ternak unggul lokal, dan (5) mempertimbangkan pengembangan sistem pertanian tradisional spesifik lokasi yang menunjukkan sistem berkelanjutan melalui masukan teknologi.

 

Sistem Irigasi – Drainase

Langkah pertama persiapan lahan basah untuk budidaya pertanian (perikanan, peternakan) adalah pengelolaan  sistim irigasi – drainase, dalam mengatur tata air dan udara tanah.  Kualitas air sangat ditentukan oleh sumber air dari sungai atau intrusi air laut untuk lahan dekat pantai.  Untuk hal kedua, maka masalah salinitas dan kadar garam tinggi perlu dipantau dengan baik.  Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Sifat perilaku air yang masuk dalam saluran irigasi, akan menentukan input air pada kawasan lahan budidaya.  Penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi dari Unlam (Disertasi, 2004),  menunjukkan ada kawasan di mana air masuk tidak dapat keluar karena mengalami turbulensi.  Pada kawasan in terjadi penggenagan permanen yang berakibat proses reduksi terus menerus.  Pada kawasan ini, pemilihan jenis tanaman secara bijak adalah tanaman yang secara alami toleran dan berkembang pada kondisi tersebut (misalnya pohon Gelam, rumput Purun, dll.).

 

Ameliorasi Kesuburan Tanah

Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, sistem Surjan).  Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.  Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.  Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah. Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman.  Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

 

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu (integrated farming system), perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan bahan organik dan unsur hara di lahan budidaya, dan ini merupakan syarat agar sistem dapat bersifat berkelanjutan.

Tumpangsari padi sawah dengan ikan (mina padi) dan ternak unggas:  itik, ayam, dan ruminan:  kerbau, sapi, kambing;  dapat di atur dalam pengelolaan onfarm maupun outfarm. 

Ternak ruminan dapat memperoleh pakan dari rumput-rumput alami yang tumbuh subur di lokasi setempat.

Dalam sistem ini, masukan bahan organik (terutama pupuk kandang) berperan penting dalam menjaga sifat kesuburan tanah.

Pupuk kandang berfungsi secara multi purpose dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan (terutama) biologi tanah.  Teknologi ‘dekomposisi’  bahan organik sisa panen, kompos maupun pupuk kandang perlu disampaikan pada tingkat petani, agar mereka mampu menyediakan bahan organik dari sumber yang ada.

 

Mempertahankan dan Mengembangkan Sistem Tradisional Setempat

Budidaya tradisional yang menunjukkan hasil cukup baik, serta penggunaan jenis tanaman (dan ikan) varietas unggul lokal, perlu dipertahankan serta dilakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Sistem “Handil” yang telah berkembang cukup lama di daerah pasang surut Kalimantan Selatan perlu dikaji dan dikembangkan.

Keampuhan sistem ini adalah dari segi pembuatan saluran-saluran irigasi dan drainase yang mengikuti sifat perilaku air pasang surut;  di samping pengolahan minimum.

Pengolahan minimum tidak mengganggu lapisan Sulfidik, sehingga masalah pH masam dan keracunan besi dan mangan dapat diminimalkan.

Upaya pengelolaan lahan pasang surut menggunakan sistem “Zonasi”, yaitu membagi kawasan pengelolaan berdasar pada batas segmen-segmen jarak dari sungai (hasil penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi, 2004), perlu  mendapat perhatian untuk dikaji kemungkinan penerapannya.

REFERENSI

Anonimus.  2002.  Lahan Basah Alam Asli Indonesia. File Hari Lahan Basah Sedunia 2002. file: Lahan Basah Sedunia 2002.htm.

_________.  2004a.  Lokakarya Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah (National Strategy for the Management of Wetlands Ecosystem).  Situs Menteri KLH, 20 February 2004.  Asdep. Urusan Ekosistem Darat Telp/Fax. 021 85904934. E-Mail:  ekosistem_airtawar@yahoo.com.

_________.  2004b.  Informasi Umum Tentang Rawa Pasang Surut di Indonesia.  Rawa Pasang surut, Evaluasi Pedoman Pengembangan. Web: Tidal-lowlands.org

Bambang Djoko Priatmadi.  2004.  Segmentasi, Dinamika S dan Fe, dan Reklamasi Tanah Sulfat Masam  dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Tanaman Padi.  Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Kompas.  2003.  Lahan Rawa 33 Juta Ha Gantikan Pertanian Jawa.  Kompas, Kamis – 31 Juli 2003.

Stevenson, F.J.  1986.  Cycle of Soil:  Carbon, Nitrogen, Phosphorous, Sulfur, Micronutrients.  John Wiley & Sons.  New York.  380 p.

 

 

Disajikan dalam Seminar dan LKTI Se-Indonesia, Himpunan Mahasiswa Pakultas Pertanian Uiniversitas Lambung Mangkurant, Banjarbaru, 3 Agustus 2004  – Syekhfani

 

16 NovWACANA ILMU TANAH

 1

Upaya Mengerti & Memahami Sifat – Perilaku Tanah

 

2

Dr. Abdurachman Adi - KaPuslitbangtanak:

Degradasi Tanah Pertanian Indonesia - Tanggungjawab Siapa???

 

3

Ultisol terdegradasi berat, kehilangan topsoil, tumbuhan Melastoma pubescens (Hareundeung-Sunda, indikator tanah masam), bertahan hidup pada subsoil yang mengalami konkresi unsur besi/mangan. Foto: Syekhfani

 

4

Profil sumur Ultisol, kedalaman 6 meter, tampak bercak (mottling) besi/mangan di bagian atas (zona oksidasi) dan warna abu-abu (gley) di bagian bawah (zona reduksi). Foto: Syekhfani

UPAYA MENGELOLA LAHAN ULTISOL BERMASALAH

NITROGEN CYCLE -Mekanisme Perilaku (Acuan dasar pengelolaan N – Syekhfani)

5

6

7

8

Reklamasi lahan Alang-alang (Imperata cylindrica L.): dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system) dan penutup tanah (cover cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

10

 

11

Reklamasi lahan alang-alang: dengan Sistem Berbasis Ubikayu (Cassava : Manihot esculenta Crantz -based cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

12

13

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system: Lamtoro: Leucaena leucocephala-Jagung: Zea mays L. dan kontrol) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

14

 

15

16

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman penutup tanah (Cover Cropping System: Kudzu: Calapogonium mucunoides, Enceng-enceng: Crotalaria anagyroides, dll.) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

17

Reklamasi lahan alang-alang: di lahan petani (Farmer’s field: jagung, drainase jelek), di luar area kebun PG Bungamayang, Lampung UtaraDokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

 

14 NovSOIL – IPTEK KESUBURAN TANAH

 

 0

 

PENGENALAN JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA

 

(Foto dan interpretasi: Syekhfani)

 1

Alfisol Lamongan (Jagung): Sifat kesubtan: bahan organik sedang; pH agak masam; KTK tinggi; N (S), P, K sedang; Ca, Mg sedang; Cu, Zn sedang; drainase agak jelek, dan kehidupan cendawan tertekan. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan dolomit (sedang); dan pembuatan saluran drainase.

 2

Andisol Batu (Kubis, Teras Bangku): Daya tahan air agak baik; daya pegang hara agak baik; kadar BO rendah dan pH agak masam; KTK sedang; an kadar unsur (N), (S), (K), P, Mg, Zn agak rendah. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang), kompon NPK(S) sedang, dan dolomit (sedang); serta pembuatan rorak/parit pemegang air di bagian atas teras.

3

Entisol Blitar (lahan selesai panen): Olah tanah cara campur-rata (incorporate) dengan sisa panen. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan unsur N, P, K, (S) (sedang, bertahap); dan pemberian mulsa.

4

Histosol Palangkaraya (Vegetasi: semak hidrofil (jenuh air), vegetasi pakis: Fleopeltis longistema Moore ; purun; hareundung: Melastoma malabathricum – indikator tanah masam).

5

Histosol Palangkaraya (Pepaya): tanah gambut (Histosol) di halaman tidak dapat berfungsi baik sebagai penahan tumbuh pohon pepaya ( jangkar, pohon pepaya rebah miring, lih. gb). Manajemen: pemberian tanah mineral, pupuk kandang (tinggi), NPK(S),mikro (lengkap) dan dolomit (tinggi); dan pembuatan saluran irigasi + drainase.

6

1a. Pengolahan dengan traktor (mekanik): perbaikan sifat fisik (udara, air).

7

1b. Pengolahan dengan bajak sapi (tradisional): perbaikan sifat fisik (udara, air).

8

2. Pengguludan (pembuatan guludan dan cemplongan untuk tanam Tebu (Saccharum officinarum L.).

9

3. Penanaman tebu ke-1 (plant cane).

Inseptisol Blitar (Pengolahan Tanah untuk Pertanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Lahan Sawah, TRIS): Sifat tanah: musim kemarau topsoil kering, subsoil lembab; musim hujan lembab; daya tahan air sedang; daya pegang hara sedang; sedang; dan unsur hara N, S, (P, K, Ca, Mg) sedang.

PENELITIAN PUPUK CAIR GREENVIT

Inseptisol Karangploso Malang

GREENVIT 2009

10

Oksisol Subang (Pengapuran Tebu): Sifat tanah: musim kemarau kering, rekah; musim hujan becek, licin, lekat; daya tahan air tinggi; daya pegang hara tinggi; pH dan BO rendah; KTK sedang; kadar N (S), P, K rendah; Ca, Mg rendah; Cu, Zn rendah; dan kehidupan bakteri agak tertekan. Aplikasi kapur pertanian sepanjang alur tanam (band placement) jarak 10 cm kiri-kanan alur, kedalaman 10 cm, dan ditimbun tanah.

11

Vertisol Madiun (Persiapan Tanah Tebu-2000): Sifat tanah: kadar liat tipe 2:1 (mengembang/mengkerut, swelling/shrinked); sifat fisik jelek (musim hujan lekat, musim kemarau rekah), sifat kimia sedang. Aplikasi teknologi irigasi, aerasi, dan drainase.

 

12

Ultisol Lampung Utara: Cassava (Manihot esculenta Crantz) – based cropping system: Nitrogen management project, PG Bungamayang (dokumen penelitian).

13

Ultisol Lampung Utara: Alley cropping/Hedgerows system (Lamtoro: Leucaena lecocephala – Jagung: Zea mays L.) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

14

Ultisol Lampung Utara: cover cropping system (biomas) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

15

 

Ultisol Sumatera Barat (longsor): Sifat fisik jelek (liat tipe 1:1, bidang kilir, permeabilitas rendah, erodibilitas tinggi).

 16

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT

 

(Foto dan Dokumen: Syekhfani)

 

17

Temu Lapang P3GI

18

Diskusi dengan staf PG Bunga Mayang Lampung

19

Program D1-Hortikultura UB-Pemkot Batu (1997, 1998, 1999: Apel-Sayuran-Tanaman Hias)

PELATIHAN STAKE-HOLDER

Materi: Syekhfani

1. KONSEP KESTAN BERKELANJUTAN

2. PROSPEK PERTANIAN ORGANIK

3. NUTRISI TANAMAN

4. Rekomendasi Pemupukan Seimbang

5. AZOLA (Nitrogen fixation in rice based cropping systems)download

 

SOSIALISASI TENTANG TANAH

 

Materi: Syekhfani

 

Kriteria Sifat Kesuburan Tanah

 

Baku Mutu Pupuk Organik

 

1. MANAJEMEN BO

2. Guide to Composting

3. Composting at Home

4. Composting of municipal solid waste

5. Growing Healthy Soil

6. The Right Plants

7. Smart watering

8. Natural Pest, Weed & Diseases Control

9. Natural Lawn Care

10. Smart Gardening

11. Sustainable Soil Management

12. Some Information on Soil Fertility

 

 

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MAHASISWA

 

(Foto Dokumen: Syekhfani)

20

Studi Lapangan Mahasiswa FP-UB

21

Diskusi dengan Pengelola Kebun Percobaan FP-UB, Jatikerto

22

Diskusi dengan mahasiswa D1-Horti di Kebun Apel Petani, Batu

Mengenal Profesi Ilmu Tanah (Materi OSPEK MABA FPUB 2012: Syekhfani)

FORSIKA 9 Des 2012 (Materi diskusi: Syekhfani)