Archive for the 'Reklamasi lahan' Category

28 JunAmeliorasi Lahan Masam

Fly ash batu bara

ABU TERBANG (FLY ASH) BATU BARA

Syekhfani

Lahan masam, lahan yang secara pedogenesis berbahan induk masam, atau secara geografis berada di zone basah (tropika basah-tropical rain forest), secara kimiawi mempunyai kandungan unsur basa-basa kuat (stong basic nutrition) Na, K, Ca dan Mg rendah, tetapi kandungan basa-basa lemah (weak basic nutrition) Al, Fe dan Mn yang tinggi.

Untuk mengantisipasi, maka diperlukan amelioran, yaitu material yang mempunyai sifat kebasaan tinggi seperti: kapur, slag, biochar, atau pun abu.

Ameliorasi lahan masam yang mempunyai tambang batu bara yang telah dieksploitasi, misalnya di Kalimantan Timur, dapat dilakukan menggunakan “Abu Terbang (fly ash) Batu Bara” yang tertimbun sebagai deposit halus di lokasi eksploitasi batu bara.

Abu Terbang (fly ash) batu bara ini mempunyai sifat basik, berpotensi menetralkan lahan masam.

Oleh sebab itu, diperlukan studi pendalaman tentang sifat perilakunya, dalam upaya ameliorasi lahan masam yang cukup luas di Indonesia.

01 JunSorot Balik Semburan Lumpur Panas

DISINYALIR AKIBAT SALAH TEKNIS

Berbagai Upaya Penanggulangan

Syekhfani

Semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur, membawa dampak kerusakan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat yang cukup memprihatinkan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi bencana (disaster), yang disinyalir sebagai suatu kesalahan teknis dalam pengeboran sumber minyak.

Berikut gambaran (review) peristiwa tersebut serta upaya penaggulangan:

1. Lokasi semburan lumpur

Gambar 1. Lokasi semburan lumpur panas

2. Semburan lumpur

Gambar 2. Semburan lumpur panas

3. Profil saluran semburan lumpur

Gambar 3. Profil saluran semburan lumpur panas

4. Rumah terendam lumpur

Gambar 4. Rumah terendam lumpur panas

5. Desa terkena dampak

Gambar 5. Desa terkena dampak

6. Pembuatan sumur pemadam semburan

Gambar 6. Pembuatan sumur pemadam semburan

7. Upaya penutupan lubang

Gambar 7. Upaya penutupan lubang

Lihat: SOIL-Lumpur Marin (http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/01/soil-lumpur-marin/)

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

02 FebManajemen Tanah Salin

KIAT MENGATASI EKSES NATRIUM

Syekhfani

Tanah salin (saline soils), adalah tanah mengandung kadar natrium (Na) tinggi, di mana Exchangable sodium percentage (ESP), Sodium Adsorption Ratio (SAR) dan daya hantar listrik (DHL) tinggi.

Gb 1. Endapan garam di permukaan tanah

Gb 1. Endapan garam di permukaan tanah

Tanah salin, berkembang di sepanjang pantai landai, dari rembesan (seapage) air laut , dan pada lahan zone arid atau semi arid yang dibudidayakan secara intensif, pengaruh gerakan air tanah melalui pembuluh kapiler (capillary rise) mencapai permukaan kemudian air menguap (evaporasi) meninggalkan konsentrasi garam di permukaan tanah.

Vegetasi tumbuhan yang berkembang di zone salin didominasi oleh jenis toleran terhadap kadar garam tinggi. Contohnya, bakau, kelapa, waru laut, dsb. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/09/30/hidup-di-tepi-pantai/.

Gb 2. Panorama Pantai Tamban

Gb 2. Panorama Pantai Tamban

Natrium (Na), unsur monovalen, bersifat mendispersi agregat, sehingga tanah salin bersifat padat, lepas, mudah tererosi dan drainase jelek.

Apabila lahan salin akan dibudidayakan untuk tanaman pertanian, maka dibutuhkan kiat-kiat sebagai berikut:

A. Ameliorasi Tanah:

Untuk lahan beririgasi teknis dan non-teknis (tadah hujan), dilakukan:

a. Pengaliran air tawar untuk membilas kelebihan Na.

b. Ameliorasi tanah menggunakan bahan kapur, bahan organik, atau agen pengondisi tanah (soil conditioner).

c. Mejaga keseimbangan unsur, penambahan bahan organik, mengatur sifat fisiko-kimia tanah, dll. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/01/soil-lumpur-marin/.

Gb 3. Lumpur Marin

Gb 3. Lumpur Marin

c. Agar efek ameliorasi bahan organik bersifat jangka panjang (sustainable), maka digunakan bahan organik siklik, aromatik yang sukar mengalami perombakan oleh mikroorganisme. Contohnya: asam humat, biochar. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/01/09/asam-humat-dan-biochar/.

d. Dilakukan pemberian basa-basa polivalen (kapur Ca, Mg-karbonat) untuk menjaga keseimbangan basa-basa dan memflokulasikan partikel terdispesi, sehingga aerasi dan drainase tanah menjadi lebih baik.

B. Jenis Tanaman:

a. Dicari jenis, varietas atau klon tanaman toleran terhadap kadar garam tinggi. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/07/22/tanaman-toleran-salinitas/.

b. Penanaman sistem “Surjan” (guludan, gundukan) untuk mencuci Na saat musim penghujan. → Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/30/sistem-surjan/.

Gb 4. Sistem Surjan

Gb 4. Sistem Surjan.

30 AprSISTEM SURJAN

Menjinakkan Kucing Tidur!

Syekhfani

Menjinakkan liat kucing (cat clay) terbangun, bisakah!?, “Bisa!“!
Saat liat kucing (cat clay) terungkap (revealed) ke permukaan, maka tanaman tidak dapat tumbuh normal. Umumnya menjadi kerdil, keracunan dan/atau defisiensi unsur hara. Lihat Gambar:

Capture

Hal tersebut merupakan implikasi dari sistem “Surjan” yang mengangkat horizon Sulfidik untuk budidaya tanaman (upland) di lahan pasang surut bereaksi masam (“Sulfat Masam).

Reklamasi dan ameliorasi lahan sistim Surjan ini secara garis besarnya dapat dilakukan mengikuti kaedah pengelolaan tanah bergambut masam, meliputi: irigasi dan drainase, pengapuran, pencucian oleh air hujan, dan (pemberian bahan organik/pupuk kandang).

Capture

Manajemen kawasan lahan budidaya, pada prinsipnya melakukan pengaturan inlet/outlet saluran irigasi. Lihat: Presentasi Lahan Basah

23 FebLetusan Gunung Kelud (Upaya Pengelolaan Cepat)

  

LETUSAN GUNUNG Kelud

(Upaya Pengelolaan CEPAT)

Syekhfani

Kembali gunung Kelud meletus, letusan terakhir PADA Tahun 1990. Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/05/soil-dampak-letusan-gunung-berapi/

KARENA ITU, diperlukan upaya mengurangi dampak kerusakan Lahan dan degradasi Tanah sedapat mungkin dalam waktu singkat agar tidak berdampak negatif Jangka Panjang.

Di Bawah ini, adalah alternatif pengelolaan Tanah yang disarankan:

1. Mencampurkan ( menggabungkan ) materi abu vulkanik Artikel Baru humus lapis Olah (20 – 30 cm).

2. Menggunakan amelioran Bahan organik ( pupuk Kandang , kompos , pupuk Hijau ) sebagai pengikat partikel lepas (Pasir, Debu, liat).

3. Pengelolaan Sumber air (Hujan, Irigasi).

4. Penanaman Tanaman kacang-kacangan ( Legum ) penutup Tanah ( Tanaman penutup ) CEPAT Tumbuh ( Mucuna , Pueraria , Glyricidia ).

5. Konservasi Tanah untuk Tanah berpasir ( Tanah berpasir ).

6. INI juga Akan membuka Tanaman Pangan: ubi-ubian ( singkong , kentang , ubi jalar ), kacang-kacangan ( kacang Tanah , Kedelai , kacang Hijau ) Dan sereal ( padi , jagung , tebu ).

. 7 Tanaman alternatif: sayur-Sayuran ( Kubis , wortel , kangkung ) Dan buah-Buahan ( nanas , melon , semangka ).

 

06 FebNetralisasi Ion Aluminium (Alternatif Non Kapur)

 

NETRALISASI ION ALUMINIUM

(Alternatif Non Kapur)

 

Ameliorasi Tanah Masam ~ Alternatif ~ Bahan Non Kapur

 

Syekhfani

 

Bahan Non kapur (non lime material) untuk peningkatan pH adalah tindakan alternatif ameliorasi tanah mineral masam.  Apabila bahan kapur sulit diperoleh, maka bahan lain untuk meningkatkan pH dan/atau menetralisasi ion Al3+ dapat dijadikan alternatif solusi.

Alternatif tersebut meliputi:

 

a. Efek Penggenangan (flooding effect):

-meningkatkan pH menjadi netral

- menggenangi (flooding)

- percetakan sawah baru

 Percetakan Sawah Baru

Percetakan sawah baru

b. Kompetitor ion Al3+:

- menambah sumber anion multivalen

- menambah kation multivalen (common ion effect)

- anion Fosfat, Silikat (anorganik)

Basic Slag (terak baja)

 

c. Memblok ion Al3+:

- bahan pengkhelat (chelating agent)

- bahan organik siklik/aromatik yang tergolong sukar terombak

- asam Humat, asam fulvat, lignin,pektin.

Leonardite

Zeolite

Biochar

 

09 DecSOIL-Biochar

 

Biochar

 

BIOCHAR

 

Diungkap oleh:  Syekhfani

 

Biochar dikembangkan dari temuan bahan karbon dalam tanah pada lokasi bekas hutan terbakar di “Trerra Prete”, Brazil, yang menunjukkan tingkat kesuburan yang tinggi.

Biochar merupakan rangkai karbon aktif stabil hasil proses pirolisis, yang salah satunya dapat berfungsi sebagai bahan pengondisi tanah (soil amandement):

Flowchart

Biochar sebagai pengondisi tanah dalam hal tata air dan tata hara (Kapasitas Tukar Kation - KTK, Kapasitas Penahanan Air - KPA;  Cation Exchange Capacity - CEC, Water Holding Capacity - WHC).

Biochar memiliki potensi untuk menghasilkan energi terbarukan berbasis pertanian dengan cara yang ramah lingkungan dan memberikan perubahan tanah yang berharga untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Jika pasar offset karbon berkembang, biochar dapat memberikan pendapatan bagi petani dan peternak yang menggunakannya untuk menyerap karbon dalam tanah.

 

Lihat:

1. https://attra.ncat.org/attra-pub/summaries/summary.php?pub=322

2. biochar

3. Biochar and Sustainable Agriculture

By Jeff Schahczenski

NCAT Program Specialist

© 2010 NCAT

Holly Michels, Editor

Amy Smith, Production

This publication is available on the Web at:  www.attra.ncat.org/attra-pub/biochar.html

 

19 NovSOIL-Reklamasi Bekas Tambang Batubara

 

REKLAMASI BEKAS TAMBANG BATUBARA

(EX-MINE COAL RECLAMATION)

 

Tambang terbuka – Topsoil Hilang – Reklamasi

 

Syekhfani

 

Indonesia kaya dengan tambang “batubara“, seperti di pulau Sumatera (Tanjung Enim, Padang) dan Kalimantan (tersebar di banyak tempat di Kalimantan Selatan dan Timur).

Praktik penambangan sistem terbuka (open mining) berdampak pada hilangnya lapisan tanah permukaan (topsoil), sehigga setelah penambangan selesai (pasca tambang), subsoil yang terungkap tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman, kecuali bila dilakukan reklamasi (rehabilitasi) lahan.

 0

 

ALTERNATIF SOLUSI

   

Biologi – Fisik – Kimia – Terpadu

 1. BIOLOGI:

Cover Cropping System,

Tumbuhan cover crop (penutup tanah): dari jenis legum (pohon, semak, rumput) yang mempunyai toleransi tinggi terhadap kondisi tanah marginal, misalnya:  pohon, Albizia falcataria, Acacia mangium, dan lain-lain;  semak, Calliandra calothyrsus, Leucaena leucocephala, dan lain-lain;  rumput, Desmodium heterophyllum,  Centrosema pubescens, Calapogonium mucunoides dan lain-lain.  Penutupan permukaan tanah dilakukan secara cepat dengan biomasa cukup banyak. Dengan waktu, subsoil bisa diubah menjadi topsoil. Diperlukan tindakan konservasi sisa pelapukan bahan organik hasil dekomposisi, terutama karena erosi.

 1

Albizia falcataria

 

2

 

Calliandra calothyrsus

 1. Desmodium  (Desmodium heterophyllum)

Desmodium heterophyllum

Lihat:  Dancing Desmodium gyrans

2. FISIK:

Landfill  System,

Topsoil hutan alami, sedimen lumpur sungai (aluvium), sedimen cekungan (koluvium), sedimen marin (luapan, terangkat), dan sebagainya. Bila memungkinkan dilakukan penutupan permukaan lahan (landfill) dengan bahan sedimen tersebut. Problem yang mungkin dihadapi adalah transportasi dan erosi.

 3. Timbunan Lumpur  Endapan Marin

Endapan Lumpur Marin

2. Timbunan Lumpur Endapan Sungai

 Endapan Lumpur Sungai

3. KIMIA:

Soil Amandement and Amelioration,

Bahan organik alami, kompos kota, akumulasi kotoran hewan (guano walet, kelelawar), bahan tambang organik (Leonardite), dan sebagainya. Hal sama seperti pada perbaikan sifat fisik dihadapi pula pada sifat kimia.  Terlebih lagi, keterbatasan dan persaingan dengan sumber pupuk organik yang harganya tinggi.

 4. Timbunan Guano

Lapisan Timbunan Guano

 

4. TERPADU (Fisik + Kimia + Biologi): Rekayasa kesuburan tanah terpadu, akrab lingkungan dan berkelanjutan.

 

Reklamasi lahan bekas tambang butuh “rekayasa terpadu”!

  

18 NovSOIL-Rekayasa Irigasi-Drainase

 

REKAYASA  IRIGASI DAN DRAINASE

(IRRIGATION  AND  DRAINAGE  ENGINEERING)

 

Lahan Basah – Sulfat Masam – Redoks – Perembesan/Pencucian Hara – “sistem Surjan”

 

Syekhfani

 

Masalah irigasi dan drainase di lahan basah Sulfat Masam, dicirikan oleh reaksi tanah (pH) sangat rendah dan kandungan unsur tereduksi (Fe, Mn, S, C) tinggi berpotensi meracun akar tanaman, sehingga air tidak bisa digunakan untuk irigasi.

Sistem “Surjan”, merupakan salah satu alternatif solusi, yaitu dengan mengangkat medium tumbuh akar (tanah) menjadi galenganbedengan atau gundukan yang lebih tinggi dari permukaan air di petak lahan. Tinggi galengan, bedengan dan gundukan disesuaikan  dengan jenis tanaman yang dibudidayakan (tanaman semusim atau tahunan).

Aliran air kapiler (capilarry rise), mungkin mengangkut unsur-unsur naik ke medium tanah dan  menyebabkan perubahan pH dan/atau status unsur hara. Ekses unsur hara dan perubahan pH ini secara alami hanya akan diantisipasi saat hujan turun, yang akan melarutkan dan mencuci (leach) unsur berlebih masuk kembali ke dalam air di petak lahan.

Kesuksesan sistem “Surjan” berkolerasi dengan sifat perilaku tanaman, terutama tingkat toleransi terhadap fluktuasi pH dan status unsur hara.

Alternatif ameliorasi adalah pengaturan irigasi dan drainase saluran masuk dan keluar, atau reklamasi menggunakan amelioran (bahan organik, unsur basa/asam, dan lain-lain).

Secara praktikal, contoh:  petani di lahan pasang surut “sulfat masamRawa Muning, Kalimantan Selatan, atau juga di tempat lain, telah menerapkan sistem ini untuk tanaman semusim (sayuran, palawija, dan lain-lain);  atau tanaman tahunan (buahan: pisang, mangga, kelapa, dan lain-lain).

 4

Saluran Irigasi – Drainase, saat air pasang saluran ditutup dan air surut dibuka

2

Galengan Tanaman Semusim (Sayuran, Palawija), ameliorasi berupa pemberian pupuk kandang dan/atau pengapuran

1

3

Galengan Tanaman Tahunan (KelapaPisang), ameliorasi berupa pemberian pupuk kandang dan/atau pengapuran

 

02 OctSOIL-Tanah Salin

 

 

TANAH SALIN ~ SALINE SOILS

 

Salin ~ Sodium ~ Konduktivitas Listrik

 

Respon Tanaman ~ Respon Mikroba

 

Bahasan: Syekhfani

 

Tanah salin, yaitu tanah berkadar natrium (sodium) tinggi, berkembang secara alami (endapan marin, seapage, pasang surut air laut) atau evaporasi (irigasi intensif) pada lahan pertanian intensif pada zona arid atau semi arid.

Sifat kesadahan (salinitas) tanah menentukan stoikima tanah yang berpengaruh terhadap kehidupan jazad makro (akar tanaman) maupun jazad mikro (mikroba) yang hidup dalam tanah sebagai medium (Tabel 1).

 

Masalah:

Status untuk unsur atau senyawa tertentu,

Pertumbuhan tanaman tertentu,

Kehidupan jazad mikro tertentu.

 

Manajemen:

Pencucianpenetralanpemasamanjenis toleranreklamasiameliorasi.

 

Reklamasi:

Irigasi, drainase, landfills.

 

Amaeliorasi:

Bahan organik, zeolit, pupuk, pengondisi tanah (soil conditioner).

 

Manajemen lahan khusus:

Tambak, padi sawah, bakau.

 

1. akar mangrove

Lahan bakau (mangrove)

2. images

Lahan pasang surut air laut (reklamasi)

3. Endapan garam di permukaan tanah

Endapan garam di permukaan tanah pertanian (irigasi intensif)

Lihat: →1)  syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-terungkap-dan-tertutup/

Lihat: →2)  syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/soil-lumpur-marin/

Lihat: →3)  syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-lahan-basah/

 

15 MaySOIL: Sulfat Masam

 

BUDIDAYA PERTANIAN DI LAHAN SULFAT MASAM

 1

 Contoh:  UPT Rawa Muning, Tapen, Kalimantan Selatan

  

Pengamat/Foto-foto:  Syekhfani

  • Tanah sulfat masam, adalah tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), dijumpai di daerah rawa, baik pasang surut maupun lebak.
  • Pada kondisi tergenang senyawa pirit bersifat stabil, namun bila kering dan teroksidasi berubah menjadi senyawa sulfat yang bermasalah bagi kimia tanah, air dan lingkungan.
  • Sebagian lahan sulfat masam telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi,  ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, tetapi umumnya di bawah potensi produksi tanaman.  Contoh:  di lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Rawa Muning, kabupaten Tapen, Kalimantan Selatan.
  • UPT Rawa Muning, dilengkapi sarana prasarana berupa saluran air untuk kepentingan transportasi serta sistem irigasi – drainase kawasan.
  • Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Namun, pada prakteknya sulit melakukan pengendalian air dengan baik. Terutama pada musim kemarau permukaan air tanah turun, terjadi oksidasi senyawa pirit menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah menjadi sangat masam.
  • Tanah-tanah teroksidasi, pada musim hujan mengalami proses reduksi dan  dalam bentuk besi ferro dan sulfida yang meracun tanaman.
  • Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, “sistem Surjan“).
  • Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.
  • Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.
  • Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.
  • Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah.
  • Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman. Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

4

Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Cempaka, Tapen, Kalimantan Selatan

6

Topografi datar, disiapkan untuk budidaya lahan sawah, dengan galengan sebagai batas pemilikan

3

Di bagian cekungan, air tergenang membentuk kolam abadi, ditumbuhi teratai

9

Musim kemarau, permukaan air turun, medium perakaran mengalami oksidasi

Pada musim hujan berikutnya, medium perakaran kaya sulfat dan pH sangat rendah (oksidasi pirit)

12

Musim penghujan, tanaman kelapa (Coccus nucifera) di galengan tumbuh normal

13

Musim kemarau, tanaman kelapa di galengan kering dan mati

14

Musim kemarau, tanaman padi sawah (Oryza sativa) menunjukkan gejala defisiensi dan/atau keracunan unsur hara

15

Musim kemarau, masih ada air terutama di saluran irigasi/drainase

16

16 (2)

Saluran air dan kolam abadi, menghasilkan ikan khas rawa masam (Gabus, Papuyu, Sepat, Saluang, dan lain-lain)

17

Keluarga kecil transmigran

18

Rumah transmigrasi yang ditinggalkan

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …

 

09 AprSOIL-Lahan Basah

POTENSI – PENGELOLAAN  -  DI INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

LAHAN BASAH:  yaitu lahan yang secara alami  “memperoleh air dari resapan curah hujan ke tanah daratan pinggiran sungai dan danau, maupun seputar muara, dan perairan rawa dan payau, sepanjang daerah pantai” (Anonimous 2002), berfungsi sebagai penyangga kehidupan:  fungsi hidrologi suatu kawasan (suplai air tanah, pencegah kekeringan dan banjir), tata air tanah dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional, pencemaran air, dan konversi habitat akhir-akhir ini, menyebabkan penyusutan luasan lahan basah, terutama sungai, danau, dan rawa.

Menurut AWB (Anonimus, 2004a), Indonesia memiliki lahan basah terluas di Asia, yaitu sekitar 42.6 juta hektar.  Data tahun 2002 menunjukkan adanya penyusutan luas menjadi 33.8 juta hektar;  22 juta hektar lahan alami, dan 8.8 juta hektar lahan basah buatan.

Menurut Anonimus (2004b),  dari luas lahan di Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 162.4 juta hektar, sekitar 39.4 juta hektar berupa lahan rawa pasang surut (24.2 %), dan sekitar 123 juta hektar berupa lahan kering (75.8 %).

Karakteristik lahan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hidro-topografi.

Berdasar kondisi tersebut, lahan rawa dibedakan menjadi dua sub kelompok:  rawa pantai  dan   rawa pedalaman.

Rawa pantai dipengaruhi fluktuasi pasang surut, sedang rawa pedalaman oleh adanya pengaruh banjir sungai pada bantarannya.

Menteri pertanian Bungaran Saragih (Kompas, 31 Juli 2003), mengemukakan bahwa lahan rawa dan pasang surut di Indonesia yang mencapai luas 33.4 juta hektar, potensial menggantikan lahan pertanian di Jawa yang telah mengalami konversi ke pemukiman dan industri.

Oleh sebab itu, pengembangannya mendesak dilakukan agar Indonesia, yang pertambahan penduduknya tiga juta jiwa per tahun, kecukupan pangan.

 

LAHAN BASAH:   ASPEK PRAKTIKAL

tanah sulfat masam

Aspek Pertumbuhan Tanaman:

Semua makhluk hidup membutuhkan O2 untuk bernapas, H2O untuk minum, dan hara untuk makan, apakah manusia, hewan, atau pun tumbuhan;  sebagai tambahan cahaya matahari bagi tumbuhan.  Hal ini merupakan prinsip dasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup makhluk-makhluk tersebut, dengan urutan tingkat kepentingan adalah udara, air, dan makanan.

Pada lahan basah, jumlah air tidak menjadi  masalah kecuali kualitas air;  udara menjadi masalah bagi tanaman darat (upland), tetapi tidak bagi tanaman padi sawah (atau tanaman air lainnya atau ikan),  karena tanaman air mampu menyalurkan udara melalui rongga aerenchyma dalam rongga batangnya.

Sedang unsur hara, berfluktuasi tergantung  unsur hara larut dalam air irigasi atau pemberian pupuk.  Akan tetapi pada kasus air tergenang dalam jangka lama (stagnasi), akan berakibat pada transformasi senyawa/unsur tertentu yang menyebabkan jumlahnya  berlebihan (meracun) atau kekekurangan (defisiensi).  Hal ini ditandai oleh perubahan nilai Eh/pH tanah dan air.

Kelebihan unsur akibat salinitas tinggi ditandai oleh perubahan nilai ESP dan EC.

Bila pengaturan irigasi dan drainase berlangsung lancar, maka suplai oksigen tercukupi;  proses reduksi tidak terjadi secara ekstrem.

Sebaliknya, bila tidak lancar atau pada kawasan air irigasi tidak dapat diatur (misalnya terjadi turbulensi), maka proses reduksi akan berlangsung.

Tabel 1. Perubahan  Termodinamika Reduksi Senyawa-senyawa Anorganik pada Sistem Oksidasi-Reduksi (Stevenson, 1986)

Status    Redoks

Kisaran Eh

(mV)

Pertumbuhan   Tanaman
 Oksidasi  > 400 Baik untuk tanaman   darat (upland crops) dan tidak baik untuk padi sawah
 Reduksi   Lemah  400 – 300 Normal untuk padi   sawah, tanaman darat terganggu
 Reduksi   Sedang  200 – (-100) Tanaman darat   sangat terganggu
 Reduksi   Kuat  < (-100)

Padi sawah terganggu oleh senyawa-senyawa reduksi

Pada Tabel 1 di atas ditunjukkan bahwa senyawa-senyawa/unsur-unsur yang akan berubah statusnya adalah N, S dan bahan organik yang hilang menjadi gas, dan kelarutan unsur Fe dan Mn tinggi menyebabkan tanaman keracunan.

Pada tanaman padi sawah/lebak, selain kemungkinan keracunan unsur Fe dan Mn, dapat pula terjadi defisiensi unsur K (penyakit Akiochi, Akagare, Mentek) dan defisiensi unsur P.

Unsur K (dan juga unsur lain) terhalang serapannya karena akar tanaman padi diselubungi karat besi atau mangan;  sedang unsur P terfiksasi dalam bentuk sukar larut dan tidak tersedia (Iron/Manganese induced chlorosis phosphorous).

Kelarutan besi dan/atau mangan tinggi akibat proses reduksi tidak akan menjadi masalah bila bereaksi dengan ion sulfida yang juga tinggi, membentuk FeS atau MnS.

Senyawa-senyawa ini terakumulasi pada lapisan tanah reduktif (horizon sulfidik).

Selama lapisan ini tidak diganggu dan diangkat ke permukaan, ia tidak akan menjadi masalah.  Keberadaan senyawa-senyawa ini ditunjukkan oleh adanya mottling dan bercak-bercak dengan tekstur halus dikenal dengan nama cat clay.

Bila lahan diolah dan senyawa-senyawa terangkat, maka proses oksidasi terjadi,  sulfida diokasidasi menjadi sulfat dan pH tanah turun secara drastis (dapat mencapai pH = 1).  Pada pH sangat  rendah ion besi dan mangan berada dalam bentuk Fe2+ dan Mn2+ dalam konsentrasi sangat tinggi.

Dalam hal ini, tidak satu jenis tanaman pun yang akan dapat tumbuh.

 

Aspek Pengelolaan:

Dalam pengelolaan lahan basah, diperlukan langkah-langkah:  (1) penyiapan/perbaikan sistem irigasi – drainase, (2)  ameliorasi tanah untuk mengatasi pH, Eh, dan EC ekstrem, (3) penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman, ternak, ikan), (4) mempertahankan jenis – jenis (varietas) tanaman, ikan, ternak unggul lokal, dan (5) mempertimbangkan pengembangan sistem pertanian tradisional spesifik lokasi yang menunjukkan sistem berkelanjutan melalui masukan teknologi.

 

Sistem Irigasi – Drainase

Langkah pertama persiapan lahan basah untuk budidaya pertanian (perikanan, peternakan) adalah pengelolaan  sistim irigasi – drainase, dalam mengatur tata air dan udara tanah.  Kualitas air sangat ditentukan oleh sumber air dari sungai atau intrusi air laut untuk lahan dekat pantai.  Untuk hal kedua, maka masalah salinitas dan kadar garam tinggi perlu dipantau dengan baik.  Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Sifat perilaku air yang masuk dalam saluran irigasi, akan menentukan input air pada kawasan lahan budidaya.  Penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi dari Unlam (Disertasi, 2004),  menunjukkan ada kawasan di mana air masuk tidak dapat keluar karena mengalami turbulensi.  Pada kawasan in terjadi penggenagan permanen yang berakibat proses reduksi terus menerus.  Pada kawasan ini, pemilihan jenis tanaman secara bijak adalah tanaman yang secara alami toleran dan berkembang pada kondisi tersebut (misalnya pohon Gelam, rumput Purun, dll.).

 

Ameliorasi Kesuburan Tanah

Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, sistem Surjan).  Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.  Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.  Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah. Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman.  Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

 

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu (integrated farming system), perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan bahan organik dan unsur hara di lahan budidaya, dan ini merupakan syarat agar sistem dapat bersifat berkelanjutan.

Tumpangsari padi sawah dengan ikan (mina padi) dan ternak unggas:  itik, ayam, dan ruminan:  kerbau, sapi, kambing;  dapat di atur dalam pengelolaan onfarm maupun outfarm. 

Ternak ruminan dapat memperoleh pakan dari rumput-rumput alami yang tumbuh subur di lokasi setempat.

Dalam sistem ini, masukan bahan organik (terutama pupuk kandang) berperan penting dalam menjaga sifat kesuburan tanah.

Pupuk kandang berfungsi secara multi purpose dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan (terutama) biologi tanah.  Teknologi ‘dekomposisi’  bahan organik sisa panen, kompos maupun pupuk kandang perlu disampaikan pada tingkat petani, agar mereka mampu menyediakan bahan organik dari sumber yang ada.

 

Mempertahankan dan Mengembangkan Sistem Tradisional Setempat

Budidaya tradisional yang menunjukkan hasil cukup baik, serta penggunaan jenis tanaman (dan ikan) varietas unggul lokal, perlu dipertahankan serta dilakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Sistem “Handil” yang telah berkembang cukup lama di daerah pasang surut Kalimantan Selatan perlu dikaji dan dikembangkan.

Keampuhan sistem ini adalah dari segi pembuatan saluran-saluran irigasi dan drainase yang mengikuti sifat perilaku air pasang surut;  di samping pengolahan minimum.

Pengolahan minimum tidak mengganggu lapisan Sulfidik, sehingga masalah pH masam dan keracunan besi dan mangan dapat diminimalkan.

Upaya pengelolaan lahan pasang surut menggunakan sistem “Zonasi”, yaitu membagi kawasan pengelolaan berdasar pada batas segmen-segmen jarak dari sungai (hasil penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi, 2004), perlu  mendapat perhatian untuk dikaji kemungkinan penerapannya.

REFERENSI

Anonimus.  2002.  Lahan Basah Alam Asli Indonesia. File Hari Lahan Basah Sedunia 2002. file: Lahan Basah Sedunia 2002.htm.

_________.  2004a.  Lokakarya Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah (National Strategy for the Management of Wetlands Ecosystem).  Situs Menteri KLH, 20 February 2004.  Asdep. Urusan Ekosistem Darat Telp/Fax. 021 85904934. E-Mail:  ekosistem_airtawar@yahoo.com.

_________.  2004b.  Informasi Umum Tentang Rawa Pasang Surut di Indonesia.  Rawa Pasang surut, Evaluasi Pedoman Pengembangan. Web: Tidal-lowlands.org

Bambang Djoko Priatmadi.  2004.  Segmentasi, Dinamika S dan Fe, dan Reklamasi Tanah Sulfat Masam  dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Tanaman Padi.  Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Kompas.  2003.  Lahan Rawa 33 Juta Ha Gantikan Pertanian Jawa.  Kompas, Kamis – 31 Juli 2003.

Stevenson, F.J.  1986.  Cycle of Soil:  Carbon, Nitrogen, Phosphorous, Sulfur, Micronutrients.  John Wiley & Sons.  New York.  380 p.

 

 

Disajikan dalam Seminar dan LKTI Se-Indonesia, Himpunan Mahasiswa Pakultas Pertanian Uiniversitas Lambung Mangkurant, Banjarbaru, 3 Agustus 2004  – Syekhfani

 

22 MarSOIL-Fitoremediasi

  

PENCEMARAN TANAH DAN AIR – LOGAM BERAT – REMEDIASI

 

Tanaman Remediator:  Tidak dimakan  – Tidak mengganggu kesehatan

 

 

 Pencemaran lahan terjadi dari kegiatan penambangan, pertanian, limbah pabrik, limbah pemukiman, limbah kota, timbunan sampah, dan sebagainya.

  •  Pencemaran bisa berupa gas, cair, dan padat, masuk ke lahan mencemari tanah, air, tanaman, hewan dan manusia.
  •  Pencemaran bersifat langsung atau tidak langsung berdampak kepada kehidupan tumbuhan, binatang, atau manusia.
  • Upaya mengatasi pencemaran meliputi pencegahan (preventif) atau penganggulangan (kuratif).
  • Lahan tercemar dibersihkan (sanitasi)  menggunakan berbagai cara misalnya bahan “pengondisi tanah” atau “remidiasi” dengan bantuan tanaman (Fitoremidiasi).
  • Fitoremeditor bersifat toleran terhadap kandungan logam berat tinggi (akumulator logam – “metal accumulator”).
  • Fitoremidiator tidak boleh dimakan atau digunakan untuk keperluan yang menyangkut kesehatan.
  • Dapat digunakan untuk bahan baku industri kerajinan rumah tangga (handy craft).
  • Contoh jenis tanaman untuk fitoremidiasi:

 

 

Pencemaran Lahan Upland (lahan kering)

   

 vetiveria-zizanioides[1]

  

Akar wangi- Vetiveria zizanioides (L.) Nash – Poaceae.  Akar wangi adalah sejenis rumput abadi dengan kemampuan adaptasi ekologis yang kuat dan produktivitas biomas yang besar, mudah dikelola dan tumbuh dalam kondisi tanah berbeda, merupakan fitoremediator ideal untuk mengendalikan pencemaran lingkungan. Akar wangi mampu tumbuh pada lahan yang terkontaminasi logam berat: bekas tambang maupun bekas minyak, dan mampu mengakumulasi logam dalam konsentrasi yang tinggi (J. Purwani Balai Penelitian Tanah).   Link:  Akar wangi

 

Pencemaran Lahan Lowland (lahan tergenang)

  

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Purun tikus  - Eleocharis dulcis – Cyperaceae -  merupakan tumbuhan khas lahan rawa. Tanaman air ini banyak ditemui pada tanah sulfat masam dengan tipe tanah lempung atau humus dengan pH 6,9 – 7,3, tetapi juga mampu tumbuh dengan baik pada tanah masam.  Purun tikus ditemukan di daerah terbuka di lahan rawa atau daerah persawahan yang tergenang air, pada ketinggian 0 – 1.350 m di atas permukaan laut;  tumbuh baik pada suhu 30 − 35°C dan kelembapan tanah 98 – 100%.  Link:  Purun-tikus

 

Pencemaran Air (waduk, rawa)

 

 10092009036-001[1]

 

Eceng gondok atau enceng gondokEichhornia crassipes – Pontederiaceae.  Indikator kondisi tergenang, air mengalami eutrifikasi, kaya unsur hara.  Dijumpai di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO).  Link:  Eceng-gondok

Kerajinan industri rumah tangga (handy craft).  Link:  Pangrajin-anyamam-bahan-enceng-gondok 

 

01 MarSOIL-Lumpur Marin

LUMPUR MARIN :  POTENSI – MASALAH

 

HASIL ANALISIS LUMPUR

Terlepas dari visi apakah Lumpur Marin yang akhir-akhir ini menjadi fenomena alam (nature) atau manusia (man made) yang melanda beberapa lokasi lahan pertanian di Indonesia, maka secara ilmiah perlu dilakukan telaah agar dapat membantu beban bagi lokasi terkena dampak.

DAMPAK:

Positif

- Sumber Unsur Hara S, K, Ca, Mg
- Daya Pegang Hara (KTK, Kapasitas Tukar Kation) tinggi
- Daya Pegang Air (KPA, Kapasitas Penahanan Air) tinggi

 

Negatif

• Natrium(Na),  tinggi       > penghancur agregat tanah
• Aluminium-dapat ditukar (Al-dd),  tinggi    > sumber kemasaman tanah/meracun tanaman
• Besi (Fe-tersedia), tinggi       > meracun tanaman
• Mangan (Mn-tersedia), tinggi > meracun tanaman
• Khlor (Cl-tersedia), tinggi  >  meracun tanaman
• Daya Hantar Listrik (Elektrical Conductivity), tinggi  > jaringan tanaman plasmolisis
Lapindo9
Tmr3
Lapindo2
Contoh Visual:  Proses terjadi endapan lumpur marin -  Foto:  Syekhfani

WACANA ALTERNATIF PENANGGULANGAN

FLUIDA untuk medium tanaman:

-Positif:  karena mengandung unsur hara esensial makro  S, K, Ca, dan Mg tinggi, yang dapat menjadi sumber hara karena tidak berefek meracun, serta KTK tinggi dapat meningkatkan daya pegang hara (nutrients holding capacity).

-Negatif:  karena mengandung unsur hara esensial mikro Cl, Fe (dan Mn) tinggi, meskipun menjadi sumber hara tetapi dapat berefek negatif karena bersifat meracun tanaman.

-Negatif:  karena mengandung sumber kemasaman (Al dan H), meskipun pada tahap awal berefek menurunkan pH (karena pH-nya agak alkalis) tetapi jangka panjang membantu kelarutan Fe (dan Mn) sehingga meracun.

-Negatif:  karena mengandung unsur pendispersi (penghancur tanah) yaitu Na, yang dapat menyebabkan partikel tanah hancur, tanah menjadi padat dan mudah mengalami erosi.

 

TANAH sebagai medium tanaman:

-Memerlukan perbaikan sifat kimia berupa pemberian Bahan Organik, serta pupuk lengkap N, P, K, Ca, dan Mg yang seimbang.

 

FLUIDA diinkorporasikan (dicampur-rata) dengan TANAH sebagai medium tanaman:

-Dapat memperbaiki sifat kimia berupa peningkatan KTK dan penambahan unsur S, K, Ca, dan Mg;  akan tetapi untuk lahan sawah sangat berbahaya karena bisa terjadi keracunan Fe (dan/atau Mn), akibat penggenangan yang mereduksi Fe/Mn menjadi ion mudah diserap tanaman.

-Disarankan tidak untuk budidaya padi sawah, melainkan untuk tanaman lahan kering (palawija, hortikultura, dll) dengan irigasi/drainase baik serta diinkorporasikan dengan tanah secara sempurna.

-Pengelolaan memerlukan penambahan bahan organik untuk mengurangi keracunan unsur Fe (dan/atau Mn), penambahan pupuk N dan P, serta irigasi air tawar yang cukup untuk membilas unsur-unsur Na dan Cl.

 

16 NovWACANA ILMU TANAH

 1

Upaya Mengerti & Memahami Sifat – Perilaku Tanah

 

2

Dr. Abdurachman Adi - KaPuslitbangtanak:

Degradasi Tanah Pertanian Indonesia - Tanggungjawab Siapa???

 

3

Ultisol terdegradasi berat, kehilangan topsoil, tumbuhan Melastoma pubescens (Hareundeung-Sunda, indikator tanah masam), bertahan hidup pada subsoil yang mengalami konkresi unsur besi/mangan. Foto: Syekhfani

 

4

Profil sumur Ultisol, kedalaman 6 meter, tampak bercak (mottling) besi/mangan di bagian atas (zona oksidasi) dan warna abu-abu (gley) di bagian bawah (zona reduksi). Foto: Syekhfani

UPAYA MENGELOLA LAHAN ULTISOL BERMASALAH

NITROGEN CYCLE -Mekanisme Perilaku (Acuan dasar pengelolaan N – Syekhfani)

5

6

7

8

Reklamasi lahan Alang-alang (Imperata cylindrica L.): dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system) dan penutup tanah (cover cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

10

 

11

Reklamasi lahan alang-alang: dengan Sistem Berbasis Ubikayu (Cassava : Manihot esculenta Crantz -based cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

12

13

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system: Lamtoro: Leucaena leucocephala-Jagung: Zea mays L. dan kontrol) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

14

 

15

16

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman penutup tanah (Cover Cropping System: Kudzu: Calapogonium mucunoides, Enceng-enceng: Crotalaria anagyroides, dll.) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

17

Reklamasi lahan alang-alang: di lahan petani (Farmer’s field: jagung, drainase jelek), di luar area kebun PG Bungamayang, Lampung UtaraDokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani