Archive for the 'Sistem Budidaya' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

09 FebAgroekologi Tanaman Pala

S

SISTEM SEMI ALAMI

Pendekatan Sistem

Syekhfani

Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt), tergolong tanaman rempah (spices), telah terkenal sejak jaman Portugis (Marco Polo), yang pada abad ke-19 berlayar ke Hindia (Indonesia) untuk mencari rempah-rempah (cengkeh, pala).

Agroekosistem tanaman pala yang telah bertahan berabad-abad tersebut, secara umum telah banyak dipelajari, namun sifat perilakunya secara spesifik belum banyak dipahami.

Berikut, dikemukakan pendekatan sistem dari umum hingga lebih spesifik, disesuaikan dengan fakta lapangan saat ini.

Diharapkan, pendekatan sistem ini dapat membantu dalam memahami dinamika sistem pertanaman pala.

Sistim Alami (natural system)

Sistem alami (natural system) di zone iklim hujan tropika basah (tropical rain forest), yaitu matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun, mendukung produksi biomas berlimpah.

Sebaliknya, kelembaban dan suhu tinggi, mendorong tingkat dekomposisi sisa bahan organik di lantai hutan berlangsung cepat, sehingga tampak adanya dukungan “semu”.

Terbukti saat hutan tropika basah di buka untuk lahan budidaya, maka dalam kurun dua hingga tiga musim tanam, produktivitas secara drastik menurun (ingat kasus: sistem ladang berpindah, shifting cultivation).

Biomas tajuk dan sistem perakaran intensif menyebabkan terjadi sistem keseimbangan unsur hara yang disebut “close nutrients recycling” (sistem daur hara tertutup).

Pada sistem ini, tidak ada unsur hara yang hilang karena tidak ada aliran permukaan (runoff), erosi dan pencucian (leaching) ke lapisan bawah tanah (ground water); dalam hal ini tajuk bersifat sebagai pompa unsur hara melalui akar.

Tambahan unsur hara melalui hujan, fiksasi N atmosferik dan pelapukan batuan induk; mendukung suksesi hutan belantara (tropical rain forest).

Agroforestry (Wanatani) – Agroekosistem Tanaman Pala

Meskipun tampaknya stabil, namun budidaya tanaman pala tergolong ekosistem hutan buatan manusia (man made forest). Sehingga, diperlukan manajemen kebun yang baik agar dapat menjamin produktivitas tinggi dan berkelanjutan.

Pendekatan sistem daur hara tertutup di bawah lantai hutan pala, dapat dipelajari melalui dinamika: rasio C/N, KTK, dan unsur hara NPK sebagai parameter.

Nilai C/N, menunjukkan tingkat laju dekomposisi seresah di lantai hutan,

Nilai KTK, dapat dijadikan parameter kemapuan tanah dalam membufer unsur hara.

Nilai pH, merupakan parameter perubahan reaksi tanah yang dipengaruhi derajat dekomposisi, dan sangat berpengaruh terhadap sifat kesuburan tanah aktual.

Status Unsur NPK, yang merupakan unsur hara makro tanaman, adalah kunci produktivitas tanaman, dalam kaitannya dengan reaksi fotosintesis, yaitu komponen senyawa khlorofil (N, Mg), sumber energi metabolik (P), dan trasportasi fotosintat (K).

Dinamika pertumbuhan tanaman pala tersebut hendaknya didekati dengan sistem terpadu, sebagai fungsi pertumbuhan (Y): Y = f (X), di mana Y= komponen produktivitas tanaman, dan X = komponen produktivitas tanah.

Lihat:http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/09/19/soil-buah-pala/

03 DecArable land

390px-KerbauJawa

LAHAN GARAPAN (JAWA)

Syekhfani

Arable land (dari bahasa Latin arabilis, “bisa digarapgarap (Jawa) – dikerjakan“) adalah lahan yang bisa di bajak dan ditanami tanaman pertanian
(http://en.wikipedia.org/wiki/Arable_land).

Di pulau Jawa, “arable land” dapat di artikan “lahan garapan”, yang dilakukan oleh petani gurem (small farm).

Pada lahan garapan hanya sekitar 0.25 hektar, akan lebih efisien bila dilakukan secara sistim tradisional. Prinsip dasar adalah memaksimalkan pendapatan, yaitu menggunakan tenaga kerja keluarga dan/atau kerja gotong royong. Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/11/04/musim-panen/.

Keuntungan:

Sistem tradisional, dari aspek sosial: membangun rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebersamaan (sense of ownership).

Dari aspek teknis – ekonomis, petani pemilik berupaya mengefisienkan penggunaan lahan (efficiency use of soil), tanpa masa bera (untuk padi sawah: 3 kali panen per tahun, efisiensi 300 persen).

Dampak negatif:

Pembudidayaan lahan secara terus menerus tanpa bera, menyebabkan terjadi degradasi kesuburan tanah. Gejala “levelling off”, yaitu pertumbuhan dan produksi tidak dapat ditingkatkan hingga level “genetic potential – potensi genetik”; misalnya untuk padi sawah potensi genetik bisa mencapai 12 ton gabah kering panen (GKP)/ha/musim, hanya dapat dicapai 5 hingga 5.5 ton GKP/ha/musim.

Hal ini, cenderung mendorong para ilmuan mencari alternatif pemecahan masalah, misalnya rekayasa genetik (genetic engineering) yang dilematik dan pro-kontra tentang dampak terhadap kesehatan dan lingkungan hidup.

Dalam kehidupan petani (terutama petani penggarap), pendapatan yang tidak mencukupi kebutuhan keluarga menyebabkan mereka berusaha mencari tambahan di bidang lain, seperti berjualan (lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/11/16/dinamika-kehidupan/), pekerja bangunan, angkutan, ataupun pembantu dalam rumah tangga.

Kelangkaan pangan (scarcity of food), sangat terasa pada masyarakat petani tradisional yang mengandalkan penghasilan dari kemampuan kerja bertani.

Dibutuhkan upaya peningkatan kemampuan kerja secara profesional melalui pelatihan dan bimbingan oleh para aparat pemerintahan dan/atau pelaku lain yang berkompeten.

19 NovEfficiency Use of Fertilizer

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Tanah dan Tanaman

Syekhfani

Istilah “Fertilizer Efficiency Use” atau “Efisiensi Aplikasi Pupuk”, dapat dinyatakan sebagai:

“Jumlah porsi peningkatan hasil panen tanaman per satuan pemberian pupuk, bila telah tercapai hasil maksimum”. Lihat: Kurva respon (Nong Alwi) – “>http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/02/kurva-respons-dosis-optimum/.

Faktor yang mempengaruhi efisiensi aplikasi pupuk:

Tanah:
Ketersediaan air – air sebagai pelarut dan pembawa unsur dari dalam tanah ke tubuh tanaman.

Konsentrasi – kemudahan unsur bergerak tergantung pada kepekatan solut.

Koefisien difusi – konsentrasi solut saat serapan terjadi (C) : konsentrasi solut saat awal diberikan (Ci).

Kapasitas penyangga (buffer capacity) – kemampuan komponen penyangga tanah (liat, bahan organik, seskuioksida) mengikat dan melepas unsur (ion).

Tanaman:
Jenis tanaman – jenis tanaman mempunyai sifat efisiensi yang berbeda satu sama lain (spesies, genus, klon).

Kanopi – kemampuan kanopi sebagai penyerap atau pengguna (sink) unsur hara.

Sistem perakaran – berbeda dalam intensifitas.

Faktor Lain:
Agen Hayati (bio fertilizer), fito-hormon, enzim, dan sebagainya.

Efisiensi aplikasi pupuk sangat membantu dalam penghematan biaya pembelian pupuk sebagi sarana penunjang produksi tanaman.

Bahan bacaan:
Barber, Stanley A. 1976. Efficient Fetilizer Use (p. 13-291. In Agronomic Research for Food. Eds: Fred L. Patterson (ed.), Mathias Stelly (Ed. in-Chief), David M. Kral (managing Ed.), Linda C. Eisele (ass. Ed.). Agronomic Research for Food. ASA Special Publication Number 26. Amer. Soc. of Agron. 677 South Segoe Road Madison, Wisc. 53711.

25 SepUbah Praktek Konfensional Jadi Organik

unduhan

BAGAIMANAKAH?

Syekhfani

Seorang petani ingin mengubah praktek budidaya konvensional menjadi budidaya sistem organik, agar nanti ia dapat memperoleh sertifikat “Produk Organik”.

Petani tersebut bingung kapan ia bisa mulai (setahun, dua tahun, lima tahun?), dan apakah tanpa pemberian (pupuk anorganik artifisial, pestisida, herbisida?), benih transgenik? Bagaimana cara mengubah praktek konvensional tersebut menjadi praktek organik? Dan banyak pertanyaan lain yang muncul di benaknya.

Pada prinsipnya, dia membutuhkan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar sistem pertanian organik, prosedur , dan aturan (regulasi) agar produksi pertaniannya diakui tergolong sebagai “Produk Organik”.

Lihat: http://jurnalasia.com/2014/08/07/budidaya-tanaman-padi-organik/

Wacana:

Praktek bertani konvensional dilakukan melalui input untuk mengatasi masalah-masalah seperti defisiensi unsur hara atau infestasi hama penyakit, sedang praktek pertanian organik memperbaiki produksi tanaman melalui pendekatan-sistem alami.

Karena kedua pendekatan sistem tersebut berbeda, maka masalah produksi dan lingkungan meningkat selama fase transisi antara pertanian konvensional menjadi sertifikasi organik stabil.

Selama periode ini, sebelum kesimbangan alami daur hara dan hubungan hama penyakit – predator menjadi stabil, praktek produksi organik bisa tidak berfungsi secara efektif.

Pada waktu yang sama, petani transisi tidak boleh menggunakan input konvensional yang banyak yang selama ini diandalkan pada tanamannya dengan input unsur hara atau kontrol hama penyakit secara cepat.

Degradasi sumber atau masalah kontaminasi juga meningkat selama periode transisi seperti pembelajaran baru petani terhadap praktek manajemen.

Lihat: → Soil Protecting Water Qualitry

Pertanian Organik adalah Sistem, bukan Produk!

12 SepBiodynamic Agriculture

biodynamic_veggies_people_cows

PERTANIAN BIODINAMIS

Syekhfani

Peran biologi tanah: cacing tanah, insekta, arthropoda, amuba, aktinomiset, ganggang, fungi, bakteri.

Tanah alami tidak pernah diolah, peran cacing tanah, ..?

Siklus hara tanah – tanaman – udara tertutup (closed nutrient recycling):

Bagian tanaman gugur, masukan hara dari luar (hujan, debu, fiksasi N2 atmosferik), akar tanaman berfungsi sebagai pompa, erosi dan volatilisasi minimum, pada sistem hutan alami terjadi suksesi menyebabkan pertumbuhan hutan mewah, meski tumbuh pada tanah yang kurang/tidak subur.

PERTANIAN BIODINAMIS:

Tujuan dasar pertanian biodinamis yaitu meningkatkan produksi pangan secara biodinamis mencapai nutrisi pangan yang super dan rasa lebih enak dihasilkan cara pertanian konvensional.

Pertanian Biodinamis secara umum berpeluang sebagai sistem pertanian alternatif, sebab sistem pertanian ekologis lainnya mengklaim produksi mereka sama.

Saat ini, pertanian biodinamis telah dipraktekkan di lahan-lahan seluruh dunia, pada berbagai skala, jenis tanaman, iklim, serta kultur; kebanyakan diterapkan di Eropa, USA, Australia, dan New Zealand.

Oleh karena pertanian Biodinamis sejalan dengan Pertanian Organik untuk banyak hal -khususnya praktik kulturis dan biologis- maka ia diset sebagai bagian dari sistem Pertanian Organik lain melalui hubungannya dengan ilmu spritual dari anthroposofi seperti dikemukakan Steiner, dan berkaitan dengan praktik budidaya untuk mencapai tingkat keseimbangan.

Secara sepintas, Biodinamis dapat dimengerti sebagai kombinasi praktek pertanian ‘dinamika-biologis’; di mana ‘biologis’ meliputi deretan pengetahuan teknik pertanian organik dalam memperbaiki kesehatan tanah (lebih tinggi antara fisik atau non-fisik; kekuatan hubungan angkasa dan daratan; dan memperkaya lahan, produksi, serta berkaitan dengan energi kehidupan).

Sedang praktek ‘dinamis’ sehubungan dengan biologis sama baiknya dengan aspek metafisik dari budidaya (contoh: meningkatkan kekuatan vital kehidupan), atau adaptasi pertanian terhadap irama alami (misalnya: saat penanaman benih selama fase lunar/‘mongso’ tertentu, misalnya mongso ketigo, rendengan, marengan: tata musim (Jawa) – catatan penulis).

Konsep praktik dinamis tersebut berkaitan dengan kekuatan non-fisik di alam seperti -vitalitas, kekuatan hidup, ki, tenaga dalam, dan konsep terkait- adalah suatu komonalitas yang juga di bawah banyak sistem alternatif dan obat-obatan komplementer.

Tabel berikut menunjukkan ringkasan praktek budidaya biologis dan dinamis.

Table

Dr Andrew Lorand menuangkan pendapatnya tentang konsep model biodinamis dalam disertasi PhD-nya ‘Pertanian Biodinamik – Suatu Analisis Paradigma’ diterbitkan oleh Pensilvania State University tahun 1996:

Lorand menggunakan model paradigma yang dikembangkan Egon Guba dalam ‘The Alternative Paradigma Dialog’ untuk menjelaskan kepercayaan esensial tentang praktek biodinamis. Kepercayaan tersebut dibagi dalam tiga kategori:

(1) Kepercayaan alami tentang pertanian (ontologis),

(2) Kepercayaan alami tentang hubungan antara pelaku dengan pertanian (epistomologis), dan

(3) Kepercayaan tentang bagaimana pelaku harus melaksanakan pertanian (metodologis).

Lorand membedakan kepercayaan ontologis, epistomologis, dan metodologis ke dalam empat paradigama pertanian: Tradisional, Industrial, Organis, dan Biodinamis.

Lihat: →
https://www.biodynamics.com/biodynamics.html

08 AugAzola, Pupuk Nitrogen Organik Alami

Capture1

BUDIDAYA AZOLA

Menggali Sumber Nitrogen Organik

Syekhfani

Azola, salah satu sumber N alami, sudah dikenal oleh para pakar dan sebagian teknisi budidaya pertanian; namun prakteknya belum berkembang dengan baik.

Azola, sejenis tumbuhan paku-pakuan air, bersimbiose dengan bakteri Annabaena azolae mengikat N dari atmosfer secara simbiotik.

Pada umumnya petani padi sawah beranggapan bahwa Azola merupakan gulma yang menggannggu tanaman padi dan menyebabkan produktivitas padi menurun. Oleh karena itu, mereka menyingkirkan biomas Azola ke luar galengan atau bahkan dihanyutkan ke saluran drainase saat air berlebih.

Dalam rangka menuju ke sistem budidaya pertanian berkelanjutan, akrab lingkungan dan pengembangan “produk pertanian organik”, maka budidaya Azola perlu diketahui serta dikelola dengan baik.

Berikut, disajikan secara sederhana teknik budidaya Azolla pinata di lahan sawah beririgasi.

Capture2

Capture3

Capture4

Capture5

Capture6

Capture7

Capture8

Capture9

Capture10

Lihat: → <a href="Azolla“>Azolla

21 NovSOIL-Pestisida Biorasional

 

0

 

PESTISIDA BIORASIONAL

(BIORATIONAL PESTICIDE)

  

Sistem Organik – Pestisida Biorasional – Kelas yang Diperbolehkan

 

Diangkat:  Syekhfani

 

Dalam sistem organik, penggunaan pestisida menjadi pantangan yang harus dihindari oleh para produsen organik agar produknya tidak dicap non-organik.

Pada prinsipnya, produk organik adalah proses terintegrasi (terpadu) dari sistem-sistem:  budidaya (farming), perharaan (nutritional), dan pengendalian OPT (pest management).

Para produsen organik perlu mengetahui kategori persyaratan yang termasuk:  diterima (accepted), diatur (regulated), dan dilarang (prohibited).

Khusus penggunaan pestisida, ada persyaratan spesifik yang diijinkan (permissiable) penggunaannya dalam mengantisipasi kerusakan oleh OPT.

Untuk “pestisida biorasional”, hal-hal yang diijinkan tergolong dalam kelas:

Mineral:  belerang, tembaga, tanah diatom, dan berbasis bahan tanah liat seperti Surround ®.

Herbal:  meliputi bahan komersial umum seperti rotenone, nimba, dan pyrethrumTumbuhan yang kurang umum termasuk quassia, Equisetum, dan ryania;  produk tembakau seperti Black-Leaf 40 ® dan strichnine juga tumbuhan herbal tetapi dilarang dalam produksi organik karena toksisitas tinggi.

Sabun: Sejumlah produk sabun komersial berbasis efektif sebagai insektisida, herbisida, fungisida, dan algicides. Produk berbasis deterjen tidak diperbolehkan untuk digunakan dalam produksi tanaman organik.

Feromon: Feromon dapat digunakan sebagai sarana untuk mengacaukan dan mengganggu hama pada priode siklus kawin mereka, atau untuk menarik mereka ke dalam perangkap.

Biologi: pada daerah yang mengalami perkembangan serangan OPT yang sangat cepat (out break), maka andalan utama tertuju pada biopestisida, seperti Bacillus thuringiensis (Bt), yaitu formulasi untuk pengendalian hama lepidopterous dan Kumbang kentang Colorado.

Referensi:  → Geoge Kuepper dan Lance Gegner.  2004. Ikhtisar Produksi Tanaman Organik.  Dasar-dasar Pertanian Berkelanjutan. NCAT Spesialis Pertanian © NCAT,2004 IP170.

 

17 NovSOIL-Sistem Tanam “Jajar Legowo”

 

SISTEM TANAM “JAJAR LEGOWO”

(“JAJAR LEGOWO” PLANTING SYSTEM)

 

Jarak Tanam Padi Sawah

 

Unik – Ampuh – Produktivitas Tinggi

 

Diangkat oleh: Syekhfani

 

0

 

PENDAHULUAN

 

Sistem tanam “Jajar legowo”, adalah teknis meningkatkan populasi tanaman dengan mengatur jarak tanam sehingga budidaya akan memiliki barisan tanaman diselingi barisan kosong, di mana jarak tanam barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu rekomendasi paket anjuran Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Manfaat dan tujuan:

1. Menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30 %, diharapkan meningkatkan produksi secara makro maupun mikro.

2. Adanya baris kosong mempermudah pemeliharaan, pemupukan dan kontrol organisme pengganggu tanaman (OPT).

3. Mengurangi kemungkinan serangan OPT tikus, lahan relatif terbuka kurang disukai hama tikus;  dan kelembaban lebih rendah menekan perkembangan penyakit.

4. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian tanaman dalam barisan.

5. Menambah efisiensi serapan sinar matahari pada tanaman yang berada pada barisan pinggir.

Lihat: tanam-padi-sistem-jajar-legowo

 

1

 

PANCA USAHA

Teknik Umum:

Dalam budidaya tanaman padi sawah dikenal istilah “Panca Usaha” pertanian, dalam hal ini meliputi:

1. Seleksi Benih

Langkah seleksi benih:
a. Benih dikoleksi dari gabah bernas yang betul-betul matang,
b. Masukkan air kedalam bejana seleksi dan tambahkan garam secukupnya,
c. Masukkan telur bebek ke dalam air garam, tambahkan lagi garam hingga telur mengapung,
d. Kemudian masukkan benih yang sudah diseleksi ke dalam air garam tersebut,
e. Benih mengapung dibuang, dan
f. Benih tenggelam digunakan untuk ditanam di persemaian.

2. Semai Benih

Pekerjaan:
a. Tanah yang dipakai untuk tempat media semai harus subur,
b. Gunakan baki berupa bejana luas dan datar, atau  papan dialas plastik,
c. Tanah dicampur kompos atau pupuk kandang,
d. Ketebalan media semai sekitar 2 cm,
e. Taburkan benih yang sudah diseleksi di media semai,
f. Jaga kelembaban media semai, dan
g. Bibit ditumbuhkan dalam waktu 10 hari.

3. Olah Lahan

Pengolahan:
a. Selesai panen lahan sawah diolah, jerami  tidak dibakar/dibuang, dibiarkan lapuk sebagai kompos,
b. Lahan sudah dibajak diratakan dan dipetak-petak agar lebih mudah mengontrol air,
c. Lahan diratakan dan atur air sawah mencapai macak-macak (Jawa, tidak tergenang dan tidak kering),
d. Ukur lahan dengan jarak tertentu (sistem konvensional atau jajar Legowo), dan
e. Dua hari sebelum tanam lahan di beri pupuk dasar, sebaiknya pupuk organik.

4. Tanam Bibit

Bibit berumur 10 hari siap di pindahkan ke lahan (pindah tanam), sebagai berikut:
a. Bibit dicabut dari media semai secara hati-hati,
b. Tanam bibit di lahan dengan jarak tanam yang sudah ditentukan,
c. Menanam benih jangan sampai dibenam seperti menanam benih ala konvensional,
d. Ambil bibit masih ada benih padi menempel, letakkan di lumpur dan tutup dengan lumpur setebal jari telunjuk, dan
e. Jaga media tanam agar tidak tergenang air.

5. Perawatan 

Beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan:
a. Setelah padi berumur 10 hari setelah tanam semprot dengan pupuk organik,
b. Umur 25 hari semprot lagi (tambah air agak banyak),
c. Umur 40 hari ulangi lagi penyemprotan,
d. Umur 60 hari kembali lagi disemprot,
e. (Atau beri pupuk seperti cara konvensuional, dianjurkan pakai pupuk organik),
f. Pertumbuhan padi yang baik: dalam satu rumpun ada 45 hingga 60 batang padi,
g. Satu tanaman padi bisa menghasilkan anak sampai 100 batang, tetapi panen kurang baik, dan
f. Setelah usia 2 bulan, sawah digenangi agar pertumbuhan anak padi tidak bertambah.

Lihat:  tips-cara-bercocok-tanam-padi

 2

 

SISTEM LEGOWO

  

TIPE SISTEM LEGOWO

 

Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo, Kepala Dinas Pertanian kabupaten Banjar Negara.

Ada beberapa tipe sistem tanam “Jajar Legowo”:

  1. Jajar legowo 2:1, setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1, setiap tiga baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1, setiap tiga baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan.

Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.

Lihat:  tips-tanam-jejer-legowo-dengan-alat-penanda-tali-dan-paralon-di-bpp-demung

 3

 

CARA MENGHITUNG JUMLAH TANAMAN

Rumusnya:
- Misalkan jarak tanam 25 x 25 cm, maka populasinya 160 ribu rumpun,
- JUMLAH PENAMBAHAN POPULASI, caranya:  1/(1+sistem tanam) x100 %

- Contoh legowo 2 : 1,

Penambahan jumlah tanaman legowo 2:1 = 1/(1+2) x 100 % = 33 %
Sehingga total tanaman menjadi = 160.000 rumpun + (33 % x 160.000) = 160.000 + 52.800
= 212.800 rumpun

- Contoh legowo 4 : 1,

Penambahan jumlah tanaman legowo 4:1 = 1/(1+4) x 100 % = 20 %

Sehingga total tanaman menjadi = 160.000 rumpun + (20 % x 160.000)
= 160.000 + 32.000 = 192.000 rumpun

Jarak Tanam untuk sistem tanam padi legowo, banyak macamnya bisa 20 x 25 cm, 25 x 25 cm, 25 x 30 cm, 30 x 30 cm dan lain-lain.

Lihat:  sistem-tanam-padi-legowo

 

15 NovSOIL-Fertilizer Synlocation and Synchronisation

  

1

 

SYNLOCATION AND SYNCHRONISATION

 (SINLOKASI DAN SINKRONISASI)

 

Penempatan Pupuk ~ Efisiensi ~ Pertumbuhan Akar

 

Syekhfani

Sinlokasi:

Akar tanaman tidak bergerak, atau bergerak sangat lambat sesuai periode pertumbuhan tanaman. Bila medium tumbuh mengalami kekurangan unsur hara (defisiensi), maka perlu dibantu  pemberian pupuk seputar perakaran aktif, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan efisien.

Sinkronisasi:

Saat tanaman baru tumbuh dari biji, stek, atau bibit pindah tanam, sistim perakaran masih terbatas. Demikian pula kemampuan akar menyerap (uptake) unsur hara masih sedikit. Dengan waktu, sistim perakaran makin berkembang dan kemampuan menyerap unsur hara pun makin meningkat. Pemberian pupuk harus sinkron dengan perkembangan sistim perakaran agar akar mampu menyerap unsur hara secara  efisien.

 

Aplikasi Pupuk dalam Praktik:

Prinsip dasar:  Mengikuti posisi tempat  akar aktif (sinlokasi) dan umur tanaman (sinkronisasi).

Tanaman padi sawah (tanaman semusim): petani telah melakukan mendekati lokasi perakaran aktif (seputar proyeksi tajuk) dan beberapa kali (split application), umumnya pada tanaman padi sawah tiga kali dengan interval waktu tertentu selama masa pertumbuhan vegetatif (misalnya, 10, 30, 45 hari setelah tanam, HST) disesuaikan dengan saat menyiang (“matun”, Jawa);  saat muncul primordia bunga pemupukan dihentikan.

Namun, dosis yang diberikan dibagi sama, yaitu: 1/3 bagian saat aplikasi ke-1, 1/3 bagian saat aplikasi ke-2, dan 1/3 bagian saat aplikasi ke-3.

Hal ini masih kurang tepat karena tidak menyesuaikan dengan kondisi perkembangan sistim perakaran tanaman.

Pada tanaman semusim lain (misalnya, sayuran), pada praktiknya aplikasi pemberian pupuk dilakukan dua hingga tiga kali secara split, sesuai dengan jenis tanaman.

Tanaman tahunan (pohon), umumnya pemupukan dilakukan dua kali:  awal dan akhir musim hujan, di mana masih ada air untuk melarutkan pupuk;  disebar merata di seputar proyeksi tajuk pohon.

Untuk padi sawah, lihat: → Aplikasi-pupuk-dan-dosis-pupuk-tanaman-padi

 

Aplikasi pupuk harus sesuai dengan sistim perakaran!

 

21 AugSOIL-Manajemen Padang Rumput

 


MANAJEMEN PADANG RUMPUT

(LAWN MANAGEMENT)

Tinjauan:  Syekhfani

 

images (4)

Padang rumput (lawn), multi fungsi antara lain, yaitu:  tata hijauan kotapanorama taman alam atau buatan, padang rumput pakan ternak, lapangan sepak bola, lapangan golf, dan sebagainya.

Faktor pertumbuhan tanaman rumput, seperti tanaman umumnya tergantung pada:  tanahjenis tanamaniklim, dan pengelolalaan. Agar tanaman tetap hijausehat dan indah, serta berfungsi optimal diperlukan manajemen yang benar.

Berikut, tinjauan terhadap 8 cara perawatan agar padang rumput tetap hijau oleh NOFA-VT Vegetable Technical Assistance Program.

 

Eight Ways to Put Green Into Lawn Care

http://nofavt.org/assets/files/pdf/LawnCare.pdf

 

Wendy Sue Harper, Ph.D.

NOFA-VT Vegetable Technical Assistance Program Coordinator

Pendahuluan

Bahwa padang rumput di US sangat luas yaitu sekitar 49,421 mil persegi. 1

Dalam hal ini padang rumput (32 juta akre), termasuk perumahan, padang rumput komersil, padang golf, dan lain-lain;  dianggap merupakan lahan irigasi terluas di US (menurut Cristina Milesi, seorang ilmuwan penelitian NASA).

Hasil penelitian  Colleen Hickey (Educational and Outreach Coordinator of the Lake Champlain Basin Program), sebagian besar fosfor memasuki danau kini berasal dari sumber perkotaan bukan pedesaan, dan penelitian yang dilakukan di University of Vermont menunjukkan bahwa 75% padang rumput di Chittenden County tidak memerlukan pupuk fosfor, kususnya di bagian timur laut.

Fosfor dan pestisida bila masuk ke perairan akan menjadi masalah.  Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pencemaran maka manajemen padang rumput berikut ini perlu diperhatikan.

1) Melakukan uji dasar Kompos dan Pupuk:

Agar tidak terjadi kelebihan pupuk fosfor, lakukan uji tanah dasar terhadap kompos dan pupuk.  Berikan pupuk dan kapur berdasar pada hasil uji  tersebut.  Gunakan pupuk fosfor terselimut organik berkadar rendah.

Aplikasi pupuk kompos yang di sebarkan di permukaan rumput setebal  ¼ inci, akan memperbaiki lingkungan fisik, kimia, dan biologi tanah bagi pertumbuhan tanaman;  yang akan menambahkan mikroorganisme, aksi pupuk  lambat tersedia (slow-release fertilizer), membantu pengomposan dan mencegah pemadatan struktur tanah. Penelitian di Cornell University menunjukkan bahwa pemupukan kompos N dapat menekan beberapa penyakit jamur tanah.2

Pencegahan  berlangsung setidaknya 30 hari. Kompos teh juga dapat diterapkan untuk menekan beberapa penyakit jamur.

2) Membiarkan Potongan Rumput di Padang Rumput:

Hal ini akan mengurangi biaya maupun bahan bakar. Dalam potongan rumput ada sekitar 50% pupuk nitrogen yang diberikan atau sekitar 2 lbs nitrogen per 1000 square feet per tahun, berarti mengurangi sekitar sepertiga kebutuhan pupuk N. 3

Potongan rumput mengandung fosfor, karena itu harus dikelola dengan baik. Saat memotong dengan mesin, potongan harus selalu dikembalikan ke lahan, hindari penyebaran ke permukaan kedap air, seperti jalan masuk dan jalan-jalan di lapangan. Ini membantu menjaga agar fosfor tidak masuk aliran sungai. Jika potongan rumput terlalu tebal, maka Anda dapat mengomposkan dan mengembalikannya ke lahan.

3) Memotong Rumput pada Ukuran  yang Benar:

Atur ketinggian potong setidaknya 3 inci. Ukuran ini memberikan kontribusi agar rumput menutupi  gulma yang menyukai sinar matahari, membantu rumput tetap tegar dan lembab, serta mendorong pertumbuhan akar yang baik.4

Hindari memotong lebih hingga tinggal 1/3 tinggi rumput. Lebih baik potong pada ketinggian  dengan pisau yang distel pada 3 inci. Memotong rumput lebih tinggal sepertiga melemahkan rumput dan mengurangi kemampuannya menghasilkan hara dan energi. Jika Anda mengatur mesin pemotong Anda pada 3 inci, maka rumput terpotong setebal 4,5 inci. 4

4) Pastikan Pisau Potong selalu Tajam:

Pisau yang tajam membantu mesin potong dan rumput, mengurangi stres dan menurunkan masalah penyakit tanaman,  juga membantu efisiensi kerja mesin potong mengurangi getaran, umur mesin, dan penggunaan bahan bakar. 2

5) Tanam Ulang Benih Rumput Setiap Tahun:

Tanaman rumput yang tumbuh sehat dan tebal mengundang pertumbuhan gulma.  Sebagian rumput mati setiap tahun, sehingga  penting untuk melakukan tebar ulang benih sekali dalam setahun.  Dapat digunakan  campuran mengandung rumput dan kacang-kacangan tahunan, seperti digunakan oleh Mix Konservasi Vermont.  Campuran ini mentolerir berbagai kondisi tanah dan kondisi cahaya dari matahari penuh untuk naungan parsial. Hal ini juga mengandung ryegrass tahunan, yang mencegah gulma yang berkecambah dan tumbuh cepat. Endofit rumput ini mengandung jamur yang secara alami hidup bersimbiosis dengan rumput. Racun alami jamur membantu melindungi rumput dari stres lingkungan, penyakit, dan serangga pemakan daun.

6) Kelola pada Penggunaan Air Minimal:

Rumput Anda membutuhkan sekitar 1 inci air per minggu. 2, 4

Sebuah alat pengukur hujan sederhana akan memungkinkan Anda untuk menentukan curah hujan mingguan. Menyediakan jaminan kekeringan untuk rumput dengan pemupukan N dengan kompos. Penambahan kompos meningkatkan kapasitas pegang (waterholding capacity) tanah dan menyediakan kelembaban rumput. Kapasitas pegang air oleh humus 4 sampai 5 kali lebih tinggi dari pada liat. Dalam kondisi kekeringan warna berubah menjadi coklat, tetapi akan hijau dan tumbuh kembali begitu air tersedia. Rencanakan pemberian air seminggu sekali pada pagi hari. Hindari kelebihan air untuk mencegah insiden penyakit jamur.

7) Gunakan Manajemen Pencegahan Hama Penyakit:

Biodiversitas padang rumput kurang rentan terhadap hama. Padang rumput ideal adalah padang rumput bunga dengan segala macam bunga pendek misalnya aster kecil dan merah.5

Pertahanan terbaik terhadap hama-serangga, penyakit, atau gulma adalah pengembangan diversifikasi, rumput sehat yang dikelola dengan baik merupakan tindakan pencegahan. Untuk mengatasi masalah hama, identifikasi yang tepat adalah penting. Ada beberapa pestisida biologi, botani atau herbal digunakan untuk kontrol organik.  Lihat dokumen Barbara Bellows untuk pertumbuhan berkelanjutan.2

Selalu ikuti petunjuk pada label dan gunakan pakaian pelindung yang sesuai.

8) Kurangi Penggunaan Bahan Bakar dan Emisi Karbondioksida:

Pertimbangkan mengurangi luasan padang rumput Anda, gantikan rumput dengan tanaman lanskap lain, dan rancang luasan rumput untuk meminimalkan penggunaan bahan bakar. Banyak tanaman lanskap penutup tanah yang indah dan tahunan menambah tekstur, warna, dan kontras halaman Anda. Pertimbangkan menggunakan mesin pemotong mekanik atau sabit dorong menggunakan energi manusia bukan minyak bumi untuk mengurangi emisi karbon dioksida. 6

Sebagian besar pemilik tanaman di Amerika, mengikuti praktek sederhana tapi nyata yang dapat membantu Anda, Vermont, sehingga US memiliki air bersih dan tanaman rumput hijau.

Terima kasih khususnya kepada Dr Sid Bosworth, Associate Professor Agronomi, Universitas Vermont untuk sarannya yang bijaksana.

 

Referensi dan Sumber:

1. Lindsey, Rebecca. 2005. Looking for Lawns. NASA, Earth Observatory. http://eobglossary.gsfc.nasa.gov/Study/Lawn/printall.php

2. Bellows, Barbara. 2003. Sustainable Turf Care: Horticulture Systems Guide. http://attar.ncat.org/atta-pub/turfcare.html

3. Bosworth, Sid. 2004. Nitrogen and Lawns. http://www.uvm.edu/~uvmext/programs/home/lawns/

downloads/oh80.pdf

4. Organic Lawn Care Committee of Connecticut and Massachusetts. 2006. Golden Rules of Organic Land Care. http://www.organiclandcare.net/articles/GoldenRules.php

5. Schultz, Warren. 1989. The Chemical-Free Lawn. Rodale Press. Emmaus, PA.

6. Bosworth, Sid. 2008. Personal Communication.

 

08 AugSOIL-Pengelolaan Irigasi DAS

 

PENGELOLAAN IRIGASI DAERAH ALIRAN SUNGAI  ~ WATERSHED IRRIGATION MANAGEMENT

 

Sumber air ~ Mata air ~ Air Sungai

 

Bahasan/Foto-foto:  Syekhfani

 

Air irigasi, bersumber dari mata air dan air sungai untuk kebutuhan masyarakat pedesaan ada dua kategori:  air minum penduduk dan air irigasi lahan pertanian.

Kawasan daerah aliran sungai (DAS) – watershed, berasal dari bagian hulu (upper stream), mengalir ke bagian tengah (midle stream), dan berakhir di bagian hilir (lower stream) dan muara.

Dalam perjalanannya, air hilang melalui rembesan (seapage), penguapan (volatile) atau digunakan (uptake) oleh manusia, hewan dan tanaman.

Agar kehilangan dapat diminimalisasi, diperlukan pengelolaan irigasi secara efisien dan efektif (efficiency use of water);  seperti pemasangan pipa, selokan, talang, penguatan tebing sungai, dan pengaturan pintu air.

Sistem pengelolaan irigasi di kawasan DAS, adalah sangat penting dilakukan demi peningkatan kesejahteraan petani di pedesaan.

IMG_0001

Mata air, untuk konsumsi air minum penduduk

IMG_0002

Tangki penampung air minum, dialirkan ke rumah penduduk

IMG_0003

Air minum dialirkan ke pemukiman melalui selokan

IMG_0004

Air irigasi lahan dialirkan melalui talang menyeberangi sungai

IMG_0005

Penguatan tebing sungai, mencegah erosi dan rembesan

IMG_0006

Pengaturan pintu air irigasi sungai

IMG_0007

Penggunaan air irigasi untuk padi sawah

Pengelolaan air irigasi berarti penambahan jumlah air untuk konsumsi penduduk dan perluasan area pertanian!

 

05 AugSOIL-Kembali ke Eden (Back to Eden)

 

KEMBALI KE EDEN ~ BACK TO EDEN

 

Profesional ~ Solusi Produksi Pertanian ~  Berkelanjutan

 

Tinjauan: Syekhfani

 

Suatu kisah perjalanan seorang berjiwa tani, yang dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi dan inovasi, patut ditiru dan diteladani bagi orang yang ingin berubah menjadi berguna bagi keluarga, masyarakat dan dunia.

Inovasi teknologi pertanian organik, pemanfaatan sisa bahan organik di kebun, diversifikasi jenis komoditi tanaman.

Kisahnya, dapat disimak dalam film “Back to Eden”.

 

2

Back to Eden (film):  http://www.cultureunplugged.com/documentary/watch-online/play/11883/Back-to-Eden

Paul Gautschi, telah menjadi pekebun profesional selama lebih dari 55 tahun dan dikenal secara lokal sebagai arborist utama. Pada tahun 1979 Paulus dan keluarganya pindah ke Semenanjung Utara Washington, California. Sebagai seorang ayah dari 7 anak, ia telah mencukupi kebutuhan keluarga dan teman – tidak pernah bersifat komersial. Paulus telah memberi wisata kehidupan kebun bagi masyarakat internasional yang juga menikmati buah hasil kerjanya.

FILM KEMBALI KE EDEN, suatu  Kisah Perjalanan Hidup Seorang Profesional, menuju jalan TUHAN dilaporkan secara sederhana tentang metode produksi berkelanjutan Yang Diberikan kepada manusia di Taman Eden. Telkomnika Berkebun Organik pengalaman Paulus Gautschi yang luar biasa telah menarik minat pengunjung manca negara!

 

3

4

29 JulSOIL-Traditional Mixed Garden

 

 

TRADITIONAL MIXED GARDEN ~ KEBUN CAMPURAN TRADISIONAL

 

Diversifikasi – Tanaman Sekunder – Kebutuhan Sehari-hari

 

Syekhfani

 

Traditional Mixed Garden (Kebun Campuran Tradisional), adalah sebidang lahan di tepi sawah, atau sekitar dangau (tempat tinggal di sawah atau ladang);  berupa lahan  budidaya tanaman sekunder ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani sehari-hari.

Kebun campuran tidak luas, dikelola secara tradisional,  seadanya (alami), dan tidak ada perawatan khusus.

Pengelolaan dilakukan saat tidak bekerja, atau sedang istirahat dari pekerjaan utama. Seringkali dibantu bu Tani atau anak-anak pak Tani.

Sistem budidaya pertanian tradisional semacam ini, umumnya  tidak mengikuti pola tertentu, dan banyak dijumpai di luar pulau Jawa.

Jenis tanaman meliputi:  buah-buahan (buahan), sayur-sayuran (sayuran), obat-obatan (obatan)/rempah-rempah (rempah), dsb (etc);  ditanam campuran secara acak (tidak teratur), tetapi mengikuti strata tajuk:  pohonsemakrumput.

Stratifikasi menghindari kompetisi penuh terhadap cahayaudaraair, maupun unsur hara.

Umumnya jenis tanaman kebun campuran tersebut, adalah:

 

POHON

Buahan:  mangga, durian, rambutan, nangka, dll (etc).

Sayuran: nangka, petai, keluwih, melinjo, kelor, dll.

Obatan/Rempah: cengkeh, pala, kayu manis, dll.

 

SEMAK

Buahan:  jeruk, sawo, jambu biji, dll.

Sayuran:  lamtoro, ubikayu, kacang-kacangan, tomat, lombok, terong, talas, dll.

Obatan/Rempah:  serai, lengkuas, daun-salam, dll.

 

RUMPUT

Buahan:  ciplukan (Jawa), dll.

Sayuran:  bayam, kangkung, seledri, dll.

Obatan/Rempah:  kunyit,  jahe, kencur, dan sebagainya.

 

Bagaimanapun, kebun campuran sangat membantu petani tradisonal subsisten memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

 

→ Lihat:  http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/07/soil-klasifikasi-sistem-agroforestri-3/

→ Lihat:  http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/06/4100/

 

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

16 NovWACANA ILMU TANAH

 1

Upaya Mengerti & Memahami Sifat – Perilaku Tanah

 

2

Dr. Abdurachman Adi - KaPuslitbangtanak:

Degradasi Tanah Pertanian Indonesia - Tanggungjawab Siapa???

 

3

Ultisol terdegradasi berat, kehilangan topsoil, tumbuhan Melastoma pubescens (Hareundeung-Sunda, indikator tanah masam), bertahan hidup pada subsoil yang mengalami konkresi unsur besi/mangan. Foto: Syekhfani

 

4

Profil sumur Ultisol, kedalaman 6 meter, tampak bercak (mottling) besi/mangan di bagian atas (zona oksidasi) dan warna abu-abu (gley) di bagian bawah (zona reduksi). Foto: Syekhfani

UPAYA MENGELOLA LAHAN ULTISOL BERMASALAH

NITROGEN CYCLE -Mekanisme Perilaku (Acuan dasar pengelolaan N – Syekhfani)

5

6

7

8

Reklamasi lahan Alang-alang (Imperata cylindrica L.): dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system) dan penutup tanah (cover cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

10

 

11

Reklamasi lahan alang-alang: dengan Sistem Berbasis Ubikayu (Cassava : Manihot esculenta Crantz -based cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

12

13

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system: Lamtoro: Leucaena leucocephala-Jagung: Zea mays L. dan kontrol) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

14

 

15

16

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman penutup tanah (Cover Cropping System: Kudzu: Calapogonium mucunoides, Enceng-enceng: Crotalaria anagyroides, dll.) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

17

Reklamasi lahan alang-alang: di lahan petani (Farmer’s field: jagung, drainase jelek), di luar area kebun PG Bungamayang, Lampung UtaraDokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani