Archive for the 'Teknologi' Category

19 JunBokashi

THE FERMENTATION OF ORGANIC WASTES

Posted by: http://www.compostguy.com/bokashi-resource-page/

Bokashi

For quite some time I’ve been meaning to learn more about the topic of bokashi.

It seemed to be an interesting waste management method that quite a few people were talking about, and given my interest in various types of composting it only made good sense for me to see what all the fuss was about.

What Is Bokashi?

Bokashi is a Japanese term meaning ‘fermented organic matter’.

It is often referred to as a type of ‘composting’ but it is actually a anaerobic fermentation process, resulting in a much different end product than that produced via composting.

Many people like bokashi because it is very easy, and generally (bad) odour-free. All that is needed is a bucket (with lid), some special bokashi mix, and of course some organic waste.

This is a very basic overview – we’ll talk in much more detail about how to set up a bokashi bucket in the ‘Getting Started’ section.

Why Bokashi?

There are a many good reasons for getting into the habit of NOT tossing your organic waste into the trash.

As discussed on the Composting Basics page, organic waste makes up a considerable proportion of the total waste stream that ends up in the landfill (typically in the vicinity of 20-40%).

This is unfortunate since, apart from needlessly taking up dwindling landfill space, these materials can easily be diverted and turned into a rich organic fertilizer (among other things).

Getting Started With Bokashi

As discussed above, there are really only 3 important things needed to get started with bokashi
1) Waste materials
2) A bokashi bucket, and
3)Bokashi mix

Waste Materials

As I listed in the advantages of bokashi, you can add pretty well any type of food waste to a bokashi bucket.

If you an are active composter you will likely know that there are some materials not recommended for a compost pile or worm bin namely meats, oily foods and dairy. I’m still in the testing phase of this myself

I added some steak scraps and shrimp waste to one of my buckets and will be very curious to see how quickly these materials are broken down once they are added to an aerobic composting bin.

Bokashi Bucket

Experts typically recommend that you use a bucket with a spigot on it, so that you can drain the liquid that accumulates in the bottom as the waste materials decompose.

Interestingly enough, some report that this liquid can be used as a plant fertilizer or even poured down your drain to eliminate odours.

You can purchase complete bokashi kits (such as the one pictured to the right) if you want to do everything by the book.

These commercially made buckets even have a false-bottom floor that keeps the waste materials separate from the leachate.

For my preliminary bokashi experimentation I’ve simply been using regular plastic buckets with tight fitting lids.

I added a layer shredded cardboard in the bottom to help prevent excess moisture from pooling.

I would like to eventually purchase a bucket that has been designed specifically for bokashi, but for now my buckets seem t be working ok.

Bokashi Mix

The key component of a successful bokashi bucket is of course the bokashi mix – typically consisting of wheat bran inoculated with a special mixture of microbes, variously referred to as ‘effective microorganisms’, ‘friendly microorganisms’, or ‘efficient microorganisms’.

,The easiest (but most expensive) option is to purchase this mix ready-made – typically if you buy a bokashi kit it will include a bag of the microbial mix.

If you are a more adventurous type you can also make it yourself.

As I discovered, this is in fact much easier and enjoyable than it sounds, but there are some important things to keep in mind. Making the mixture is very easy, but it’s the drying stage that may create some inconvenience for some people.

In hindsight I’m very glad I only ended up making a small amount (enough to fill two ziploc freezer bags), because the drying material took up a lot of space and it gave off a pretty powerful odour (I won’t say it was bad, but it was certainly…obvious)

While I suppose you don’t really have to dry the mixture out, this will definitely increase the shelf-life of the material – especially important if you are making large quantities.

In order to make the mix you will need some wheat bran, molasses, and some liquid microbial inoculum.

Some suggest adding various other goodies as well (such as rock dust, kelp etc), but I decided to keep it simple and just go with the basics.

Below is a great video from Neal ‘The Podchef’ Foley, from the Kitchen Garden Food Company. It demonstrates how to make the bokashi mix.
Bokashi

‘How-To’

Once you have all of the 3 key components discussed above you are ready to get started. As mentioned, filling your bokashi bucket is incredibly easy. You simply add food scraps to your bucket, along with a handful of bokashi mix over top – that’s it! Continue doing this until you’ve filled the bucket completely.

You may want to use a heavy plate of some sort to help press down the materials in the bucket.

This will encourage the development of anaerobic conditions.

I simply pressed the food down each time then put the lid on the bucket and everything seemed to work as claimed (i.e. no bad odours etc).

Once your system is completely full, simply seal it up and let it sit for a couple of weeks so that it can further decompose.

Any time after that you can dig the contents directly into your garden or add them to your compost pile or bins.

24 MayJamur Topi Anggur

BUDIDAYA DALAM MEDIA KOMPOS

Suatu Pengalaman yang Menarik

Kim Stoddart – September 2014

Dicuplik oleh: Syekhfani

Kim Stoddart terpesona dan bingung dengan dunia jamur:

Area Jamur Topi Anggur

Gambar 1. Area Jamur Topi Anggur

Ia telah bertahun-tahun membuat kompos cepat jadi, dengan cara memasukkan berbagai sampah rumah tangga menjadi “emas hitam” penyubur tanah.

Sampah limbah rumah tangga tersebut, meliputi: kulit buah dan sisa sayuran, sobekan kardus dan koran.

Namun, dia mengharap bahwa kompos cepat jadi tersebut mempunyai nilai tambah .

Bahan Kompos

Gambar 2. Bahan kompos

Kim Stoddart, selanjutnya mengupayakan agar sampah mengalami dekomposisi lebih baik dan cepat.

Hal tersebut dilakukan dengan cara menggali lubang dalam tanah, serta menambahkan bahan-bahan lain berupa rerumputan yang kaya unsur hara, menambahkan bahan hijau dan coklat, yang dalam proses dekomposisi menghasilkan panas.

Dia juga mencoba cara lain untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah berlanjut.

Dia pernah mendengar bahwa jamur topi anggur (Stropharia) – http://en.wikipedia.org/wiki/Stropharia_rugosoannulata
dapat dibudidayakan dengan baik dalam medium kompos, dan dia mencari sumber miseliumnya.

Kim Stoddart menghubungi Gary, pengusaha jamur untuk melihat apa yang dia lakukan dan untuk mengetahui lebih lanjut .

Ternyata budidaya jamur topi anggur merupakan bisnis yang menarik, meskipun rumit.

Apakah anda ingin mencoba ?

Bahan tulisan: → http://www.theguardian.com/lifeandstyle/gardening-blog/2014/sep/22/gardening-for-free-compost-mushrooms

13 AprStrawberry Eksotik

TANAMAN HIAS MENJUNTAI

Seni dan Produksi

Syekhfani

Tanaman Strawberry (Fragara spp. – Rosaceae), merupakan salah satu tanaman introduksi yang banyak diminati dan dikembangkan dalam budidaya tanaman hortikultura buahan-konsumsi atau pun buahan-hias di Indonesia.

Strawberry adalah tanaman menjuntai, cepat tumbuh, dengan rangkaian bunga putih mungil, dan warna buah hijau, putih, merah (sesuai tingkat kematangannya); dikenal oleh semua tingkat umur dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/07/10/soil-favorite-fruit-crops/

Selain itu, kalangan masyarakat umum, menyukai buah Strawberry setelah mereka mengetahui bahwa buahan ini tergolong bergizi, mengandung Vitamin (terutama C dan A) serta mineral-mineral.

Buah Strawberry dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, atau diolah menjadi berbagai bentuk kue dan roti, penghias kue ulang tahun, atau kue lain berbagai macam, bentuk dan rasa.

Berikut adalah contoh kiat menanam Strawberry secara eksotik, memanfaatkan sifat menjuntai yang menghasilkan buah-konsumsi dan buah-hiasan.

1. Strawberry Lokal Dalam Pot Biasa

1. Strawberry Lokal Dalam Pot Biasa

2. Strawberry Hibrida (Fragaria x ananassa) Dalam Pot Biasa

2. Strawberry Hibrida (Fragaria x ananassa) Dalam Polibag

3. Strawberry Lokal Dalam Tong

3. Strawberry Lokal Dalam Tong

4. Medium dalam  Karung Plastik

4. Medium dalam Karung Plastik

5. Tanam Awal

5. Tanam Awal

6. Bunga

6. Bunga

7. Buah

7. Buah

8. Strawberry Dalam Bedengan

8. Strawberry Dalam Bedengan

9. Tanaman Awal

9. Tanaman Awal

10. Vegetatif

10. Vegetatif

11. Berbunga

11. Berbunga

12. Berbuah

12. Berbuah

13. Buah Matang (ujung meruncing)

13. Buah Matang (ujung meruncing)

14. Buah Matang (ujung melebar)

14. Buah Matang (ujung melebar)

15. Campuran

15. Campuran

Strawberry Eksotik ~ memenuhi kebutuhan material, spiritual dan gizi!

11 AprSalah Musim

Mesin Perontok Gabah

PANEN GABAH DI MUSIM “MARENGAN”

Small Holder Farmers

Syekhfani

Salah satu ketidak-mampuan “petani gurem” (Jawa, small holder farmers), adalah menentukan masa tanam yang tepat untuk pertanaman padi sawah.

Petani melakukan sistem tanam 300 % (padi-padi-padi) dalam setahun, tanpa bera.

Pada prinsipnya, produktivitas maupun kualitas gabah tertinggi dalam budidaya tanaman padi sawah adalah di musim kemarau.

Namun, demi mempertahankan produksi terus menerus untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, maka pada masim “rendengan” (penghujan) dan “marengan” (setelah rendengan) pun tetap dilakukan penanaman, yaitu karena air cukup.

Kualitas gabah, termasuk juga gizi yang terkandung dalam beras menjadi rendah; demikian pula berdampak pada harga jual beras.

Video berikut diambil saat panen padi sawah musim “marengan” (Jawa, akhir musim penghujan) → http://id.wikipedia.org/wiki/Pranata_mangsa, menggunakan mesin perontok gabah.

Lihat: → https://www.youtube.com/watch?v=QpqYR4T0sbo

09 AprLaterization

Laterization

PEDOGENESIS TANAH MINERAL MASAM

Zone Tropika Basah

Syekhfani

Laterization (Ferralitization)*, adalah pelepasan silikat (Desilication) pada tanah mineral masam, terutama pada zone tropika basah (tropical rain zone).

Silikat larut dapat mengalami pencucian (leaching) ke lapisan bawah tanah (ground water), yang berakhir sebagai endapan di muara.

Apabila konsentrasi Silika larut dalam tanah mencapai 140 ppm, maka bisa terjadi polimerisasi silika: silika polimer akan mengendap dengan adanya Al, atau bila terjadi penurunan pH.

Namun, silika dalam bentuk monomerik, cenderung tercuci ke luar sistem.

*Lihat: Tan, Kim H. 1993. Principles of Soil Chemistry. 2ndEdit. Depart.of Agron. The Univ. Of Georgia. Athens, Georgia. Marcel Dekker, Inc. New York-Basel-Hong Kong. pp 292-293.

Implementasi:

Endapan lumpur di muara berasal dari kawasan tanah mineral masam (Ultisol, Oksisol), cenderung kaya akan unsur Si.

Pemanfaatan kembali lumpur muara kaya Si untuk ameliorasi Ultisol dan Oksisol tersebut, merupakan alternatif solusi dalam peningkatan daya dukung (carrying capacity) lahan.

Tindakan ini tergolong upaya “daur ulang” (recycling) material berpindah, dan termasuk dalam program keberlanjutan “sistem budidaya pertanian” (sustainable agriculture system).

04 AprFermentasi

Fermentasi

RESPIRASI ANAEROBIK

Pernapasan, Perombakan, Enersi

Syekhfani

Pernapasan (respirasi), dikenal ada dua: aerobik (kondisi kaya oksigen) dan anaerobik (kondisi kurang oksigen), merupakan aktivitas makhluk (organisme) hidup.

Organisme aerobik hanya mampu bernafas bila cukup oksigen bebas, organisme anaerobik mampu bernafas menggunakan senyawa mengandung oksigen, setelah melakukan perombakan karbohidrat (fermentasi).

Pada awalnya fermentasi diartikan sebagai pemecahan gula menjadi alkohol dan CO2. Kemudian berkembang menjadi pemecahan laktosa menjadi asam laktat oleh Streptococcus lactis dalam suasana anaerobik (kurang oksigen).

Lihat: → http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/878-pengolahan-pangan-dengan-fermentasi

REAKSI: (teoritik)

Lihat: → http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fermentasi&veaction=edit&vesection=5

C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (118 kJ/ mol)

Gula (glukosa, fruktosa, sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP)

PRAKTIKAL:

Di lain sumber, fermentasi disebutkan sebagai proses pengubahan bahan organik menjadi bentuk lain yang lebih berguna dengan bantuan mikroorganisme secara terkontrol.

Mikroorganisme yang terlibat di antaranya adalah bakteri, protozoa, jamur atau kapang atau fungi dan, ragi atau yeast.

Contoh proses fermentasi adalah: pembuatan tape, tempe, kecap, oncom, roti, brem, keju, dan yoghurt.

Untuk menghasilkan suatu produk fermentasi tertentu, dibutuhkan kondisi fermentasi dan jenis mikroba dengan karakteristik tertentu juga.

Oleh karena itu, diperlukan keadaan lingkungan, substrat (media), serta perlakuan (treatment) yang sesuai sehingga produk yang dihasilkan menjadi optimal.

Lihat: → http://ardra.biz/sain-teknologi/bio-teknologi/pengertian-manfaat-proses-fermentasi/

Pengertian dasar tentang fermentasi ini sangat dibutuhkan dalam meramu bahan-bahan “pupuk” atau “pengondisi tanah” dalam upaya ameliorasi tanah-tanah pertanian.

26 MarBudidaya Pertanian Lahan Gambut

Lahan Gambut

POTENSI LAHAN PEKARANGAN

Budidaya Tradisional di Lahan Sempit Marginal

Syekhfani

Lahan gambut, tepatnya lahan bergambut (peaty soil), secara umum tergolong “kurang” potensial untuk lahan budidaya pertanian ditinjau dari segi kelas kemampuan lahan (land capability, land suitability), karena tanah bergambut mempunyai sifat kesuburan (fisik, kimia, dan biologi) rendah.

Budidaya pertanian di lahan gambut (peaty soil), adalah merupakan budidaya spesifik yang memerlukan teknologi masukan tinggi (high input technology), membutuhkan upaya reklamasi dan ameliorasi, apabila akan digunakan untuk budidaya pertanian skala luas.

Namun demikian, ada penduduk setempat yang memanfaatkan potensi lahan “marginal” ini untuk memperoleh nilai tambah sebagai usaha sambilan, yaitu menanam berbagai jenis tanaman hortikultura di lahan pekarangan.

Lahan gambut dibuka tanpa atau dengan olah tanah minimum, hanya sekedar menghilangkan vegetasi gulma; sehingga pekerjaan olah tanah ini termasuk ringan, karena sifat fisik gambut tergolong gembur, yaitu berupa bahan induk organik (Histosol).

Berikut ini disajikan contoh kegiatan beberapa Penduduk Desa Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kabupaten Palangkaraya, Propinsi Kalimantan Tengah, yaitu menanam sayuran dan buahan di lahan pekarangannya (Gambar).

Gambar 3

Gambar 13

Lahan Pekarangan

Gambar 12

Gambar 10

Gambar 9

Tanaman Sayuran (Kangkung, Bawang Besar)

Gambar 8

Tanaman Buahan (Nenas)

Gambar 16

Pemupukan (pupuk kandang, dolomit, dll.)

21 MarCoco Peat

Butiran Coco Peat

MEDIUM TANAM, PUPUK ORGANIK, PENGONDISI TANAH

By-Product Sabut Kelapa

Syekhfani

Coco Peat, nama untuk butiran sabut kelapa, tergolong bahan sisa (by-product) produksi buah kelapa.
Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/19/soil-bahan-baku-pupuk-organik/

Di Indonesia, hampir di sepanjang pesisir pantai laut, dijumpai pohon kelapa yang terkenal sebagai tanaman “peminum air laut”. Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/09/30/hidup-di-tepi-pantai/

Pohon kelapa, adalah tanaman “serba-guna”; hampir seluruh bagian tanaman bisa dipakai untuk berbagai keperluan.

Di bidang kesuburan tanah, sisa tanaman berupa butiran sabut kelapa, yang dikenal dengan nama “Coco Peat” (coir pith. coir fibre pith, coir dust, atau simply coir), mempunyai fungsi sebagai amelioran (medium tanam, pupuk organik, pengondisi tanah).

Coco Peat membantu memperbaiki sifat fisiko-kimia tanah (tata air, udara, dan hara) dan sifat kimia tanah. Lihat: → http://en.wikipedia.org/wiki/Coco_peat

Coco Peat mampu meningkatkan kemampuan tanah memegang air (water holding capacity) dan unsur hara (nutrient holding capacity).

Coco Peat mengandung unsur Kalium (juga Ca, Mg, dan lain-lain) yang relatif tinggi.

Coco Peat, banyak digunakan sebagai medium tanaman pot dan pembibitan.

Coco Peat, Medium Amelioran Tanah!

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

14 JanSafety Net (Jaring Pengaman)

CAHAYA, UDARA, AIR, HARA, OPT

Pohon Buahan

Syekhfani

Efek “sinar matahari spektakuler” http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/11/26/efek-cahaya-matahari/, terhadap tanaman berdampak terhadap aspek penggunaan faktor kehidupan tanaman (udara, air, hara) meningkat.

Demi pengamanan (savety), diperlukan kiat teknologi yang efisien dan efektif.

Salah satu alternatif adalah penggunaan jaring pengaman (savety net) yang ditutupkan ke permukaan tajuk tanaman (terutama bagi pohon buahan).

Penutupan tajuk akan menghemat air karena penguapan (transpirasi), mengefisienkan serapan (uptake) unsur hara, mengoptimalkan serapan (absorb) sinar matahari, serta mencegah gangguan kelelawar pemakan buah (codot, Jawa). Tanpa ditutup jaring, atau tanpa dibungkus “brongsong”, buah kelengkeng bisa habis diserang codot hanya beberapa malam saja.

Untuk mengetahui efek penutupan tajuk oleh jaring terhadap perkembangan dan/atau pengamanan buah, sekitar seperempat areal tajuk dibiarkan terbuka.

Jaring pengaman yang dikenal sebagai “screen” dapat diperoleh di toko-toko bahan pertanian yang biasanya dipakai untuk “screen house”, rumah kasa yang dapat mengurangi penyinaran penuh, sesuai dengan tanaman yang dibudidayakan. Penutupan sinar (shading) bisa 10, 20, 30, 40 persen, atau lebih.

Aplikasi jaring pengaman pada pohon “Kelengkeng” umur sekitar 15 tahun (koleksi di samping rumah kediaman penulis):

1. Jaring pengaman

1. Tutupan Jaring Pengaman.

2. Luar jaring

2. Bagian Tajuk Tidak Tertutup Jaring.

3. Luar jaring (close)

3. Bagian Tajuk Tidak Tertutup Jaring (close up).

4. Serangkai buah

4. Serangkai Buah Kelengkeng (menjelang matang).

5. Pohon Kelengkeng Koleksi

5. Pohon Kelengkeng Koleksi.

Kiat Inovasi Teknologi menuju Pencapaian “Decent Life”!

09 JanAsam Humat dan Biochar

Asam Humat

Biochar

SENYAWA ORGANIK SIKLIK

Agen Kesuburan Tanah Berkelanjutan

Syekhfani

http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/07/09/Asam humat/Asam humat, senyawa organik siklik berberat molekul tinggi, mempunyai kemampuan membufer air dan unsur hara, sehingga berpotensi mempertahankan kesuburan jangka panjang.

http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/12/09/Biochar/Biochar, bahan organik yang mengalami proses pemanasan pada suhu rendah dan kontrol oksigen (pirolisis), menjadi arang aktif; mempunyai struktur rangkai karbon siklik, juga mampu membufer air dan unsur hara.

Asam humat dan biochar, apablila dicampurkan (inkorporasi) dengan tanah, maka tanah akan berpotensi meningkatkan kesuburan jangka panjang; karena keduanya sukar mengalami perombakan (dekomposisi).

Dua agen penyubur tanah ini, akhir-akhir ini menjadi objek penelitian dan pengembangan para ahli dan teknisi dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Asam humat dan biochar, merupakan agen pengondisi tanah (soil conditioner), bukan sebagai pupuk (non-fertilizer); dapat merubah sifat dan ciri (nature and properties) tanah dalam kaitannya dengan tata udara dan air (sifat fisika), tata hara (sifat kimia), serta tata air dan udara (fisiko-kimia) tanah.

Apakah keduanya juga dapat merubah tata kehidupan (sifat biologi) tanah?

Asam humat (AH) dan biochar (BC) sebagai sumber hara/pengondisi tanah:

-Secara umum, AH dan BC lebih berfungsi sbg ‘pengondisi’ tanah ketimbang ‘sumber hara’.

AH berasal dari proses humifikasi atau deposit alam (Leonardite), mengandung unsur hara relatif rendah.

Di pihak lain, dalam proses pirolisis BC (pemanasan 200-400oC), ada 6 unsur hara esensial makro dan 3 unsur mikro berpeluang hilang melalui penguapan (volatilisasi) yaitu: C,H,O,N, S, P (makro),B,Mo,Cl (mikro).

-Struktur morfologi AH dan BC membentuk pori mikro yang mampu menahan molekul air, di samping gugus fungsional kaya OH (ligan muatan negatif), sehingga meningkatankan muatan KTK.

Perbaikan sifat fisik, kimia, dan fisiko-kimia tanah memperbaiki (improve) dan mendukung (encourage) sifat biologi tanah, didukung (enhance) oleh aplikasi agen hayati (biofertilizer) seperti Rhizobium dan/atau Mikorhiza; dan sebagai dampak perbaikan tersebut adalah sifat kesuburan tanah berkelanjutan (sustainable soil fertility).

04 DecBioteknologi

unduhan

GENETIC ENGINEERING (REKAYASA GENETIK) – BIOTEKNOLOGI

Syekhfani

Bioteknologi rekayasa genetik(genetic engineering – GE), merupakan teknologi yang dikembangkan manusia dengan cara mengombinasikan sifat-sifat genetik DNA.

Dalam era tahun 1970-an, “revolusi hijau” merupakan implementasi aplikasi GE di bidang pertanian, diawali dari kekhawatiran para ahli ekonomi dunia terhadap kemungkinan terjadi masalah kerawanan pangan (scarcity of food).

Di Indonesia, terdapat program peningkatan produksi tanaman padi sawah, yaitu: Padi Sentra, Inmas, Insus, Supra Insus, Gemah Palagung, dan Korporat Farming.

Pembudidayaan lahan secara terus menerus tanpa bera, menyebabkan terjadi degradasi kesuburan tanah.

Gejala “levelling off”, yaitu pertumbuhan dan produksi tidak dapat ditingkatkan hingga level “potensi genetik”.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/12/03/arable-land/.

TINJAUAN:

Selama ribuan tahun, manusia mampu memanfatkan organisme alami untuk bidang pertanian.

Penemuan mutakhir, manusia mampu mengombinasikan DNA melalui rekayasa genetik, menghasilkan klon tanaman baru yang mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan maupun produktivitas.

Modifikasi genetik organisme – genetically modified organisms (GMOs) tersebut menimbulkan pro-kontra dan diskusi berkepanjangan; misalnya, penggunaan transgenik (transgenics) berkaitan dengan relevensinya dengan keamanan lingkungan hidup.

Salah satu website berkaitan dengan bioteknologi GE,
Lihat: → http://12.000.scripts.mit.edu/mission2014/genetically-modified-crops

Argument about GMOs:

GM technology remains underdeveloped and unsuited for the regions that need them most.

One problem with biotechnology is that it is not currently built for poorer regions, as most plants are only engineered for herbicide and pesticide tolerance, with the needs of developed countries in mind (GMF).

Biotechnology today is largely driven by agricultural corporations such as Monsanto, whose seeds are expensive to poorer farmers (Ho).

But GMOs may increase land productivity in Africa, where 49 percent of soil is heavily degraded (Terrafrica).

They could be engineered to endure harsher conditions and be less susceptible to climate changes such as drought, a leading cause of food insecurity in Africa.

Certain types of native crops may be engineered to increase yields. This all might be done in the future, but it has not been done yet.

Additionally, GMOs still represent too many unknowns to be a solid basis for a plan to benefit third world farmers.

Consumption of GMOs may have yet-unknown effects on human health.

Unknown health consequences are a common objection to GMO organisms.

The most condemning research done on such organisms is the work of renowned scientist Arpad Pusztai, who found evidence of intestinal damage caused by genetically modified potatoes (Randerson).

His funding was suspended for his publication of preliminary results, and therefore the study was never completed (Randerson).

However, numerous later studies found that GM crops that have passed existing safety reviews are not harmful to human health (Academic review, AFNZA).

The long-term ecological impacts of GMO crops are yet uncertain.

Cross-pollination with the wild type of GM species may lead to genetic contamination of the wild type, which could alter local ecosystems. Genes are difficult to control, and wild types of certain plants have been found to contain transgenic genes.

Unapproved genetically engineered grass has been found in Oregon (Pollack).

83 percent of rapeseed varieties in the United States and Canada were found to contain transgenic genes (Pollack).

However, cross-pollination can be minimized through measures such as buffer zones between GMO and non-GMO fields, as well as careful field planning (GMO-compass); the problem with cross-pollination may be minimized with proper planning and oversight.

Bt expressed in transgenic organisms is also toxic to a variety of helpful insects, including natural pollinators and pest predators.

Monarch butterflies, a chief pollinator in North America, are highly susceptible to Bt poisoning, and will occasionally feed on corn plants (Pimentel).

The introduction of Bt crops has also led to the rise of secondary non-target pests as major scourges.

Mealy bugs in India and Pakistan emerged as major pests directly following the introduction of Bt crops in the region.

These insects destroyed 50,000 out of 8 million acres of cotton area across Pakistan, and the damage is still increasing.

Organic crops have escaped the plague, due to their farmers’ use of natural pesticides instead of Bt crops (Ho).

Likewise, in China, Mirid bugs, which once did not present a threat to agriculture, have progressively grown in number since the introduction of Bt crops, especially in regions growing Bt cotton (Lu).

The decrease in synthetic pesticide use in these regions has contributed to the rise in pests that have never responded to Bt.

However, it is possible that integrated management of secondary pests, including techniques that integrate natural predators or parasites, can alleviate the new pestilences (Lu).

Bt crops may still be better than their alternatives in that they represent an overall decrease in ecological damage caused by pesticides.

Still, the rise of such insects demonstrates the unknowns involved in shifting over to transgenic crops.

Unknown long-term ecological effects make transgenics less palatable, especially in regions with great biodiversity.

The development of herbicide resistant plants has also led to an unexpected increase in the resilience of weeds, which threatens to create a cycle of dependence.

The introduction of such herbicide tolerant plants at first decreased herbicide use, but afterwards increased its usage and scope.

Weeds have become more and more resistant to herbicides, prompting farmers to use a wider variety and larger quantity of them (Lim).

While pesticide use dropped from 22,454 lbs to 15,618 lbs from 2003 to 2008, at a rate of 7000 lbs per acre per year, herbicide use increased from 278,514,000 lbs to 330,422,709 lbs (Cherry).

Thus, the sum of herbicide and pesticide usage per hectare in the United States increased 10 percent since 2003 (Cherry).

Insects exhibiting Bt resistance have also been documented in the United States, but the scope of such resistance in insects can be minimized by the planting of non-Bt crops near Bt ones (“Pesticide Resistance”, Physorg).

GMOs currently lack sufficient oversight.

Six unapproved GMO types have been found in livestock feed (Melvin).

Censoring of scientists such as Pustzai has also generated controversy on the validity of GMO studies (Randerson).

All GM crops should undergo safety screening in order to minimize health consequences, environmental pollution, and ecological imbalance (FAO).

The influence of agricultural corporate giants on the availability of GM seeds may lead to farmer exploitation.

Transgenics are expensive, and controlled by corporate agricultural giants.

Since alleviating poverty primarily concerns helping poor farmers, pushing them into a cycle of debt to foreign agricultural giants is perilous to food security.

In Monsanto vs Schmeiser, Monsanto was guaranteed intellectual property rights over the Roundup Ready soybean seed; the precedent may allow private companies like Monsanto to to exploit farmers.

Herein lies our greatest objection to using GM crops: until “fit-for-the-purpose” transgenic seeds are available for distribution to farmers without threatening them with a cycle of debt, transgenic seeds represent a step away from greater food security in the Third World.

However, if a rigorously tested and reliable source of transgenic seeds is found that does not require dependence on large agricultural firms, will permit the farmers’ traditional practice of saving their seeds, and is approved by the local government, we are open to providing farmers with the seeds under the condition that existing non-transgenic seeds be saved in a food bank and still be available to local farmers.

Conclusion:

Other technologies available have fewer scientific unknowns, less possibility of forming cycles of farmer debt, and have led to equally significant reductions in hunger.

Integrated pest management, organic farming, and other improved farming practices may increase yields just as effectively as would introducing transgenic organisms.

As such, we will not promote their widespread use until more research has been done on long term health effects, GMO seeds are available outside of corporate agriculture control, the biological effects of gene insertion are better understood, and research confirms that the presence of GMOs will not harm the native species in an ecosystem.

Penerapan teknologi GE yang menimbulkan pro-kontra ini, merupakan salah satu materi dalam kuliah Etika Profesi di bidang pertanian.

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/12/01/etika-profesi/.

http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/16/soil-bahan-kuliah-iii/

04 NovMusim Panen

PADI SAWAH TRADISIONAL

Efisiensi Kerja

Syekhfani

Prinsip kerja petani padi sawah tradisional lahan sempit (petani gurem), adalah efisiensi; sehingga meski umumnya para petani biasa melakukan gotong royong (saat musim tanam ataupun musim panen https://www.youtube.com/watch?v=cRxGfJTLtlg), namun untuk kerja yang tidak terlalu harus segera atau perlu biaya banyak, maka petani merasa cukup melakukan sendiri.

Sehabis gotong royong melakukan panen misalnya, apabila kondisi memungkinkan (cuaca baik dan sinar matahari terik), petani menjemur gabah di lahan sambil mengumpulkan berkas potongan jerami sisa panen dan membersihkan petak sawah untuk persiapan pengolahan tanah berikutnya.

Jemur Gabah

Jemur Gabah

Pada kondisi panas terik, dalam dua atau tiga hari gabah bisa dijadikan beras, menyewa mesin penggiling gabah (slep) yang bisa diminta datang ke lahan.

Namun pekerjaan ini hanya mungkin dilakukan saat musim tanam gadu/marengan (MK, Musim Kemarau). Sore hari, atau apabila mendadak ada gejala hujan akan turun, cepat-cepat petani menutup permukaan jemuran gabah dengan plastik atau terpal.

Pekerjaan pembersihan lahan (land clearing) sebelum bajak ini, dilakukan oleh individu pak Tani.

Merontok Gabah

Sisa Merontok Gabah

Jerami Sisa

Sisa Jerami

Efisiensi perkerjaan ini memungkinkan petani menghemat masa budidaya dan bisa mencapai efisien 3 kali panen (“efisiensi 300 persen”) dalam setahun; identik dengan perluasan areal tanam dan peningkatan produksi gabah.

29 OctTanam Padi Sawah

PINDAH TANAM SETELAH PELUMPURAN

Syekhfani

Setelah “pelumpuran tanah sawahhttp://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/10/12484/ selesai dilakukan, maka segera dilanjutkan pekerjaan pindah tanaman bibit padi.

Pekerjaan pindah tanam bibit, secara tradisional dilakukan oleh kelompok ibu tani yang sudah berpengalaman; biasanya berupa tim yang sangat kompak dan diakui kerapian dan keberhasilan kerjanya.

Bibit padi sawah dari bedengan persemaian disiapkan, didistribusikan oleh pak tani sebelum ibu tani melakukan penanaman.

Petak sawah yang sudah dibersihkan dan diratakan, dikeringkan dalam kondisi macak-macak atau nyemek-nyemek (Jawa: sedikit air menggenang di permukaan), dan di buat garis jarak tanam menggunakan alat khusus yang telah dijadikan pola berukuran tertentu.

Ibu tani melakukan pindah tanam sesuai kebiasaan setempat; ada yang jalan maju dan ada yang mundur. Prinsipnya, jejak kaki tidak boleh mengganggu tegak bibit yang telah ditanam.

Berikut disajikan contoh praktek pindah tanam bibit padi sawah secara tradisional.

Video: → https://www.youtube.com/watch?v=FCCCznaCL9s

25 OctPelumpuran Tanah Sawah

PENGOLAHAN DENGAN BAJAK

Persiapan Pindah Tanam Bibit Padi

Syekhfani

Pelumpuran tanah sawah, merupakan pembersihan lahan bekas diolah dengan bajak untuk persiapan tanam.

Petani sawah tradisional menggunakan bajak kerbau atau sapi, di samping juga mesin bajak rotari.

Bibit padi sawah sudah dipersiapkan sebelumnya dalam bedeng persemaian, dan segera dipindah-tanam saat lahan sudah melumpur dan siap ditanami.

Pelumpuran, selain memudahkan bibit ditanam, juga aplikasi pupuk anorganik atau organik, disamping membenamkan gulma sebagai pupuk hijau.

Berikut disajikan contoh pengolahan tanah sawah secara tradisional menggunakan mesin bajak rotari:

Video: → https://www.youtube.com/watch?v=fNwEEyhIHao&feature=youtu.be

21 SepKontroling Air Irigasi Tanah Sawah

CEGAH TANAH SAWAH KERING

Teknologi Tradisional

Syekhfani

Sisi lain manajemen tanah sawah adalah “kontroling air irigasi“, agar saat butuh air untuk pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman padi dapat terkontrol dengan mudah.

Teknologi kontroling air irigasi tanah sawah diketahui banyak diterapkan secara tradisional di berbagai sentra produksi padi sawah di Indonesia; khususnya sawah bertopografi lereng.

Berdasar sifat fisik air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah, maka panampakan dan bunyi air atau alat khusus menunjukkan keberadaan air, menjadi tanda bahwa di petak sawah ada air, cukup atau kurang; bahkan tidak ada sama sekali.

Teknologi sederhana dan bersifat tradisional ini menarik, dan spesifik untuk lokasi tertentu; sehingga menarik sebagai objek wisata.

Berikut, disajikan tiga contoh teknik kontrol irigasi untuk padi sawah di beberapa tempat.

Irigasi kincir air (Jambi, Solok, dan lain-lain): pada badan sungai yang cukup deras dan berada di bagian bawah lahan persawahan, dipasang kincir berupa roda raksasa terbuat dari kayu atau besi yang pada kisi-kisinya dipasang tabung bambu atau paralon secara miring dengan jarak tertentu.

Saat roda kincir paling bawah terendam air, tabung bambu terisi penuh air dan terangkat mengikuti gerak roda kincir yang terus berputar.

Setelah kisi roda kincir berada pada posisi puncak dan berangsur turun, maka air dalam tabung bambu dicurahkan ke saluran irigasi khusus menuju ke petak sawah.

1. Kincir Air Irigasi

Lihat: → http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2571/kincir-air-tradisional-alat-irigasi-sawah-di-jambi

Kontrol pancuran bambu (Bali, subak): pancuran bambu sebesar lengan dipasang pada saluran pembuangan (outlet) pada petak atas, tengah dan bawah. Keberadaan air pancuran bambu akan tampak dari kejauhan, demikian pula bunyi air pancuran terdengar di sekitar petak, menandakan ada air cukup, kurang atau tidak ada.

2. Pancuran Bambu

Lihat: → http://en.wikipedia.org/wiki/Subak_(irrigation)

Jungkat jangkit bambu (Semende, Sumsel):

Pada pematang petak sawah bagian atas, tengah dan bawah dipasang alat jungkat jangkit dari bambu sebesar lengan.

Poros jungkat jangkit dipasang di bawah ruas bambu paling atas, yang bertindak sebagai tabung isi air yang mengalir dari petak sawah.

Bila ruas terisi penuh maka menjadi berat dan tumpah secara otomatis sembari mengangkat bagian ujung ruas kosong.

Setelah ruas berisi air menjadi kosong, menjadi ringan maka posisinya kembali seperti semula.

Ruang kosong diberi landasan jatuh dari batu sehingga terdengar bunyi bambu kosong yang nyaring dan terdengar dari tempat yang cukup jauh.

Dengan demikian, ada dua mekanisme kontrol ada tidaknya air di petah sawah: terlihat (gerak jungkat jangkit) dan terdengar (bunyi ujung bambu kosong yang jatuh).

3. Irigasi Jungkat Jangkit

Lihat: → http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/01/05/pancuran-bambu-yang-terisi-kembali-522701.html

05 SepIPTEK

Mencangkul

Teknik versus Teknologi

Syekhfani

TEKNIK:

Hampir semua orang tahu tentang ‘teknik’ mencangkul.
Begitu diberi alat cangkul maka tanpa penjelasan pun orang bisa menggunakan cangkul: menggemburkan tanah, membuat selokan, membuat lubang tanam, membuat galengan, dll.

Orang tahu bahwa alat cangkul dapat membantunya mengerjakan tanah untuk keperluan yg dikehendaki.

TEKNOLOGI:

Di pihak lain, belum tentu semua orang tahu tentang ‘teknologi’ mencangkul.

Dalam hal ini berkaitan dengan ‘ilmu mencangkul’.

Misalnya, mengapa tangkai cangkul itu dibuat bengkok? Mata cangkul dipasang pada tangkainya dengan sudut tertentu; lebar, panjang dan kedalaman tertentu pula?

Mengapa posisi tubuh sedikit condong ke depan, kaki kanan di depan dan lutut sedikit ditekuk, sedang kaki kiri menjulur ke belakang posisi miring? dsb.

Semua ini adalah ‘teknologi mencangkul’, agar seseorang melakukan pekerjaan mencangkul dengan benar, tepat, efisien dan efektif. Tidak keliru terkena kaki sendiri.

ARTINYA:

Contoh tersebut menjelaskan dengan gamblang beda antara ‘teknik’ dengan ‘teknologi’.

Pada prinsipnya, teknologi itu adalah teknis yg dilandasi dengan ‘ilmu’ yang berkaitan dengannya.

Seorang yg menguasi teknologi ‘mencangkul’ harus mengetahui ‘ilmu’ tentang cangkul dan cara menggunakan, alasan dan latar belakang mengapa dibuat demikian.

Seseorang yg menguasi ‘IPTEK’ artinya ia mengetahui ‘teknik’ dan ‘ilmu’ tentang teknik tersebut.

Artinya, ia mempunyai kelebihan dibandingkan orang awam yg hanya tahu ‘teknik’ saja.

‘Teknik’ dan ‘Teknologi’ menghasilkan “IPTEK”!

15 AugPersepsi Beda

TRADISI PEKEBUN YANG UNIK

Syekhfani

Saat berada di kawasan kebun kopi rakyat di suatu desa, di kecamatan Sumberjaya, Lampung Utara, timbul pertanyaan: “Mengapa kebun kopi di situ sangat bersih? Tampak seperti mengalami degradasi berat tanpa konservasi lahan?”.

Setelah ditanyakan pada para pekebun, jawabannya ternyata bahwa secara tradisional kebun kopi memang harus dibuat bersih. Alasannya?

Alasan:

1/ “Kalau kebun penuh rumput, maka tetangga kiri kanan menuding kita dengan sebutan “pemalas!”, kata seorang pekebun.

2/ “Tanaman kopi itu sama seperti manusia, dia senang bila berada di tempat bersih”, kata pekebun lain.

3/ “Kalau rumah kita kotor, maka banyak tikus dan kecoa; demikian pula bila kebun kopi banyak rumput, akan banyak hama dan penyakit”, kata pekebun lain.

4/ “Gairah kerja meningkat, kalau melihat kebun kopi kita bersih”, celutuk temannya yang lain.

5/ “Anak-anak senang dan bergairah main di kebun kopi, bersantai dan rekreasi sekeluarga”, pengalaman suatu keluarga pekebun.

Wah, wah.. Semua persepsi itu benar, meski prinsipnya salah total. Sebenarnya, teknik penyiangan kebun kopi yang baik dan benar yaitu membersihkan gulma hanya di seputar proyeksi tajuk pohon; yaitu saat perlakuan ameliorasi tanah sebagai medium tumbuh (bahan organik ataupun anorganik). Dengan cara ini lahan tidak mengalami kerusakan karena erosi dan aliran permukaan.

Siang Bersih

Gambar 1. Penyiangan Bersih (seluruh permukaan tanah)

Siang Proyeksi Tajuk

Gambar 2. Penyiangan Setempat (seputar proyeksi tajuk)

Lihat: http://pustaka.litbang.deptan.go.id/agritek/ppua0157.pdf

08 AugAzola, Pupuk Nitrogen Organik Alami

Capture1

BUDIDAYA AZOLA

Menggali Sumber Nitrogen Organik

Syekhfani

Azola, salah satu sumber N alami, sudah dikenal oleh para pakar dan sebagian teknisi budidaya pertanian; namun prakteknya belum berkembang dengan baik.

Azola, sejenis tumbuhan paku-pakuan air, bersimbiose dengan bakteri Annabaena azolae mengikat N dari atmosfer secara simbiotik.

Pada umumnya petani padi sawah beranggapan bahwa Azola merupakan gulma yang menggannggu tanaman padi dan menyebabkan produktivitas padi menurun. Oleh karena itu, mereka menyingkirkan biomas Azola ke luar galengan atau bahkan dihanyutkan ke saluran drainase saat air berlebih.

Dalam rangka menuju ke sistem budidaya pertanian berkelanjutan, akrab lingkungan dan pengembangan “produk pertanian organik”, maka budidaya Azola perlu diketahui serta dikelola dengan baik.

Berikut, disajikan secara sederhana teknik budidaya Azolla pinata di lahan sawah beririgasi.

Capture2

Capture3

Capture4

Capture5

Capture6

Capture7

Capture8

Capture9

Capture10

Lihat: → <a href="Azolla“>Azolla

07 JulLand Clearing Pasca Bera

AKTIVITAS PASCA BERA

Syekhfani

Land clearing (pembukaan lahan), adalah persiapan yang dilakukan untuk budidaya tanaman di suatu kawasan.

Pembukaan lahan bisa dilakukan pada kawasan tanaman tahunan: hutan primer, hutan sekunder, atau bekas budidaya tanaman semusim pasca bera*) – http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/07/bera-dan-puasa/.

*) Lihat: http://artikata.com/arti-321547-bera.html

Tanaman Tahunan (Hutan Sekunder)

Penebangan Hutan Sekunder

Pembukaan Lahan Hutan Sekunder

Land Clearing

Land Clearing (pembersihan lahan)

Persiapan Tanam

Land Clearing (persiapan tanam)

Tanaman Semusim (Padi Sawah)

Tanah sawah bera

Tanaman Padi Sawah Bera

Land Clearing Sawah Bera

Land Clearing Sawah Bera

Pasca Bera, yaitu saat setelah masa istirahat tanah dan tanaman budidaya dari aktivitas intensifikasi budidaya, yang memerlukan penanganan khusus agar tujuan pemulihan yaitu kesehatan dan keberlanjutan budidaya dapat tercapai.

Ibarat orang yang baru saja istirahat dari kerja keras terus menerus, tidak boleh langsung tancap gas kerja keras; tentu saja memerlukan adaptasi atau tepatnya “pemanasan” (warming up) hingga tercapai kondisi normal seperti sediakala.

Demikian pula halnya kultivasi lahan budidaya pasca bera, sebaiknya diatur agar kembali dapat berfungsi berproduksi secara normal.

Saat melakukan pembersihan lahan (land clearing) untuk persiapan kembali budidaya tanaman diperlukan tindakan pengamanan awal (tindakan preventif).

Land Clearing

Lahan tidak dibersihkan hingga terbuka penuh, tidak terekspos sinar matahari langsung yang dapat menyebabkan sifat kesuburan topsoil (fisik, kimia, biologi) menurun.

Fisik:
Peningkatan suhu di lapisan top soil, secara fisik dapat menyebabkan stabilitas agregat dan kemantapan struktur berkurang, sehingga mudah mengalami erosi.

Kimia:
Beberapa unsur atau senyawa menguap (volatile) dan mengalami penguraian; sehingga terjadi degradasi fungsi kimia.

Biologi:
Selain itu, kehidupan organisme makro (cacing tanah, semut, dll) atau pun mikro (bakteri, cendawan, ganggang, aktinomiset, dll) terganggu atau bahkan mati.

Tindakan Konservasi

Lahan, baik yang bertopografi datar, maupun berombak, bergelombang, bahkan berbukit atau bergunung, bila terbuka akan mengalami masalah erosi. Karena itu, diperlukan tindakan konservasi:

Lahan datar:
• diperlukan penutup tanah berupa mulsa sisa tanaman dan cover-crops.

Lereng landai:
• Diperlukan pembuatan guludan, teras, atau penanaman sistem strip-cropping dan cover-cropping.

Lereng curam:
• Pembuatan teras bangku, penanaman penguat teras dan sistem hedgerows-cropping.