Archive for the 'Ubah fungsi' Category

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

29 AugDilema Alih Fungsi Lahan di Pedesaan

Alih Fungsi Lahan Basah ke Kering

MENGAPA TERJADI?

Teknik – Sosial – Ekonomi

Syekhfani

Alih fungsi lahan di pedesaan merupakan suatu dilema sehubungan dengan berbagai faktor: teknis, sosial dan ekonomis. Alih fungsi lahan dalam tulisan ini ditujukan dalam artian sempit, termasuk pemilihan jenis komoditi tanaman budidaya (sawah sebagai lahan berfungsi utama memenuhi kebutuhan pangan pokok beras beralih pada kebutuhan non-beras).

Teknis:

Sebagai contoh konkrit adalah akibat kerusakan jaringan irigasi lahan sawah yang sulit diatasi, menyebabkan lahan di kawasan irigasi tersier misalnya, tidak dapat memperoleh air yang cukup.

“Sawah saya selalu bermasalah kekurangan air, sehingga produktivitas padi sawah menurun sampai ke tingkat tidak menguntungkan”, keluh petani ..”dan saya sulit mengatasinya”.

“Karena itu, terpaksa saya alihkan ke tanaman palawija dan hortikultura”, lanjutnya.
Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/08/drought-impact/

Sosial:

Di pihak lain, kemajuan IPTEK menyebabkan anak-anak dan remaja di pedesaan melakukan urbanisasi ke kota (cari ilmu dan pengalaman); yang akhirnya tidak mau kembali ke desa yang dianggap kehidupan statis dan membosankan.

Keengganan para remaja sekolahan untuk kembali ke desanya, menyebabkan desa kekurangan petani muda mnggantikan orang tuanya yang makin berumur dan makin berkurang tenaganya. Oleh karena itu lahan yang digarap semakin sempit dan bera semakin luas.

Alternatif yang terjadi adalah lahan padi sawah dialihkan menjadi lahan non-padi seperti kopi, kakao, dan lain-lain.

“Saya merantau mencari ilmu ke kota, melanjutkan sekolah ke Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi; setelah saya memperoleh gelar sarjana (pertanian), sulit mendapat tempat di desa untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Suatu pihak, saya dianggap ingin merebut bidang kerja masyarakat desa, dan di lain pihak sarana-prasana yang tidak menunjang” jelas seorang pemuda desa yang jadi sarjana.

Ekonomi:

Keuntungan yang diperoleh dari budidaya tanaman padi sawah relatif rendah dan bersifat subsisten. Petani yang mempunyai pemikiran makin kritis dan berkembang, merasa harus berani pindah ke komoditas non-padi sawah (kebun, hortikultura).

“Kalau saya menanam padi sawah, maka nasib saya tidak akan berubah seperti pada nenek moyang saya turun temurun. Hanya bertahan hidup sekeluarga sebagai petani, meski kerja keras. jadi, saya harus berani berubah”, kata petani yang pemikirannya mulai berkembang.

“Oleh karena itu, saya beralih dari budidaya tanaman padi sawah ke kebun kopi, karena harga kopi lebih tinggi. saya bisa beli beras lebih banyak dari hasil penjualan kopi”, kilahnya.

Dinamis itu Hidup, Kemajuan dan Perubahan. Jadi, kalau mau maju harus berani melakukan perubahan!

17 DecSOIL-Terungkap dan Tersingkap

 


TERUNGKAP DAN TERSINGKAP

(revealed and exposed)

 

Syekhfani

 

Permukaan tanah (topsoil), tampak terungkap (revealed) atau tersingkap (exposed) melalui mekanisme:

1. Alam:  alam mengungkap (to reveale) lapisan tanah bawah (subsoil) melalui proses erosilongsoraluviasikoluviasiabrasi, di mana lapisan tanah atas (topsoil) hilang.

2. Budidaya: manusia mengolah (to cultivate) dan  menyingkap (to expose) lapisan tanah atas (topsoil) sehingga lapisan tanah bawah (subsoil) muncul pada kegiatan pembukaan lahan budidaya.

3. Non Budidaya:  manusia  mengungkap dan menyingkap lapisan tanah atas sehingga lapisan tanah bawah muncul ke permukaan saat pembuatan jalan raya, penggalian terusan, penggalian sumur, dan kegiatan lain.

Aksi-aksi tersebut menyebabkan tanah tergradasi, sehingga memerlukan tindakan reklamasikonservasiameliorasi, dan pemeliharaan, agar tanahlahan, dan lingkungan alam tidak rusak, lestari dan berkelanjutan.

Lihat:  → images:  syekhfanismd.lecture.ub.ac.id

 1

2

3

4b

5

8

9

11

12

15a

15b

17

20

Alam:  terungkap (revealed)

 

1

3

4

6

7

Budidaya: tersingkap (exposed)

 

1

2

3

4

5

6

7

8

Non Budidaya: terungkap dan tersingkap

 

11 DecSOIL-Tembok Hijau (Green Wall)

 

0. Tembok Luar Gedung Pertemuan

TEMBOK HIJAU

(GREEN WALL)

 

Tembok Hijau:  “Greening Wall: Ubah Fungsi, Ciptakan Nuansa Hijau”

 

Syekhfani

(foto-foto:  unduhan)

 

Tembok Hijau (Green Wall), rekayasa penciptaan model panorama  “mati” menjadi “hidup” bernuansa hijau menyegarkan;  saat ini sedang  tren di berbagai tempat dan negara, termasuk di negara kita.

Tembok  hijau (green wall), yaitu implikasi sistem “verticulture” (budidaya vertikal) memenuhi permukaan vertikal tembok/dinding gedung/bangunan dengan tanaman (merambat, menempel, menjalar, atau tumbuh pada media pot).

Verticulture memang tidak terlalu sulit dipahami;  yang rumit adalah teknik menjaga tanaman agar memenuhi syarat pertumbuhan  yang diperlukan (air, unsur hara, sinar matahari, ruang tempel, dan sebagainya).

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengubah fungsi fasilitas dan properti yang dipunyai gedung atau bangunan tersebut (misalnya: pemanfaatan air buangan, penggunaan saluran irigasi/drainase,  dan sebagainya). Bisa dipertimbangkan penambahan teknik “fertigasi” (irrigation fertilzizer), pemberian pupuk melalui saluran irigasi.

Lokasi  Tembok Hijau (Green Wall):  Umumnya berada di pusat keramaian kota, sepanjang jalan layang, gedung olah raga (stadion), pusat perbelanjaan, hotel bertingkat, rumah kediaman, dan sebagainya.

 

1. Tembok Hotel Bertingkat

2. Tembok Luar Sepanjang Jalan

3. Tembok Luar Sekeliling Stadion

(1).  Tembok luar arah fasilitas umum (jalan raya, gedung pertemuan, gedung pertokoan, stadion olah-raga, gedung pertunjukan, dan lain-lain;

 

4. Tembok Emper Rumah

5. Tembok Dalam Kolam Renang

(2). Tembok dalam (balkon, emper, taman tertutup, kolam renang), dan

6. Tembok dalam Kamar Mandi

(3). Tembok dalam (ruang pertemuan, kamar mandi, dan sebagainya.

 

Tembok Hijau (Green Wall), mengubah nuansa “mati” menjadi “hidup”, rekayasa panorama buatan!