Archive for the 'Wacana Tanah' Category

02 MayBatu Permata

DIGALI SECARA MANUAL

Posisi di Kedalaman Tanah

Syekhfani

Akhir-akhir ini, pencarian Batu Permata (Germstone) marak dilakukan, mulai dari cara sederhana hingga menggunakan alat-alat mesin berat.

Tidak begitu jelas, mengapa batu permata tersebut menjadi tren? Digeluti secara serius oleh para pencari dan pembeli? Di dalam dan bahkan dari luar negeri?

Nuansa ini menjadikan suatu ajang baru, bagi masyarakat individual maupun pemerintah.

Bahkan, diberitakan di suatu Daerah, Kepala Daerah menjadikan objek dan ikon daerah berhubung daerahnya kaya akan tambang Batu Permata yang bermutu.

Di mana posisi diketemukan Batu Permata dalam tanah?

Untuk itu perlu dipelajari profil kedalaman tanah, lapisan horizon serta proses pembentukan tanah (pedogenesis).

1. Profil Dimensianal Tanah

Gambar 1. Penampang Dimensional Profil Tanah

2. Lapisan Olah Tanah

Gambar 2. PenampangTopsoil (lapisan atas) dan Subsoil (lapisan bawah)

Dari susunan horizon di atas, maka kemungkinan diketemukan Batu Permata dalam tanah adalah di Horizon C dan R.

Penambang tradisional menggunakan cara manual, hanya mencapai kedalaman Horizon C, sedang bila menggunakan alat mesin semprot berkekuatan tinggi, maka bisa mencapai Horizon R.

Bagaimana pun, Penggalian Tanah Merusak Lingkungan Hidup dan Kehidupan!

13 MarWordPress 4.2 Beta 1

WordPress 4.2 Beta 1 is now available!

This software is still in development, so we don’t recommend you run it on a production site. Consider setting up a test site just to play with the new version. To test WordPress 4.2, try the WordPress Beta Tester plugin (you’ll want “bleeding edge nightlies”). Or you can download the beta here (zip).

4.2 is due out next month, but to get there, we need your help testing what we’ve been working on:

  • Press This has been completely revamped to make sharing content from around the web easier than ever. The new workflow is mobile friendly, and we’d love for you to try it out on all of your devices. Navigate to the Tools screen in your WordPress backend to get started (#31373).
  • Browsing and switching installed themes has been added to the Customizer to make switching faster and more convenient. We’re especially interested to know if this helps streamline the process of setting up your site (#31303).
  • The workflow for updating and installing plugins just got more intuitive with the ability to install or update in-place from the Plugins screens. Try it out and let us know what you think! (#29820)
  • If you felt like emoji were starkly missing from your content toolbox, worry no more. We’ve added emoji support nearly everywhere, even post slugs  
                <!--
                <rdf:RDF xmlns:rdf= -->

12 SepBiodynamic Agriculture

biodynamic_veggies_people_cows

PERTANIAN BIODINAMIS

Syekhfani

Peran biologi tanah: cacing tanah, insekta, arthropoda, amuba, aktinomiset, ganggang, fungi, bakteri.

Tanah alami tidak pernah diolah, peran cacing tanah, ..?

Siklus hara tanah – tanaman – udara tertutup (closed nutrient recycling):

Bagian tanaman gugur, masukan hara dari luar (hujan, debu, fiksasi N2 atmosferik), akar tanaman berfungsi sebagai pompa, erosi dan volatilisasi minimum, pada sistem hutan alami terjadi suksesi menyebabkan pertumbuhan hutan mewah, meski tumbuh pada tanah yang kurang/tidak subur.

PERTANIAN BIODINAMIS:

Tujuan dasar pertanian biodinamis yaitu meningkatkan produksi pangan secara biodinamis mencapai nutrisi pangan yang super dan rasa lebih enak dihasilkan cara pertanian konvensional.

Pertanian Biodinamis secara umum berpeluang sebagai sistem pertanian alternatif, sebab sistem pertanian ekologis lainnya mengklaim produksi mereka sama.

Saat ini, pertanian biodinamis telah dipraktekkan di lahan-lahan seluruh dunia, pada berbagai skala, jenis tanaman, iklim, serta kultur; kebanyakan diterapkan di Eropa, USA, Australia, dan New Zealand.

Oleh karena pertanian Biodinamis sejalan dengan Pertanian Organik untuk banyak hal -khususnya praktik kulturis dan biologis- maka ia diset sebagai bagian dari sistem Pertanian Organik lain melalui hubungannya dengan ilmu spritual dari anthroposofi seperti dikemukakan Steiner, dan berkaitan dengan praktik budidaya untuk mencapai tingkat keseimbangan.

Secara sepintas, Biodinamis dapat dimengerti sebagai kombinasi praktek pertanian ‘dinamika-biologis’; di mana ‘biologis’ meliputi deretan pengetahuan teknik pertanian organik dalam memperbaiki kesehatan tanah (lebih tinggi antara fisik atau non-fisik; kekuatan hubungan angkasa dan daratan; dan memperkaya lahan, produksi, serta berkaitan dengan energi kehidupan).

Sedang praktek ‘dinamis’ sehubungan dengan biologis sama baiknya dengan aspek metafisik dari budidaya (contoh: meningkatkan kekuatan vital kehidupan), atau adaptasi pertanian terhadap irama alami (misalnya: saat penanaman benih selama fase lunar/‘mongso’ tertentu, misalnya mongso ketigo, rendengan, marengan: tata musim (Jawa) – catatan penulis).

Konsep praktik dinamis tersebut berkaitan dengan kekuatan non-fisik di alam seperti -vitalitas, kekuatan hidup, ki, tenaga dalam, dan konsep terkait- adalah suatu komonalitas yang juga di bawah banyak sistem alternatif dan obat-obatan komplementer.

Tabel berikut menunjukkan ringkasan praktek budidaya biologis dan dinamis.

Table

Dr Andrew Lorand menuangkan pendapatnya tentang konsep model biodinamis dalam disertasi PhD-nya ‘Pertanian Biodinamik – Suatu Analisis Paradigma’ diterbitkan oleh Pensilvania State University tahun 1996:

Lorand menggunakan model paradigma yang dikembangkan Egon Guba dalam ‘The Alternative Paradigma Dialog’ untuk menjelaskan kepercayaan esensial tentang praktek biodinamis. Kepercayaan tersebut dibagi dalam tiga kategori:

(1) Kepercayaan alami tentang pertanian (ontologis),

(2) Kepercayaan alami tentang hubungan antara pelaku dengan pertanian (epistomologis), dan

(3) Kepercayaan tentang bagaimana pelaku harus melaksanakan pertanian (metodologis).

Lorand membedakan kepercayaan ontologis, epistomologis, dan metodologis ke dalam empat paradigama pertanian: Tradisional, Industrial, Organis, dan Biodinamis.

Lihat: →
https://www.biodynamics.com/biodynamics.html

02 SepMy Soil

Cacing tanah

TANAHKU

Puisi

Syekhfani

Tekstur, struktur, humus, liat, porus, “bernapas, minum, makan” – Tuntutan ideal!

Cacing Tanah, hancurkan sisa-sisa kehidupan, mengapa?

Unsur hara, nutrisi atau gangguan?

Air, tetes demi tetes melepas dahaga yang menggelegak

Udara, melegakan napas di pori sempit

Beribu juta makhluk hidup

Bersama-sama dalam suatu kehidupan

Simbiose, antagonis, parasiter

Melengkapi dinamika hidup dan kehidupan

Di alam dunia gelap dan nyata

Oo, betapa bergunanya TANAHKU..

-Awal Agustus 2014-

01 SepZat Allelopathy

*

PENGARUH ALELOPATI PADA PERTUMBUHAN TANAMAN

Tanaman Pagar – Tanaman Penutup Tanah

Syekhfani

Pengalaman sebagai pengelola lapangan (site manager) pada proyek penelitian “Nitrogen Manjemen Daerah Tropika Basah Indonesia” di PG Bungamayang, Lampung Utara antara tahun 1987 s/d 1989, menemukan beberapa indikasi adanya pengaruh negatif zat Alelopati terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya pertanian.

Sistem Tanaman Penutup Tanah (Cover Cropping System):
• Di petak tanaman Eceng-eceng (Crotalaria anagyroides), pertumbuhan gulma Ilalang (Imperata cylindrica) tampak tertekan dan tidak tumbuh sesubur pada petak perlakuan tanaman penutup tanah lain; diduga akar tanaman Crotalaria anagyroides mengeluarkan ekskreasi zat Alelopati.

Fenomena pengaruh zat Alelopati terhadap pertumbuhan tanaman budidaya pertanian dan perkebunan dijumpai dalam buku: → BOOKS IN SOILS, PLANTS, AND THE ENVIRONMENT*)

Disebutkan bahwa pohon Eucalyptus secara khusus merupakan tumbuhan yang akarnya mengekskresikan zat Alelopati.

Cairan ekskresi (leachates) Eucalyptus, juga Acacia, mengurangi daya kecambah dan parameter pertumbuhan lain pada tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Kacang Panjang (Phaseolus vulgaris L.). Hal ini merupakan bukti adanya pengaruh zat Alelopati.

Selain itu, ditunjukkan bahwa konsentrasi bakteri nitrifikasi (nitrifying bacteria) sangat rendah di bawah serasah perkebunan Eucalyptus.

Reaksi kimia zat Alelopati mempunyai salah satu faktor dari berbagai faktor yang berinteraksi di antara flora dan fauna dalam sistem tanah.

Oleh sebab itu, sifat perilaku zat Alelopati penting dipelajari dan diketahui dalam upaya pengembangan budidaya pertanian secara luas.

Lihat: Textbook

*) BOOKS IN SOILS, PLANTS, AND THE ENVIRONMENT

Editorial Board:
• Agricultural Engineering: Robert M. Peart, University of Florida, Gainesville
• Crops: Mohammad Pessarakli, University of Arizona, Tucson.
• Environment: Kenneth G. Cassman, University of Nebraska, Lincoln.
• Irrigation and Hydrology: Donald R. Nielsen, University of California, Davis.
• Microbiology: Jan Dirk van Elsas, Research Institute for Plant Protection, Wageningen, The Netherlands.
• Plants: L. David Kuykendall, U.S. Department of Agriculture, Beltsville, Maryland;
Kenneth B. Marcum, Arizona State University, Tempe.
• Soils: Jean-Marc Bollag, Pennsylvania State University, University Park; Tsuyoshi Miyazaki, University of Tokyo, Japan.

29 AugDilema Alih Fungsi Lahan di Pedesaan

Alih Fungsi Lahan Basah ke Kering

MENGAPA TERJADI?

Teknik – Sosial – Ekonomi

Syekhfani

Alih fungsi lahan di pedesaan merupakan suatu dilema sehubungan dengan berbagai faktor: teknis, sosial dan ekonomis. Alih fungsi lahan dalam tulisan ini ditujukan dalam artian sempit, termasuk pemilihan jenis komoditi tanaman budidaya (sawah sebagai lahan berfungsi utama memenuhi kebutuhan pangan pokok beras beralih pada kebutuhan non-beras).

Teknis:

Sebagai contoh konkrit adalah akibat kerusakan jaringan irigasi lahan sawah yang sulit diatasi, menyebabkan lahan di kawasan irigasi tersier misalnya, tidak dapat memperoleh air yang cukup.

“Sawah saya selalu bermasalah kekurangan air, sehingga produktivitas padi sawah menurun sampai ke tingkat tidak menguntungkan”, keluh petani ..”dan saya sulit mengatasinya”.

“Karena itu, terpaksa saya alihkan ke tanaman palawija dan hortikultura”, lanjutnya.
Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/08/drought-impact/

Sosial:

Di pihak lain, kemajuan IPTEK menyebabkan anak-anak dan remaja di pedesaan melakukan urbanisasi ke kota (cari ilmu dan pengalaman); yang akhirnya tidak mau kembali ke desa yang dianggap kehidupan statis dan membosankan.

Keengganan para remaja sekolahan untuk kembali ke desanya, menyebabkan desa kekurangan petani muda mnggantikan orang tuanya yang makin berumur dan makin berkurang tenaganya. Oleh karena itu lahan yang digarap semakin sempit dan bera semakin luas.

Alternatif yang terjadi adalah lahan padi sawah dialihkan menjadi lahan non-padi seperti kopi, kakao, dan lain-lain.

“Saya merantau mencari ilmu ke kota, melanjutkan sekolah ke Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi; setelah saya memperoleh gelar sarjana (pertanian), sulit mendapat tempat di desa untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Suatu pihak, saya dianggap ingin merebut bidang kerja masyarakat desa, dan di lain pihak sarana-prasana yang tidak menunjang” jelas seorang pemuda desa yang jadi sarjana.

Ekonomi:

Keuntungan yang diperoleh dari budidaya tanaman padi sawah relatif rendah dan bersifat subsisten. Petani yang mempunyai pemikiran makin kritis dan berkembang, merasa harus berani pindah ke komoditas non-padi sawah (kebun, hortikultura).

“Kalau saya menanam padi sawah, maka nasib saya tidak akan berubah seperti pada nenek moyang saya turun temurun. Hanya bertahan hidup sekeluarga sebagai petani, meski kerja keras. jadi, saya harus berani berubah”, kata petani yang pemikirannya mulai berkembang.

“Oleh karena itu, saya beralih dari budidaya tanaman padi sawah ke kebun kopi, karena harga kopi lebih tinggi. saya bisa beli beras lebih banyak dari hasil penjualan kopi”, kilahnya.

Dinamis itu Hidup, Kemajuan dan Perubahan. Jadi, kalau mau maju harus berani melakukan perubahan!

26 AugSustainable Upland

Ubi Lahan Kering

PENGEMBANGAN UPLAND DI INDONESIA

Syekhfani

Letak geografis Indonesia berada di zona tropika basah dan alur rangkaian gunung berapi, memberikan potensi kesuburan lahan alami berupa batuan induk vulkanik dan bahan induk organik yang berlimpah; namun cepat mengalami degradasi.

Potensi dan kendala ekstrim ini memerlukan pengelolaan kesuburan yang rasional sesuai kaedah-kaedah konservasi agar dapat berfungsi sebagai sumberdaya lahan tanaman pangan berdaya dukung tinggi.

Di pulau Jawa, dominasi bahan induk vulkan dari banyak gunung berapi aktif, menjadi sentra produksi pangan utama, dengan tingkat kesuburan tinggi; didukung pengembangan intensifikasi dalam kurun cukup lama.

Di luar pulau Jawa, budidaya pertanian intensif seperti Bali, Lombok, dan beberapa lokasi di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua, tampak berkembang serupa meski tidak seintensif di Jawa.

Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras, disuplai oleh lahan sawah (lowland) yang yang seharusnya dapat bersifat sistem hara tertutup (close nutrient recycling); dengan catatan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

Untuk mendukung ketahanan pangan, maka perlu adanya bahan pangan sekunder (ubian, buahan), yang berbasis pada lahan kering (upland); atau lahan sawah tumpang-gilir (relay planting) dengan padi sawah.
Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/04/sumber-pangan-alternatif/
http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/03/soil-ubi-lahan-kering/

Intensifikasi pertanian, terutama di pulau Jawa dan ekstensifikasi dan/atau menuju intensifikasi di luar pulau Jawa, menunjukkan tingkat perkembangan lahan yang berbeda secara kontras; terutama dari aspek potensi lahan dan status kesuburan tanah.

Intensifikasi di Jawa dilakukan secara luas dan menyeluruh di lahan budidaya tanaman padi sawah, menggunakan paket teknologi (termasuk penggunaan pupuk NPK) secara terus menerus sejak awal tahun 1970-an; dalam program Bimas, Inmas, Insus, Supra Insus, dan seterusnya, hingga tahun 1990-an.

Setelah pencapaian swasembada beras tahun 1984, terasa peningkatan produksi gabah semakin berat, produktivitas “melevel” (levelling off) dan bahkan cenderung menurun (decline).

Disinyalir telah terjadi ketidak-imbangan status unsur hara dalam tanah, di mana kandungan unsur hara makro (P dan/atau K) tinggi, sedang unsur hara semi makro (S) serta unsur hara mikro (Zn) cenderung rendah; muncul gejala defisiensi unsur di beberapa lokasi sentra produksi padi. Hal yang sangat spektakuler adalah kandungan bahan organik ternyata sudah “sangat rendah” (di bawah 1%).

Sejalan dengan rendahnya kandungan bahan organik, aplikasi pupuk N selalu menunjukkan respon; bahkan tanpa pemberian pupuk nitrogen produksi tidak dapat diharapkan.

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shipting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia. Kesimpulan dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

2. Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, sedikit mengalami perkembangan hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

3. Pada lahan luar Jawa P, K dan pH semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa, di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

4. Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

Opsi terakhir di atas tergolong pada sistem budidaya lahan kering (upland); yang merupakan sistem siklus hara terbuka (open nutrient recycling) dan bermasalah dalam hal erosi dan pencucian.

Alternatif antisipasi adlah melalui penerapan sistem budidaya dengan masukan teknologi bersifat berkelanjutan, antara lain yaitu (Garrity, 1983):

1. Sistem tanaman pagar kontur,

2. Ketersediaa Fosfor sebagai penghambat kritis,

3. Pengurangan pengolahan tanah,

4. Pengembangan sistem bera, dan

5. Diversifikasi budidaya pada lahan sempit.

Lihat: → Lindert, Peter H., 2000. Shipting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia. The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

Lihat: → Garrity, Dennis P. 1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66; in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme’ International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Spec. Publ. No. 56.

21 AugDrought Impact

Kekeringan

UPAYA MENGATASI

Menyimpan Air – Amandemen Struktur Tanah – Manajemen Sistem Perakaran

Syekhfani

Masalah kekeringan menjadi faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman lahan kering (upland); hal ini sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya tanaman di zona kering dan semi kering (arid, semi arid zone): seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan beberapa lokasi di Indonesia.

Oleh karena faktor irigasi menjadi sulit sehubungan dengan masalah teknis dan biaya, maka untuk mengantisipasi masalah kekeringan di Indonesia perlu dicarikan alternatif pemecahan.

Ada tiga faktor utama yang dapat menjadi pertimbangan dalam memecahkan masalah kekeringan, yaitu: simpanan air solum tanah, penetrasi akar,dan jenis serta sistem perakaran.

1. Menyimpan Air: daya simpan air (water holding capacity) dapat ditingkatkan melalui pengaturan porsi fraksi liat, debu, pasir (tekstur) dan pemberian bahan organik di zona perakaran,

2. Daya penetrasi akar: daya penetrasi akar diupayakan dengan cara peningkatan kemampuan akar menembus solum tanah, dan

3. Sistem perakaran: diversifikasi zona kedalaman perakaran diupayakan dengan cara peningkatan kemampuan akar menembus solum tanah dan memilih jenis tanaman dalam sistem pertanaman ganda (multiple cropping system).

Alternatif solusi

Lihat: → http://www.bewaterwise.com/drought.html

09 AugZona Riparian

Zona Riparian

MANFAAT ZONA RIPARIAN

Syekhfani

Zona riparian (http://en.wikipedia.org/wiki/Riparian_zone), yaitu zona lahan yang berada di sepanjang aliran sungai (tepi sungai dan tebing sungai), di mana sistem perakaran tumbuhan semak belukar berinteraksi dengan tinggi permukaan air (water table) dan memungkinkan pertumbuhan biomas selalu kecukupan air sepanjang tahun.

Spesies tanaman yang tumbuh di daerah riparian tergolong tanaman “hidrofilik” (http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-flora-daerah-aliran-sungai-das/), menyesuaikan diri (adapted) dengan kondisi basah, tergenang dan banjir; pertumbuhan kembali (regrowth) sistem akar dalam deposit sedimen tanah tererosi terjadi berlangsung dengan baik.

Secara ekologis, zona riparian penting dalam menentukan kesehatan lingkungan.

Selain itu, zona riparian mendukung stabilitas tebing sepanjang aliran sungai, bufer/penyangga air dan pengendali banjir.

Terakhir, zona riparian bermanfaat dari segi estetika, tempat rekreasi serta habitat satwa liar.

Oleh sebab itu, manajemen zona Riparian sangat penting dilakukan dengan baik mengikuti kaedah-kaedah konservasi lahan dan air.

Jagalah Keindahan dan Kelestarian serta Manfaat Zona Riparian!

Lihat: → Riparian Farm Management

16 JunSEJARAH PERTANIAN TEMPO DOELOE

Tempo Dulu

PERTANIAN SEBELUM MASEHI

Diposkan: Syekhfani

Kapan mulai ada pertanian?

Disepakati bahwa manusia pertama kali melakukan budidaya pertanian berdiam di lembah Mesopotamia (antara sungai Tigris dan Euphrate, Irak sekarang).

Era Sebelum Masehi (BC)

2500 BC:
Diketahui bahwa, ketika manusia memupuk tanah, terjadi peningkatan hasil 86 hingga 300 kali.

500 BC:
Herudotus (sejarawan Greek), melaporkan bahwa produksi pertanian tinggi di Mesopotamia karena ada irigasi, dan tanah subur akibat banjir air sungai.

300 BC:
Theophrastus melaporkan adanya pengkayaan oleh endapan debu sungai Tigris yang kaya hara.

Waktu itu, manusia telah mengerti bahwa tanah akan merosot hasilnya bila ditanami secara terus menerus.

Penambahan pupuk kadang dan pupuk hijau dari sayuran diketahui dapat mempertahankan kesuburan tanah.

900-700 BC:
Dari epos bangsa Greek diketahui bahwa Odyssius telah melakukan pemupukan kotoran hewan.

434-355 BC:
Xenophon menyatakan dari penyelidikannya bahwa: ”kebun akan mengalami kerusakan, karena orang tidak mengerti cara-cara memupuk lahan”.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa: ”tidak ada cara yang lebih baik dari pada pemupukan”.

Hal penting lain yang dikemukakan Xenophon, ialah:
(1). Pengaturan pemberian pupuk kandang dapat mempertahankan kesuburan tanah.
(2). Disaran agar penggunaan pupuk kandang dilakukan di awal musim semi.
(3). Rumput dapat digunakan sebagai pupuk hijau.

372-287 BC:
Theophrastus merekomendasaikan agar pemberian pupuk yang banyak perlu dilakukan pada tanah yang tipis solumnya, tapi pada tanah kaya pemberian pupuk perlu dihemat.

Ia juga menyarankan bahwa tanaman perlu disemaikan terlebih dulu sebelum ditanam dan juga agar dibuat bedengan.
Hal ini dianut hingga sekarang.

Perlu pula dicatat, bahwa Theophrastus menyarankan perlu pemberian air yang banyak pada tanaman yang membutuhkan unsur hara banyak.

Saat itu telah diketahui pula bahwa pupuk diklasifikasikan menurut kandungan atau kepekatannya.

Ia membuat urutan kekayaan (dalam kotoran) yang makin menurun yaitu: manusia, babi, kambing, domba, sapi dan kuda.

Lebih lanjut, Varro, seorang penulis perkembangan pertanian mengemukakan urutan yang sama, tetapi menempatkan urutan burung dan unggas lain lebih kaya dari pada kotoran manusia.

Columella menyarankan agar kulit clover ditambahkan dalam ransum ternak sebab ia merasa bahwa hal ini akan memperkaya kandungan hara dalam kotorannya.

Tidak hal di atas saja yang dapat dijadikan pupuk, tetapi para pakar juga menyelidiki pengaruh mayat terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman.

700 BC:
Hasil penyelidikan Archilochus: segera diketahui nilai Legum, khususnya sebagai pupuk hijau.
Theophrastus mencatat bahwa sejenis kacang (Vicia vaba) telah dibenamkan oleh para petani Thessaly dan Macedonia.

Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan jumlah biji bila ditanam pada tanah yang dipupuk dengan bahan tanaman ini.

400 BC:
Anjuran Xenophon bahwa pengolahan tanah di awal musim semi menjadikan tanah lebih gembur dan rumput-rumputan tumbuh cukup waktu pada musim semi.

Ini dapat berfungsi sebagai cadangan pupuk hijau, tetapi tidak menghasilkan biji sehingga tidak mengganggu/tumbuh bila dibenamkan.

Ia juga menerangkan bahwa: ”setiap jenis vegetasi, setiap jenis tanah, pada keadaan cukup air akan berubah menjadi pupuk”.

234-149 BC:
Cato menyatakan bahwa lahan penggembalaan yang miskin harus ditanami dengan tanaman jenis acinum.

Tidak diketahui kenapa harus tanaman ini, tetapi ia tidak menghasilkan biji sehingga implikasinya tidak dapat tumbuh bila dibenamkan.

Ia juga menyatakan bahwa legum terbaik dalam menyuburkan tanah adalah kacang-kacangan: lupine dan vetch. Lupine sangat terkenal sejak lama.

Columella mencatat beberapa legum meliputi: lupine, vetch, lentil, chickpea, clover, dan alfalfa, yang cukup memuaskan untuk memperbaiki lahan.

Banyak pakar lama yang sependapat bahwa lupine adalah pupuk hijau terbaik sebab ia tumbuh baik pada kisaran kondisi tanah yang lebar, dapat dijadikan bahan makanan manusia, dan yang terakhir ia mudah membentuk biji dan cepat tumbuh.

70-19 BC:
Virgil mempelopori penggunaan legum sebagai penyubur tanah. Aplikasi yang saat ini disebut pupuk mineral atau perbaikan tanah bukan tidak dikenal pada zaman dulu.

Theophrastus mengemukakn bahwa pencampuran tanah-tanah berbeda yang dimaksudkan sebagai ”penyembuhan kerusakan dan penambahan hati ke dalam tanah”.

Cara ini mungkin dalam keadaan tertentu menguntungkan.

Penambahan tanah subur ke tanah miskin dapat meningkatkan kesuburan tanah, dan praktek pencampuran satu jenis tanah dengan yang lain mungkin dapat memberi keuntungan terhadap inokulasi biji-biji legum pada suatu tanah pertanian.

Juga, pencampuran tanah-tanah bertekstur kasar dengan halus atau sebaliknya mungkin dapat memperbaiki hubungan udara dan air dalam tanah yang diperlakukan.

Nilai marl (sejenis tanah liat berkapur) juga telah dikenal. Ini merupakan awal dari praktek pengapuran di lahan pertanian.

(Tisdale, S.L. dan W.L. Nelson,1975. Soil Fertility and Fertilizer. McMillan Publ. Co., Inc. New York)

19 MarPupuk dan Pupuk Kandang

 PUPUK DAN PUPUK KANDANG

(Fertilizers and Manures)

 Simpson, Ken

Pupuk kandang, adalah sisa produk tumbuhan dan hewan di lahan yang didaur dengan cara memasukkan langsung ke dalam tanah. Sedang kotoran ternak, terlebih dulu diproses atau disimpan sebelum disebarkan ke tanah.

Sisa tanaman seperti tunggul, jerami, akar tanaman dan kernel umbi kentang, yang dikembalikan langsung ke tanah juga dinilai sebagai pupuk.

Beberapa tumbuhan tertentu ditanam dan dibajakkan langsung ke tanah dinilai sebagai “pupuk hijau“.  Pupuk kandang dan urin dianggap petani sebagai hasil samping sistem pertanian yang bermasalah dalam penyimpanan dan penimbunan;  sehingga  jarang dikonservasi dengan baik dan umumnya ditimbun di tempat kosong.

Penyebaran kotoran ternak dengan mesin merupakan teknik mutakhir dalam aplikasi pupuk kandang;  lebih homogen dan lebih mudah dari pada sistem potong-timbun-setempat.

Masih banyak ragam cara memasukan unsur pupuk kandang ke tanah  dari satu tempat ke tempat lain di lapangan dibandingkan pupuk artifisial.

Mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan konservasi secara teliti dan ditebarkan sesegera mungkin dan diaduk rata (incorporate) dengan tanah pada aplikasi tahun pertama dalam program jangka panjang.

 

Pupuk Kandang sebagai Sumber Hara

Konsentrasi hara dalam pupuk kandang sangat rendah dibanding pupuk pabrik.

Satu ton pupuk kandang tradisional terbuat dari jerami menyuplai N, P, dan K hanya setara konsentrasi 50 – 100 kg pupuk kompon modern.

Di pihak lain, pupuk kandang juga menyuplai sejumlah kalsium, magnesium, sulfur, dan unsur mikro;  namun semuanya diabaikan dibanding pupuk modern.

Bila kita lakukan konservasi dan pencampuran ke dalam tanah akan memberikan penghematan sejumlah kebutuhan pupuk.

Proporsi menarik dari kandungan unsur hara dalam pupuk kandang tampak dalam bentuk komplek organik yang harus dikomposkan sebelum melepas hara tersedia.

Jumlah unsur hara N, P2O5, dan K2O yang tersedia pada setiap jenis pupuk kandang bervariasi menurut jenis ternak dan jenis pakan.

Unsur hara tersisa setelah pertanaman pertama bisa menjadi tersedia bagi pertanaman berikutnya meskipun ia tidak mungkin diramal secara akurat di mana dan berapa yang akan tersedia.

Pupuk kandang, secara alami tergolong sumber bahan organik; dirombak dan ditransformasi oleh mikroorganisme tanah.  Karbon dikonversi menjadi karbon dioksida dan sisa karbon dalam waktu singkat akan menjadi senyawa organik tanah.

Sebagian kecil  bahan organik dikonversi ke humus, berwarna hitam atau coklat tua, koloidal, berupa sisa bahan organik tanah yang sangat komplek dan sangat menentukan sifat potensi kesuburan tanah;  karena ia merupakan komponen tanah yang berperan meningkatkan kemampuan memegang air bagi tanaman, sekaligus meningkatkan KTK, sehingga dapat mengurangi pencucian unsur hara.

 

 Fertilizers and Manures

Lihat: Simpson, Ken.  1986. Fertilizers and Manures. Publ. in United States of America by Longman Inc. New York. 254 p.

 

13 MarP dan Rendemen Tebu

Rendemen Tebu

 

FOSFOR DAN RENDEMEN TEBU

Syekhfani

 

Peran P bagi Tanaman Tebu:

-Tanaman tebu tergolong Tipe C4 dalam metabolisme karbon (siklus Kalvin).

-Tipe C4 adalah siklus C yang lebih pendek daripada Tipe C3 (Siklus Kreb), sehingga lebih efisien dalam memanfaatkan sinar matahari dalam metabolisme karbon membentuk gula.

-Sinar matahari mengubah CO2 + H2O → CHO (karbohidrat) + Energi (E), dalam khlorofil tanaman tebu. Energi kinetik cahaya matahari diikat unsur P menjadi energi metabolik dalam bentuk molekul ADP/ATP dan/atau DPN(H)/TPN(H).

- Selanjutnya energi dari senyawa-senyawa tersebut digunakan dalam metabolisme pembentukan gula (sukrose) dari glukose dan fruktose.

- Untuk setiap molekul P dalam ATP terkandung 4.000 kalori ~ jadi setiap molekul ATP mengandung 12.000 kal (ATP  →  ADP + 4.000 kal).

-Bila terjadi defisiensi P maka berarti tanaman akan kekurangan energi metabolisme dan pertumbuhan tanaman serta produksi gula berkurang.

 

Rendemen dan Unsur P:

-Dalam sejarah budidaya tanaman tebu di Indonesia (Jawa), rendemen gula pernah mencapai 14%; tetapi akhir-akhir ini hanya berkisar sekitar 7%.

-Berbagai faktor seperti:  musim tanam tidak tepat, faktor kemasakan, enzim invertase membentuk gula reduksi, transportase saat panen);  disinyalir menjadi penyebab rendemen rendah tersebut.

-Di pihak lain, pembudidayaan lahan secara terus menerus (Sistem ratun) tanpa mengikuti kaedah-kaedah konservasi kesuburan tanah yang benar, unsur N tinggi tidak diimbangi dengan P, K, Mg dan Si;  menyebabkan terjadi degradasi kesuburan tanah.

-Pada kondisi terdegradasi, unsur P merupakan salah satu unsur hara utama yang menjadi pembatas pertumbuhan tanaman tebu dan produksi gula.

 

IPTEK  Budidaya Tanaman Tebu:

Untuk mengantisipasi masalah,  IPTEK  berikut dapat dijadikan alternatif solusi:

- Pupuk Berimbang:  makro-mikro, organik-anorganik, tanah-daun.

- Aplikasi ZPT:  auksin, GA.

- Penggunaan Silikat:  invertase inhibitor ~ mencegah pembentukan gula reduksi.

- Peningkatan Fosfor:  perbaikan pertumbuhan generatif, ripening, metabolisme sukrose.

- Unsur mikro Cu, Zn :  prekursor enzim, metabolisme sukrose.

 

Alexander, Alex Getchell.  1973. Sugarcane Physiology. A Comprehensive Study of the Saccharum Source-to-Sink System. Agric. Expt. Sta. uiversity of Puerto Rico. Elsevier Sci. Publ. Co. Amsterdam – London – New York. 418 p.

 

02 MarBiosaline Agriculture (Pertanian Biosalin)

Salinitas Tolorance

BIOSALINE AGRICULTURE

(Pertanian Biosalin)

Chedly Abdelly, Münir Öztürk, Muhammad Ashraf and Claude Grignon (Eds)

Biosaline Agriculture (Pertanian Biosalin). Krisis air adalah salah satu tantangan yang paling penting yang dihadapi dunia saat ini.

Zona kering yang mengalami kekurangan air tawar yang serius, meliputi seluruh Wilayah Arab.

Pada saat yang sama, semua negara Arab memiliki akses ke air laut yang melimpah,

serta garam air limbah, dan air tanah. Tanah hypersaline tersebar luas.

Berdasarkan ilmu pengetahuan, dan dengan teknologi, masalah tanah salin dapat dikonversi menjadi lahan agroekosistem buatan manusia yang berproduktivitas tinggi.

Salah satu keberhasilan yang dilaporkan adalah penggantian bermuda grass (Cynodon dactylon) yang tergantung air tawar dengan tanaman penutup tanah Sesuvium portulacastrum yang toleran terhadap salinitas tinggi.

Sebagian besar halophytes ini masih diairi dengan air tawar, salinitas rendah, dan sisanya berupa Sesuvium dan halophytes yang toleran terhadap salinitas tinggi.

Beradasr fakta ini, maka Kantor UNESCO di Doha, dalam perjanjian dengan Divisi Ekologis dan Ilmu Bumi, memutuskan untuk mendukung “Konferensi Internasional tentang Biosaline Pertanian dan Salinitas Tanaman toleran”, Tunisia, pada bulan November 2006, dan publikasi penting ini disajikan dalam buku berikut.

Menangkap

 

Biosaline Pertanian Dan Tinggi Salinitas Toleransi

Diedit Diposkan oleh Chedly Abdelly, Munir Öztürk, Muhammad Ashraf Dan Claude Grignon (2008). Birkhäuser Basel • • Boston Berlin

23 FebLetusan Gunung Kelud (Upaya Pengelolaan Cepat)

  

LETUSAN GUNUNG Kelud

(Upaya Pengelolaan CEPAT)

Syekhfani

Kembali gunung Kelud meletus, letusan terakhir PADA Tahun 1990. Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/05/soil-dampak-letusan-gunung-berapi/

KARENA ITU, diperlukan upaya mengurangi dampak kerusakan Lahan dan degradasi Tanah sedapat mungkin dalam waktu singkat agar tidak berdampak negatif Jangka Panjang.

Di Bawah ini, adalah alternatif pengelolaan Tanah yang disarankan:

1. Mencampurkan ( menggabungkan ) materi abu vulkanik Artikel Baru humus lapis Olah (20 – 30 cm).

2. Menggunakan amelioran Bahan organik ( pupuk Kandang , kompos , pupuk Hijau ) sebagai pengikat partikel lepas (Pasir, Debu, liat).

3. Pengelolaan Sumber air (Hujan, Irigasi).

4. Penanaman Tanaman kacang-kacangan ( Legum ) penutup Tanah ( Tanaman penutup ) CEPAT Tumbuh ( Mucuna , Pueraria , Glyricidia ).

5. Konservasi Tanah untuk Tanah berpasir ( Tanah berpasir ).

6. INI juga Akan membuka Tanaman Pangan: ubi-ubian ( singkong , kentang , ubi jalar ), kacang-kacangan ( kacang Tanah , Kedelai , kacang Hijau ) Dan sereal ( padi , jagung , tebu ).

. 7 Tanaman alternatif: sayur-Sayuran ( Kubis , wortel , kangkung ) Dan buah-Buahan ( nanas , melon , semangka ).

 

22 FebMAES: Management Agro Eko System

 

Maes: Manajemen Agro Eko Sistem

(Materi Kuliah)

 

 Syekhfani

 

Maes,    Manajemen Terpadu Ilmu Tanah, Agronomi, Dan Proteksi Tanaman, diampu Dosen, Asisten, Tutor.

Ilmu Tanah , 3 kuliah Dan tutorial, dilanjutkan Ekskursi Lapangan Terpadu . Ekskursi Lapangan Terpadu, berupa Tugas Laporan Perubahan diseminarkan di kelas.

 

Penyajian Materi:

Diupload sebelum hari – H kuliah.

Diunduh di SITUS: “Bahasa Dari Tanah, Makan Tanah, Kembali Ke Tanah”

( http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/02/maes-management-agro-eko-system/ )

Diskusi tentang materi KHUSUS dilakukan di kelas;

Komentar UMUM terhadap Postingan secara Terbuka.

 

Materi MAES:

MK-1:    FUNGSI TANAH (sfn)

 

09 FebBufer Si Pengendali (Si Penyangga)

 

BUFER SI PENGENDALI (SI PENYANGGA)

Menyimpan dan Melepas

Syekhfani

 

Bufer (penyangga) si pengendali, ibarat saku baju tempat menyimpan benda-benda.

Bila kita memperoleh benda, masukkan ke dalam saku baju agar tidak hilang.

Saat benda  kita perlukan, saku dirogoh, ambil benda tersebut.

Bila tidak diperlukan, simpan lagi,  dan seterusnya.

Jadi, secara fungsional, saku baju adalah bufer (penyangga) tempat simpan-pakai benda.

Makin besar ukuran saku, maka makin banyak benda yang bisa disimpan di dalamnya;  berarti makin banyak pula stok benda tersebut untuk digunakan sewaktu-waktu.

 

Versi lain,

Saat dalam ruangan sempit penuh orang, napas kita sesak kekurangan udara segar. Sebaliknya, terlalu banyak udara (angin) kita bisa sakit (masuk angin). Diperlukan alat yang mampu mengatur sistem pergantian udara agar kita dapat bernapas dengan lega. > bufer udara

Bila tersedia reservoar (tandon air), yang secara otomatis dapat mengatur inlet dan outlet, maka  kebutuhan tanaman terhadap air menjadi terjamin. > bufer air

Stok dalam lemari atau gudang tempat penyimpanan makanan,  mengatur ketersediaan makanan dalam jangka tertentu. > bufer hara

Atap yang bisa dibuka dan ditutup agar cahaya matahari bisa memenuhi kebutuhan tanaman terhadap durasi dan intensitas cahaya sesuai dengan jenis tanaman. > bufer cahaya

Saat musim dingin kita butuh selimut tebal;  kalau tubuh terasa dingin selimut dipakai, saat gerah, selimut menyerap panas badan, suhu turun dan kita merasa nyaman. > bufer suhu

 

Bufer Tanah,

Fungsi tanah sebagai medium tumbuh tanaman adalah mengatur tata udara, air dan hara.

Manajemen penggunaan air (water use management), menjamin kebutuhan air setiap fase pertumbuhan.

Air mengisi ruang pori kosong, yang sebelumnya berisi udara. Jadi, manajemen penggunaan air berarti pula manajemen pengaturan udara.

Unsur hara tersedia bagi tanaman dalam bentuk ion (kation dan anion), melalui ikatan bufer yang dikenal sebagai “Kapasitas Tukar Ion (KTK, KTA)“. Bufer unsur hara adalah senyawa yang mempunyai kisi-kisi bermuatan positif dan negatif. Bufer hara utama dalam medium tanah ada liat dan bahan organik (muatan listrik pada liat dan bahan organik). Lihat: Modul Kestan (1.2. Tanah Sebagai Medium Tumbuh – Materi 2).

Makin banyak jumlah benda tersebut makin besar potensi bufernya bagi tanah.

 

Mekanisme?

Reaksi bolak balik

 

Bagaimana Mengukur Kemampuan Bufer?

Contoh:  bufer pH,

Dikondisikan sesuai dengan medium yang dibufer.  Pada tanah netral (pH 6 – 7), larutan bufer pH ditera (adjusted) pH 7.0. Pada tanah masam ditera pH 4.0.

Atau, larutan pengekstrak ditambah senyawa bersifat bufer, misalnya untuk pengekstrak unsur-unsur K, Ca, dan Mg digunakan pelarut BaCl2 + TEA (Tri Ethanol Amine).

Dalam menentukan kebutuhan kapur (lime requirement) untuk menetralkan efek Aluminium, metode Bufer-SMP (Shoemaker, McClean dan Pratt) menunjukkan keampuhannya dibandingkan dengan metode non-bufer.

 

06 JanEVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

HortTech

 

EVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

MENGGUNAKAN “KIT UJI CEPAT  TANAH (RAPID SOIL TEST KIT)”

  

Syekhfani

  

Hampir semua petani dan pekebun yang mengerti tentang tanah subur, mendambakan cara cepat mengetahui apakah tanah atau kebun mereka subur atau tidak.

Bila ada pertanyaan apakah tanah saya subur? Atau, apakah tanah saya sudah perlu dipupuk?

Secara berkelakar jawabnya:  tanyakan dong pada tanah dan tanaman!

Dijawab juga dengan kelakar:  sudah ditanyakan, tapi tidak ada jawaban!

Cari bantuan, “call a friend”!

Who is friend?

Laboratorium!

But, it is so expensive and too long time.

Ooo, minta cepat dan murah?!

Iya…

Jadi mereka butuh “Rapid Soil Test Kit”.

Apa ada??

Ada, sudah dikembangkan!

Contoh:

 

Lihat:  →

1. Gardening Articles: Care :: Soil, Water, & Fertilizer

Evaluating Home Soil Test Kits

(Artikel Berkebun: Perawatan :: Tanah, Air, & Pupuk

Evaluasi dengan Kit Uji Tanah Rumah Tangga)

Oleh:  Charlie Nardozzi

http://www.garden.org/subchannels/care/soil?q=show&id=2894

Pengujian tanah adalah penting untuk menentukan kesuburan dan kesehatan tanah. Apakah itu untuk mengetahui pH, nitrogen, fosfor, kalium, dan unsur hara lainnya untuk rumput, taman bunga , atau kebun sayur anda. Salah satu cara tercepat dan termudah untuk menguji tanah Anda adalah dengan menggunakan kit uji tanah yang tersedia secara komersial .

Para peneliti di University of CaliforniaDavis, menguji lima kit uji tanah tersedia di pasaran untuk mengetahui akurasinya dibandingkan dengan uji laboratorium profesional.

Para peneliti menemukan bahwa Lamotte Soil Tes Kit dan Rapitest Kit yang terbaik, dengan akurasi minimal 90 persen dalam kategori ini. Beberapa kit lebih akurat untuk unsur hara tertentu.

Sebagai contoh, unsur nitrogen yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soil Test, dan pH oleh Lamotte Soil Test Kit. Unsur kalium akurasinya sama untuk semua kit kecuali Soil Kit.

Untuk informasi lebih lanjut tentang penelitian kit uji tanah ini, lihat: Hort Technology.

 

Lihat:  →

2. Accuracy Varies for Commercially Available Soil Test Kits Analyzing Nitrate–Nitrogen, Phosphorus, Potassium, and pH (Akurasi Berbagai Analisis Kit Uji Tanah Komersial untuk N-Nitrat, P, K, dan pH)

Oleh:

  1. Ben A. Faber,
  2. A. James Downer,
  3. Dirk Holstege and
  4. Maren J. Mochizuki

http://horttech.ashspublications.org/content/17/3/358.abstract

Ringkasan

Uji tanah merupakan komponen penting dalam program manajemen perharaan tanaman bagi petani, tukang kebun rumah tangga, dan tenaga penyuluh pertanian. Hasil uji 5 alat tes kolorimeter komersial dibandingkan dengan analisis laboratorium standar untuk nilai pH, dan kandungan nitrat-nitrogen (NO3), fosfor (P2O5), dan kalium (K2O) pada tanah Lempung berliat Salin dengan tiga periode pertanaman. Tingkat akurasi (frekuensi terhadap hasil analisis laboratorium) adalah menurut urutan sebagai berikut: La Motte Soil KitRapitestRapid SoiltestNitty-Gritty, dan Soil Kit berturut-turut 94%, 92%, 64%, 36%, dan 33%. NO3 adalah yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soiltest, P2O5 dengan Rapitest, dan pH oleh La Motte Soil Kit. K2O menunjukkan akurasi yang sama untuk semua Soil Kit. Komposisi ekstraktan mungkin merupakan faktor penentu yang mempengaruhi keakuratan tes kit. Sebagai contoh, semua ekstraktan kit untuk K2O terdiri dari bahan kimia yang sama dan sesuai dengan analisis laboratorium yaitu 82%. Sebaliknya, kit menggunakan ekstraktan berbasis analisis asam NO3 lebih sering cocok dengan hasil analisis laboratorium dari kit menggunakan ekstraktan berbasis zinc (P ≤ 0,0001). La Motte Soil Kit memiliki jangkauan terbesar terhadap pH, sedangkan Rapitest relatif mudah digunakan dan ditafsirkan, merupakan pilihan praktis untuk tukang kebun rumah atau landscapers, keduanya lebih dari 90% akurat untuk jenis tanah ini. Meskipun batasan penting dari alat tes komersial adalah nilai perkiraan atau kategoris kandungan gizi (yaitu: rendah, sedang, tinggi), alat tes yang akurat dapat menunjukkan hasil yang cepat dan ekonomis untuk pengelolaan hara.

 

30 NovSOIL-Land Capability and Land Suitability

   

LAND CAPABILITY AND LAND SUITABILITY

(KEMAMPUAN LAHAN DAN KESESUAIAN LAHAN)

  

Lahan:  Tanah – Tanaman

 

Syekhfani

 

1

 

Seorang Bapak baru saja membeli sebidang tanah,  dia ingin memilih profesi menjadi seorang petani karena merasa itu yang paling cocok baginya menjalani sisa hidup (dia baru saja memasuki masa pensiun dari perusahaan/instansi yang dia geluti selama ini).

Setelah tanah untuk budidaya pertanian itu diperoleh, dia bingung menentukan jenis tanaman apa yang akan diusahakan. Lalu dia menemui penulis.

…..

+Bapak: Selamat siang Prof, boleh saya mengganggu?

-Penulis: Selamat siang Pak, mari silahkan.

+Bapak:  Prof, saya punya sebidang tanah yang ingin saya tanami. Tapi saya bingung, ditanami apa?

-Penulis:  Bapak ingin memperoleh apa?

+Bapak: Saya ingin tanaman tersebut menyenangkan, menghasilkan, menguntungkan dan bermanfaat bagi kehidupan saya yang sudah pensiun ini.

-Penulis: Ooo… tanaman tersebut seharusnya indah, berproduksi, laku dijual dan menguntungkan.

+Bapak: Iya, iya… itu yang saya maksud, Prof.

-Penulis: Ehm, mungkin… jenis komoditi “hortikultura” dapat memenuhi harapan Bapak.

+Bapak: Lalu, Prof, bagaimana cara menentukan jenis komoditi hortikultura yang sesuai dan cocok tersebut?

-Penulis:  Secara teoritis, untuk penerapan teknologi budidya pertanian, dikenal dua hal yang menjadi pertimbangan dasar: Land Capability dan Land Suitability (Kemampuan Lahan dan Kesesuaian atau Kecocokan Lahan sebagai medium tempat tumbuh akar Tanaman).  Tanaman, adalah makhluk hidup yang seperti manusia dan hewan, kalau bisa dia akan memilih tempat hidup yang sesuai dan cocok baginya.

+Bapak: Apa yang menjadi acuan, Prof?

=Penulis:  Secara filosofis ada kata kuncinya.

+Bapak: Apa kata kuncinya?

-Penulis: Pelajari “Sifat dan Ciritanaman dan “Sifat dan Ciritanah.

+Bapak: Saya kurang mengerti.

-Penulis: Kalau tanaman bisa bicara, maka ia akan menyatakan syarat tanah yang sesuai atau cocok sebagai medium pertumbuhannya.  Demikian pula, kalau tanah bisa menjawab pertanyaan tanaman, maka dia akan menjelaskan apa kekurangan (ke-tidak sesuai-an atau ke-tidak cocok-an) atau kelebihan (ke-sesuai-an atau ke-cocok-an) nya. Artinya, tanah menunjukkan ke-mampu-an atau ke-tidak-mampu-annya untuk dapat memenuhi syarat pertumbuhan tanaman tersebut;  atau sebaliknya, tanaman tersebut harus bisa beradaptasi dengan kondisi tanah yang akan ditanami.

+Bapak: Kalau sulit, bagaimana solusinya?

-Penulis:  (1) Cari tanaman yang sesuai dan cocok dengan kondisi tanah, atau (2) perbaiki tanah tersebut agar menjadi sesuai dan cocok untuk pertumbuhan tanaman.

+Bapak: Apakah keduanya bisa dilakukan?

-Penulis:  Secara teori bisa, dan IPTEK-nya insya Allah sudah ada.

+Bapak:  Alhamdulillah, kalau begitu.  Terima kasih banyak atas penjelasannya, Prof. Saya akan mempertimbangkan jenis komoditi yang sesuai dan cocok atas saran Profesor.  Bolehkan saya konsultasi lagi nanti?

-Penulis: Sama-sama, dengan senang hati saya akan mencoba membantu, semoga Bapak sukses!

+Bapak: Amiiin, semoga!

 

0

Lihat (contoh):   land_capability_study

  

11 NovSOIL-Analisis Sifat Kesuburan Tanah

 

Analisis Kimia Tanah

 

ANALISIS SIFAT KESUBURAN TANAH

 

Sifat kesuburan : Kimia, Fisika, Biologi, Lingkungan Tanah

 

Syekhfani

 

Analisis sifat kesuburan tanah, adalah cara untuk mengetahui atau menilai proses perubahan yang terjadi dalam tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman.

Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman, berfungsi sebagai penyedia (supplier) udara (air), air (water) dan nutrisi (nutrition), serta energi metabolisme (metabolic energy).

Bagaimana mekanismenya?

Komponen utama pembentuk tanah adalah: bahan mineral (batuan) dan bahan organik (sisa organisme), melalui perombakan (weathering, decomposition), menjadi butir kasar dan halus (pasir, debu, liat) dan partikel organik.

Komponen-komponen tersebut berikatan satu sama lain membentuk “agregat” dalam proses agregasi. Selanjutnya suksesi agregat membentuk struktur dimensional.

Struktur dimensional berfungsi sebagai matriks yang menghasilkan padatan dan ruang pori tanah. Ruang pori makro diisi udara, dan ruang pori mikro diisi air.

Perombakan (decomposition) bahan organik: (CHO)n <—> nCO2 + nH2O + e (energi).

Apa fungsinya?

Udara, air, nutrisi dan energi metabolik adalah faktor kebutuhan hidup bagi organisme penghuni tanah (akar, fauna, flora, makro, dan mikro), untuk bernafasminummakan dan energi.

Bagaimana ukuran kebutuhannya?

Total kebutuhan atau daya dukung (carrying capacity) disebut sebagai kemampuan potensial tanah dalam menyediakan faktor kehidupan. Sedang intensitas penyediaan per waktu disebut kemampuan aktual. Konsep “kapasitas” dan “intensitas” penyediaan kebutuhan ini berkaitan dengan daya dukung jangka panjang (potensial) dan jangka pendek (aktual).

 

Parameter Sifat Kesuburan Tanah (berdasar uraian di atas), meliputi:

  • pH
  • Bahan organik
  • N-total (%)
  • C-organik (Bahan Organik – BO, %)
  • Nisbah (rasio)  C : N
  • P-total, P-tersedia (ppm)
  • K-Total, K-tersedia (dapat  dipertukarkan , dd)
  • Basa-basa Na-, K-, Ca-, Mg-dapat  dipertukarkan (exchangeable bases), Cmol.Kg-1)
  • Kapasitas Tukar Kation (KTK, Cmol.Kg-1)
  • Kejenuhan Basa (KB, %)
  • Tekstur (pasir, debu, liat, kelas)

 

Relevansi:

Tata udara, Tata air: → Tekstur,  BO

Tata hara:KTK, KB, Status unsur

Tata kehidupan:Tata udara, Tata air, dan Tata hara

 

Analisis sifat kesuburan tanah merupakan dasar Interprtesi – Rekomendasi!

 

09 NovSOIL-Dinamika Kehidupan Tanah

 

DINAMIKA KEHIDUPAN TANAH

(DYNAMIC OF LIVING SOIL)

 

Tanah Sehat ~ Tanaman Sehat ~ Produksi tinggi ~ Kualitas baik ~ Berkelanjutan

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Tanah itu dinamis, berubah setiap waktu, karena ada makhluk hidup  dan kehidupan di dalamnya.

Secara filosofi, tanah itu adalah benda hidup, yang menentukan hidup dan kehidupan di bumi (manusiahewantumbuhan).

Sebagai benda hidup, tanah bisa sehatletihsakit, dan bahkan kritis.  ditunjukkan  oleh perkembangan pertumbuhanproduktivitas, dan kontinyuitas hidup dan kehidupan makhluk-makhluk di atasnya.

Tanah sehat identik dengan tanaman sehatproduksi tinggi, kualitas baik dan berkelanjutan.

Bila tanah letih, maka ia memerlukan istirahatsakit perlu obat, dan kritis perlu pemulihan secara khusus.

Implikasi praktikalnya, secara visual tampak pada ciri tanah dan pertumbuhan dan produksi tanaman. Umumnya, kita segera tahu kapan tanah perlu disuburkan ulang (dipupuk). Bila tanah sebagai medium tanaman pot, kita segera tahu kapan perlu dilakukan re-potting. Perasaan (feeling) kita yang peka terhadap perubahan yang terjadi di lahan budidaya,  juga dapat dijadikan sebagai indikator.

Ketahanan tanah, atau kemampuan tanah dalam menghadapi stres lingkungan, perlu diantisipasi dengan menjaga keberadaan dan keseimbangan komponen-komponen tanah dalam fungsi  pedologi (tanah) atau  edaphologi (lahan).

Contoh kondisi tanah sehat, sakit, kritis:

 

1. Sehat.jpg

Tanah sehat (health soil)

2. Sakit.jpg

Tanah sakit (sick soil)

3. Kritis.jpg

Tanah kritis (critic soil)

  

Tanah juga butuh kasih sayang!