23 AugNatural Resources

PEMANFAATAN SUMBER ALAM BERLIMPAH

Recovery, Reduce, Reuse, Recycle

Syekhfani

Tuhan memberikan nikmat berlimpah untuk kehidupan di bumi ini. Hanya saja, kadang-kadang kita lupa menggali dan memanfaatkannya.

Namun, sumber alami tersebut perlu eksplorasi, eksploitasi dan prosessing agar menjadi tersedia dan dapat digunakan oleh tanaman.

Bila dibiarkan secara alami, maka diperlukan waktu pemecahan, perombakan atau pelapukan bahan induk (organik, batuan).

Salah satu faktor pendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah unsur hara (di samping udara dan air), yang bersumber dari atmosfer, hidosfer dan lithosfer.

Sumber unsur hara alami berlimpah, antara lain yaitu:

Humus, → http://id.wikipedia.org/wiki/Humus, berupa hasil perombakan sisa biomas tumbuhan (dekomposisi) sisa vegetasi hutan dan semak belukar di seputar lahan pertanian.

1. Humus Hutan

Endapan Lumpur, berupa hasil proses erosi DAS hulu dan tengah yang mengendap di DAS hilir.

2. Lumpur Sungai

Sedimen lumpur sungai

Batuan lapuk, berupa hasil proses hancuran fisik batuan (panas-dingin, basah-kering) dalam iklim ekstrim (arid, humid) dan materi kasar erupsi gunung berapi:

3. Pasir Sungai

Sedimen pasir sungai

Abu Vulkan, abu pasca letusan gunung berapi:

4. Abu Gunung Berapi

Abu vulkan

Jangan sampai merusak lingkungan “Sumber Alami”!

10 AprEnergi Kehidupan

gambar (2)

Daur ULANG Kehidupan

(Daur HIDUP)

Syekhfani

Kehidupan di dunia ini, tidak lepas dari hukum alam.

Yang tua lenyap diganti oleh yang muda. Yang muda jadi tua untuk memberi tempat bagi yang muda;  yang muda akhirnya pun lenyap untuk mengulang sejarah baru.

Hal ini disebut sebagai daur hidup (recycling of life).

Proses berlangsung dari tingkat paling rendah (ion) hingga paling tinggi (organisme):  Ion (+, -) berikatan menjadi unsur/senyawaselorgan → sistem organ, dan terakhir → organisme.

Suksesi berjalan dengan bantuan energi alami (sinar matahari).  Lihat:  Soil-komponen-kehidupan-components-of-life

Matahari, sumber Energi Kehidupan

Matahari, memancarkan energi cahaya (kinetik), menyebabkan kekuatan gas CO2 dan cairan H2O bersenyawa membentuk senyawa Karbohidrat (CHO) yang menyimpan energi metabolik (em).

Energi metabolik (em) merupakan sumber kekuatan gerak ion (+,-) sebagai energi listrik menyimpan panas (kalori).

Unsur/Senyawa yang mengandung energi metabolik tinggi (high energy metabolic) adalah unsur/senyawa ikatan ~ P [Pi, ATP, ADP, DPN(H), TPN(H)].

Setiap molekul P menyimpan energi metabolik ~ 4000 kalori.

Satu molekul ATP menyimpan 12000 kalori, ADP 8000 kalori, dan AMP 4000 kalori.

Saat proses kehidupan berjalan, maka mekanisme suksesi terjadi mengikuti hukum keseimbangan: analisis vs katalisis, pembentukan vs penghancuran, fotosintesis vs respirasi, dan sebagainya.

Proses berlangsung terus menerus dan berhenti saat makhluk hidup itu mati (recycling of life).

14 DecSOIL-Chemical Weathering Processes

 

Rock an Water

 

CHEMICAL WEATHERING PROCESSES

(PROSES PELAPUKAN KIMIA)

 

Pelapukan Batuan dan Mineral: Proses ~ Definisi ~ Implikasi

 

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Chemical Weathering Processes (Proses Pelapukan Kimia),  yang terjadi pada batuan dan mineral, merupakan proses pembentukan komponen mineral tanah melalui pelapukan dan penghancuran.

1. Peningkatan curah hujan memacu percepatan pelapukan kimia batuan dan mineral, seperti tampak pada arca dan bangunan peninggalan sejarah. Fakta bahwa, air merupakan faktor esensial pelapukan kimia.

2. Peningkatan suhu juga mempercepat reaksi kimia yang menyebabkan batuan dan mineral hancur.

3. Kombinasi air dan suhu, kelembaban merupakan faktor pengondisi terjadinya percepatan pelapukan batuan dan mineral.

Implikasi lapangan, hal diatas menunjukkan mengapa di daerah tropis terjadi kerusakan lahan, tanah dan bangunan berlangsung dengan cepat.

Rock in Semi Arid Zone

 Pelapukan batuan di zona semi arid (Dompu, Nusa Tenggara Barat), terutama oleh faktor suhu dan kelembaban.

Proses-proses pelapukan meliputi:

Pelarutan dan Karbonasi (Carbonation and Solution): proses tampak bila air hujan (H20) bersenyawa dengan karbon dioksida (CO2) membentuk asam karbonat (H2CO3). Bila asam karbonat kembali kontak dengan batuan mengandung kapur, soda, dan potas (kalium),  maka mineral-mineral kalsium, magnesium, dan kalium secara kimia berubah menjadi karbonat yang larut dalam air.  Topografi Karst, berasal dari nama “Krs Plateau” di Yugoslavia, di mana pertama kali dipelajari, merupakan tipe pelapukan kimia dicirikan oleh sinkholes, caves, dan caverns.

Hidrolisis (Hydrolysis): proses pelapukan kimia ini terjadi bila air (H20), biasanya dalam bentuk air hujan, merusak komposisi dan ukuran kimia mineral dan menghasilkan mineral kurang stabil, sehingga lebih mudah terlapuk.

Hidrasi (Hydration): kombinasi air (H20) dengan senyawa dalam batuan, menyebabkan perubahan struktur kimia mineral, namun lebih menyerupai perubahan fisik pada permukaan butir dan kisi butir mineral. Contoh pada mineral Anhydrite (CaSO4). Anhydrite secara kimia berubah menjadi Gypsum (CaSO4.2H20) bila ditambahkan air. Gypsum digunakan dalam industri konstruksi, untuk membangun gedung dan rumah.

Oksidasi (Oxidation): proses ini terjadi bila oksigen bereaksi dengan senyawa unsur dalam batuan membentuk oksida. Bila objek adalah pelapukan kimia bahan lunak dan tampak “teroksidasi” – “oxidized”. Contoh yang jelas adalah terjadi “karatan” – “rusting”. Besi sebagai bahan logam dapat mengalami oksidasi. Peningkatan suhu dan prosentase hujan akan memacu proses oksidasi.

Pelapukan Spheroidal (Spheroidal Weathering): air meresap melalui celah batuan dan melarutkan semen pengikat partikel dan juga menggerus tepi dan sudut tajam batuan, menjadikan batuan bergerigi.  Proses pelapukan fisik, seperti pembekuan, dapat meretakkan batuan secara luas.

Lihat:

1. Soil Forming Factors-weathering

2. http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/?s=SOIL-rock

 

07 DecSOIL-Hujan di Perumahan Penduduk

 

0

 

HUJAN DI PERUMAHAN PENDUDUK

 

Hujan:  Udara Lembab ~ Jamur Tumbuh ~  Tanaman Peka Air

 

Gambar-gambar:  Syekhfani

 

Hujan di perumahan penduduk:  seperti halnya di lahan petani, hujan bisa berdampak positif dan negatif terhadap kehidupan sehari-hari di kawasan perumahan penduduk.

Bila hujan turun, aktivitas di luar rumah penduduk dikurangi, kecuali bila terpaksa harus dilakukan (anak-anak sekolah, masuk kantor, berjualan, bekerja di kebun, dan sebagainya).

Pekerjaan rumah tangga rutin yang  membutuhkan sinar matahari, juga terhalangi  (jemur pakaian, jemur perabot rumah-tangga, dan sebagainya).  Sehabis hujan, kondisi udara lembab, suhu dingin, udara mendung, berpengaruh terhadap kehidupan flora maupun fauna.

Di kawasan lingkungan hijauan perumahan penduduk:  Kebun, tanaman di taman, halaman, balkon, emper,  terpengaruh pertumbuhannya;  ada yang kekurangan air, namun ada pula yang kelebihan air.  Di pihak lain, selokan di sekeliling perumahan penduduk menjadi bersih karena kotoran terangkut oleh aliran air hujan. Namun, bila kita perhatikan dengan seksama, ada yang menarik seperti berikut:

 

1

Pada bekas pangkasan pohon nangka, tumbuh jamur kuping.

4

Demikian pula pada bekas pangkasan pohon Mengkudu di tepi lapangan.

5

6

Buah Delima terlalu banyak hujan, busuk menjelang matang.

7

9

8

Tanaman Lombok kecukupan air, tetapi tidak menghendaki terlalu banyak air.

8

11

12

Kembang Amarilis muncul di bulan-bulan penghujan, tetapi juga tidak menghendaki terlalu banyak air.

 

Hujan bagi penduduk perumahan:  tampaknya seperti  menyusahkan, tapi sebenarnya ada hal yang  unik!

  

06 DecSOIL-Atribut Tanah Masam

 Spark

ATRIBUT TANAH MASAM

(ACID SOILS ATTRIBUTE)

 

Sifat Mineralogi ~ Sifat Fisiko-Kimia

 

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Tanah masam punya atribut khusus, dari sifat  mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah. Dengan mengetahui sifat mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah, kita bisa menduga jenis tanah masam tertentu.

Secara lebih jelas, sifat-sifat yang dimaksud dapat disimak berikut ini:

 

Muatan Liat Permanen:

1. Bentuk muatan permanen tanah masam:

Dimulai dari Molisol, ion terakumulasi hingga mencapai konsentrasi ambang  + 10-3 mol (pH 5) hingga melepas Al.

Inkorporasi H+ masuk ke dalam struktur kristal menaikkan pH larutan tanah menjadi OH-Al terpolimer atau terkompleks.

Polimerisasi AlOH menetralkan muatan permanen liat. Juga, ukuran polimer masif mencegah penggantian oleh kation lain.

Bila terdapat suatu lempeng kontinyu Al-hidroksida, kemudian terjadi polimer maka akan terbentuk lempeng-lempeng yang komplit.

Muatan KTK-efektif bersih tanah menurun dengan pencucian, atau pencucian asam meningkat dengan perlakuan pengapuran (liming).

Muatan KTK bersih  tanah adalah konsekuensi muatan negatif konstan di permukaan kristal liat secara parsial menjadi netral oleh lempeng-lempeng  AlOH yang bervariasi dalam muatan positif seperti penambahan  jerapan ion OH dari reaksi kapur (lime), atau hilang melalui netralisasi dengan H+. Pada titik ini, selanjutnya kita bisa memperoleh Alfisol tipik.

Dengan lebih banyak pencucian dan peningkatan konsentrasi ion H, asiosiasi hidroksil dengan ion Al menetralkan  Al3+ sebagai bentuk dominan kemasaman dapat dipertukarkan.

Dengan meningkatnya pelapukan, secara praktikal tidak dijumpai adanya liat tipe 2:1 yang mempunyai muatan permukaan dalam untuk polimerisasi OH-Al;  seperti dijumpai pada Ultisol dan Oksisol.

 

2 dan 3. Tipe dan kristalitas liat:

Perpindahan gradual K dari ilit memberi kesempatan terjadi pengembangan smektit (atau vermikulit) dan pemunculan kontaminan antar lempeng yang memungkinkan terjadi polimerisasi. Pelapukan berikutnya dan berpindahnya silikat menyebabkan rusaknya liat tipe 2:1 dan dimulainya sintesis liat tipe 1:1(kaolinit).

Masih dalam hal pelapukan lanjut semua silikat meninggalkan beberapa residu  hidroksida Fe dan Al yang merupakan bentuk utama liat kaolinit.

Secara alami mineral liat kristalin hancur dan hidroksida amorf terakumulasi; jelas, bentuk karakteristik X-ray memberi jalan lurus menjadi senyawa kristalin.

 

4. Kapasitas Tukar Kation:

Kapasitas tukar kation (KTK) total tanah secara proporsi kasar menunjukkan  konsentrasi bahan organik (BO) dan liat, khususnya liat mengembang.

Begitu KTK  tanah muda meningkat, maka: (a) K terlapuk dari liat mikaseous memungkinkannya mengembang, dan (b) proliferasi tanaman memproduksi BO dalam tanah.

Bagaimanapun, akumulasi OH-Al dan  polimerisasi pada permukaan internal liat atau terkompleks oleh grup COOH dari BO, menyebabkan KTK efektif menjadi rendah. Dengan hancurnya atau tidak aktifnya tapak pertukaran bahan organik, maka KTK  efektif bisa menjadi nol.

Pada pihak lain, peningkatan gradual hingga jelas dalam hidroksida liat menambah peningkatan kapasitas tukar anion (KTA).

Sejak muatan negatif bergantung-pH pada BO maupun hidroksida liat adalah tinggi, dan muatan permanen efektif liat tanah tropika relatif rendah, maka proporsi muatan bergantung-pH  dari KTK total, membedakan tanah yang berkembang di tropika atau  temperat.

 

5. Kejenuhan Basa:

Kejenuhan basa (Ca).

Sejak proses pelapukan mencuci Ca dan kation basa dari tanah, tanah berkembang menjadi lebih masam, tercatat penjenuhan KTK dengan basa-basa menurun.

Hubungan terbalik antara Ca + Mg dapat dipertukarkan, atau basa total, dan Al tertukar banyak dilaporkan.

 

6. Tendensi fiksasi P:

Begitu pelapukan berkembang melepas Al dan Fe dari posisi relatif tidak terjangkau dalam kristal mineral ke posisi dapat dijangkau dalam larutan, pada tapak jerapan, atau muncul di permukaan; maka ion Al dan Fe bereaksi dengan P larut membentuk senyawa relatif tidak larut.

Bagaimanapun, sekali Al dan Fe lepas dalam jumlah banyak dan menutup seluruh permukaan terbuka partikel butir, kapur mungkin tidak mempunyai pengaruh baik pada ketersediaan P yang diikat.

 

7. Pelepasan Kalium:

Tendensi pelepasan kalium.

Bahan induk mengandung liat mikaseous secara umum mempunyai kemungkinan melepas K dalam jumlah banyak dari bentuk K-tidak dapat dipertukarkan selama proses pelapukan. Begitu tinggal sejumlah kecil liat mikaseous, tercatat sedikit tipe liat mengandung K untuk dilepas.

Bagaimanapun, di bawah kondisi tropika di mana konsentrasi ion H dan suhu meningkat, dan K melapuk dari mineral primer relatif lebih banyak, maka pengembalian K dari residu tanaman, membantu mengisi kembali suplai K tanah secara cepat.

 

8. Stabiltas Struktur:

Pelapukan relatif struktur horizon permukaan kurang lebih berdasar stabilitas granulasi agregat dengan Ca- dan BO.

Stablitas struktur ini dipacu oleh pembudidayaan intensif, erosi, pencucian, pemindahan residu, dan/atau pengapuran yang mengeluarkan Ca dan BO  reaktif dari dalam tanah.

Bila Al dan Fe larut dalam proses pelapukan banyak, maka agregat menjadi stabil oleh terbentuknya komplek-Fe dan Al oleh oksida atau hidroksida.

Tanah yang mengalami pelapukan intermediat secara  kontinyu, cenderung mengarah terbentuknya struktur tidak stabil, karena  kejenuhan Ca tinggi menggantikan posisi  kompleks Fe atau Al dalam bentuk stabil.

Dari  Text:  Sparks, Donald. L.  1995. Environmental Soil Chemistry.  Academic Press (revised:  January, 1998).

 

→ Lihat: Environmental_Soil_Chemistry_Donald_L_Sparks.

 

13 NovSOIL-Fiksasi N2 Biologis

 

FIKSASI N2 BIOLOGIS

(BIOLOGICAL N2 –FIXATION)

 

Prokaryotik – Nitrogenase – Simbiotik/nonsimbiotik

 

Syekhfani

 

Nitrogen, satu di antara tiga unsur hara esensial tanaman utama (NPK) yang sangat menentukan keberadaan makhluk hidup di bumi ini.  Tanpa unsur N (dan juga PK), maka tidak akan ada makhluk hidup, mengapa?

Nitrogen merupakan unsur penyusun khlorofil tumbuhan (khlorofil A dan B). Proses fotosintesis terjadi di jaringan khloroplast merupakan proses metabolisme pembentukan karbohidrat (CHO) dari molekul air (H2O) dan Oksigen (O2). Karbohidrat adalah kerangka dasar pembentuk senyawa-senyawa penyusun tubuh tumbuhan. Tanpa nitrogen, tidak akan terbentuk karbohidrat yang berarti tidak akan ada senyawa karbohidratjaringan, organ, sistem organ dan akhirnya tidak terbentuk ORGANISME.

 

Fiksasi N2 Biologis (Biological N2–fixation), dilakukan oleh beberapa mikroorganisme prokaryotik (procaryotic) dengan mekanisme reaksi sebagai berikut:

N2 + 8H+ + 2e + 16 ATP → 2NH3 + H2

Enzim bertanggung jawab mengkatalisis reaksi di atas disebut nitrogenase. Diketahui bahwa enzim nitrogenase sangat peka terhadap oksigen (O2) bebas. Batas oksigen tertentu meracun enzim dan menghentikan fiksasi N2.

Fiksasi N2 membutuhkan sejumlah besar suplai energi untuk memecah ikatan tiga kovalen N2. Secara global, fiksasi N2-biologis bisa menyumbang sekitar  140 juta ton nitrogen per tahun ke sistim lahan, dan secara kasar setara dengan jumlah kontribusi lautan.

(1) Simbiotik (mutualistik): tipe -tipe rhizobium dan aktinomiset.

(2) Hidup bebas (“Free-living“): misalnya, Azotobacter, Azospirillum, Beijerinckia, dan cyanobacteria (blue green algae).

Prokaryot mengandung enzim nitrogenase, dan mampu memfiksasi N2;  ditemukan umumnya di permukaan tanaman (daun dan pelepah, atau permukaan tubuh tanaman - phyllosphere) saat cuaca lembab atau dalam jaringan tanaman, dan beberapa dijumpai di permukaan akar, di mana suplai substrat organik tinggi dan oksigen bebas terikat.

 Pea root system

Sistem perakaran Pea

Soya bean root nodules

Nodul akar Kedelai

Alder root nodules

Nodul akar Alnus

 

Referensi: → http://ic.ucsc.edu/~wxcheng/envs161/Lecture11/ch12_N_S_2012_fnl.pdf

 

Lihat pula:  → SOIL-SIFAT-PERILAKU-NPK

 

09 NovSOIL-Dinamika Kehidupan Tanah

 

DINAMIKA KEHIDUPAN TANAH

(DYNAMIC OF LIVING SOIL)

 

Tanah Sehat ~ Tanaman Sehat ~ Produksi tinggi ~ Kualitas baik ~ Berkelanjutan

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Tanah itu dinamis, berubah setiap waktu, karena ada makhluk hidup  dan kehidupan di dalamnya.

Secara filosofi, tanah itu adalah benda hidup, yang menentukan hidup dan kehidupan di bumi (manusiahewantumbuhan).

Sebagai benda hidup, tanah bisa sehatletihsakit, dan bahkan kritis.  ditunjukkan  oleh perkembangan pertumbuhanproduktivitas, dan kontinyuitas hidup dan kehidupan makhluk-makhluk di atasnya.

Tanah sehat identik dengan tanaman sehatproduksi tinggi, kualitas baik dan berkelanjutan.

Bila tanah letih, maka ia memerlukan istirahatsakit perlu obat, dan kritis perlu pemulihan secara khusus.

Implikasi praktikalnya, secara visual tampak pada ciri tanah dan pertumbuhan dan produksi tanaman. Umumnya, kita segera tahu kapan tanah perlu disuburkan ulang (dipupuk). Bila tanah sebagai medium tanaman pot, kita segera tahu kapan perlu dilakukan re-potting. Perasaan (feeling) kita yang peka terhadap perubahan yang terjadi di lahan budidaya,  juga dapat dijadikan sebagai indikator.

Ketahanan tanah, atau kemampuan tanah dalam menghadapi stres lingkungan, perlu diantisipasi dengan menjaga keberadaan dan keseimbangan komponen-komponen tanah dalam fungsi  pedologi (tanah) atau  edaphologi (lahan).

Contoh kondisi tanah sehat, sakit, kritis:

 

1. Sehat.jpg

Tanah sehat (health soil)

2. Sakit.jpg

Tanah sakit (sick soil)

3. Kritis.jpg

Tanah kritis (critic soil)

  

Tanah juga butuh kasih sayang!

 

09 NovSOIL-Memakan dan Dimakan

 images

 

MEMAKAN DAN DIMAKAN

(EATING AND EATEN)

Syekhfani

 

Memakan dan Dimakan

Mengapa hewan dan manusia mati perlu DIKUBUR?

 

Tuhan menciptakan makhluk hidup di muka bumi: manusia, hewan, tumbuhan; berkembang-biak dan terus menerus dari waktu ke waktu.

Awalnya kecil, membesar, dewasa, tua, lalu mati. Yang satu mati, yang lain hidup, yang mati hancur, komponennya digunakan untuk pertumbuhan yang hidup.

Demikian, tuhan menciptakan kehidupan tersebut sesuai kepentingan secara berurutan. Pertama,tumbuhan, menempati seluruh permukaan bumi (biosfer); namun tidak dapat berpindah-pindah.

Kedua hewan, dan ketiga manusia; diciptakan tidak sebanyak tumbuhan, tapi bisa bergerak. Ketiganya (tumbuhan, hewan, manusia) saling melengkapi: saling hidupi, saling kompetisi, saling bunuh, saling makan.

Tumbuhan ada di mana-mana, tetapi tidak bisa pindah/bergerak, hewan dan manusia yang bergerak. Hewan mengembara ke mana-mana mencari tumbuhan untuk dimakan (kembara). Manusia mengejar hewan atau dipelihara untuk dimakan (buru, ternak).

Tumbuhan menunggu hewan dan manusia mati, masuk ke tanah, hancur lalu dimakan. Jadi, tanaman tidak mampu memakan hewan atau manusia, kecuali bila mereka mati dan dimasukkan ke dalam tanah (dikubur).

Dimasukkan ke dalam tanah? Iya, dikubur. Bila tidak dikubur, bau! Jadi, manusia dan hewan mati harus dikubur agar tidak bau? Bukan, agar bisa dimakan tumbuhan!

Ada yang aneh? Apa yang aneh? Coba pikirkan baik-baik cerita tadi? Oke, ternyata cara makan tumbuhan beda dengan hewan dan manusia.

Hewan dan manusia makan melalui “mulut”; tumbuhan meski punya mulut (stomata), makan tidak melalui mulut tetapi melalui “akar”. Tiga belas dari 16 unsur hara esensial tanaman berada dalam tanah.

Tumbuhan dimakan hewan, hewan dimakan manusia; hewan dan manusia mati, dikubur dan dimakan oleh tumbuhan. Proses memakan dan dimakan ini adalah mekanisme recycling (daur ulang).

 

MAKHLUK HIDUP DI DUNIA INI MEMAKAN DAN DIMAKAN

Bila manusia sakit, terutama mulut tidak dapat berfungsi normal, maka suplai nutrisi tubuh harus dilakukan melalui cara lain: infus.

Bila tumbuhan tidak bisa atau sukar mengambil unsur hara (uptake nutrients) dari tanah, maka diberikan melalui daun (foliar feeding), atau batang (stem feeding).

Apakah semua jenis makanan perlu diberikan melalui daun atau batang? Tidak! Secara normal melalui tanah, bila bermasalah, baru melalui daun atau batang. Lihat: SOIL-Pindah Tanam Pohon.

Bagaimana mekanisme masuknya unsur hara dari tanah ke tanaman? Untuk menjelaskan hal ini kita harus mengetahui anatomi dan morfologi tanaman.

1

Bagan morfologis pergerakan hara tanah – air – tanaman

 2

3

Bagan anatomis pergerakan hara tanah  – air –  akar

 

Lihat: Modul Kesuburan Tanah – Pergerakan Hara dalam Tanaman (Post: Bahan Kuliah I

 

08 NovSOIL-Jamur-Fungisida Antagonis

 


220px-Trichoderma_colony_in_nature

 

JAMUR-FUNGISIDA ANTAGONIS

(ANTAGONISTIC MYCOFUNGISIDE)

 

Jamur-fungisida Antagonis ~ Inokulat ~ Pupuk Hayati

 

Dicuplik:  Syekhfani

  

Jamur-fungisida antagonis (antagonistic fungiside), merupakan teknik pengendalian patogen tanaman dengan miko-fungisida (mycofungisides) dalam menekan populasi patogen tanaman pertanian.

 

Trichoderma_harzianum

Salah satu miko-fungisida potensial yang paling banyak diteliti, yaitu spesies Trichoderma, yang sebagian besar telah mencapai tingkat aplikasi inokulan langsung di lapangan.  Beberapa  strain Trichoderma telah dikembangkan sebagai agen biokontrol penyakit tanaman. Berbagai mekanisme termasuk antibiosis, parasitisme, menginduksi resistensi host-tanaman, dan persaingan.  Kebanyakan agen biokontrol berasal dari spesies T. harzianum , T.viride dan T. hamatum . Agen biokontrol umumnya tumbuh di habitat aslinya pada permukaan akar, sehingga mempengaruhi penyakit akar pada khususnya, tetapi juga bisa efektif terhadap penyakit daun (Wikipedia, 2013).

Stok spesies Trichoderma secara ekonomis mudah diproduksi di laboratorium.

Fakta bahwa efek spektakuler spesies Trichoderma belum berhasil ditemukan, menunjukkan jamur ini tidak terlalu efisien sebagai miko-fungisida agen pengendali OPT dalam praktek. Hasil biokontrol yang aman dan efektif  dicapai Trichoderma hanya pada kondisi sangat khusus.

 

Kontrol Biologis

Pengalaman bertahun-tahun menggunakan pestisida kimia, pada awalnya memang membawa perbaikan dramatis dalam produksi tanaman;  karena mampu memasok pangan murah.

Akhir-akhir ini, konsumen mengkhatirkan adanya  efek negatif akibat mengkonsumsi bahan tercemar pestisida kimia;  sehingga orang mulai memikirkan alternatif metode modern  yang bersifat akrab lingkungan alam.

Awalnya, pestisida diramu menggunakan bahan aktif logam berat beracun seperti arsenik, merkuri, timbal atau tembaga.

Selanjutnya, pestisida modern beralih ke bahan aktif senyawa organik, dengan tingkat spesifitas tinggi terhadap organisme tertentu; di mana dampak toksisitas terhadap lingkungan lebih kecil dan lebih ringan.

Ada kemungkinan bahwa efek jangka panjang senyawa sedikit sekali berpengaruh terhadap kualitas kesuburan tanah.

Meskipun penggunaan pestisida modern cenderung menunjukkan hasil lebih positif, tetap saja orang merasa khawatir terhadap kebijaksanaan penggunakan pestisida dalam jumlah besar terhadap kesehatan lingkungan.

Ketakutan ini menyebabkan orang mencari terus  bioteknologi alternatif  menggantikan pestisida kimia sebagai sarana mengendalikan OPT tanaman  pertanian;  salah satunya adalah pendekatan biologis alami.

Karena hampir semua OPT memiliki antagonis alami, secara teori pengendalian biologis menjadi relatif mudah. Akan tetapi dalam praktek, kontrol biologis yang sukses sangat sulit dicapai.

Jamur memiliki sejumlah karakteristik yang berpotensi sebagai agen biokontrol yang ideal.

Pertama, banyak spesies saprofitik (saprophytic) berfungsi sebagai antagonis semua OPT, termasuk jamur patogen   tanaman, gulma, dan serangga.

Kedua, jamur mudah ditumbuhkan dalam media sehingga dalam waktu singkat secara ekonomis dapat diproduksi dalam jumlah besar, terutama sebagai spora atau fragmen miselia.

Inokulan kemudian berkecambah atau tumbuh menghasilkan miselium aktif  yang dapat parasitik atau menghambat OPT tanpa membunuh organisme non-target.

Jamur bertahan relatif lama (dorman), dan kemudian dapat berkecambah dan mengendalikan populasi target sehingga membuat inokulasi ulang (reinoculation) terus-menerus tanpa perlu agen biokontrol.

Contoh agen biokontrol digunakan yang berkembang secara komersial, menyerang patogen tanah (soil borne) melalui akar, antara lain yaitu:

1.Trichoderma harzianum, terhadap busuk putih pada Bawang.

2. Phlebia gigantea Heterbasidion, terhadap busuk akar pohon Pinus.

3. Agrobacterium radiobactor var. radiobactor Crown, terhadap bengkak akar Mawar.

4. Sporidesmium sclerotivorum Lettuce,  terhadap layu tanaman Selada.

5. Talaromyces flavus, damping off pada Biet Gula.

 

Lihat: →  Krishiworld-Fungal-Biotechnology-part-1

 

28 SepSOIL-Buah Langka Berguna

 

BUAH LANGKA BERGUNA ~ ALAMI ~ INDONESIA

Diangkat oleh:  Syekhfani

Besar ~ Sedang ~ Kecil

Dimakan (edible):  Manis (sweet) ~  Asam (sour) ~ Pahit (bitter) ~ Sepet (slighty bitter)

 

Indonesia, zona hujan tropika basah (tropical rain forest zone)mempunyai kekayaan flora yang luar biasa banyaknya, merupakan sumber flasma nuthfah yang berpotensi di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buah langka, umumnya spesifik lokasi dan kegunaannya pun spesifik bagi penduduk setempat, yang biasanya merupakan ciri khas.

Buah langka, jarang dijual belikan secara umum;  biasanya dijumpai insidental di pasar atau pekan mingguan atau bulanan.

Kegunaan khusus:  obatbumbu sayurpencuci mulut (dessert), atau buahan murah yang disenangi anak-anak.

Berikut contoh buah langka berguna dalam kehidupan sehari-hari:

 

1. LAI, Kalimantan

Lai, besar lonjong seperti buah durian (rasa manis harum)

(Kalimantan)

 2. CEMPEDAK

Cempedak, besar bulat panjang seperti buah nangka (rasa manis harum)

(Sumatera, dan lain-lain)

3. KEMANG, Indonesia

Kemang, besar lonjong seperti buah mangga (rasa asam manis harum)

(Sumatera, dan lain-lain)

 4. MUNDU, Garcinia dulcis (Jawa)

Mundu, sedang bulat seperti buah apel (rasa asam manis)

(Jawa)

 5. KANDIS

Kandis, sedang bulat, spesifik untuk asam sayur (rasa sangat asam)

(Sumatera)

 6. KAWIS

Kawis, sedang bulat, untuk rujak (rasa asam manis)

(Jawa)

 7. RAMBAI, Indonesia

Rambai, kecil bulat berjurai (rasa asam manis)

(Sumatera, dan lain-lain)

 8. BUNI

Buni, kecil bulat berjurai, untuk rujak buah (rasa asam manis sepet)

(Jawa)

 

9. TUPAK

Tupak, kecil bulat berjurai  (rasa asam manis)

(Sumatera, dan lain-lain)

10. RUKEM

Rukem, kecil bulat, rasa asam-manis-pahit (sepet)

(Sumatera, Jawa, dan lain-lain)

 11. JUWET, Jawa

Juwet, kecil lonjong, rasa asam-manis-pahit (sepet)

(Jawa)

 12. SALI, Sumatera Selatan

Sali, kecil bulat bergerombol, rasa asam-manis

(Sumatera)

 

Buahan langka bernilai gizi dan obat!

 

12 SepSOIL-Natural Soil Cultivation

 

Kascing

 

NATURAL SOIL CULTIVATION ~ PENGOLAHAN TANAH ALAMI

Bahasan dan Foto:  Syekhfani

Mengapa hutan dan padang rumput tetap ‘subur’ meski tidak dikultivasi?! Atau, apakah ada yang melakukan kultivasi?!

 

Pernahkah terbersit dalam benak kita bahwa tanah hutan dan padang rumput itu diolah? Oleh siapa? Tampaknya  tidak ada yang melakukan, bukan? Tetapi, sebenarnya ternyata ada, bukan  manusia, melainkan oleh tumbuhan atau hewan yang ada di situ. Dengan kata lain … pengolahan berlangsung secara alami (natural cultivation) tanpa merusak sistem pertumbuhan akar dan tajuk! Bagaimana mungkin?

 

Pelakunya:  Tumbuhan & Hewan

Peran Tumbuhan dan Hewan:

-Sistem perakaran intensif, dari pangkal batang hingga ujung akar, bila akar tua atau sakit, kemudian mati, ia akan melapuk membentuk saluran dalam tanah (soil channel) yang menyebabkan udara/air dapat bebas keluar masuk dari permukaan tanah ke solum lebih dalam.

-Serasah (litter fall), jatuh ke permukaan tanah melapuk, sifat fisik tanah menjadi gembur (porous) atau menjadi sumber pakan macro fauna (hewan makro: cacing, semut, rayap, orong-orong, dan lain-lain) yang berperan dalam membuat saluran. Atau, micro fauna (hewan mikro:  bakteri,  cendawan, aktinomiset, dan lain-lain) yang berperan melakukan proses dekomposisi yang berperan dalam pembentukan agregat dan struktur mantap.

-Contoh:  Cacing tanah - Lubang yang dibuat cacing tanah meningkatkan infiltrasi, perkolasi dan aerasi. Saluran cacing meningkatkan masuknya air ke dalam tanah 4 hingga 10 kali lebih tinggi dibanding tanpa saluran.  Hal ini menyebabkan aliran air permukaan (runoff) berkurang, dan mengisi ulang air dan stok air tanah untuk musim kering. Lubang cacing vertikal menyalurkan unsur hara ke bagian lebih dalam. Mekanisme tersebut identik dengan proses pengolahan tanah secara mekanik oleh manusia atau mesin yang mahal. Banyak orang tidak menyadari hal itu!

 

Lihat → Pustaka:

Sustainable Soil Management, Preston Sullivan, NCAT Agriculture Specialist © NCAT 2004 ATTRA Publication #IP027/133 printable PDF version of the entire document is available at: http://www.attra.ncat.org/attra-pub/PDF/soilmgmt.pdf  31 pages — 1.5 mb
Download Acrobat Reader

 

Tanah hutan dan padang rumput subur ada yang melakukan kultivasi!

 

19 AugSOIL-Composting in Practices

a4. Akar medium kompos

COMPOSTING IN PRACTISES ~ PENGOMPOSAN DALAM PRAKTIK

Dari “Back to Eden” ~ Prinsip Dasar Praktik ~ Pertanian  Organik

Ulasan:  Syekhfani

 

Menyimak tayangan film  “Back to Eden” > SOIL: Kembali ke Eden – Back to Eden

Tercatat prinsip-prinsip dasar yang diaplikasi dalam praktik pertanian (organik):

Kondisi alami sebagai modal dasar adalah: lahan kebun (tanahairtanamaniklim, dan sistem pengelolaan).

Tanah, kondisi setempat.

Tanaman, hortikultura buahan dan sayuran.

Iklimtemperate.

Sistem, pertanian terpadu (integrated):  pemanfaatan bahan mineral alam (batuantanah mineral), bahan organik alam (seresah), daur ulang sisa tanaman (pangkasansisa daun kering);  dan ternak (ruminan dan unggas).

Pengelolaan, secara individu (keluarga dan tetangga), fasilitas mekanisasi untuk pengolah kompos dan irigasi sprinkle.

 

m. Apel tanpa daun

Apel (tanpa daun) ~ daun gugur musim dingin (Bahan Organik)

4b

 Batu dan tanah mineral (Bahan Mineral)

2b

Seresah alami (Bahan Organik)

k. Biomas pangkasan

Sisa pangkasan (Bahan Organik)

4d

Diadukkan ke tanah (Incoorporating) 

a00. Larikan tanaman

Ditutupkan di permukaan (Mulching)

a0. Benih berkecambah

Pembenihan (Germinating)

n

Tanaman Sayuran

x

Tanaman Buahan

n. Pakan hijauan ayam

Ternak (ayam)

Active is live ~ Creative is live more ~ Inovative is useful live!

 

11 JulSOIL-Fiksasi N oleh Petir

 

FIKSASI NITROGEN OLEH PETIR

(NITROGEN FIXATION BY LIGHTENING)

 

Mekanisme – Jumlah – Ketersediaan

 

Syekhfani

 

Unsur Nitrogen (N), secara alami bersumber utama di atmosfer (80%/v) dalam bentuk gas N2 yang tidak  langsung tersedia bagi tanaman.

Gas N2 ini harus diiubah (transformasi) ke dalam bentuk senyawa tersedia, yaitu: NH4+, NO2-, atau NO3- melalui mekanisme fiksasi (fixation).

Fiksasi N atmosferik dilakukan secara:

1. Biologis: simbiose antara mikroorganisme dengan tanaman atau non-simbiose.

2. Non Biologis: melalui kilat dan panas tinggi oleh petir (lightening).

 

Fiksasi N oleh petir:

Reaksinya:

N2 → NO→ NO3-

Namun, belum diketahui dengan jelas mekanisme secara pasti.

Pada skala global, petir mungkin memfiksasi sebanyak 70 hingga 100 juta metrik ton nitrogen per tahun.

 

Fiksasi N artifisial meniru reaksi petir:

 

Proses paling terkenal – Haber-Bosch:

200 ATM + 5000 oC

4N2 + 12H2 → 8NH3

Katalis

Persamaan di atas diacu oleh sebagian besar industri pupuk nitrogen.  Saat ini jumlah pupuk nitrogen digunakan di dunia sekitar 70-80 juta metrik ton per tahun.  Produksi pupuk  nitrogen merupakan bisnis energi sangat intensif (energy-intensive business).

lihat → UCSC:  Lecture11/ch12_N_S_2012.pdf

 

08 JulSOIL-Vivarium Flora – Fauna

 

VIVARIUM FLORA DAN FAUNA

 

Simulasi Lingkungan Kehidupan

 

Syekhfani

 Ada beberapa jenis Vivarium,yaitu:

  • Aquarium, simulasi habitat air; untuk meniru kondisi lingkungan sungai, danau atau laut;  area habitat alami tergenang. Tanaman dalam air memerlukan keberadaan nitrogen dalam sistem, dan memerlukan area untuk kehidupan organisme dan tumbuhan.
  • Insectarium, habaitat insects dan arachnids.
  • Terrarium, simulasi habitat kering,  untuk meniru kondisi gurun atau savannah.  Terrarium dapat juga mengkreasi habitat lahan hutan atau pohon hutan iklim  temperate. Ia dapat dikreasi dengan menggunakan bahan kerikil, seresah daun dan tanah. Melalui terrarium, perilaku siklus air alami tampak dalam lingkungan buatan. Banyak jenis tanaman cocok untuk habitat ini , termasuk bromeliadsAfrican Violets dan Crassulaceae. Hewan umumnya digunakan untuk observasi meliputi reptilesamphibiansinsectsspidersscorpions dan burung kecil.
  • Paludarium, berupa simulasi lingkungan hutan hujan (rain forest) atau rawa (swamp ).
    • Riparium, suatu paludarium dengan sirkulasi kolam level berbeda.

Lingkungan kehidupan Flora dan Fauna, perlu dipelajari dan dimengerti sebagai dasar pengelolaannya.

Lingkungan kehidupan flora dan fauna dapat ditiru dalam bentuk vivarium (miniatur buatan) untuk memudahkan melihat dan mengabadikannya.

Ragam Vivarium berdasar:  bentuk (kubus, bulat, persegi), ukuran (mini, midi, maksi), dan bahan (kaca, plastik, formika).

Contoh:

1. Terrarium Flora

Terrarium (Foto Syekhfani:  Iwa Women University, Seoul, Korea)

2. Terrarium Fauna

Insectarium (Foto Syekhfani:  Iwa Women University, Seoul, Korea)

06 JulSOIL-Plants Control

PLANTS CONTROL

(KONTROL TANAMAN)

 

Ulasan dan Foto-foto:  Syekhfani

 

Makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) , memiliki kemampuan (capability) berbeda dalam hal kontrol diri (self control) dari aksi perusak.

Manusia, menciptakan alat kontrol diri melalui Iptek (sciense & technology).

Hewan, punya senjata andalan yang ditakuti (tanduk , gigi, cakar, paruh, dan lain-lain) atau alat yang perlu diwaspadai (duri, racun, sayap, kaki, dan sebagainya).

Tanaman, meski tidak mampu bergerak seperti hewan dan manusia (passive), tetapi juga punya duri, bulu, miang, getah, atau zat racun ; sehingga organisme pengganggu (hewan, manusia) menghindarinya.

Tanaman juga mampu mengontrol diri agar dapat bertahan dari kondisi lingkungan yang tidak kondusif, untuk mengatasi dampaknya.

Tanaman akan menggugurkan daun saat iklim ekstrem (musim dingin, kekeringan) atau kekurangan (defisiensi) unsur hara.

Tanaman tertentu merubah morfologi tubuh (rudimentation) menjadi alat senjata (misalnya duri). Sejenis xerophyt seperti kaktus merubah daun menjadi duri , dan batang berfungsi seperti daun dalam melakukan fostosintesis .

Jenis xerophyt lain membentuk daun tebal atau melapisi daun dengan lilin (wax) untuk mencegah kehilangan air dari proses transpirasi .

Semua itu, adalah mekanisme kontrol   tanaman agar dapat bertahan (exist) dan berlanjut (sustainable) sebagai makhluk hidup di dunia ini.

Lalu …  Siapa yang mengatur ??!

06072013585

Tanaman Kaktus (xerophyt) merubah daun menjadi duri , dan tubuhnya bisa melakukanfotosintesis

06072013588

Tanaman jenis xerophyt yang mempertebal daun

 

01 JulSOIL-Bamboo Trees

 

BAMBOO TREES

(POHON BAMBU)

 

Syekhfani

220px-BambooKyoto[1]

Bambu:  Wikipedia – Bambu

Pohon bambu (bamboo trees) – Sekitar 92  ”Genus”  dan 5.000  “Spesies”  - famili Bambuseae.  Merupakan salah satu jenis tanaman yang dijumpai  dan dikenal hampir di semua tempat, dengan berbagai jenis kegunaan, seperti untuk bahan perabot rumah, jembatan, pagar kebun, kandang hewan ternak, atau bahan pembuatan berbagai jenis kerajinan tangan.

Di bidang industri, bambu merupakan bahan pembuat kertas, wallpaper, atau bahan lain.

Tunas bambu yang baru muncul yang dikenal dengan nama “rebung bambu” termasuk bahan sayuran untuk berbagai jenis makanan atau kue-kue.

Ruas bambu yang masih muda dari jenis tertentu, digunakan untuk membuat “lemang ketan” sejenis kue tradisional di Sumatera dan Malaysia (lihat pos: SOIL-Padi Ketan).

Di alam terbuka, pohon bambu menjadi sumber pakan berbagai jenis hewan mamalia besar dan  kecil, seperti gajah, tapir, badak, beruang (Panda), dan landak.

Bentuk kanopi pohon bambu yang eksotik dan artistik, menjadi objek para seniman lukis dan foto; dan ruas bambu sebagai objek seni pahat (patung, relief).

Di Indonesia, pohon bambu bisa tumbuh pada berbagai tipe dan jenis tanah, serta tipe iklim dari iklim basah hingga semi kering.

Umumnya rumpun bambu banyak dijumpai di tebing sungai sehingga ia berfungsi baik sebagai vegetasi penguat tebing terhadap erosi dan abrasi air.

Bamboo is an amazing plant. There are a number of genuses and many species. They grow from sea level to high mountain altitudes. It is one of the strongest materials in nature. It can be used as a food and as well as c

Bambu adalah tanaman ajaib (amazing).  Mereka terdiri dari sejumlah genus dan banyak spesies.  Mereka hidup dari pantai hingga puncak gunung.  Ia merupakan salah satu bahan terkuat di dunia.  Ia dapat digunakan sebagai bahan pangan manusia dan pakan hewan.  Dapat pula sebagai bahan perabotan rumah, pagar kebunkandang hewan, dan sebagainya.

Out of the nodes on the main culm, branches appear and in turn unfurl the leaves

Di bagian atas ruas, mata tunas tumbuh menjadi cabang yang berkembang lengkap dengan ranting dan daun

When the plant sends up new shoots they emerge from the ground as spikes and begin their journey to the sun.  It is these shoots that are harvested for food

Saat muncul anakan baru (rebung), tanaman muda mulai memanjang mencari sinar matahari.  Rebung dapat dipanen sebagai bahan pangan (sayuran)

(Dave:  Bainbridge Island – big bamboo)

17 JunSOIL-Umbi Tradisional Pangan Alternatif

 

TANAMAN UMBI TRADISIONAL TROPIKA INDONESIA – SUMBER PANGAN ALTERNATIF

 

Jenis – Syarat tumbuh – Budidaya

 

Tanaman umbi-umbian, adalah jenis tanaman yang berlimpah di Indonesia dan belum dibudidayakan secara intensif;  kecuali:  ubikayu, kentang, dan ubijalar.

Di indonesia, umbi termasuk jenis pangan alternatif, di samping pangan pokok beras.  Bahkan di beberapa daerah/tempat umbi menjadi pangan pokok lokal setempat.

Para ahli gizi menyarankan agar mengkonsumsi sumber karbohidrat umbi dari pada beras, terlebih lebih bagi penderita “diabetes“.

Berikut dikemukakan beberapa jenis umbi yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif, selain ubikayu, kentang dan ubijalar (lihat pos:  SOIL-Ubi Lahan Kering):

CannaEdulis2[1]

Ganyong – Canna (Canna edulis Ker

CannaEdulis[1]

1. Ganyong, Canna (Canna edulis Ker. – Cannaceae).

Tergolong herba tahunan dengan tinggi 2 meter, berasal dari Andes.

Umbi akar (rhizomes) dikonsumsi setelah dipanggang atau rebus dan dapat digunakan sebagai bahan penghasil tepung kanji (starch). Daun muda dan akar muda dapat pula digunakan sebagai penghasil tepung kanji tetapi jarang dilakukan.

Budidaya:  Biji atau tunas umbi ditanam dalam baris 75 x 100 cm.  Tanaman biasanya dipanen setelah berumur 4 hingga 12 bulan.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Canna+edulis

Gembili1

Gembili – Coleus parviflorus Benth.

Gembili2

Gembili3

2. Gembili, “Black Potato (Coleus parviflorus Benth. – Cyperaceae) sinonim:  Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.

Berasal dari Afrika, dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.  Umbi kecil dan berwarna coklat dikonsumsi sebagai sayuran.

Budidaya:  Gembili dikembang biakkan dengan umbi akar (rhizome) dengan jarak baris 40 x 40 cm.  Tunas ditumbuhkan selama 5 bulan.  Hasil dilaporkan petani Indragiri, Riau yaitu 10 ton umbi segar per hektar.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.ebay.com.au/itm/5-Bulbs-COLEUS-PARVIFLORUS-BENTH-Cooking-Plant-FREE-Phytosanitary-Certificate/400432780958?pt=LH_DefaultDomain_0&hash=item5d3ba7569e

 

220px-Dioscorea_balcanica_BotGardBln310505[1]

Uwi, “Yam” (Dioscorea spp. -  Dioscoreaceae)

3. Uwi, “Yam (Dioscorea spp. – Dioscoreaceae).

Juga dikenal sebagai umbi “gadung” (Sumatera Selatan), merupakan herba tahunan memanjat  dan umbinya baru dapat dimakan bila telah melalui pencucian dan pemasakan sehingga bahan meracun (alkaloid) hilang.  Namun dilaporkan ada jenis “yam” di Sumatera yang tidak beracun.

Budidaya:  tunas umbi atau irisan mata tunas umbi disemaikan di lapangan (in situ).  Tanaman dibiarkan tumbuh hingga daun-daun menguning.  Dilaporkan produktivitas yam adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://en.wikipedia.org/wiki/Dioscorea

http://en.wikipedia.org/wiki/Yam_(vegetable)

 Bengkuang

Bangkuang – Pachyriihizus eosus (l.) Urb.

4. Bangkuang, “yam bean” (Pachyriihizus eosus (l.) Urb. – Legumonosae).

Bangkuang merupakan herba tahunan memanjat berasal dari Amerika Tengah.

Daun, polong, dan biji adalah meracun, tetapi umbi muda dapat dimakan mentah. Tanaman bengkuang tumbuh baik pada tanah gembur, subur dan drainase baik.

Budidaya:  Dikembang biakkan dengan biji yang ditugalkan di galengan atau bedengan sempit. Hasil yang dilaporkan adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/95/Pachyrhizus_erosus_Blanco2.249.png

 

Teks:

Driessen, P.M. dan  Permadhy Sudewo.  – . A Review of Crops and Crop Perfomance on Southeast Asian Lowland Peats.  Soil Res. Inst., Bogor. Bulletin 4.

 

01 MaySOIL-Topografi Gunung Berapi

   

TOPOGRAFI GUNUNG BERAPI

 

  Kawasan (contoh):   Gunung  Bromo,  Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

  IMG_0001

  Kawah Gunung Bromo

  • Gunung berapi, memberikan arti sendiri bagi kehidupan di sekitarnya:  energi sumberdaya, vegetasi spesifik, panorama alam.
  • Aksi alam perlu direspon dengan cara mempelajari sifat dan perilaku, dampak positif atau negatif sehingga dapat melakukan upaya pelestarian.
  • Bagaimanapun, di balik “keindahan” tersembunyi kemungkinan ada “bencana”.
  • Panorama indah menjadi objek pariwisata domestik maupun mancanegara yang menarik.

 IMG_0002

Panorama menjelang pagi (hamparan awan menutup kaldera)

IMG_0003

IMG_0004

IMG_0005

IMG_0006

 Panorama menjelang matahari terbit (early morning)

IMG_0007

Matahari terbit (sunrise)

IMG_0008

IMG_0009

IMG_0010

Pariwisata menikmati panorama, fasilitas olahraga dan rekreasi

IMG_0011

IMG_0012

Kaldera (dataran pasir seputar gunung)

Panorama:

-Saat subuh (menjelang matahari muncul) seputar kawah diliputi awan putih mengambang seolah berada di bawah kita;  saat matahari terbit (sunrise) memberikan keindahan alam yang menakjubkan.

Kaldera:

-dataran pasir di seputar kaki gunung, merupakan kawasan luas spesifik yang dapat dimanfaatkan untuk berolah raga jalan kaki maupun menunggang kuda.

Vegetasi:

-Pinus (Pinus mercusii).

-Semak rendah atau rumput liar pencegah erosi.

Flora:

-Tanaman bunga liar spesifik gunung Bromo – Semeru - Edelweis Jawa (Anaphalis javanica), merupakan ciri khas vegetasi alam di kaldera Bromo – Semeru.

01 MaySOIL-Dampak Letusan Gunung Berapi

    

 

DAMPAK LETUSAN GUNUNG BERAPI

 

Survei Pendahuluan

 

Usaha Penanggulangan Dampak Letusan Gunung Kelud

 

Kediri – Blitar – Jawa Timur

 

sebelum anak kelud lahir[1]

Foto-foto: Syekhfani

Kondisi:  Lokasi Bahaya I, II, III, IV, Daerah Aliran Lahar

  • Dari aspek tanah, letusan gunung Kelud di suatu pihak dapat menyebabkan kerusakan karena sifat kesuburan tanah  meliputi fisik, kimia, maupun biologi mengalami perubahan. Di lain pihak dapat menguntungkan segi-segi kesuburan tanah berupa  tambahan bahan pasir atau debu yang mengandung unsur hara.
  • Agar bahan pasir atau debu tidak hilang terangkut oleh air dan/atau angin, maka diperlukan tindakan-tindakan konservasi.
  • Diperlukan pula penelitian-penelitian lebih detail dari aspek status perharaan, biologi, dan konservasi tanah dan air untuk tujuan reklamasi jangka pendek.

 

Hasil Pengamatan Visual di Lapang (survei)

 

1

 Lokasi Bahaya I (dekat puncak)

4

Tanaman kopi (Coffea sp.)

5

Tanaman coklat (Theobroma cacao)

2

Glirisidia (Glyricidia sepium)

3

Flemingia (Flemingia congesta)

 Lokasi Bahaya I

  • Secara visual tampak bahwa areal di seputar puncak menunjukkan tingkat kerusakan paling besar.
  • Vegetasi hutan dan juga perkebunan (kopi dan cengkeh) rusak total, tanpa daun; tinggal batang serta cabang cabang besar.
  • Kerusakan mencapai 85-100 % daun terbakar.
  • Timbunan material mencapai 40 cm berupa bahan pasir kasar dan batu koral yang bertebaran di bagian permukaan tanah.
  • Di lokasi datar, dijumpai lapisan berdebu yang cukup tebal di permukaan (kurang lebih 2 cm), meskipun dari informasi yang diterima telah terjadi hujan lebat beberapa kali.
  • Tampak tanaman berdaun lebar mempunyai kepekaan lebih tinggi; misalnya: pohon kopi yang sama sekali gundul.
  • Tanaman pelindung dari jenis lamtoro (Leucaena leucephala) dan  glirisidia (Gliricidia sepium) relatif tahan dan masih menunjukkan pertumbuhan normal meskipun warna daun menampakkan gejala difisiensi nitrogen.
  • Jenis tanaman lain yang tahan adalah Flemingia congesta yang masih tumbuh segar tanpa perubahan warna.

 

6

 Lokasi Bahaya II (perkebunan, pemukiman)

 Lokasi Bahaya II

  • Di kawasan  ini timbunan  material mencapai ketebalan 20 – 30 cm.
  • Vegetasi kebanyakan masih tanaman perkebunan dan sedikit tanaman pekarangan (kelapa, rambutan, pisang).
  • Kerusakan tanaman kopi dan coklat yang berdaun lebar masih cukup parah meskipun tidak sampai gundul.
  • Daun daun tua masih bertahan tetapi daun muda rusak dan gugur.
  • Besar kerusakan antara 50-75 %.
  • Kondisi perakaran tanaman seperti pada lokasi bahaya I, tapi tanaman kopi, coklat dan cengkeh mulai tumbuh tunas-tunas baru.
  • Kawasan perkebunan di Lokasi Bahaya II ini masih hijau, namun untuk pemulihan  secara maksimal  dibutuhkan  cara-cara yang tepat dalam hal perbaikan  kondisi tanah dan air.

7

   Lokasi Bahaya III (perkebunan, pemukiman)

Lokasi Bahaya III

  • Di sini timbunan material mencapai ketebalan 10-20 cm.
  • Kawasan relatif datar dan didominansi oleh areal tanaman pangan, terutama sawah.
  • Vegetasi lain meliputi kopi, coklat dan tanaman pekarangan (kelapa, rambutan dan lain-lain).
  • Besarnya kerusakan meliputi 30-40 %.
  • Permasalahan utama selain timbul materi yang masih cukup tebal, juga tersumbatnya saluran-saluran irigasi sehingga air tidak dapat dialirkan ke sawah.
  • Menurut informasi dari pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tanaman padi sawah yang pada saat letusan berada pada ke fase berbunga, tidak mengalami hambatan untuk pengisian biji dan tampaknya panen masih bisa dilaksanakan, asalkan turun hujan.
  • Akan tetapi tanaman padi yang pada saat letusan masih berada pada fase vegetatif sangat menderita akibat kekurangan air dan tampaknya panen sama sekali tidak dapat diharapkan.
  • Pihak Perkebunan Penataran (coklat) tampaknya berusaha untuk mengatasi masalah timbunan  materi dengan jalan membuka timbunan di seputar tajuk  pohon.

  9

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase vegetatif

8

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase pemasakan

 Lokasi Bahaya IV

  • Timbunan  materi  hanya berkisar antara 5-10 cm.
  • Vegetasi terutama tanaman semusim (padi dan lain-lain) dan tanaman pekarangan.
  • Padi sawah  pada  kawasan  ini tidak banyak terpengaruh oleh letusan; tetapi tanaman berdaun lebar seperti pisang, kelapa, masih dipengaruhi.
  • Saluran-saluran irigasi masih mudah untuk difungsikan  dan air dapat  mengalir  ke  petak-petak  sawah.
  • Tanaman  padi sawah yang pada saat letusan  berada pada fase vegetatif  dapat terus tumbuh ke fase generatif dan panen tampaknya masih tetap dapat di peroleh secara normal.

  Lokasi Aliran Lahar

  • Lokasi yang terkena aliran lahar, terutama  untuk lahan sawah  cukup  menderita karena sebagian tanaman  padi hanyut terbawa arus.
  • Tanaman padi yang tidak hanyut memperoleh timbunan bahan-bahan material pasir,debu dan batu-batu kerikil sampai koral yang cukup tebal.
  • Di samping itu tampak  pula adanya  timbunan  bahan-bahan organik berupa sisa-sisa cabang dan ranting pohon yang ikut hanyut.
  • Petak sawah yang tidak tertimbun memperoleh limpahan  materi  halus berupa debu atau lempung.
  • Diduga  pengikisan permukaan tanah sepanjang aliran  lahar menyebabkan ikut terkikisnya liat yang kemudian bercampur dengan debu.
  • Hal  menarik  di jumpai pada lokasi sawah yang mendapat timbunan ini adalah bahwa akar tanaman padi dijumpai dalam jumlah banyak di lapisan material.
  • Diduga akar tanaman tumbuh ke atas karena ada rangsangan tertentu di lapisan material tersebut.

  

 Kesimpulan

  • Dari hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa lahan bekas letusan Gunung Kelud perlu diperbaiki baik dari segi tanah maupun tanaman, sesuai dengan tingkat kerusakannya agar fungsi lahan dapat dipulihkan.
  • Bahan timbunan berupa pasir dan debu memberikan kontribusi terutama unsur P dan S.  Agar bahan masukan ini tidak hilang melalui erosi, maka diperlukan tindakan konservasi.

 

→ Baca:   Laporan Survei Lengkap

 

22 AprSOIL-Topografi Berbukit

TOPOGRAFI BERBUKIT (HILLY)  –  LAND USE  -  PANORAMA

 

Kawasan (contoh):   Selorejo, Jawa Timur

 (Pengamat/Foto:  Syekhfani)

 

  • Kawasan DAS, dimanfaatkan oleh manusia untuk kehidupan, berupa lahan pertanian, pemukiman, jalan, dan lain-lain.
  • Namun, apabila vegetasi dihilangkan, dapat terjadi erosi, longsor, dan kerusakan lahan, jalan raya, bahkan juga pemukiman.
  • Oleh sebab itu kawasan ini perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan.
  • Panorama yang indah merupakan objek wisata yang menarik.

  12

Panorama:

Pohon tegak menjulang, memberikan keindahan tersendiri.

 

 11

Pohon:

Pinus (Pinus mercusii), ditanam monokultur dengan sistem forestry.

 

 13

Semak:

Vegetasi di bawah pohon, berupa semak rendah atau rumput liar yang dipertahankan untuk mencegah erosi dan ekosistem pinus yang baik.

 

14

 Lahan Kering (upland):

Ditanam dengan sistem terasering, mencegah erosi dan/atau longsor.

 

21

 Lahan Sawah (rainfed/irrigated):

Padi (Oryza sativa), ditanam sitem irigasi atau tadah hujan, tergantung sumber air yang ada.