22 JanKELEMBABAN TANAH DAN PEMANASAN GLOBAL

 

EurekAlert!

 

Tim Teknik Kolumbia:  Membuat Langkah Besar dalam Perkiraan Cuaca Ekstem

(Banjir dan Kekeringan)

 

 

New York — June 5, 2011 — Kelembaban dan fluktuasi panas  permukaan tanah ke atmosfer membentuk suatu hubungan krtitis antara hidrologi permukaan dan proses atmosferik, khususnya berkenaan dengan curah hujan.  Sementara teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, telah  dilaporkan secara luas.  Tim peneliti dari Columbia Engineering, Geophysical Fluid Dynamics Laboratory, dan Rutgers University telah mendemonstrasikan bahwa penguapan permukaan tanah mampu merubah curah hujan musim panas sebelah utara Mississippi daerah iklim monsonal AS selatan dan Meksiko.  Salah satu temuan utama mereka adalah bahwa penguapan permukaan tanah, bagaimanapun, hanya dapat memodifikasi frekuensi curah hujan musim panas, tidak terhadap jumlah hujan, hidrologi dan proses atmosferik, khususnya berhubungan dengan curah hujan.  Sedangkan teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, yang telah sangat sering diteliti secara luas.

Para peneliti menggunakan data dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) untuk mengukur dampak penguapan daratan terhadap frekuensi dan intensitas curah hujan musim panas di Amerika Utara. Mereka menemukan bahwa penguapan yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan sore di bagian timur Mississippi dan Meksiko, sementara tidak berpengaruh terhadap curah hujan di AS barat.  Perbedaan ini disebabkan kelembaban di atmosfer. Cuaca di atas wilayah barat begitu kering tidak terpengaruh oleh penguapan dari permukaan, tambahan sumber hujan tidak akan memicu hujan karena segera hilang ke atmosfer.  Cuaca di atas wilayah timur cukup basah sehingga kelembaban ditambah penguapan permukaan membuat terjadi hujan.

“Bila bagian timur benar-benar menjadi basah”, ungkap Gentine, “selanjutnya permukaan akan memicu lebih banyak hujan sehingga menjadi lebih lembab, dan ini membuat lingkaran setan terjadi banjir dan kekeringan.  Alam – yaitu vegetasi permukaan tanah – tidak dapat mngendalikan proses hujan di bagian barat, sebaliknya bagian timur dan selatan.  Kenyataan ini sanbgat penting dimengerti dalam pemahaman  tentang kejadian banjir dan kekeringan”.

Akibatnya, sekali banjir atau kekeringan dipicu dalam proses skala besar, seperti halnya anomali suhu permukaan laut, kejadian banjir/kekeringan paling mungkin bertahan di AS timur dan selatan, tetapi di barat durasi dan frekuensi banjir/kekeringan dikendalikan hanya oleh proses lautan;  daratan tidak dapat memodifikasi proses curah hujan.

Keadaan tanah kering atau basah tidak mengubah curah hujan berikutnya:  konsekuensinya permukaan tidak akan membantu kondisi hidrologi bertahan (misalnya banjir/kekeringan).  Seperti proses anomali permukaan laut, kondisi banjir/kekeringan yang paling mungkin bertahan di bagian timur dan selatan AS, sedangkan bagian barat dikendalikan hanya oleh proses lautan.

Gentine sedang mengembangkan suatu kerangka teori untuk mengetahui pembentukan hujan dan dan awan di atas daratan dan mengatakan bahwa hal ini akan menjadi trobosan penting dalam pemahaman tentang bagaimana kelembaban dan vegetasi mengontrol proses pembentukan awan dan hujan.  “Saya menganggap penelitian ini menarik karena merupakan bidang riset dasar – memahami bagaimana alam bekerja – dan aplikasi praktikal yang berpengaruh terhadap pengelolaan banjir/kekeringan/air di bumi.  Di Laboratorium luar:  pengamatan terhadap awan dan hujan!”.

http://www.eurekalert.org/pub_releases/2011-06/cu-cet060211.php

Public release date: 5-Jun-2011

Contact: Holly Evarts
holly@engineering.columbia.edu
212-854-3206 Columbia University