09 NovSOIL-Dinamika Kehidupan Tanah

 

DINAMIKA KEHIDUPAN TANAH

(DYNAMIC OF LIVING SOIL)

 

Tanah Sehat ~ Tanaman Sehat ~ Produksi tinggi ~ Kualitas baik ~ Berkelanjutan

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Tanah itu dinamis, berubah setiap waktu, karena ada makhluk hidup  dan kehidupan di dalamnya.

Secara filosofi, tanah itu adalah benda hidup, yang menentukan hidup dan kehidupan di bumi (manusiahewantumbuhan).

Sebagai benda hidup, tanah bisa sehatletihsakit, dan bahkan kritis.  ditunjukkan  oleh perkembangan pertumbuhanproduktivitas, dan kontinyuitas hidup dan kehidupan makhluk-makhluk di atasnya.

Tanah sehat identik dengan tanaman sehatproduksi tinggi, kualitas baik dan berkelanjutan.

Bila tanah letih, maka ia memerlukan istirahatsakit perlu obat, dan kritis perlu pemulihan secara khusus.

Implikasi praktikalnya, secara visual tampak pada ciri tanah dan pertumbuhan dan produksi tanaman. Umumnya, kita segera tahu kapan tanah perlu disuburkan ulang (dipupuk). Bila tanah sebagai medium tanaman pot, kita segera tahu kapan perlu dilakukan re-potting. Perasaan (feeling) kita yang peka terhadap perubahan yang terjadi di lahan budidaya,  juga dapat dijadikan sebagai indikator.

Ketahanan tanah, atau kemampuan tanah dalam menghadapi stres lingkungan, perlu diantisipasi dengan menjaga keberadaan dan keseimbangan komponen-komponen tanah dalam fungsi  pedologi (tanah) atau  edaphologi (lahan).

Contoh kondisi tanah sehat, sakit, kritis:

 

1. Sehat.jpg

Tanah sehat (health soil)

2. Sakit.jpg

Tanah sakit (sick soil)

3. Kritis.jpg

Tanah kritis (critic soil)

  

Tanah juga butuh kasih sayang!

 

10 OctSOIL-Evaluasi Tanah Kebun Apel

  

TANAMAN APEL ~ MUSIMAN ~ PANEN  BUAH  ~ ROMPES DAUN

 

Hara terangkut (Buah, Daun) ~ Pemupukan per Musim

Foto-foto dan Materi:  Syekhfani

 

Tanaman apel, berbuah musiman (1 – 2 kali setahun), hara terangkut dalam jumlah banyak melalui buah dan daun rompesan (stimulasi pembungaan; daun rompesan tidak dikembalikan ke kebun).

Diperlukan pemberian unsur hara melalui pemupukan rutin (awal  dan akhir musim hujan).

Evaluasi status hara tanah kebun dilakukan melalui analisis sifat kimia tanah setelah selesai panen  (Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2013/10/ANALISIS-SIFAT-KIMIA-TANAH.pdf)

 

Interpretasi dan Rekomendasi:

Hasil analisis Contoh tanah (evaluasi dari Laboratorium Kimia Tanah).

 

Interpretasi:

Pemberian pupuk setelah mengetahui hasil analisis kriteria rendah dan sangat rendah.

 

Rekomendasi:

  • Dosis (per tanaman atau per hektar)
  • Saat aplikasi (sebelum musim hujan: cukup air dan setelah musim hujan: kurang air).
  • Cara aplikasi (seputar proyeksi tajuk, kedalaman 10 cm dan ditimbun tanah).
  • Tambahan:  bila tidak ada hujan, perlu di siram (irigasi).

1

2

Apel Manalagi siap dipanen

3

4

Apel Anna siap dipanen

5

6

Apel Rome Beauty berbuah (setelah dirompes)

7

8

Lokasi pemupukan (proyeksi tajuk pohon)

 

Unsur Hara Terangkut harus Dikembalikan!

 

10 JulSOIL-Favorite Fruit Crops

 

STRAWBERRY

(STROBERI)

0

Ulasan/Foto-foto:  Syekhfani

 

Tanaman Stroberi, dikenal oleh semua tingkatan umur:  anak-anak, remaja, maupun dewasa.

Stroberi adalah tanaman menjuntai, cepat tumbuh, dengan untaian bunga putih mungil, dan warna buah hijau, putih, merah (sesuai umur buah).

Stroberi tampil cantik dan eksotik, seringkali menjadi inspirasi kreasi gambar, sulaman, atau pakaian dan property berbagai jenis (dompet, tas, sepatu, payung dan sebagainya);  terutama bernuansa anak-anak dan remaja.

Taman rekreasi pun seringkali dilengkapi dengan kebun, bedengan atau pot tanaman stroberi.

Secara umum, stroberi termasuk jenis komoditi industri bahan baku kue dan minuman (cake & beverage), sebagai sumber vitamin dan mineral.

Tanaman stroberi tumbuh baik pada ketinggian di atas 500 meter dari permukaan laut;  jenis tanah berlempung (loamy), reaksi (pH) agak masam hingga netral, porous dan kaya bahan organik dan unsur mineral.

 

2

Buah stroberi matang

3

Pot stroberi (bantalan)

4

Pot stroberi (gantung)

5

Kebun stroberi (bedengan)

 

17 JunSOIL-Umbi Tradisional Pangan Alternatif

 

TANAMAN UMBI TRADISIONAL TROPIKA INDONESIA – SUMBER PANGAN ALTERNATIF

 

Jenis – Syarat tumbuh – Budidaya

 

Tanaman umbi-umbian, adalah jenis tanaman yang berlimpah di Indonesia dan belum dibudidayakan secara intensif;  kecuali:  ubikayu, kentang, dan ubijalar.

Di indonesia, umbi termasuk jenis pangan alternatif, di samping pangan pokok beras.  Bahkan di beberapa daerah/tempat umbi menjadi pangan pokok lokal setempat.

Para ahli gizi menyarankan agar mengkonsumsi sumber karbohidrat umbi dari pada beras, terlebih lebih bagi penderita “diabetes“.

Berikut dikemukakan beberapa jenis umbi yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif, selain ubikayu, kentang dan ubijalar (lihat pos:  SOIL-Ubi Lahan Kering):

CannaEdulis2[1]

Ganyong – Canna (Canna edulis Ker

CannaEdulis[1]

1. Ganyong, Canna (Canna edulis Ker. – Cannaceae).

Tergolong herba tahunan dengan tinggi 2 meter, berasal dari Andes.

Umbi akar (rhizomes) dikonsumsi setelah dipanggang atau rebus dan dapat digunakan sebagai bahan penghasil tepung kanji (starch). Daun muda dan akar muda dapat pula digunakan sebagai penghasil tepung kanji tetapi jarang dilakukan.

Budidaya:  Biji atau tunas umbi ditanam dalam baris 75 x 100 cm.  Tanaman biasanya dipanen setelah berumur 4 hingga 12 bulan.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Canna+edulis

Gembili1

Gembili – Coleus parviflorus Benth.

Gembili2

Gembili3

2. Gembili, “Black Potato (Coleus parviflorus Benth. – Cyperaceae) sinonim:  Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.

Berasal dari Afrika, dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.  Umbi kecil dan berwarna coklat dikonsumsi sebagai sayuran.

Budidaya:  Gembili dikembang biakkan dengan umbi akar (rhizome) dengan jarak baris 40 x 40 cm.  Tunas ditumbuhkan selama 5 bulan.  Hasil dilaporkan petani Indragiri, Riau yaitu 10 ton umbi segar per hektar.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.ebay.com.au/itm/5-Bulbs-COLEUS-PARVIFLORUS-BENTH-Cooking-Plant-FREE-Phytosanitary-Certificate/400432780958?pt=LH_DefaultDomain_0&hash=item5d3ba7569e

 

220px-Dioscorea_balcanica_BotGardBln310505[1]

Uwi, “Yam” (Dioscorea spp. -  Dioscoreaceae)

3. Uwi, “Yam (Dioscorea spp. – Dioscoreaceae).

Juga dikenal sebagai umbi “gadung” (Sumatera Selatan), merupakan herba tahunan memanjat  dan umbinya baru dapat dimakan bila telah melalui pencucian dan pemasakan sehingga bahan meracun (alkaloid) hilang.  Namun dilaporkan ada jenis “yam” di Sumatera yang tidak beracun.

Budidaya:  tunas umbi atau irisan mata tunas umbi disemaikan di lapangan (in situ).  Tanaman dibiarkan tumbuh hingga daun-daun menguning.  Dilaporkan produktivitas yam adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://en.wikipedia.org/wiki/Dioscorea

http://en.wikipedia.org/wiki/Yam_(vegetable)

 Bengkuang

Bangkuang – Pachyriihizus eosus (l.) Urb.

4. Bangkuang, “yam bean” (Pachyriihizus eosus (l.) Urb. – Legumonosae).

Bangkuang merupakan herba tahunan memanjat berasal dari Amerika Tengah.

Daun, polong, dan biji adalah meracun, tetapi umbi muda dapat dimakan mentah. Tanaman bengkuang tumbuh baik pada tanah gembur, subur dan drainase baik.

Budidaya:  Dikembang biakkan dengan biji yang ditugalkan di galengan atau bedengan sempit. Hasil yang dilaporkan adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/95/Pachyrhizus_erosus_Blanco2.249.png

 

Teks:

Driessen, P.M. dan  Permadhy Sudewo.  – . A Review of Crops and Crop Perfomance on Southeast Asian Lowland Peats.  Soil Res. Inst., Bogor. Bulletin 4.

 

16 JunSOIL-Pohon/Semak Fiksasi N

  

POHON/SEMAK FIKSASI NITROGEN

 

Jenis Pohon/Semak Penambat N dalam Sistem Agroforestri

 

Species epithet – “nama umum” (subfamili, famili) – pusat asal tanaman – penyebaran – penggunaan – deskripsi – botani – ekologi

Pohon/semak penambat (fiksasi) unsur nitrogen atmosferik dalam budidaya tanaman sistem wanatani (agroforestry), Vergara, 1987:

  • Sistem tanaman pagar dan sistem budidaya (Alley cropping and farming systems)
  • Taungya
  • Tanaman campuran (Compound farming)
  • Vegetasi tahunan dalam Strip (Strips of perennial vegetation)

1. Albizia falcataria

1a. Albizia falcataria

1. Periserianthes falcataria (L.) Nielsen.

Indonesia,  Papua Nugini;  tersebar luas di daerah tropika;

Kayu gelondong (s.g. rendah = 0.33), kayu pulp, perbaikan tanah;

Pohon hingga  40 meter;  juga  disebut sebagai Albizia falcataria;

Tropika basah hingga hujan minimum 1000 mm;

Dataran menengah (midland).

Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Jeungjing

2. Acacia mangium

2a. Acacia mangium 

2. Acacia mangium Willd.

Mangium“, “Brown salwood

Australia  Timur Laut, Papua Nugini, Indonesia;

Kayu gelondong, pulp, kayu bakar;

Pohon  hingga 30 meter;  phylloides  besar;

Tropika basah; tahan tanah masam.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Acacia_mangium

3. Gliricidia sepium

3a. Gliricidia sepium

3. Gliricidia sepium (Jacq.) Walp.

Madre de cacao“, “Quickstick” (Papilionoideae, Leguminosae);

Amerika Tengah/Meksiko;  sekarang tersebar luas;

Kayu bakar, kayu gelondong, pelindung, pohon hias, pakan ternak;

(lebih disukai bila dilayukan) dengan DMD tinggi (55%).

Pohon  hingga 15 meter;

Mudah  diperbanyak dengan stek; tumbuh cepat;

Tropika basah hingga mesik sampai ketinggian 1000 meter;

Salah satu legum wanatani terpenting; fleksibilitas pengelolaan tinggi dan adaptasi luas;

Varietas baru memberi harapan perbaikan hasil dan bentuk lebih baik sebagai pohon produksi.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Gliricidia_sepium

4. Leucaena leucocephala

4a. Leucaena leucocephala

4. Leucaena leococephala (Lam.) de Wit.

Leucaena“, “Ipil-ipil“, “Lamtoro“;

Amerika  Tengah,  Meksiko;  tersebar luas;

Pakan ternak (DMD tinggi, 60-70%), kayu bakar, pelindung, kayu pulp, postwood, lumber, sayuran;

Pohon  hingga 20 meter;

Tropika kering hingga mesik;

Tidak tahan masam, tumbuh lambat di dataran tinggi;

diteliti secara luas dan ditanam, cepat tumbuh.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Leucaena_leucocephala

 5. Calliandra calothyrsus

5a. Calliandra calothyrsus

5. Calliandra callothyrsus Meissn.

“Kaliandra” (Mimosoideae, Leguminosae).

Amerika  Tengah  dan Selatan;

Kayu bakar, pupuk hijau, pakan ternak kualitas jelek (DMD 41%), pohon hias;

Semak  hingga  7 meter;

Tropika basah, tahan dingin;

Cepat tumbuh;

Tahan tanah masam, miskin atau alkalin.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Calliandra

6. Erythrina sumbumbrans (2)

6a. Erythrina sumbumbrans

6. Erythrina sumbumbrans (Hassk.)Merrill.

“Dadap duri”.

India, Sri Lanka; berkembang di Asia Tenggara (kecuali Papua Nugini);

Peneduh (kopi), penahan angin;

Pohon  hingga 25 meter;

Tropika  basah dataran rendah, seringkali di rawa;

Digunakan secara luas sebagai penahan angin.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Erythrina_subumbrans

 7. Sesbania grandiflora

7a. Sesbania grandiflora

7. Sesbania grandiflora (L.) Poir.

West Indian Pea Tree“, “Katurai” (Phillipina), “Turi” (Indonesia),”Gallito” (Karibia);

Indonesia dan Australia; sekarang tersebar luas;

Makanan (bunga, polong, daun); pakan ternak (daun); kayu pulp, pohon hias, pohon persemaian;

Pohon  hingga 10 meter;  = S.  formosa  F. Muell;  hidup pendek;  tumbuh cepat;  regenerasi daun lambat;

Tropika mesik (> 1000 mm); tahan genangan;

Pupuk hijau, pakan ternak, serat.

Lihat:  http://www.flickriver.com/photos/adaduitokla/6240494201/

 

Vergara, N.T. 1987. Agroforestry: A sustainable land use for fragile eco-systems in the humid tropics. Pages 7-20. In: Gholz, H.L. (ed.). Agroforestry: Realities, possibilities and potentials. Martinus Nijhoff Publishers, Dordrecht, Netherlands.

Lihat:  http://old.iita.org/cms/details/trn_mat/irg26/irg263.htm

 

13 JunSOIL-Spice Crops

 

 

TANAMAN REMPAH (SPICE CROPS) – CABAI JAMU

 

Budidaya Tanaman Cabai Jamu

 

Pengamat, Foto-foto: Syekhfani

 

Cabe Jawa

 

Cabai Jamu, cabai Jawa, lada panjang, atau cabai saja (Piper retrofractum Vahl. – Piperaceae).  Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600 meter di atas permukaan laut). -> http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe_jawa

Cabai Jamu, tergolong jenis tanaman rempah (spice), sudah sejak lama digunakan untuk berbagai keperluan.

Di Indonesia, cabai jamu banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional (Jamu).

Prospek pengembangan cabai jamu makin cerah sejalan dengan berkembangnya industri obat modern dan kecenderungan masyarakat menggunakan obat-obatan yang berasal dari alam (back to nature).

Namun peluang tersebut belum diikuti peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani, karena usaha tani cabai jamu masih dianggap sampingan sehingga produksi nasional masih rendah, yaitu antara 1.000 – 1.500 kg/ha/tahun. -> http://cabejamumadura.blogspot.com/

 

Budidaya Cabai Jamu:

Syarat tumbuh ->  http://www.slideshare.net/aolenk/budidaya-cabe-jamu

  • Jenis tanah: Andosol, Latosol, Grumusol, Regosol, Podsolik.
  • Tekstur tanah:  liat berpasir, subur, gembur, porous, drainase baik, dengan kemasaman tanah (pH) antara 5.5 – 7.0.
  • Tinggi tempat : 1 hingga 600 meter dari permukaan laut.
  • Curah hujan : 1,200 hingga 3,000 mm per tahun, tanpa bulan kering.
  • Curah hujan minimal 80 mmm per bulan;  tempat terbuka atau agak terlindung (intensitas sinar 50 hingga 75 %).
  • Kelembaban udara : 40 hingga 80 %.

Di lokasi pertanaman cabai jamu rakyat (Bangkalan dan Sampang, Madura), tanaman cabai jamu ditanam pada tanah berkapur (calcareous);  dibudidayakan di seputar rumah dan kebun pekarangan dengan topografi datar hingga berombak.

Lahan upland tampak menunjukkan kondisi kurang air, kelembaban rendah, suhu tinggi dan pH alkalis.

Tampak ada gejala kekurangan unsur K (tepi daun tua mengering mulai dari ujung daun), dan kekurangan unsur Mg (khlorosis antara tulang daun).

 

IMG_0001

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan jenis tanah berkapur (kalkareus)

 

1

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan

3

Tanaman cabai jamu pada tunggak rambatan

2

Daun cabai jamu menunjukkan gejala kekurangan unsur K dan Mg

(unsur K:  ujung daun dan tepi mengering, unsur Mg:  khlorosis antara tulang daun)

05 JunSOIl-Integrated Farming System

BUDIDAYA PERTANIAN TERPADU

(INTEGRATED FARMING SYSTEM)

Budidaya Adat Semende, Muara Enim, Sumatera Selatan

Syekhfani

Suku Semende, yang berada di dataran tinggi Semende, pegunungan Bukit Barisan, wilayah propinsi Sumatera Selatan, mempunyai adat khusus yaitu menganut sistem “Matriarchat” (warisan pihak ibu).

Sistem matriarchat , yang mewarisi “rumah adat” yang disebut “Tunggu Tubang“,  dilakukan menurut garis keturunan pihak anak perempuan. Anak perempuan tertua diberi hak  dan kewajiban mengelola harta warisan turun temurun. Sistem serupa dijumpai pada  adat Minangkabau, Sumatera Barat.

Dalam sistem adat Semende, pemilikan harta warisan turun temurun terdiri dari:

 

1

1. Sawah (luas 1 hingga 3 hektar), di lahan seputar dusun (kampung), meliputi dangau (rumah di sawah), tengkiang  (lumbung padi, di belakang dangau/tidak tampak), tebat (kolam ikan), sawah (tanaman padi), dan kebun campuran (sayuran, buahan, rempah, dan lain-lain).

 

2

3

2. Rumah gudang (rumah induk: tipe dulu dan sekarang), berada di dusun (kampung).

 

Sistem pengelolaan lahan dilakukan secara terpadu (integrated farming system):  padi sawah monokultur (padi varietas “lokal dalam”  umur 6 bulan, satu kali tanam per  tahun;  6 bulan bera), sisa panen (jerami, malai, sekam, dedak)  semua dikembalikan ke lahan, kecuali sebagian untuk pakan ternak unggas:  ayam, itik, bebek.

Ternak ruminan (kerbau, sapi, kambing), memperoleh pakan dari tumbuhan  rerumputan di lahan (galengan, saat bera) atau di sekitar lahan (semak, hutan belukar).

Sisa kotoran ternak unggas dan ruminan diberikan untuk pakan ikan di kolam atau pupuk kandang untuk sawah/kebun.

Dengan manajemen sistem terpadu ini, produksi lahan usaha “berlebih” untuk kebutuhan keluarga besar setiap tahunnya.

Adat Semende tergolong sistem adat yang bersifat “berkelanjutan – sustainable“;  hanya sayangnya, akhir-akhir ini banyak pewaris  adat meninggalkan lahan warisannya  mengikuti arus kemajuan zaman, urbanisasi ke kota-kota besar.

 

23 MaySOIL-Ameliorasi Kebun Durian

 

IMG_0001

 

AMELIORASI KEBUN DURIAN

 (DURIAN GARDEN AMELIORATION)

 

Perbaikan Kondisi Kebun Durian

 

 

Materi/Foto-foto: Syekhfani

 

 

Kebun durian monokultur, ingin diperbaiki (ameliorasi) agar dapat berfungsi sebagai “kebun wisata”  sekaligus “kebun produksi”. Untuk itu, diperlukan pogram khusus dari aspek budidaya.

Upaya perbaikan kebun yang sudah terlanjur monokultur, memerlukan teknologi masukan dari luar (external input technology).

Berdasar tinjauan lapangan (site visit), maka dilakukan rencana kelola lahan (RKL) dan dibuatlah program jangka pendek, menengah, dan panjang.  Evaluasi dilakukan berdasar informasi teknologi yang tersedia (reference).

Reference:

Durian – Durio zibethinus, merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran     -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.

Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Berdasar pada keterangan tersebut, maka konsep manajemen kebun durian perlu mengacu pada habitat aslinya yaitu hutan: yang bersifat diversitas (diversity), siklus unsur hara tertutup (close nutrient recycling), lembab (moist), dan hangat (warmth).

Konsep yang disampaikan untuk bahan pertimbangan, meliputi:

  • Program Jangka Pendek
  • Program Jangka Menengah
  • Program Jangka Panjang

disajikan dalam bentuk slide-slide berikut:

IMG_0002

IMG_0004

Analisis tanah lengkap, untuk mengetahui status unsur hara

IMG_0005

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0006

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0007

Pengendalian hama/penyakit, bila ada gejala terserang

IMG_0008

IMG_0009

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0010

Pertumbuhan vegetatif, perlakuan khusus

IMG_0011

Saat pembungaan, perlakuan khusus

IMG_0012

IMG_0013

Ameliorasi keragaan individual tanaman

IMG_0014

Ameliorasi keragaan lahan kebun

 

Kebun durian:  Mengacu pada sistim alam!

 

04 MaySOIL-Cassava Based Cropping System

   

CASSAVA BASED CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

 Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

 IMG_0009

Cassava (Manihot esculenta) – Aldira 1

  • Cassava (Manihot esculenta) – Euphorbiaceae: ubikayu, ditanam untuk memproduksi ubi sebagai bahan pangan alternatif, tepung tapioka, ataupun pakan ternak.
  • Tanaman ubikayu umumnya ditanam secara monokultur;  menyebabkan kesuburan tanah cepat tergradasi karena tanaman ini banyak menyerap unsur hara dari tanah untuk memproduksi ubi.
  • Karena itu, agar kandungan unsur hara tanah tidak cepat habis, maka dibutuhkan sistem manajemen yang baik.
  • Tumpangsari, merupakan sistem pertanaman polikultur, beberapa jenis tanaman berbeda  ditanam pada waktu bersamaan atau bergiliran.
  • Karena tanaman ubikayu tergolong berumur tahunan (pereneal), ia dapat ditumpangsarikan dengan beberapa jenis tanaman umur pendek (annual).  Sistem tumpangsari dikenal sebagai “cassava based cropping system” (sistem pertanaman berbasis ubikayu).
  • Kombinasi tanaman pereneal dengan tanaman annual, mencegah kompetisi terhadap ruang, medium, unsur hara dan air.
  • Sistem ini telah diteliti secara intensif di lokasi PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara, oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, bekerjasama dengan PTP XXXI/XXXII dan IB-Netherland di tahun 1980-an.
  • Contoh kegiatan penelitian tersebut antara lain disajikan sebagai berikut:

 IMG_0002

Base camp percobaan “Cassava Based Cropping System”

 IMG_0003

Persiapan lahan percobaan

 IMG_0004

Plot:  Cassava monokultur

 IMG_0005

 Plot:  Cassava – Padigogo

 IMG_0006

Plot:  Cassava – Kacang tunggak (Cowpea)

IMG_0007

Plot:  Cassava – Jagung (Zea mays)

 IMG_0008

Plot:  Cassava – Padigogo (setelah Kacang tunggak)

 IMG_0010

 Ubikayu untuk pakan ternak

02 MaySOIL-Medium Pisang Abaca

  

MEDIUM PISANG ABACA  -  BAHAN SERAT

Lokasi (contoh):   PT Perkebunan Bayulor, Banyuwangi, Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

1

Rumpun pisang abaca di kebun

2

Rumpun pisang abaca dan kelopak pelepah daun

4

Kelopak pelepah daun siap diproses menjadi serat abaca

3

5

Rumpun dan batang pisang abaca setelah kelopak pelepah daun dipanen

6

Kelopak pelepah daun setelah diproses menjadi serat abaca

  • Pisang Abaca -  (Musa textiles NEE), merupakan tanaman penghasil serat dari kelopak pelepah daun,  termasuk famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan.  Tumbuh liar di pulau Mindanao (Filipina) dan pulau Sangihe (Indonesia).
  • Tanaman Abaca berasal dari Filipina, dengan pangsa arealnya mencapai lebih dari 95%. Karenanya Abaca disebut sebagai Manila Henep.
  • Karena kuat dan tahan air garam, maka serat Abaca baik untuk industri tali-temali kapal laut dan tali-temali lainnya. Selain itu serat Abaca juga merupakan bahan baku pulp kertas berkualitas tinggi seperti kertas uang, kertas dokumen, kertas cheque, kertas plaster, kantong teh, kertas mimeograph, serta untuk tekstil.
  • Medium:  Tanaman pisang rata-rata dapat tahan terhadap kekeringan, karena batangnya banyak mengandung air. Namun apabila terlalu kekurangan air juga tidak baik pertumbuhannya. Hal ini dapat diatasi bila keadaan air tanah tidak terlalu dalam atau diberi irigasi. Tanah tidak boleh tergenang. Pada tanah bertekstur liat, harus diusahakan drainasenya. Apabila sering tergenang, perakaran tanaman akan busuk dan mudah terserang penyakit.
  • Tanah endapan di pinggir sungai besar sangat baik bagi pertumbuhan tanaman pisang karena membawa lapisan atas tanah yang subur, demikian pula tanah yang mengandung kapur seperti daerah Madura yang berbukit-bukit kapur juga cocok bagi tanaman pisang.
  • Peluang pasar Abaca masih sangat terbuka bagi Indonesia di bidang komoditas ekspor non-migas.

 

22 AprSOIL-Topografi Berbukit

TOPOGRAFI BERBUKIT (HILLY)  –  LAND USE  -  PANORAMA

 

Kawasan (contoh):   Selorejo, Jawa Timur

 (Pengamat/Foto:  Syekhfani)

 

  • Kawasan DAS, dimanfaatkan oleh manusia untuk kehidupan, berupa lahan pertanian, pemukiman, jalan, dan lain-lain.
  • Namun, apabila vegetasi dihilangkan, dapat terjadi erosi, longsor, dan kerusakan lahan, jalan raya, bahkan juga pemukiman.
  • Oleh sebab itu kawasan ini perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan.
  • Panorama yang indah merupakan objek wisata yang menarik.

  12

Panorama:

Pohon tegak menjulang, memberikan keindahan tersendiri.

 

 11

Pohon:

Pinus (Pinus mercusii), ditanam monokultur dengan sistem forestry.

 

 13

Semak:

Vegetasi di bawah pohon, berupa semak rendah atau rumput liar yang dipertahankan untuk mencegah erosi dan ekosistem pinus yang baik.

 

14

 Lahan Kering (upland):

Ditanam dengan sistem terasering, mencegah erosi dan/atau longsor.

 

21

 Lahan Sawah (rainfed/irrigated):

Padi (Oryza sativa), ditanam sitem irigasi atau tadah hujan, tergantung sumber air yang ada.