21 MaySOIL-Transportasi Sungai

  

SUNGAI SEBAGAI SARANA TRANSPORTASI

(RIVER AS A TRANSPORTATION MEDIUM)

 

Contoh:  Sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

 

IMG_0001

 

Foto-foto:  Syekhfani

  

Transportasi sungai – River transportation, termasuk satu dari tiga jenis sarana transportasi umum:  darat, udara dan air.

Trasnportasi air antar pulau, negara dan benua melalui sarana lautan;  sedang antar tempat di daratan pulau, melalui sarana sungai.

Di pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, atau pulau-pulau di mana sungai dapat dilalui perahu, tongkang, atau kapal, maka fungsi utama sungai selain untuk irigasi, industri, inergi listrik, dan lain-lain, populer sebagai sarana transportasi.

Sarana transportasi sungai berkembang sesuai tingkat kebutuhan dan pembangunan daerah setempat dalam hal revitalisasi sosial-ekonomi-budaya daerah.

Salah satu contoh menarik dalam hal transportasi  tradisional hingga modern, yang mecerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya lokal, dijumpai di sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di sungai Mahakam, satu dari tiga sungai besar di pulau Kalimantan (Barito, Mahakam, Kapuas), dijumpai kesibukan rutin luar biasa sehari-hari menggunakan alat transportasi perahu kecil hingga kapal besar (kapal samudra) .

Lebih menarik lagi, terdapat semacam pasar tradisional (traditional market) komplit.  Ada jualan barang peracangan (bahan-bahan dan alat-alat dapur), sayur-sayuran, buah-buahan dan bahkan juga warung makan.

Barang-barang tersebut dijual di tempat atau dijajakan dari rumah ke rumah (door to door).

Pasar tradisional ini, selain menarik dan spektakuler, juga berfungsi sebagai sarana olahraga (sport) dan rekreasi (recreation) yang menyenangkan dan unik.

IMG_0002 (2)

Kapal besar (ships)

 IMG_0002

Kapal angkut barang (carrying boat)

IMG_0003

Ubikayu (cassava roots)

IMG_0004

Bahan sayur borongan (bulk vegetable raws)

IMG_0005

Peracangan (kitchen tools and food raws)

IMG_0006

Nasi bungkus (wrapping rice)

IMG_0007

Soto ayam (chicken soup)

IMG_0008

Menjajakan dagangan dari rumah ke rumah (door to door) menggunakan alat transportasi perahu

01 MaySOIL-Dampak Letusan Gunung Berapi

    

 

DAMPAK LETUSAN GUNUNG BERAPI

 

Survei Pendahuluan

 

Usaha Penanggulangan Dampak Letusan Gunung Kelud

 

Kediri – Blitar – Jawa Timur

 

sebelum anak kelud lahir[1]

Foto-foto: Syekhfani

Kondisi:  Lokasi Bahaya I, II, III, IV, Daerah Aliran Lahar

  • Dari aspek tanah, letusan gunung Kelud di suatu pihak dapat menyebabkan kerusakan karena sifat kesuburan tanah  meliputi fisik, kimia, maupun biologi mengalami perubahan. Di lain pihak dapat menguntungkan segi-segi kesuburan tanah berupa  tambahan bahan pasir atau debu yang mengandung unsur hara.
  • Agar bahan pasir atau debu tidak hilang terangkut oleh air dan/atau angin, maka diperlukan tindakan-tindakan konservasi.
  • Diperlukan pula penelitian-penelitian lebih detail dari aspek status perharaan, biologi, dan konservasi tanah dan air untuk tujuan reklamasi jangka pendek.

 

Hasil Pengamatan Visual di Lapang (survei)

 

1

 Lokasi Bahaya I (dekat puncak)

4

Tanaman kopi (Coffea sp.)

5

Tanaman coklat (Theobroma cacao)

2

Glirisidia (Glyricidia sepium)

3

Flemingia (Flemingia congesta)

 Lokasi Bahaya I

  • Secara visual tampak bahwa areal di seputar puncak menunjukkan tingkat kerusakan paling besar.
  • Vegetasi hutan dan juga perkebunan (kopi dan cengkeh) rusak total, tanpa daun; tinggal batang serta cabang cabang besar.
  • Kerusakan mencapai 85-100 % daun terbakar.
  • Timbunan material mencapai 40 cm berupa bahan pasir kasar dan batu koral yang bertebaran di bagian permukaan tanah.
  • Di lokasi datar, dijumpai lapisan berdebu yang cukup tebal di permukaan (kurang lebih 2 cm), meskipun dari informasi yang diterima telah terjadi hujan lebat beberapa kali.
  • Tampak tanaman berdaun lebar mempunyai kepekaan lebih tinggi; misalnya: pohon kopi yang sama sekali gundul.
  • Tanaman pelindung dari jenis lamtoro (Leucaena leucephala) dan  glirisidia (Gliricidia sepium) relatif tahan dan masih menunjukkan pertumbuhan normal meskipun warna daun menampakkan gejala difisiensi nitrogen.
  • Jenis tanaman lain yang tahan adalah Flemingia congesta yang masih tumbuh segar tanpa perubahan warna.

 

6

 Lokasi Bahaya II (perkebunan, pemukiman)

 Lokasi Bahaya II

  • Di kawasan  ini timbunan  material mencapai ketebalan 20 – 30 cm.
  • Vegetasi kebanyakan masih tanaman perkebunan dan sedikit tanaman pekarangan (kelapa, rambutan, pisang).
  • Kerusakan tanaman kopi dan coklat yang berdaun lebar masih cukup parah meskipun tidak sampai gundul.
  • Daun daun tua masih bertahan tetapi daun muda rusak dan gugur.
  • Besar kerusakan antara 50-75 %.
  • Kondisi perakaran tanaman seperti pada lokasi bahaya I, tapi tanaman kopi, coklat dan cengkeh mulai tumbuh tunas-tunas baru.
  • Kawasan perkebunan di Lokasi Bahaya II ini masih hijau, namun untuk pemulihan  secara maksimal  dibutuhkan  cara-cara yang tepat dalam hal perbaikan  kondisi tanah dan air.

7

   Lokasi Bahaya III (perkebunan, pemukiman)

Lokasi Bahaya III

  • Di sini timbunan material mencapai ketebalan 10-20 cm.
  • Kawasan relatif datar dan didominansi oleh areal tanaman pangan, terutama sawah.
  • Vegetasi lain meliputi kopi, coklat dan tanaman pekarangan (kelapa, rambutan dan lain-lain).
  • Besarnya kerusakan meliputi 30-40 %.
  • Permasalahan utama selain timbul materi yang masih cukup tebal, juga tersumbatnya saluran-saluran irigasi sehingga air tidak dapat dialirkan ke sawah.
  • Menurut informasi dari pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tanaman padi sawah yang pada saat letusan berada pada ke fase berbunga, tidak mengalami hambatan untuk pengisian biji dan tampaknya panen masih bisa dilaksanakan, asalkan turun hujan.
  • Akan tetapi tanaman padi yang pada saat letusan masih berada pada fase vegetatif sangat menderita akibat kekurangan air dan tampaknya panen sama sekali tidak dapat diharapkan.
  • Pihak Perkebunan Penataran (coklat) tampaknya berusaha untuk mengatasi masalah timbunan  materi dengan jalan membuka timbunan di seputar tajuk  pohon.

  9

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase vegetatif

8

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase pemasakan

 Lokasi Bahaya IV

  • Timbunan  materi  hanya berkisar antara 5-10 cm.
  • Vegetasi terutama tanaman semusim (padi dan lain-lain) dan tanaman pekarangan.
  • Padi sawah  pada  kawasan  ini tidak banyak terpengaruh oleh letusan; tetapi tanaman berdaun lebar seperti pisang, kelapa, masih dipengaruhi.
  • Saluran-saluran irigasi masih mudah untuk difungsikan  dan air dapat  mengalir  ke  petak-petak  sawah.
  • Tanaman  padi sawah yang pada saat letusan  berada pada fase vegetatif  dapat terus tumbuh ke fase generatif dan panen tampaknya masih tetap dapat di peroleh secara normal.

  Lokasi Aliran Lahar

  • Lokasi yang terkena aliran lahar, terutama  untuk lahan sawah  cukup  menderita karena sebagian tanaman  padi hanyut terbawa arus.
  • Tanaman padi yang tidak hanyut memperoleh timbunan bahan-bahan material pasir,debu dan batu-batu kerikil sampai koral yang cukup tebal.
  • Di samping itu tampak  pula adanya  timbunan  bahan-bahan organik berupa sisa-sisa cabang dan ranting pohon yang ikut hanyut.
  • Petak sawah yang tidak tertimbun memperoleh limpahan  materi  halus berupa debu atau lempung.
  • Diduga  pengikisan permukaan tanah sepanjang aliran  lahar menyebabkan ikut terkikisnya liat yang kemudian bercampur dengan debu.
  • Hal  menarik  di jumpai pada lokasi sawah yang mendapat timbunan ini adalah bahwa akar tanaman padi dijumpai dalam jumlah banyak di lapisan material.
  • Diduga akar tanaman tumbuh ke atas karena ada rangsangan tertentu di lapisan material tersebut.

  

 Kesimpulan

  • Dari hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa lahan bekas letusan Gunung Kelud perlu diperbaiki baik dari segi tanah maupun tanaman, sesuai dengan tingkat kerusakannya agar fungsi lahan dapat dipulihkan.
  • Bahan timbunan berupa pasir dan debu memberikan kontribusi terutama unsur P dan S.  Agar bahan masukan ini tidak hilang melalui erosi, maka diperlukan tindakan konservasi.

 

→ Baca:   Laporan Survei Lengkap

 

22 AprSOIL-Topografi Berbukit

TOPOGRAFI BERBUKIT (HILLY)  –  LAND USE  -  PANORAMA

 

Kawasan (contoh):   Selorejo, Jawa Timur

 (Pengamat/Foto:  Syekhfani)

 

  • Kawasan DAS, dimanfaatkan oleh manusia untuk kehidupan, berupa lahan pertanian, pemukiman, jalan, dan lain-lain.
  • Namun, apabila vegetasi dihilangkan, dapat terjadi erosi, longsor, dan kerusakan lahan, jalan raya, bahkan juga pemukiman.
  • Oleh sebab itu kawasan ini perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan.
  • Panorama yang indah merupakan objek wisata yang menarik.

  12

Panorama:

Pohon tegak menjulang, memberikan keindahan tersendiri.

 

 11

Pohon:

Pinus (Pinus mercusii), ditanam monokultur dengan sistem forestry.

 

 13

Semak:

Vegetasi di bawah pohon, berupa semak rendah atau rumput liar yang dipertahankan untuk mencegah erosi dan ekosistem pinus yang baik.

 

14

 Lahan Kering (upland):

Ditanam dengan sistem terasering, mencegah erosi dan/atau longsor.

 

21

 Lahan Sawah (rainfed/irrigated):

Padi (Oryza sativa), ditanam sitem irigasi atau tadah hujan, tergantung sumber air yang ada.

 

19 AprSOIL-Flora Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS  –  PENGGUNAAN  –  VEGETASI

 

 Atas – Tengah  –  Bawah

Kawasan (contoh):   Gunung  Semeru, Jawa Timur

(Surveyor:  Syekhfani)

 

imagesCAL83M33

Sumber Air - Gunung

HULU (1)

DAS Hulu

imagesCA7ZJHMZ

DAS Tengah

HILIR

DAS Hilir

  •  Sungai, adalah lambang kehidupan. Ada sungai berarti ada kehidupan, makin besar sungai makin banyak air yang dapat digunakan.
  • Kawasan DAS dimanfaatkan oleh manusia untuk kehidupan:   lahan pertanian, pemukiman, jalan raya, dan lain-lain.
  • Namun, apabila air terlalu besar (banjir), bisa berdampak negatif:   terjadi penggerusan tepi, penghanyutan dan perusakan vegetasi, lahan pertanian, jalan raya, dan bahkan pemukiman.
  • Oleh sebab itu kawasan DAS perlu dijaga, dipelihara dan bahkan diperbaiki agar selalu berfungsi optimal.
  • Sungai bersumber dari hulu (gunung) dan berakhir di muara (laut);  sepanjang alirannya selalu dinamis dan terjadi perubahan-perubahan.
  • Daerah aliran sungai (DAS), menghasilkan vegetasi Flora yang beragam, berbeda jenis dan populasi di hulu, tengah dan hilir.
  • Pengenalan terhadap Flora (dan juga fauna) penting dilakukan untuk mengetahui sifat dan ciri kehidupannya, agar dapat melakukan upaya pelestariannya, termasuk untuk pembudidayaan.

  

Deskripsi lengkap lihat:  Daerah Aliran Atas

17 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Lepas

  

LAHAN BEKAS TAMBANG LEPAS – PASIR BATU – KAPUR –DAN LAIN-LAIN

  

Peruntukan – Pemeliharaan – Perbaikan

 

 Penambangan Pasir Bojonegoro

imagesCALX0UQC

  • Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) – di Indonesia, dimanfaatkan untuk berbagai bidang:  industri, tambang, pekerjaan umum, pertanian, dan sebagainya.
  • Pendayagunaan SDA, ditujukan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat, sesuai aturan perundangan, tetapi juga perlu dijaga jangan sampai merusak lingkungan alam ataupun lingkungan kehidupan, agar SDA dapat bermanfaat dan berlanjut.  Oleh sebab itu, perlu dipelihara, dan diperbaiki bila rusak.
  • Contoh:  jenis tambang lepas (golongan C), yang banyak dilakukan oleh masyarakat di sepanjang tepi sungai (pasir dan batu) atau perbukitan (kapur, batu fosfat alam).
  • Reklamasi, Ameliorasi, Amandemen,  tanah ataupun lahan, merupakan teknik yang dilakukan bila lahan bekas tambang lepas tersebut terlanjur rusak. Diperlukan wacana yang luas dan komprehensif untuk maksud tersebut.

 

 PERUNTUKAN DAN PEMELIHARAAN LAHAN BEKAS TAMBANG GOLONGAN C Syekhfani

 

15 AprSOIL-Sungai Eksotik

 

PANORAMA – SANTAI – BATUAN LAPUK

 

Episode: Di Tepi Sungai Enim

 

Image1


 

Sungai Enim, anak sungai Lematang, anak sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, berhulu di bukit Barisan, dengan panjang kurang lebih 100 kilometer, merupakan sungai yang bermuara di kota Muara Enim, ibu kota kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT). Sungai yang tetap jernih sepanjang hari ini menunjukkan bahwa tepi sungai belum mengalami degradasi (masih berupa hutan belantara),relatif belum tereksploitasi.

 

Image2

  

Image3

 

Image4

 

Tempat Istirahat, karena sepanjang bagian tengah sungai hingga ke muara sejajar dengan jalan utama “lintas Sumatera” Bandar Lampung – Banda Aceh, kendaraan dari berbagai jenis melewati tepi sungai. Perjalanan jauh menyebabkan para penumpang tergelitik untuk istirahat sejenak di tepi sungai yang masih “alami” ini. Istirahat sambil menikmati panorama sungai, kesejukan air jernih dan udara segar sambil menyantap makanan bekal perjalanan.

 

Image5

 

Image6

 

Tebing Eksotik, meskipun sungai Enim berhulu di bukit Barisan (vulkanik), dengan jenis batuan vulkanik yang besar, keras dan berwarna gelap, tetapi setelah berada di bagian tengah hingga muara, sungai duduk di bantaran batuan sedimen lunak (termasuk batu bara di Tanjung Enim, juga dilewati sungai ini). Abrasi tepi sungai memunculkan mosaik batuan lunak yang memberikan pemandangan tebing yang eksotik.

 

Image7

 

Image8

 

Image9

 

Image10

 

Image11

 

Pelapukan Batu Endapan, tampak lapisan-lapisan batuan sedimen lunak tergerus air sungai dan memunculkan lapisan perifer hingga inti batuan;  tergantung bahan pembentuk memberi warna hitam, kuning, merah, atau pun coklat. Menarik untuk dikaji lebih detail sebagai sumber batuan induk tanah yang kaya unsur mineral.

 

Tags: , , ,

07 AprSOIL-Taman Hutan Raya

HUTAN PRIMER – SIKLUS TERTUTUP – FUNGSI

AGROEKOSISTEM DAS HULU (UPPER STREAM)

KONSERVASI LAHAN HUTAN

Fungsi:

  • Tempat Rekreasi
  • Sumber Plasma Nutfah, Biodiversitas
  • Hutan Lindung (penyangga air)
Sistem suksesi hutan primer:
  • Terjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun
  • Sistem daur hara tanah – tajuk pohon bersifat tertutup (closed nutient recycling)
  • Masukan (input) dan kehilangan (output) hara terjadi seimbang
UNSUR HARA DALAM BIOMAS POHON DAN TANAH
Longman dan J enik, 1974:
  • Biomas adalah bagian tanaman meliputi:  daun, kayu (batang, dahan, cabang, ranting), buah, bunga, serasah, dan akar.
  • Unsur hara dalam tanah:  senyawa-senyawa organik maupun inorganik (lapisan atas, 30 cm), sebagai sumber hara pohon.

 

 Komponen

N

P

K

Ca

Mg

Kg/ha

 Biomas

1830

125

820

2520

345

 Tanah

4580

12

650

2580

370

STRATIFIKASI TAJUK POHON HUTAN

  • Sistem perakaran dalam tidak hanya berfungsi sebagai jangkar, tetapi juga mengurangi kompetisi pohon hutan dengan semak terhadap hara di lapisan tanah hutan.
  • Aliran hara berjalan sepanjang waktu. Prinsipnya, tidak boleh ada masa bera tanpa biomas.
  • Perlu ada tanaman hutan yg tahan terhadap kekeringan, atau setidak-tidaknya tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai sumber biomas.
  • Informasi tentang sifat ketahanan tanaman terhadap  kekeringan  dan/atau sifat-sifat ekstrem lain perlu diketahui, tidak hanya jenis pohon tetapi juga semak-semak ataupun tanaman penutup tanah.

PENCEGAHAN KERUSAKAN LAHAN DI BAWAH TEGAKAN HUTAN

NAIR (1987):

1.Spesies pohon, mengendalikan kesuburan tanah melalui:
(a) peningkatan  kandungan Bahan Organik tanah berupa seresah;
(b) efisiensi siklus hara tajuk – tanah terus menerus;
(c) keuntungan  dari fiksasi N ataupun P secara biotik;
(d) pemompaan hara  tercuci oleh perakaran dalam;
(e) interaksi  berbagai spesies komponen dalam sistem menghasilkan diversifikasi sumber hara;
(f) efisiensi serapan hara oleh spesies berbeda pada  zone perakaran pohon yang berbeda, dan
(g) pengaruh buffer Bahan Organik terhadap reaksi tanah yang ekstrim,  sehingga pola ketersediaan hara menjadi baik.
2. Perbaikan  status  Bahan Organik tanah dapat meningkatkan aktivitas mikro organisme tanah dalam sistem perakaran, sehingga biologi tanah menjadi baik;
3. Pemasukan  tanaman  pohon  dan  berkayu dalam jangka lama dapat memperbaiki kondisi fisik tanah, seperti: permeabilitas, kapasitas penahanan air, stabilitas agregat,  dan  kondisi suhu tanah;
4. Peranan  pohon  terhadap konservasi tanah dan pengontrol rosi  berpengaruh   menguntungkan:  antara lain lahan dari aliran  ekosistem akuatik, daur hara dan cadangan air; dan

5. Pengaruh pohon terhadap sifat-sifa hidrologi,  secara mikro di lahan dan makro pada level regional. Sifat-sifat hidrologi suatu area tangkapan (catchment area) memberikan kondisi yang baik bagi keberadaan pohon.

Taman Hutan Raya – Dijaga – Dilestarikan!