29 AugDilema Alih Fungsi Lahan di Pedesaan

Alih Fungsi Lahan Basah ke Kering

MENGAPA TERJADI?

Teknik – Sosial – Ekonomi

Syekhfani

Alih fungsi lahan di pedesaan merupakan suatu dilema sehubungan dengan berbagai faktor: teknis, sosial dan ekonomis. Alih fungsi lahan dalam tulisan ini ditujukan dalam artian sempit, termasuk pemilihan jenis komoditi tanaman budidaya (sawah sebagai lahan berfungsi utama memenuhi kebutuhan pangan pokok beras beralih pada kebutuhan non-beras).

Teknis:

Sebagai contoh konkrit adalah akibat kerusakan jaringan irigasi lahan sawah yang sulit diatasi, menyebabkan lahan di kawasan irigasi tersier misalnya, tidak dapat memperoleh air yang cukup.

“Sawah saya selalu bermasalah kekurangan air, sehingga produktivitas padi sawah menurun sampai ke tingkat tidak menguntungkan”, keluh petani ..”dan saya sulit mengatasinya”.

“Karena itu, terpaksa saya alihkan ke tanaman palawija dan hortikultura”, lanjutnya.
Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/08/drought-impact/

Sosial:

Di pihak lain, kemajuan IPTEK menyebabkan anak-anak dan remaja di pedesaan melakukan urbanisasi ke kota (cari ilmu dan pengalaman); yang akhirnya tidak mau kembali ke desa yang dianggap kehidupan statis dan membosankan.

Keengganan para remaja sekolahan untuk kembali ke desanya, menyebabkan desa kekurangan petani muda mnggantikan orang tuanya yang makin berumur dan makin berkurang tenaganya. Oleh karena itu lahan yang digarap semakin sempit dan bera semakin luas.

Alternatif yang terjadi adalah lahan padi sawah dialihkan menjadi lahan non-padi seperti kopi, kakao, dan lain-lain.

“Saya merantau mencari ilmu ke kota, melanjutkan sekolah ke Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi; setelah saya memperoleh gelar sarjana (pertanian), sulit mendapat tempat di desa untuk mempraktekkan ilmu tersebut. Suatu pihak, saya dianggap ingin merebut bidang kerja masyarakat desa, dan di lain pihak sarana-prasana yang tidak menunjang” jelas seorang pemuda desa yang jadi sarjana.

Ekonomi:

Keuntungan yang diperoleh dari budidaya tanaman padi sawah relatif rendah dan bersifat subsisten. Petani yang mempunyai pemikiran makin kritis dan berkembang, merasa harus berani pindah ke komoditas non-padi sawah (kebun, hortikultura).

“Kalau saya menanam padi sawah, maka nasib saya tidak akan berubah seperti pada nenek moyang saya turun temurun. Hanya bertahan hidup sekeluarga sebagai petani, meski kerja keras. jadi, saya harus berani berubah”, kata petani yang pemikirannya mulai berkembang.

“Oleh karena itu, saya beralih dari budidaya tanaman padi sawah ke kebun kopi, karena harga kopi lebih tinggi. saya bisa beli beras lebih banyak dari hasil penjualan kopi”, kilahnya.

Dinamis itu Hidup, Kemajuan dan Perubahan. Jadi, kalau mau maju harus berani melakukan perubahan!