23 MarSuksesi Ilmu Pengetahuan

bayi-pintar

DARI TIDAK-TAHU, JADI TAHU, AKHIRNYA MENJADI ILMU-PENGETAHUAN

Alur Pikir Filsafat Sederhana

Syekhfani

Manusia, dilahirkan di dunia sebagai Bayi, dalam keadaan polos segalanya, termasuk polos otaknya, alias belum bisa berpikir.

Dalam perkembangan fisik dan mentalnya, maka melalui anugerah “panca-indra”, mulailah sang Bayi belajar meraba, melihat, mendengar, membau, dan merasakan apa yang ada di sekelilingnya.

Aktivitas tersebut, kemudian melalui syaraf-otak diolah dan direspon, dibantu oleh ketajaman “naluri”, lalu di ekspresikan dalam bentuk “sifat-nafsu” yang bepasangan antagonis (senang-marah, setuju-protes, dsb.).

Lihat: → https://saripedia.wordpress.com/tag/cara-kerja-otak-bayi/

Ekspresi sederhana sang Bayi berupa: tangis, tawa, senyum, gelisah, tenang, dan lain-lain, selalu dimonitor oleh Ibu, sebagai individu terdekat selain Ayah, dan keluarga lainnya.

Merekalah orang pertama yang memberi “ilmu” dan “pengetahuan”, dari “tidak-tahu”, jadi “tahu”, dan akhirnya menjadi “ilmu-pengetahuan” yang lengkap.

Belajar bicara dari potongan kata, kata, kalimat: ta ta ta, ba bi bu, pa ma, papa mama, ini Budi, ini Ibu Budi… dst.

Selanjutnya, kelengkapan, bentuk dan warna ilmu pengetahuan seseorang adalah merupakan hasil interaksi dengan lingkungan informal dan formal.

Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/02/17/soil-bahan-diskusi/