16 FebEvaluasi Diri

Evaluasi Diri

APAKAH PERLU ADA PENILAIAN DIRI?

Wacana – Filosofi

Syekhfani

Harga diri*),

Apakah diri saya harus dihargai? Berapa nilainya? Apa gunanya?

Kalau saya dihargai, apa senang, gembira, bahagia?

Sebaliknya, kalau saya tidak dihargai: apa tidak senang, marah, tersinggung, atau dendam?

Andaikan seseorang yang menunjukkan sikap menghargai saya “apa adanya” atau “berlebihan”, apa saya yakin itu ikhlas menghargai, atau hanya basa-basi?

Dalam evaluasi proses “belajar-mengajar”, mahasiswa diminta mengevaluasi dosen “mengajar”, dari berbagai aspek.

Mahasiswa memberi nilai mutu A, B+, B, C+ … dst

Apakah sang dosen yang dinilai itu akan “mawas diri” atau akan melakukan “evaluasi diri”?

Lalu, apa mahasiswa yang menilai itu juga tidak perlu “mawas diri” atau “evaluasi diri”?

Kalau dosen dievaluasi, apakah juga mahasiswa tidak memerlukan evaluasi?

Bagaimana dengan fasilitas, sarana, dan prasarana belajar mengajar?

Dalam “ETIKA PROFESI”, dikenal istilah etika, norma, dan jati diri.

Etika profesional, mengenal adanya keseimbangan, keadilan, dan keikhlasan, dalam hubungan segitiga “ManusiaLingkungan (alam)Sang Pencipta“.

Kesimbangan menuju “KEADILAN, KEBAHAGIAAN“.

*)Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/11/09/harga-sebuah-diri/

09 NovHarga Sebuah Diri

Harga Diri

ANTAGONISME DALAM PENILAIAN

Puisi

Syekhfani

Rendah diri, minder, tak percaya diri, tak disukai

Merendahkan diri, itu sombong “terselubung”?

Apakah tinggi diri harus dijauhi?

Tapi orang tinggi diri itu biasanya dipuji dan dihormati!

Mengapa?

Dia mumpuni

Dalam hal ilmu dan teknologi

Berguna dalam hidup dan kehidupan

Dan hormat itu datang sendiri

Namun dia ‘tu tinggi diri, tapi rendah hati

Bahkan dia s’lalu mengajak

‘Tuk membangun rasa kebersamaan

Sense of ownership

Sama-sama menuju

Ridho Ilahi..

http://id.wikipedia.org/wiki/Harga_diri

Puisi Awal November 2014