27 JunTropical Rainforest (CEF)

Posted by: CEF-CONCERVE ENERGY FUTURE

Tropical-Rainforest

Rainforest is described as tall, hot and dense forest near the equator and is believed to be the oldest living ecosystems on Earth which gets maximum amount of rainfall. If you don’t know too much about tropical rainforests, then you will probably be surprised to find that there are a few little known facts out there about them.

This type of habitat is very different, in comparison to many of the other habitats that you are used to being around. Here you will find some important facts about the tropical rainforest that you may not have known previously.

Below are 35 facts on Tropical Rainforests:

Fact 1: Rainforests only cover around 2 percent the total surface area of the Earth, but really about 50 percent of the plants and animals on the earth live in the rainforest.

Fact 2: Rainforests are the forests that receive high amount of rainfall.

Fact 3: You can find rainforests in many countries, not just in South America. They can be found in Alaska and Canada, as well as Asia, Africa and Latin America.

Fact 4: Rainforests are found on all of the different continents, except for Antarctica because it is far too cold there for the environment to be conducive.

Fact 5: There are two different types of rainforests, and they include both temperate and tropical. The tropical rainforests are the ones that are most commonly found around the world.

Fact 6: Rainforests help to regulate the temperatures around the world and the weather patterns as well.

Fact 7: A fifth of our fresh water is found in tropical rainforests, the Amazon Basin to be exact.

Fact 8: Rainforests help to maintain our supply of drinking water and fresh water, so they are critical in the sustainability of the earth.

Fact 9: About 1/4 of natural medicines have been discovered in rainforests.

Fact 10: Within four square miles of tropical rainforest, you will find 1500 flowering plant species, 750 types of trees, and many of these plants can be helpful in combating cancer.

Fact 11: 70% or more of the plants that are used to treat cancer are found only in the tropical rainforests on the planet.

Fact 12: Over 2000 types of plants that you find in the rainforest can be used to help aide in cancer treatment because they have anti cancer properties.

Fact 13: The Amazon rainforest is the largest tropical rainforest in the world.

Fact 14: Less than one percent of the species of plants in the tropical rainforests have actually been analyzed to determine their value in the world of medicine.

Fact 15: Rainforests are threatened each and every day, especially by practices such as agriculture, ranching, logging and mining.

Fact 16: There were around 6 million square miles of rainforest in the beginning, but now because of deforestation, there are really only less than half of that still found in the world.

Fact 17: If the rainforests continue to decline in the way that they have been, then about 5-10 percent of their species will go extinct every ten years.

Fact 18: 90% of the worlds forests are in the underdeveloped or developed countries around the world.

Fact 19: Every second there is part of the rainforest that is cut down. In fact, you probably lose over 80,000 football fields worth of rainforest each and every day.

Fact 20: There are a lot of different types of animals that can be found in the rainforest, and most of them cannot live anywhere else because they depend on the environment of the rainforest for their most basic needs.

Fact 21: About 90% of 1.2 billion people living in poverty worldwide depend on rainforests for their daily needs.

Fact 22: A lot of the oxygen supply that we have throughout the world is supplied by the tropical rainforests, even though they are miles and miles away. This may come as a shock to some people.

Fact 23: The average temperature of the tropical rainforest remains between 70 and 85° F.

Fact 24: Timber, coffee, cocoa and many medicinal products are few of the products produced by rainforests, including those used in the treatment of cancer.

Fact 25: Rainforests are constantly being destroyed by multinational logging companies, land owners and state government to make way for new colonies, industrial units.

Fact 26: Trees in tropical rainforests are so dense that it takes approximately 10 minutes for the rainfall to reach the ground from canopy.

Fact 27: About 80% of the flowers found in Australian rainforests are not found anywhere in world.

Fact 28: More than 56,000 square miles of natural forest are lost each year.

Fact 29: Insects make up the majority of living creatures in the tropical rainforest.

Fact 30: Due to large scale deforestation worldwide, only 2.6 million square miles remain.

Fact 31: A slice of rainforest, approximately equivalent to size of rainforest is destroyed each second which is equivalent to 86,400 football fields of rainforest each day which is equal to 31 million football fields of rainforest each year.

Fact 32: Variety of animals including snakes, frogs, birds, insects, cougars, chameleons, turtles, jaguars and many more are found in tropical rainforests.

Fact 33: At the current rate of depletion, it is estimated that 5–10 percent of tropical rainforest species will be lost per decade.

Fact 34: Most of the tropical rainforests, approximately 57 percent, are located in developing countries.

Fact 35: About 70% of the plants identified by the U.S. National Cancer Institute which can be used in the treatment of cancer are found only in rainforests.

How much money can a solar roof save you in Indonesia?

Roof Space

Profit from your roof space: find local deals on solar in your area, eliminate your power bill, and join the solar revolution.

http://www.conserve-energy-future.com/various-tropical-rainforest-facts.php

Supplement:
In Indonesia known phrase: “Ijo Royo Royo, Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerta Raharja, Emerald of Equator” (Syekhfani)

08 DecSOIL-Langka tapi Mudah, Berlimpah tapi Susah?!


unduhan

 

LANGKA TAPI MUDAH, BERLIMPAH TAPI SUSAH?!

 

Ada apa sebenarnya?!

 

Renungan: Syekhfani

 

Batu permata itu indah, warna-warni, sulit dicari, tidak dijumpai di semua tempat, LANGKA. Anda kepingin??

Ayo pergi ke toko permata, semua ada, tinggal pilih.

Harga?? Dari paling murah hingga paling mahal… Ada!!

Langka tapi mudah!

 

Nitrogen, 80 persen volume atmosfer terisi oleh gas nitrogen (N2), BERLIMPAH; penyusun khlorofil (bersama C, H, O, dan Mg). Semuanya dibutuhkan untuk hidup dan kehidupan!

Tetapi…  gas N2 tidak dapat langsung diambil oleh  makhluk hidup primer (tumbuhan), terlebih dulu harus melalui mekanisme khusus, diubah menjadi senyawa amida (reduksi) atau nitrat (oksidasi).

Reduksi dilakukan oleh mikroorganisme fiksasi N2 biologis, oksidasi oleh Petir;  baru tersedia dan dapat digunakan oleh makhluk primer (tumbuhan).

Selanjutnya, makhluk primer (tumbuhan) dikonsumsi oleh makhluk sekunder (hewan);  dan   tumbuhan dan hewan dikonsumsi oleh makhluk tersier (manusia).  Lihat:  SOIL:  Memakan dan Dimakan.  Lengkaplah hidup dan kehidupan di dunia ini…

Berlimpah tapi Susah!

 

Apa makna itu semua??!

Tuhan Maha Pencipta dan Maha Tahu,

Melakukan itu semua!

Mengapa?

Apa kamu berpikir?!

…………………………………….

Artinya??

Agar kita menggunakan otak dan kemampuan berpikir yang diberikan olehNya untuk mengungkap artinya!

Untuk menjawab pertanyaan:  apa kamu berpikir??

Apa kesimpulannya??

Fakta bahwa:

Tuhan itu MAHA PENCIPTA DAN MAHA MENGETAHUI!!

…………………….

Bagi yang mau berpikir?!

Berlimpah tapi Susah ~ kebutuhan primer!

Langka tapi mudah ~ kebutuhan sekunder!

Fakta bahwa:

Tuhan itu MAHA  ADIL DAN  BIJAKSANA!

Apa kamu dustakan?!

……………………………………………….

 

06 DecSOIL-Atribut Tanah Masam

 Spark

ATRIBUT TANAH MASAM

(ACID SOILS ATTRIBUTE)

 

Sifat Mineralogi ~ Sifat Fisiko-Kimia

 

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Tanah masam punya atribut khusus, dari sifat  mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah. Dengan mengetahui sifat mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah, kita bisa menduga jenis tanah masam tertentu.

Secara lebih jelas, sifat-sifat yang dimaksud dapat disimak berikut ini:

 

Muatan Liat Permanen:

1. Bentuk muatan permanen tanah masam:

Dimulai dari Molisol, ion terakumulasi hingga mencapai konsentrasi ambang  + 10-3 mol (pH 5) hingga melepas Al.

Inkorporasi H+ masuk ke dalam struktur kristal menaikkan pH larutan tanah menjadi OH-Al terpolimer atau terkompleks.

Polimerisasi AlOH menetralkan muatan permanen liat. Juga, ukuran polimer masif mencegah penggantian oleh kation lain.

Bila terdapat suatu lempeng kontinyu Al-hidroksida, kemudian terjadi polimer maka akan terbentuk lempeng-lempeng yang komplit.

Muatan KTK-efektif bersih tanah menurun dengan pencucian, atau pencucian asam meningkat dengan perlakuan pengapuran (liming).

Muatan KTK bersih  tanah adalah konsekuensi muatan negatif konstan di permukaan kristal liat secara parsial menjadi netral oleh lempeng-lempeng  AlOH yang bervariasi dalam muatan positif seperti penambahan  jerapan ion OH dari reaksi kapur (lime), atau hilang melalui netralisasi dengan H+. Pada titik ini, selanjutnya kita bisa memperoleh Alfisol tipik.

Dengan lebih banyak pencucian dan peningkatan konsentrasi ion H, asiosiasi hidroksil dengan ion Al menetralkan  Al3+ sebagai bentuk dominan kemasaman dapat dipertukarkan.

Dengan meningkatnya pelapukan, secara praktikal tidak dijumpai adanya liat tipe 2:1 yang mempunyai muatan permukaan dalam untuk polimerisasi OH-Al;  seperti dijumpai pada Ultisol dan Oksisol.

 

2 dan 3. Tipe dan kristalitas liat:

Perpindahan gradual K dari ilit memberi kesempatan terjadi pengembangan smektit (atau vermikulit) dan pemunculan kontaminan antar lempeng yang memungkinkan terjadi polimerisasi. Pelapukan berikutnya dan berpindahnya silikat menyebabkan rusaknya liat tipe 2:1 dan dimulainya sintesis liat tipe 1:1(kaolinit).

Masih dalam hal pelapukan lanjut semua silikat meninggalkan beberapa residu  hidroksida Fe dan Al yang merupakan bentuk utama liat kaolinit.

Secara alami mineral liat kristalin hancur dan hidroksida amorf terakumulasi; jelas, bentuk karakteristik X-ray memberi jalan lurus menjadi senyawa kristalin.

 

4. Kapasitas Tukar Kation:

Kapasitas tukar kation (KTK) total tanah secara proporsi kasar menunjukkan  konsentrasi bahan organik (BO) dan liat, khususnya liat mengembang.

Begitu KTK  tanah muda meningkat, maka: (a) K terlapuk dari liat mikaseous memungkinkannya mengembang, dan (b) proliferasi tanaman memproduksi BO dalam tanah.

Bagaimanapun, akumulasi OH-Al dan  polimerisasi pada permukaan internal liat atau terkompleks oleh grup COOH dari BO, menyebabkan KTK efektif menjadi rendah. Dengan hancurnya atau tidak aktifnya tapak pertukaran bahan organik, maka KTK  efektif bisa menjadi nol.

Pada pihak lain, peningkatan gradual hingga jelas dalam hidroksida liat menambah peningkatan kapasitas tukar anion (KTA).

Sejak muatan negatif bergantung-pH pada BO maupun hidroksida liat adalah tinggi, dan muatan permanen efektif liat tanah tropika relatif rendah, maka proporsi muatan bergantung-pH  dari KTK total, membedakan tanah yang berkembang di tropika atau  temperat.

 

5. Kejenuhan Basa:

Kejenuhan basa (Ca).

Sejak proses pelapukan mencuci Ca dan kation basa dari tanah, tanah berkembang menjadi lebih masam, tercatat penjenuhan KTK dengan basa-basa menurun.

Hubungan terbalik antara Ca + Mg dapat dipertukarkan, atau basa total, dan Al tertukar banyak dilaporkan.

 

6. Tendensi fiksasi P:

Begitu pelapukan berkembang melepas Al dan Fe dari posisi relatif tidak terjangkau dalam kristal mineral ke posisi dapat dijangkau dalam larutan, pada tapak jerapan, atau muncul di permukaan; maka ion Al dan Fe bereaksi dengan P larut membentuk senyawa relatif tidak larut.

Bagaimanapun, sekali Al dan Fe lepas dalam jumlah banyak dan menutup seluruh permukaan terbuka partikel butir, kapur mungkin tidak mempunyai pengaruh baik pada ketersediaan P yang diikat.

 

7. Pelepasan Kalium:

Tendensi pelepasan kalium.

Bahan induk mengandung liat mikaseous secara umum mempunyai kemungkinan melepas K dalam jumlah banyak dari bentuk K-tidak dapat dipertukarkan selama proses pelapukan. Begitu tinggal sejumlah kecil liat mikaseous, tercatat sedikit tipe liat mengandung K untuk dilepas.

Bagaimanapun, di bawah kondisi tropika di mana konsentrasi ion H dan suhu meningkat, dan K melapuk dari mineral primer relatif lebih banyak, maka pengembalian K dari residu tanaman, membantu mengisi kembali suplai K tanah secara cepat.

 

8. Stabiltas Struktur:

Pelapukan relatif struktur horizon permukaan kurang lebih berdasar stabilitas granulasi agregat dengan Ca- dan BO.

Stablitas struktur ini dipacu oleh pembudidayaan intensif, erosi, pencucian, pemindahan residu, dan/atau pengapuran yang mengeluarkan Ca dan BO  reaktif dari dalam tanah.

Bila Al dan Fe larut dalam proses pelapukan banyak, maka agregat menjadi stabil oleh terbentuknya komplek-Fe dan Al oleh oksida atau hidroksida.

Tanah yang mengalami pelapukan intermediat secara  kontinyu, cenderung mengarah terbentuknya struktur tidak stabil, karena  kejenuhan Ca tinggi menggantikan posisi  kompleks Fe atau Al dalam bentuk stabil.

Dari  Text:  Sparks, Donald. L.  1995. Environmental Soil Chemistry.  Academic Press (revised:  January, 1998).

 

→ Lihat: Environmental_Soil_Chemistry_Donald_L_Sparks.

 

30 NovSOIL-Land Capability and Land Suitability

   

LAND CAPABILITY AND LAND SUITABILITY

(KEMAMPUAN LAHAN DAN KESESUAIAN LAHAN)

  

Lahan:  Tanah – Tanaman

 

Syekhfani

 

1

 

Seorang Bapak baru saja membeli sebidang tanah,  dia ingin memilih profesi menjadi seorang petani karena merasa itu yang paling cocok baginya menjalani sisa hidup (dia baru saja memasuki masa pensiun dari perusahaan/instansi yang dia geluti selama ini).

Setelah tanah untuk budidaya pertanian itu diperoleh, dia bingung menentukan jenis tanaman apa yang akan diusahakan. Lalu dia menemui penulis.

…..

+Bapak: Selamat siang Prof, boleh saya mengganggu?

-Penulis: Selamat siang Pak, mari silahkan.

+Bapak:  Prof, saya punya sebidang tanah yang ingin saya tanami. Tapi saya bingung, ditanami apa?

-Penulis:  Bapak ingin memperoleh apa?

+Bapak: Saya ingin tanaman tersebut menyenangkan, menghasilkan, menguntungkan dan bermanfaat bagi kehidupan saya yang sudah pensiun ini.

-Penulis: Ooo… tanaman tersebut seharusnya indah, berproduksi, laku dijual dan menguntungkan.

+Bapak: Iya, iya… itu yang saya maksud, Prof.

-Penulis: Ehm, mungkin… jenis komoditi “hortikultura” dapat memenuhi harapan Bapak.

+Bapak: Lalu, Prof, bagaimana cara menentukan jenis komoditi hortikultura yang sesuai dan cocok tersebut?

-Penulis:  Secara teoritis, untuk penerapan teknologi budidya pertanian, dikenal dua hal yang menjadi pertimbangan dasar: Land Capability dan Land Suitability (Kemampuan Lahan dan Kesesuaian atau Kecocokan Lahan sebagai medium tempat tumbuh akar Tanaman).  Tanaman, adalah makhluk hidup yang seperti manusia dan hewan, kalau bisa dia akan memilih tempat hidup yang sesuai dan cocok baginya.

+Bapak: Apa yang menjadi acuan, Prof?

=Penulis:  Secara filosofis ada kata kuncinya.

+Bapak: Apa kata kuncinya?

-Penulis: Pelajari “Sifat dan Ciritanaman dan “Sifat dan Ciritanah.

+Bapak: Saya kurang mengerti.

-Penulis: Kalau tanaman bisa bicara, maka ia akan menyatakan syarat tanah yang sesuai atau cocok sebagai medium pertumbuhannya.  Demikian pula, kalau tanah bisa menjawab pertanyaan tanaman, maka dia akan menjelaskan apa kekurangan (ke-tidak sesuai-an atau ke-tidak cocok-an) atau kelebihan (ke-sesuai-an atau ke-cocok-an) nya. Artinya, tanah menunjukkan ke-mampu-an atau ke-tidak-mampu-annya untuk dapat memenuhi syarat pertumbuhan tanaman tersebut;  atau sebaliknya, tanaman tersebut harus bisa beradaptasi dengan kondisi tanah yang akan ditanami.

+Bapak: Kalau sulit, bagaimana solusinya?

-Penulis:  (1) Cari tanaman yang sesuai dan cocok dengan kondisi tanah, atau (2) perbaiki tanah tersebut agar menjadi sesuai dan cocok untuk pertumbuhan tanaman.

+Bapak: Apakah keduanya bisa dilakukan?

-Penulis:  Secara teori bisa, dan IPTEK-nya insya Allah sudah ada.

+Bapak:  Alhamdulillah, kalau begitu.  Terima kasih banyak atas penjelasannya, Prof. Saya akan mempertimbangkan jenis komoditi yang sesuai dan cocok atas saran Profesor.  Bolehkan saya konsultasi lagi nanti?

-Penulis: Sama-sama, dengan senang hati saya akan mencoba membantu, semoga Bapak sukses!

+Bapak: Amiiin, semoga!

 

0

Lihat (contoh):   land_capability_study

  

20 NovSOIL-Sumber Alternatif Pupuk Organik

  

SUMBER ALTERNATIF PUPUK ORGANIK

(THE ALTERNATIVE SOURCE OF ORGANIC FERTILIZER)

 

Syekhfani

 

SUMBER ALTERNATIF PUPUK ORGANIK

 

Dalam kelas “Teknologi Pupuk dan Pemupukan” (TPP), dosen menjajagi pengetahuan mahasiswa tentang sumber pupuk organik:

Dosen: “Dari berbagai sumber pupuk organik, sumber apa menurut anda yang terbaik?”

Mahasiswa:  “Pupuk kandang, Prof.”

Dosen: “Apa alasannya?”

Mahasiswa: “Pupuk kandang berfungsi ganda  (“multi purpose”), memperbaiki sifat Fisika, Kimia dan Biologi tanah”

Dosen: “Dari berbagai jenis pupuk kandang, mana yang terbaik?”

Mahasiswa1): “pupuk kandang ayam

Mahasiswa2): “pupuk kandang sapi

Mahasiswa3): “pupuk kandang kambing

Dosen: “Apa iya…??”

Mahasiswa: “Bagaimana yang benar, Prof?”

Dosen (1): “Ayam, pemakan bebijian…”, “Sapi, pemakan rerumputan…”, “Kambing, pemakan dedaunan perdu/pohon muda…”

Dosen (2): “Bebijian, kaya senyawa protein (unsur N, S, P);  rerumputan, kaya senyawa  selulose (sukar lapuk);  dan dedaunan muda, kaya senyawa glukose/sukrose (mudah lapuk)”

Dosen (3): “Artinya:  bebijian, untuk perbaikan sifat kimiarerumputan, untuk perbaikan sifat fisika, dan dedaunan muda, untuk memperbaikan sifat biologi…”

Mahasiwa: “Ooo.. begitu, Prof?”

Dosen: “Iya, kurang lebih begitu… Oh ya, bagaimana dengan pupuk (maaf).. “kotoran manusia?”

………………….

Dosen: “Ini akan kita bahas minggu depan!” → lihat (sebagai bahan): Human-waste-could-be-biofuel

Mahasiswa: “…??!”

 

01 SepSOIL-Teknologi Pupuk Organik

pupuk-organik-granul1

 

TEKNOLOGI PUPUK ORGANIK ~ ORGANIC FERTILIZERS TECHNOLOGY

  

Konsep׃ Syekhfani

 

Pupuk organik, disinyalir merupakan prasarana kunci dalam pengelolaan produksi pertanian yang aman, akrab lingkungan dan berkelanjutan.

Apa yang perlu disiapkan seseorang bila ia ingin memproduksi pupuk organik?

Berikut adalah butir-butir yang diperlukan dalam menyusun rencana operasional.

 

Konsep Dasar׃

Kompos ~ Pupuk prganik – bersifat sebagai Soil amandement &  ameliorant.

Soil amandement  & ameliorant  - tata udara, air dan hara untuk kehidupan tanaman melalui  perbaikan sifat Fisik, Kimia & Biologi tanah.

 

Sumber׃

Sumber Bahan Anorganik Alami

  • Batuan induk (Batu Fosfat Alam, Zeolit, Kalsit, Dolomit, Leonardit, Salpeter Cili, dan lain-lain).

Sumber Bahan Organik Alami

  • Humus, kompos, seresah, pupuk hijau, kotoran kelelawar, kotoran burung walet, kotoran binatang liar.

Sumber Bahan Organik Rekayasa

  • Kompos, pupuk kandang (Pukan), pupuk hijau, jerami sisa panen, sekam, arang, dan lain-lain.

 

Komposisi dan Perhitungan Mutu Pupuk Organik׃

  • Contoh
Bahan Baku (%)  →

N

P2O5

K2O

~

N

P2O5

K2O

Pukan Sapi  30%

1.4

2.3

3.4

~

0.4

0.7

1.0

Pukan Kambing   30%

4.3

1.6

4.6

~

1.3

0.5

1.4

Pukan Ayam 20%

2.2

12.3

3.3

~

0.4

2.5

0.6

Tithonia  20%

1.7

1.6

2.1

~

0.3

0.3

0.4

 

Mutu Pupuk Organik ~  2.4 ׃ 4.0 ׃ 3.8

 

Kapasitas Mutu (indikator dan parameter)

  • Kadar unsur hara (Makro׃  N, P, K, Ca, Mg, S  Mikro׃  Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Cl)
  • Mutu Fisiko-Kimia:  BO, KTK, KPA, KA, pH, rasio C/N.
  • Mutu Biologi : Rhizobium, Trichoderma, Pseudomonas, Mikorhiza, dan lain-lain.

 

Validasi dan Akurasi׃

  • Analisis Laboratorium
  • Analisis Ekonomi
  • Percobaan Rumah Kaca/Lapangan.

 

Paket Teknologi׃

  • Prinsip Dasar dan Metode.
  • Mineralisasi, dekomposisi, transformasi.
  • Metode pembuatan kompos/bahan mineral.
  • Metode pencampuran bahan.
  • Packaging/labelling.

 

Standardisasi dan Sertifikasi׃

  • Regulasi pemerintah/profesi.

 

Implementasi׃

  • Paten dan Ijin beredar.
  • Sosialisasi ke Petani.

 

Pengelolalaan׃

  • Sistem Pengelolaan Terpadu:  budidaya, perharaan, pengendalian OPT;  pertanian – kehutanan – peternakan – perikanan.
  • Sistim Masukan Rendah:  daur ulang sisa panen, masukan BO sekitar lahan, masukan sisa ternak. penanaman ppk hijau.
  • Komposisasi Tingkat Petani: materi kompos, metode pengomposan, penggunaan ‘biofertilizer’, penggunaan ZPT/enzim/antibiotik.

12 JulSOIL-Klasifikasi Sistem Agroforestri

 

KLASIFIKASI SISTEM AGROFORESTRI

(IITA)

 

Ada tiga kelas Sistem Agroforestri, yaitu:

Agrosilvicultural: tanaman dan tanaman keras berkayu.

Silvopastoral: padang rumput/hewan dan tanaman keras berkayu.

Agrosilvopastoral: tanaman, padang rumput/hewan dan tanaman keras berkayu.

 

Sistem Agrosilvicultural:

Pengembangan sistem budidaya, pertanaman lorong, pertanaman bertingkat, pohon peneduh  perkebunan; kebun campuran; tumpang sari; shelterbelts.

 

Sistem peternakan hutan:

Bank Fodder (serbaguna, legum polong pakan ternak dan tumbuhan semak sekitar lahan pertanian), pakan pagar hidup; pohon dan semak padang rumput, produksi hewan dan kayu terpadu.

 

Sistem Agrosilvopastoral:

Pohon dan tanaman pakan ternak terpadu sekitar pemukiman (pertanian gabungan), pohon serba guna dan tanaman pagar untuk dipangkas, pupuk hijau, konservasi tanah, produksi pohon, padang rumput dan ternak terpadu.

 

Sistem agroforestri juga bisa diklasifikasikan berdasar distribusi spasial dan temporal komponen (tanaman, tanaman keras berkayu, ternak).

 

Distribusi spasial komponen tanaman dapat mengakibatkan:

Tegakan campuran dan rapat seperti dijumpai pada peternakan campuran;

Tegakan campuran pohon dan tanaman atau rumput yang biasa dijumpai di kebun petani.

 

Distribusi temporal komponen tanaman dalam agroforestri bisa berbagai bentuk. Contoh ekstrim adalah siklus ladang berpindah disela dengan bera panjang dengan tanaman siklus pendek, atau pergiliran tanaman pertanian dengan pohon.

 

Masih ada cara lain mengklasifikasikan sistem agroforestri, seperti berdasar pada produktivitas dan keberlanjutan. Klasifikasi ini memperhitungkan peran pelayanan agroforestri (kontrol erosi tanah, kantong tempat tinggal dan sebagainya) dalam hal keberlanjutan produksi.

 

Klasifikasikan sistem agroforestri bisa pula dilakukan terhadap kriteria sosial ekonomi seperti skala produksi, tingkat teknologi, input, dan manajemen.

 

→ Lihat:  http://old.iita.org/cms/details/trn_mat/irg26/irg263.htm

05 MaySOIL-Hedgerows Cropping System

 

HEDGEROWS CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • HedgerowsTanaman lorong, tumbuhan semak atau pohon tahunan (perenneal) berakar dalam serta kaya biomas, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (annual) berakar dangkal (legum, sereal) dari jenis tanaman pangan, sayuran, atau ubi-ubian; dengan cara: tanaman annual ditanam di antara perenneal  jarak 4 – 8 meter. Tanaman pohon disebut tanaman pagar dan tanaman semusim disebut tanaman lorong.
  • Pemilihan jenis tanaman perenneal:  perakaran dalam, kaya biomas, toleran terhadap kondisi setempat, tahan terhadap kekeringan, penyakit dan pemangkasan.
  • Sistem tanam tanaman annual:  tumpang gilir (relay planting), jenis legum digilir dengan non legum.
  • Biomas sisa pangkasan dan sisa panen, seluruhnya dikembalikan ke bidang lorong secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Sistem perakaran dalam yang dikombinasikan dengan perakaran dangkal, adalah stratifikasi zone perakaran untuk mencegah kompetisi terhadap medium, unsur hara dan air.  Selain itu, perakaran dalam mencegah terjadi kehilangan unsur hara melalui pencucian (leaching).
  • Tanaman pagar yang dipangkas dan biomasnya dikembalikan ke permukaan tanah, merupakan siklus hara tertutup (close nutrient recycling) dan jaring penyelamat (safety net) unsur hara.
  • Sistem pertanaman ini adalah rangkaian dari kegiatan program penelitian Manajemen Nitrogen di daerah tropika basah (lihat post:  SOIL – Cassava based Cropping System).
  • Contoh kegiatan penelitian sebagai berikut:

 

 IMG_0001 - Copy

Area percobaan “Hedgrows Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan:  Pembentukan Kerangka Pertanaman

IMG_0002

 Tanaman pagar jarak 4 hingga 8 meter dipotong setinggi satu meter dari atas tanah

IMG_0003

Bahan pangkasan disebar merata di permukaan bidang lorong

IMG_0004

Kerangka (frame) patokan pangkasan (pangkasan bentuk): tinggi dan lebar bidang tanaman pagar disesuaikan dengan jenis pohon pagar

IMG_0005

Bentuk tanaman pagar (hedgerows crop)

Pertanaman:  Hedgerows

 IMG

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) - Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

IMG_0013

Plot:  Glirisidia (Glyricidia sepium) – Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

 IMG_0008

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) dan Petaian (Pelthoporum pterocarpum) - Kedelai (Glycine max)

 IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) – Jagung (Zea mays)

IMG_0012

Plot:  Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – Padigogo (Oryza sativa)

Di tempat lain

alleycrop

IMG_0014

“Hedgrows Cropping System)” pada lahan lereng

23 AprSOIL-Manajemen Ultisol

 


MANAJEMEN ULTISOL

 

Reklamasi dan Ameliorasi Lahan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT)

 

UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

2

Unit pemukiman transmigrasi (UPT) Cempaka merupakan Program Transmigrasi pengembangan desa (Transbangdes) dengan jumlah penghuni 150 Kepala Keluarga (KK) penempatan tahun 1995/1996;  terletak di Kecamatan Cempaka, Kota administratip (Kotip) Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka sebagai pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Kecamatan Cempaka – Banjarbaru berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat; meskipun dari Kecamatan Cempaka – UPT Cempaka masih berupa jalan tanah yang diperkeras, tetapi kondisinya cukup baik.

Hal ini berkaitan dengan kemudahan transportasi sarana/prasarana serta pemasaran hasil panen.

Beberapa kaedah pengelolaan perlu diterapkan dan dipraktekkan dalam bentuk langkah-langkah pelaksanaan program. 

 

 

POTENSI DAN KENDALA

 

4

Sifat Kimia Tanah:

  • Secara umum, Podsolik Merah Kuning termasuk tanah miskin akan  hara disebabkan tingkat pelapukan  cadangan  mineral  dan pencucian relatif tinggi;   dan sifat fisik termasuk sedang, miskin akan bahan organik  sebagai  akibat  tingkat pelapukan tinggi, dan kapasitas fiksasi P tinggi sebagai akibat dominasi jenis mineral liat dan oksida-oksida berkemampuan mengikat ion-ion monofosfat dalam jumlah besar.
  • Kendala utama  lain yang  perlu diatasi adalah  kapasitas  tukar  kation  efektif (KTKE)  rendah, serta potensi keracunan aluminium tinggi.
  • Kadar besi dan/atau mangan tinggi akibat pencucian dijumpai pada lapisan tanah bawah.
  • Bila lapisan bawah terungkap akibat pengolahan atau pengikisan top soil, maka besi dan mangan mengalami oksidasi dan membentuk krokos yang disebut plinthite.
  • Krokos yang tersebar di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah menjadi jelek dan daya penahanan air rendah sehingga berpengaruh terhadap sifat kimia tanah.  Selain tanaman mengalami keracunan besi atau mangan, juga dapat mengalami kekurangan P akibat terfiksasi.
  • Nilai KTKE・rendah menyebabkan unsur-unsur basa seperti K, Ca dan Mg tercuci sehingga kadarnya rendah dalam tanah.

 

3

Sifat Fisik Tanah:

  • Secara fisik, kendala yang dihadapi dalam pengembangan UPT Cempaka sebagai lahan pertanian adalah umumnya solum tanah dangkal dengan permukaan tanah didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil  tipis  dan bahkan pada bagian puncak hilang; drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan jelek dan lahan tergenang pada musim hujan.
  • Adanya krokos di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah jelek dan mudah mengalami erosi.
  • Untuk mengatasi hal ini diperlukan pembentukan lapisan bahan organik di bagian permukaan (top soil), melalui penambahan bahan organik lapis demi lapis hingga mencapai batas ketebalan olah.
  • Sebelum lapisan tersebut tercapai, maka prinsip pengolahan tanah adalah tanpa olah (no tillage) atau olah minimum (minimum tillage).

 

2

Topografi:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah akibat didominasi krokos menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekeringan pada musim kemarau (meskipun waktunya relatif pendek) dan kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala utama dalam sistem hidrologi kawasan UPT Cempaka.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan belum sempurna sehingga lahan pekarangan tergenang air pada musimhujan.
  • Curah hujan di Kalimantan Selatan umumnya dan UPT Cempaka khususnya cukup tinggi dalam waktu cukup lama.
  • Kondisi topografi disertai sifat fisik tanah jelek seperti disebutkan di atas menyebabkan peluang terjadi erosi tanah cukup besar.
  • Hal ini diperburuk oleh kondisi penutupan permukaan oleh vegetasi tumbuhan yang tidak sempurna akibat kesuburan rendah.

 

PROGRAM PERBAIKAN

 

8

 

Perbaikan Drainae Tanah:

  • Keberadaan air dalam tanah menentukan status udara, yang selanjutnya mengatur perilaku serta sifat ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
  • Drainase buruk menyebabkan terjadi penggenangan permukaan, sehingga tanah bersifat anaerobik dan jazad mikro anaerobik dominan.
  • Jazad mikro anaerobik akan mengubah ion-ion NO-, SO42-, Fe+, Mn4+/+ menjadi gas NO, N2O, atau N2,  SO2 atau H2S, Fe2+, dan Mn2+.
  • Perubahan ini menyebabkan unsur N dan S menjadi tidak tersedia karena hilang ke atmosfer, sedang Fe dan Mn kelarutannya meningkat dan dapat menyebabkan racun  bagi tanaman.fat a ber
  • Pada kasus ini, tanaman padi menunjukkan pertumbuhan kerdil, warna daun kekuningan dan Usaha perbaikan dilakukan dengan cara pembuatan saluran drainase, pergantian air pengairan secara terus menerus, atau pembuatanann bedengan (untuk tanaman non padi sawah).

 

10

 

Perbaikan pH Tanah:

  • Salah satu usaha untuk mengatasi kendala-kendala tumbuh tanaman atau ketidak-suburan tanah bereaksi masam  adalah melalui pengolahan tanah medium (cangkul), pemberian kapur, dan pemberian pupuk P.
  • Pemberian kapur dan pupuk P diharapkan dapat meningkatkan pH tanah, KTKE, kejenuhan basa, ketersediaan P dan unsur-unsur hara lain, dan kegiatan jasad mikro tanah serta pengurangan ketersediaan aluminium, besi atau mangan sehingga tidak lagi meracun tanaman.
  • Perbaikan pH tanah diikuti dengan penggunaan pupuk NPK yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur tersebut.
  • Dosis kapur ditetapkan melalui uji cepat menggunakan larutan penentu pH dan lakmus (program pelatihan);  jenis kapur yang digunakan adalah dolomit.

 

9

Masukan Bahan Organik:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekurangan air pada musim kemarau menjadi kendala utama di lokasi Cempaka.
  • Bahan organik yang ditanam pada saat prakondisi adalah tanaman legum penutup tanah jenis Mucuna, disebar setelah penyiangan gulma.
  • Biomas Mucuna cepat berkembang dan menutupi lahan sehingga selain sebagai sumber bahan organik juga dapat memberantas gulma;  biomas dikembalikan ke tanah (inkorporasi atau mulsa) setelah berumur sekitar 3 bulan.
  • Sebagai tambahan sumber bahan organik, di sepanjang batas pemilikan lahan pekarangan petani ditanam Glirisidia  (Glyricidia sepium), turi (Sesbania glandiflora) dan petaian (Peltophorum dasyrachis) sebagai tanaman pagar.
  • Pada waktu tertentu, tanaman pagar ini dapat dipangkas dan bahan pangkasan dimasukkan ke lahan.
  • Sumber bahan organik lain diperoleh dari pembuatan kompos oleh petani di bawah bimbingan petugas.

 

11

Pencegahan Erosi:

  • Masalah kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala dalam sistem hidrologi kawasan pemukiman.
  • Pada lahan miring dilakukan pembuatan parit atau selokan drainase permukaan untuk mencegah terjadi runoff dan erosi .
  • Program jangka panjang memerlukan pembuatan kolam/balong penampung air sebagai cadangan di musim kemarau.
  • Perbaikan daya pegang air tanah dilakukan dengan cara pemberian bahan organik ke dalam tanah.
  • Bahan organik berperan penting dalam peningkatan efisiensi penggunaan pupuk karena ia dapat meningkatkan daya sangga hara dan aktivitas jazad mikro.
  • Bila digunakan sebagai mulsa, maka peningkatan efisiensi terjadi karena ia mengurangi erosi, aliran permukaan dan penguapan.
  • Pada kondisi tanah berombak hingga bergelombang, usaha pencegahan erosi dilakukan dengan cara menanam tanaman tegak lurus kontur atau pembuatan teras lebar.
  • Pada program jangka panjang, penanaman tegak lurus kontur dilakukan dengan sistem tanaman pagar (alley cropping system) dengan jenis tanaman Glirisidia;  hasil pangkasan digunakan sebagai mulsa dan/atau diinkorporasikan sebagai bahan organik tanah.

 

DAMPAK  PERBAIKAN LAHAN

  • Jangka waktu prakondisi lahan adalah kurang lebih 3 bulan. Bulan-bulan berikutnya,  transmigran ditempatkan dan langsung mengusahakan lahan yang siap ditanami.
  • Jenis tanaman disarankan sesuai dengan pola yang dirancang, tetapi tidak menutup kemungkinan petani menanam komoditi sesuai dengan keinginan mereka.
  • Secara garis besar, lahan pekarangan yang diusahakan oleh petani memberikan hasil yang cukup menggembirakan terutama jenis sayuran.
  • Hasil sayuran menarik masyarakat di sekitar UPT Cempaka bahkan dari Banjarbaru untuk datang dan membeli secara langsung di lahan petani.
  • Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tanaman pangan, buahan dan industri yang dapat menjadi sumber pendapatan petani dalam jangka panjang demi jaminan hidup mereka.

 

SEBELUM PROGRAM

 

7

Rona awal sebelum program

15

Tanaman jagung di halaman rumah

5

Tanaman koro pedang di lahan belakang rumah

6

Lahan usaha di belakang rumah

 

 

SETELAH PROGRAM

 

13

Rona dampak setelah program

12

Lahan usaha di belakang rumah

14

Tanaman terung di halaman rumah

16

Tanaman kedelai di lahan belakang rumah

17

Tanaman padi gogo di lahan belakang rumah

 

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …

 

01 AprSOIL-Tropika Indonesia

 

 

TELAAH  DATA – SETENGAH  ABAD – KESUBURAN  TANAH

 

 

TREN  PERUBAHAN  STATUS

 

 

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia). Meski data terbatas, namun memungkinkan untuk melacak tren perubahan sifat kimia top soil Indonesia dari tahun 1940 hingga 1990. Beberapa hal penting dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

 

(1). Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

(2). Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, makin tampak hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

(3). Pada lahan luar Jawa P, K dan pH  semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa,  di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

(4). Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

(5) Analisis data yang tersedia menunjukkan bahwa erosi adalah sumber kunci, atau sumber percepatan degradasi tanah di Indonesia. Bila erosi adalah sumber kunci degradasi, tentunya akan mengurangi P dan K total, tetapi hal ini tidak tampak, penurunan bahan organik dan N  terjadi tahun 1970, sebelum kejadian bahwa tingkat kecepatan kehilangan tanah akibat erosi, sebut saja, intensifikasi pembudidayaan di Jawa dan perluasan pembukaan lahan hutan dan pemukiman di luar Jawa. Lebih jauh,  top soil yang semakin tipis boleh jadi refleksi sederhana suatu perubahan penelitian terhadap degradasi di Indonesia dikurangi konsentrasinya terhadap erosi dan akibatnya, tetapi lebih terkonsentrasi pada proses akibat-manusia (human-induced), seperti aplikasi pupuk, kontrol air, dan berkurangnya serapan hara oleh tanaman.

 

Sumber:

Lindert,  Peter H.  2000.   Shifting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia.  The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

 

 

 

 

22 FebSOIL-Kesuburan Berlanjut

TANAH SUBUR BERLANJUT - SUSTAINABLE SOIL FERTILITY

Tanah subur:  sifat fisik, kimia, dan biologi, baik

 Tanah subur=produksi tanaman optimum:  alami, teknologi budidaya, tidak tergradasi

 Fungsi Kesuburan Tanah=Produksi Tanaman:   Ϝ-[tanah, tanaman, iklim, manajemen]

 

imagesCA2TATLR

Pengolahan Tanah:  perbaikan tata udara dan tata air -  kesuburan tanah dapat berlanjut dengan pengolahan minimum (Minimum Tillage) atau tanpa olah (No Tillage).

images[9]

Pemberian Pupuk Artifisial:  perbaikan tata hara – kesuburan tanah dapat berlanjut memerlukan pemberian secara kontinyu pada kondisi optimal dan seimbang (Anorganik dan Organik).

imagesCA1HY0OW

Pemberantasan Hama/Penyakit:  pencemaran tanah dan air - kesuburan tanah dapat berlanjut dengan sistem Manajemen Hama/Penyakit Terpadu (“Integrated Pest Management System“) dan kontrol biologis (“Biological Control“).

2314507_pupuk-organik1[1]

Pemberian Pupuk Organik (pupuk alami/artifisial, kompos):  perbaikan tata udara, air, dan hara – kesuburan tanah relatif  berlanjut pemberian secara kontinyu (Jenis, Dosis, dan Interval).

imagesCAHCLXA0

Penggunaan Sereal (padi monokultur) –  kesuburan tanah tidak berlanjut, produktivitas tanaman mengalami “levelling off“, perlu sistem pergiliran tanaman (Relay Planting) – “Rice Based Cropping System“:  padi – palawija- sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCARGXASI

Penggunaan Sereal (tebu monokultur) – kesuburan tanah tidak berlanjut, rendemen gula “menurun“, perlu recycling produk sisa proses serta masukan bahan organik dan pupuk artifisial.

imagesCA7FVQ89 

Penggunaan Legum (kedelai monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut, perlu diversifikasi tanaman Legum dan pergiliran dengan tanaman serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCA27ZLF4

Penggunaan Sayur-sayuran (monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut. perlu diversifikasi tanaman:  legum,  serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCAQA97JT

Penggunaan Ubi (monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut, perlu sistim tumpangsari tanaman (“Cassava Based Cropping System“) serta pergiliran dengan tanaman serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

langit-cerah1[1]

Musim Kemarau:  udara cerah, sinar matahari penuh:   pertumbuhan dan produksi tanaman relatif tinggi, perlu manajemen Konservasi Air:  mulsa, cover crop, rorak dan penampung air hujan (water-reservoir).

Musim Kemarau:   Air kurang (unsur hara tidak tercuci, nutrisi cukup);  Cahaya penuh (fotosintesis optimal, produksi karbohidrat tinggi);  Suhu siang tinggi, suhu malam rendah (hasil fotosintesis tidak hilang karena respirasi)   –> Hasil Akhir:  Produksi Tanaman Tinggi.

53806956.MendungAsri[1]

Musim Penghujan:  udara mendung, sinar matahari tertutup;  pertumbuhan dan produksi tanaman relatif rendah, perlu “Manajemen Irigasi, Drainase, dan Pencegahan Erosi”:  terasering, saluran aerasi dan drainase.

Musim Penghujan:  Air berlebih (pencucian unsur hara tinggi);  Cahaya kurang (fotosintesis terhambat, produksi karbohidrat kurang);  Suhu siang rendah, suhu malam tinggi (terjadi pemborosan hasil fotosintesis melalui Respirasi)   –> Hasil Akhir:  Produksi Tanaman Rendah.

 

DSC08645-500x375[1]

Pola Tanam Tumpangsari:  keragaman tanaman (efisiensi air/hara di zona perakaran dan cahaya di tajuk) – kesuburan tanah relatif berlanjut – prinsip:  ”Sisa Panen” dimasukkan ke lahan.

imagesCA2FPJX5

Sistim Terpadu (Integrated System): Tanaman – Ternak (efisiensi penggunaan sumber) – kesuburan tanah relatif berlanjut – prinsip:  ”Sisa Panen (selain pakan ternak), Pupuk Kandang, Kotoran Ternak” dimasukkan ke lahan.

imagesCAJHLBQ2 (2)

Sistim Terpadu (Integrated System):  Tanaman – Ikan – Mina Padi (efisiensi penggunaan sumber) – kesuburan tanah relatif berlanjut – perlu masukan bahan organik/pupuk artifisial dan pengaturan “Sistem Irigasi” dan “Pencegahan Pencemaran Tanah/Air”.