21 SepKontroling Air Irigasi Tanah Sawah

CEGAH TANAH SAWAH KERING

Teknologi Tradisional

Syekhfani

Sisi lain manajemen tanah sawah adalah “kontroling air irigasi“, agar saat butuh air untuk pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman padi dapat terkontrol dengan mudah.

Teknologi kontroling air irigasi tanah sawah diketahui banyak diterapkan secara tradisional di berbagai sentra produksi padi sawah di Indonesia; khususnya sawah bertopografi lereng.

Berdasar sifat fisik air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah, maka panampakan dan bunyi air atau alat khusus menunjukkan keberadaan air, menjadi tanda bahwa di petak sawah ada air, cukup atau kurang; bahkan tidak ada sama sekali.

Teknologi sederhana dan bersifat tradisional ini menarik, dan spesifik untuk lokasi tertentu; sehingga menarik sebagai objek wisata.

Berikut, disajikan tiga contoh teknik kontrol irigasi untuk padi sawah di beberapa tempat.

Irigasi kincir air (Jambi, Solok, dan lain-lain): pada badan sungai yang cukup deras dan berada di bagian bawah lahan persawahan, dipasang kincir berupa roda raksasa terbuat dari kayu atau besi yang pada kisi-kisinya dipasang tabung bambu atau paralon secara miring dengan jarak tertentu.

Saat roda kincir paling bawah terendam air, tabung bambu terisi penuh air dan terangkat mengikuti gerak roda kincir yang terus berputar.

Setelah kisi roda kincir berada pada posisi puncak dan berangsur turun, maka air dalam tabung bambu dicurahkan ke saluran irigasi khusus menuju ke petak sawah.

1. Kincir Air Irigasi

Lihat: → http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2571/kincir-air-tradisional-alat-irigasi-sawah-di-jambi

Kontrol pancuran bambu (Bali, subak): pancuran bambu sebesar lengan dipasang pada saluran pembuangan (outlet) pada petak atas, tengah dan bawah. Keberadaan air pancuran bambu akan tampak dari kejauhan, demikian pula bunyi air pancuran terdengar di sekitar petak, menandakan ada air cukup, kurang atau tidak ada.

2. Pancuran Bambu

Lihat: → http://en.wikipedia.org/wiki/Subak_(irrigation)

Jungkat jangkit bambu (Semende, Sumsel):

Pada pematang petak sawah bagian atas, tengah dan bawah dipasang alat jungkat jangkit dari bambu sebesar lengan.

Poros jungkat jangkit dipasang di bawah ruas bambu paling atas, yang bertindak sebagai tabung isi air yang mengalir dari petak sawah.

Bila ruas terisi penuh maka menjadi berat dan tumpah secara otomatis sembari mengangkat bagian ujung ruas kosong.

Setelah ruas berisi air menjadi kosong, menjadi ringan maka posisinya kembali seperti semula.

Ruang kosong diberi landasan jatuh dari batu sehingga terdengar bunyi bambu kosong yang nyaring dan terdengar dari tempat yang cukup jauh.

Dengan demikian, ada dua mekanisme kontrol ada tidaknya air di petah sawah: terlihat (gerak jungkat jangkit) dan terdengar (bunyi ujung bambu kosong yang jatuh).

3. Irigasi Jungkat Jangkit

Lihat: → http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/01/05/pancuran-bambu-yang-terisi-kembali-522701.html