13 NovSOIL-Gutasi

 

1

  

GUTASI – DEFISENSI KALSIUM - TANAH MASAM

 

Cassava Menangis?

 

Syekhfani

 

Saya punya pengalaman, saat melakukan “Survei Monitoring Pengapuran Lahan Masam” bersama tim Institut Pertanian Bogor di Pasir Pangarayan, kabupaten Bangkinang, propinsi Riau, tahun 1980-an.

Tim melakukan perjalanan sehari penuh dari lokasi transmigrasi blok D ke E. Kondisi jalan rusak berat karena musim hujan, kami juga kerja nonstop hampir seminggu lamanya tanpa istirahat. Semua anggota tim tidur nyenyak keletihan di base-camp blok E.

Di pagi hari yang cerah, sinar matahari menyilaukan mata, saya terbangun.

Menyadari bahwa berada di lokasi baru, saya bersemangat ingin mengetahui panorama sekitar base-camp. Saya melangkah perlahan ke luar base-camp dan terpandang area tanaman berjejer rapi dalam alur di lahan pekarangan.

Awalnya saya tidak mengenali jenis tanaman. Namun setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata tanaman itu adalah Cassava (Ubikayu). Kenapa kurus? Pendek, kerdil dan berdaun sempit?

Ada butir mengkilap di ujung daun yang runcing. Butir itu air gutasi terkena cahaya matahari, mengkilap seperti berlian. Lihat, butir membesar dan membesar lalu jatuh. Segera muncul lagi butir baru, membesar, kemudian jatuh lagi.

Dalam waktu singkat, hal itu berulang kali, tetes demi tetes air jatuh ke tanah.

Saya ajak teman-teman melihat dan semua heran. Timbul kelakar:

“Wah, ubikayu “menangis” minta dipindah ke tempat lain, tidak senang tumbuh di sini!”.

Di perjalanan kami mendiskusikan fenomena tersebut. Diperoleh kesimpulan bahwa pada tanah masam seperti Blok E (Ultisol, duduk di atas hamparan pasir kuarsa), unsur basa-basa sangat rendah karena kelarutannya tinggi dan pencucian (leaching) berlanjut.

Kalsium, salah satu unsur basa, secara anatomi-morfologi menentukan sifat “permeabilitas dinding sel”. Karena defisiensi maka dinding sel daun menjadi “im-permeable”, artinya air dalam tubuh tanaman tidak mampu ditahan dan keluar lagi melalui dinding sel.

Kadar air tanah relatif tinggi pada pagi hari, sinar matahari menyebabkan suhu udara meningkat, air tanah naik ke tubuh tanaman (transpirasi), namun keluar lagi dari ujung daun sebagai air gutasi.

Karena terjadi dalam waktu relatif singkat, maka tampak tanaman “menangis”.

Kasihan…

 

Suatu pengalaman fenomenal yang menakjubkan!

 

13 JunSOIL-Spice Crops

 

 

TANAMAN REMPAH (SPICE CROPS) – CABAI JAMU

 

Budidaya Tanaman Cabai Jamu

 

Pengamat, Foto-foto: Syekhfani

 

Cabe Jawa

 

Cabai Jamu, cabai Jawa, lada panjang, atau cabai saja (Piper retrofractum Vahl. – Piperaceae).  Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600 meter di atas permukaan laut). -> http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe_jawa

Cabai Jamu, tergolong jenis tanaman rempah (spice), sudah sejak lama digunakan untuk berbagai keperluan.

Di Indonesia, cabai jamu banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional (Jamu).

Prospek pengembangan cabai jamu makin cerah sejalan dengan berkembangnya industri obat modern dan kecenderungan masyarakat menggunakan obat-obatan yang berasal dari alam (back to nature).

Namun peluang tersebut belum diikuti peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani, karena usaha tani cabai jamu masih dianggap sampingan sehingga produksi nasional masih rendah, yaitu antara 1.000 – 1.500 kg/ha/tahun. -> http://cabejamumadura.blogspot.com/

 

Budidaya Cabai Jamu:

Syarat tumbuh ->  http://www.slideshare.net/aolenk/budidaya-cabe-jamu

  • Jenis tanah: Andosol, Latosol, Grumusol, Regosol, Podsolik.
  • Tekstur tanah:  liat berpasir, subur, gembur, porous, drainase baik, dengan kemasaman tanah (pH) antara 5.5 – 7.0.
  • Tinggi tempat : 1 hingga 600 meter dari permukaan laut.
  • Curah hujan : 1,200 hingga 3,000 mm per tahun, tanpa bulan kering.
  • Curah hujan minimal 80 mmm per bulan;  tempat terbuka atau agak terlindung (intensitas sinar 50 hingga 75 %).
  • Kelembaban udara : 40 hingga 80 %.

Di lokasi pertanaman cabai jamu rakyat (Bangkalan dan Sampang, Madura), tanaman cabai jamu ditanam pada tanah berkapur (calcareous);  dibudidayakan di seputar rumah dan kebun pekarangan dengan topografi datar hingga berombak.

Lahan upland tampak menunjukkan kondisi kurang air, kelembaban rendah, suhu tinggi dan pH alkalis.

Tampak ada gejala kekurangan unsur K (tepi daun tua mengering mulai dari ujung daun), dan kekurangan unsur Mg (khlorosis antara tulang daun).

 

IMG_0001

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan jenis tanah berkapur (kalkareus)

 

1

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan

3

Tanaman cabai jamu pada tunggak rambatan

2

Daun cabai jamu menunjukkan gejala kekurangan unsur K dan Mg

(unsur K:  ujung daun dan tepi mengering, unsur Mg:  khlorosis antara tulang daun)

17 MaySOIL-Antagonisme Unsur Makro dan Mikro

 

 ANTAGONISME UNSUR MAKRO DAN MIKRO

 

Kasus Penyakit Kalimati pada Tanaman Tebu

 

1. Kalimati di Kebun Manyingsal

 

Penelitian Disertasi

Syekhfani

  • Penyakit “Kalimati”, adalah penyakit non parasiter pada tanaman tebu; pertama kali di temukan di area kebun Pabrik Gula (PG) Kalimati,      Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 1930-an (PG Kalimati tersebut saat ini sudah tutup).
  • Wilbrink (tahun 1930-an) menyatakan bahwa penyakit Kalimati disebabkan oleh defisiensi unsur kalium.
  • Pendapat tersebut dibantah oleh Koningsberger & van den Honert (1931), yang bependapat bahwa penyakit Kalimati disebabkan keracunan unsur besi.
  • Namun kedua ahli menambahkan bahwa penyakit Kalimati tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan beberapa faktor menyangkut ketidak-imbangan unsur hara.
  • Gejala penyakit Kalimati: Tanaman kerdil, ruas memendek, akar sakit, dan terdapat nekrosis pada daun tua saat tanaman tebu berumur 2 – 3 bulan.
  • Tahun 1970-an, gejala serupa muncul di perkebunan tebu Manyingsal, Subang, Jawa Barat.
  • Kasus tersebut kemudian dijadikan penulis untuk topik penelitian tugas akhir (disertasi) pada Jurusan Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pascasarjana, IPB, Bogor.
  • Diperoleh hasil bahwa Unsur makro K dan unsur mikro (Cu, Zn dan Mn) menjadi penyebab penyakit Kalimati di kebun tebu Manyingsal.
  • Gejala merupakan kombinasi antara kekurangan unsur-unsur K, Cu, dan Zn, dan kelebihan unsur Mn.
  • Gejala di lapangan muncul pula pada percobaan pot (tong), di latar rumah kaca IPB, saat pot tergenang air hujan.
  • Baik di lapangan maupun di pot, gejala penyakit Kalimati tidak tampak bila kondisi drainase baik.
  • Pemberian unsur K, Zn dan Cu mendapat respon positif pertumbuhan tanaman tebu.
  • Keragaan di lapangan (kebun Manyingsal) dan latar rumah kaca (IPB), adalah sebagai berikut:

 

 Lokasi Kebun Tebu Manyingsal:0. Kebun tebu Manyingsal

2. Kalimati Close Up

Kalimati di kebun Manyingsal

 3. Drainase - Saluran

Saluran drainase lahan

 4. Drainase - Sehat

Tebu sehat setelah drainase

 5. Gejala - Akar

Akar (terang sehat – gelap sakit)

 6. Gejala - Ruas

Ruas memendek (gejala defisiensi Zn)

 7. Gejala - Daun

8. Gejala - Daun Strata

Gejala Kalimati pada daun posisi kedudukan ruas

Percobaan Pot di Latar Rumah Kaca:

  10. Gejala - Pot - Daun Sehat

11. Gejala - Pot - Daun Strata

Gejala pada daun

12. Gejala - Pot - Normal

Gejala pada batang dan ruas

03 MaySOIL-Topografi Berbukit hingga Bergunung

TOPOGRAFI BERBUKIT HINGGA BERGUNUNG

Penggunaan dan Pelestarian Lahan

 Contoh:  Kabupaten Solok – Sumatera Barat

Foto-foto:  Syekhfani

 1

 2

Danau Singkarak, sumberdaya alam dan panorama yang indah

3 - Copy

Area persawahan dengan irigasi “kincir air”, memanfaatkan sumber air dari sungai.

4

Agroforestry dan pertanian lahan kering, melestarikan vegetasi alam dan konservasi lahan pertanian.

5

Pertanian tradisional (kebun, pekarangan, tegalan), mengacu pada sistem alam (natural system)

6

Sadap pohon karet rakyat, dengan metode tradisional dan terlatih, meletarikan pohon karet yang tumbuh alami.

  • Pegunungan Bukit Barisan, terbentang dari ujung selatan hingga ujung utara pulau Sumatera, topografi berbukit hingga bergunung.
  • Pada bagian tengah, terhampar “Ranah Minang”, propinsi Sumatera Barat.
  • Ranah minang terkenal dengan panorama yang indah serta adat istiadat yang kokoh:  seperti  pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan“.
  • Di daerah (ranah) ini, peraturan adat tampak jelas mewarnai sistem kultur sosial, budaya dan teknik yang unik, konsisten, dan berlanjut.
  • Penerapan sistem agroforestry  dan sistem budidaya pertanian, sedemikian rupa memberikan nuansa khas alam ranah minang.
  • Sistem irigasi “kincir air”, yaitu teknik mengangkat air sungai yang posisinya lebih rendah dari  area lahan sawah;  ditemukan di sini dan tidak dijumpai di tempat lain.
  • Praktek budidaya belanjut dan lestari telah diterapkan di masyarakat minang sejak zaman dahulu.

 

01 MarSOIL-Lumpur Marin

LUMPUR MARIN :  POTENSI – MASALAH

 

HASIL ANALISIS LUMPUR

Terlepas dari visi apakah Lumpur Marin yang akhir-akhir ini menjadi fenomena alam (nature) atau manusia (man made) yang melanda beberapa lokasi lahan pertanian di Indonesia, maka secara ilmiah perlu dilakukan telaah agar dapat membantu beban bagi lokasi terkena dampak.

DAMPAK:

Positif

- Sumber Unsur Hara S, K, Ca, Mg
- Daya Pegang Hara (KTK, Kapasitas Tukar Kation) tinggi
- Daya Pegang Air (KPA, Kapasitas Penahanan Air) tinggi

 

Negatif

• Natrium(Na),  tinggi       > penghancur agregat tanah
• Aluminium-dapat ditukar (Al-dd),  tinggi    > sumber kemasaman tanah/meracun tanaman
• Besi (Fe-tersedia), tinggi       > meracun tanaman
• Mangan (Mn-tersedia), tinggi > meracun tanaman
• Khlor (Cl-tersedia), tinggi  >  meracun tanaman
• Daya Hantar Listrik (Elektrical Conductivity), tinggi  > jaringan tanaman plasmolisis
Lapindo9
Tmr3
Lapindo2
Contoh Visual:  Proses terjadi endapan lumpur marin -  Foto:  Syekhfani

WACANA ALTERNATIF PENANGGULANGAN

FLUIDA untuk medium tanaman:

-Positif:  karena mengandung unsur hara esensial makro  S, K, Ca, dan Mg tinggi, yang dapat menjadi sumber hara karena tidak berefek meracun, serta KTK tinggi dapat meningkatkan daya pegang hara (nutrients holding capacity).

-Negatif:  karena mengandung unsur hara esensial mikro Cl, Fe (dan Mn) tinggi, meskipun menjadi sumber hara tetapi dapat berefek negatif karena bersifat meracun tanaman.

-Negatif:  karena mengandung sumber kemasaman (Al dan H), meskipun pada tahap awal berefek menurunkan pH (karena pH-nya agak alkalis) tetapi jangka panjang membantu kelarutan Fe (dan Mn) sehingga meracun.

-Negatif:  karena mengandung unsur pendispersi (penghancur tanah) yaitu Na, yang dapat menyebabkan partikel tanah hancur, tanah menjadi padat dan mudah mengalami erosi.

 

TANAH sebagai medium tanaman:

-Memerlukan perbaikan sifat kimia berupa pemberian Bahan Organik, serta pupuk lengkap N, P, K, Ca, dan Mg yang seimbang.

 

FLUIDA diinkorporasikan (dicampur-rata) dengan TANAH sebagai medium tanaman:

-Dapat memperbaiki sifat kimia berupa peningkatan KTK dan penambahan unsur S, K, Ca, dan Mg;  akan tetapi untuk lahan sawah sangat berbahaya karena bisa terjadi keracunan Fe (dan/atau Mn), akibat penggenangan yang mereduksi Fe/Mn menjadi ion mudah diserap tanaman.

-Disarankan tidak untuk budidaya padi sawah, melainkan untuk tanaman lahan kering (palawija, hortikultura, dll) dengan irigasi/drainase baik serta diinkorporasikan dengan tanah secara sempurna.

-Pengelolaan memerlukan penambahan bahan organik untuk mengurangi keracunan unsur Fe (dan/atau Mn), penambahan pupuk N dan P, serta irigasi air tawar yang cukup untuk membilas unsur-unsur Na dan Cl.