09 AugSOIL-Perkebunan Teh

 

PERKEBUNAN TEH ~ TEA PLANTATION

Aktivitas ~ Rutinitas ~ Teknis Budidaya

Bahasan/Foto-foto:  Syekhfani

 

Perkebunan teh (tea plantation), salah satu komoditi nasional yang menjadi andalan negara kita sejak lama.

Perkebunan teh terutama dibudidayakan di daerah pegunungan dengan topografi datar, berombak, bergelombang, berbukit, bahkan bergunung.  Jenis tanah umumnya adalah Andisol atau Entisol, bereaksi agak masam hingga netral.  Suhu malam dan siang berbeda dengan nyata.  Tanaman teh tergolong Calcifuge (tidak senang kapur) dan menghendaki tanah agak masam hingga masam.

Pemeliharaan tanaman teh meliputi:  pemangkasan, pemupukan, dan penyemprotan hama penyakit. Pucuk teh dipetik setiap jangka waktu 5 hingga 7 hari, tergantung kecepatan tumbuh pucuk.  Pekerjaan dilakukan oleh pemetik teh yang mempunyai keahlian khusus di bawah koordinasi mandor dan kepala kebun.

Perkebunan teh mempunyai nuansa khas, kebersamaan, rutinitas,  jadwal kerja yang disiplin dan ketat, dan yang tak kalah menarik adalah panorama perkebunan yang indah dan mengesankan.

 1

Perkebunan teh, topografi berombak hingga berbukit

3

Pekerjaan rutin, memetik teh

4

Pekerja pemetik pucuk, didampingi mandor kebun

5

Pekerja penyemprot hama penyakit, didampingi mandor kebun

6

Kebun teh baru dipangkas bentuk tajuk

 7

Pekerja pemupukan tanaman teh, pupuk NPK setelah dicampur siap diaplikasikan

10

Panorama perkebunan teh, relaks mencari ikan di balong saat libur kerja

Perkebunan teh merupakan aset  nasional yang selalu dapat diandalkan!

26 JunSOIL-Organic Garden

 

Organic-vegetable-cultivation.jpeg[1]

  

ORGANIC GARDEN

(KEBUN / PERTANIAN ORGANIK)

Marie Iannotti

(Organic Garden)

 

 

Apa itu kebun (pertanian) organik?

- Dasar untuk berkebun (bertani) organik

 

Apa artinya memiliki kebun organik?

-Artinya anda menyediakan tempat nyaman bagi serangga pemakan tanaman?

-Jawaban singkat adalah anda tidak menggunakan produk-produk sintetis, termasuk pestisida dan pupuk.

-Idealnya, berkebun organik adalah memanfaatkan semua sumber berguna, seperti menyuplai tanah dengan kompos sisa tanaman atau menanam kacang-kacangan menambahkan nitrogen ke daerah yang telah ditanam dengan pupuk berlebihan.

-Secara garis besar adalah melakukan kerjasama dengan alam, menjadikan lahan anda sebagai bagian kecil dari sistem alami.

 

Berikut adalah beberapa dasar-dasar anda mulai dengan berkebun organik:

 

Apa yang dimaksud dengan bahan organik?

-Pelapukan sisa tanaman dan hewan, termasuk kompos, potongan rumput, daun kering dan sisa-sisa biologis lain.

-Bahan organik digunakan sebagai amandemen dan pengondisi tanah. Bisa berupa tambahan bahan organik baru atau digunakan sebagai ganti bahan organik atau mulsa yang sudah ada sebelumnya.

 

Apa tanah itu begitu penting?

-Salah satu kebutuhan mendasar dari berkebun organik adalah untuk “Memberi makan tanah dan tanah akan memberi makan tanaman”.

-Tanaman mendapatkan air, udara dan nutrisi dari tanah.

-Tanah liat lebih tinggi nutrisi dari pada tanah pasir dan menahan air lebih baik.

-Kadang-kadang daya pegang air terlalu tinggi dan tanaman kekurangan udara.

-Tanah berpasir mudah kering, tetapi dapat digunakan sebagai amandemen untuk memperluas lahan.  Dalam hal ini maka bahan organik memegang peranan penting.

-Penambahan bahan organik memperbaiki struktur tanah dan serta menarik organisme sebagai agen peningkatan nutrisi dalam tanah.

 

Bagaimana Anda mengendalikan hama dan penyakit tanpa bahan kimia?

-Berkebun organik tidak berarti anda harus berbagi apel dengan cacing-cacing, tetapi mungkin anda akan mencari tanaman dan menghasilkan bahan organik.

-Karena anda mencoba untuk bekerjasama dengan alam, kadang-kadang anda sesekali harus menerima hama di kebun.

-Anda harus memeriksa tanaman secara teliti, waspada dan teratur terhadap gejala yang muncul dan segera  mengambil tindakan.

-Perlu diingat bahwa tidak setiap serangga adalah musuh dan bukan selalu berarti harus pakai pestisida.

-Ada banyak pestisida organik yang tersedia, tapi perlu yakin bahwa ia dapat mengatasi masalah dan bahwa anda tahu hal tersebut.

-Anda dapat hidup dengan sedikit kerusakan. Beberapa serangga melakukan kerusakan itu namun masih dapat berlanjut untuk musim berikutnya.

-Pertimbangkan jika anda mengalami masalah hama karena tanaman Anda stres dan tidak memiliki sumber daya untuk membela diri.

-Interplanting dan diversifikasi akan melindungi anda dari kehilangan petak tanaman yang luas, dan perlu di selang selingi dengan petak tanaman penarik serangga.

-Banyak serangga dan hewan yang lebih besar dianggap menguntungkan, musuh serangga hama. Meraih semprotan dapat setiap kali anda melihat hama akan membunuh serangga menguntungkan tersebut.

-Lady bug dan tawon menyantap aphid. Burung menelan ulat. Katak, kadal dan bahkan ular semua berkontribusi terhadap keseimbangan di kebun anda dan mencegah populasi hama yang menjadi penyebab masalah.

-Pencegahan masalah banyak hambatan. Ngengat bertelur perlu dicegah. Trap pulut warna kuning dapat dengan mudah menangkap lusinan hama terbang.

-Melumas pangkal batang akan memotong serangan cacing dan banyak penggerek.

-Ada saatnya anda akan perlu aplikasi pestisida untuk mencegah kehilangan tanaman.

-Pestisida organik atau alami dapat sangat efektif dan biasanya kurang beracun bagi manusia, hewan peliharaan, dan satwa liar dari pestisida sintetis.

 

Apa lagi yang terlibat dalam berkebun sama dengan alam?

-Ada banyak unsur yang dapat berkontribusi terhadap iklim kebun yang sehat.

-Tanaman yang cocok dengan kondisi pertumbuhan mereka akan lebih sehat daripada tanaman yang stres.

-Tanaman stres sangat menarik bagi hama.

-Jangan memilih tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh jika anda tinggal di sebuah hutan yang teduh.

-Demikian pula, jangan pilih tanaman pada lingkungan yang lembab jika anda memiliki tanah berpasir dan sinar matahari penuh.

 

Lihat pula:  Wikipedia – Pertanian_organik

 

17 JunSOIL-Umbi Tradisional Pangan Alternatif

 

TANAMAN UMBI TRADISIONAL TROPIKA INDONESIA – SUMBER PANGAN ALTERNATIF

 

Jenis – Syarat tumbuh – Budidaya

 

Tanaman umbi-umbian, adalah jenis tanaman yang berlimpah di Indonesia dan belum dibudidayakan secara intensif;  kecuali:  ubikayu, kentang, dan ubijalar.

Di indonesia, umbi termasuk jenis pangan alternatif, di samping pangan pokok beras.  Bahkan di beberapa daerah/tempat umbi menjadi pangan pokok lokal setempat.

Para ahli gizi menyarankan agar mengkonsumsi sumber karbohidrat umbi dari pada beras, terlebih lebih bagi penderita “diabetes“.

Berikut dikemukakan beberapa jenis umbi yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif, selain ubikayu, kentang dan ubijalar (lihat pos:  SOIL-Ubi Lahan Kering):

CannaEdulis2[1]

Ganyong – Canna (Canna edulis Ker

CannaEdulis[1]

1. Ganyong, Canna (Canna edulis Ker. – Cannaceae).

Tergolong herba tahunan dengan tinggi 2 meter, berasal dari Andes.

Umbi akar (rhizomes) dikonsumsi setelah dipanggang atau rebus dan dapat digunakan sebagai bahan penghasil tepung kanji (starch). Daun muda dan akar muda dapat pula digunakan sebagai penghasil tepung kanji tetapi jarang dilakukan.

Budidaya:  Biji atau tunas umbi ditanam dalam baris 75 x 100 cm.  Tanaman biasanya dipanen setelah berumur 4 hingga 12 bulan.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Canna+edulis

Gembili1

Gembili – Coleus parviflorus Benth.

Gembili2

Gembili3

2. Gembili, “Black Potato (Coleus parviflorus Benth. – Cyperaceae) sinonim:  Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.

Berasal dari Afrika, dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.  Umbi kecil dan berwarna coklat dikonsumsi sebagai sayuran.

Budidaya:  Gembili dikembang biakkan dengan umbi akar (rhizome) dengan jarak baris 40 x 40 cm.  Tunas ditumbuhkan selama 5 bulan.  Hasil dilaporkan petani Indragiri, Riau yaitu 10 ton umbi segar per hektar.  Kebutuhan pupuk belum banyak diketahui.

http://www.ebay.com.au/itm/5-Bulbs-COLEUS-PARVIFLORUS-BENTH-Cooking-Plant-FREE-Phytosanitary-Certificate/400432780958?pt=LH_DefaultDomain_0&hash=item5d3ba7569e

 

220px-Dioscorea_balcanica_BotGardBln310505[1]

Uwi, “Yam” (Dioscorea spp. -  Dioscoreaceae)

3. Uwi, “Yam (Dioscorea spp. – Dioscoreaceae).

Juga dikenal sebagai umbi “gadung” (Sumatera Selatan), merupakan herba tahunan memanjat  dan umbinya baru dapat dimakan bila telah melalui pencucian dan pemasakan sehingga bahan meracun (alkaloid) hilang.  Namun dilaporkan ada jenis “yam” di Sumatera yang tidak beracun.

Budidaya:  tunas umbi atau irisan mata tunas umbi disemaikan di lapangan (in situ).  Tanaman dibiarkan tumbuh hingga daun-daun menguning.  Dilaporkan produktivitas yam adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://en.wikipedia.org/wiki/Dioscorea

http://en.wikipedia.org/wiki/Yam_(vegetable)

 Bengkuang

Bangkuang – Pachyriihizus eosus (l.) Urb.

4. Bangkuang, “yam bean” (Pachyriihizus eosus (l.) Urb. – Legumonosae).

Bangkuang merupakan herba tahunan memanjat berasal dari Amerika Tengah.

Daun, polong, dan biji adalah meracun, tetapi umbi muda dapat dimakan mentah. Tanaman bengkuang tumbuh baik pada tanah gembur, subur dan drainase baik.

Budidaya:  Dikembang biakkan dengan biji yang ditugalkan di galengan atau bedengan sempit. Hasil yang dilaporkan adalah 10 hingga 15 ton per hektar.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/95/Pachyrhizus_erosus_Blanco2.249.png

 

Teks:

Driessen, P.M. dan  Permadhy Sudewo.  – . A Review of Crops and Crop Perfomance on Southeast Asian Lowland Peats.  Soil Res. Inst., Bogor. Bulletin 4.

 

02 JunSOIL-Reklamasi Lahan Berombak

  

REKLAMASI LAHAN BEROMBAK (UNDULATE)

 

(2)

Contoh: Ultisol UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Foto-foto/dokumen: Syekhfani

 

Lahan berombak (undulate):  lahan kering (upland) jenis Ultisols mempunyai kendala terhadap erosi, mudah kering, reaksi masam, dan kurang unsur hara.  Oleh karena itu,  saat  persiapan lahan usaha, perlu dilakukan reklamasi dan/atau ameliorasi.

Di UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pembukaan lahan usaha II (lokasi di luar pemukiman), dilakukan sesuai kondisi lahan yang berombak-ombak (undulate).

Pekerjaan meliputi:  pembuatan teras gulud tegak lurus arah lereng (perpendicular to the slope), pengolahan tanah dangkal (shallow tillage, 20 cm deep), pembuatan rorak (ditch), pengapuran (liming), dan  penanaman penutup tanah (cover crop).

Teras gulud alternatif:  tanaman strip-cropping, alley-cropping berfungsi untuk menahan runoff dan erosi, sumber pakan tambahan, atau bahan organik.

Rorak (ditch) di bagian atas bidang tanam, berfungsi menampung erosi guludan, bahan organik, dan air hujan;  membantu mempertahankan kelembaban bidang tanam dan suplai air.

Setelah tanah diolah, dilakukan penyebaran kapur (dolomit), untuk mengurangi kemasaman tanah dan mempercepat pertumbuhan cover crop.

Pelaksaaan dilakukan pada awal musim penghujan, agar cukup air untuk memudahkan pengolahan tanah, pertumbuhan benih, dan mengetahui arah aliran permukaan (runoff).

Jenis tanaman penutup tanah adalah Mucuna pruriens yang mempunyai kelebihan:  leguminous, mudah dan cepat tumbuh, biomas berlimpah, menutup permukaan dan mengontrol gulma, serta  berumur pendek.

Biomas mukuna dipanen sekitar umur 3 bulan, disebar-rata di permukaan tanah dan dibiarkan mengalami dekomposisi in situ.

Selanjutnya, lahan siap untuk ditanami dengan tanaman budidaya, misalnya kedelai (Glycine soya).

Sistim budidaya yang diterapkan adalah “minimum tillage”, dan semua biomas sisa panen dikembalikan ke lahan.

 

(3)

Lahan berombak-ombak dan berlereng, dikerjakan saat awal musim hujan

(4)

Pengolahan tanah dengan cangkul, sekaligus kontrol gulma

(5)

Rorak (ditch), saat hujan berisi air

(6)

(7)

Plotting tegak lurus arah  lereng (perpendicular to the slope)

(8)

Hamparan lahan berombak-ombak (undulate), dan cover crop - Mucuna pruriens

(9)

Mucuna prurienscover crop

(10)

Tanaman kedelai Glycine soya dan parit drainase

(1)

Tanaman kedelai Glycine soya -  tajuk dan akar

24 MaySOIL-Pindah Tanam Pohon

  

PINDAH TANAM POHON

(TREE REPLANTING)

Replanting – Reboasasi – Rehabilitasi – Rejuvinasi

Taman Istana di Seoul, Korea Selatan

Panorama salah satu taman istana Raja di Seoul, Korea Selatan

Foto-foto:  Syekhfani

Pindah tanam (replanting), reboasasi (penghutanan kembali), rehabilitasi (perbaikan),  rejuvinasi (peremajaan):   adalah teknik-teknik tanam ulang atau perbaikan keragaan pohon agar dapat tumbuh normal kembali.

Praktek replanting biasanya dilakukan  untuk perbaikan estetika taman, jalan raya, kampus, kantor, komplek perumahan, ataupun halaman rumah.

Secara umum, pohon yang dipindah tanam tergolong pohon dewasa, dibongkar  atau dipangkas akar dan/atau tajuk.

Karena itu, syarat pohon pindah tanam harus tahan pangkas akar/tajuk, resisten terhadap  hama atau penyakit, serta cepat tumbuh kembali (rapid growth recovery).

Pohon yang baru di pindah tanam masih dalam kondisi lemah, terutama fungsi sebagai jangkar (anchor);  sehingga diperlukan alat bantu penyanggah.

Sistem perakaran yang belum intensif, tidak mampu menyerap (uptake) unsur hara dari dalam tanah secara optimal;  sehingga diperlukan bantuan melalui semprot daun (foliar feeding) atau suntikan (infus) batang.

Contoh jenis pohon yang sering dipindah tanam:  palem raja (Roystonea regia – Arecaceae), pakis haji (Cycas rumphii – Cycadaceae), pinus (Pinus - Pinaceae), sonokeling (Dalbergia latifolia – Fabaceae), mahoni (Swietenia macrophylla – Meliaceae), , atau berbagai jenis pohon buah-buahan dan pohon perkebunan seperti misalnya kelapa sawit (Elaeis guineensis – Arecaceae).

Manajemen pangkas pohon, meliputi:  kekuatan tegakan (anchor), medium tumbuh, nutrisi, hormon, dan pestisida.

Contoh  pohon pindah tanam adalah sebagai berikut:

 

Kampus University of Korea

Tanam pohon di kampus Universitas Korea, Seoul, Korea Selatan

Taman Evergreen, Seoul, Korsel

Tanam pohon di Taman Evergreen, Seoul, Korea Selatan

Infus pohon (Dong Daemon, Korsel)

Pemberian nutrisi melalui batang pohon

(halaman belakang gedung pasar swalayan Dong Daemon, Seoul, Korea Selatan)

Citraland, Surabaya-3, Jawa Timur

Penanaman pohon di komplek taman Citraland, Surabaya, Jawa Timur

Citraland, Surabaya-1, Jawa Timur

Perkuatan pohon dengan sanggah besi (Citraland)

Citraland, Surabaya-2, Jawa Timur

Posisi sanggah besi (closeup)

UD Melati, Batu, Jawa Timur

Pohon pakis siap tanam di salah satu kios tanaman hias, Batu, Jawa Timur

21 MaySOIL-Transportasi Sungai

  

SUNGAI SEBAGAI SARANA TRANSPORTASI

(RIVER AS A TRANSPORTATION MEDIUM)

 

Contoh:  Sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

 

IMG_0001

 

Foto-foto:  Syekhfani

  

Transportasi sungai – River transportation, termasuk satu dari tiga jenis sarana transportasi umum:  darat, udara dan air.

Trasnportasi air antar pulau, negara dan benua melalui sarana lautan;  sedang antar tempat di daratan pulau, melalui sarana sungai.

Di pulau-pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Papua, atau pulau-pulau di mana sungai dapat dilalui perahu, tongkang, atau kapal, maka fungsi utama sungai selain untuk irigasi, industri, inergi listrik, dan lain-lain, populer sebagai sarana transportasi.

Sarana transportasi sungai berkembang sesuai tingkat kebutuhan dan pembangunan daerah setempat dalam hal revitalisasi sosial-ekonomi-budaya daerah.

Salah satu contoh menarik dalam hal transportasi  tradisional hingga modern, yang mecerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya lokal, dijumpai di sungai Mahakam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di sungai Mahakam, satu dari tiga sungai besar di pulau Kalimantan (Barito, Mahakam, Kapuas), dijumpai kesibukan rutin luar biasa sehari-hari menggunakan alat transportasi perahu kecil hingga kapal besar (kapal samudra) .

Lebih menarik lagi, terdapat semacam pasar tradisional (traditional market) komplit.  Ada jualan barang peracangan (bahan-bahan dan alat-alat dapur), sayur-sayuran, buah-buahan dan bahkan juga warung makan.

Barang-barang tersebut dijual di tempat atau dijajakan dari rumah ke rumah (door to door).

Pasar tradisional ini, selain menarik dan spektakuler, juga berfungsi sebagai sarana olahraga (sport) dan rekreasi (recreation) yang menyenangkan dan unik.

IMG_0002 (2)

Kapal besar (ships)

 IMG_0002

Kapal angkut barang (carrying boat)

IMG_0003

Ubikayu (cassava roots)

IMG_0004

Bahan sayur borongan (bulk vegetable raws)

IMG_0005

Peracangan (kitchen tools and food raws)

IMG_0006

Nasi bungkus (wrapping rice)

IMG_0007

Soto ayam (chicken soup)

IMG_0008

Menjajakan dagangan dari rumah ke rumah (door to door) menggunakan alat transportasi perahu

04 MaySOIL-Cassava Based Cropping System

   

CASSAVA BASED CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

 Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

 IMG_0009

Cassava (Manihot esculenta) – Aldira 1

  • Cassava (Manihot esculenta) – Euphorbiaceae: ubikayu, ditanam untuk memproduksi ubi sebagai bahan pangan alternatif, tepung tapioka, ataupun pakan ternak.
  • Tanaman ubikayu umumnya ditanam secara monokultur;  menyebabkan kesuburan tanah cepat tergradasi karena tanaman ini banyak menyerap unsur hara dari tanah untuk memproduksi ubi.
  • Karena itu, agar kandungan unsur hara tanah tidak cepat habis, maka dibutuhkan sistem manajemen yang baik.
  • Tumpangsari, merupakan sistem pertanaman polikultur, beberapa jenis tanaman berbeda  ditanam pada waktu bersamaan atau bergiliran.
  • Karena tanaman ubikayu tergolong berumur tahunan (pereneal), ia dapat ditumpangsarikan dengan beberapa jenis tanaman umur pendek (annual).  Sistem tumpangsari dikenal sebagai “cassava based cropping system” (sistem pertanaman berbasis ubikayu).
  • Kombinasi tanaman pereneal dengan tanaman annual, mencegah kompetisi terhadap ruang, medium, unsur hara dan air.
  • Sistem ini telah diteliti secara intensif di lokasi PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara, oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, bekerjasama dengan PTP XXXI/XXXII dan IB-Netherland di tahun 1980-an.
  • Contoh kegiatan penelitian tersebut antara lain disajikan sebagai berikut:

 IMG_0002

Base camp percobaan “Cassava Based Cropping System”

 IMG_0003

Persiapan lahan percobaan

 IMG_0004

Plot:  Cassava monokultur

 IMG_0005

 Plot:  Cassava – Padigogo

 IMG_0006

Plot:  Cassava – Kacang tunggak (Cowpea)

IMG_0007

Plot:  Cassava – Jagung (Zea mays)

 IMG_0008

Plot:  Cassava – Padigogo (setelah Kacang tunggak)

 IMG_0010

 Ubikayu untuk pakan ternak

01 MaySOIL-Topografi Gunung Berapi

   

TOPOGRAFI GUNUNG BERAPI

 

  Kawasan (contoh):   Gunung  Bromo,  Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

  IMG_0001

  Kawah Gunung Bromo

  • Gunung berapi, memberikan arti sendiri bagi kehidupan di sekitarnya:  energi sumberdaya, vegetasi spesifik, panorama alam.
  • Aksi alam perlu direspon dengan cara mempelajari sifat dan perilaku, dampak positif atau negatif sehingga dapat melakukan upaya pelestarian.
  • Bagaimanapun, di balik “keindahan” tersembunyi kemungkinan ada “bencana”.
  • Panorama indah menjadi objek pariwisata domestik maupun mancanegara yang menarik.

 IMG_0002

Panorama menjelang pagi (hamparan awan menutup kaldera)

IMG_0003

IMG_0004

IMG_0005

IMG_0006

 Panorama menjelang matahari terbit (early morning)

IMG_0007

Matahari terbit (sunrise)

IMG_0008

IMG_0009

IMG_0010

Pariwisata menikmati panorama, fasilitas olahraga dan rekreasi

IMG_0011

IMG_0012

Kaldera (dataran pasir seputar gunung)

Panorama:

-Saat subuh (menjelang matahari muncul) seputar kawah diliputi awan putih mengambang seolah berada di bawah kita;  saat matahari terbit (sunrise) memberikan keindahan alam yang menakjubkan.

Kaldera:

-dataran pasir di seputar kaki gunung, merupakan kawasan luas spesifik yang dapat dimanfaatkan untuk berolah raga jalan kaki maupun menunggang kuda.

Vegetasi:

-Pinus (Pinus mercusii).

-Semak rendah atau rumput liar pencegah erosi.

Flora:

-Tanaman bunga liar spesifik gunung Bromo – Semeru - Edelweis Jawa (Anaphalis javanica), merupakan ciri khas vegetasi alam di kaldera Bromo – Semeru.

18 AprSOIL-Lahan dan Tata Ruang

  

LAHAN DAN TATA RUANG  -  DEFINISI  -  IMPLIKASI PRAKTIKAL

 

Sumber Daya – Dampak – Pengaturan

 

 imagesCAXDYWTE

104456[1]

imagesCAVEL1T0

  • Tanah – adalah sumberdaya alam yang ada di muka bumi ini dan tersedia untuk kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia.  Tanah dikelola manusia agar berfungsi optimal sebagai sumber kehidupan tersebut.
  • Lahan, merupakan kawasan penggunaan luasan tanah untuk kehidupan terpadu  antara manusia, hewan dan tumbuhan dalam suatu sistim lingkungan hidup.  Daya dukung lahan ditunjukkan oleh tingkat kualitas kehidupan ketiga komponen.
  • Tata ruang:  merupakan upaya manusia dalam mengatur penggunaan lahan agar berfungsi optimal dalam menunjang tata kehidupan.
  • Andal,  Analisis terhadap komponen lingkungan, sebelum suatu pekerjaan pembangunan dilakukan.
  • Amdal,  Analisis mengenai dampak terhadap komponen lingkungan, dilakukan setelah pekerjaan pembangunan selesai dan digunakan.
  • Kegiatan pembangunan memerlukan tata guna tanah, tata guna lahan, dan tata ruang yang benar sesuai dengan kaedah-kaedah yang rasional, agar berdampak positif bagi kehidupan secara berkelanjutan.

 

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA TANAH, LAHAN, TATA RUANG SERTA PENANGANANNYA - S yekhfani

 

17 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Lepas

  

LAHAN BEKAS TAMBANG LEPAS – PASIR BATU – KAPUR –DAN LAIN-LAIN

  

Peruntukan – Pemeliharaan – Perbaikan

 

 Penambangan Pasir Bojonegoro

imagesCALX0UQC

  • Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) – di Indonesia, dimanfaatkan untuk berbagai bidang:  industri, tambang, pekerjaan umum, pertanian, dan sebagainya.
  • Pendayagunaan SDA, ditujukan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat, sesuai aturan perundangan, tetapi juga perlu dijaga jangan sampai merusak lingkungan alam ataupun lingkungan kehidupan, agar SDA dapat bermanfaat dan berlanjut.  Oleh sebab itu, perlu dipelihara, dan diperbaiki bila rusak.
  • Contoh:  jenis tambang lepas (golongan C), yang banyak dilakukan oleh masyarakat di sepanjang tepi sungai (pasir dan batu) atau perbukitan (kapur, batu fosfat alam).
  • Reklamasi, Ameliorasi, Amandemen,  tanah ataupun lahan, merupakan teknik yang dilakukan bila lahan bekas tambang lepas tersebut terlanjur rusak. Diperlukan wacana yang luas dan komprehensif untuk maksud tersebut.

 

 PERUNTUKAN DAN PEMELIHARAAN LAHAN BEKAS TAMBANG GOLONGAN C Syekhfani

 

12 AprSOIL-Terungkap dan Tertutup

  

ALAMI – BUDIDAYA – PROBLEM

 

REKLAMASI – AMELIORASI

 

Foto-foto: Syekhfani

 

TERUNGKAP (Expose, Open):

 Alfisol2(Kemarau  Lamongan)

Alfisol Lamongan (Jawa Timur), musim kemarau biomas vegetasi topsoil mati kekeringan, tanah merekah karena kadar liat tipe 2:1 tinggi (shrinked-mengerut), menyebabkan celah lebar dipermukaan lahan.

 G9a

Inceptisol Citraland (Kotamadya Surabaya), permukaan lahan taman yang terbuka menyebabkan proses evaporasi air tanah mengandung garam, sehingga permukaan tanah tertutup lapisan kristal garam menyebabkan bila larut dalam air hujan atau irigasi maka reaksi tanah menjadi alkalis; terjadi gangguan pertumbuhan tanaman hias (taman).

 5. Ultisol (Degradasi Berat)

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan terbuka, curah hujan tinggi, terjadi erosi hebat dan topsoil hilang.  Lapisan subsoil (horizon Argilik) kaya liat eluviasi menjadi keras membentuk formasi eksotik.

 3. Ultisol (Sumbar Longsor)

Ultisol Solok (Sumatera Barat), lahan longsor, curah hujan tinggi, topsoil menjadi beban yang tidak dapat ditahan atau didukung oleh subsoil yang punya lapis kedap air dan bidang kilir (slickenside).

Gambut Palangkaraya

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), dibuka untuk bahan pembuat arang gambut (sumber alternatif energi bakar).

 

TERTUTUP (Covered, Close):

 Apel Poncokusumo

Andisol Poncokusomo (Malang, Jawa Timur), permukaan tanah kebun apel, ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi erosi air atau pun angin.  Di samping itu LCC juga berfungsi sebagai penyangga air dan sumber unsur hara (N).

 3. Entiso Blitar2

Entisol Blitar (Jawa Timur), permukaan tanah kebun kopi, tertutup lapisan pasir (sand) materi letusan Gunung Kelud (1990). Rejuvinasi dilakukan dengan mengurangi biomas kanopi pohon kopi dan membuka lapisan pasir di seputar proyeksi tajuk sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan secara normal (pemupukan, dan sebagainya).

 9. Inceptisol (Mulsa Jerami Aceh)

Inseptisol Kota Baru (Banda Aceh), permukaan lahan sawah ditutup mulsa jerami padi sehabis panen. Kegiatan ditujukan untuk mengembalikan jerami ke lahan (mengurangi masalah penumpukan materi di halaman), melakukan proses penghancuran (dekomposisi) in situ, dan pengembalian fungsi bahan organik ke lahan sambil menunggu masa tanam padi berikutnya.

 G7a

Inseptisol Citraland (Kotamadya Surabaya, Jawa Timur), permukaan lahan taman ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi penguapan (evaporasi) tanah salin-sodik sehingga mencegah penumpukan garam dipermukaan yang menggangu pertumbuhan tanaman hias (taman).

 Tanaman Pagar (Percobaan Cover Crop)4

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan dari reklamasi lahan alang-alang (Imperata cylindrica) ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Mucuna pruriens dan lain-lain, agar lahan terbebas dari invasi alang-alang untuk dijadikan lahan budidaya.

 05. DESA PAHANDUT (Tanam Sayur Kangkung)1

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), ditutup rapat dengan biomas tanaman sayur-sayuran (kangkung, dan sebagainya), selain fungsi konsumsi yang bernilai ekonomis,  juga fungsi hidrologi lahan gambut dari ancaman kekeringan dan bahaya terbakar.

 

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …

 

09 AprSOIL-Lahan Basah

POTENSI – PENGELOLAAN  -  DI INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

LAHAN BASAH:  yaitu lahan yang secara alami  “memperoleh air dari resapan curah hujan ke tanah daratan pinggiran sungai dan danau, maupun seputar muara, dan perairan rawa dan payau, sepanjang daerah pantai” (Anonimous 2002), berfungsi sebagai penyangga kehidupan:  fungsi hidrologi suatu kawasan (suplai air tanah, pencegah kekeringan dan banjir), tata air tanah dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional, pencemaran air, dan konversi habitat akhir-akhir ini, menyebabkan penyusutan luasan lahan basah, terutama sungai, danau, dan rawa.

Menurut AWB (Anonimus, 2004a), Indonesia memiliki lahan basah terluas di Asia, yaitu sekitar 42.6 juta hektar.  Data tahun 2002 menunjukkan adanya penyusutan luas menjadi 33.8 juta hektar;  22 juta hektar lahan alami, dan 8.8 juta hektar lahan basah buatan.

Menurut Anonimus (2004b),  dari luas lahan di Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 162.4 juta hektar, sekitar 39.4 juta hektar berupa lahan rawa pasang surut (24.2 %), dan sekitar 123 juta hektar berupa lahan kering (75.8 %).

Karakteristik lahan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hidro-topografi.

Berdasar kondisi tersebut, lahan rawa dibedakan menjadi dua sub kelompok:  rawa pantai  dan   rawa pedalaman.

Rawa pantai dipengaruhi fluktuasi pasang surut, sedang rawa pedalaman oleh adanya pengaruh banjir sungai pada bantarannya.

Menteri pertanian Bungaran Saragih (Kompas, 31 Juli 2003), mengemukakan bahwa lahan rawa dan pasang surut di Indonesia yang mencapai luas 33.4 juta hektar, potensial menggantikan lahan pertanian di Jawa yang telah mengalami konversi ke pemukiman dan industri.

Oleh sebab itu, pengembangannya mendesak dilakukan agar Indonesia, yang pertambahan penduduknya tiga juta jiwa per tahun, kecukupan pangan.

 

LAHAN BASAH:   ASPEK PRAKTIKAL

tanah sulfat masam

Aspek Pertumbuhan Tanaman:

Semua makhluk hidup membutuhkan O2 untuk bernapas, H2O untuk minum, dan hara untuk makan, apakah manusia, hewan, atau pun tumbuhan;  sebagai tambahan cahaya matahari bagi tumbuhan.  Hal ini merupakan prinsip dasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup makhluk-makhluk tersebut, dengan urutan tingkat kepentingan adalah udara, air, dan makanan.

Pada lahan basah, jumlah air tidak menjadi  masalah kecuali kualitas air;  udara menjadi masalah bagi tanaman darat (upland), tetapi tidak bagi tanaman padi sawah (atau tanaman air lainnya atau ikan),  karena tanaman air mampu menyalurkan udara melalui rongga aerenchyma dalam rongga batangnya.

Sedang unsur hara, berfluktuasi tergantung  unsur hara larut dalam air irigasi atau pemberian pupuk.  Akan tetapi pada kasus air tergenang dalam jangka lama (stagnasi), akan berakibat pada transformasi senyawa/unsur tertentu yang menyebabkan jumlahnya  berlebihan (meracun) atau kekekurangan (defisiensi).  Hal ini ditandai oleh perubahan nilai Eh/pH tanah dan air.

Kelebihan unsur akibat salinitas tinggi ditandai oleh perubahan nilai ESP dan EC.

Bila pengaturan irigasi dan drainase berlangsung lancar, maka suplai oksigen tercukupi;  proses reduksi tidak terjadi secara ekstrem.

Sebaliknya, bila tidak lancar atau pada kawasan air irigasi tidak dapat diatur (misalnya terjadi turbulensi), maka proses reduksi akan berlangsung.

Tabel 1. Perubahan  Termodinamika Reduksi Senyawa-senyawa Anorganik pada Sistem Oksidasi-Reduksi (Stevenson, 1986)

Status    Redoks

Kisaran Eh

(mV)

Pertumbuhan   Tanaman
 Oksidasi  > 400 Baik untuk tanaman   darat (upland crops) dan tidak baik untuk padi sawah
 Reduksi   Lemah  400 – 300 Normal untuk padi   sawah, tanaman darat terganggu
 Reduksi   Sedang  200 – (-100) Tanaman darat   sangat terganggu
 Reduksi   Kuat  < (-100)

Padi sawah terganggu oleh senyawa-senyawa reduksi

Pada Tabel 1 di atas ditunjukkan bahwa senyawa-senyawa/unsur-unsur yang akan berubah statusnya adalah N, S dan bahan organik yang hilang menjadi gas, dan kelarutan unsur Fe dan Mn tinggi menyebabkan tanaman keracunan.

Pada tanaman padi sawah/lebak, selain kemungkinan keracunan unsur Fe dan Mn, dapat pula terjadi defisiensi unsur K (penyakit Akiochi, Akagare, Mentek) dan defisiensi unsur P.

Unsur K (dan juga unsur lain) terhalang serapannya karena akar tanaman padi diselubungi karat besi atau mangan;  sedang unsur P terfiksasi dalam bentuk sukar larut dan tidak tersedia (Iron/Manganese induced chlorosis phosphorous).

Kelarutan besi dan/atau mangan tinggi akibat proses reduksi tidak akan menjadi masalah bila bereaksi dengan ion sulfida yang juga tinggi, membentuk FeS atau MnS.

Senyawa-senyawa ini terakumulasi pada lapisan tanah reduktif (horizon sulfidik).

Selama lapisan ini tidak diganggu dan diangkat ke permukaan, ia tidak akan menjadi masalah.  Keberadaan senyawa-senyawa ini ditunjukkan oleh adanya mottling dan bercak-bercak dengan tekstur halus dikenal dengan nama cat clay.

Bila lahan diolah dan senyawa-senyawa terangkat, maka proses oksidasi terjadi,  sulfida diokasidasi menjadi sulfat dan pH tanah turun secara drastis (dapat mencapai pH = 1).  Pada pH sangat  rendah ion besi dan mangan berada dalam bentuk Fe2+ dan Mn2+ dalam konsentrasi sangat tinggi.

Dalam hal ini, tidak satu jenis tanaman pun yang akan dapat tumbuh.

 

Aspek Pengelolaan:

Dalam pengelolaan lahan basah, diperlukan langkah-langkah:  (1) penyiapan/perbaikan sistem irigasi – drainase, (2)  ameliorasi tanah untuk mengatasi pH, Eh, dan EC ekstrem, (3) penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman, ternak, ikan), (4) mempertahankan jenis – jenis (varietas) tanaman, ikan, ternak unggul lokal, dan (5) mempertimbangkan pengembangan sistem pertanian tradisional spesifik lokasi yang menunjukkan sistem berkelanjutan melalui masukan teknologi.

 

Sistem Irigasi – Drainase

Langkah pertama persiapan lahan basah untuk budidaya pertanian (perikanan, peternakan) adalah pengelolaan  sistim irigasi – drainase, dalam mengatur tata air dan udara tanah.  Kualitas air sangat ditentukan oleh sumber air dari sungai atau intrusi air laut untuk lahan dekat pantai.  Untuk hal kedua, maka masalah salinitas dan kadar garam tinggi perlu dipantau dengan baik.  Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Sifat perilaku air yang masuk dalam saluran irigasi, akan menentukan input air pada kawasan lahan budidaya.  Penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi dari Unlam (Disertasi, 2004),  menunjukkan ada kawasan di mana air masuk tidak dapat keluar karena mengalami turbulensi.  Pada kawasan in terjadi penggenagan permanen yang berakibat proses reduksi terus menerus.  Pada kawasan ini, pemilihan jenis tanaman secara bijak adalah tanaman yang secara alami toleran dan berkembang pada kondisi tersebut (misalnya pohon Gelam, rumput Purun, dll.).

 

Ameliorasi Kesuburan Tanah

Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, sistem Surjan).  Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.  Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.  Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah. Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman.  Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

 

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu (integrated farming system), perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan bahan organik dan unsur hara di lahan budidaya, dan ini merupakan syarat agar sistem dapat bersifat berkelanjutan.

Tumpangsari padi sawah dengan ikan (mina padi) dan ternak unggas:  itik, ayam, dan ruminan:  kerbau, sapi, kambing;  dapat di atur dalam pengelolaan onfarm maupun outfarm. 

Ternak ruminan dapat memperoleh pakan dari rumput-rumput alami yang tumbuh subur di lokasi setempat.

Dalam sistem ini, masukan bahan organik (terutama pupuk kandang) berperan penting dalam menjaga sifat kesuburan tanah.

Pupuk kandang berfungsi secara multi purpose dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan (terutama) biologi tanah.  Teknologi ‘dekomposisi’  bahan organik sisa panen, kompos maupun pupuk kandang perlu disampaikan pada tingkat petani, agar mereka mampu menyediakan bahan organik dari sumber yang ada.

 

Mempertahankan dan Mengembangkan Sistem Tradisional Setempat

Budidaya tradisional yang menunjukkan hasil cukup baik, serta penggunaan jenis tanaman (dan ikan) varietas unggul lokal, perlu dipertahankan serta dilakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Sistem “Handil” yang telah berkembang cukup lama di daerah pasang surut Kalimantan Selatan perlu dikaji dan dikembangkan.

Keampuhan sistem ini adalah dari segi pembuatan saluran-saluran irigasi dan drainase yang mengikuti sifat perilaku air pasang surut;  di samping pengolahan minimum.

Pengolahan minimum tidak mengganggu lapisan Sulfidik, sehingga masalah pH masam dan keracunan besi dan mangan dapat diminimalkan.

Upaya pengelolaan lahan pasang surut menggunakan sistem “Zonasi”, yaitu membagi kawasan pengelolaan berdasar pada batas segmen-segmen jarak dari sungai (hasil penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi, 2004), perlu  mendapat perhatian untuk dikaji kemungkinan penerapannya.

REFERENSI

Anonimus.  2002.  Lahan Basah Alam Asli Indonesia. File Hari Lahan Basah Sedunia 2002. file: Lahan Basah Sedunia 2002.htm.

_________.  2004a.  Lokakarya Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah (National Strategy for the Management of Wetlands Ecosystem).  Situs Menteri KLH, 20 February 2004.  Asdep. Urusan Ekosistem Darat Telp/Fax. 021 85904934. E-Mail:  ekosistem_airtawar@yahoo.com.

_________.  2004b.  Informasi Umum Tentang Rawa Pasang Surut di Indonesia.  Rawa Pasang surut, Evaluasi Pedoman Pengembangan. Web: Tidal-lowlands.org

Bambang Djoko Priatmadi.  2004.  Segmentasi, Dinamika S dan Fe, dan Reklamasi Tanah Sulfat Masam  dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Tanaman Padi.  Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Kompas.  2003.  Lahan Rawa 33 Juta Ha Gantikan Pertanian Jawa.  Kompas, Kamis – 31 Juli 2003.

Stevenson, F.J.  1986.  Cycle of Soil:  Carbon, Nitrogen, Phosphorous, Sulfur, Micronutrients.  John Wiley & Sons.  New York.  380 p.

 

 

Disajikan dalam Seminar dan LKTI Se-Indonesia, Himpunan Mahasiswa Pakultas Pertanian Uiniversitas Lambung Mangkurant, Banjarbaru, 3 Agustus 2004  – Syekhfani

 

06 AprSOIL-Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

 

KEBAKARAN HUTAN – FENOMENA ALAM/MANUSIA – BUTUH REHABILITASI

 

 hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar[1]

Contoh:  Kebakaran kawasan hutan di Puncak Gunung Lawu. Kebakaran di hutan yang berada di dua propinsi yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mayoritas ditanami pohon pinus seluas 15 hektar itu diperkirakan sudah terjadi sejak Minggu (22/7) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Lihat:  hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar

 

gn-walat2[1]

Kondisi umum hutan sehabis terbakar:  Tampak bekas terbakar menyisakan abu (arang) dari tumbuhan terbakar.  Di satu pihak masih memberikan efek positif sebagai sumber unsur hara atau bahan pengondisi sifat kesuburan tanah.  Tetapi di lain pihak, suhu tinggi saat terbakar menyebabkan kondisi biologi tanah (sifat kesuburan biologi rusak) dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih kembali.  Upaya rehabilitasi hutan bekas terbakar mempercepat pemulihan tersebut agar hutan menjadi normal kembali seperti semula. Lihat:  Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

semak2[1]

 

Contoh rehabilitasi:  kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain (Baning Kalimantan Barat):

a. Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKN) Tahun 1994, merupakan proyek Dinas Kehutanan Kalimantan Barat. Bibit yang ditanam dari jenis Dipterocarpaceae seperti Mabang (Shorea panchyphylla), Meranti Bunga (Shorea farvifolia), dan lain-lain.

b. Pembuatan saluran drainase Tahun 1995-1996, merupakan proyek Pemda Daerah Tingkat II Sintang. Pembuatan drainase ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya penyerobotan lahan dan kebakaran hutan dalam kawasan pada musim kemarau. Panjang drainase ini kurang lebih 6 km melingkari kawasan dan sebagian masuk dalam kawasan hutan.

c. Rehabilitasi Kawasan Taman Wisata Alam Baning Tahun 2002, merupakan proyek BKSDA kalimantan Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali jenis-jenis tanaman yang tumbuh dihabitat aslinya dengan melakukan kegiatan penanaman pada areal bekas kebakaran. Selain itu dengan adanya campur tangan manusia melalui kegiatan penanaman diharapkan akan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan cepat dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terbuka. Link:  baning-kalbar

 

02 AprSOIL-Degradasi Lahan Sawah

 

 

PADI SAWAH – INTENSIFIKASI – LEVELLING OFF

 

 

Degradasi Lahan Sawah (low land)

imagesCACPFUIH

padi-inpari-13[5][1]

 

  • Intensifikasi pertanian, terutama di pulau Jawa dan ekstensifikasi dan/atau menuju intensifikasi di luar pulau Jawa, menunjukkan tingkat perkembangan lahan yang berbeda secara kontras;  terutama dari aspek potensi lahan dan status kesuburan tanah.
  • Intensifikasi di Jawa dilakukan secara luas dan menyeluruh di lahan budidaya tanaman padi sawah, menggunakan paket teknologi (termasuk penggunaan pupuk NPK-kontinyu) sejak awal tahun 1970-an hingga  1990-an.
  • Setelah pencapaian swasembada beras tahun 1984, terasa peningkatan produksi semakin sulit,  produktivitas ‘melevel’ (levelling off) dan bahkan cenderung menurun (declined).
  • Disinyalir telah terjadi ketidak-imbangan status unsur hara dalam tanah, di mana kandungan unsur hara makro (P dan/atau K) tinggi, sedang unsur hara semi makro (S) serta unsur hara mikro (Zn) cenderung rendah, muncul gejala defisiensi di beberapa lokasi sentra produksi padi.
  • Hal yang sangat spektakular adalah kandungan bahan organik ternyata sudah “sangat rendah” (di bawah 1%).
  • Sejalan dengan rendahnya kandungan bahan organik, aplikasi pupuk N selalu menunjukkan respon;  bahkan tanpa pemberian pupuk nitrogen produksi tidak dapat diharapkan.

 

  • Degradasi sifat kimia di lahan budidaya pertanian intensif, yang diikuti ketidak-imbangan status unsur hara makro, semi makro, dan mikro ini;  menyebabkan potensi produktivitas tanaman padi sawah masih jauh untuk dicapai.
  • Hal ini merupakan masalah utama dalam peningkatan produksi pangan di sentra produksi padi di Jawa (juga beberapa daerah di luar pulau Jawa).
  • Keadaan serupa juga terjadi pada tanaman pangan non-padi berbasis padi sawah (jagung, kacang-kacangan).
  • Jenis tanaman  padi unggul rekayasa biologis mencapai potensi produktivitas  di atas 10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar.
  • Namun potensi produktivitas ini masih sangat jauh, di mana rata-rata produktivitas nasional hanya  5.0  ton  GKG/ha; dan Jawa  Timur  sebagai  sentra  produksi  beras, hanya  5.5  ton  GKG/ha.

 

Wacana:  Diperlukan peningkatan daya dukung melalui program intensifikasi lahan kering (upland)

01 AprSOIL-Tropika Indonesia

 

 

TELAAH  DATA – SETENGAH  ABAD – KESUBURAN  TANAH

 

 

TREN  PERUBAHAN  STATUS

 

 

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia). Meski data terbatas, namun memungkinkan untuk melacak tren perubahan sifat kimia top soil Indonesia dari tahun 1940 hingga 1990. Beberapa hal penting dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

 

(1). Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

(2). Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, makin tampak hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

(3). Pada lahan luar Jawa P, K dan pH  semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa,  di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

(4). Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

(5) Analisis data yang tersedia menunjukkan bahwa erosi adalah sumber kunci, atau sumber percepatan degradasi tanah di Indonesia. Bila erosi adalah sumber kunci degradasi, tentunya akan mengurangi P dan K total, tetapi hal ini tidak tampak, penurunan bahan organik dan N  terjadi tahun 1970, sebelum kejadian bahwa tingkat kecepatan kehilangan tanah akibat erosi, sebut saja, intensifikasi pembudidayaan di Jawa dan perluasan pembukaan lahan hutan dan pemukiman di luar Jawa. Lebih jauh,  top soil yang semakin tipis boleh jadi refleksi sederhana suatu perubahan penelitian terhadap degradasi di Indonesia dikurangi konsentrasinya terhadap erosi dan akibatnya, tetapi lebih terkonsentrasi pada proses akibat-manusia (human-induced), seperti aplikasi pupuk, kontrol air, dan berkurangnya serapan hara oleh tanaman.

 

Sumber:

Lindert,  Peter H.  2000.   Shifting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia.  The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

 

 

 

 

29 MarSOIL-Tanaman Sereal

 

 

PADI – JAGUNG – TEBU

 

KOMODITI PANGAN DAN ENERGI UTAMA

 

Tropika (Indonesia)

 

imagesCAR6RRD3

imagesCAL0U35R

PADI (PUSRI)  - Padi – Oryza sativa – Gramineae.

Beras (biji padi giling) merupakan pangan utama hampir semua penduduk Asia Tenggara dan banyak tempat di Afrika dan Amerika Latin. Ia dimasak dengan cara mendidihkan atau mengukus, dan dimakan bersama sayur, ikan, atau daging.  Tepung beras umumnya digunakan untuk bahan wine, bir, dan spiritus, melalui proses fermentasi. Gabah, kebanyakan digunakan sebagai pakan ternak meskipun bentuk padi, karena nilai nutrisinya lebih rendah.

Tanaman padi mempunyai toleransi luas terhadap kondisi lingkungan tumbuh bila ditanam dengan irigasi, dengan kemampuan tumbuh varietas pada semua jenis tanah, termasuk tanah salin ataupun alkalin.  Namun, pada tanah sulfat masam (pH 2 – 4) dari reklamasi lahan rawa (bakau), budidaya tanaman padi tidak mungkin dapat dilakukan;  pH tanah optimum untuk tanaman padi adalah 5.5 – 6.5. Faktor paling krusial dalam pertumbuhan tanaman padi adalah kebutuhan air 800 – 1600 mm selama musim pertumbuhan, kebutuhan air lebih banyak pada tanah yang lebih permeabel. Varietas padi apung, dapat tumbuh hingga fase vegetatif pada kondisi air tergenang hingga kedalaman 4 meter. Tanaman padi bisa pula tumbuh di lahan kering (upland) pada berbagai jenis tanah dalam sistem ladang berpindah (shifting cultivation).  Bagaimanapun, tanaman padi sangat peka terhadap kekurangan air, membutuhkan 200 mm per bulan selama periode tumbuh 100 – 125 hari.  Padi toleran terhadap suhu hingga ketinggian 3000 m.  Namun suhu optimum adalah 20 – 37 derajat C, di mana pertumbuhan terhambat pada suhu kurang dari 20 derajat.

 

Jagung2-reuters1[1]

imagesCANT9IOS

JAGUNG (PUSRI) - Jagung – Zea mays – Gramineae.

 

Jagung, satu di antara tiga tanaman sereal terpenting dunia (selain padi dan gandum), dan menunjukkan distribusi terluas di antara sereal tertentu. Tanaman jagung merupakan pangan sereal primer manusia. Hanya sebagian kecil dari produksi jagung total yang diperdagangkan.

Pada beberapa negara maju jagung ditanam sebagai pakan ternak dan bahan baku industri, seperti minyak, sirup, dan pati.  Biji jagung dapat difermentasi menjadi bahan minuman dan menghasilkan wiski, atau industri alkohol, asam, asetaldehid, aseton, dan gliserol.  Residu tanaman dapat dijadikan pakan ternak, bedeng semai, bahan bangunan, dan bahan bakar.

Jagung, mengandung asam amino, lisin, dan triptofan seperti halnya gandum ataupun beras tetapi levelnya lebih rendah. Ia juga mengandung niasin pada level lebih rendah, tetapi thiamin lebih tinggi.

Tanaman jagung beradaptasi terhadap panas, kondisi lembab, dan tidak toleran terhadap beku atau  kering kecuali ada air irigasi.  Suhu dan kelembaban pada minggu pertama dari 4 minggu awal bulan priode pertumbuhan cepat, merupakan kondisi kritis yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan sebelum muncul bunga.  Kekeringan pada fase ini menekan pembungaan dan mempengaruhi produksi secara serius.  Kemampuan tanaman mengatasi masa kritis berhubungan erat dengan inisiasi pertumbuhan sistem perakaran.  Meskipun tanaman jagung mempunyai toleransi luas terhadap latitude dan altitude, kultivar individual hanya tampak baik pada kisaran latitude dan altitude sempit;  periode pemasakan di tropika berkisar antara 6 – 8 bulan pada ketinggian 2500 m hingga 3 – 4 bulan pada level laut.

Varietas tanaman jagung dapat ditanam secara luas pada jenis tanah ber pH di atas 5.0, berdrainase baik.  Di sebagian besar tempat di tropika, pada kondisi tadah hujan (rainfed)  mempunyai kemampuan kapasitas penahanan air (water holding capacity) cukup,  memungkinkan keberlanjutan pertumbuhan tanaman jagung dari musim kering hingga ke musim hujan berikutnya.

 

imagesCA9ABJKE

imagesCAU8LK1S

 

TEBU (NASA) - Tebu – Saccharum officinarum – Gramineae.

Tebu ditanam  untuk memperoleh gula dalam batangnya.  Secara tradisional, batang tebu dikunyah untuk memperoleh gulanya, tetapi sekarang gula diperas secara mekanik.  Berbagai jenis produk samping sisa proses ekstraksi mempunyai kegunaan masing-masing.  Molase dapat difermentasi untuk membuat rum, alkohol industri atau etanol, sedang ampas yang dikenal sebagai bagas, digunakan untuk bahan bakar dalam proses di pabrik gula itu sendiri.   Kelebihannya dapat digunakan untuk enersi pembangkit listrik atau bahan baku kertas dan papan.  Blotong (filter mud), yang tertinggal saat proses kristalisasi gula, potensial sebagai bahan pembawa (carrier material) inokulum Rhizobium dalam produksi tanaman Legum.  Molase dan bagas juga digunakan untuk bahan baku berbagai industri.

Untuk pertumbuhan optimum, tanaman tebu membutuhkan:   suhu antara 32 – 38 derajat C (rata-rata tidak boleh kurang dari 21 derajat C);  curah hujan minimal 1500 mm selama musim pertumbuhan, atau tersedia air irigasi;  dan solum dalam, tanah bertekstur berat berdrainase baik, atau tanah ringan dengan suplai hara cukup.  Musim kering pendek dibutuhkan sebelum panen untuk memaksimalkan akumulasi sukrose.  Tanaman tebu adalah tanaman hari pendek, tetapi perlu dipertimbangkan variasi di antara berbagai kultivar terhdap masa berbunga.

 

Sumber Teks:

Gibbon, G., and A. Pain. Crops of the Drier Regions of the Tropics, p 78-90;  99-102. Ed. by Dr W. J. A. Payne, Consultant in tropical livestock production. I.T.A.S. Longman – London and New York.

 

 

 

16 NovWACANA ILMU TANAH

 1

Upaya Mengerti & Memahami Sifat – Perilaku Tanah

 

2

Dr. Abdurachman Adi - KaPuslitbangtanak:

Degradasi Tanah Pertanian Indonesia - Tanggungjawab Siapa???

 

3

Ultisol terdegradasi berat, kehilangan topsoil, tumbuhan Melastoma pubescens (Hareundeung-Sunda, indikator tanah masam), bertahan hidup pada subsoil yang mengalami konkresi unsur besi/mangan. Foto: Syekhfani

 

4

Profil sumur Ultisol, kedalaman 6 meter, tampak bercak (mottling) besi/mangan di bagian atas (zona oksidasi) dan warna abu-abu (gley) di bagian bawah (zona reduksi). Foto: Syekhfani

UPAYA MENGELOLA LAHAN ULTISOL BERMASALAH

NITROGEN CYCLE -Mekanisme Perilaku (Acuan dasar pengelolaan N – Syekhfani)

5

6

7

8

Reklamasi lahan Alang-alang (Imperata cylindrica L.): dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system) dan penutup tanah (cover cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

10

 

11

Reklamasi lahan alang-alang: dengan Sistem Berbasis Ubikayu (Cassava : Manihot esculenta Crantz -based cropping system) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

12

13

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman pagar (hedgerows cropping system: Lamtoro: Leucaena leucocephala-Jagung: Zea mays L. dan kontrol) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

14

 

15

16

Reklamasi lahan alang-alang: dengan sistem tanaman penutup tanah (Cover Cropping System: Kudzu: Calapogonium mucunoides, Enceng-enceng: Crotalaria anagyroides, dll.) di kebun percobaan PG Bungamayang, Lampung Utara. Dokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

17

Reklamasi lahan alang-alang: di lahan petani (Farmer’s field: jagung, drainase jelek), di luar area kebun PG Bungamayang, Lampung UtaraDokumen penelitian “Nitrogen Management Project” – Foto: Syekhfani

 

14 NovSOIL – IPTEK KESUBURAN TANAH

 

 0

 

PENGENALAN JENIS-JENIS TANAH DI INDONESIA

 

(Foto dan interpretasi: Syekhfani)

 1

Alfisol Lamongan (Jagung): Sifat kesubtan: bahan organik sedang; pH agak masam; KTK tinggi; N (S), P, K sedang; Ca, Mg sedang; Cu, Zn sedang; drainase agak jelek, dan kehidupan cendawan tertekan. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan dolomit (sedang); dan pembuatan saluran drainase.

 2

Andisol Batu (Kubis, Teras Bangku): Daya tahan air agak baik; daya pegang hara agak baik; kadar BO rendah dan pH agak masam; KTK sedang; an kadar unsur (N), (S), (K), P, Mg, Zn agak rendah. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang), kompon NPK(S) sedang, dan dolomit (sedang); serta pembuatan rorak/parit pemegang air di bagian atas teras.

3

Entisol Blitar (lahan selesai panen): Olah tanah cara campur-rata (incorporate) dengan sisa panen. Manajemen: pemberian bahan organik (sedang) dan unsur N, P, K, (S) (sedang, bertahap); dan pemberian mulsa.

4

Histosol Palangkaraya (Vegetasi: semak hidrofil (jenuh air), vegetasi pakis: Fleopeltis longistema Moore ; purun; hareundung: Melastoma malabathricum – indikator tanah masam).

5

Histosol Palangkaraya (Pepaya): tanah gambut (Histosol) di halaman tidak dapat berfungsi baik sebagai penahan tumbuh pohon pepaya ( jangkar, pohon pepaya rebah miring, lih. gb). Manajemen: pemberian tanah mineral, pupuk kandang (tinggi), NPK(S),mikro (lengkap) dan dolomit (tinggi); dan pembuatan saluran irigasi + drainase.

6

1a. Pengolahan dengan traktor (mekanik): perbaikan sifat fisik (udara, air).

7

1b. Pengolahan dengan bajak sapi (tradisional): perbaikan sifat fisik (udara, air).

8

2. Pengguludan (pembuatan guludan dan cemplongan untuk tanam Tebu (Saccharum officinarum L.).

9

3. Penanaman tebu ke-1 (plant cane).

Inseptisol Blitar (Pengolahan Tanah untuk Pertanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Lahan Sawah, TRIS): Sifat tanah: musim kemarau topsoil kering, subsoil lembab; musim hujan lembab; daya tahan air sedang; daya pegang hara sedang; sedang; dan unsur hara N, S, (P, K, Ca, Mg) sedang.

PENELITIAN PUPUK CAIR GREENVIT

Inseptisol Karangploso Malang

GREENVIT 2009

10

Oksisol Subang (Pengapuran Tebu): Sifat tanah: musim kemarau kering, rekah; musim hujan becek, licin, lekat; daya tahan air tinggi; daya pegang hara tinggi; pH dan BO rendah; KTK sedang; kadar N (S), P, K rendah; Ca, Mg rendah; Cu, Zn rendah; dan kehidupan bakteri agak tertekan. Aplikasi kapur pertanian sepanjang alur tanam (band placement) jarak 10 cm kiri-kanan alur, kedalaman 10 cm, dan ditimbun tanah.

11

Vertisol Madiun (Persiapan Tanah Tebu-2000): Sifat tanah: kadar liat tipe 2:1 (mengembang/mengkerut, swelling/shrinked); sifat fisik jelek (musim hujan lekat, musim kemarau rekah), sifat kimia sedang. Aplikasi teknologi irigasi, aerasi, dan drainase.

 

12

Ultisol Lampung Utara: Cassava (Manihot esculenta Crantz) – based cropping system: Nitrogen management project, PG Bungamayang (dokumen penelitian).

13

Ultisol Lampung Utara: Alley cropping/Hedgerows system (Lamtoro: Leucaena lecocephala – Jagung: Zea mays L.) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

14

Ultisol Lampung Utara: cover cropping system (biomas) – Nitrogen management project – PG Bungamayang (dokumen penelitian).

15

 

Ultisol Sumatera Barat (longsor): Sifat fisik jelek (liat tipe 1:1, bidang kilir, permeabilitas rendah, erodibilitas tinggi).

 16

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT

 

(Foto dan Dokumen: Syekhfani)

 

17

Temu Lapang P3GI

18

Diskusi dengan staf PG Bunga Mayang Lampung

19

Program D1-Hortikultura UB-Pemkot Batu (1997, 1998, 1999: Apel-Sayuran-Tanaman Hias)

PELATIHAN STAKE-HOLDER

Materi: Syekhfani

1. KONSEP KESTAN BERKELANJUTAN

2. PROSPEK PERTANIAN ORGANIK

3. NUTRISI TANAMAN

4. Rekomendasi Pemupukan Seimbang

5. AZOLA (Nitrogen fixation in rice based cropping systems)download

 

SOSIALISASI TENTANG TANAH

 

Materi: Syekhfani

 

Kriteria Sifat Kesuburan Tanah

 

Baku Mutu Pupuk Organik

 

1. MANAJEMEN BO

2. Guide to Composting

3. Composting at Home

4. Composting of municipal solid waste

5. Growing Healthy Soil

6. The Right Plants

7. Smart watering

8. Natural Pest, Weed & Diseases Control

9. Natural Lawn Care

10. Smart Gardening

11. Sustainable Soil Management

12. Some Information on Soil Fertility

 

 

UPAYA PENINGKATAN WACANA: INTERAKSI DENGAN MAHASISWA

 

(Foto Dokumen: Syekhfani)

20

Studi Lapangan Mahasiswa FP-UB

21

Diskusi dengan Pengelola Kebun Percobaan FP-UB, Jatikerto

22

Diskusi dengan mahasiswa D1-Horti di Kebun Apel Petani, Batu

Mengenal Profesi Ilmu Tanah (Materi OSPEK MABA FPUB 2012: Syekhfani)

FORSIKA 9 Des 2012 (Materi diskusi: Syekhfani)