11 MayKapan Keluar Gas Perusak Ozon?

TERBENTUKNYA GAS CO2↑ DAN CH4↑

Syekhfani

Pada postingan terdahulu: lihat → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/03/potensi-oksidasi-reduksi-eh/
Gas karbon-dioksida (karbon-monooksida) – CO2 (CO), terbentuk bila bahan organik (CHO)n mengalami oksidasi (terbakar, dibakar).

Reaksinya:
(CHO)n + O2↑ → (n-1)CO↑ + (n-1)H2↑ → (n-2)CO2↑ + (n-2)H2↑
Gas CO2↑, (CO↑) dan H2↑ tidak akan terbentuk bila sisa bahan organik (sampah, waste product) tidak terbakar atau sengaja dibakar.

Tindakan pembakaran sampah (disengaja), secara langsung merugikan, karena: membantu pemanasan global (global warming) dan menghilangkan sumber pupuk organik (bahan baku kompos).

Gas CH4↑ (methan) mulai terbentuk bila gas CO2↑ (CO↑) tereduksi, yaitu pada Eh ≥ 0.17 mV.
Reaksinya:

Capture

Oleh sebab itu, gas perusak lapisan ozon (methan) hanya akan terbentuk pada kondisi permukaan tanah sangat reduktif, tergenang (submerged) dalam jangka lama seperti halnya rawa, kolam, bendungan, atau air cekungan. Sedang pada kawasan yang mengalami penggenangan dan pengeringan silih berganti (alternate) seperti pada sistem bididaya padi sawah, kondisi reduktif hingga menghasilkan gas CH4 relatif sulit untuk dicapai. Apalagi pada sistem padi sawah di mana air irigasi terbatas dan memerlukan manajemen ketat agar lahan sawah kecukupan air saat pertanaman.

Di Indonesia, lahan sawah tidak tergolong sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lapisan ozon (global warming). Lihat Gambar:

09 MayCegah Pemanasan Global!

Gambar Global Warming 2

MANAJEMEN SAMPAH

Syekhfani

Hati-hati menumpuk sampah, salah-salah mendukung laju pemanasan global (global warming).

Lihat: → http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2014/05/pemanasan-global/

Mengapa?

Sampah menumpuk bisa mengalami dua proses: oksidasi dan reduksi yang keduanya bisa menghasilkan gas perusak lapisan ozon.

Oksidasi: dibakar atau terbakar, menghasilkan gas CO2, CO, SO2, dan lain-lain. Dibakar, sengaja dibakar dengan tujuan menjadi abu atau arang dalam mengantisipasi penimbunan berlebihan (eksesif). Terbakar, tidak disengaja, dilakukan oleh bakteri thermotrofik yang mengeluarkan energi panas yang bisa menyebabkan gas yang ada dalam sampah hasil proses reduksi insitu (NH3, CH4, dan lain-lain) terbakar.

Reduksi: ditumpuk, menghasilkan gas methan (CH4) dalam proses fermentasi anaerobik.

Tahukah anda kalau menumpuk sampah menjadi penyebab pemanasan global?
Ini adalah sebuah kenyataan dan banyak orang yang tidak menyadari akan hal tersebut. Sampah yang mengalami fermentasi anaerobik menghasilkan gas metana yang melayang ke udara dan menumpuk di atmosfir bumi. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk karena dapat menyebabkan efek rumah kaca. Gas metana tersebut berkumpul dengan gas-gas lainnya seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, dan uap air yang menjadi perangkap gelombang radiasi sinar matahari.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/2013/10/penyebab-pemanasan-global.html

Manajemen sampah yang baik dan benar , menghasilkan produksi pupuk organik dan menghambat pemanasan global!

Let’s save our planet!

08 MayPemanasan Global

PEMANASAN GLOBAL OLEH MANUSIA

Posting: pemanasanglobal.blogspot.com

Mungkin saja kita sebagai manusia yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global, pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan selama ini secara tidak kita sadari malah berdampak buruk terhadap global warming. Untuk itu, sudah seharusnya kita mengetahui beberapa penyebab global warming yang bisa dilakukan oleh manusia:

• Pemborosan Energi Listrik, salah satu faktor yang menyebabkan bumi ini semakin panas adalah penggunaan energi listrik yang berlebihan. Kadang kita secara tidak sadar menggunakan energi listrik dengan boros (misalnya menyalakan lampu terus menerus, televisi terus menyala padahal tidak ditonton). Hal tersebut tidak baik karena energi listrik yang kita gunakan bersumberkan dari minyak bumi dan batubara dimana proses pembakarannya juga menghasilkan karbon dioksida yang bisa menyebabkan global warming.

• Penggunaan AC dan Kulkas Secara Berlebihan, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa AC dan Kulkas yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari mengandung zak kimi yang bernama CFC (ChloroFlouroCarbons). Senyawa CFC ini dapat melayang ke atmosfir bumi dan merusak lapisan ozon. Tentu hal ini merupakan berita yang tidak baik karena dapat merugikan kita. Sinar matahari yang tidak “difilter” terlebih dahulu akan terasa lebih panas, selain itu hal ini juga bisa menyebabkan efek samping seperti penyakit kulit.

• Lebih Senang Menggunakan Kendaraan Bermotor, Dewasa ini orang tentu memilih untuk menggunakan sesuatu (teknologi) agar mempermudah urusan mereka, termasuk menggunakan kendaraan bermotor. Akan tetapi seharusnya kita bisa bijak menggunakan kendaraan bermotor, jangan sampai untuk bepergian yang jaraknya dekat (seperti minimart depan komplek) kita tetap menggunakan kendaraan bermotor. Pilihlah alternatif-alternatif lain yang lebih “Go Green” seperti berjalan kaki ataupun bersepeda.

• Penggunaan Gadget Secara Berlebihan, Saat ini memang manusia tidak bisa lepas dari gadget (komputer, laptop, handphone, dan lain-lain). Tidak salah memang jika kita menggunakan gadget untuk mempermudah pekerjaan kita, akan tetapi sebaiknya kita menggunakan gadget-gadget tersebut secara wajar. Menggunakan gadget secara wajar berarti kita turut mendukung program penghematan listrik yang dicanangkan Pemerintah saat ini. Menghemat listrik berarti kita berusaha untuk mengantisipasi agar global warming tidak semakin parah.

• Membakar Sampah, tahukah anda kalau membakar sampah menjadi penyebab pemanasan global? Ini adalah sebuah kenyataan dan banyak orang yang tidak menyadari akan hal tersebut. Sampah yang terbakar berupa gas karbon dioksida akan melayang keudara dan menumpuk di atmosfir bumi. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk karena dapat menyebabkan efek rumah kaca. Gas karbon dioksida tersebut berkumpul dengan gas-gas lainnya seperti karbon monooksida, sulfur dioksida, dan uap air yang menjadi perangkap gelombang radiasi sinar matahari.

• Menyisakan Makanan, mungkin ini tidak anda ketahui sebelumnya, tapi faktanya adalah benar bahwa menyisakan makanan secara tidak langsung berimplikasi terhadap pemanasan global yang lebih parah. Makanan-makanan yang disisakan (makanan sisa) seperti nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan sayur-sayuran akan mengalami dekomposisi anaerobik di mana proses tersebut akan menghasilkan gas metana. Sudah kita ketahui bersama bahwa gas metana merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca yang berdampak kepada pemanasan global.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/

Gambar Global Warming 1

Gambar diatas menunjukan proses terjadinya efek rumah kaca yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Intinya adalah sinar matahari yang memantul dari permukaan bumi terperangkap di atmosfer karena menumpuknya gas efek rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, sulfur dioksida, dan uap air.

Gambar Global Warming 2

Gambar diatas adalah sebuah artikel mengenai sumber pemanasan global di Indonesia. Dan ternyata Indonesia juga menjadi salah satu negara kontributor terjadinya pemanasan global karena kerusakan dan penggundulan hutan, eksplorasi sumber daya alam, dan juga emisi gas karbon dioksida dari industri dan kendaraan bermotor.

Gambar Global Warming 3

Gambar di atas diambil oleh seseorang didaerah Prince William Sound, Alaska, Amerika Serikat. Pada gambar tersebut kita bisa melihat bongkahan salju yang mencair dan jatuh, hal tersebut merupakan imbas dari pemanasan global saat ini. Perlu anda ketahui bahwa global warming menghancurkan banyak glacier diwilayah Alaska.

Gambar Global Warming 4

Gambar tersebut menunjukan seekor beruang kutub yang sedang berjalan diatas salju. Global warming menyebabkan mahluk hidup terancam punah, bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa 50-100 tahun mendatang satu juta spesies mahluk hidup akan punah karena pemanasan global. Untuk itu, mari kita bersama mengantisipasi global warming.

Lihat: → http://ipemanasanglobal.blogspot.com/2013/10/kumpulan-gambar-global-warming.html

22 JanKELEMBABAN TANAH DAN PEMANASAN GLOBAL

 

EurekAlert!

 

Tim Teknik Kolumbia:  Membuat Langkah Besar dalam Perkiraan Cuaca Ekstem

(Banjir dan Kekeringan)

 

 

New York — June 5, 2011 — Kelembaban dan fluktuasi panas  permukaan tanah ke atmosfer membentuk suatu hubungan krtitis antara hidrologi permukaan dan proses atmosferik, khususnya berkenaan dengan curah hujan.  Sementara teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, telah  dilaporkan secara luas.  Tim peneliti dari Columbia Engineering, Geophysical Fluid Dynamics Laboratory, dan Rutgers University telah mendemonstrasikan bahwa penguapan permukaan tanah mampu merubah curah hujan musim panas sebelah utara Mississippi daerah iklim monsonal AS selatan dan Meksiko.  Salah satu temuan utama mereka adalah bahwa penguapan permukaan tanah, bagaimanapun, hanya dapat memodifikasi frekuensi curah hujan musim panas, tidak terhadap jumlah hujan, hidrologi dan proses atmosferik, khususnya berhubungan dengan curah hujan.  Sedangkan teori aliran listrik menyatakan bahwa kelembaban tanah mempunyai dampak positif terhadap hujan, yang telah sangat sering diteliti secara luas.

Para peneliti menggunakan data dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) untuk mengukur dampak penguapan daratan terhadap frekuensi dan intensitas curah hujan musim panas di Amerika Utara. Mereka menemukan bahwa penguapan yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan sore di bagian timur Mississippi dan Meksiko, sementara tidak berpengaruh terhadap curah hujan di AS barat.  Perbedaan ini disebabkan kelembaban di atmosfer. Cuaca di atas wilayah barat begitu kering tidak terpengaruh oleh penguapan dari permukaan, tambahan sumber hujan tidak akan memicu hujan karena segera hilang ke atmosfer.  Cuaca di atas wilayah timur cukup basah sehingga kelembaban ditambah penguapan permukaan membuat terjadi hujan.

“Bila bagian timur benar-benar menjadi basah”, ungkap Gentine, “selanjutnya permukaan akan memicu lebih banyak hujan sehingga menjadi lebih lembab, dan ini membuat lingkaran setan terjadi banjir dan kekeringan.  Alam – yaitu vegetasi permukaan tanah – tidak dapat mngendalikan proses hujan di bagian barat, sebaliknya bagian timur dan selatan.  Kenyataan ini sanbgat penting dimengerti dalam pemahaman  tentang kejadian banjir dan kekeringan”.

Akibatnya, sekali banjir atau kekeringan dipicu dalam proses skala besar, seperti halnya anomali suhu permukaan laut, kejadian banjir/kekeringan paling mungkin bertahan di AS timur dan selatan, tetapi di barat durasi dan frekuensi banjir/kekeringan dikendalikan hanya oleh proses lautan;  daratan tidak dapat memodifikasi proses curah hujan.

Keadaan tanah kering atau basah tidak mengubah curah hujan berikutnya:  konsekuensinya permukaan tidak akan membantu kondisi hidrologi bertahan (misalnya banjir/kekeringan).  Seperti proses anomali permukaan laut, kondisi banjir/kekeringan yang paling mungkin bertahan di bagian timur dan selatan AS, sedangkan bagian barat dikendalikan hanya oleh proses lautan.

Gentine sedang mengembangkan suatu kerangka teori untuk mengetahui pembentukan hujan dan dan awan di atas daratan dan mengatakan bahwa hal ini akan menjadi trobosan penting dalam pemahaman tentang bagaimana kelembaban dan vegetasi mengontrol proses pembentukan awan dan hujan.  “Saya menganggap penelitian ini menarik karena merupakan bidang riset dasar – memahami bagaimana alam bekerja – dan aplikasi praktikal yang berpengaruh terhadap pengelolaan banjir/kekeringan/air di bumi.  Di Laboratorium luar:  pengamatan terhadap awan dan hujan!”.

http://www.eurekalert.org/pub_releases/2011-06/cu-cet060211.php

Public release date: 5-Jun-2011

Contact: Holly Evarts
holly@engineering.columbia.edu
212-854-3206 Columbia University