28 NovSOIL-Multiple Produce

 

MULTIPLE PRODUCE

(PRODUKSI GANDA)

 

Panen – Produksi – Efisiensi – Nilai

Syekhfani

 MP

 

Saat panen tiba, lahan sawah sibuk luar biasa. Petani beramai-ramai turun melakukan pekerjaan berat di terik matahari. Betapa tidak, empat bulan lamanya mereka telah bersusah payah mengolah lahan; membajak, memacul, menanam, memupuk, memelihara, dan hari itu akan memetik hasilnya.

2

Akankah jerih payah tersebut dibiarkan terbuang sia-sia? Tentu saja tidak, tidak sedikitpun produksi boleh hilang tercecer:  gabah, malai, jerami, sekam, menir, seluruh produksi.  Mereka semua harus dibawa pulang untuk anak isteri dan keluarga.  Ramai-ramai mereka panen, potongan jerami ditumpuk di lahan, lalu disusun di atas gerobak, kemudian ditarik dan didorong bersama. Dibawa pulang, diproses, dikonsumsi, dijual, dijadikan kompos, dijadikan pupuk, diberikan pakan ternak. Capek? Tentu iya, tetapi tidak terasa karena hati gembira.

3

Keringat mengucur di seluruh tubuh;  gerobak penuh dengan hasil produksi panen:  gabah, jerami, bahan kompos/pupuk, dan … UANG! Mereka tersenyum…

MP - 1

 

Itulah nuansa kehidupan petani.  Mereka tidak mengenal arti capek, dan tidak pernah menghitung harga tenaga sendiri.  Bagi mereka, tenaga sendiri tidak perlu dinilai uang, tetapi lebih dari itu… dinilai dengan keceriaan dan “Kebahagiaan”.

 

Petani, ahli yang benar-benar ahli, mengerjakan semua proses produksi dari A sampai Z…!!

 

10 NovSOIL-Levelling Off

Capture

 

TANYA MEREKA ~ ASK THEM

  

Mengalami:  Levelling off? Tanya Mereka!

  

Syekhfani

 

Ketika melihat pertumbuhan tanaman di kebun tampak tidak subur

Ketika mengetahui produktivitas tanaman di lahan menurun

Ketika fakta menunjukkan produksi komoditas kebun berfluktuasi

 

Lalu…

Segala macam upaya telah dilakukan

Segala macam cara telah dicoba

Segala macam alternatif  telah didiskusikan

 

Namun…

Tetap saja tidak ada perubahan

Tetap saja tidak ada kemajuan

Tetap saja pusing

 

 LEVELLING OFF!!

 

Putus asa?!

Menyerah?!

Bunuh diri?!

 

Apakah anda … Sudah tanya?!

Pada tananaman:  Hai tanamankamu butuh apa??

Pada tanah:  Hai tanahkamu punya itu??

Tidak!?

Pada pupuk:  Tolong dong, bantu tanah dan tanaman!

 

Selanjutnya anda bisa negoisasi:

Kepada Pupuk: berapa banyak bisa memberi (stok),

Kepada Tanah: berapa banyak bisa menerima pupuk (kapasitas),

Kepada Tanaman: berapa banyak bisa memerlukan (dosis) ~ kapan saat diperlukan (waktu), dan bagaimana cara yang diinginkan (cara)!

Yang terakhir ini adalah ~ KAEDAH APLIKASI PEMUPUKAN!

 

Apakah anda sudah melakukannya dengan benar?!

 

Belum?

 

Lakukan, itu adalah alternatif solusi!

 

Lihat: → DISKUSI SPO

Lihat: → PROSPEK-PERTANIAN-ORGANIK

  

22 JulSOIL-Sifat Perilaku


PERTANYAAN: MENGAPA?!

(QUESTION:  WHY?!)

 

Pertanyaan:  Mengapa?!

 

Dalam praktek (in practices):

  • Hewan dan tumbuhan tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa (why)?!.
  • Karena itu perlu diketahui sifat dan perilaku (fate and properties ~ nature and properties) mereka.
  • Juga perlu diketahui syarat pertumbuhan dan kehidupan mereka.
  • Bila ada masalah, perlu diketahui alternatif solusi.
  • Tindakan ini adalah kunci pengelolaan (management) dalam memperoleh teknologi inovasi.

 

Contoh:  teknologi pengomposan oleh cacing tanah (earthworm composting):

TAKING CARE OF WORMS

Worms are easy to grow. They’re basically vegetarians and like to eat the vegetable wastes from your kitchen, yard and garden. Worms don’t eat inorganic materials, like plastic, glass or metals. Worms prefer relatively fresh, hard foods like apples, carrots and other fresh vegetables until they have begun to decompose slightly. If you feed your worms these kinds of foods, don’t be concerned if it takes the food some time to disappear. It’s all part of worm composting process. It does help to break or cut up hard foods in a food processor, bit it isn’t required.

Worms don’t have teeth, but do have mouths. They take food in through their mouths and then digest it in their gizzards. A worm’s gizzard needs a small amount of grit (from soil) to grind food. That’s why it’s important to add a handful of garden soil to the bedding material in your bin.

Numerous variables affect how much your worms will eat. For example, they are more active at room temperature than at 40°F. A general rule is that they will consume approximately ½ their body weight in food waste per day, so if you purchased 1 lb. of worms, you can expect them to consume about ½ lb. of vegetable waste per day.

Overfeeding your worms can cause odor problems. If you over-feed your worms, just stop feeding them and allow the worms to catch up. As the worm population increases, you should gradually add more food to the bin.

 

County of Los Angeles, Department of Public Works, Smart Gardening Program → Fact Sheets and Links → http://dpw.lacounty.gov/epd/sg/tech_sheets/wc_qa.pdf

 

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

17 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Lepas

  

LAHAN BEKAS TAMBANG LEPAS – PASIR BATU – KAPUR –DAN LAIN-LAIN

  

Peruntukan – Pemeliharaan – Perbaikan

 

 Penambangan Pasir Bojonegoro

imagesCALX0UQC

  • Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) – di Indonesia, dimanfaatkan untuk berbagai bidang:  industri, tambang, pekerjaan umum, pertanian, dan sebagainya.
  • Pendayagunaan SDA, ditujukan sebesar-besarnya demi kesejahteraan rakyat, sesuai aturan perundangan, tetapi juga perlu dijaga jangan sampai merusak lingkungan alam ataupun lingkungan kehidupan, agar SDA dapat bermanfaat dan berlanjut.  Oleh sebab itu, perlu dipelihara, dan diperbaiki bila rusak.
  • Contoh:  jenis tambang lepas (golongan C), yang banyak dilakukan oleh masyarakat di sepanjang tepi sungai (pasir dan batu) atau perbukitan (kapur, batu fosfat alam).
  • Reklamasi, Ameliorasi, Amandemen,  tanah ataupun lahan, merupakan teknik yang dilakukan bila lahan bekas tambang lepas tersebut terlanjur rusak. Diperlukan wacana yang luas dan komprehensif untuk maksud tersebut.

 

 PERUNTUKAN DAN PEMELIHARAAN LAHAN BEKAS TAMBANG GOLONGAN C Syekhfani

 

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …

 

09 AprSOIL-Lahan Basah

POTENSI – PENGELOLAAN  -  DI INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

LAHAN BASAH:  yaitu lahan yang secara alami  “memperoleh air dari resapan curah hujan ke tanah daratan pinggiran sungai dan danau, maupun seputar muara, dan perairan rawa dan payau, sepanjang daerah pantai” (Anonimous 2002), berfungsi sebagai penyangga kehidupan:  fungsi hidrologi suatu kawasan (suplai air tanah, pencegah kekeringan dan banjir), tata air tanah dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional, pencemaran air, dan konversi habitat akhir-akhir ini, menyebabkan penyusutan luasan lahan basah, terutama sungai, danau, dan rawa.

Menurut AWB (Anonimus, 2004a), Indonesia memiliki lahan basah terluas di Asia, yaitu sekitar 42.6 juta hektar.  Data tahun 2002 menunjukkan adanya penyusutan luas menjadi 33.8 juta hektar;  22 juta hektar lahan alami, dan 8.8 juta hektar lahan basah buatan.

Menurut Anonimus (2004b),  dari luas lahan di Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 162.4 juta hektar, sekitar 39.4 juta hektar berupa lahan rawa pasang surut (24.2 %), dan sekitar 123 juta hektar berupa lahan kering (75.8 %).

Karakteristik lahan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hidro-topografi.

Berdasar kondisi tersebut, lahan rawa dibedakan menjadi dua sub kelompok:  rawa pantai  dan   rawa pedalaman.

Rawa pantai dipengaruhi fluktuasi pasang surut, sedang rawa pedalaman oleh adanya pengaruh banjir sungai pada bantarannya.

Menteri pertanian Bungaran Saragih (Kompas, 31 Juli 2003), mengemukakan bahwa lahan rawa dan pasang surut di Indonesia yang mencapai luas 33.4 juta hektar, potensial menggantikan lahan pertanian di Jawa yang telah mengalami konversi ke pemukiman dan industri.

Oleh sebab itu, pengembangannya mendesak dilakukan agar Indonesia, yang pertambahan penduduknya tiga juta jiwa per tahun, kecukupan pangan.

 

LAHAN BASAH:   ASPEK PRAKTIKAL

tanah sulfat masam

Aspek Pertumbuhan Tanaman:

Semua makhluk hidup membutuhkan O2 untuk bernapas, H2O untuk minum, dan hara untuk makan, apakah manusia, hewan, atau pun tumbuhan;  sebagai tambahan cahaya matahari bagi tumbuhan.  Hal ini merupakan prinsip dasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup makhluk-makhluk tersebut, dengan urutan tingkat kepentingan adalah udara, air, dan makanan.

Pada lahan basah, jumlah air tidak menjadi  masalah kecuali kualitas air;  udara menjadi masalah bagi tanaman darat (upland), tetapi tidak bagi tanaman padi sawah (atau tanaman air lainnya atau ikan),  karena tanaman air mampu menyalurkan udara melalui rongga aerenchyma dalam rongga batangnya.

Sedang unsur hara, berfluktuasi tergantung  unsur hara larut dalam air irigasi atau pemberian pupuk.  Akan tetapi pada kasus air tergenang dalam jangka lama (stagnasi), akan berakibat pada transformasi senyawa/unsur tertentu yang menyebabkan jumlahnya  berlebihan (meracun) atau kekekurangan (defisiensi).  Hal ini ditandai oleh perubahan nilai Eh/pH tanah dan air.

Kelebihan unsur akibat salinitas tinggi ditandai oleh perubahan nilai ESP dan EC.

Bila pengaturan irigasi dan drainase berlangsung lancar, maka suplai oksigen tercukupi;  proses reduksi tidak terjadi secara ekstrem.

Sebaliknya, bila tidak lancar atau pada kawasan air irigasi tidak dapat diatur (misalnya terjadi turbulensi), maka proses reduksi akan berlangsung.

Tabel 1. Perubahan  Termodinamika Reduksi Senyawa-senyawa Anorganik pada Sistem Oksidasi-Reduksi (Stevenson, 1986)

Status    Redoks

Kisaran Eh

(mV)

Pertumbuhan   Tanaman
 Oksidasi  > 400 Baik untuk tanaman   darat (upland crops) dan tidak baik untuk padi sawah
 Reduksi   Lemah  400 – 300 Normal untuk padi   sawah, tanaman darat terganggu
 Reduksi   Sedang  200 – (-100) Tanaman darat   sangat terganggu
 Reduksi   Kuat  < (-100)

Padi sawah terganggu oleh senyawa-senyawa reduksi

Pada Tabel 1 di atas ditunjukkan bahwa senyawa-senyawa/unsur-unsur yang akan berubah statusnya adalah N, S dan bahan organik yang hilang menjadi gas, dan kelarutan unsur Fe dan Mn tinggi menyebabkan tanaman keracunan.

Pada tanaman padi sawah/lebak, selain kemungkinan keracunan unsur Fe dan Mn, dapat pula terjadi defisiensi unsur K (penyakit Akiochi, Akagare, Mentek) dan defisiensi unsur P.

Unsur K (dan juga unsur lain) terhalang serapannya karena akar tanaman padi diselubungi karat besi atau mangan;  sedang unsur P terfiksasi dalam bentuk sukar larut dan tidak tersedia (Iron/Manganese induced chlorosis phosphorous).

Kelarutan besi dan/atau mangan tinggi akibat proses reduksi tidak akan menjadi masalah bila bereaksi dengan ion sulfida yang juga tinggi, membentuk FeS atau MnS.

Senyawa-senyawa ini terakumulasi pada lapisan tanah reduktif (horizon sulfidik).

Selama lapisan ini tidak diganggu dan diangkat ke permukaan, ia tidak akan menjadi masalah.  Keberadaan senyawa-senyawa ini ditunjukkan oleh adanya mottling dan bercak-bercak dengan tekstur halus dikenal dengan nama cat clay.

Bila lahan diolah dan senyawa-senyawa terangkat, maka proses oksidasi terjadi,  sulfida diokasidasi menjadi sulfat dan pH tanah turun secara drastis (dapat mencapai pH = 1).  Pada pH sangat  rendah ion besi dan mangan berada dalam bentuk Fe2+ dan Mn2+ dalam konsentrasi sangat tinggi.

Dalam hal ini, tidak satu jenis tanaman pun yang akan dapat tumbuh.

 

Aspek Pengelolaan:

Dalam pengelolaan lahan basah, diperlukan langkah-langkah:  (1) penyiapan/perbaikan sistem irigasi – drainase, (2)  ameliorasi tanah untuk mengatasi pH, Eh, dan EC ekstrem, (3) penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman, ternak, ikan), (4) mempertahankan jenis – jenis (varietas) tanaman, ikan, ternak unggul lokal, dan (5) mempertimbangkan pengembangan sistem pertanian tradisional spesifik lokasi yang menunjukkan sistem berkelanjutan melalui masukan teknologi.

 

Sistem Irigasi – Drainase

Langkah pertama persiapan lahan basah untuk budidaya pertanian (perikanan, peternakan) adalah pengelolaan  sistim irigasi – drainase, dalam mengatur tata air dan udara tanah.  Kualitas air sangat ditentukan oleh sumber air dari sungai atau intrusi air laut untuk lahan dekat pantai.  Untuk hal kedua, maka masalah salinitas dan kadar garam tinggi perlu dipantau dengan baik.  Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Sifat perilaku air yang masuk dalam saluran irigasi, akan menentukan input air pada kawasan lahan budidaya.  Penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi dari Unlam (Disertasi, 2004),  menunjukkan ada kawasan di mana air masuk tidak dapat keluar karena mengalami turbulensi.  Pada kawasan in terjadi penggenagan permanen yang berakibat proses reduksi terus menerus.  Pada kawasan ini, pemilihan jenis tanaman secara bijak adalah tanaman yang secara alami toleran dan berkembang pada kondisi tersebut (misalnya pohon Gelam, rumput Purun, dll.).

 

Ameliorasi Kesuburan Tanah

Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, sistem Surjan).  Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.  Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.  Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah. Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman.  Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

 

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu (integrated farming system), perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan bahan organik dan unsur hara di lahan budidaya, dan ini merupakan syarat agar sistem dapat bersifat berkelanjutan.

Tumpangsari padi sawah dengan ikan (mina padi) dan ternak unggas:  itik, ayam, dan ruminan:  kerbau, sapi, kambing;  dapat di atur dalam pengelolaan onfarm maupun outfarm. 

Ternak ruminan dapat memperoleh pakan dari rumput-rumput alami yang tumbuh subur di lokasi setempat.

Dalam sistem ini, masukan bahan organik (terutama pupuk kandang) berperan penting dalam menjaga sifat kesuburan tanah.

Pupuk kandang berfungsi secara multi purpose dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan (terutama) biologi tanah.  Teknologi ‘dekomposisi’  bahan organik sisa panen, kompos maupun pupuk kandang perlu disampaikan pada tingkat petani, agar mereka mampu menyediakan bahan organik dari sumber yang ada.

 

Mempertahankan dan Mengembangkan Sistem Tradisional Setempat

Budidaya tradisional yang menunjukkan hasil cukup baik, serta penggunaan jenis tanaman (dan ikan) varietas unggul lokal, perlu dipertahankan serta dilakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Sistem “Handil” yang telah berkembang cukup lama di daerah pasang surut Kalimantan Selatan perlu dikaji dan dikembangkan.

Keampuhan sistem ini adalah dari segi pembuatan saluran-saluran irigasi dan drainase yang mengikuti sifat perilaku air pasang surut;  di samping pengolahan minimum.

Pengolahan minimum tidak mengganggu lapisan Sulfidik, sehingga masalah pH masam dan keracunan besi dan mangan dapat diminimalkan.

Upaya pengelolaan lahan pasang surut menggunakan sistem “Zonasi”, yaitu membagi kawasan pengelolaan berdasar pada batas segmen-segmen jarak dari sungai (hasil penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi, 2004), perlu  mendapat perhatian untuk dikaji kemungkinan penerapannya.

REFERENSI

Anonimus.  2002.  Lahan Basah Alam Asli Indonesia. File Hari Lahan Basah Sedunia 2002. file: Lahan Basah Sedunia 2002.htm.

_________.  2004a.  Lokakarya Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah (National Strategy for the Management of Wetlands Ecosystem).  Situs Menteri KLH, 20 February 2004.  Asdep. Urusan Ekosistem Darat Telp/Fax. 021 85904934. E-Mail:  ekosistem_airtawar@yahoo.com.

_________.  2004b.  Informasi Umum Tentang Rawa Pasang Surut di Indonesia.  Rawa Pasang surut, Evaluasi Pedoman Pengembangan. Web: Tidal-lowlands.org

Bambang Djoko Priatmadi.  2004.  Segmentasi, Dinamika S dan Fe, dan Reklamasi Tanah Sulfat Masam  dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Tanaman Padi.  Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Kompas.  2003.  Lahan Rawa 33 Juta Ha Gantikan Pertanian Jawa.  Kompas, Kamis – 31 Juli 2003.

Stevenson, F.J.  1986.  Cycle of Soil:  Carbon, Nitrogen, Phosphorous, Sulfur, Micronutrients.  John Wiley & Sons.  New York.  380 p.

 

 

Disajikan dalam Seminar dan LKTI Se-Indonesia, Himpunan Mahasiswa Pakultas Pertanian Uiniversitas Lambung Mangkurant, Banjarbaru, 3 Agustus 2004  – Syekhfani

 

06 AprSOIL-Teknologi Pertanian Berlanjut

   

LAHAN KERING – TROPIKA  – SUBSISTEN

 

Garrity (1993) menulis dalam Technologies for Sustainable Agriculture in the Tropics”, yang prinsipnya sejalan dengan hasil telaahan Lindert (2000), dalam “Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia”, beberapa hal sebagai berikut:

  • Peningkatan populasi  penduduk petani subsisten terjadi di tanah-tanah lereng tak subur,  memacu kecepatan degradasi dan erosi tanah.
  • Di Indonesia, pemukiman di lahan kering tidak subur di luar Jawa berkembang cepat, berkaitan dengan migrasi spontan ataupun program transmigrasi pemerintah.
  • Kehilangan kesuburan dipacu oleh ulah manusia, iklim dan geologi.
  • Daerah geografi lereng gunung berapi muda dan curah hujan tinggi (1500-3000 mm), terjadi peningkatan populasi manusia lebih cepat.
  • Umumnya lahan kering di Asia Tenggara agak dangkal,  kejenuhan Al tinggi di subsoil;  sehingga perkembangan akar masuk ke dalam tanah dihambat oleh keracunan Al yang   mengurangi ketersediaan unsur hara dan cadangan air.

Selanjutnya, Garrity mengemukakan beberapa teknologi yang perlu dievaluasi dan dikembangkan sesuai kondisi ekologi lahan kering di tingkat petani, adalah:

(1) Sistem tanaman pagar kontur,

(2) Fosfor sebagai penghambat kritis,

(3) Pengurangan pengolahan tanah,

(4) Pengembangan sistem bera, dan

(5) Diversivikasi budidaya lahan sempit.

 

Teknologi lahan kering perlu dikembangkan untuk mendukung teknologi lahan sawah!

Sumber:

Dennis P. Garrity.  1993. Sustainable land-use systems for sloping uplands in Southeast Asia. p. 41-66;  in Technologies for Suatainable Agriculture in the Tropics.Southeast Asian Regional Research Programme, International Centre for Research in Agroforestry, Bogor, Indonesia. Amer. Soc. Of Agron, Inc. SSSA, Inc. ASA Special Publication No. 56.

 

06 AprSOIL-Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

 

KEBAKARAN HUTAN – FENOMENA ALAM/MANUSIA – BUTUH REHABILITASI

 

 hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar[1]

Contoh:  Kebakaran kawasan hutan di Puncak Gunung Lawu. Kebakaran di hutan yang berada di dua propinsi yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mayoritas ditanami pohon pinus seluas 15 hektar itu diperkirakan sudah terjadi sejak Minggu (22/7) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Lihat:  hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar

 

gn-walat2[1]

Kondisi umum hutan sehabis terbakar:  Tampak bekas terbakar menyisakan abu (arang) dari tumbuhan terbakar.  Di satu pihak masih memberikan efek positif sebagai sumber unsur hara atau bahan pengondisi sifat kesuburan tanah.  Tetapi di lain pihak, suhu tinggi saat terbakar menyebabkan kondisi biologi tanah (sifat kesuburan biologi rusak) dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih kembali.  Upaya rehabilitasi hutan bekas terbakar mempercepat pemulihan tersebut agar hutan menjadi normal kembali seperti semula. Lihat:  Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

semak2[1]

 

Contoh rehabilitasi:  kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain (Baning Kalimantan Barat):

a. Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKN) Tahun 1994, merupakan proyek Dinas Kehutanan Kalimantan Barat. Bibit yang ditanam dari jenis Dipterocarpaceae seperti Mabang (Shorea panchyphylla), Meranti Bunga (Shorea farvifolia), dan lain-lain.

b. Pembuatan saluran drainase Tahun 1995-1996, merupakan proyek Pemda Daerah Tingkat II Sintang. Pembuatan drainase ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya penyerobotan lahan dan kebakaran hutan dalam kawasan pada musim kemarau. Panjang drainase ini kurang lebih 6 km melingkari kawasan dan sebagian masuk dalam kawasan hutan.

c. Rehabilitasi Kawasan Taman Wisata Alam Baning Tahun 2002, merupakan proyek BKSDA kalimantan Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali jenis-jenis tanaman yang tumbuh dihabitat aslinya dengan melakukan kegiatan penanaman pada areal bekas kebakaran. Selain itu dengan adanya campur tangan manusia melalui kegiatan penanaman diharapkan akan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan cepat dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terbuka. Link:  baning-kalbar

 

01 AprSOIL-Tropika Indonesia

 

 

TELAAH  DATA – SETENGAH  ABAD – KESUBURAN  TANAH

 

 

TREN  PERUBAHAN  STATUS

 

 

Peter H. Lindert, dalam buku: ”Shifting ground, The changing agricultural soils of China and Indonesia” (2000), melakukan penelaahan terhadap data yang berkembang hingga awal tahun 1990-an (bekerjasama dengan CSRA – Indonesia). Meski data terbatas, namun memungkinkan untuk melacak tren perubahan sifat kimia top soil Indonesia dari tahun 1940 hingga 1990. Beberapa hal penting dari telaahan tersebut adalah sebagai berikut:

 

(1). Di Jawa, penurunan kemampuan daya dukung lahan (tapi tidak terjadi di tempat lain), bukan karena peningkatan intensifikasi pertanian.

(2). Penurunan kandungan bahan organik terjadi pada lahan budidaya di Jawa sejak 1940 hingga 1970, makin tampak hingga tahun 1990. Secara menyeluruh, P dan K total meningkat selama setengah abad tersebut. Kemasaman berubah dalam siklus yang tidak jelas. Ini menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan kualitas tanah tergantung perbedaan input bagi masing-masing lahan.

(3). Pada lahan luar Jawa P, K dan pH  semua turun, khususnya setelah tahun 1970. Tren penurunan bahan organik dan N adalah jelas. Penurunan level P dan K bisa jadi akibat budidaya lahan berpindah (shifting cultivation) di luar Jawa,  di mana pemeliharaan lahan kurang diperhatikan akibat cepatnya siklus perpindahan, berlangsung sejak tahun 1974.

(4). Perbedaan menyolok antara Jawa dan luar Jawa mutakhir tampaknya berkaitan dengan dampak perubahan sifat kimia tanah. Lahan di Jawa dibudidayakan cukup lama dan padat penduduk; sedang rata-rata tempat di luar Jawa baru mulai dibudidayakan dan jarang penduduk. Dalam perbedaan waktu tersebut, sifat kimia tanah berbeda secara tajam antara Jawa dengan luar Jawa, tampaknya sejalan dengan tren ditunjukkan baik Indonesia maupun Cina. Pemukiman lebih lama disertai aktivitas pembudidayaan bisa menyebabkan penurunan kandungan bahan organik dan N, diikuti peningkatan P dan K total dan peningkatan kemasaman.

(5) Analisis data yang tersedia menunjukkan bahwa erosi adalah sumber kunci, atau sumber percepatan degradasi tanah di Indonesia. Bila erosi adalah sumber kunci degradasi, tentunya akan mengurangi P dan K total, tetapi hal ini tidak tampak, penurunan bahan organik dan N  terjadi tahun 1970, sebelum kejadian bahwa tingkat kecepatan kehilangan tanah akibat erosi, sebut saja, intensifikasi pembudidayaan di Jawa dan perluasan pembukaan lahan hutan dan pemukiman di luar Jawa. Lebih jauh,  top soil yang semakin tipis boleh jadi refleksi sederhana suatu perubahan penelitian terhadap degradasi di Indonesia dikurangi konsentrasinya terhadap erosi dan akibatnya, tetapi lebih terkonsentrasi pada proses akibat-manusia (human-induced), seperti aplikasi pupuk, kontrol air, dan berkurangnya serapan hara oleh tanaman.

 

Sumber:

Lindert,  Peter H.  2000.   Shifting Ground, The Changing Agricultural Soils of China and Indonesia.  The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England, 351 p.

 

 

 

 

25 MarSOIL-Teknologi Inovasi

   

TEKNOLOGI TEPAT GUNA – REKLAMASI LAHAN ALANG-ALANG

Kiat Basmi Alang-alang

 Ultisol (Vegetasi alang2)1

Alang-alang (Imperata cylindrica L.) merupakan tumbuhan pengganggu yang sangat dikeluhkan hampir di sebagian besar belahan bumi.

Invasi alang-alang adalah indikator bahwa lahan mengalami degradasi.

Perluasan berlangsung cepat karena alang-alang berbiak cara vegetatif dengan akar stolon.

Pengetahuan tentang sifat dan perilaku alang-alang adalah kunci untuk mencegah dan membasmi alang-alang.

Sifat dan perilaku tersebut adalah:

  • Tahan kekeringan.
  • Toleran terhadap tanah masam.
  • Adaptasi terhadap tanah marginal.
  • Tahan terhadap kebakaran (kemampuan growth recovery tinggi).
  • Tidak tahan terhadap penggenangan (flooded).
  • Tidak toleran terhadap pengolahan tanah (deep tillage, pembalikan tanah).
  • Tidak tahan terhadap naungan (shading).
  • Tidak tahan terhadap senyawa alelopati.
  • Peka terhadap perlakuan herbisida terutama glifosat.

Berdasar sifat dan perilaku tersebut, maka alternatif mencegah atau membasmi alang-alang adalah sebagai berikut:

  • Mengalokasi dan memblokir lahan alang-alang saat musim hujan dengan cara membuat galengan (dike) sekeliling lokasi, sehingga air menggenangi area dalam waktu cukup lama (3 bulan atau lebih).
  • Menutup kanopi alang-alang dangan cover crop  cepat tumbuh (misalnya Mucuna, Calapogonium, Pueraria) yang mempunyai kanopi tebal serta biomas berlimpah.
  • Menanam pohon berkanopi lebat menaungi area (jarak tanam sempit agar kanopi saling tutup).
  • Menanam pohon yang akarnya mengeluarkan seyawa alelopati;  misalnya Calliandra calothyrsus, Crotalaria anagyroides.
  • Pengalaman praktikal petani menggunakan pohon Gamal (Glyricidia sepium), menunjukkan efektivitas tinggi dalam membasmi alang-alang.
  • Istilah petani:  “gamal” = ganyang malingto kill the thieves.
  • Memutus jalur penyebaran akar stolon dengan cara membuat parit kontinyu di sekeliling lahan;  ukuran parit: lebar 30 cm, dalam 10 – 15 cm.
  • Memotong kanopi alang-alang pada batas pangkal batang, membiarkan daun muda tumbuh, selanjutnya daun muda disemprot herbisida glifosat.

 

Pengalaman emperik sebagai  manajer lapang  “Penelitian Manajemen Nitrogen, Lampung Utara”.

19 MarSOIL-Bahan Baku Pupuk Organik

 

SISA  PRODUK  TANAMAN  POTENSIAL

 

Limbah Berlimpah – Berdaya Guna – Perlu Teknologi Pupuk

 

1

2

3

4

Kulit buah, Sabut, Tempurung dan Pelepah Tanaman Kelapa - Cocos nucifera L. – Palmae. Tanaman kelapa adalah komoditi dominan di Indonesia sebagai negara kepulauan iklim tropis. Tanaman ini dikenal sebagai pohon “serba guna” karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Produk utama yang langsung digunakan adalah daging buah kelapa. Sisanya berupa kulit, sabut dan tempurung seringkali dibuang, atau digunakan untuk beberapa kepentingan, misalnya bahan bakar, bahan baku industri kecil rumah tangga atau produk lain. Bahan sisa produksi seringkali disia-siakan, meski banyak mengandung unsur hara makro (terutama kalium), dan juga unsur-unsur P, Ca, Mg, serta unsur mikro. Jumlah berlimpah, bila ditangani dengan efisien dan serius berpeluang untuk dijadikan pupuk organik yang saat ini merupakan alternatif pupuk akrab lingkungan. Selain buah, bagian pohon potensial untuk bahan baku pupuk organik adalah pelepah daun dan tandan kosong (setelah diambil buahnya, atau tandan bunga yang tidak jadi buah).

5

Tandan kosong Tanaman Kelapa SawitElaeis guineensis Jacq – Palmae. Kelapa sawit merupakan komoditi perkebuan besar (estate), meskipun ada sebagian masyarakat yang dilibatkan oleh industri perkebunan sebagai kebun “plasma”. Oleh pihak perkebunan, hampir semua sisa produk dimanfaatkan sesuai kepentingan, misalnya bahan bakar, pupuk, atau lain-lain. Selain biji untuk minyak, sisa produksi seperti kulit buah, pelepah, daun, tandan, dan lain-lain, dapat difungsikan sebagai bahan baku pupuk organik seperti halnya pada tanaman kelapa.

 

6

Kulit Buah KakaoTheobroma cacao L. – Sterculiaceae. Komoditi kakao atau coklat dibudidayakan secara perkebunan (estate) bersama komoditi lain seperti kopi, cengkeh, panili, dan lain-lain, meski ada sebagian masyarakat mengusahakan dalam skala kecil di pekarangan atau kebun sekitar rumah. Produk kakao berupa biji dapat diolah secara sederhana tanpa membutuhkan teknologi atau alat khusus. Kulit buah biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau ditumpuk sebagai kompos. Kulit buah ini mengandung unsur hara esensial makro maupun mikro, yang bila dikembalikan ke kebun merupakan proses daur ulang untuk mempertahankan kesuburan tanah.

7

Kulit Buah Kopi – Coffea spp. – Rubiaceae. Seperti halnya kakao, tanaman kopi merupakan komoditi perkebunan (estate) dan dibudidayakan masyarakat sebagai kopi rakyat yang cukup luas dan lama (tradisional turun temurun). Pengolahan buah kopi juga sederhana, hanya menggunakan alat pelepas kulit; biji di jemur dan dijual pada kadar air tertentu. Kulit buah umumnya ditumpuk dan dikembalikan ke kebun sebagai pupuk. Kulit kopi potensial sebagai bahan baku pupuk organik, bila diproses dengan baik.

 

8

Kulit Buah PisangMusa spp. – Musaceae. Buah pisang dikonsumsi dalam bentuk buah segar, kripik, atau dijadikan bahan pembuat kue pisang. Penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang sebenarnya masih mengandung unsur nutrisi yang cukup banyak, hanya saja tidak pernah dikonsumsi, kecuali untuk pakan ternak. Oleh sebab itu, bila dijadikan pupuk organik akan menambah suplai unsur hara bagi tanaman.

 

9

Kulit Buah NangkaArtocarpus heterophyllus Lam. – Moraceae. Nangka tergolong buah ukuran besar (jack fruit) dan merupakan buah musiman yang banyak disenangi masyarakat. Bagian buah yang dikonsumsi hanya daging buah, bagian lain seperti kulit, jaring buah dan biji tidak, kecuali untuk pakan ternak; atau dijadikan pupuk dan dikembalikan ke lahan. Bahan sisa ini potensial dijadikan bahan baku pupuk organik, meskipun masih memerlukan penelitian teknologi pembuatan.

 

10

Kulit Buah DurianDurio zibethinus Murr. – Bombacaceae. Meski terdapat pro kontra sebagian masyarakat terhadap durian, namun konsumen penggemar durian tetap cukup banyak. Setiap musim durian tiba, pedagang selalu laris. Ada konsumen menyantap durian di tempat dan ada yang dibawa pulang ke rumah. Kulit buah durian bertumpuk dan kontras dengan buah utuh di sekitarnya. Diketahui, kulit durian banyak manfaatnya ditinjau dari berbagai bidang, obat-obatan hingga bahan makanan. Kulit durian mengandung unsur hara esensial makro, terutama kalium. Oleh sebab itu, bahan ini berpotensi untuk dikembang sebagai bahan baku pupuk organik.

 

06 MarSOIL-Ekualitas

PRINSIP DASAR APLIKASI PUPUK

 

EKUALITAS

 

Adequate – Equilibrium – Synchronize

 

 

Adequate/Kecukupan – pertanyaan:  Apa perlu pupuk?  Pupuk apa?  Berapa banyak?

Apa perlu pupuk? – Bila pertanyaan ditujukan pada manusia, apa mau makan? Jawabnya “iya” kalau lapar, dan “tidak” kalau kenyang. Saat lapar diberi makan, respek, saat kenyang tidak respek. Hal serupa tanyakan pada tumbuhan;  dan jawabnya pun sama.  Jadi, memberi makan/pupuk pada manusia (hewan)/tanaman yang tidak ingin makan/pupuk merupakan hal yang tidak efisien.

Pupuk apa? – Menyangkut “jenis” pupuk. Seseorang yang lapar minta jenis makanan yang diinginkan (selera, kebutuhan). Tanaman, memberi tanda jenis unsur hara yang dibutuhkan (symptomatic deficiency), atau kalau belum sampai level muncul gejala, metode analisis kimia unsur hara tanah dan/atau jaringan tanaman merupakan alternatif. Tanaman kekurangan N misalnya, menunjukkan gejala spesifik;  demikian pula unsur hara esensial lain (lihat post. SOIL-Gejala).

Berapa banyak? – Terlalu banyak tidak baik, terlalu sedikit juga tidak baik. Diperlukan jumlah yang “cukup/optimum”. Tanya orang lapar berapa piring dia ingin makan agar “cukup kenyang”?. Untuk tanaman, ada kisaran baku unsur hara optimal:  ”optimum range for adequate“. Setiap jenis, fase, dan umur berbeda kebutuhan unsur hara.

 

Equilibrium/Keseimbangan – keseimbangan ada tiga:  (1) dalam tanah, (2) dalam tanaman, dan (3) dalam pupuk.

(1) dalam tanah:  kemampuan tanah menyediakan unsur hara berbeda, tergantung pada bahan induk (mineral, organik), lingkungan hidup (vegetasi, iklim), dan pengelolaan (sistem pola tanam, pemberian pupuk).  Di antara unsur satu sama lain ada interaksi. Ikatan “ionik” dan ikatan “kovalen” menentukan kemampuan unsur hara diserap (uptake) akar tanaman. Jumlah ion tersedia harus seimbang antara ion unsur makro dan ion unsur mikro. Kelebihan/kekurangan salah satu bisa menyebabkan kekurangan/kelebihan unsur hara lain. Contoh:  ”lime induced chlorosis P “,  “lime induced chlorosis Zn“, dan sebagainya.

(2) dalam tanaman:  status unsur hara jaringan tanaman menentukan reaksi “metabolik” unsur. Unsur makro C, N, S, Ca, Mg, penyusun jaringan sel; P sumber energi metabolik dan K mengatur transpor air dan metabolit; unsur mikro Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Cl, aktif dalam reaksi enzim, ko-enzim, dan sebagainya. Dalam larutan tanaman pun terjadi reaksi “antagonis” atau “sinergis” antara unsur-unsur dalam fungsi metabolisme.

(3) dalam pupuk:  pupuk artifisial (buatan manusia) direkayasa komposisinya (dalam pabrik);  aplikasinya perlu disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan. Pupuk organik, merupakan daur ulang sumber  sisa bahan organik yang komposisinya relatif “seimbang” dan “aman” bila diaplikasikan.

 

Synchronize/Kesinkronan - berkaitan dengan:  (1) umur tanaman, (2) fase pertumbuhan, dan (3) sifat perilaku tanah, tanaman, dan pupuk.

(1) umur tanaman: tanaman muda, akar belum intensif, kemampuan menyerap unsur hara terbatas;  aplikasi pupuk tidak boleh berlebihan, karena unsur yang tidak diserap berpeluang hilang melalui aliran permukaan (runoff) atau pencucian (leaching).

(2) fase pertumbuhan: fase vegetatif membutuhkan unsur hara relatif banyak untuk membentuk tubuh tanaman dan komponen generatif.  Aplikasi pupuk dihentikan menjelang akhir fase vegetatif. Pemberian pupuk pada fase generatif tidak efektif, karena unsur hara untuk proses metabolisme “sekunder” didapatkan melalui mekanisme “source” dan “sink“  stok unsur  dan organ generatif.

(3) sifat perilaku tanah, tanaman, dan pupuk: kemampuan tanah dan tanaman dalam mengikat (retensi) unsur hara berbeda tergantung komponen erapan (sorption) tanah;  sistem perakaran/tajuk tanaman;  dan jenis serta perilaku pupuk.

 

23 FebSOIL-Aplikasi Pupuk Organik

APLIKASI PUPUK ORGANIK

Pupuk Organik ~ Multi purpose

Peran Perbaikan Sifat:   Fisik – Kimia – Biologi

Aplikasi:  Jenis ~  Dosis ~ Waktu ~ Cara

 images[4]

Prinsip Dasar Sebelum Aplikasi:  Pupuk organik telah memenuhi syarat kematangan – bau khas, dingin, tidak lekat (rasio C/N 15 – 20).

 

imagesCAJ7O5M5

Prinsip Saat Aplikasi:  Sebar-rata (broadcasting) di permukaan sebelum pengolahan tanah (Contoh:  pada lahan kering).

 

pupuk-organik-sawah[1]

Prinsip Saat Aplikasi:  Aduk-rata (incorporating) di permukaan saat pengolahan tanah (Contoh: pada lahan basah/sawah).

 

243517778p[1]

Prinsip Saat Aplikasi:  Pemberian air irigasi segera setelah pengolahan tanah/pembuatan bedengan (pada lahan kering);  atau dilakukan saat awal dan akhir musim penghujan.

 

imagesCASNER7K

Prinsip Aplikasi:  Sebar-rata (broadcasting) di permukaan antara baris tanaman setelah tanaman berumur 7 – 10 hari setelah pindah tanam (Contoh:  pada padi sawah).

 

imagesCAOU6UY6

pupuk organik granul[1]

63421-1[1]

Jenis Pupuk Organik:  Pupuk/Bahan Organik yang digunakan meliputi kompos/pupuk organik padat atau teh kompos/pupuk organik cair.

Rhizobium-Bio-Fertilizers-Scientific-Agriculture-Laboratory[1]

vermi_1[1]

Jenis Pupuk/Agen Hayati:  meliputi bahan pembawa bakteri/fungi:  Trichoderma, Rhizobium, Miklorhiza, Bakteri Pelarut Fosfat, dan lain-lain – atau aplikasi Cacing Tanah (Vermi kompos), dan lain-lain.

 

22 FebSOIL-Kesuburan Berlanjut

TANAH SUBUR BERLANJUT - SUSTAINABLE SOIL FERTILITY

Tanah subur:  sifat fisik, kimia, dan biologi, baik

 Tanah subur=produksi tanaman optimum:  alami, teknologi budidaya, tidak tergradasi

 Fungsi Kesuburan Tanah=Produksi Tanaman:   Ϝ-[tanah, tanaman, iklim, manajemen]

 

imagesCA2TATLR

Pengolahan Tanah:  perbaikan tata udara dan tata air -  kesuburan tanah dapat berlanjut dengan pengolahan minimum (Minimum Tillage) atau tanpa olah (No Tillage).

images[9]

Pemberian Pupuk Artifisial:  perbaikan tata hara – kesuburan tanah dapat berlanjut memerlukan pemberian secara kontinyu pada kondisi optimal dan seimbang (Anorganik dan Organik).

imagesCA1HY0OW

Pemberantasan Hama/Penyakit:  pencemaran tanah dan air - kesuburan tanah dapat berlanjut dengan sistem Manajemen Hama/Penyakit Terpadu (“Integrated Pest Management System“) dan kontrol biologis (“Biological Control“).

2314507_pupuk-organik1[1]

Pemberian Pupuk Organik (pupuk alami/artifisial, kompos):  perbaikan tata udara, air, dan hara – kesuburan tanah relatif  berlanjut pemberian secara kontinyu (Jenis, Dosis, dan Interval).

imagesCAHCLXA0

Penggunaan Sereal (padi monokultur) –  kesuburan tanah tidak berlanjut, produktivitas tanaman mengalami “levelling off“, perlu sistem pergiliran tanaman (Relay Planting) – “Rice Based Cropping System“:  padi – palawija- sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCARGXASI

Penggunaan Sereal (tebu monokultur) – kesuburan tanah tidak berlanjut, rendemen gula “menurun“, perlu recycling produk sisa proses serta masukan bahan organik dan pupuk artifisial.

imagesCA7FVQ89 

Penggunaan Legum (kedelai monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut, perlu diversifikasi tanaman Legum dan pergiliran dengan tanaman serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCA27ZLF4

Penggunaan Sayur-sayuran (monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut. perlu diversifikasi tanaman:  legum,  serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

imagesCAQA97JT

Penggunaan Ubi (monokultur) – kesuburan tanah kurang berlanjut, perlu sistim tumpangsari tanaman (“Cassava Based Cropping System“) serta pergiliran dengan tanaman serial, sayur-sayuran/buah-buahan semusim.

langit-cerah1[1]

Musim Kemarau:  udara cerah, sinar matahari penuh:   pertumbuhan dan produksi tanaman relatif tinggi, perlu manajemen Konservasi Air:  mulsa, cover crop, rorak dan penampung air hujan (water-reservoir).

Musim Kemarau:   Air kurang (unsur hara tidak tercuci, nutrisi cukup);  Cahaya penuh (fotosintesis optimal, produksi karbohidrat tinggi);  Suhu siang tinggi, suhu malam rendah (hasil fotosintesis tidak hilang karena respirasi)   –> Hasil Akhir:  Produksi Tanaman Tinggi.

53806956.MendungAsri[1]

Musim Penghujan:  udara mendung, sinar matahari tertutup;  pertumbuhan dan produksi tanaman relatif rendah, perlu “Manajemen Irigasi, Drainase, dan Pencegahan Erosi”:  terasering, saluran aerasi dan drainase.

Musim Penghujan:  Air berlebih (pencucian unsur hara tinggi);  Cahaya kurang (fotosintesis terhambat, produksi karbohidrat kurang);  Suhu siang rendah, suhu malam tinggi (terjadi pemborosan hasil fotosintesis melalui Respirasi)   –> Hasil Akhir:  Produksi Tanaman Rendah.

 

DSC08645-500x375[1]

Pola Tanam Tumpangsari:  keragaman tanaman (efisiensi air/hara di zona perakaran dan cahaya di tajuk) – kesuburan tanah relatif berlanjut – prinsip:  ”Sisa Panen” dimasukkan ke lahan.

imagesCA2FPJX5

Sistim Terpadu (Integrated System): Tanaman – Ternak (efisiensi penggunaan sumber) – kesuburan tanah relatif berlanjut – prinsip:  ”Sisa Panen (selain pakan ternak), Pupuk Kandang, Kotoran Ternak” dimasukkan ke lahan.

imagesCAJHLBQ2 (2)

Sistim Terpadu (Integrated System):  Tanaman – Ikan – Mina Padi (efisiensi penggunaan sumber) – kesuburan tanah relatif berlanjut – perlu masukan bahan organik/pupuk artifisial dan pengaturan “Sistem Irigasi” dan “Pencegahan Pencemaran Tanah/Air”.