04 FebArti sebuah “NAMA” (“SOL”)

 

Capture

 

Arti sebuah “NAMA”

(“SOL”)

Syekhfani

 

Apa arti sebuah “NAMA”?

Di bidang Genesis dan Klasifikasi Tanah, saat orang mendengar sebutan  “SOL”,  orang akan menghubungkan dengan kata “SOIL”, yang berarti “TANAH”.

Namun, “tanah” itu banyak macamnya, banyak jenisnya, lalu bagaimana membedakan?

Secara nomenklatur (tata nama), sebelum “SOL” ada tambahan awalan kata yang mempunyai arti tentang sifat dan ciri umum “tanah” tersebut, contoh:

  • EntiSOL (entic = baru, recent; holosin berarti tanah mineral yang masih muda).
  • AndiSOL (ando = hitam); tanah berwarna gelap khususnya pada lapisan atas;  dibentuk dari endapan vulkanik, umumnya ditemukan di dataran tinggi sekitar gunung berapi.
  • InceptiSOL (inceptum:  mulai berkembang); adalah tanah-tanah mineral yang secara berangsur memperlihatkan horizon pedogenik; termasuk tanah-tanah yang masih muda.
  • OxiSOL (oxide, oksida), adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian intensif dan miskin hara, kandungan Al dan Fe tinggi.
  • Dan lain-lain.

Contoh tata nama (nomenklatur) di atas tergolong kategori tingkat “ordo” (order).

Seorang yang ahli atau menguasai ilmu tanah dasar, akan mampu menginterpretasikan dan mengembangkan pengertian nama ke tingkat aplikasi.

Dengan kata lain. Ilmu Dasar (basic science) adalah kunci dari Ilmu Terapan (applied science).

Apabila, klasifikasi dilanjutkan ke tingkat lebih detail (kategori rendah), maka penjelasan tentang sifat dan ciri tanah makin lengkap dan mendekati keadaan sebenarnya;  karena tingkat kategori rendah memberikan kondisi detail yang lebih spesifik.

Secara pedogenesis, nomenklatur jenis tanah erat kaitannya dengan proses “pembentukan tanah” (soil forming proccess):

Tanah = Ғ (bahan induk, topografi, vegetasi, waktu)

Filosofinya, bila penamaan jenis tanah yang mencerminkan proses pembentukan, maka inti sifat perilakunya akan mendekati kebenaran.

 

→ Lihat:   Tanah Tanah Apel di Batu

 

06 DecSOIL-Atribut Tanah Masam

 Spark

ATRIBUT TANAH MASAM

(ACID SOILS ATTRIBUTE)

 

Sifat Mineralogi ~ Sifat Fisiko-Kimia

 

Diposkan oleh:  Syekhfani

 

Tanah masam punya atribut khusus, dari sifat  mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah. Dengan mengetahui sifat mineral liat dan sifat fisiko-kimia tanah, kita bisa menduga jenis tanah masam tertentu.

Secara lebih jelas, sifat-sifat yang dimaksud dapat disimak berikut ini:

 

Muatan Liat Permanen:

1. Bentuk muatan permanen tanah masam:

Dimulai dari Molisol, ion terakumulasi hingga mencapai konsentrasi ambang  + 10-3 mol (pH 5) hingga melepas Al.

Inkorporasi H+ masuk ke dalam struktur kristal menaikkan pH larutan tanah menjadi OH-Al terpolimer atau terkompleks.

Polimerisasi AlOH menetralkan muatan permanen liat. Juga, ukuran polimer masif mencegah penggantian oleh kation lain.

Bila terdapat suatu lempeng kontinyu Al-hidroksida, kemudian terjadi polimer maka akan terbentuk lempeng-lempeng yang komplit.

Muatan KTK-efektif bersih tanah menurun dengan pencucian, atau pencucian asam meningkat dengan perlakuan pengapuran (liming).

Muatan KTK bersih  tanah adalah konsekuensi muatan negatif konstan di permukaan kristal liat secara parsial menjadi netral oleh lempeng-lempeng  AlOH yang bervariasi dalam muatan positif seperti penambahan  jerapan ion OH dari reaksi kapur (lime), atau hilang melalui netralisasi dengan H+. Pada titik ini, selanjutnya kita bisa memperoleh Alfisol tipik.

Dengan lebih banyak pencucian dan peningkatan konsentrasi ion H, asiosiasi hidroksil dengan ion Al menetralkan  Al3+ sebagai bentuk dominan kemasaman dapat dipertukarkan.

Dengan meningkatnya pelapukan, secara praktikal tidak dijumpai adanya liat tipe 2:1 yang mempunyai muatan permukaan dalam untuk polimerisasi OH-Al;  seperti dijumpai pada Ultisol dan Oksisol.

 

2 dan 3. Tipe dan kristalitas liat:

Perpindahan gradual K dari ilit memberi kesempatan terjadi pengembangan smektit (atau vermikulit) dan pemunculan kontaminan antar lempeng yang memungkinkan terjadi polimerisasi. Pelapukan berikutnya dan berpindahnya silikat menyebabkan rusaknya liat tipe 2:1 dan dimulainya sintesis liat tipe 1:1(kaolinit).

Masih dalam hal pelapukan lanjut semua silikat meninggalkan beberapa residu  hidroksida Fe dan Al yang merupakan bentuk utama liat kaolinit.

Secara alami mineral liat kristalin hancur dan hidroksida amorf terakumulasi; jelas, bentuk karakteristik X-ray memberi jalan lurus menjadi senyawa kristalin.

 

4. Kapasitas Tukar Kation:

Kapasitas tukar kation (KTK) total tanah secara proporsi kasar menunjukkan  konsentrasi bahan organik (BO) dan liat, khususnya liat mengembang.

Begitu KTK  tanah muda meningkat, maka: (a) K terlapuk dari liat mikaseous memungkinkannya mengembang, dan (b) proliferasi tanaman memproduksi BO dalam tanah.

Bagaimanapun, akumulasi OH-Al dan  polimerisasi pada permukaan internal liat atau terkompleks oleh grup COOH dari BO, menyebabkan KTK efektif menjadi rendah. Dengan hancurnya atau tidak aktifnya tapak pertukaran bahan organik, maka KTK  efektif bisa menjadi nol.

Pada pihak lain, peningkatan gradual hingga jelas dalam hidroksida liat menambah peningkatan kapasitas tukar anion (KTA).

Sejak muatan negatif bergantung-pH pada BO maupun hidroksida liat adalah tinggi, dan muatan permanen efektif liat tanah tropika relatif rendah, maka proporsi muatan bergantung-pH  dari KTK total, membedakan tanah yang berkembang di tropika atau  temperat.

 

5. Kejenuhan Basa:

Kejenuhan basa (Ca).

Sejak proses pelapukan mencuci Ca dan kation basa dari tanah, tanah berkembang menjadi lebih masam, tercatat penjenuhan KTK dengan basa-basa menurun.

Hubungan terbalik antara Ca + Mg dapat dipertukarkan, atau basa total, dan Al tertukar banyak dilaporkan.

 

6. Tendensi fiksasi P:

Begitu pelapukan berkembang melepas Al dan Fe dari posisi relatif tidak terjangkau dalam kristal mineral ke posisi dapat dijangkau dalam larutan, pada tapak jerapan, atau muncul di permukaan; maka ion Al dan Fe bereaksi dengan P larut membentuk senyawa relatif tidak larut.

Bagaimanapun, sekali Al dan Fe lepas dalam jumlah banyak dan menutup seluruh permukaan terbuka partikel butir, kapur mungkin tidak mempunyai pengaruh baik pada ketersediaan P yang diikat.

 

7. Pelepasan Kalium:

Tendensi pelepasan kalium.

Bahan induk mengandung liat mikaseous secara umum mempunyai kemungkinan melepas K dalam jumlah banyak dari bentuk K-tidak dapat dipertukarkan selama proses pelapukan. Begitu tinggal sejumlah kecil liat mikaseous, tercatat sedikit tipe liat mengandung K untuk dilepas.

Bagaimanapun, di bawah kondisi tropika di mana konsentrasi ion H dan suhu meningkat, dan K melapuk dari mineral primer relatif lebih banyak, maka pengembalian K dari residu tanaman, membantu mengisi kembali suplai K tanah secara cepat.

 

8. Stabiltas Struktur:

Pelapukan relatif struktur horizon permukaan kurang lebih berdasar stabilitas granulasi agregat dengan Ca- dan BO.

Stablitas struktur ini dipacu oleh pembudidayaan intensif, erosi, pencucian, pemindahan residu, dan/atau pengapuran yang mengeluarkan Ca dan BO  reaktif dari dalam tanah.

Bila Al dan Fe larut dalam proses pelapukan banyak, maka agregat menjadi stabil oleh terbentuknya komplek-Fe dan Al oleh oksida atau hidroksida.

Tanah yang mengalami pelapukan intermediat secara  kontinyu, cenderung mengarah terbentuknya struktur tidak stabil, karena  kejenuhan Ca tinggi menggantikan posisi  kompleks Fe atau Al dalam bentuk stabil.

Dari  Text:  Sparks, Donald. L.  1995. Environmental Soil Chemistry.  Academic Press (revised:  January, 1998).

 

→ Lihat: Environmental_Soil_Chemistry_Donald_L_Sparks.

 

01 SepSOIL-Teknologi Pupuk Organik

pupuk-organik-granul1

 

TEKNOLOGI PUPUK ORGANIK ~ ORGANIC FERTILIZERS TECHNOLOGY

  

Konsep׃ Syekhfani

 

Pupuk organik, disinyalir merupakan prasarana kunci dalam pengelolaan produksi pertanian yang aman, akrab lingkungan dan berkelanjutan.

Apa yang perlu disiapkan seseorang bila ia ingin memproduksi pupuk organik?

Berikut adalah butir-butir yang diperlukan dalam menyusun rencana operasional.

 

Konsep Dasar׃

Kompos ~ Pupuk prganik – bersifat sebagai Soil amandement &  ameliorant.

Soil amandement  & ameliorant  - tata udara, air dan hara untuk kehidupan tanaman melalui  perbaikan sifat Fisik, Kimia & Biologi tanah.

 

Sumber׃

Sumber Bahan Anorganik Alami

  • Batuan induk (Batu Fosfat Alam, Zeolit, Kalsit, Dolomit, Leonardit, Salpeter Cili, dan lain-lain).

Sumber Bahan Organik Alami

  • Humus, kompos, seresah, pupuk hijau, kotoran kelelawar, kotoran burung walet, kotoran binatang liar.

Sumber Bahan Organik Rekayasa

  • Kompos, pupuk kandang (Pukan), pupuk hijau, jerami sisa panen, sekam, arang, dan lain-lain.

 

Komposisi dan Perhitungan Mutu Pupuk Organik׃

  • Contoh
Bahan Baku (%)  →

N

P2O5

K2O

~

N

P2O5

K2O

Pukan Sapi  30%

1.4

2.3

3.4

~

0.4

0.7

1.0

Pukan Kambing   30%

4.3

1.6

4.6

~

1.3

0.5

1.4

Pukan Ayam 20%

2.2

12.3

3.3

~

0.4

2.5

0.6

Tithonia  20%

1.7

1.6

2.1

~

0.3

0.3

0.4

 

Mutu Pupuk Organik ~  2.4 ׃ 4.0 ׃ 3.8

 

Kapasitas Mutu (indikator dan parameter)

  • Kadar unsur hara (Makro׃  N, P, K, Ca, Mg, S  Mikro׃  Fe, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Cl)
  • Mutu Fisiko-Kimia:  BO, KTK, KPA, KA, pH, rasio C/N.
  • Mutu Biologi : Rhizobium, Trichoderma, Pseudomonas, Mikorhiza, dan lain-lain.

 

Validasi dan Akurasi׃

  • Analisis Laboratorium
  • Analisis Ekonomi
  • Percobaan Rumah Kaca/Lapangan.

 

Paket Teknologi׃

  • Prinsip Dasar dan Metode.
  • Mineralisasi, dekomposisi, transformasi.
  • Metode pembuatan kompos/bahan mineral.
  • Metode pencampuran bahan.
  • Packaging/labelling.

 

Standardisasi dan Sertifikasi׃

  • Regulasi pemerintah/profesi.

 

Implementasi׃

  • Paten dan Ijin beredar.
  • Sosialisasi ke Petani.

 

Pengelolalaan׃

  • Sistem Pengelolaan Terpadu:  budidaya, perharaan, pengendalian OPT;  pertanian – kehutanan – peternakan – perikanan.
  • Sistim Masukan Rendah:  daur ulang sisa panen, masukan BO sekitar lahan, masukan sisa ternak. penanaman ppk hijau.
  • Komposisasi Tingkat Petani: materi kompos, metode pengomposan, penggunaan ‘biofertilizer’, penggunaan ZPT/enzim/antibiotik.

05 AugSOIL-Kembali ke Eden (Back to Eden)

 

KEMBALI KE EDEN ~ BACK TO EDEN

 

Profesional ~ Solusi Produksi Pertanian ~  Berkelanjutan

 

Tinjauan: Syekhfani

 

Suatu kisah perjalanan seorang berjiwa tani, yang dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi dan inovasi, patut ditiru dan diteladani bagi orang yang ingin berubah menjadi berguna bagi keluarga, masyarakat dan dunia.

Inovasi teknologi pertanian organik, pemanfaatan sisa bahan organik di kebun, diversifikasi jenis komoditi tanaman.

Kisahnya, dapat disimak dalam film “Back to Eden”.

 

2

Back to Eden (film):  http://www.cultureunplugged.com/documentary/watch-online/play/11883/Back-to-Eden

Paul Gautschi, telah menjadi pekebun profesional selama lebih dari 55 tahun dan dikenal secara lokal sebagai arborist utama. Pada tahun 1979 Paulus dan keluarganya pindah ke Semenanjung Utara Washington, California. Sebagai seorang ayah dari 7 anak, ia telah mencukupi kebutuhan keluarga dan teman – tidak pernah bersifat komersial. Paulus telah memberi wisata kehidupan kebun bagi masyarakat internasional yang juga menikmati buah hasil kerjanya.

FILM KEMBALI KE EDEN, suatu  Kisah Perjalanan Hidup Seorang Profesional, menuju jalan TUHAN dilaporkan secara sederhana tentang metode produksi berkelanjutan Yang Diberikan kepada manusia di Taman Eden. Telkomnika Berkebun Organik pengalaman Paulus Gautschi yang luar biasa telah menarik minat pengunjung manca negara!

 

3

4

03 JulSOIL-Onfarm Paddy

 

ONFARM PADDY SOILS

(LAHAN SAWAH) 

 

Syekhfani

 

Onfarm paddy soils (lahan sawah),  adalah praktek petani di lahan sawah mulai dari pengolahan tanah, pengairan, persemaian benih, penanaman, penyiangan, pemupukan, penyemprotan hama, hingga panen.

Di Indonesia, praktek petani di lahan sawah umumnya masih bersifat tradisional berhubungan dengan sistem pemilikan lahan yang relatif sempit (gurem), yaitu sekitar 0.2 hingga 0.5 hektar per keluarga.

Oleh sebab itu, peralatan (maintenance) yang digunakanpun masih bersifat tradisional seperti misalnya: cangkul, bajak, garu, sabit, dan sebagainya, dibantu hewan seperti kerbau dan sapi.

Namun, untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, seringkali petani menggunakan bantuan alat mekanisasi sederhana, seperti traktor tangan (hand tractor).

Bagaimanapun, lahan sawah terbukti merupakan sistem pertanian tradisional yang berlanjut (sustainable) di Asia Tenggara.

Berikut disajikan gambar menampilkan praktek petani di lahan sawah tradisional.

00

Berangkat ke sawah menjelang matahari terbit

0

Pulang dari sawah menjelang matahari terbenam

1a

1b

Membajak bantuan kerbau

1e

Membajak menggunakan hand tracktor

 

2

Persiapan bibit di persemaian

2a

Penyiangan pertama secara manual (10 – 15 hari setelah tanam)

2b

Penyiangan pertama secara mekanik (10 – 15 hari setelah tanam),

1f

Pemasukkan pupuk organik (azola, jerami sisa panen), sebelum tanam

3a

Pemberian pupuk anorganik (setelah penyiangan pertama)

4a

Penyemprotan hama (setelah penyiangan pertama)

4b

Penyemprotan hama (setelah penyiangan kedua)

5a

Panen

 

Paddy Sawah is tradisional sustainable agriculture in south east Asia!

 

26 JunSOIL-Organic Garden

 

Organic-vegetable-cultivation.jpeg[1]

  

ORGANIC GARDEN

(KEBUN / PERTANIAN ORGANIK)

Marie Iannotti

(Organic Garden)

 

 

Apa itu kebun (pertanian) organik?

- Dasar untuk berkebun (bertani) organik

 

Apa artinya memiliki kebun organik?

-Artinya anda menyediakan tempat nyaman bagi serangga pemakan tanaman?

-Jawaban singkat adalah anda tidak menggunakan produk-produk sintetis, termasuk pestisida dan pupuk.

-Idealnya, berkebun organik adalah memanfaatkan semua sumber berguna, seperti menyuplai tanah dengan kompos sisa tanaman atau menanam kacang-kacangan menambahkan nitrogen ke daerah yang telah ditanam dengan pupuk berlebihan.

-Secara garis besar adalah melakukan kerjasama dengan alam, menjadikan lahan anda sebagai bagian kecil dari sistem alami.

 

Berikut adalah beberapa dasar-dasar anda mulai dengan berkebun organik:

 

Apa yang dimaksud dengan bahan organik?

-Pelapukan sisa tanaman dan hewan, termasuk kompos, potongan rumput, daun kering dan sisa-sisa biologis lain.

-Bahan organik digunakan sebagai amandemen dan pengondisi tanah. Bisa berupa tambahan bahan organik baru atau digunakan sebagai ganti bahan organik atau mulsa yang sudah ada sebelumnya.

 

Apa tanah itu begitu penting?

-Salah satu kebutuhan mendasar dari berkebun organik adalah untuk “Memberi makan tanah dan tanah akan memberi makan tanaman”.

-Tanaman mendapatkan air, udara dan nutrisi dari tanah.

-Tanah liat lebih tinggi nutrisi dari pada tanah pasir dan menahan air lebih baik.

-Kadang-kadang daya pegang air terlalu tinggi dan tanaman kekurangan udara.

-Tanah berpasir mudah kering, tetapi dapat digunakan sebagai amandemen untuk memperluas lahan.  Dalam hal ini maka bahan organik memegang peranan penting.

-Penambahan bahan organik memperbaiki struktur tanah dan serta menarik organisme sebagai agen peningkatan nutrisi dalam tanah.

 

Bagaimana Anda mengendalikan hama dan penyakit tanpa bahan kimia?

-Berkebun organik tidak berarti anda harus berbagi apel dengan cacing-cacing, tetapi mungkin anda akan mencari tanaman dan menghasilkan bahan organik.

-Karena anda mencoba untuk bekerjasama dengan alam, kadang-kadang anda sesekali harus menerima hama di kebun.

-Anda harus memeriksa tanaman secara teliti, waspada dan teratur terhadap gejala yang muncul dan segera  mengambil tindakan.

-Perlu diingat bahwa tidak setiap serangga adalah musuh dan bukan selalu berarti harus pakai pestisida.

-Ada banyak pestisida organik yang tersedia, tapi perlu yakin bahwa ia dapat mengatasi masalah dan bahwa anda tahu hal tersebut.

-Anda dapat hidup dengan sedikit kerusakan. Beberapa serangga melakukan kerusakan itu namun masih dapat berlanjut untuk musim berikutnya.

-Pertimbangkan jika anda mengalami masalah hama karena tanaman Anda stres dan tidak memiliki sumber daya untuk membela diri.

-Interplanting dan diversifikasi akan melindungi anda dari kehilangan petak tanaman yang luas, dan perlu di selang selingi dengan petak tanaman penarik serangga.

-Banyak serangga dan hewan yang lebih besar dianggap menguntungkan, musuh serangga hama. Meraih semprotan dapat setiap kali anda melihat hama akan membunuh serangga menguntungkan tersebut.

-Lady bug dan tawon menyantap aphid. Burung menelan ulat. Katak, kadal dan bahkan ular semua berkontribusi terhadap keseimbangan di kebun anda dan mencegah populasi hama yang menjadi penyebab masalah.

-Pencegahan masalah banyak hambatan. Ngengat bertelur perlu dicegah. Trap pulut warna kuning dapat dengan mudah menangkap lusinan hama terbang.

-Melumas pangkal batang akan memotong serangan cacing dan banyak penggerek.

-Ada saatnya anda akan perlu aplikasi pestisida untuk mencegah kehilangan tanaman.

-Pestisida organik atau alami dapat sangat efektif dan biasanya kurang beracun bagi manusia, hewan peliharaan, dan satwa liar dari pestisida sintetis.

 

Apa lagi yang terlibat dalam berkebun sama dengan alam?

-Ada banyak unsur yang dapat berkontribusi terhadap iklim kebun yang sehat.

-Tanaman yang cocok dengan kondisi pertumbuhan mereka akan lebih sehat daripada tanaman yang stres.

-Tanaman stres sangat menarik bagi hama.

-Jangan memilih tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh jika anda tinggal di sebuah hutan yang teduh.

-Demikian pula, jangan pilih tanaman pada lingkungan yang lembab jika anda memiliki tanah berpasir dan sinar matahari penuh.

 

Lihat pula:  Wikipedia – Pertanian_organik

 

22 JunSOIL-Logam Berat

  lead[1]

 

LOGAM BERAT

(HEAVY METALS)

  

Logam berat (heavy metals), adalah logam-logam yang mempunyai berat jenis (specific gravity) atau kerapatan masa relatif (relative mass density) lebih dari 5 (Harmsen, 1977).

Lihat:     Metal and mineral toxicity lead

Logam alkali dan alkali tanah tidak termasuk dalam golongan logam berat.

Besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu) dan seng (Zn), tergolong logam berat esensial bagi tanaman, namun dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikro);  kelebihan unsur-unsur ini menyebabkan tanaman mengalami keracunan (toxicity) dan bila kekurangan akan menunjukkan gejala defisiensi (deficiency).

Besi (5.0 %), menempati kedudukan ke-4 dalam kerak bumi (earth’s crust), setelah O (46.6 %), Si (27.7 %), dan Al (8.1 %).  Namun, besi rendah kelarutannya dalam tanah-tanah teraerasi baik.  Ia esensial untuk fotosintesis, karena menjadi komponen senyawa khlorofil.

Mangan, sangat rendah kelarutannya dalam tanah-tanah teraerasi baik dan tidak masam (non-acid);  ia juga memegang peran penting dalam reaksi fotosintesis.

Tembaga dan seng juga esensial bagi tanaman, melalui perannya dalam proses enzimatik.

Deteksi masalah unsur mikro dalam tanah seringkali susah dilakukan, sebab ada kemiripan (resemblance)  dengan beberapa gejala defisiensi lain, interaksi (antagonisme) antara unsur berbeda, perbedaan mekanisme serapan (uptake) atau pengeluaran (exclusion) oleh akar, dan peran komplikasi (complicated role) unsur-unsur dalam proses fisiologik.

Ketersediaan unsur mikro bergantung pada:  pH, potensial redoks, tekstur tanah, komposisi mineral tanah, jumlah tipe senyawa organik dalam tanah dan larutan tanah, interaksi kompetitif antara unsur mikro, suhu tanah, kadar air, dan aktivitas mikrobiologik.

Semua unsur mikro tersebut di atas bisa mempunyai efek merugikan (adverse) pada tanaman, bila ketersediaannya dalam tanah melebihi ambang batas (tresholds).

Logam berat tertentu, seperti Hg, Pb, dan Cd (dan lain-lain), yang mungkin tidak esensial bagi tanaman atau hewan, diketahui berbahaya bagi kesehatan, meski dalam konsentrasi rendah. Sebagai contoh terjadi di Jepang:  kasus keracunan Hg di sekitar teluk Minamata di tahun 1950-an, dan keracunan Cd di Fuchu di tahun 1960-an, yang terkenal dengan penyakit Itai-Itai (Itai-Itai disease).

Transfor dan Akumulasi:

Transfor dan akumulasi logam berat dalam tanah bisa dijumpai sebagai:

  1. Bentuk larut atau tersuspensi,
  2. Diangkut akar tanaman, atau
  3. Terasosiasi dengan mikroorganisme tanah.

Transfor bentuk larut atau tersuspensi dapat melalui difusi (diffusion) dalam larutan tanah, atau pergerakan air tanah (mass flow atau convection).

Pencucian (leaching) liat dan bahan organik dalam perpindahan logam-logam yang berasosiasi dengan kedua partikel.

Transfor senyawa menguap (volatile) melalui fase gas jarang terjadi (misalnya:  dimethylmercury), namun bisa jadi sedikit penting dan perlu dipertimbangkan.

Transfor melalui fase padat tampaknya tidak terjadi.

Lebih lanjut, difusi (diffusion) fase padat atau penetrasi lempeng (lattice penetration), lebih mengarah ke mekanisme ikatan daripada mekanisme transfor.

Serapan ion oleh akar tanaman mungkin menghabiskan (deplete) dan/atau memperkaya (enrich) horizon permukaan dengan dedaunan lapuk.

Logam berat mungkin masuk ke dalam tubuh mikroorganisme, yang berkontribusi dalam perpindahannya.

Cacing tanah dan makroorganisme lain bisa membantu translokasi logam berat secara mekanik (atau biologik) pencampuran tanah memasukkan logam berat ke dalam jaringannya.

(Harmsen, K.  1977. Behaviour of heavy metals in soils.  Department of Soils and Fertilizers, Agriculture University, Wageningen.  Center for Agricultural Publishing and Decumentation, Wageningen)

06 JunSOIL-Tata Lahan Kota I

  

PANORAMA – TATA LAHAN KOTA

Kampus – Kota – Taman Raja

Panorama:  Kota Seoul, Korea Selatan

Foto-foto: Syekhfani

 

Lahan kota:  kampus, kota, taman dan tempat rekreasi, merupakan tempat-tempat yang ditata secara arsitektur lanskap untuk menghasilkan wajah kota yang menarik dan mengesankan.

Selain memberikan kenyamanan dan gairah kerja bagi penduduk kota setempat, ia dapat pula menjadi daya tarik yang memberikan kesan khusus bagi wisatawan domestik maupun manca negara yang berkunjung.

Kondisi ekosistem hutan dan semak kota yang tertata indah memerlukan keahlian khusus bagi para ahli lanskap dan tata kota.  Kontribusi para ahli biologi, ekologi, hortikultura, silvikulltura, bahkan ahli tanah secara terpadu (integrated) dibutuhkan dalam manajemen pertamanan.

Penulis sempat merekam beberapa cuplik panorama kota Seoul, saat rombongan dari UB melakukan kunjungan  ke University of Korea dan Iwa Womens’ University, di Seoul beberapa waktu yang lalu.

 

1

 Jalan utama menuju kantor pusat University of Korea

2

Pot bunga, di sepanjang jalan utama menuju kantor pusat University of Korea

3

Taman, di depan kantor pusat University of Korea

4

Panorama, menuju luar kota arah barat Seoul, pandangan dari kampus University of Korea

5

Salah satu jalan dalam kampus Iwa Womens’ University

6

Panorama, dalam kota, latar belakang bukit dan hutan

7

Panorama, taman Raja, di bukit luar kota Seoul

8

Salah satu bagian dalam taman Raja dalam Kota Seoul

 

23 MaySOIL-Ameliorasi Kebun Durian

 

IMG_0001

 

AMELIORASI KEBUN DURIAN

 (DURIAN GARDEN AMELIORATION)

 

Perbaikan Kondisi Kebun Durian

 

 

Materi/Foto-foto: Syekhfani

 

 

Kebun durian monokultur, ingin diperbaiki (ameliorasi) agar dapat berfungsi sebagai “kebun wisata”  sekaligus “kebun produksi”. Untuk itu, diperlukan pogram khusus dari aspek budidaya.

Upaya perbaikan kebun yang sudah terlanjur monokultur, memerlukan teknologi masukan dari luar (external input technology).

Berdasar tinjauan lapangan (site visit), maka dilakukan rencana kelola lahan (RKL) dan dibuatlah program jangka pendek, menengah, dan panjang.  Evaluasi dilakukan berdasar informasi teknologi yang tersedia (reference).

Reference:

Durian – Durio zibethinus, merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran     -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.

Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M.

Berdasar pada keterangan tersebut, maka konsep manajemen kebun durian perlu mengacu pada habitat aslinya yaitu hutan: yang bersifat diversitas (diversity), siklus unsur hara tertutup (close nutrient recycling), lembab (moist), dan hangat (warmth).

Konsep yang disampaikan untuk bahan pertimbangan, meliputi:

  • Program Jangka Pendek
  • Program Jangka Menengah
  • Program Jangka Panjang

disajikan dalam bentuk slide-slide berikut:

IMG_0002

IMG_0004

Analisis tanah lengkap, untuk mengetahui status unsur hara

IMG_0005

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0006

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0007

Pengendalian hama/penyakit, bila ada gejala terserang

IMG_0008

IMG_0009

Analisis daun sebelum aplikasi zat pengatur tumbuh (hormon)

IMG_0010

Pertumbuhan vegetatif, perlakuan khusus

IMG_0011

Saat pembungaan, perlakuan khusus

IMG_0012

IMG_0013

Ameliorasi keragaan individual tanaman

IMG_0014

Ameliorasi keragaan lahan kebun

 

Kebun durian:  Mengacu pada sistim alam!

 

17 MaySOIL-Antagonisme Unsur Makro dan Mikro

 

 ANTAGONISME UNSUR MAKRO DAN MIKRO

 

Kasus Penyakit Kalimati pada Tanaman Tebu

 

1. Kalimati di Kebun Manyingsal

 

Penelitian Disertasi

Syekhfani

  • Penyakit “Kalimati”, adalah penyakit non parasiter pada tanaman tebu; pertama kali di temukan di area kebun Pabrik Gula (PG) Kalimati,      Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 1930-an (PG Kalimati tersebut saat ini sudah tutup).
  • Wilbrink (tahun 1930-an) menyatakan bahwa penyakit Kalimati disebabkan oleh defisiensi unsur kalium.
  • Pendapat tersebut dibantah oleh Koningsberger & van den Honert (1931), yang bependapat bahwa penyakit Kalimati disebabkan keracunan unsur besi.
  • Namun kedua ahli menambahkan bahwa penyakit Kalimati tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan beberapa faktor menyangkut ketidak-imbangan unsur hara.
  • Gejala penyakit Kalimati: Tanaman kerdil, ruas memendek, akar sakit, dan terdapat nekrosis pada daun tua saat tanaman tebu berumur 2 – 3 bulan.
  • Tahun 1970-an, gejala serupa muncul di perkebunan tebu Manyingsal, Subang, Jawa Barat.
  • Kasus tersebut kemudian dijadikan penulis untuk topik penelitian tugas akhir (disertasi) pada Jurusan Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pascasarjana, IPB, Bogor.
  • Diperoleh hasil bahwa Unsur makro K dan unsur mikro (Cu, Zn dan Mn) menjadi penyebab penyakit Kalimati di kebun tebu Manyingsal.
  • Gejala merupakan kombinasi antara kekurangan unsur-unsur K, Cu, dan Zn, dan kelebihan unsur Mn.
  • Gejala di lapangan muncul pula pada percobaan pot (tong), di latar rumah kaca IPB, saat pot tergenang air hujan.
  • Baik di lapangan maupun di pot, gejala penyakit Kalimati tidak tampak bila kondisi drainase baik.
  • Pemberian unsur K, Zn dan Cu mendapat respon positif pertumbuhan tanaman tebu.
  • Keragaan di lapangan (kebun Manyingsal) dan latar rumah kaca (IPB), adalah sebagai berikut:

 

 Lokasi Kebun Tebu Manyingsal:0. Kebun tebu Manyingsal

2. Kalimati Close Up

Kalimati di kebun Manyingsal

 3. Drainase - Saluran

Saluran drainase lahan

 4. Drainase - Sehat

Tebu sehat setelah drainase

 5. Gejala - Akar

Akar (terang sehat – gelap sakit)

 6. Gejala - Ruas

Ruas memendek (gejala defisiensi Zn)

 7. Gejala - Daun

8. Gejala - Daun Strata

Gejala Kalimati pada daun posisi kedudukan ruas

Percobaan Pot di Latar Rumah Kaca:

  10. Gejala - Pot - Daun Sehat

11. Gejala - Pot - Daun Strata

Gejala pada daun

12. Gejala - Pot - Normal

Gejala pada batang dan ruas

08 MaySOIL-Slash and Burn Forest

 

PEMBUKAAN LAHAN HUTAN – METODE “SLASH AND BURN”

 

3 

  Lahan untuk Penelitian Manajemen Nitrogen

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

Penebangan hutan sekunder,  di lokasi penelitian Manajemen Nitrogen, PG Bungamayang, Lampung Utara, dilakukan secara tradisional dengan membuka hutan sekunder yang telah disediakan.

Pohon-pohon dari area hutan ditebang pada awal musim kemarau;  dimulai dengan membersihkan  semak-semak di lantai hutan, dilanjutkan pohon-pohon di strata lebih atas (slash).

Arah roboh pohon diatur sejajar timur – barat;  kemudian biomas dibiarkan kering hingga pertengahan musim kemarau (sekitar tiga bulan).

 

Pembakaran:  setelah biomas kering, dilakukan pembersihan biomas hutan metode pembakaran (burn). Titik awal api mulai dari ujung lahan berlawanan arah angin, agar nyala api tidak terlalu besar dan cepat sehingga menghasilkan pembakaran sempurna.

Bila angin berubah arah, maka perlu segera dilawan dengan membuat titik api baru di arah berlawanan.

Pastikan peluang terjadi hujan adalah sangat kecil, karena bila turun hujan saat pembakaran, maka pembakaran gagal dan harus diulang sampai biomas betul-betul kembali kering. Biomas basah dan tebal sangat sulit untuk kembali kering.

 

Pembersihan lahan, biomas sisa pembakaran dibersihkan setelah api betul-betul padam, ditandai tidak ada lagi bara atau asap di lahan. Sisa pembakaran berupa batang dan cabang-cabang yang tidak habis terbakar,  dijadikan bahan bangunan base camp, pagar lahan percobaan, atau untuk kayu bakar.

 

Keuntungan dan kerugian, keuntungan metode tebang dan bakar (slash and burn) adalah:  lahan bersih, mudah dikelola untuk pertanaman, hama atau penyakit musnah, dan tanaman baru bisa diintroduksikan.  Sedang kerugiannya adalah status sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berubah.  Unsur hara yang mudah menguap (volatile) seperti C, H, O, N, S, B dan Cl hilang, jazad hidup tanah mati, dan beberapa sifat fisik, fisiko-kimia, bio-kimia dan biofisika mengalami degradasi.

 

Recovery, pemulihan sifat-sifat tanah terdegradasi tersebut dilakukan melalui pertanaman baru, di antaranya dengan sistem Manajemen Nitrogen seperti yang ada dalam program penelitian berikutnya;  termasuk pemberian pupuk organik dan anorganik.

 

Ploting area, dilakukan dengan cara mengukur petak-petak percobaan sesuai dengan rancangan percobaan yang telah direncanakan.

 

 

Langkah-langkah Pekerjaan

 

1

Kondisi di dalam hutan sekunder

2

Lahan sehabis ditebang dan dalam proses pengeringan biomas

3

Titik awal pembakaran, berlawanan arah angin

4

Antisipasi perubahan arah angin, agar proses pembakaran lebih sempurna

5

Kondisi akhir pembakaran, menunggu api padam

6

Ploting petak percobaan, setelah sisa pohon tidak terbakar dibersihkan

7

Plot-plot percobaan siap untuk treatment sesuai rancangan

06 MaySOIL-Cover Cropping System

 

 

COVER CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • Cover cropTanaman penutup tanah:  adalah tanaman menjalar, berdaun lebat, tumbuh cepat dan berumur pendek yang berfungsi menutup permukaan tanah,  menghambat aliran permukaan (runoff) dan mencegah erosi, menjaga suhu dan kelembaban tanah, serta sebagai sumber bahan organik tanah.
  • Jenis cover crop, terutama dari leguminosa atau tanaman menjalar berdaun lebar yang bahan pangkasannya mudah mengalami dekomposisi.
  • Cover crop umum digunakan, yaitu tanaman penambat unsur N:  mukuna (Mucuna pruriens), kalapo (Calapogonium mocunoides)), puraria (Pueraria phaseloides), enceng-enceng (Crotalaria juncea;  C. anagyroides), sentro (Centrosema pubescens), desmodium (Desmodium heterophyllum), dan lain-lain.
  • Diperlukan koleksi benih dalam jumlah banyak agar dapat mencukupi kebutuhan penutupan tanah untuk area luas.
  • Penanaman dilakukan sebelum atau bersama-sama tanaman utama (sistem tumpang-sari atau tumpang-gilir).
  • Pangkasan biomas, dikembalikan ke bidang tanam secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Lahan yang telah diperlakukan dengan biomas cover crop, mempunyai kandungan bahan organik tinggi, daya pegang air dan unsur hara meningkat, dan siap untuk  dibudidayakan tanaman pertanian.
  • Sistem ini intensif diteliti dalam Program Penelitian Manajemen Nitrogen daerah tropika basah di PG Bungamayang (lihat post:  SOIL-Cassava based Cropping System dan SOIL–Hedgerows Cropping System).
  • Gambaran kegiatan adalah sebagai berikut:

 

 0

Area percobaan “Cover Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan Benih

3

 Area alang-alang (Imperata cylindrica), ditebari biji mukuna (Mucuna pruriens), sekaligus berfungsi sebagai lahan penghasil benih.  Mukuna diberi ajir agar dapat menghasilkan polong dalam jumlah lebih banyak.

   4

Mukuna memanjat ajir dan menghasilkan polong

   5

6

Koleksi dan seleksi biji Mukuna untuk persiapan tanam

 Plot Percobaan

 13

7

Plot:  Mukuna (Mucuna utilis, M. pruriens)

   8

Plot:  Kalapo (Calapogonium mocunoides)

   9

Plot:  Puraria (Pueraria phaseoloides)

   11

Plot:  Enceng-enceng (Crotalaria  anagyroides)

   14

Plot:  Koro pedang (Canavilium sp.)

  12

Plot:  Kontrol (bero)

1

2

Lahan percobaan: plot-plot vegetasi biomas segar (atas) dan biomas kering (bawah) – kontras dengan jalan batas plot (warna cerah)

(latar belakang:  plot-plot Hedgerows Cropping System)

 

01 MaySOIL-Topografi Gunung Berapi

   

TOPOGRAFI GUNUNG BERAPI

 

  Kawasan (contoh):   Gunung  Bromo,  Jawa Timur

Foto-foto:  Syekhfani

  IMG_0001

  Kawah Gunung Bromo

  • Gunung berapi, memberikan arti sendiri bagi kehidupan di sekitarnya:  energi sumberdaya, vegetasi spesifik, panorama alam.
  • Aksi alam perlu direspon dengan cara mempelajari sifat dan perilaku, dampak positif atau negatif sehingga dapat melakukan upaya pelestarian.
  • Bagaimanapun, di balik “keindahan” tersembunyi kemungkinan ada “bencana”.
  • Panorama indah menjadi objek pariwisata domestik maupun mancanegara yang menarik.

 IMG_0002

Panorama menjelang pagi (hamparan awan menutup kaldera)

IMG_0003

IMG_0004

IMG_0005

IMG_0006

 Panorama menjelang matahari terbit (early morning)

IMG_0007

Matahari terbit (sunrise)

IMG_0008

IMG_0009

IMG_0010

Pariwisata menikmati panorama, fasilitas olahraga dan rekreasi

IMG_0011

IMG_0012

Kaldera (dataran pasir seputar gunung)

Panorama:

-Saat subuh (menjelang matahari muncul) seputar kawah diliputi awan putih mengambang seolah berada di bawah kita;  saat matahari terbit (sunrise) memberikan keindahan alam yang menakjubkan.

Kaldera:

-dataran pasir di seputar kaki gunung, merupakan kawasan luas spesifik yang dapat dimanfaatkan untuk berolah raga jalan kaki maupun menunggang kuda.

Vegetasi:

-Pinus (Pinus mercusii).

-Semak rendah atau rumput liar pencegah erosi.

Flora:

-Tanaman bunga liar spesifik gunung Bromo – Semeru - Edelweis Jawa (Anaphalis javanica), merupakan ciri khas vegetasi alam di kaldera Bromo – Semeru.

24 AprSOIL-Stratifikasi Zona Perakaran

ZONA PERAKARAN POHON KELAPA TERBATAS –  PELUANG TUMPANGSARI

  

Budidaya Tanaman di Bawah Pohon Kelapa

 

Contoh:   Manado, Gorontalo  –  Sulawesi Utara

Foto-foto:  Syekhfani

51

Rumah Adat Manado

Rumah adat Manado

Pohon kelapa, tersebar luas di seluruh nusantara Indonesia sebagai tanaman khas pantai;   disebut tanaman “minum air laut”. Tanaman kelapa toleran terhadap salinitas (salinity) dan kondisi tanah berpasir (sandy soil).

Sistem perakaran dalam, vertikal terbatas, memugkinkan budidaya tanaman lain berakar dangkal (pangan, hortikultura, atau ubi-ubian), bahkan jenis pohon lain tumbuh di antara pohon.

Perlu persiapan lahan seperti halnya budidaya umumnya, meliputi:  pengolahan tanah, pemberian bahan organik, pemupukan, pengairan, perlindungan organisme pengganggu, dan sebagainya.

Tumpangsari dengan tanaman pohon selain kelapa dapat dilakukan, misalnya cengkeh, pala, dan lain-lain.  Prinsipnya adalah:  tidak terjadi kompetisi penuh terhadap sinar matahari, udara (ruang), air, dan unsur hara.

Masukan jenis tanaman legum dalam sistem tanam, dapat memberi keuntungan tambahan unsur nitrogen dari proses fiksasi N simbiotik.

Biomas sisa panen, dikembalikan ke lahan sebagai sumber bahan organik tanah.

Masukan pupuk (organik, anorganik), membantu tanaman tumpangsari maupun tanaman kelapa terhadap suplai unsur hara.

 

52

Tumpangsari pohon  Kelapa (akar terbatas) – Cengkeh (akar dalam)

 62

Tumpangsari  pohon Kelapa (akar terbatas) – Padi Gogo (akar terbatas)

53

Persiapan tanam jagung (akar terbatas) di antara pohon kelapa (akar terbatas)

 61

Pengolahan tanah di zona bebas perakaran pohon Kelapa

23 AprSOIL-Manajemen Ultisol

 


MANAJEMEN ULTISOL

 

Reklamasi dan Ameliorasi Lahan Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT)

 

UPT Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

 

Foto-foto:  Syekhfani

 

2

Unit pemukiman transmigrasi (UPT) Cempaka merupakan Program Transmigrasi pengembangan desa (Transbangdes) dengan jumlah penghuni 150 Kepala Keluarga (KK) penempatan tahun 1995/1996;  terletak di Kecamatan Cempaka, Kota administratip (Kotip) Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka sebagai pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Kecamatan Cempaka – Banjarbaru berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat; meskipun dari Kecamatan Cempaka – UPT Cempaka masih berupa jalan tanah yang diperkeras, tetapi kondisinya cukup baik.

Hal ini berkaitan dengan kemudahan transportasi sarana/prasarana serta pemasaran hasil panen.

Beberapa kaedah pengelolaan perlu diterapkan dan dipraktekkan dalam bentuk langkah-langkah pelaksanaan program. 

 

 

POTENSI DAN KENDALA

 

4

Sifat Kimia Tanah:

  • Secara umum, Podsolik Merah Kuning termasuk tanah miskin akan  hara disebabkan tingkat pelapukan  cadangan  mineral  dan pencucian relatif tinggi;   dan sifat fisik termasuk sedang, miskin akan bahan organik  sebagai  akibat  tingkat pelapukan tinggi, dan kapasitas fiksasi P tinggi sebagai akibat dominasi jenis mineral liat dan oksida-oksida berkemampuan mengikat ion-ion monofosfat dalam jumlah besar.
  • Kendala utama  lain yang  perlu diatasi adalah  kapasitas  tukar  kation  efektif (KTKE)  rendah, serta potensi keracunan aluminium tinggi.
  • Kadar besi dan/atau mangan tinggi akibat pencucian dijumpai pada lapisan tanah bawah.
  • Bila lapisan bawah terungkap akibat pengolahan atau pengikisan top soil, maka besi dan mangan mengalami oksidasi dan membentuk krokos yang disebut plinthite.
  • Krokos yang tersebar di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah menjadi jelek dan daya penahanan air rendah sehingga berpengaruh terhadap sifat kimia tanah.  Selain tanaman mengalami keracunan besi atau mangan, juga dapat mengalami kekurangan P akibat terfiksasi.
  • Nilai KTKE・rendah menyebabkan unsur-unsur basa seperti K, Ca dan Mg tercuci sehingga kadarnya rendah dalam tanah.

 

3

Sifat Fisik Tanah:

  • Secara fisik, kendala yang dihadapi dalam pengembangan UPT Cempaka sebagai lahan pertanian adalah umumnya solum tanah dangkal dengan permukaan tanah didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil  tipis  dan bahkan pada bagian puncak hilang; drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan jelek dan lahan tergenang pada musim hujan.
  • Adanya krokos di bagian permukaan menyebabkan sifat olah tanah jelek dan mudah mengalami erosi.
  • Untuk mengatasi hal ini diperlukan pembentukan lapisan bahan organik di bagian permukaan (top soil), melalui penambahan bahan organik lapis demi lapis hingga mencapai batas ketebalan olah.
  • Sebelum lapisan tersebut tercapai, maka prinsip pengolahan tanah adalah tanpa olah (no tillage) atau olah minimum (minimum tillage).

 

2

Topografi:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah akibat didominasi krokos menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekeringan pada musim kemarau (meskipun waktunya relatif pendek) dan kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala utama dalam sistem hidrologi kawasan UPT Cempaka.
  • Pada beberapa tempat, sistem drainase lahan pekarangan belum sempurna sehingga lahan pekarangan tergenang air pada musimhujan.
  • Curah hujan di Kalimantan Selatan umumnya dan UPT Cempaka khususnya cukup tinggi dalam waktu cukup lama.
  • Kondisi topografi disertai sifat fisik tanah jelek seperti disebutkan di atas menyebabkan peluang terjadi erosi tanah cukup besar.
  • Hal ini diperburuk oleh kondisi penutupan permukaan oleh vegetasi tumbuhan yang tidak sempurna akibat kesuburan rendah.

 

PROGRAM PERBAIKAN

 

8

 

Perbaikan Drainae Tanah:

  • Keberadaan air dalam tanah menentukan status udara, yang selanjutnya mengatur perilaku serta sifat ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
  • Drainase buruk menyebabkan terjadi penggenangan permukaan, sehingga tanah bersifat anaerobik dan jazad mikro anaerobik dominan.
  • Jazad mikro anaerobik akan mengubah ion-ion NO-, SO42-, Fe+, Mn4+/+ menjadi gas NO, N2O, atau N2,  SO2 atau H2S, Fe2+, dan Mn2+.
  • Perubahan ini menyebabkan unsur N dan S menjadi tidak tersedia karena hilang ke atmosfer, sedang Fe dan Mn kelarutannya meningkat dan dapat menyebabkan racun  bagi tanaman.fat a ber
  • Pada kasus ini, tanaman padi menunjukkan pertumbuhan kerdil, warna daun kekuningan dan Usaha perbaikan dilakukan dengan cara pembuatan saluran drainase, pergantian air pengairan secara terus menerus, atau pembuatanann bedengan (untuk tanaman non padi sawah).

 

10

 

Perbaikan pH Tanah:

  • Salah satu usaha untuk mengatasi kendala-kendala tumbuh tanaman atau ketidak-suburan tanah bereaksi masam  adalah melalui pengolahan tanah medium (cangkul), pemberian kapur, dan pemberian pupuk P.
  • Pemberian kapur dan pupuk P diharapkan dapat meningkatkan pH tanah, KTKE, kejenuhan basa, ketersediaan P dan unsur-unsur hara lain, dan kegiatan jasad mikro tanah serta pengurangan ketersediaan aluminium, besi atau mangan sehingga tidak lagi meracun tanaman.
  • Perbaikan pH tanah diikuti dengan penggunaan pupuk NPK yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur tersebut.
  • Dosis kapur ditetapkan melalui uji cepat menggunakan larutan penentu pH dan lakmus (program pelatihan);  jenis kapur yang digunakan adalah dolomit.

 

9

Masukan Bahan Organik:

  • Topografi berombak hingga bergelombang disertai daya infiltrasi rendah menyebabkan kehilangan air mudah terjadi sehingga masalah kekurangan air pada musim kemarau menjadi kendala utama di lokasi Cempaka.
  • Bahan organik yang ditanam pada saat prakondisi adalah tanaman legum penutup tanah jenis Mucuna, disebar setelah penyiangan gulma.
  • Biomas Mucuna cepat berkembang dan menutupi lahan sehingga selain sebagai sumber bahan organik juga dapat memberantas gulma;  biomas dikembalikan ke tanah (inkorporasi atau mulsa) setelah berumur sekitar 3 bulan.
  • Sebagai tambahan sumber bahan organik, di sepanjang batas pemilikan lahan pekarangan petani ditanam Glirisidia  (Glyricidia sepium), turi (Sesbania glandiflora) dan petaian (Peltophorum dasyrachis) sebagai tanaman pagar.
  • Pada waktu tertentu, tanaman pagar ini dapat dipangkas dan bahan pangkasan dimasukkan ke lahan.
  • Sumber bahan organik lain diperoleh dari pembuatan kompos oleh petani di bawah bimbingan petugas.

 

11

Pencegahan Erosi:

  • Masalah kelebihan air pada musim hujan merupakan kendala dalam sistem hidrologi kawasan pemukiman.
  • Pada lahan miring dilakukan pembuatan parit atau selokan drainase permukaan untuk mencegah terjadi runoff dan erosi .
  • Program jangka panjang memerlukan pembuatan kolam/balong penampung air sebagai cadangan di musim kemarau.
  • Perbaikan daya pegang air tanah dilakukan dengan cara pemberian bahan organik ke dalam tanah.
  • Bahan organik berperan penting dalam peningkatan efisiensi penggunaan pupuk karena ia dapat meningkatkan daya sangga hara dan aktivitas jazad mikro.
  • Bila digunakan sebagai mulsa, maka peningkatan efisiensi terjadi karena ia mengurangi erosi, aliran permukaan dan penguapan.
  • Pada kondisi tanah berombak hingga bergelombang, usaha pencegahan erosi dilakukan dengan cara menanam tanaman tegak lurus kontur atau pembuatan teras lebar.
  • Pada program jangka panjang, penanaman tegak lurus kontur dilakukan dengan sistem tanaman pagar (alley cropping system) dengan jenis tanaman Glirisidia;  hasil pangkasan digunakan sebagai mulsa dan/atau diinkorporasikan sebagai bahan organik tanah.

 

DAMPAK  PERBAIKAN LAHAN

  • Jangka waktu prakondisi lahan adalah kurang lebih 3 bulan. Bulan-bulan berikutnya,  transmigran ditempatkan dan langsung mengusahakan lahan yang siap ditanami.
  • Jenis tanaman disarankan sesuai dengan pola yang dirancang, tetapi tidak menutup kemungkinan petani menanam komoditi sesuai dengan keinginan mereka.
  • Secara garis besar, lahan pekarangan yang diusahakan oleh petani memberikan hasil yang cukup menggembirakan terutama jenis sayuran.
  • Hasil sayuran menarik masyarakat di sekitar UPT Cempaka bahkan dari Banjarbaru untuk datang dan membeli secara langsung di lahan petani.
  • Langkah selanjutnya adalah mengembangkan tanaman pangan, buahan dan industri yang dapat menjadi sumber pendapatan petani dalam jangka panjang demi jaminan hidup mereka.

 

SEBELUM PROGRAM

 

7

Rona awal sebelum program

15

Tanaman jagung di halaman rumah

5

Tanaman koro pedang di lahan belakang rumah

6

Lahan usaha di belakang rumah

 

 

SETELAH PROGRAM

 

13

Rona dampak setelah program

12

Lahan usaha di belakang rumah

14

Tanaman terung di halaman rumah

16

Tanaman kedelai di lahan belakang rumah

17

Tanaman padi gogo di lahan belakang rumah

 

12 AprSOIL-Terungkap dan Tertutup

  

ALAMI – BUDIDAYA – PROBLEM

 

REKLAMASI – AMELIORASI

 

Foto-foto: Syekhfani

 

TERUNGKAP (Expose, Open):

 Alfisol2(Kemarau  Lamongan)

Alfisol Lamongan (Jawa Timur), musim kemarau biomas vegetasi topsoil mati kekeringan, tanah merekah karena kadar liat tipe 2:1 tinggi (shrinked-mengerut), menyebabkan celah lebar dipermukaan lahan.

 G9a

Inceptisol Citraland (Kotamadya Surabaya), permukaan lahan taman yang terbuka menyebabkan proses evaporasi air tanah mengandung garam, sehingga permukaan tanah tertutup lapisan kristal garam menyebabkan bila larut dalam air hujan atau irigasi maka reaksi tanah menjadi alkalis; terjadi gangguan pertumbuhan tanaman hias (taman).

 5. Ultisol (Degradasi Berat)

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan terbuka, curah hujan tinggi, terjadi erosi hebat dan topsoil hilang.  Lapisan subsoil (horizon Argilik) kaya liat eluviasi menjadi keras membentuk formasi eksotik.

 3. Ultisol (Sumbar Longsor)

Ultisol Solok (Sumatera Barat), lahan longsor, curah hujan tinggi, topsoil menjadi beban yang tidak dapat ditahan atau didukung oleh subsoil yang punya lapis kedap air dan bidang kilir (slickenside).

Gambut Palangkaraya

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), dibuka untuk bahan pembuat arang gambut (sumber alternatif energi bakar).

 

TERTUTUP (Covered, Close):

 Apel Poncokusumo

Andisol Poncokusomo (Malang, Jawa Timur), permukaan tanah kebun apel, ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi erosi air atau pun angin.  Di samping itu LCC juga berfungsi sebagai penyangga air dan sumber unsur hara (N).

 3. Entiso Blitar2

Entisol Blitar (Jawa Timur), permukaan tanah kebun kopi, tertutup lapisan pasir (sand) materi letusan Gunung Kelud (1990). Rejuvinasi dilakukan dengan mengurangi biomas kanopi pohon kopi dan membuka lapisan pasir di seputar proyeksi tajuk sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan secara normal (pemupukan, dan sebagainya).

 9. Inceptisol (Mulsa Jerami Aceh)

Inseptisol Kota Baru (Banda Aceh), permukaan lahan sawah ditutup mulsa jerami padi sehabis panen. Kegiatan ditujukan untuk mengembalikan jerami ke lahan (mengurangi masalah penumpukan materi di halaman), melakukan proses penghancuran (dekomposisi) in situ, dan pengembalian fungsi bahan organik ke lahan sambil menunggu masa tanam padi berikutnya.

 G7a

Inseptisol Citraland (Kotamadya Surabaya, Jawa Timur), permukaan lahan taman ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi penguapan (evaporasi) tanah salin-sodik sehingga mencegah penumpukan garam dipermukaan yang menggangu pertumbuhan tanaman hias (taman).

 Tanaman Pagar (Percobaan Cover Crop)4

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan dari reklamasi lahan alang-alang (Imperata cylindrica) ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Mucuna pruriens dan lain-lain, agar lahan terbebas dari invasi alang-alang untuk dijadikan lahan budidaya.

 05. DESA PAHANDUT (Tanam Sayur Kangkung)1

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), ditutup rapat dengan biomas tanaman sayur-sayuran (kangkung, dan sebagainya), selain fungsi konsumsi yang bernilai ekonomis,  juga fungsi hidrologi lahan gambut dari ancaman kekeringan dan bahaya terbakar.

 

09 AprSOIL-Lahan Basah

POTENSI – PENGELOLAAN  -  DI INDONESIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

LAHAN BASAH:  yaitu lahan yang secara alami  “memperoleh air dari resapan curah hujan ke tanah daratan pinggiran sungai dan danau, maupun seputar muara, dan perairan rawa dan payau, sepanjang daerah pantai” (Anonimous 2002), berfungsi sebagai penyangga kehidupan:  fungsi hidrologi suatu kawasan (suplai air tanah, pencegah kekeringan dan banjir), tata air tanah dan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya yang tidak rasional, pencemaran air, dan konversi habitat akhir-akhir ini, menyebabkan penyusutan luasan lahan basah, terutama sungai, danau, dan rawa.

Menurut AWB (Anonimus, 2004a), Indonesia memiliki lahan basah terluas di Asia, yaitu sekitar 42.6 juta hektar.  Data tahun 2002 menunjukkan adanya penyusutan luas menjadi 33.8 juta hektar;  22 juta hektar lahan alami, dan 8.8 juta hektar lahan basah buatan.

Menurut Anonimus (2004b),  dari luas lahan di Indonesia yang keseluruhannya berjumlah 162.4 juta hektar, sekitar 39.4 juta hektar berupa lahan rawa pasang surut (24.2 %), dan sekitar 123 juta hektar berupa lahan kering (75.8 %).

Karakteristik lahan rawa erat hubungannya dengan faktor geografis dan kondisi hidro-topografi.

Berdasar kondisi tersebut, lahan rawa dibedakan menjadi dua sub kelompok:  rawa pantai  dan   rawa pedalaman.

Rawa pantai dipengaruhi fluktuasi pasang surut, sedang rawa pedalaman oleh adanya pengaruh banjir sungai pada bantarannya.

Menteri pertanian Bungaran Saragih (Kompas, 31 Juli 2003), mengemukakan bahwa lahan rawa dan pasang surut di Indonesia yang mencapai luas 33.4 juta hektar, potensial menggantikan lahan pertanian di Jawa yang telah mengalami konversi ke pemukiman dan industri.

Oleh sebab itu, pengembangannya mendesak dilakukan agar Indonesia, yang pertambahan penduduknya tiga juta jiwa per tahun, kecukupan pangan.

 

LAHAN BASAH:   ASPEK PRAKTIKAL

tanah sulfat masam

Aspek Pertumbuhan Tanaman:

Semua makhluk hidup membutuhkan O2 untuk bernapas, H2O untuk minum, dan hara untuk makan, apakah manusia, hewan, atau pun tumbuhan;  sebagai tambahan cahaya matahari bagi tumbuhan.  Hal ini merupakan prinsip dasar dalam pemenuhan kebutuhan hidup makhluk-makhluk tersebut, dengan urutan tingkat kepentingan adalah udara, air, dan makanan.

Pada lahan basah, jumlah air tidak menjadi  masalah kecuali kualitas air;  udara menjadi masalah bagi tanaman darat (upland), tetapi tidak bagi tanaman padi sawah (atau tanaman air lainnya atau ikan),  karena tanaman air mampu menyalurkan udara melalui rongga aerenchyma dalam rongga batangnya.

Sedang unsur hara, berfluktuasi tergantung  unsur hara larut dalam air irigasi atau pemberian pupuk.  Akan tetapi pada kasus air tergenang dalam jangka lama (stagnasi), akan berakibat pada transformasi senyawa/unsur tertentu yang menyebabkan jumlahnya  berlebihan (meracun) atau kekekurangan (defisiensi).  Hal ini ditandai oleh perubahan nilai Eh/pH tanah dan air.

Kelebihan unsur akibat salinitas tinggi ditandai oleh perubahan nilai ESP dan EC.

Bila pengaturan irigasi dan drainase berlangsung lancar, maka suplai oksigen tercukupi;  proses reduksi tidak terjadi secara ekstrem.

Sebaliknya, bila tidak lancar atau pada kawasan air irigasi tidak dapat diatur (misalnya terjadi turbulensi), maka proses reduksi akan berlangsung.

Tabel 1. Perubahan  Termodinamika Reduksi Senyawa-senyawa Anorganik pada Sistem Oksidasi-Reduksi (Stevenson, 1986)

Status    Redoks

Kisaran Eh

(mV)

Pertumbuhan   Tanaman
 Oksidasi  > 400 Baik untuk tanaman   darat (upland crops) dan tidak baik untuk padi sawah
 Reduksi   Lemah  400 – 300 Normal untuk padi   sawah, tanaman darat terganggu
 Reduksi   Sedang  200 – (-100) Tanaman darat   sangat terganggu
 Reduksi   Kuat  < (-100)

Padi sawah terganggu oleh senyawa-senyawa reduksi

Pada Tabel 1 di atas ditunjukkan bahwa senyawa-senyawa/unsur-unsur yang akan berubah statusnya adalah N, S dan bahan organik yang hilang menjadi gas, dan kelarutan unsur Fe dan Mn tinggi menyebabkan tanaman keracunan.

Pada tanaman padi sawah/lebak, selain kemungkinan keracunan unsur Fe dan Mn, dapat pula terjadi defisiensi unsur K (penyakit Akiochi, Akagare, Mentek) dan defisiensi unsur P.

Unsur K (dan juga unsur lain) terhalang serapannya karena akar tanaman padi diselubungi karat besi atau mangan;  sedang unsur P terfiksasi dalam bentuk sukar larut dan tidak tersedia (Iron/Manganese induced chlorosis phosphorous).

Kelarutan besi dan/atau mangan tinggi akibat proses reduksi tidak akan menjadi masalah bila bereaksi dengan ion sulfida yang juga tinggi, membentuk FeS atau MnS.

Senyawa-senyawa ini terakumulasi pada lapisan tanah reduktif (horizon sulfidik).

Selama lapisan ini tidak diganggu dan diangkat ke permukaan, ia tidak akan menjadi masalah.  Keberadaan senyawa-senyawa ini ditunjukkan oleh adanya mottling dan bercak-bercak dengan tekstur halus dikenal dengan nama cat clay.

Bila lahan diolah dan senyawa-senyawa terangkat, maka proses oksidasi terjadi,  sulfida diokasidasi menjadi sulfat dan pH tanah turun secara drastis (dapat mencapai pH = 1).  Pada pH sangat  rendah ion besi dan mangan berada dalam bentuk Fe2+ dan Mn2+ dalam konsentrasi sangat tinggi.

Dalam hal ini, tidak satu jenis tanaman pun yang akan dapat tumbuh.

 

Aspek Pengelolaan:

Dalam pengelolaan lahan basah, diperlukan langkah-langkah:  (1) penyiapan/perbaikan sistem irigasi – drainase, (2)  ameliorasi tanah untuk mengatasi pH, Eh, dan EC ekstrem, (3) penerapan sistem pertanian terpadu (tanaman, ternak, ikan), (4) mempertahankan jenis – jenis (varietas) tanaman, ikan, ternak unggul lokal, dan (5) mempertimbangkan pengembangan sistem pertanian tradisional spesifik lokasi yang menunjukkan sistem berkelanjutan melalui masukan teknologi.

 

Sistem Irigasi – Drainase

Langkah pertama persiapan lahan basah untuk budidaya pertanian (perikanan, peternakan) adalah pengelolaan  sistim irigasi – drainase, dalam mengatur tata air dan udara tanah.  Kualitas air sangat ditentukan oleh sumber air dari sungai atau intrusi air laut untuk lahan dekat pantai.  Untuk hal kedua, maka masalah salinitas dan kadar garam tinggi perlu dipantau dengan baik.  Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Sifat perilaku air yang masuk dalam saluran irigasi, akan menentukan input air pada kawasan lahan budidaya.  Penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi dari Unlam (Disertasi, 2004),  menunjukkan ada kawasan di mana air masuk tidak dapat keluar karena mengalami turbulensi.  Pada kawasan in terjadi penggenagan permanen yang berakibat proses reduksi terus menerus.  Pada kawasan ini, pemilihan jenis tanaman secara bijak adalah tanaman yang secara alami toleran dan berkembang pada kondisi tersebut (misalnya pohon Gelam, rumput Purun, dll.).

 

Ameliorasi Kesuburan Tanah

Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, sistem Surjan).  Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.  Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.

Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.  Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah. Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman.  Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

 

Penerapan Sistem Pertanian Terpadu

Sistem pertanian terpadu (integrated farming system), perlu diterapkan untuk menjaga keseimbangan bahan organik dan unsur hara di lahan budidaya, dan ini merupakan syarat agar sistem dapat bersifat berkelanjutan.

Tumpangsari padi sawah dengan ikan (mina padi) dan ternak unggas:  itik, ayam, dan ruminan:  kerbau, sapi, kambing;  dapat di atur dalam pengelolaan onfarm maupun outfarm. 

Ternak ruminan dapat memperoleh pakan dari rumput-rumput alami yang tumbuh subur di lokasi setempat.

Dalam sistem ini, masukan bahan organik (terutama pupuk kandang) berperan penting dalam menjaga sifat kesuburan tanah.

Pupuk kandang berfungsi secara multi purpose dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan (terutama) biologi tanah.  Teknologi ‘dekomposisi’  bahan organik sisa panen, kompos maupun pupuk kandang perlu disampaikan pada tingkat petani, agar mereka mampu menyediakan bahan organik dari sumber yang ada.

 

Mempertahankan dan Mengembangkan Sistem Tradisional Setempat

Budidaya tradisional yang menunjukkan hasil cukup baik, serta penggunaan jenis tanaman (dan ikan) varietas unggul lokal, perlu dipertahankan serta dilakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

Sistem “Handil” yang telah berkembang cukup lama di daerah pasang surut Kalimantan Selatan perlu dikaji dan dikembangkan.

Keampuhan sistem ini adalah dari segi pembuatan saluran-saluran irigasi dan drainase yang mengikuti sifat perilaku air pasang surut;  di samping pengolahan minimum.

Pengolahan minimum tidak mengganggu lapisan Sulfidik, sehingga masalah pH masam dan keracunan besi dan mangan dapat diminimalkan.

Upaya pengelolaan lahan pasang surut menggunakan sistem “Zonasi”, yaitu membagi kawasan pengelolaan berdasar pada batas segmen-segmen jarak dari sungai (hasil penelitian Dr Bambang Djoko Priatmadi, 2004), perlu  mendapat perhatian untuk dikaji kemungkinan penerapannya.

REFERENSI

Anonimus.  2002.  Lahan Basah Alam Asli Indonesia. File Hari Lahan Basah Sedunia 2002. file: Lahan Basah Sedunia 2002.htm.

_________.  2004a.  Lokakarya Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah (National Strategy for the Management of Wetlands Ecosystem).  Situs Menteri KLH, 20 February 2004.  Asdep. Urusan Ekosistem Darat Telp/Fax. 021 85904934. E-Mail:  ekosistem_airtawar@yahoo.com.

_________.  2004b.  Informasi Umum Tentang Rawa Pasang Surut di Indonesia.  Rawa Pasang surut, Evaluasi Pedoman Pengembangan. Web: Tidal-lowlands.org

Bambang Djoko Priatmadi.  2004.  Segmentasi, Dinamika S dan Fe, dan Reklamasi Tanah Sulfat Masam  dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Tanaman Padi.  Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Kompas.  2003.  Lahan Rawa 33 Juta Ha Gantikan Pertanian Jawa.  Kompas, Kamis – 31 Juli 2003.

Stevenson, F.J.  1986.  Cycle of Soil:  Carbon, Nitrogen, Phosphorous, Sulfur, Micronutrients.  John Wiley & Sons.  New York.  380 p.

 

 

Disajikan dalam Seminar dan LKTI Se-Indonesia, Himpunan Mahasiswa Pakultas Pertanian Uiniversitas Lambung Mangkurant, Banjarbaru, 3 Agustus 2004  – Syekhfani

 

06 AprSOIL-Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

 

KEBAKARAN HUTAN – FENOMENA ALAM/MANUSIA – BUTUH REHABILITASI

 

 hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar[1]

Contoh:  Kebakaran kawasan hutan di Puncak Gunung Lawu. Kebakaran di hutan yang berada di dua propinsi yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mayoritas ditanami pohon pinus seluas 15 hektar itu diperkirakan sudah terjadi sejak Minggu (22/7) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Lihat:  hutan-pinus-di-gunung-lawu-terbakar

 

gn-walat2[1]

Kondisi umum hutan sehabis terbakar:  Tampak bekas terbakar menyisakan abu (arang) dari tumbuhan terbakar.  Di satu pihak masih memberikan efek positif sebagai sumber unsur hara atau bahan pengondisi sifat kesuburan tanah.  Tetapi di lain pihak, suhu tinggi saat terbakar menyebabkan kondisi biologi tanah (sifat kesuburan biologi rusak) dan membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih kembali.  Upaya rehabilitasi hutan bekas terbakar mempercepat pemulihan tersebut agar hutan menjadi normal kembali seperti semula. Lihat:  Rehabilitasi Hutan Terbakar

 

semak2[1]

 

Contoh rehabilitasi:  kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain (Baning Kalimantan Barat):

a. Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKN) Tahun 1994, merupakan proyek Dinas Kehutanan Kalimantan Barat. Bibit yang ditanam dari jenis Dipterocarpaceae seperti Mabang (Shorea panchyphylla), Meranti Bunga (Shorea farvifolia), dan lain-lain.

b. Pembuatan saluran drainase Tahun 1995-1996, merupakan proyek Pemda Daerah Tingkat II Sintang. Pembuatan drainase ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya penyerobotan lahan dan kebakaran hutan dalam kawasan pada musim kemarau. Panjang drainase ini kurang lebih 6 km melingkari kawasan dan sebagian masuk dalam kawasan hutan.

c. Rehabilitasi Kawasan Taman Wisata Alam Baning Tahun 2002, merupakan proyek BKSDA kalimantan Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali jenis-jenis tanaman yang tumbuh dihabitat aslinya dengan melakukan kegiatan penanaman pada areal bekas kebakaran. Selain itu dengan adanya campur tangan manusia melalui kegiatan penanaman diharapkan akan tanaman tersebut dapat tumbuh dengan cepat dan dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terbuka. Link:  baning-kalbar

 

03 AprSOIL-Suksesi Profesi

 

MEMBANGUN  PROFESI  BERTANI

 

Lingkungan – Bakat – Hobi – Cita-cita

            443257[1]

Masa kecil

Aku menyenangi tanaman, karena sejak kecil hidupku di kampung di tengah pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Selatan. Di situ aku mulai dikenalkan bagaimana cara mencangkul, menyiang, membajak, menanam, memupuk, memanen, dan lain-lain, oleh ayahku yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar sekaligus juga bertani. Maklumlah, pendapatan beliau tidak mencukupi bila hanya mengandalkan gaji guru. Ayahku bercita-cita agar kelak aku menjadi sarjana pertanian (alhamdulillah hal itu terkabul).

 

Masa belajar

Tamat dari sekolah dasar, aku merantau untuk merubah nasib. Karena sekolah menengah lanjutan tidak ada di kampung, berangkatlah aku ke kota meninggalkan lingkungan bertani. Namun, jiwa bertani tetap melekat dalam diriku.

Di sekolah menengah tingkat pertama, guru-guruku juga ada yang bertani di luar jam sekolah. Mengetahui bahwa aku terampil bercocok tanam, guruku memintaku membantu. Semuanya kulakukan dengan ikhlas dan senang hati, sehingga guruku sayang padaku.

Bakat bertani tetap ada, sewaktu menyelesaikan tugas akhir di sekolah menengah tingkat atas, aku menyusun tulisan berjudul “Budidaya Tanaman Kopi”, suatu bidang yang secara praktikal sudah kulakukan semasa di kampung.

 

Menapak ke profesi

Selesai sekolah menengah tingkat atas, kupilih fakultas pertanian sebagai wadah menuju profesi masa depan. Mata ajaran praktikum kujalani dengan tekun dan serius mengikuti petunjuk dan bimbingan para dosen dan asisten. Aku merasa betapa dangkalnya ilmu pertanian yang kumiliki saat di kampung dulu. Hal itu menjadikan motivasi untuk belajar lebih tekun.

 

SN851655[1]

Aku ingat, dulu sehabis kuliah sering mengunjungi rumah-kaca Balai Penelitian Hortikultura, di mana aku juga ikut kuliah dan praktikum, dan juga ada dosenku di situ. Sebenarnya, dari situlah muncul perasaan menyenangi tanaman sebagai hobi.

13882604-closeup-of-cultivated-ripe-avocado-fruits-persea-americana-hanging-heavily-from-tree-ready-to-be-har[1]

Aku menerima tawaran dari staf Balai Penelitian untuk membantu melakukan tugas di luar jam kuliah. Aku mendapat tugas identifikasi tanaman Alpokat dan Pisang, di kebun koleksi Tanaman Buah, beberapa kilometer dari kampus. Kegiatan itu kulakukan dengan gembira dan semangat karena banyak pengetahuan dan pengalaman yang kuperoleh.

 

Profesi dosen pertanian

Studi lanjut tingkat magister dan doktor, merupakan ajang peningkatan wacana bidang pertanian lebih mendalam. Bidang teori, praktek, dan implikasi langsung ke masyarakat. Dalam hal ini pengalaman berinteraksi dengan para ilmuan, institusi dan praktisi bidang pertanian banyak diperoleh. Selain itu juga interaksi langsung dengan petani, pekebun, maupun pengusaha. Banyak kegiatan kerjasama dilakukan berupa penelitian maupun praktek di lahan.

 

Profesi bertani, adalah talentaku!

 

 

02 AprSOIL-Degradasi Lahan Sawah

 

 

PADI SAWAH – INTENSIFIKASI – LEVELLING OFF

 

 

Degradasi Lahan Sawah (low land)

imagesCACPFUIH

padi-inpari-13[5][1]

 

  • Intensifikasi pertanian, terutama di pulau Jawa dan ekstensifikasi dan/atau menuju intensifikasi di luar pulau Jawa, menunjukkan tingkat perkembangan lahan yang berbeda secara kontras;  terutama dari aspek potensi lahan dan status kesuburan tanah.
  • Intensifikasi di Jawa dilakukan secara luas dan menyeluruh di lahan budidaya tanaman padi sawah, menggunakan paket teknologi (termasuk penggunaan pupuk NPK-kontinyu) sejak awal tahun 1970-an hingga  1990-an.
  • Setelah pencapaian swasembada beras tahun 1984, terasa peningkatan produksi semakin sulit,  produktivitas ‘melevel’ (levelling off) dan bahkan cenderung menurun (declined).
  • Disinyalir telah terjadi ketidak-imbangan status unsur hara dalam tanah, di mana kandungan unsur hara makro (P dan/atau K) tinggi, sedang unsur hara semi makro (S) serta unsur hara mikro (Zn) cenderung rendah, muncul gejala defisiensi di beberapa lokasi sentra produksi padi.
  • Hal yang sangat spektakular adalah kandungan bahan organik ternyata sudah “sangat rendah” (di bawah 1%).
  • Sejalan dengan rendahnya kandungan bahan organik, aplikasi pupuk N selalu menunjukkan respon;  bahkan tanpa pemberian pupuk nitrogen produksi tidak dapat diharapkan.

 

  • Degradasi sifat kimia di lahan budidaya pertanian intensif, yang diikuti ketidak-imbangan status unsur hara makro, semi makro, dan mikro ini;  menyebabkan potensi produktivitas tanaman padi sawah masih jauh untuk dicapai.
  • Hal ini merupakan masalah utama dalam peningkatan produksi pangan di sentra produksi padi di Jawa (juga beberapa daerah di luar pulau Jawa).
  • Keadaan serupa juga terjadi pada tanaman pangan non-padi berbasis padi sawah (jagung, kacang-kacangan).
  • Jenis tanaman  padi unggul rekayasa biologis mencapai potensi produktivitas  di atas 10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar.
  • Namun potensi produktivitas ini masih sangat jauh, di mana rata-rata produktivitas nasional hanya  5.0  ton  GKG/ha; dan Jawa  Timur  sebagai  sentra  produksi  beras, hanya  5.5  ton  GKG/ha.

 

Wacana:  Diperlukan peningkatan daya dukung melalui program intensifikasi lahan kering (upland)