28 DecCacing Tanah Itu Istimewa

Earthworm

KELOLA HIDUP DAN KEHIDUPAN

Puisi

Syekhfani

Aku, makhluk mandiri
Meski aku tak punya mata
Tak punya kaki

Ku rekayasa kebutuhanku
Udara, air, nutrisi
Dalam “tanah” tempat tinggalku

Ku gali saluran aerasi dan drainase
Kuambil sisa tumbuhan yang berlimpah
Ku jadikan nutrisi sehari-hari

Semua salut lihat kerjaku
Tumbuhan, hewan, juga manusia
Meski makhluk terakhir ini
Ada yang jijik melihat tubuhku

Namun aku tak apa-apa
Bahkan suatu hari
Dia pijak tubuhku
Aku tak sakit hati

Aku hanya berupaya
Untuk bertahan tetap hidup
Menggeliat geliat
Di bawah telapak kaki itu

Karena kemandirianku
Aku diberi nama
CACING TANAH

Sebab itu, aku tahu tentang tanah
Sifat serta cirinya, kupelajari, kupahami
Hingga ku mengerti manfaat kegunaannya

Meski pun juga aku tahu
Ada juga yang menghindari

Karena, tanah itu kotor
Dirty soil!

~ Puisi Akhir Desember 2014 ~

05 OctA Bushel a Day

A BUSHEL A DAY

a bushel a day

By: Tommy Cichanowski

A bushel a day He gives me,

A bushel a day to share.

So much love to give away,

To show how much I care.

Each day He fills me up,

And sends me out to play.

With all the things, He made for us,

And to help others, on their way.

© Tommy Cichanowski – Aging occurs when our body’s cells lose their ability to fully replicate and regenerate themselves.

02 SepMy Soil

Cacing tanah

TANAHKU

Puisi

Syekhfani

Tekstur, struktur, humus, liat, porus, “bernapas, minum, makan” – Tuntutan ideal!

Cacing Tanah, hancurkan sisa-sisa kehidupan, mengapa?

Unsur hara, nutrisi atau gangguan?

Air, tetes demi tetes melepas dahaga yang menggelegak

Udara, melegakan napas di pori sempit

Beribu juta makhluk hidup

Bersama-sama dalam suatu kehidupan

Simbiose, antagonis, parasiter

Melengkapi dinamika hidup dan kehidupan

Di alam dunia gelap dan nyata

Oo, betapa bergunanya TANAHKU..

-Awal Agustus 2014-

10 AugAlam Sahabatku

Hujan Deras

ALAM SAHABAT SEJATIKU

Puisi

Syekhfani

Alam, sahabatku

Punya sifat aneh

Suatu saat tampak menyenangkan

Di lain saat kelihatan menyusahkan

Ketika sahabatku itu sedang ceria

Wajahnya berseri cerah, senyum, tidak diselimuti awan mendung

Terpercik kehangatan persahabatan, diberikan kepadaku: materi, semangat kehidupan

Tetapi ketika sahabatku itu marah

Ia bermuram durja, wajahnya menunjukkan permusuhan

Terpancar kilat kebencian, disertai gelegar suara mendebarkan

Meski pun sebenarnya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat sayang padaku

Dalam kemarahannya itu, ia tetap memberikan sesuatu kepadaku dengan tulus, ikhlas

Hanya aku, s’lalu tidak sadar, s’lalu emosional

Saat ku renungkan itu semua, aku terperanjat, malu, menyesal dan berdosa

Alam itu, sahabatku sejati: dalam senang dan susah

Selalu memperhatikanku

Selalu setia..

Mengapa?

Aku ada dalamnya!

Awal Agustus 2014