15 FebAlternatif Pupuk Organik Kompon

cbe9caa5_82beec7e_0570_41a4_b36a_45ef50a23e6d

HUMAT-BIOCHAR (NPK)

Syekhfani

Pupuk organik kompon, adalah gabungan bahan organik + bahan anorganik bermutu tinggi.

Agar pupuk organik kompon efektif (effective) dan berkelanjutan (sustainable), maka perlu dipilih bahan baku dasar yang telah terbukti keampuhannya, di antaranya adalah: Humat dan Biochar http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2015/01/09/asam-humat-dan-biochar/.

Alternatif alternatif pupuk kompon, bisa dipilih dari kombinasi berikut:

-Humat+Asam Amino

-Humat+NPK

-Humat+NPK+Kompos

-Fulvat+Leonardite

-Humat+Fulvat+NPK

-Biochar+NPK+Biofertility

Lihat:→ http://www.tradekorea.com/product/detail/P279855/Humic-acid-in-granular-form.html

20 NovSOIL-Sumber Alternatif Pupuk Organik

  

SUMBER ALTERNATIF PUPUK ORGANIK

(THE ALTERNATIVE SOURCE OF ORGANIC FERTILIZER)

 

Syekhfani

 

SUMBER ALTERNATIF PUPUK ORGANIK

 

Dalam kelas “Teknologi Pupuk dan Pemupukan” (TPP), dosen menjajagi pengetahuan mahasiswa tentang sumber pupuk organik:

Dosen: “Dari berbagai sumber pupuk organik, sumber apa menurut anda yang terbaik?”

Mahasiswa:  “Pupuk kandang, Prof.”

Dosen: “Apa alasannya?”

Mahasiswa: “Pupuk kandang berfungsi ganda  (“multi purpose”), memperbaiki sifat Fisika, Kimia dan Biologi tanah”

Dosen: “Dari berbagai jenis pupuk kandang, mana yang terbaik?”

Mahasiswa1): “pupuk kandang ayam

Mahasiswa2): “pupuk kandang sapi

Mahasiswa3): “pupuk kandang kambing

Dosen: “Apa iya…??”

Mahasiswa: “Bagaimana yang benar, Prof?”

Dosen (1): “Ayam, pemakan bebijian…”, “Sapi, pemakan rerumputan…”, “Kambing, pemakan dedaunan perdu/pohon muda…”

Dosen (2): “Bebijian, kaya senyawa protein (unsur N, S, P);  rerumputan, kaya senyawa  selulose (sukar lapuk);  dan dedaunan muda, kaya senyawa glukose/sukrose (mudah lapuk)”

Dosen (3): “Artinya:  bebijian, untuk perbaikan sifat kimiarerumputan, untuk perbaikan sifat fisika, dan dedaunan muda, untuk memperbaikan sifat biologi…”

Mahasiwa: “Ooo.. begitu, Prof?”

Dosen: “Iya, kurang lebih begitu… Oh ya, bagaimana dengan pupuk (maaf).. “kotoran manusia?”

………………….

Dosen: “Ini akan kita bahas minggu depan!” → lihat (sebagai bahan): Human-waste-could-be-biofuel

Mahasiswa: “…??!”

 

11 NovSOIL- Meramu Pupuk Organik

 

1

 

MERAMU PUPUK ORGANIK

(CONCOCTING ORGANIC FERTILIZER)

 

Pupuk Organik – N, P, K (+) Organik – Mutu

 

Syekhfani

 

Apabila kita ingin membuat pupuk organik, menggunakan bahan baku yang ada di lingkungan seputar kita, maka perlu diperhitungkan jumlah bahan baku yang mengandung unsur hara target mutu yang dikehendaki.

Andaikan ingin membuat pupuk kompon NPK, dari campuran bahan baku leguminosae, kompositae dan palmae yang umumnya berlimpah, maka perlu diketahui dasar perhitungannya.

 

MUTU – Jenis – Pembuatan

Mutu Pupuk

Mutu atau analisis pupuk dinyatakan dalam tiga angka yang menunjukkan jaminan kandungan minimum unsur hara tersedia bagi tanaman.

Pupuk komersial, organik ataupun artifisial, harus ada jaminan analisis minimum tercantum di kemasan.

Mutu 10-10-10 menjamin analisis 10% N, 10% P2O5, dan 10% K2O, dijamin dalam kontiner khusus sebagai bentuk tersedia unsur nitrogen, fosfat, dan kalium.

 

Kriteria Pupuk Anorganik

Pupuk yang mengandung lebih dari 30% total unsur tersedia disebut pupuk ‘beranalisis tinggi’, sedang pupuk mengandung kurang dari 30% total unsur tersedia disebut ‘pupuk beranalisis rendah’.

Mutu pupuk kompon 15-15-15 adalah pupuk beranalisis tinggi; mutu 5-10-10 adalah pupuk beranalisis rendah, dan 10-10-10 berada pada garis batas.

Hal yang perlu diketahui adalah cara menyebut mutu pupuk sebagai jumlah unsur N (nitrogen), P2O5 (disebut asam fosfat dalam kemasan, tetapi secara kimia adalah fosfor pentaoksida), dan K2O (kalium oksida).

Pernyataan ini berkaitan dengan sebutan praktis senyawa anorganik dalam bentuk oksida.

Ketentuan tersebut telah disepakati oleh para industriawan pupuk dalam menyatakan sebagai  ukuran mutu semua jenis pupuk, organik ataupun anorganik, sebagai jaminan mutu produk pupuk yang dikeluarkan bagi para konsumen.

Hal sama bagai unsur kalsium dan magnesium sebagai bahan kapur.

Dalam pustaka ilmiah disajikan daftar konversi; bagi anda yang ingin mengubah mutu pupuk ke dalam jumlah yang diakui.

 

Pupuk Organik

Pupuk organik, tergolong beranalisis (mutu) rendah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tanaman (crop requirement), perlu dikonversi ke dalam dosis per satuan unit.

Berdasar pada kandungan unsur hara dominan, ada tiga macam pupuk organik: (1). Tunggal, (2) Majemuk, dan (3). Lengkap.

  • Pupuk organik Tunggal: mengandung satu jenis unsur hara makro (Pupuk Organik N, Pupuk Organik P, dan Pupuk Organik K) dengan mutu tertentu, misalnya pupuk N (mutu 5 % ): N : P : K → 5 : 0 : 0.
  • Pupuk Organik Majemuk: mengandung dua atau lebih gabungan unsur hara makro (Pupuk Organik NP, NK, PK,NPK, atau ditambah dengan S, Ca, atau Mg), mis. Pupuk Organik NPK → Contoh: Campuran Legum + Tithonia + Tandan Kelapa → N : P : K → 0.5 : 0.5 : 1 .
  • Pupuk Organik Lengkap: Pupuk organik mengandung unsur hara makro (N, P, K, S, Ca, Mg) maupun mikro (Fe, Mn, Cu, Zn). Biasanya berasal dari bahan baku kompos sisa tanaman atau hewan yang diperkaya (enriched) dengan senyawa kimia/pupuk anorganik.

Pupuk Organik Majemuk: → Contoh: Campuran Legum + Tithonia + Tandan Kelapa → N : P : K → 0.5 : 0.5 : 1

  • Porsi campuran: satu bagian pupuk = 1/3 bagian Legum + 1/3 bagian Thitonia + 1/3 bagian Tandan Kelapa.
  • Kompos Majemuk Bio: kompos + pupuk Hayati.
  • Sifat Campuran: incorporate → (campur-rata).
  • Tanpa atau dengan pemberat.

Contoh Perhitungan Mutu:

Legum (1.5 % N)                     → 30%          →  1.5 : 0 : 0

Tithonia (1.5 % P2O5)              →  30%         →  0 : 1.5 : 0

Tandan kelapa (3 % K2O)        →  30 %        →  0 : 0 : 3

Pemberat (inert)                       →  10%         →  0 : 0 : 0

—————————————————————————–

Mutu Pupuk Organik NPK      0.5 : 0.5 : 1

 

Baku mutu pupuk organik dalam angka kisaran  tergantung jenis bahan!

 

24 AugSOIL-Standarisasi Pupuk Organik (SNI)

 

STANDARISASI PUPUK ORGANIK INDONESIA (SNI)

 Tinjauan:  Syekhfani

Berdasar Permentan Nomor: 70/Permentan/SR.140/10/2011, Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah, standarisasi pupuk organik Indonesia (SNI Pupuk Organik), memuat ketentuan-ketentuan, antara lain:

Para produsen pupuk organik, harus memenuhi persyaratan standar sebelum diajukan untuk mendapatkan “sertifikat Pupuk Organik“.

Ada dua tahap yang dilalui:

1. Uji standar mutu pupuk, yang menunjukkan data mutu pupuk (analisis kimiawi pupuk) sebagai persyaratan industrial, dan

2. Uji efektivitas, yang menunjukkan data respon tanaman terhadap aplikasi pupuk organik, sebagai jaminan respon tanaman.

Butir 1, dilakukan di laboratorium yang ditunjuk  oleh deptan/depperin (Sucofindo, Perguruan Tinggi, dan lain-lain).

Butir 2, dilakukan oleh instansi terkait yang ditunjuk oleh yang berkompeten (deptan) dalam hal uji lapangan  (misalnya:  BPTP, Perguruan Tinggi, dan lain-lain).

Materi uji untuk Butir 1 dan 2 dilakukan mengikuti aturan teknis yang tercantum dalam Permen sebagai institusi yang diberi wewenang dan tanggung jawab untuk standarisasi dan sertifikasi pupuk organik di Indonesia.

Lihat → Permentan 70 TAHUN 2011

BERITA INDUSTRI (Depperin):  → hhtp://www.kemenperin.go.id/artikel/906/kode-etik

 

22 AugSOIL-Standarisasi Pupuk Organik

 

STANDARISASI PUPUK ORGANIK

(ORGANIC FERTILIZER STANDARDISATION)

Pupuk organik ~ Standarisasi ~ Nova Vermont

Bahasan:  Syekhfani

Description ~ Accepted ~ Regulated ~ Restricted ~ Prohibited

images (6)

Pupuk organik (organic fertilizers),  diartikan berbeda-beda menurut persepsi  individual di berbagai tempat dan negara. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak aturan dan standar dalam konteks “pupuk organik“. Misalnya dikemukakan oleh negara Perancis, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan lain-lain;  bahkan juga Indonesia.

Standarisasi pupuk, sama seperti  merk dagang suatu produk;  di mana konsumen akan memilih sesuai merk yang disuka. Biasanya, merk menggambarkan spesifikasi dan kualitas. Merk harus bersifat konsisten, terjamin, dan khas. Konsekuensinya, ada komplain bila menyimpang dari keterangan yang ada dalam  manual.

Produsen pupuk organik harus memenuhi syarat standariasi untuk memperoleh “sertifikat produk organik”.

 

Contoh “standarisasi pupuk organik” menurut Nova Vermont, USDA > lihat:

http://nofavt.org/sites/default/files/2013%20Guidelines%20for%20Field%20Crops.pdf

 

Proses pengelolaan kesuburan meliputi:  rotasi, tanaman penutup, pupuk kandang, kompos, sisa tanaman dan aplikasi amandemen tanah yang disetujui untuk sistem pertanian organik, meliputi penggunaan:

• Amandemen mineral non-sintetis dengan aditif non-sintetis, seperti batu fosfat, tulang dan tepung darah, batu kapur, dan sul​​-po-mag diperbolehkan (allowed).

Abu kayu dari sumber diperbolehkan, disetujui (accepted ).

Pupuk cair sintesis dan kapur dilarang (prohibited).

Whey (bagian air yang terpisah dengan bagian padat) dari sumber susu disetujui/diperbolehkan, namun dilarang jika bahan dicampur dengan air abu-abu dari fasilitas pengolahan atau bahan terlarang lainnya.

Pupuk kandang (termasuk sumber off-farm) diperbolehkan.

Unsur mikro sintetis (boron, seng) dibatasi (restricted) dan hanya dapat digunakan ketika tanah kekurangan melalui uji tanah atau uji jaringan, atau ketika ada jaminan bahwa mereka tidak diterapkan secara berlebihan.

 

Sumber:

Northeast Organic Farming Association of Vermont (NOFA-VT)

VOF Office: 802-434-3821 vof@nofavt.org www.nofavt.org

 

19 MarSOIL-Bahan Baku Pupuk Organik

 

SISA  PRODUK  TANAMAN  POTENSIAL

 

Limbah Berlimpah – Berdaya Guna – Perlu Teknologi Pupuk

 

1

2

3

4

Kulit buah, Sabut, Tempurung dan Pelepah Tanaman Kelapa - Cocos nucifera L. – Palmae. Tanaman kelapa adalah komoditi dominan di Indonesia sebagai negara kepulauan iklim tropis. Tanaman ini dikenal sebagai pohon “serba guna” karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Produk utama yang langsung digunakan adalah daging buah kelapa. Sisanya berupa kulit, sabut dan tempurung seringkali dibuang, atau digunakan untuk beberapa kepentingan, misalnya bahan bakar, bahan baku industri kecil rumah tangga atau produk lain. Bahan sisa produksi seringkali disia-siakan, meski banyak mengandung unsur hara makro (terutama kalium), dan juga unsur-unsur P, Ca, Mg, serta unsur mikro. Jumlah berlimpah, bila ditangani dengan efisien dan serius berpeluang untuk dijadikan pupuk organik yang saat ini merupakan alternatif pupuk akrab lingkungan. Selain buah, bagian pohon potensial untuk bahan baku pupuk organik adalah pelepah daun dan tandan kosong (setelah diambil buahnya, atau tandan bunga yang tidak jadi buah).

5

Tandan kosong Tanaman Kelapa SawitElaeis guineensis Jacq – Palmae. Kelapa sawit merupakan komoditi perkebuan besar (estate), meskipun ada sebagian masyarakat yang dilibatkan oleh industri perkebunan sebagai kebun “plasma”. Oleh pihak perkebunan, hampir semua sisa produk dimanfaatkan sesuai kepentingan, misalnya bahan bakar, pupuk, atau lain-lain. Selain biji untuk minyak, sisa produksi seperti kulit buah, pelepah, daun, tandan, dan lain-lain, dapat difungsikan sebagai bahan baku pupuk organik seperti halnya pada tanaman kelapa.

 

6

Kulit Buah KakaoTheobroma cacao L. – Sterculiaceae. Komoditi kakao atau coklat dibudidayakan secara perkebunan (estate) bersama komoditi lain seperti kopi, cengkeh, panili, dan lain-lain, meski ada sebagian masyarakat mengusahakan dalam skala kecil di pekarangan atau kebun sekitar rumah. Produk kakao berupa biji dapat diolah secara sederhana tanpa membutuhkan teknologi atau alat khusus. Kulit buah biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau ditumpuk sebagai kompos. Kulit buah ini mengandung unsur hara esensial makro maupun mikro, yang bila dikembalikan ke kebun merupakan proses daur ulang untuk mempertahankan kesuburan tanah.

7

Kulit Buah Kopi – Coffea spp. – Rubiaceae. Seperti halnya kakao, tanaman kopi merupakan komoditi perkebunan (estate) dan dibudidayakan masyarakat sebagai kopi rakyat yang cukup luas dan lama (tradisional turun temurun). Pengolahan buah kopi juga sederhana, hanya menggunakan alat pelepas kulit; biji di jemur dan dijual pada kadar air tertentu. Kulit buah umumnya ditumpuk dan dikembalikan ke kebun sebagai pupuk. Kulit kopi potensial sebagai bahan baku pupuk organik, bila diproses dengan baik.

 

8

Kulit Buah PisangMusa spp. – Musaceae. Buah pisang dikonsumsi dalam bentuk buah segar, kripik, atau dijadikan bahan pembuat kue pisang. Penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang sebenarnya masih mengandung unsur nutrisi yang cukup banyak, hanya saja tidak pernah dikonsumsi, kecuali untuk pakan ternak. Oleh sebab itu, bila dijadikan pupuk organik akan menambah suplai unsur hara bagi tanaman.

 

9

Kulit Buah NangkaArtocarpus heterophyllus Lam. – Moraceae. Nangka tergolong buah ukuran besar (jack fruit) dan merupakan buah musiman yang banyak disenangi masyarakat. Bagian buah yang dikonsumsi hanya daging buah, bagian lain seperti kulit, jaring buah dan biji tidak, kecuali untuk pakan ternak; atau dijadikan pupuk dan dikembalikan ke lahan. Bahan sisa ini potensial dijadikan bahan baku pupuk organik, meskipun masih memerlukan penelitian teknologi pembuatan.

 

10

Kulit Buah DurianDurio zibethinus Murr. – Bombacaceae. Meski terdapat pro kontra sebagian masyarakat terhadap durian, namun konsumen penggemar durian tetap cukup banyak. Setiap musim durian tiba, pedagang selalu laris. Ada konsumen menyantap durian di tempat dan ada yang dibawa pulang ke rumah. Kulit buah durian bertumpuk dan kontras dengan buah utuh di sekitarnya. Diketahui, kulit durian banyak manfaatnya ditinjau dari berbagai bidang, obat-obatan hingga bahan makanan. Kulit durian mengandung unsur hara esensial makro, terutama kalium. Oleh sebab itu, bahan ini berpotensi untuk dikembang sebagai bahan baku pupuk organik.