24 MayKisaran Hara Spesifik

Irigasi Lahan

Range Hara Spesifik

(dalam Air Irigasi)

Diposkan oleh: Syekhfani

Unsur hara tanaman bersumber dari tanah, air dan udara, yang merupakan komponen padatan, cairan dan gas.

Dalam cairan tanah, unsur hara larut bersumber dari irigasi permukaan, irigasi dalam, dan air tanah (ground water).

Kandungan unsur hara dalam berbagai sumber ini beragam tergantung berbagai faktor; dan kuantitas dan kualitas air irigasi ini sangat menentukan tingkat kesuburan tanah dan tanaman.

Oleh karena itu, sifat dan ciri (karakteristik) air irigasi perlu diketahui dalam manajemen air pertanian.

Berikut disajikan kisaran karakteristik yang dapat digunakan sebagai acuan:

Desirable ranges for specific elements in irrigation water*)

Klik (1×2):
Range Spesifik Air Irigasi

*) Lihat: Detecting mineral deficiencies in ornamentals, 2001. Cyberconference Plant Nutrition and Fertilizers. Branch-Smith Publishing.

06 JanEVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

HortTech

 

EVALUASI CEPAT KESUBURAN TANAH

 

MENGGUNAKAN “KIT UJI CEPAT  TANAH (RAPID SOIL TEST KIT)”

  

Syekhfani

  

Hampir semua petani dan pekebun yang mengerti tentang tanah subur, mendambakan cara cepat mengetahui apakah tanah atau kebun mereka subur atau tidak.

Bila ada pertanyaan apakah tanah saya subur? Atau, apakah tanah saya sudah perlu dipupuk?

Secara berkelakar jawabnya:  tanyakan dong pada tanah dan tanaman!

Dijawab juga dengan kelakar:  sudah ditanyakan, tapi tidak ada jawaban!

Cari bantuan, “call a friend”!

Who is friend?

Laboratorium!

But, it is so expensive and too long time.

Ooo, minta cepat dan murah?!

Iya…

Jadi mereka butuh “Rapid Soil Test Kit”.

Apa ada??

Ada, sudah dikembangkan!

Contoh:

 

Lihat:  →

1. Gardening Articles: Care :: Soil, Water, & Fertilizer

Evaluating Home Soil Test Kits

(Artikel Berkebun: Perawatan :: Tanah, Air, & Pupuk

Evaluasi dengan Kit Uji Tanah Rumah Tangga)

Oleh:  Charlie Nardozzi

http://www.garden.org/subchannels/care/soil?q=show&id=2894

Pengujian tanah adalah penting untuk menentukan kesuburan dan kesehatan tanah. Apakah itu untuk mengetahui pH, nitrogen, fosfor, kalium, dan unsur hara lainnya untuk rumput, taman bunga , atau kebun sayur anda. Salah satu cara tercepat dan termudah untuk menguji tanah Anda adalah dengan menggunakan kit uji tanah yang tersedia secara komersial .

Para peneliti di University of CaliforniaDavis, menguji lima kit uji tanah tersedia di pasaran untuk mengetahui akurasinya dibandingkan dengan uji laboratorium profesional.

Para peneliti menemukan bahwa Lamotte Soil Tes Kit dan Rapitest Kit yang terbaik, dengan akurasi minimal 90 persen dalam kategori ini. Beberapa kit lebih akurat untuk unsur hara tertentu.

Sebagai contoh, unsur nitrogen yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soil Test, dan pH oleh Lamotte Soil Test Kit. Unsur kalium akurasinya sama untuk semua kit kecuali Soil Kit.

Untuk informasi lebih lanjut tentang penelitian kit uji tanah ini, lihat: Hort Technology.

 

Lihat:  →

2. Accuracy Varies for Commercially Available Soil Test Kits Analyzing Nitrate–Nitrogen, Phosphorus, Potassium, and pH (Akurasi Berbagai Analisis Kit Uji Tanah Komersial untuk N-Nitrat, P, K, dan pH)

Oleh:

  1. Ben A. Faber,
  2. A. James Downer,
  3. Dirk Holstege and
  4. Maren J. Mochizuki

http://horttech.ashspublications.org/content/17/3/358.abstract

Ringkasan

Uji tanah merupakan komponen penting dalam program manajemen perharaan tanaman bagi petani, tukang kebun rumah tangga, dan tenaga penyuluh pertanian. Hasil uji 5 alat tes kolorimeter komersial dibandingkan dengan analisis laboratorium standar untuk nilai pH, dan kandungan nitrat-nitrogen (NO3), fosfor (P2O5), dan kalium (K2O) pada tanah Lempung berliat Salin dengan tiga periode pertanaman. Tingkat akurasi (frekuensi terhadap hasil analisis laboratorium) adalah menurut urutan sebagai berikut: La Motte Soil KitRapitestRapid SoiltestNitty-Gritty, dan Soil Kit berturut-turut 94%, 92%, 64%, 36%, dan 33%. NO3 adalah yang paling akurat ditentukan oleh Rapitest dan Rapid Soiltest, P2O5 dengan Rapitest, dan pH oleh La Motte Soil Kit. K2O menunjukkan akurasi yang sama untuk semua Soil Kit. Komposisi ekstraktan mungkin merupakan faktor penentu yang mempengaruhi keakuratan tes kit. Sebagai contoh, semua ekstraktan kit untuk K2O terdiri dari bahan kimia yang sama dan sesuai dengan analisis laboratorium yaitu 82%. Sebaliknya, kit menggunakan ekstraktan berbasis analisis asam NO3 lebih sering cocok dengan hasil analisis laboratorium dari kit menggunakan ekstraktan berbasis zinc (P ≤ 0,0001). La Motte Soil Kit memiliki jangkauan terbesar terhadap pH, sedangkan Rapitest relatif mudah digunakan dan ditafsirkan, merupakan pilihan praktis untuk tukang kebun rumah atau landscapers, keduanya lebih dari 90% akurat untuk jenis tanah ini. Meskipun batasan penting dari alat tes komersial adalah nilai perkiraan atau kategoris kandungan gizi (yaitu: rendah, sedang, tinggi), alat tes yang akurat dapat menunjukkan hasil yang cepat dan ekonomis untuk pengelolaan hara.

 

13 NovSOIL-Gutasi

 

1

  

GUTASI – DEFISENSI KALSIUM - TANAH MASAM

 

Cassava Menangis?

 

Syekhfani

 

Saya punya pengalaman, saat melakukan “Survei Monitoring Pengapuran Lahan Masam” bersama tim Institut Pertanian Bogor di Pasir Pangarayan, kabupaten Bangkinang, propinsi Riau, tahun 1980-an.

Tim melakukan perjalanan sehari penuh dari lokasi transmigrasi blok D ke E. Kondisi jalan rusak berat karena musim hujan, kami juga kerja nonstop hampir seminggu lamanya tanpa istirahat. Semua anggota tim tidur nyenyak keletihan di base-camp blok E.

Di pagi hari yang cerah, sinar matahari menyilaukan mata, saya terbangun.

Menyadari bahwa berada di lokasi baru, saya bersemangat ingin mengetahui panorama sekitar base-camp. Saya melangkah perlahan ke luar base-camp dan terpandang area tanaman berjejer rapi dalam alur di lahan pekarangan.

Awalnya saya tidak mengenali jenis tanaman. Namun setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata tanaman itu adalah Cassava (Ubikayu). Kenapa kurus? Pendek, kerdil dan berdaun sempit?

Ada butir mengkilap di ujung daun yang runcing. Butir itu air gutasi terkena cahaya matahari, mengkilap seperti berlian. Lihat, butir membesar dan membesar lalu jatuh. Segera muncul lagi butir baru, membesar, kemudian jatuh lagi.

Dalam waktu singkat, hal itu berulang kali, tetes demi tetes air jatuh ke tanah.

Saya ajak teman-teman melihat dan semua heran. Timbul kelakar:

“Wah, ubikayu “menangis” minta dipindah ke tempat lain, tidak senang tumbuh di sini!”.

Di perjalanan kami mendiskusikan fenomena tersebut. Diperoleh kesimpulan bahwa pada tanah masam seperti Blok E (Ultisol, duduk di atas hamparan pasir kuarsa), unsur basa-basa sangat rendah karena kelarutannya tinggi dan pencucian (leaching) berlanjut.

Kalsium, salah satu unsur basa, secara anatomi-morfologi menentukan sifat “permeabilitas dinding sel”. Karena defisiensi maka dinding sel daun menjadi “im-permeable”, artinya air dalam tubuh tanaman tidak mampu ditahan dan keluar lagi melalui dinding sel.

Kadar air tanah relatif tinggi pada pagi hari, sinar matahari menyebabkan suhu udara meningkat, air tanah naik ke tubuh tanaman (transpirasi), namun keluar lagi dari ujung daun sebagai air gutasi.

Karena terjadi dalam waktu relatif singkat, maka tampak tanaman “menangis”.

Kasihan…

 

Suatu pengalaman fenomenal yang menakjubkan!

 

01 NovSOIL-Aeroponic Culture

 

1

 

BUDIDAYA AEROPONIK

(AEROPONIC CULTURE)

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Kalau kita perhatikan tanaman anggrek, kita akan heran bagaimana tanaman ini bisa tumbuh dan berbunga indah tanpa ada medium tumbuh akar yang cukup? Akar dan tajuk tumbuh baik dan bahkan bertahan lama tanpa tampak ada suplai nutrisi dan air secara rutin?

Budidaya anggrek dan tanaman sejenis (misalnya:  simbar menjangan, dan lain-lain), tergolong budidaya aeroponik (Aeroponic culture) → lihat: soil-budaya-tomat-tanpa-tanah/ ;  yang ditekuni dan dikembangkan oleh banyak penggemar atau hobeis (bahkan ada komunitas hobeis tanaman anggrek, seperti PAI – Perhimpunan Anggrek Indonesia).

Anggrek, tergolong jenis tumbuhan epifit (epiphyte), hidup melekat pada cabang atau batang pohon, tumpukan arangpecahan bata atau pot tanahpotongan pohon pakis, dan lain-lain;  meskipun ada jenis anggrek yang tumbuh pada medium tanah (anggrek tanah). Akar tanaman anggrek disebut akar lekat dan akar hawa, yang berfungsi sebagai alat memperkuat tegak batang dan sekaligus menyerap udaraair dan unsur hara.

Tanaman anggrek termasuk juga golongan xerohytic (serofitik), dicirikan oleh morfologi batang dan daun yang menebal dan mengandung air, memungkinkan tumbuhan ini bisa bertahan lama di lingkungan tanpa suplai air atau air hujan cukup.

Namun, kelembaban udara yang tinggi akan sangat membantu suplai air bagi kebutuhan hidup tanaman anggrek;  anggrek tumbuh baik pada pohon-pohon di rawa, tepi sungai atau tepi kolam.

Dalam budidaya aeroponik, suplai hara dan air hanya mengandalkan semprotan (spraying) tajuk dan/atau akar, dengan interval waktu cukup panjang (hitungan hari atau minggu);  aeroponik efisien/hemat air dan unsur hara.

 

2

3

3b

4

Trubus akar dan tajuk tumbuh segar dalam pot hanya berisi pecahan bata atau pecahan pot tanah

4

Suplai air dan unsur hara cukup melalui semprotan (spray) pada interval waktu cukup panjang (beberapa hari atau minggu)

5

 Sistim perakaran lebat, kanopi daun lebar dan tebal, mendukung tumbuh bunga berukuran cukup besar (medium atau king size)

6

Anggrek tumbuh baik di seputar pot teratai (kelembaban udara tinggi)

 

Budidaya aeroponik, hemat tenaga dan biaya dengan hasil yang “INDAH”!

 

27 OctSOIL-Budidaya Tomat Tanpa Tanah

 


1

 

BUDIDAYA TOMAT TANPA TANAH

(TOMATO SOILLESS CULTURE)

 

Diangkat oleh:  Syekhfani

 

Anda punya keinginan untuk memperoleh keuntungan melalui usaha budidaya tomat tanpa tanah?

Bila iya, metode budidaya tanpa tanah bisa memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan budidaya sistim tanah!

Hal yang menyenangkan adalah sistim ini lebih mudah dikontrol (baik medium maupun OPT).

Tanaman tanpa tanah bisa ditumbuhkan dalam kantong plastik polietilen UV  (kapasitas 2 – 5 galon) sebagai wadah medium yang diberi larutan nutrisi melalui irigasi tetes (drop irrigation). Kantong polietilen harus tebal dan kuat agar dapat bertahan selama masa pertumbuhan (bisa diperoleh di toko pertanian).

Medium terlebih dulu dipasteurisasi agar tidak terserang OPT.

Bahan medium bisa berupa gambut/vermiculite, serbuk gergaji, rockwool, sekam padi, kulit pinus, sekam kacang, atau campuran salah satu dari mereka.

Budidaya dalam polibag cocok untuk tanaman tegak dan menjalar seperti tomat, mentimun, dan paprika.

Beberapa kendala yang mungkin ditemui antara lain yaitu:  pengendapan senyawa dalam larutan atau bocor dan mencemari lantai rumah kaca. Alternatif solusi:  menyiapkan formulasi khusus campuran pot organik.

Lihat:  →  http://www.douggreensgarden.com/containertomatogardening.html

 

11

 

Skema Budidaya Tanpa Tanah

 

1

3

4

7 (2)

6

7

8

10

Tampilan Tanaman Tomat pada Budidaya Tanpa Tanah

(Google images)

  

Budidaya Tanaman Tanpa Tanah, pilihan Usaha Menguntungkan!

 

10 OctSOIL-Evaluasi Tanah Kebun Apel

  

TANAMAN APEL ~ MUSIMAN ~ PANEN  BUAH  ~ ROMPES DAUN

 

Hara terangkut (Buah, Daun) ~ Pemupukan per Musim

Foto-foto dan Materi:  Syekhfani

 

Tanaman apel, berbuah musiman (1 – 2 kali setahun), hara terangkut dalam jumlah banyak melalui buah dan daun rompesan (stimulasi pembungaan; daun rompesan tidak dikembalikan ke kebun).

Diperlukan pemberian unsur hara melalui pemupukan rutin (awal  dan akhir musim hujan).

Evaluasi status hara tanah kebun dilakukan melalui analisis sifat kimia tanah setelah selesai panen  (Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2013/10/ANALISIS-SIFAT-KIMIA-TANAH.pdf)

 

Interpretasi dan Rekomendasi:

Hasil analisis Contoh tanah (evaluasi dari Laboratorium Kimia Tanah).

 

Interpretasi:

Pemberian pupuk setelah mengetahui hasil analisis kriteria rendah dan sangat rendah.

 

Rekomendasi:

  • Dosis (per tanaman atau per hektar)
  • Saat aplikasi (sebelum musim hujan: cukup air dan setelah musim hujan: kurang air).
  • Cara aplikasi (seputar proyeksi tajuk, kedalaman 10 cm dan ditimbun tanah).
  • Tambahan:  bila tidak ada hujan, perlu di siram (irigasi).

1

2

Apel Manalagi siap dipanen

3

4

Apel Anna siap dipanen

5

6

Apel Rome Beauty berbuah (setelah dirompes)

7

8

Lokasi pemupukan (proyeksi tajuk pohon)

 

Unsur Hara Terangkut harus Dikembalikan!

 

07 AugSOIL-Controlled Release Fertilizers

 

CONTROLLED-RELEASE FERTILIZERS ~ PELEPASAN PUPUK TERKONTROL

 

Efektif ~ Terkendali ~ Alternatif Jenis

 

Tinjauan: Syekhfani

 

Lima kaedah pemupukankebutuhan, jenis, dosis, waktu, cara.

  • Aplikasi dilakukan sesuai pertanyaan mengikuti urutan “kaedah pemupukan”.
  • Pemberian pupuk yang tidak mengikuti kaedah, menyebabkan ketidak-efisienan (inefficiency).
  • Salah satu teknologi efisiensi aplikasi pupuk adalah “controlled-release fertilizers” (pupuk lepas terkontrol).
  • Aplikasi pupuk lepas terkontrol (controlled-release fertilizers) banyak dilakukan untuk padang rumput (misalnya lapangan golf, padang rumput ternak, dan lain-lain) dan kebun (tanaman pot, perenial-tahunan).
  • Berikut wacana tentang pupuk lambat lepas terkontrol (controlled-release fertilizers).

 

Controlled-Release Fertilizers

by Warren Davenport

http://www.garden.org/articles/articles.php?q=show&id=698

 

698a

Dibandingkan dengan pupuk umumnya, jenis lambat lepas terkontrol dapat diprediksi dengan baik.

Pekebun bingung menentukan pilihan saat mau membeli pupuk. Ada yang berbentuk cairan, bubuk, dan butiran, semua menjanjikan hasil yang luar biasa;  kemudian menyerah dan memilih paket paling menonjol di rak, atau yang paling laku. Tetapi sebenarnya yang diperlukan adalah: jenis lambat tersedia dan pelepasan terkontrol.

Sebenarnya di antara pupuk tersebut ada persamaan dan perbedaan penting. Pupuk cairan yang langsung larut, atau pupuk granular perlu dilarutkan, keduanya perlu melepaskan unsur hara perlahan-lahan dalam jangka lebih lama. Pupuk lambat lepas (slow release) kurang dapat diprediksi terutama tergantung pada aktivitas organisme tanah. Sebaliknya, jenis lepas terkontrol (kadang-kadang disebut terselimuti) unsur hara lepas pada tingkat tertentu selama periode waktu tertentu.

Diet Mantap bagi Tanaman

Oleh karena pupuk tidak berlaku umum bagi semua kondisi kebun dan jenis tanaman, pupuk jenis lambat lepas  dan terkontrol menjanjikan keuntungan bagi sebagian besar pekebun rumah tangga. Mereka menghindari sindrom “pesta atau kelaparan” yang terjadi ketika pupuk cepat lepas diterapkan secara tidak konsisten. Akar, dalam waktu singkat diselimuti oleh banyak unsur hara, tetapi segera tercuci dan menyebabkan defisiensi. Demikian juga, pupuk cepat lepas berakibat mudah merusak tanaman. Sedangkan pupuk lambat tersedia dan terkontrol melepas unsur hara secara bertahap, sehingga potensi masalah diminimalkan.

Keuntungan lain dari pupuk lambat lepas dan terkontrol adalah terhadap kesehatan lingkungan. Di banyak daerah, jalur air, sungai, dan polusi air tanah menjadi masalah, dan beberapa polusi diketahui akibat pencucian. Karena pupuk melepaskan unsur hara diatur perlahan, aplikasinya mengurangi kontribusi terhadap polusi.

Dalam kebanyakan kasus, pengaruh suhu paling penting untuk pelepasan. Tidak hanya mempengaruhi difusi unsur hara ke seluruh lapisan dilepas secara terkendali, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas mikroba, yang melepas unsur hara secara lambat.

Pupuk Lambat-Tersedia

Saat ini ada dua jenis pupuk lambat tersedia. Karena mereka lebih murah daripada jenis pelepasan terkendali, mereka yang terbaik digunakan secara tepat – dan biaya yang lebih tinggi – tidak perlu pengendalian pelepasan, di mana jenis organik alami juga tidak diinginkan.

Organik sintetik. Beberapa jenis pupuk organik sintetik yang diproduksi dengan menggabungkan urea, bentuk umum dari nitrogen, dengan formaldehida;  disebut urea formaldehida atau pupuk urea metilen. Contoh: pupuk nitrogen nitroform cahaya biru, 38-0-0 yang 70 persen “nitrogen larut air” (disingkat WIN pada label produk). Laju pelepasan terutama ditentukan oleh aktivitas bakteri daripada suhu dan air. Tergantung pada produsen, nutrisi dapat tersedia beberapa minggu atau bulan. Urea berbasis formaldehida adalah komponen pupuk pada kebanyakan padang rumput dan kebun.

Sejenis produk seperti isobutylidene-diurea (IBDU), pupuk 32-0-0, adalah 90 persen WIN. Pelepasan hara dikendalikan oleh kelembaban, pH, dan ukuran partikel pupuk (yang lebih kecil melepaskan nutrisi lebih cepat). Ini juga merupakan komponen pupuk pada kebanyakan padang rumput.

Organik alami. Banyak pekebun rumah tangga mendukung pupuk organik alami, terutama bagi yang ingin meningkatkan kualitas tanah. Ada banyak jenis, dan masing-masing memiliki kualitas yang unik. Laju pelepasan hara sangat bervariasi dan ditentukan terutama oleh bakteri dan jamur tanah, yang keduanya membutuhkan suhu tanah hangat untuk aktif. Semakin aktif  biologis tanah, semakin cepat laju pelepasan. Contoh organik alami:  darah, biji kapas, bungkil kedelai, emulsi ikan, pupuk organik, dan kompos.

15 JulSOIL-Budidaya Tanaman Krisan

img2[1]


BUDIDAYA TANAMAN KRISAN

 

Efisiensi Pemupukan – Budidaya Tanaman Pot

 

Foliar Feeding

 

Bahasan:  Syekhfani

 

Tanaman Krisan atau Seruni – Chrysanthemum spp., Asteraceae - (Seruni), merupakan tanaman budidaya menarik karena bunga krisan banyak digemari sebagai bunga potongrangkaiandekorasi, dan sebagainya.

Teknik budidaya tanaman krisan di green-housescreen-house, atau pun lath-house, berbasis tanaman pot;  aplikasi pemupukan dapat dilakukan melalui tanah (soil feeding), atau daun (foliar feeding), atau kombinasi keduanya.

Aplikasi pupuk melalui foliar feeding, mengikuti kaedah umum, yaitu:  kebutuhan,  jenisdosiswaktu, dan cara.

Beda prinsip dalam aplikasi adalah: pada foliar feeding tidak ada mekanisme penyanggaan (buffering).

Untuk antisipasi hal ini, digunakan teknik aplikasi bertahap (split application), beberapa kali pada konsentrasi rendah.

Cara ini bisa lebih efisien dan efektif, bila saat aplikasi memperhatikan kondisi lingkungan, meliputi:  cahayasuhukelembabanangin, dan sebagainya.

Konsentrasi pupuk cair tidak boleh lebih dari 1 (satu) persen volume (< 1 %/v).

Diperlukan beberapa kali aplikasi hingga semua dosis tergunakan.

Diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut secara spesifik.

 

Lihat pula: Budidaya Krisan

 

Usaha sukses butuh konsekuensi!

(Jawa:  “jer basuki mawa bea“), termasuk IPTEK.

 

26 JunSOIL-Organic Garden

 

Organic-vegetable-cultivation.jpeg[1]

  

ORGANIC GARDEN

(KEBUN / PERTANIAN ORGANIK)

Marie Iannotti

(Organic Garden)

 

 

Apa itu kebun (pertanian) organik?

- Dasar untuk berkebun (bertani) organik

 

Apa artinya memiliki kebun organik?

-Artinya anda menyediakan tempat nyaman bagi serangga pemakan tanaman?

-Jawaban singkat adalah anda tidak menggunakan produk-produk sintetis, termasuk pestisida dan pupuk.

-Idealnya, berkebun organik adalah memanfaatkan semua sumber berguna, seperti menyuplai tanah dengan kompos sisa tanaman atau menanam kacang-kacangan menambahkan nitrogen ke daerah yang telah ditanam dengan pupuk berlebihan.

-Secara garis besar adalah melakukan kerjasama dengan alam, menjadikan lahan anda sebagai bagian kecil dari sistem alami.

 

Berikut adalah beberapa dasar-dasar anda mulai dengan berkebun organik:

 

Apa yang dimaksud dengan bahan organik?

-Pelapukan sisa tanaman dan hewan, termasuk kompos, potongan rumput, daun kering dan sisa-sisa biologis lain.

-Bahan organik digunakan sebagai amandemen dan pengondisi tanah. Bisa berupa tambahan bahan organik baru atau digunakan sebagai ganti bahan organik atau mulsa yang sudah ada sebelumnya.

 

Apa tanah itu begitu penting?

-Salah satu kebutuhan mendasar dari berkebun organik adalah untuk “Memberi makan tanah dan tanah akan memberi makan tanaman”.

-Tanaman mendapatkan air, udara dan nutrisi dari tanah.

-Tanah liat lebih tinggi nutrisi dari pada tanah pasir dan menahan air lebih baik.

-Kadang-kadang daya pegang air terlalu tinggi dan tanaman kekurangan udara.

-Tanah berpasir mudah kering, tetapi dapat digunakan sebagai amandemen untuk memperluas lahan.  Dalam hal ini maka bahan organik memegang peranan penting.

-Penambahan bahan organik memperbaiki struktur tanah dan serta menarik organisme sebagai agen peningkatan nutrisi dalam tanah.

 

Bagaimana Anda mengendalikan hama dan penyakit tanpa bahan kimia?

-Berkebun organik tidak berarti anda harus berbagi apel dengan cacing-cacing, tetapi mungkin anda akan mencari tanaman dan menghasilkan bahan organik.

-Karena anda mencoba untuk bekerjasama dengan alam, kadang-kadang anda sesekali harus menerima hama di kebun.

-Anda harus memeriksa tanaman secara teliti, waspada dan teratur terhadap gejala yang muncul dan segera  mengambil tindakan.

-Perlu diingat bahwa tidak setiap serangga adalah musuh dan bukan selalu berarti harus pakai pestisida.

-Ada banyak pestisida organik yang tersedia, tapi perlu yakin bahwa ia dapat mengatasi masalah dan bahwa anda tahu hal tersebut.

-Anda dapat hidup dengan sedikit kerusakan. Beberapa serangga melakukan kerusakan itu namun masih dapat berlanjut untuk musim berikutnya.

-Pertimbangkan jika anda mengalami masalah hama karena tanaman Anda stres dan tidak memiliki sumber daya untuk membela diri.

-Interplanting dan diversifikasi akan melindungi anda dari kehilangan petak tanaman yang luas, dan perlu di selang selingi dengan petak tanaman penarik serangga.

-Banyak serangga dan hewan yang lebih besar dianggap menguntungkan, musuh serangga hama. Meraih semprotan dapat setiap kali anda melihat hama akan membunuh serangga menguntungkan tersebut.

-Lady bug dan tawon menyantap aphid. Burung menelan ulat. Katak, kadal dan bahkan ular semua berkontribusi terhadap keseimbangan di kebun anda dan mencegah populasi hama yang menjadi penyebab masalah.

-Pencegahan masalah banyak hambatan. Ngengat bertelur perlu dicegah. Trap pulut warna kuning dapat dengan mudah menangkap lusinan hama terbang.

-Melumas pangkal batang akan memotong serangan cacing dan banyak penggerek.

-Ada saatnya anda akan perlu aplikasi pestisida untuk mencegah kehilangan tanaman.

-Pestisida organik atau alami dapat sangat efektif dan biasanya kurang beracun bagi manusia, hewan peliharaan, dan satwa liar dari pestisida sintetis.

 

Apa lagi yang terlibat dalam berkebun sama dengan alam?

-Ada banyak unsur yang dapat berkontribusi terhadap iklim kebun yang sehat.

-Tanaman yang cocok dengan kondisi pertumbuhan mereka akan lebih sehat daripada tanaman yang stres.

-Tanaman stres sangat menarik bagi hama.

-Jangan memilih tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh jika anda tinggal di sebuah hutan yang teduh.

-Demikian pula, jangan pilih tanaman pada lingkungan yang lembab jika anda memiliki tanah berpasir dan sinar matahari penuh.

 

Lihat pula:  Wikipedia – Pertanian_organik

 

22 JunSOIL-Logam Berat

  lead[1]

 

LOGAM BERAT

(HEAVY METALS)

  

Logam berat (heavy metals), adalah logam-logam yang mempunyai berat jenis (specific gravity) atau kerapatan masa relatif (relative mass density) lebih dari 5 (Harmsen, 1977).

Lihat:     Metal and mineral toxicity lead

Logam alkali dan alkali tanah tidak termasuk dalam golongan logam berat.

Besi (Fe), mangan (Mn), tembaga (Cu) dan seng (Zn), tergolong logam berat esensial bagi tanaman, namun dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikro);  kelebihan unsur-unsur ini menyebabkan tanaman mengalami keracunan (toxicity) dan bila kekurangan akan menunjukkan gejala defisiensi (deficiency).

Besi (5.0 %), menempati kedudukan ke-4 dalam kerak bumi (earth’s crust), setelah O (46.6 %), Si (27.7 %), dan Al (8.1 %).  Namun, besi rendah kelarutannya dalam tanah-tanah teraerasi baik.  Ia esensial untuk fotosintesis, karena menjadi komponen senyawa khlorofil.

Mangan, sangat rendah kelarutannya dalam tanah-tanah teraerasi baik dan tidak masam (non-acid);  ia juga memegang peran penting dalam reaksi fotosintesis.

Tembaga dan seng juga esensial bagi tanaman, melalui perannya dalam proses enzimatik.

Deteksi masalah unsur mikro dalam tanah seringkali susah dilakukan, sebab ada kemiripan (resemblance)  dengan beberapa gejala defisiensi lain, interaksi (antagonisme) antara unsur berbeda, perbedaan mekanisme serapan (uptake) atau pengeluaran (exclusion) oleh akar, dan peran komplikasi (complicated role) unsur-unsur dalam proses fisiologik.

Ketersediaan unsur mikro bergantung pada:  pH, potensial redoks, tekstur tanah, komposisi mineral tanah, jumlah tipe senyawa organik dalam tanah dan larutan tanah, interaksi kompetitif antara unsur mikro, suhu tanah, kadar air, dan aktivitas mikrobiologik.

Semua unsur mikro tersebut di atas bisa mempunyai efek merugikan (adverse) pada tanaman, bila ketersediaannya dalam tanah melebihi ambang batas (tresholds).

Logam berat tertentu, seperti Hg, Pb, dan Cd (dan lain-lain), yang mungkin tidak esensial bagi tanaman atau hewan, diketahui berbahaya bagi kesehatan, meski dalam konsentrasi rendah. Sebagai contoh terjadi di Jepang:  kasus keracunan Hg di sekitar teluk Minamata di tahun 1950-an, dan keracunan Cd di Fuchu di tahun 1960-an, yang terkenal dengan penyakit Itai-Itai (Itai-Itai disease).

Transfor dan Akumulasi:

Transfor dan akumulasi logam berat dalam tanah bisa dijumpai sebagai:

  1. Bentuk larut atau tersuspensi,
  2. Diangkut akar tanaman, atau
  3. Terasosiasi dengan mikroorganisme tanah.

Transfor bentuk larut atau tersuspensi dapat melalui difusi (diffusion) dalam larutan tanah, atau pergerakan air tanah (mass flow atau convection).

Pencucian (leaching) liat dan bahan organik dalam perpindahan logam-logam yang berasosiasi dengan kedua partikel.

Transfor senyawa menguap (volatile) melalui fase gas jarang terjadi (misalnya:  dimethylmercury), namun bisa jadi sedikit penting dan perlu dipertimbangkan.

Transfor melalui fase padat tampaknya tidak terjadi.

Lebih lanjut, difusi (diffusion) fase padat atau penetrasi lempeng (lattice penetration), lebih mengarah ke mekanisme ikatan daripada mekanisme transfor.

Serapan ion oleh akar tanaman mungkin menghabiskan (deplete) dan/atau memperkaya (enrich) horizon permukaan dengan dedaunan lapuk.

Logam berat mungkin masuk ke dalam tubuh mikroorganisme, yang berkontribusi dalam perpindahannya.

Cacing tanah dan makroorganisme lain bisa membantu translokasi logam berat secara mekanik (atau biologik) pencampuran tanah memasukkan logam berat ke dalam jaringannya.

(Harmsen, K.  1977. Behaviour of heavy metals in soils.  Department of Soils and Fertilizers, Agriculture University, Wageningen.  Center for Agricultural Publishing and Decumentation, Wageningen)

16 JunSOIL-Pohon/Semak Fiksasi N

  

POHON/SEMAK FIKSASI NITROGEN

 

Jenis Pohon/Semak Penambat N dalam Sistem Agroforestri

 

Species epithet – “nama umum” (subfamili, famili) – pusat asal tanaman – penyebaran – penggunaan – deskripsi – botani – ekologi

Pohon/semak penambat (fiksasi) unsur nitrogen atmosferik dalam budidaya tanaman sistem wanatani (agroforestry), Vergara, 1987:

  • Sistem tanaman pagar dan sistem budidaya (Alley cropping and farming systems)
  • Taungya
  • Tanaman campuran (Compound farming)
  • Vegetasi tahunan dalam Strip (Strips of perennial vegetation)

1. Albizia falcataria

1a. Albizia falcataria

1. Periserianthes falcataria (L.) Nielsen.

Indonesia,  Papua Nugini;  tersebar luas di daerah tropika;

Kayu gelondong (s.g. rendah = 0.33), kayu pulp, perbaikan tanah;

Pohon hingga  40 meter;  juga  disebut sebagai Albizia falcataria;

Tropika basah hingga hujan minimum 1000 mm;

Dataran menengah (midland).

Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Jeungjing

2. Acacia mangium

2a. Acacia mangium 

2. Acacia mangium Willd.

Mangium“, “Brown salwood

Australia  Timur Laut, Papua Nugini, Indonesia;

Kayu gelondong, pulp, kayu bakar;

Pohon  hingga 30 meter;  phylloides  besar;

Tropika basah; tahan tanah masam.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Acacia_mangium

3. Gliricidia sepium

3a. Gliricidia sepium

3. Gliricidia sepium (Jacq.) Walp.

Madre de cacao“, “Quickstick” (Papilionoideae, Leguminosae);

Amerika Tengah/Meksiko;  sekarang tersebar luas;

Kayu bakar, kayu gelondong, pelindung, pohon hias, pakan ternak;

(lebih disukai bila dilayukan) dengan DMD tinggi (55%).

Pohon  hingga 15 meter;

Mudah  diperbanyak dengan stek; tumbuh cepat;

Tropika basah hingga mesik sampai ketinggian 1000 meter;

Salah satu legum wanatani terpenting; fleksibilitas pengelolaan tinggi dan adaptasi luas;

Varietas baru memberi harapan perbaikan hasil dan bentuk lebih baik sebagai pohon produksi.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Gliricidia_sepium

4. Leucaena leucocephala

4a. Leucaena leucocephala

4. Leucaena leococephala (Lam.) de Wit.

Leucaena“, “Ipil-ipil“, “Lamtoro“;

Amerika  Tengah,  Meksiko;  tersebar luas;

Pakan ternak (DMD tinggi, 60-70%), kayu bakar, pelindung, kayu pulp, postwood, lumber, sayuran;

Pohon  hingga 20 meter;

Tropika kering hingga mesik;

Tidak tahan masam, tumbuh lambat di dataran tinggi;

diteliti secara luas dan ditanam, cepat tumbuh.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Leucaena_leucocephala

 5. Calliandra calothyrsus

5a. Calliandra calothyrsus

5. Calliandra callothyrsus Meissn.

“Kaliandra” (Mimosoideae, Leguminosae).

Amerika  Tengah  dan Selatan;

Kayu bakar, pupuk hijau, pakan ternak kualitas jelek (DMD 41%), pohon hias;

Semak  hingga  7 meter;

Tropika basah, tahan dingin;

Cepat tumbuh;

Tahan tanah masam, miskin atau alkalin.

Lihat:  http://en.wikipedia.org/wiki/Calliandra

6. Erythrina sumbumbrans (2)

6a. Erythrina sumbumbrans

6. Erythrina sumbumbrans (Hassk.)Merrill.

“Dadap duri”.

India, Sri Lanka; berkembang di Asia Tenggara (kecuali Papua Nugini);

Peneduh (kopi), penahan angin;

Pohon  hingga 25 meter;

Tropika  basah dataran rendah, seringkali di rawa;

Digunakan secara luas sebagai penahan angin.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Erythrina_subumbrans

 7. Sesbania grandiflora

7a. Sesbania grandiflora

7. Sesbania grandiflora (L.) Poir.

West Indian Pea Tree“, “Katurai” (Phillipina), “Turi” (Indonesia),”Gallito” (Karibia);

Indonesia dan Australia; sekarang tersebar luas;

Makanan (bunga, polong, daun); pakan ternak (daun); kayu pulp, pohon hias, pohon persemaian;

Pohon  hingga 10 meter;  = S.  formosa  F. Muell;  hidup pendek;  tumbuh cepat;  regenerasi daun lambat;

Tropika mesik (> 1000 mm); tahan genangan;

Pupuk hijau, pakan ternak, serat.

Lihat:  http://www.flickriver.com/photos/adaduitokla/6240494201/

 

Vergara, N.T. 1987. Agroforestry: A sustainable land use for fragile eco-systems in the humid tropics. Pages 7-20. In: Gholz, H.L. (ed.). Agroforestry: Realities, possibilities and potentials. Martinus Nijhoff Publishers, Dordrecht, Netherlands.

Lihat:  http://old.iita.org/cms/details/trn_mat/irg26/irg263.htm

 

13 JunSOIL-Spice Crops

 

 

TANAMAN REMPAH (SPICE CROPS) – CABAI JAMU

 

Budidaya Tanaman Cabai Jamu

 

Pengamat, Foto-foto: Syekhfani

 

Cabe Jawa

 

Cabai Jamu, cabai Jawa, lada panjang, atau cabai saja (Piper retrofractum Vahl. – Piperaceae).  Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600 meter di atas permukaan laut). -> http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe_jawa

Cabai Jamu, tergolong jenis tanaman rempah (spice), sudah sejak lama digunakan untuk berbagai keperluan.

Di Indonesia, cabai jamu banyak digunakan sebagai bahan baku industri obat tradisional (Jamu).

Prospek pengembangan cabai jamu makin cerah sejalan dengan berkembangnya industri obat modern dan kecenderungan masyarakat menggunakan obat-obatan yang berasal dari alam (back to nature).

Namun peluang tersebut belum diikuti peningkatan produktivitas tanaman di tingkat petani, karena usaha tani cabai jamu masih dianggap sampingan sehingga produksi nasional masih rendah, yaitu antara 1.000 – 1.500 kg/ha/tahun. -> http://cabejamumadura.blogspot.com/

 

Budidaya Cabai Jamu:

Syarat tumbuh ->  http://www.slideshare.net/aolenk/budidaya-cabe-jamu

  • Jenis tanah: Andosol, Latosol, Grumusol, Regosol, Podsolik.
  • Tekstur tanah:  liat berpasir, subur, gembur, porous, drainase baik, dengan kemasaman tanah (pH) antara 5.5 – 7.0.
  • Tinggi tempat : 1 hingga 600 meter dari permukaan laut.
  • Curah hujan : 1,200 hingga 3,000 mm per tahun, tanpa bulan kering.
  • Curah hujan minimal 80 mmm per bulan;  tempat terbuka atau agak terlindung (intensitas sinar 50 hingga 75 %).
  • Kelembaban udara : 40 hingga 80 %.

Di lokasi pertanaman cabai jamu rakyat (Bangkalan dan Sampang, Madura), tanaman cabai jamu ditanam pada tanah berkapur (calcareous);  dibudidayakan di seputar rumah dan kebun pekarangan dengan topografi datar hingga berombak.

Lahan upland tampak menunjukkan kondisi kurang air, kelembaban rendah, suhu tinggi dan pH alkalis.

Tampak ada gejala kekurangan unsur K (tepi daun tua mengering mulai dari ujung daun), dan kekurangan unsur Mg (khlorosis antara tulang daun).

 

IMG_0001

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan jenis tanah berkapur (kalkareus)

 

1

Budidaya cabai jamu di lahan pekarangan

3

Tanaman cabai jamu pada tunggak rambatan

2

Daun cabai jamu menunjukkan gejala kekurangan unsur K dan Mg

(unsur K:  ujung daun dan tepi mengering, unsur Mg:  khlorosis antara tulang daun)

10 JunSOIL-Soup

 

SOIL SOUP

(SUP TANAH)

Menu menuju lingkungan tanaman sehat dan berlanjut

 

 1

 

Syekhfani

 

Apabila tanaman ingin tumbuh sehat, berilah medium menu yang sehat:  “sup tanah atau teh kompos“:  dari seduhan kompos matang yang kaya hara esensial, vitamin, enzim, zat pengatur tumbuh dan bebas patogen.

Sup tanah (soil soup) atau teh kompos (compost tea), dibuat dengan cara merendam kompos matang (kompos jadi) selama waktu tertentu (2 – 4 x 24 jam) dalam keadaan aerobik, yaitu selalu diaduk atau diberi oksigen menggunakan aerator.

Sup tanah matang, mengandung berjuta-juta biota tanah hidup dan berkembang secara aerobik. Biota tanah ini umumnya non-patogenik (karena biota patogenik umumnya bersifat anaerobik).

Penggunaan sup tanah bisa disiramkan langsung ke tanah (spray unto soil) atau diaemprotkan ke permukaan daun (foliar spraying), dengan dosis, interval dan konsentrasi tertentu, sesuai jenis tanaman dan kesuburan tanah sebagai medium.

Penggunaan sup tanah atau teh kompos dilakukan dalam sistem pertanian organik (organic farming system) menuju ke sistem pertanian sehat dan berlanjut.

2

Disiramkan ke tanah (spray unto the soil)

3

Disemprotkan ke daun (foliar spraying)

 

Berikut teknik aplikasi sup tanah untuk para Pekebun (Soil Soup For Gardeners – Bainbrige Gardens:  www.bainbridgegardens.com):

1. Harus segera diaplikasikan begitu selesai dituang dari tong prosesing teh kompos (idealnya dalam kurun waktu 10 jam:  pukul 10 pagi hingga 6 sore).

2. Kelebihan teh kompos dapat ditambahkan ke tumpukan kompos, ia akan lebih meningkatkan kualitas kompos.

3. Penggunaan teh kompos:  Teh kompos disaring melalui kain kasa tipis untuk mencegah penyumbatan sprayer;  dapat disemprotkan/disiramkan  langsung ke tanah atau disemprotkan ke tajuk tanaman.

4. Penyemprotan untuk pertama kalinya ke tanah atau daun, gunakan teh kompos asli (belum diencerkan).

5. Dua minggu kemudian, semprot lagi, dengan pengenceran sepuluh kali.  Setelah itu, disemprotkan setiap bulan.

6. Pada kebun transisi sistim konvensional ke sistem organik, bisa dilakukan pencairan semprotan bulanan 2 : 1 (dua galon air untuk setiap galon teh kompos).

7. Bagi kebun yang telah menjadi sistem organik, teh kompos disemprotkan bulanan menggunakan pengenceran  8 : 1 (8 galon air untuk setiap galon teh kompos).

8. Semakin sehat tanah, tanaman makin sehat. Penggunakan sup tanah seperti melakukan penambahan beberapa inci kompos ke dalam tanah.

9. Jika tanah anda telah diubah dengan baik, lakukan tingkat pengenceran yang lebih encer.

10. Jika tanah anda baru saja  diubah dan belum baik, gunakan konsentrasi lebih pekat (lebihkan teh, kurangi air) .

11. Untuk memperoleh tanaman yang sehat, semprotkan sup tanah bulanan sepanjang tahun.

12. Keuntungan lain, drainase buruk menjadi lebih baik.

13. Untuk menghindari atau meminimalkan gangguan penyakit daun seperti embun tepung, bercak hitam, dan sebagainya, semprot dua kali sebulan pada saat munculnya daun (tunas baru), kemudian lakukan bulanan.

 

(Soil Soup For Gardeners.  Ann Lovejoy for Bainbridge Gardens. HYPERLINK   http://www.bicomnet.com/annlovejoy/index.htm)

 

17 MaySOIL-Antagonisme Unsur Makro dan Mikro

 

 ANTAGONISME UNSUR MAKRO DAN MIKRO

 

Kasus Penyakit Kalimati pada Tanaman Tebu

 

1. Kalimati di Kebun Manyingsal

 

Penelitian Disertasi

Syekhfani

  • Penyakit “Kalimati”, adalah penyakit non parasiter pada tanaman tebu; pertama kali di temukan di area kebun Pabrik Gula (PG) Kalimati,      Semarang, Jawa Tengah, pada tahun 1930-an (PG Kalimati tersebut saat ini sudah tutup).
  • Wilbrink (tahun 1930-an) menyatakan bahwa penyakit Kalimati disebabkan oleh defisiensi unsur kalium.
  • Pendapat tersebut dibantah oleh Koningsberger & van den Honert (1931), yang bependapat bahwa penyakit Kalimati disebabkan keracunan unsur besi.
  • Namun kedua ahli menambahkan bahwa penyakit Kalimati tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan beberapa faktor menyangkut ketidak-imbangan unsur hara.
  • Gejala penyakit Kalimati: Tanaman kerdil, ruas memendek, akar sakit, dan terdapat nekrosis pada daun tua saat tanaman tebu berumur 2 – 3 bulan.
  • Tahun 1970-an, gejala serupa muncul di perkebunan tebu Manyingsal, Subang, Jawa Barat.
  • Kasus tersebut kemudian dijadikan penulis untuk topik penelitian tugas akhir (disertasi) pada Jurusan Ilmu-ilmu Tanah, Fakultas Pascasarjana, IPB, Bogor.
  • Diperoleh hasil bahwa Unsur makro K dan unsur mikro (Cu, Zn dan Mn) menjadi penyebab penyakit Kalimati di kebun tebu Manyingsal.
  • Gejala merupakan kombinasi antara kekurangan unsur-unsur K, Cu, dan Zn, dan kelebihan unsur Mn.
  • Gejala di lapangan muncul pula pada percobaan pot (tong), di latar rumah kaca IPB, saat pot tergenang air hujan.
  • Baik di lapangan maupun di pot, gejala penyakit Kalimati tidak tampak bila kondisi drainase baik.
  • Pemberian unsur K, Zn dan Cu mendapat respon positif pertumbuhan tanaman tebu.
  • Keragaan di lapangan (kebun Manyingsal) dan latar rumah kaca (IPB), adalah sebagai berikut:

 

 Lokasi Kebun Tebu Manyingsal:0. Kebun tebu Manyingsal

2. Kalimati Close Up

Kalimati di kebun Manyingsal

 3. Drainase - Saluran

Saluran drainase lahan

 4. Drainase - Sehat

Tebu sehat setelah drainase

 5. Gejala - Akar

Akar (terang sehat – gelap sakit)

 6. Gejala - Ruas

Ruas memendek (gejala defisiensi Zn)

 7. Gejala - Daun

8. Gejala - Daun Strata

Gejala Kalimati pada daun posisi kedudukan ruas

Percobaan Pot di Latar Rumah Kaca:

  10. Gejala - Pot - Daun Sehat

11. Gejala - Pot - Daun Strata

Gejala pada daun

12. Gejala - Pot - Normal

Gejala pada batang dan ruas

05 MaySOIL-Hedgerows Cropping System

 

HEDGEROWS CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

  • HedgerowsTanaman lorong, tumbuhan semak atau pohon tahunan (perenneal) berakar dalam serta kaya biomas, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (annual) berakar dangkal (legum, sereal) dari jenis tanaman pangan, sayuran, atau ubi-ubian; dengan cara: tanaman annual ditanam di antara perenneal  jarak 4 – 8 meter. Tanaman pohon disebut tanaman pagar dan tanaman semusim disebut tanaman lorong.
  • Pemilihan jenis tanaman perenneal:  perakaran dalam, kaya biomas, toleran terhadap kondisi setempat, tahan terhadap kekeringan, penyakit dan pemangkasan.
  • Sistem tanam tanaman annual:  tumpang gilir (relay planting), jenis legum digilir dengan non legum.
  • Biomas sisa pangkasan dan sisa panen, seluruhnya dikembalikan ke bidang lorong secara merata dan dikomposkan setempat (in situ).
  • Sistem perakaran dalam yang dikombinasikan dengan perakaran dangkal, adalah stratifikasi zone perakaran untuk mencegah kompetisi terhadap medium, unsur hara dan air.  Selain itu, perakaran dalam mencegah terjadi kehilangan unsur hara melalui pencucian (leaching).
  • Tanaman pagar yang dipangkas dan biomasnya dikembalikan ke permukaan tanah, merupakan siklus hara tertutup (close nutrient recycling) dan jaring penyelamat (safety net) unsur hara.
  • Sistem pertanaman ini adalah rangkaian dari kegiatan program penelitian Manajemen Nitrogen di daerah tropika basah (lihat post:  SOIL – Cassava based Cropping System).
  • Contoh kegiatan penelitian sebagai berikut:

 

 IMG_0001 - Copy

Area percobaan “Hedgrows Cropping System” di PG Bungamayang

Persiapan:  Pembentukan Kerangka Pertanaman

IMG_0002

 Tanaman pagar jarak 4 hingga 8 meter dipotong setinggi satu meter dari atas tanah

IMG_0003

Bahan pangkasan disebar merata di permukaan bidang lorong

IMG_0004

Kerangka (frame) patokan pangkasan (pangkasan bentuk): tinggi dan lebar bidang tanaman pagar disesuaikan dengan jenis pohon pagar

IMG_0005

Bentuk tanaman pagar (hedgerows crop)

Pertanaman:  Hedgerows

 IMG

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) - Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

IMG_0013

Plot:  Glirisidia (Glyricidia sepium) – Mukuna (Mucuna pruriens)/cover crop

 IMG_0008

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) dan Petaian (Pelthoporum pterocarpum) - Kedelai (Glycine max)

 IMG_0009

IMG_0010

IMG_0011

Plot:  Dadap (Erythrina sumbumbrans) – Jagung (Zea mays)

IMG_0012

Plot:  Kaliandra (Calliandra calothyrsus) – Padigogo (Oryza sativa)

Di tempat lain

alleycrop

IMG_0014

“Hedgrows Cropping System)” pada lahan lereng

04 MaySOIL-Cassava Based Cropping System

   

CASSAVA BASED CROPPING SYSTEM – N MANAGEMENT SYSTEM

 

 Lokasi:   PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara

Foto-foto:  Syekhfani

 IMG_0009

Cassava (Manihot esculenta) – Aldira 1

  • Cassava (Manihot esculenta) – Euphorbiaceae: ubikayu, ditanam untuk memproduksi ubi sebagai bahan pangan alternatif, tepung tapioka, ataupun pakan ternak.
  • Tanaman ubikayu umumnya ditanam secara monokultur;  menyebabkan kesuburan tanah cepat tergradasi karena tanaman ini banyak menyerap unsur hara dari tanah untuk memproduksi ubi.
  • Karena itu, agar kandungan unsur hara tanah tidak cepat habis, maka dibutuhkan sistem manajemen yang baik.
  • Tumpangsari, merupakan sistem pertanaman polikultur, beberapa jenis tanaman berbeda  ditanam pada waktu bersamaan atau bergiliran.
  • Karena tanaman ubikayu tergolong berumur tahunan (pereneal), ia dapat ditumpangsarikan dengan beberapa jenis tanaman umur pendek (annual).  Sistem tumpangsari dikenal sebagai “cassava based cropping system” (sistem pertanaman berbasis ubikayu).
  • Kombinasi tanaman pereneal dengan tanaman annual, mencegah kompetisi terhadap ruang, medium, unsur hara dan air.
  • Sistem ini telah diteliti secara intensif di lokasi PG Bungamayang, Kotabumi, Lampung Utara, oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, bekerjasama dengan PTP XXXI/XXXII dan IB-Netherland di tahun 1980-an.
  • Contoh kegiatan penelitian tersebut antara lain disajikan sebagai berikut:

 IMG_0002

Base camp percobaan “Cassava Based Cropping System”

 IMG_0003

Persiapan lahan percobaan

 IMG_0004

Plot:  Cassava monokultur

 IMG_0005

 Plot:  Cassava – Padigogo

 IMG_0006

Plot:  Cassava – Kacang tunggak (Cowpea)

IMG_0007

Plot:  Cassava – Jagung (Zea mays)

 IMG_0008

Plot:  Cassava – Padigogo (setelah Kacang tunggak)

 IMG_0010

 Ubikayu untuk pakan ternak

01 MaySOIL-Dampak Letusan Gunung Berapi

    

 

DAMPAK LETUSAN GUNUNG BERAPI

 

Survei Pendahuluan

 

Usaha Penanggulangan Dampak Letusan Gunung Kelud

 

Kediri – Blitar – Jawa Timur

 

sebelum anak kelud lahir[1]

Foto-foto: Syekhfani

Kondisi:  Lokasi Bahaya I, II, III, IV, Daerah Aliran Lahar

  • Dari aspek tanah, letusan gunung Kelud di suatu pihak dapat menyebabkan kerusakan karena sifat kesuburan tanah  meliputi fisik, kimia, maupun biologi mengalami perubahan. Di lain pihak dapat menguntungkan segi-segi kesuburan tanah berupa  tambahan bahan pasir atau debu yang mengandung unsur hara.
  • Agar bahan pasir atau debu tidak hilang terangkut oleh air dan/atau angin, maka diperlukan tindakan-tindakan konservasi.
  • Diperlukan pula penelitian-penelitian lebih detail dari aspek status perharaan, biologi, dan konservasi tanah dan air untuk tujuan reklamasi jangka pendek.

 

Hasil Pengamatan Visual di Lapang (survei)

 

1

 Lokasi Bahaya I (dekat puncak)

4

Tanaman kopi (Coffea sp.)

5

Tanaman coklat (Theobroma cacao)

2

Glirisidia (Glyricidia sepium)

3

Flemingia (Flemingia congesta)

 Lokasi Bahaya I

  • Secara visual tampak bahwa areal di seputar puncak menunjukkan tingkat kerusakan paling besar.
  • Vegetasi hutan dan juga perkebunan (kopi dan cengkeh) rusak total, tanpa daun; tinggal batang serta cabang cabang besar.
  • Kerusakan mencapai 85-100 % daun terbakar.
  • Timbunan material mencapai 40 cm berupa bahan pasir kasar dan batu koral yang bertebaran di bagian permukaan tanah.
  • Di lokasi datar, dijumpai lapisan berdebu yang cukup tebal di permukaan (kurang lebih 2 cm), meskipun dari informasi yang diterima telah terjadi hujan lebat beberapa kali.
  • Tampak tanaman berdaun lebar mempunyai kepekaan lebih tinggi; misalnya: pohon kopi yang sama sekali gundul.
  • Tanaman pelindung dari jenis lamtoro (Leucaena leucephala) dan  glirisidia (Gliricidia sepium) relatif tahan dan masih menunjukkan pertumbuhan normal meskipun warna daun menampakkan gejala difisiensi nitrogen.
  • Jenis tanaman lain yang tahan adalah Flemingia congesta yang masih tumbuh segar tanpa perubahan warna.

 

6

 Lokasi Bahaya II (perkebunan, pemukiman)

 Lokasi Bahaya II

  • Di kawasan  ini timbunan  material mencapai ketebalan 20 – 30 cm.
  • Vegetasi kebanyakan masih tanaman perkebunan dan sedikit tanaman pekarangan (kelapa, rambutan, pisang).
  • Kerusakan tanaman kopi dan coklat yang berdaun lebar masih cukup parah meskipun tidak sampai gundul.
  • Daun daun tua masih bertahan tetapi daun muda rusak dan gugur.
  • Besar kerusakan antara 50-75 %.
  • Kondisi perakaran tanaman seperti pada lokasi bahaya I, tapi tanaman kopi, coklat dan cengkeh mulai tumbuh tunas-tunas baru.
  • Kawasan perkebunan di Lokasi Bahaya II ini masih hijau, namun untuk pemulihan  secara maksimal  dibutuhkan  cara-cara yang tepat dalam hal perbaikan  kondisi tanah dan air.

7

   Lokasi Bahaya III (perkebunan, pemukiman)

Lokasi Bahaya III

  • Di sini timbunan material mencapai ketebalan 10-20 cm.
  • Kawasan relatif datar dan didominansi oleh areal tanaman pangan, terutama sawah.
  • Vegetasi lain meliputi kopi, coklat dan tanaman pekarangan (kelapa, rambutan dan lain-lain).
  • Besarnya kerusakan meliputi 30-40 %.
  • Permasalahan utama selain timbul materi yang masih cukup tebal, juga tersumbatnya saluran-saluran irigasi sehingga air tidak dapat dialirkan ke sawah.
  • Menurut informasi dari pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan, tanaman padi sawah yang pada saat letusan berada pada ke fase berbunga, tidak mengalami hambatan untuk pengisian biji dan tampaknya panen masih bisa dilaksanakan, asalkan turun hujan.
  • Akan tetapi tanaman padi yang pada saat letusan masih berada pada fase vegetatif sangat menderita akibat kekurangan air dan tampaknya panen sama sekali tidak dapat diharapkan.
  • Pihak Perkebunan Penataran (coklat) tampaknya berusaha untuk mengatasi masalah timbunan  materi dengan jalan membuka timbunan di seputar tajuk  pohon.

  9

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase vegetatif

8

Pemukiman – padi sawah (Oryza sativa) – fase pemasakan

 Lokasi Bahaya IV

  • Timbunan  materi  hanya berkisar antara 5-10 cm.
  • Vegetasi terutama tanaman semusim (padi dan lain-lain) dan tanaman pekarangan.
  • Padi sawah  pada  kawasan  ini tidak banyak terpengaruh oleh letusan; tetapi tanaman berdaun lebar seperti pisang, kelapa, masih dipengaruhi.
  • Saluran-saluran irigasi masih mudah untuk difungsikan  dan air dapat  mengalir  ke  petak-petak  sawah.
  • Tanaman  padi sawah yang pada saat letusan  berada pada fase vegetatif  dapat terus tumbuh ke fase generatif dan panen tampaknya masih tetap dapat di peroleh secara normal.

  Lokasi Aliran Lahar

  • Lokasi yang terkena aliran lahar, terutama  untuk lahan sawah  cukup  menderita karena sebagian tanaman  padi hanyut terbawa arus.
  • Tanaman padi yang tidak hanyut memperoleh timbunan bahan-bahan material pasir,debu dan batu-batu kerikil sampai koral yang cukup tebal.
  • Di samping itu tampak  pula adanya  timbunan  bahan-bahan organik berupa sisa-sisa cabang dan ranting pohon yang ikut hanyut.
  • Petak sawah yang tidak tertimbun memperoleh limpahan  materi  halus berupa debu atau lempung.
  • Diduga  pengikisan permukaan tanah sepanjang aliran  lahar menyebabkan ikut terkikisnya liat yang kemudian bercampur dengan debu.
  • Hal  menarik  di jumpai pada lokasi sawah yang mendapat timbunan ini adalah bahwa akar tanaman padi dijumpai dalam jumlah banyak di lapisan material.
  • Diduga akar tanaman tumbuh ke atas karena ada rangsangan tertentu di lapisan material tersebut.

  

 Kesimpulan

  • Dari hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa lahan bekas letusan Gunung Kelud perlu diperbaiki baik dari segi tanah maupun tanaman, sesuai dengan tingkat kerusakannya agar fungsi lahan dapat dipulihkan.
  • Bahan timbunan berupa pasir dan debu memberikan kontribusi terutama unsur P dan S.  Agar bahan masukan ini tidak hilang melalui erosi, maka diperlukan tindakan konservasi.

 

→ Baca:   Laporan Survei Lengkap

 

24 AprSOIL-Stratifikasi Zona Perakaran

ZONA PERAKARAN POHON KELAPA TERBATAS –  PELUANG TUMPANGSARI

  

Budidaya Tanaman di Bawah Pohon Kelapa

 

Contoh:   Manado, Gorontalo  –  Sulawesi Utara

Foto-foto:  Syekhfani

51

Rumah Adat Manado

Rumah adat Manado

Pohon kelapa, tersebar luas di seluruh nusantara Indonesia sebagai tanaman khas pantai;   disebut tanaman “minum air laut”. Tanaman kelapa toleran terhadap salinitas (salinity) dan kondisi tanah berpasir (sandy soil).

Sistem perakaran dalam, vertikal terbatas, memugkinkan budidaya tanaman lain berakar dangkal (pangan, hortikultura, atau ubi-ubian), bahkan jenis pohon lain tumbuh di antara pohon.

Perlu persiapan lahan seperti halnya budidaya umumnya, meliputi:  pengolahan tanah, pemberian bahan organik, pemupukan, pengairan, perlindungan organisme pengganggu, dan sebagainya.

Tumpangsari dengan tanaman pohon selain kelapa dapat dilakukan, misalnya cengkeh, pala, dan lain-lain.  Prinsipnya adalah:  tidak terjadi kompetisi penuh terhadap sinar matahari, udara (ruang), air, dan unsur hara.

Masukan jenis tanaman legum dalam sistem tanam, dapat memberi keuntungan tambahan unsur nitrogen dari proses fiksasi N simbiotik.

Biomas sisa panen, dikembalikan ke lahan sebagai sumber bahan organik tanah.

Masukan pupuk (organik, anorganik), membantu tanaman tumpangsari maupun tanaman kelapa terhadap suplai unsur hara.

 

52

Tumpangsari pohon  Kelapa (akar terbatas) – Cengkeh (akar dalam)

 62

Tumpangsari  pohon Kelapa (akar terbatas) – Padi Gogo (akar terbatas)

53

Persiapan tanam jagung (akar terbatas) di antara pohon kelapa (akar terbatas)

 61

Pengolahan tanah di zona bebas perakaran pohon Kelapa

12 AprSOIL-Terungkap dan Tertutup

  

ALAMI – BUDIDAYA – PROBLEM

 

REKLAMASI – AMELIORASI

 

Foto-foto: Syekhfani

 

TERUNGKAP (Expose, Open):

 Alfisol2(Kemarau  Lamongan)

Alfisol Lamongan (Jawa Timur), musim kemarau biomas vegetasi topsoil mati kekeringan, tanah merekah karena kadar liat tipe 2:1 tinggi (shrinked-mengerut), menyebabkan celah lebar dipermukaan lahan.

 G9a

Inceptisol Citraland (Kotamadya Surabaya), permukaan lahan taman yang terbuka menyebabkan proses evaporasi air tanah mengandung garam, sehingga permukaan tanah tertutup lapisan kristal garam menyebabkan bila larut dalam air hujan atau irigasi maka reaksi tanah menjadi alkalis; terjadi gangguan pertumbuhan tanaman hias (taman).

 5. Ultisol (Degradasi Berat)

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan terbuka, curah hujan tinggi, terjadi erosi hebat dan topsoil hilang.  Lapisan subsoil (horizon Argilik) kaya liat eluviasi menjadi keras membentuk formasi eksotik.

 3. Ultisol (Sumbar Longsor)

Ultisol Solok (Sumatera Barat), lahan longsor, curah hujan tinggi, topsoil menjadi beban yang tidak dapat ditahan atau didukung oleh subsoil yang punya lapis kedap air dan bidang kilir (slickenside).

Gambut Palangkaraya

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), dibuka untuk bahan pembuat arang gambut (sumber alternatif energi bakar).

 

TERTUTUP (Covered, Close):

 Apel Poncokusumo

Andisol Poncokusomo (Malang, Jawa Timur), permukaan tanah kebun apel, ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi erosi air atau pun angin.  Di samping itu LCC juga berfungsi sebagai penyangga air dan sumber unsur hara (N).

 3. Entiso Blitar2

Entisol Blitar (Jawa Timur), permukaan tanah kebun kopi, tertutup lapisan pasir (sand) materi letusan Gunung Kelud (1990). Rejuvinasi dilakukan dengan mengurangi biomas kanopi pohon kopi dan membuka lapisan pasir di seputar proyeksi tajuk sehingga kegiatan budidaya dapat dilakukan secara normal (pemupukan, dan sebagainya).

 9. Inceptisol (Mulsa Jerami Aceh)

Inseptisol Kota Baru (Banda Aceh), permukaan lahan sawah ditutup mulsa jerami padi sehabis panen. Kegiatan ditujukan untuk mengembalikan jerami ke lahan (mengurangi masalah penumpukan materi di halaman), melakukan proses penghancuran (dekomposisi) in situ, dan pengembalian fungsi bahan organik ke lahan sambil menunggu masa tanam padi berikutnya.

 G7a

Inseptisol Citraland (Kotamadya Surabaya, Jawa Timur), permukaan lahan taman ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Arachys pentoi agar tidak terjadi penguapan (evaporasi) tanah salin-sodik sehingga mencegah penumpukan garam dipermukaan yang menggangu pertumbuhan tanaman hias (taman).

 Tanaman Pagar (Percobaan Cover Crop)4

Ultisol Bungamayang (Lampung Utara), permukaan lahan dari reklamasi lahan alang-alang (Imperata cylindrica) ditutup dengan tanaman LCC (Legum Cover Crops) jenis Mucuna pruriens dan lain-lain, agar lahan terbebas dari invasi alang-alang untuk dijadikan lahan budidaya.

 05. DESA PAHANDUT (Tanam Sayur Kangkung)1

Histosol Pahandut (Palangkaraya, Kalimantan Tengah), ditutup rapat dengan biomas tanaman sayur-sayuran (kangkung, dan sebagainya), selain fungsi konsumsi yang bernilai ekonomis,  juga fungsi hidrologi lahan gambut dari ancaman kekeringan dan bahaya terbakar.

 

11 AprSOIL-Reklamasi Lahan Bekas Tambang Intan

  

FEEDBACK

 

Ultisol Cempaka Martapura

 

REKLAMASI LAHAN UPT-CEMPAKA, KALIMANTAN SELATAN

  Syekhfani

Pekerjaan rumah (PR) dari Menteri Transmigrasi dan Perambah Hutan kepada Universitas Brawijaya (1995), cukup berat. Betapa tidak, lahan siap huni yang tadinya diperuntukkan bagi transmigran ABRI ditolak  karena dianggap ‘marginal’;  diserahkan kepada Universitas Brawijaya untuk dibenahi sehingga ‘layak huni’.  Tantangan itu, harus diemban oleh Fakultas Pertanian sebagai pemrakarsa pertemuan Ilmiah, yang saat itu dihadiri menteri.  Menteri menganggap teknologi Manajemen Nitrogen di Lampung Utara, perlu diterapkan di lokasi lain, yaitu Kalimantan Selatan (Unit Pemukiman Transmigrasi Cempaka).

 

Lahan Tergolong Bermasalah

Terlepas dari siapa yang menyatakan UPT Cempaka ‘layak’ untuk transmigrasi, pada kenyataannya lahan tersebut bermasalah bila akan dijadikan pertanian.  Solum tanah umumnya dangkal, dengan permukaan didominasi oleh krokos besi/mangan (plinthite);  lapisan top soil sangat tipis dan bahkan pada bagian puncak sudah hilang;  pH tanah rendah dan drainase pada bagian datar atau cekungan jelek, dicirikan oleh karatan besi/mangan.  Kandungan bahan organik rendah sehingga daya penahanan air dan unsur hara juga rendah.  Pengamatan visual diawal kegiatan menunjukkan vegetasi alami didominasi oleh gulma spesifik, yaitu tumbuhan drainase jelek.  Untuk dijadikan lahan pertanian, jelas diperlukan usaha reklamasi lahan.

 

Daya Dukung Program

Hal positif yang merupakan aset UPT Cempaka bila dijadikan pemukiman adalah:  akses jalan penghubung Banjar Baru UPT Cempaka berupa jalan aspal dan jaraknya relatif dekat, sehingga pasar mudah terjangkau.  Topografi lahan agak datar hingga berombak, iklim basah dan vegetasi spesifik memberi kemungkinan pengusahaan pertanian lebih mudah.  Meskipun ada kekhawatiran transmigran beralih profesi dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ atau pekerja di kota.

 

Program Perbaikan

Untuk mengantisipasi permasalahan di atas, maka inti kesuksesan program adalah peningkatan daya dukung lahan secara berkelanjutan, melalui perbaikan sistem pertanian yang tepat.

Di bidang perbaikan lahan, sistem pengolahan tanah harus dilakukan secara minimum atau tanpa olah, agar bagian sub soil yang bermasalah (kaya besi/mangan) tidak terungkap ke permukaan dan mengakibatkan keracunan ataupun pH drop.  Masalah pH diatasi dengan pengapuran menggunakan Dolomit (masukan Ca dan Mg) pada dosis rasional sehingga memberi peluang jenis tanaman lebih beragam.

Drainase jelek diatasi dengan pembuatan saluran drainae (drainase permukaan) atau kanal-kanal di bagian lereng bawah (drainase dalam).

Kadar bahan organik rendah diatasi melalui pengaturan sistem penutup tanah dan alley cropping sedemikian sehingga masukan bahan organik maksimal;  hal ini akan mengantisipasi masalah kekeringan maupun kehilangan hara melalui pencucian.

Untuk mengatasi kekurangan unsur P, K, dan unsur mikro masih diperlukan pemberian pupuk inorganik.  Pupuk kandang berasal dari ternak dibutuhkan sebagai ‘starter biologis’ dalam perbaikan lahan.

Dalam memilih sistem pola tanam, perlu diarahkan untuk lahan pekarangan, usaha I dan Usaha II.

Pertanian bersifat ‘small scale’ ditujukan pada lahan pekarangan penghasil industri rumah tangga ataupun ekspor, yang dikerjakan oleh ibu rumah tangga, seperti: pisang dan pepaya.  Lahan usaha I diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan pangan (padi, ubi-ubian, palawija), dan lahan usaha II untuk tanaman buah-buahan dan/atau pakan ternak.

Dalam pola pertanaman tersebut, prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah:  pengembalian bahan organik sisa panen ke lahan pertanian.  Masukan ternak perlu mempertimbangkan jumlah bahan organik dibutuhkan untuk pakan agar tidak mengurangi kebutuhan untuk lahan.

Di bidang pengolahan hasil, prosesing hasil pertanian yang dapat dilakukan petani akan dapat meningkatkan pendapatan.  Misalnya, buah pisang dapat diolah menjadi kripik pisang dan pepaya sebagai saus dan getahnya untuk bahan ‘papain‘.

Terakhir, bimbingan yang intensif kepada petani transmigran terhadap sistem di atas sangat menentukan keberhasilan program mengingat pengetahuan dasar para transmigran beragam sesuai tempat asalnya.

 

Penutup

Sasaran program nantinya dicirikan oleh keberlanjutan hasil dan kesejahteraan petani dari segi kecukupan pendapatan.  Pola perbaikan lahan ‘pra huni’ tampaknya akan merupakan program khusus yang berbeda dengan pola transmigrasi ‘normal’ selama ini.

Apabila berhasil, maka pola yang diklaim sebagai ‘pola Universitas Brawijaya’ dapat digunakan sebagai acuan untuk daerah-daerah lain yang serupa.  Tentu saja dampaknya akan menambah PR-PR dari Menteri Transmigrasi.  Apakah akan ‘untung’ atau ‘buntung’ sangat tergantung pada keampuhan program yang telah disusun dan pelaksanaannya.  Semoga yang diperoleh adalah ‘untung’ …