08 MayHidup Di Huma

SANG PIATU

Cerita Rakyat Suku Semende

Syekhfani

1. INGIN JADI ORANG

Sang Piatu, tinggal di huma dengan nenek. Ibu-bapaknya telah meninggal sejak ia kecil. Nenek sangat sayang padanya. Maklumlah, nenek hidup sendiri. Dipenuhi segala kebutuhan sang cucu meski sangat bersahaja, jauh dari mewah.

Begitulah hidup di huma, berbeda dengan di dusun, apalagi kota, tapi tak dipusingkan oleh kesibukan dan tata krama. Cucu dan nenek itu hidup bahagia.

Sehari-hari nenek bekerja di huma. Menanam padi, jagung, ketela, sayur-sayuran, dan lain-lain. Sang Piatu selalu mendampingi nenek.

Sang Piatu membantu nenek bersiang di huma, memetik dan memasak hasil tanaman memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dangau tempat tinggal Sang Piatu dan nenek pun sangat sederhana. Bertiang kayu, beratap ilalang dan berdinding anyaman bambu.

Dekat pondok, terdapat pancuran. Berasal dari sumber lereng atas huma. Air yang jernih dan sejuk tak pernah berhenti mengalir. Kebutuhan air Sang Piatu dan nenek tercukupi, bahkan bisa membuat kolam tempat pelihara ikan dan itik.

Ayam berkeliaran di sekitar pondok, berceloteh dan berkokok membawa nuansa damai dan alami. Sepi di situ, tapi tidak akan merasa kesepian!

Kelebihan air kolam, mengalir menuju luang kecil, bertemu anak sungai yang merupakan hulu sungai besar yang mengalir menuju lautan.

Se waktu-waktu hewan peliharaan Sang Piatu di bawa nenek ke pekan dusun, terletak tidak terlalu jauh dari situ; dijual dan uangnya digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari: gula, garam, ikan asin, minyak kelapa, minyak tanah, atau bahan lain yang tidak ada di huma.

Sang Piatu kecil selalu ikut ke pekan. Di pekan itu, ia tak beranjak dari dekat nenek. Maklumlah, ia belum berani bergaul dengan orang lain.

Sang Piatu kecil makin hari tumbuh makin besar, sehat dan kuat. Tinggal di huma dan selalu bekerja, mendorong tubuh Sang Piatu berkembang pesat secara alami. Kala itu, umurnya telah menginjak lima tahun.

Suatu pagi, sehabis sarapan, nenek berkata:

+ “Cungku*, kamu sudah besar. Sudah waktunya cari pengalaman hidup” – *(panggilan sayang nenek terhadap cucu)

- “Aku harus apa, nek?”

+ “Pergilah ke dusun yang ada pekan itu. Di situ akan banyak yang menarik”

-“Iya Nek!” (meskipun ragu)

Keesokan harinya, Sang Piatu pamit pada nenek untuk pergi cari pengalaman.

Hari itu, matahari pagi bersinar cerah. Sang Piatu melangkah gontai di jalan sepi menuju ke arah dusun.

Di suatu pojok pengkolan, Sang Piatu berhenti. Ada suara remang-remang kedengaran. Perlahan-lahan dia mendekat. Mendadak bulu tengkuknya meremang.

Di pojok itu, tampak olehnya orang tua berjenggot lebat, berkepala botak komat-kamit bicara sendiri tidak keruan.

Di dekatnya ada baki berisi makanan seperti disajikan saat buka puasa. Ada piring berisi serabi, lemang, pisang, dan bebera kue lain; ada gelas berisi air putih, dan ada pula piring tanah berisi bara api berasap.

Sebentar-sebentar ‘Pak Tua’ menaburkan serbuk ke bara api, menambah kepulan asap berbau aneh menyengat.

Sang Piatu tiba-tiba merasa sangat takut, setengah sadar ia lalu lari sipat kuping menuju huma.

Nenek sangat terkejut:

+ “Ada apa Cungku?!”

- (tersengal-sengal) “Di… di… sana tu… Nek! Aaa.. ada… orang… botak berjanggut putih… bicara tidak dimengerti…!”

+ “Lagi apa dia, Cung?”

- “Tidak tau,Nek! Ada tempat berisi makanan di dekatnya. Ada pula tempat api dan asap bau aneh berkepul-kepul…!”

+ “Apa lagi, Cung?”

- “Ada bakul penuh gabah…”

+ “Oo… dia ‘Pak Tua’ mau menugal benih padi di huma, Cung. Dia membaca mantra sambil membakar menyan,agar hasil panen nanti berlimpah”

*(… Menurut adat, penugalan benih padi di huma diawali dengan upacara ritual Awal Tanam. Upacara ini dimaksudkan agar padi yang ditanam dapat tumbuh baik dan terbebas dari hama penyakit. Dalam upacara ini disediakan sesaji berupa Serabi empat puluh, bubur sembilan, lemang tujuh batang, satu bumbung air, junjung dan benih-benih padi yang direndam air selasih atau kemangi. Lalu baca mantera tolak bala. Selanjutnya penugalan dengan tujuh mata tugal yang diisi dengan benih padi. Setelah itu segala kegiatan dilahan tersebut diistirahatkan selama 7 hari. Kemudian kegiatan penugalan dilanjutkan hingga selesai. Dalam masa pemeliharaan tanaman padi ini dibuat gubuk tempat berteduh…)

- “Tapi aku takut, nek!”

+ “Tak usah takut Cungku, ajak ‘Pak Tua’ tu ngomong. Bilanglah ‘Aku ikut berdoa panen melimpah, Pak..’” (*Cungku = Cucuku Cucung = cucu)

+ “Abis berdoa, makanan tu akan dikasihkan cucung”

- “Iya Nek, kalu gitu nanti akan cucung ingat”

Beberapa hari kemudian, Sang Piatu pamit mau cari pengalaman. Ketika itu matahari bersinar sangat terik. Sang Piatu hampir tak tahan terkena panas.

Tak jauh dari dusun, tibalah Sang Piatu di tempat terlindung pohon bunga-bungaan putih dan harum. Sang Piatu menuju ke sana untuk berteduh.

Tiba-tiba Sang Piatu mendengar ada suara seperti pernah ia dengar dulu di dekat huma Pak Tua.

Di pojok,terdengar “mantra” seperti dilantunkan ‘Pak Tua’ tempo hari.

Kali ini Sang Piatu tak lagi takut. Ia sudah tahu dari nenek agar tidak takut kalau orang baca mantra, untung-untung diberi makanan.

Sang Piatu berpikir, mendekat atau tidak, ya??

Kembali ia ingat kata nenek dan membayangkan diberi kue. Perutnya berbunyi tanda waktunya diberi makan.

“Kapan bisa jadi orang, kalau selalu ragu” (katanya dalam hati)

“Aku harus berani!”

Mengendap-endap Sang Piatu mendekati sekelompok orang yang sedang duduk mengitari gudukan tanah galian. Di dekat situ ada keranda.

Sang Piatu tidak tahu tentang kuburan, apalagi keranda, semua itu tidak ada di huma.

“Kau harus berani!” (katanya sekali lagi dalam hati)

“Kudoakan nanti makin banyak…!” (Tiba-tiba Sang Piatu memecah keheningan pekuburan)

Orang-orang kaget dan serentak menoleh.

“Hai, apa katamu??!” (teriak salah seorang dari mereka)

“Anak kurang ajar!!” (orang itu melotot marah)

Ternyata orang itu adalah salah satu dari keluarga yang sedang berduka.

Orang itu mengacu-ngacukan cangkul bekas menggali kubur.

“Kupacul kepalamu, anak kurang ajar!!”

Sang Piatu ketakutan, tanpa pikir panjang ia lari pontang-panting ke huma.

“Neek… Neneek… aku mau dipukul!”

“Siapa Cung, mana?!” Nenek keluar tergopoh-gopoh.

“Di sana, nek… dekat dusun itu!”

“Mengapa?”

“Orang yang baca mantra di bawah pohon bunga putih, ia marah-marah saat kukatakan ’aku ikut berdoa agar makin banyak…’, ia mau memukulku dengan pacul”

“Mereka itu duduk mengelilingi tanah yang baru dipacul”

“Oo.. Cungku, mereka itu sedang mengubur orang yang baru saja mati”

“Tentu saja ia marah, karena mereka baru kehilangan seorang yang disayangi”

“Mati,nek? Kayak mak-bapakku seperti cerita nenek?”

“Betul, Cung. Mereka tak mau didoakan agar ada lagi keluarganya yang mati”

Sang Piatu tercenung. Ia tidak mengerti mengapa orang akan mati, dan mengapa orang mati harus dikubur.

“Cucung mesti bilang ‘aku ikut bersedih dan berdoa, semoga yang mati itu masuk sorga’”

Sang Piatu mengangguk-angguk dan berjanji dalam hati, kelak tidak lagi akan ada salah paham. Nasehat nenek itu benar-benar harus diingat.

2. UPACARA TURUN MANDI

Pagi hari yang cerah, matahari menapak naik menyinari bumi; memancarkan cahaya emas kemilau, memberi kehangatan hidup dan kehidupan di muka bumi.

Di suatu tempat mandi di bagian hulu dusun, air pancuran bambu dari sumber,mengalir gemercik memeriahkan tempat mandi penduduk pedusunan.

Terdengar riuh rendah gelak-canda para ibu-ibu tua-muda yang pagi itu berkumpul di situ.

Nuansa tersebut biasa terjadi sehari-hari, karena tempat itu adalah pemandian umum.

Namun hari itu, kelihatannya istimewa karena ada peralatan untuk upacara ‘Turun Mandi’, yaitu pertama kali bayi dimandikan diluar rumah.

Hari itu, Sang Piatu kecil sedang menuju dusun itu untuk cari pengalaman.

Dia terpesona manakala tiba dekat pemandian. Diam-diam diperhatikan tingkah laku ibu-ibu di pancuran itu.

Dia khawatir kalau-kalau salah lagi dalam bersikap, seperti dulu waktu di kuburan.

Keinginan Sang Piatu memperoleh pengalaman, mendorong dia asyik mengikuti tingkah laku ibu-ibu yang bercanda ria. Ada tangis anak bayi melengking di sela ketawa.

Seorang ibu tua berdoa panjang-lebar, sambil mengelus-elus kepala bayi. Kuncir sang baik digunting sedikit, tanda dia sudah bisa dimandikan di alam terbuka.

Di atas batu besar yang bagian atasnya datar, tampak talam penuh berisi serabi, lemang, wajik, pisang dan lain-lain.

Sang Piatu tak syak lagi mereka sedang membaca doa keselamatan. Pelan-pelan dia mendekat:

‘Aku ikut bersedih dan berdoa, semoga anak ibu masuk sorga dan diampuni segala dosanya..’” (Sang Piatu cari simpati)

Bukan kepalang marahnya para ibu itu, terutama ibu anak bayi. Didatanginya Sang Piatu lalu ditampar pipinya.

“Kurang ajar, kamu doakan anakku mati, ya?!” (kata sang ibu garang)

“Pergi cepat dari sini, kalau tidak, kudorong kamu masuk selokan itu!”

Sang Piatu kaget, dia tidak habis pikir mengapa seseorang yang ingin berbaik hati malah dicaci-maki.

Sang Piatu akhirnya pulang dengan sedih ke huma.

Sepanjang jalan dia termenung, bagaimana seharusnya harus bersikap kalau ada upacara mandi di pancuran. Dia tidak sampai hati bila selalu harus tanya nenek kalau ada hal-hal aneh yang dialaminya.

Pokoknya, dia bertekad akan mengatasi dengan pikirannya sendiri.

3. DILEMPAR KOTORAN

“Kapan lahirnya, semoga lancar-lancar saja tanpa halangan..”

Sang Piatu bicara perlahan-lahan dekat pancuran tempat upacara ‘turun mandi’ beberapa hari lalu.

Ia sedang belajar berucap agar bisa mendapat empati dari para ibu, yang ternyata marah-marah serta mencaci-makinya setelah dia salah ucap.

“Aku berniat baik, cuma mengharap sedikit lemang atau pisang goreng’” (kata Sang Piatu mengeja kata-kata)

“Maaf, aku tak ingin mengganggu..”

Tiba-tiba, muncul seseorang dari balik gerombol selokan yang mengalir di bagian hilir pancuran.

“Ini lemang, ambil dan makanlah!” (katanya meradang sambil melemparkan kotoran)

‘Anak kecil mengganggu saja, tidak tahu orang sedang menikmati ‘buang air besar’!” (Untung Sang Piatu tidak kena lemparan)

Namun terpaksa dia menutup hidungnya karena bau.

Wah, wah… susah mencari pengalaman hidup itu, ya?

He he he…

Link: https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8918849364576846393#allposts/postNum=0