29 AprLiat Kucing (Cat Clay)

images

Jangan Ganggu Kucing Sedang Tidur!

Syekhfani

Jangan ganggu kucing lagi enak-enak tidur, bisa kita dicakar – “Miawww“!

Demikian itu perumpamaan, bila horizon “Sulfidik” yang terbentuk dari proses pasang surut air laut di kawasan dataran/cekungan tepi sungai (Sumatera,
Kalimantan, Papua) terungkap (exposed).

Lihat: http://syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/2013/04/soil-lahan-basah/

Pedogenesis horizon Sulfidik terjadi dari pengendapan “Pirit – FeS) di lapisan reduktif; merupakan horizon penciri tanah Sulfat Masam. Kondisi basah-kering (oksidasi – reduksi) silih berganti menyebabkan spot-spot berwarna coklat kekuningan dan abu-abu di lapisan sulfidik, mirip warna bulu “kucing belang” (istilah: cat clay).

Reaksi melibatkan ion SO42- direduksi menjadi H2S (pH 2.0 – 7.0) pada tanah bergambut, oleh bakteri anaerobik: Desulfovibrio dan Desulphotomaculum. Dengan adanya ion Fe2+ terbentuklah “Pirit – FeS, FeS2″:

1. SO42- + 9 H+ + 8e ↔ HS- + 4 H2O (Eh= 0.2 – 0.3 V, pH > 7.0)
SO42- + 10 H+ + 8e ↔ H2S + 4 H2O (Eh= 0 – -0.2 V, pH < 7.0)

2. 2FeOOH (gutit) + 3H2S → 2 FeS + Srh + 4 H2O dan: H2S + Fe2+ → FeS + 2 H+, reaksi diikuti oleh: FeS + Srh → FeS2

Selama Pirit berada di lapisan reduktif, dia tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, begitu dia terangkat (revealed) ke permukaan (lapisan oksidatif), maka secara geobiokimia, Pirit – FeS, FeS2 berubah menjadi Jarosit, dan pH menjadi relatif sangat rendah.

Pada kondisi ini, organisme tertekan hidupnya (termasuk tanaman). Bahkan, bagian tubuh kita yang kontak, bisa mengalami masalah.

Lihat: Driessen, P.M and M. Soepraptohardjo. 1974. Soils for Agriculture Expansion in Indonesia. Soil Research Institute. Bogor.