15 JunGenesis Tanah Masam

oxisol.Hawaii.landscape

Bagaimana tanah berubah jadi lebih masam?

Diposkan: Syekhfani

Setiap jenis tanah terbentuk dari pelapukan (weathering) bahan induk oleh berbagai faktor lingkungan fisik (topografi, iklim) dan biologi (vegetasi); sejalan dengan waktu.

Umumnya, pembentukan tanah melalui pelapukan bahan induk di daerah sedang-basah kurang cepat dibandingkan daerah tropika-basah, karena beda suhu dan aktivitas biologis di daerah sedang-basah yang lebih rendah.

Aliran air perkolasi mengandung CO2 dalam profil tanah jenuh basa membilas secara cepat garam-bebas, tetapi kation basa-dd (dapat dipertukarkan) lebih lambat.

Akibatnya, tanah di daerah berdrainase baik menjadi lebih masam, kecuali bila ada suplai basa-basa secara alami.

Dimulai dari H+ terjerap pada tapak pertukaran kation mencapai konsentrasi cukup tinggi untuk memecah kristal liat; maka ion Si4+ dan Al3+ dibebaskan.

Ion-ion polimer AlOH2+ atau Al(OH)2+ lempeng fraksi liat bebas secara parsial mengompleks dengan bahan organik, sementara Si4+ dalam profil tercuci pada tingkat lebih rendah.

Begitu tanah menjadi lebih masam, lebih banyak Al dan Fe dibebaskan dari mineral liat; meninggalkan Al3+ sebagai kation dapat dipertukarkan yang dominan.

Akhirnya seluruh mineral liat kristalin memberi peluang terjadi oksida Al dan Fe amorf.

Dalam acuan referensi ini, maka jenis tanah masam Mollisols terbentuk melalui pencucian dan perombakan rendah; Alfisols dan Ultisols melalui pencucian dan pelapukan lebih progresif; dan Oxisols terbentuk melalui pencucian dan pelapukan tinggi (Tabel).

Table. Perubahan Tanah Masam: Atribut Tanah pertinent terhadap efek pengapuran

Klik: 1x (dilakukan 2 kali)
Genesis Tanah Masam

Dari:
SOIL SCIENCE 702/802:
CHEMISTRY OF SOILS … SYLLABUS
(revised Jan 1998)
Text: Sparks, 1995, Environmental Soil Chemistry, Academic Press
Supplemental: Cresser, Killham, and Edwards, 1993, Soil Chemistry and its applications, Cambridge.

15 MaySOIL: Sulfat Masam

 

BUDIDAYA PERTANIAN DI LAHAN SULFAT MASAM

 1

 Contoh:  UPT Rawa Muning, Tapen, Kalimantan Selatan

  

Pengamat/Foto-foto:  Syekhfani

  • Tanah sulfat masam, adalah tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), dijumpai di daerah rawa, baik pasang surut maupun lebak.
  • Pada kondisi tergenang senyawa pirit bersifat stabil, namun bila kering dan teroksidasi berubah menjadi senyawa sulfat yang bermasalah bagi kimia tanah, air dan lingkungan.
  • Sebagian lahan sulfat masam telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi,  ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, tetapi umumnya di bawah potensi produksi tanaman.  Contoh:  di lokasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Rawa Muning, kabupaten Tapen, Kalimantan Selatan.
  • UPT Rawa Muning, dilengkapi sarana prasarana berupa saluran air untuk kepentingan transportasi serta sistem irigasi – drainase kawasan.
  • Pengaturan sistem irigasi – drainase juga bertujuan untuk menjamin kecukupan air, tidak banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
  • Namun, pada prakteknya sulit melakukan pengendalian air dengan baik. Terutama pada musim kemarau permukaan air tanah turun, terjadi oksidasi senyawa pirit menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah menjadi sangat masam.
  • Tanah-tanah teroksidasi, pada musim hujan mengalami proses reduksi dan  dalam bentuk besi ferro dan sulfida yang meracun tanaman.
  • Perubahan pH yang ekstrem akibat pengolahan tanah mengandung bahan sulfidik, perlu diatasi dengan pemberian kapur, bahan organik, serta sistem pengelolaan tertentu (olah tanah minimum, “sistem Surjan“).
  • Penggunaan varietas unggul lokal yang toleran terhadap kondisi agro-ekosistem setempat perlu diperhatikan  untuk mengurangi resiko kegagalan panen.
  • Varietas padi rawa unggul lokal (juga ikan:  papuyu, haruan, saluang, sepat, dll.) harus dipertahankan dan dijaga kelestariannya.
  • Bahan organik dan kapur, selain dapat menetralkan reaksi tanah masam, juga mampu mengurangi kelarutan ion besi dan mangan tinggi sehingga tidak meracun tanaman.
  • Olah tanah minimum mencegah pengangkatan bahan sulfidik ke permukaan tanah.
  • Sistem Surjan memberi peluang tanaman darat (upland) dapat tumbuh dengan baik, pencucian tanah oleh air hujan dapat mengatasi masalah pH dan EC asalkan ketebalan solum cukup untuk sistem perakaran tanaman. Dengan demikian, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman di lahan basah.

4

Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Cempaka, Tapen, Kalimantan Selatan

6

Topografi datar, disiapkan untuk budidaya lahan sawah, dengan galengan sebagai batas pemilikan

3

Di bagian cekungan, air tergenang membentuk kolam abadi, ditumbuhi teratai

9

Musim kemarau, permukaan air turun, medium perakaran mengalami oksidasi

Pada musim hujan berikutnya, medium perakaran kaya sulfat dan pH sangat rendah (oksidasi pirit)

12

Musim penghujan, tanaman kelapa (Coccus nucifera) di galengan tumbuh normal

13

Musim kemarau, tanaman kelapa di galengan kering dan mati

14

Musim kemarau, tanaman padi sawah (Oryza sativa) menunjukkan gejala defisiensi dan/atau keracunan unsur hara

15

Musim kemarau, masih ada air terutama di saluran irigasi/drainase

16

16 (2)

Saluran air dan kolam abadi, menghasilkan ikan khas rawa masam (Gabus, Papuyu, Sepat, Saluang, dan lain-lain)

17

Keluarga kecil transmigran

18

Rumah transmigrasi yang ditinggalkan